Ketika Empati Hadir di Televisi

Reality show kini jadi idola. Ketika acara hiburan dipenuhi rekayasa di balik skenario, reality show hadir tanpa arahan sutradara atau koreografer. Rasa haru, marah, sedih, gembira, dan berbagai ekspresi wajah yang ditampilkan pemerannya begitu nyata, real, dan murni dari hati nurani. Yang kayak gini yang ditunggu-tunggu pemirsa. Dunia hiburan tanpa rekayasa dan muka dua. Jadi wajar dong kalo acara ini mendapat sambutan hangat sehangat pantat penggorengan di kalangan penonton televisi. Plok…plok…plok…!

Bagi remaja, pasti nggak asing dengan reality show �Katakan Cinta’, �Harap-Harap Cemas (H2C)’, atau �Playboy Kabel’. Atau ajang pencarian bakat dalam AFI, KDI, Indonesian Idol, atau API. Ada juga acara yang menghibur pemirsa di atas penderitaan korban yang dikerjain oleh tim Ngaciir, Paranoid, atau Mbikin Orang Panik. Nggak mau ketinggalan reality show yang coba mengusik privasi selebritas seperti dalam Ketok Pintu atau Curi-curi Kesempatan.Wah, banyak banget ya?

Sayangnya, acara-acara reality show di atas terutama yang suka ngisengin orang sering terlihat mengabaikan etika penyiaran. Merekam dan menyiarkan perilaku korban yang dikerjain tanpa seizin dari yang bersangkutan. Kan malu diliat orang. Kayak nggak punya ke….eh, rasa malu aja. Tul gak?

Makanya nggak heran kalo nada protes banyak dilontarkan masyarakat demi mengkritisi acara-acara reality show di atas. Untuk acara hiburan, kayaknya keinginan masyarakat nggak neko-neko. Syaratnya paling-paling jangan sampe menjadikan pornografi dan pornoaksi sebagai menu utama; nggak ngejual mimpi di tengah himpitan ekonomi; nggak menyesatkan remaja dengan pancingan gaya hidup hedonis ala selebritas; tapi justru bisa memancing sikap empati melalui tayangan yang melibatkan masyarakat bukan sebagai korban, melainkan pihak yang diuntungkan. Asyik kan?

Ramainya reality show sosial
Nampaknya, keinginan masyarakat sedikit banyak sudah mulai terkabul. Kini produsen acara-acara televisi berani tampil beda dengan menyajikan hiburan berkualitas. Reality show yang mengemas bantuan sosial. Wah acara baru nih? Bukan, …ini baru acara!

Untuk menguji sikap masyarakat kita dalam menolong orang, reality show bertajuk �Tolooong!’ mencoba menjembatani pemirsa. Sedih juga ya ngeliat masih banyak masyarakat yang kayaknya berat banget untuk ngasih bantuan tanpa imbalan.

Ngasih duit secara cuma-cuma kepada orang yang membutuhkan. Tema inilah yang diusung dalam �Uang Kaget (Easy Money)’ dan �Rejeki Nomplok’. Hal yang sama juga terjadi pada �Lunas’. Bedanya, dalam Uang Kaget masyarakat yang terpilih kudu pake uang 10 juta dalam waktu 30 menit. Abis nggak abis kudu dikumpulin, en dibalikin sisa uangnya. Kalo Rejeki Nomplok, duit 5 juta dikeluarin untuk belanja didampingi sang hostest. Sementara untuk Lunas, uang yang dikasih kudu dipake buat bayar hutang sampe Lunas. Siip dah! Asyik banget kan?

Nggak cukup dengan pembagian uang tunai, bantuan dimodifikasi dalam bentuk pembenahan tempat tinggal seperti dalam �Bedah Rumah’. Ada juga yang mendandani kendaraan bermotor atau mobil yang udah butut. Sst.. ada reality show yang pasti paling diminati para jomblo: Nikah Gratis. Siapa sih yang nggak kepengen?

Sobat, lega juga ya ngeliat ramainya acara reality show sosial di atas. Ternyata masih ada yang ingin berbagi kebahagiaan dan kesenangan dengan orang lain yang membutuhkan. Syukur-syukur acara ini ikut ngedongkrak sikap empati pemirsa yang kian langka terhadap lingkungan sekitarnya. Nggak cuek bebek aja. Semoga! (pake tanda seru biar kedengerannya nggak pesimis. Hehehe…)

Agar sedekah berbuah berkah
Sobat, perintah untuk membelanjakan harta kita di jalan Allah seperti bersedekah udah sering kita denger. Ketika bersedekah, selain harta yang kita sedekahkan halal, kita juga kudu ikhlas. Agar ridho Allah Swt. menyertai amal baik kita itu. Kayak gimana sih ikhlas itu? Catet nih, sobat.

Ikhlas adalah kesamaan perbuatan seseorang antara lahir dan batin. Menurut Abu Qasim al-Qusyairi: “Ikhlas adalah menjadikan satu-satunya yang berhak ditaati dalam sebuah niat ialah Allah Swt. Artinya, bahwa yang diinginkan dengan ketaatannya itu hanyalah untuk bertaqarrub kepada Allah semata, tidak untuk yang lain, misalnya dipamerkan kepada seseorang, mencari popularitas, atau ingin disanjung-sanjung atau pun tujuan-tujuan lain selain bertaqarrub kepada Alah Swt.�

Sobat, menjaga keikhlasan niat dalam beramal kebaikan seperti bersedekah itu ternyata nggak gampang lho. Bener. Idealnya kan, kalo ikhlas mau ngasih, ya ngasih aja. Nggak perlu menyengaja ngadain jumpa pers, ngundang media massa untuk meliput, atau dikemas dalam acara reality show. Kalo nggak hati-hati, bisa terkontaminasi oleh sikap riya’. Pahala yang kita dapet bisa nyusut tuh, atau malah nggak dapat sama sekali. Rugi banget kan? Ya, benar-benar rugi, bo!

Emang sih, amal kebaikan yang dikemas dalam reality show sosial disatu sisi nggak selalu untuk menuai sanjungan. Mungkin saja dipake sebagai motivasi untuk diteladani pemirsa. Tapi khawatir juga lho kalo kegiatan amal itu orientasinya berubah. Yang tadinya sekadar liputan orang menolong, jadi meliput orang ditolong. Demi mempertahankan rating tinggi dan iklan masuk. Wah, gawat nih! Ini amal saleh atau amal salah ya? Wallahu’alam.

Teladan dari para pendahulu kita
Sobat muda muslim, kedermawanan adalah ciri khas dan tabi’at asli kaum muslimin. Ikhlas. Nggak pake riya’ atau nyari popularitas. Hal ini dicontohkan oleh Rasul saw. dan para sahabatnya yang kaya maupun yang miskin.

Anas r.a. berkata: “Tidak pernah Rasulullah dimintai sesuatu melainkan pasti ia memberikannya. Sungguh telah datang seorang peminta kepadanya, maka diberinya kambing yang berada di antara dua bukit, hingga ia kembali kepada kaumnya dan mengajak kaumnya: Hai?  kaumku segeralah kamu masuk Islam, karena Muhammad memberi seperti pemberian orang yang sama sekali tidak kuatir habis atau menjadi miskin. Sungguh dahulunya seseorang masuk Islam tidak lain karena ingin dunia, tetapi tidak lama kemudian mendadak ia cinta pada Islam melebihi dari semua kekayaan dunia.â€? (HR Muslim)

Pada suatu hari, Abdurrahman bin Auf mendengar Rasulullah saw. berkata kepadanya: “Wahai Ibnu Auf sesungguhnya kamu termasuk orang yang kaya raya, akan tetapi kamu akan memasuki surga dengan merangkak. Maka berilah pinjaman kepada Allah (yaitu menafkahkan hartanya di jalan Allah), niscaya Allah akan menolongmu membebaskan kedua kakimu.� (HR Imam Ahmad)

Semenjak mendengar itu Abdurrahman menjadi sahabat yang paling �royal’ dalam bersedekah. Suatu hari dia membeli tanah seharga 40.000 dinar kemudian membagikan semuanya kepada keluarga Bani Zahra, kepada isteri-isteri Rasululah saw. dan kaum muslimin yang fakir. Pada kesempatan lain, dia menyediakan 500 ekor kuda untuk berjihad fisabilillah. Pada hari yang lain lagi, ia menyerahkan 1500 ekor kuda. Pada saat meninggalnya, dia mewasiatkan 50.000 dinar dan berpesan pula agar para pejuang Badar yang masih hidup, masing-masing diberi 400 dinar. Ini berbagi rizki, bukan Easy Money lho!

Suatu hari Abdullah bin Amir membeli rumah Khalid bin �Uqbah yang ada di pasar seharga 90.000 dirham. Pada malam harinya ia mendengar tangis keluarga Khalid. Dia bertanya kepada keluarga itu, ada apa ini? Mereka menjawab: “Mereka menangisi rumah mereka itu� Abdullah berkata: “Wahai anak, datangilah mereka dan beritahukanlah bahwa rumah dan uang itu untuk mereka semua�. Kagak pake �Bedah Rumah’. Langsung dikasih rumah utuh.

Tatkala Qais bin Sa’ad bin Ubadah sakit, saudara-saudaranya belum juga pada menjenguknya. Ada yang kemudian berkata kepada Qais: “Mereka malu karena hutang-hutang mereka kepadamu.� Maka Qais berkata “Allah akan menghinakan harta yang mencegah saudara-saudara untuk berziarah.� Lalu dia menyuruh seseorang untuk mengumumkan “Siapa saja yang ada tanggungan hutang pada Qais, sekarang ia telah membebaskannya.� Maka hari-hari berikutnya, tangga rumah Qais menjadi pecah karena banyaknya orang yang datang menjenguknya. Ini baru �Lunas’!

Asma’ bin Rabi’ah, seorang tabi’in senior dari thabaqah â€?ula (generasi pertama) pernah?  menikahkah seorang pemuda yang tak dikenalnya dengan budak wanita yang dibelinya. Padahal waktu itu, si pemuda hanya melihat budak wanita yang disukainya masuk ke rumah Asma’ bin Rabi’ah. Nah, ini baru “Nikah Gratisâ€?.

Catatan untuk kita semua
Sobat, ramainya reality sosial yang menyentuh aspek sosial sudah sepantasnya meninggalkan catatan tersendiri buat kita semua. Sebuah catatan untuk direnungkan.

Pertama, reality show sosial dikemas seperti apapun tetep judulnya hiburan. Itu artinya, dengan mengantongi label hiburan tentu pihak produsen akan mencari sudut pandang terbaik agar tayangannya menarik untuk dilirik. Hasilnya, ekspresi wajah yang terharu atau tangisan tersedu-sedu menjadi tontonan yang dinanti pemirsa. Perilaku orang yang diburu waktu untuk ngabisin uang dijadikan daya tarik untuk menyedot perhatian pemirsa.

Tidakkah kondisi ini seperti memanfaatkan kecintaan manusia (terutama kaum fakir miskin) terhadap harta sebagai komoditi bisnis hiburan? Masihkah tersisa keikhlasan pada diri para pelaku bisnis hiburan itu dalam mendermakan harta seandainya bukan kamera dari kameraman yang merekam perbuatan terpuji mereka di lokasi syuting? Melainkan �kamera’ Allah swt dan �rekaman’ malaikat Raqib dan Atid yang tentu saja jauh dari popularitas, rating tinggi, atau banjir sponsor iklan. Lagian, nggak jelas juga kriteria pemilihan �calon korbannya’.

Kedua, buat kita selaku penonton setia acara reality show sosial, semoga nggak tergeser pemahaman kita akan nilai ibadah dalam membelanjakan harta kita di jalan Allah. Dengan atau tanpa adanya acara itu, nggak bikin sikap murah hati dan menolong saudara dalam diri kita jadi surut. Dan yang paling penting, bersedekah, berinfak, atau mendermakan harta nggak pantas dipamerkan. Sebab bisa mengundang decak kagum walaupun kita tidak mengharapkannya. Kata Rasul, kalo tangan kanan kita yang ngasih. Jangan sampe tangan kiri kita tahu. Diem-diem aja ya.

Ketiga, beratnya beban hidup rakyat yang coba diangkat dalam acara reality show sosial seharusnya mendapatkan perhatian penuh dari negara. Kemiskinan, lilitan utang, sulitnya berumah tangga, atau memperoleh tempat bernaung yang layak adalah sebagian kecil dari permasalahan sosial yang betah berkembang biak di tengah lingkungan kita. Makanya negara kudu mau membuang sistem demokrasi-kapitalis (yang dipake buat ngatur hidup kita agar sengsara sepanjang masa) ke tong sampah. Lalu berusaha untuk menerapkan sistem Islam dalam bingkai negara Khilafah Islamiyah demi untuk mensejahterakan rakyat. Bukan para konglomerat.

Nah sobat, jangan tunggu kita kaya untuk berderma. Jangan berharap banyak pada aturan kapitalis sekuler untuk menjadikan hidup kita lebih baik. Jangan berhenti menolong keluarga, kerabat, tetangga, atau saudara-saudara di sekitar kita sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Jangan pula diam membisu dengan segala kemaksiatan yang ada di hadapan kita. Mari kita buktikan, bahwa empati tidak hanya ada di televisi. Tapi nyata di depan mata. Yo’i gak guys! [hafidz]

(Buletin STUDIA – Edisi 238/Tahun ke-6/4 April 2005)

%d bloggers like this: