Ketika Tak Ada Lagi Perang

Rudi, sebut saja begitu. Pemuda berambut gondrong dengan sedikit janggut nemplok di dagunya itu aktif banget belakangan ini. Bareng gang-nya di kampung itu, doi rela ngeluarin tenaga dan meluangkan waktunya untuk mensukseskan beragam acara yang digelar menjelang, selama, dan setelah 17 Agustus. Dalam tradisi masyarakat kita, mudahnya suka disebut dengan istilah “agustusan�. Dan itu kudu dirayakan pol-polan. Barangkali, kalo boleh mengatakan, tradisi ini sudah seperti kewajiban. Gimana nggak, masyarakat setempat suka protes sama ketua RT dan RW kalo di lingkungannya nggak digelar acara begituan. Pernah ada lho, Pak RT-nya males bikin acara itu, eh warganya protes. Malah warga sampe rela membiayai seluruh kegiatan yang akan dilaksanakan, kalo emang kendalanya soal biaya. Coba, gimana nggak �heboh’ kan? Itu sebabnya, kalo nggak merayakan bakalan, maaf saja, dianggap sebagai perbuatan dosa besar. Wah, gaswat kan? Asal!

Gang-nya Rudi, meski bukan gang hijau di iklan salah satu produk rokok, dengan dibantu warga setempat kompakan banget dalam persiapan berbagai kegiatan yang disponsori ketua RW-nya. Mulai dari bikin gapura peringatan, menghiasi jalanan dengan lampu, mendandani lingkungan dengan aksesoris bernuansa merah putih, pasang bendera, dan bahkan bikin spanduk tentang acara tersebut. Selain itu, mereka nyiapin karung goni untuk lomba balap karung, nyewa tukang krupuk untuk nyiapin lomba makan krupuk, pekerja bengkel juga diundang untuk bagi-bagi oli bekas yang akan digunakan untuk melumuri pohon pinang pada lomba panjat pinang, atau pada lomba ngambil duit pake mulut yang ditancepin di jeruk bali berlumur oli.

Nggak cukup di situ, Rudi and the gang siap-siap menggalang dana dan sponsor untuk kegiatan lomba gaple, main bola anak-anak, sepakbola ibu-ibu, lomba masak, dan berbagai lomba lainnya. Termasuk acara puncak, yang biasanya menggelar pesta yang nggak kalah seru dengan acara semacam konser musik. Acara favoritnya, dangdutan lengkap dengan lomba joget ala tayangan Joged-nya RCTI, dengan artis menor produk lokal. Yang suaranya pas-pasan tapi goyangannya hot. Waduh!

Sobat muda muslim, boleh jadi orang-orang seperti Rudi dan gang-nya nggak cuma di kampung itu aja. Tapi merata di seluruh nusantara. Maklum saja, mereka juga merasa ingin ambil bagian dalam pesta tahunan itu. Mereka bergotong-royong dengan warga sekitar turut mensukseskan acara-acara yang mereka sebut sebagai aktivitas untuk memeriahkan acara tujuh belasan. Sekaligus, barangkali, melegalkan kebebasan mereka selama ini. Mumpung lagi ajang perayaan kemerdekaan, yang emang biasanya serba bebas itu. Walah?

Hmm… karena semua lomba yang digelar bertujuan untuk memeriahkan dan menghibur, maka, yang digelar adalah lomba yang ringan dan yang lucu. Acara ini juga merupakan ungkapan rasa bangga kepada para pahlawan yang telah mengusir penjajah dari negeri ini dengan tebusan darah dan air matanya.

Dan barangkali, nilai penting bagi masyarakat kita pada umumnya, adalah mengungkapkan rasa syukur itu dengan mewah dan meriah. Itu bisa kamu lihat bahwa kebanyakan masyarakat kita (utamanya di desa), kalo ngadain pesta sunatan atau pernikahan anaknya aja, hajatan yang digelar biasanya acara yang serba wah. Tentunya yang punya duit dong. Misalnya, ada pagelaran wayang golek semalam suntuk, bisa juga menggelar pesta jaipong or dangdut sampe pagi.

Jadi jangan heran kalo untuk acara “syukuran’ atas kemerdekaan ini juga harus diwujudkan dengan acara-acara yang serba “wah�. Perkara acara itu nantinya bikin rusuh dan bertabur maksiat, nggak jadi soal. Yang penting gemerlap dan menghibur. Celaka sobat!

Miskin makna perjuangan
Dulu, para pejuang negeri ini memeras keringat, mengeluarkan darah dan air mata demi bebasnya negeri ini dari cengkeraman penjajah Inggris, Portugis, Belanda, dan Jepang. Para pejuang kita insya Allah sudah ikhlas menebusnya dengan nyawa mereka, asal anak-cucunya bisa menikmati hidup dengan layak di negeri sendiri, tanpa tekanan para penjajah.

Sekarang, memang tak ada desingan peluru, tak ada dentuman bom. Pistol lebih sering betah disarungkan, bedil juga lebih banyak diemnya ketimbang dikokang, meriam pada nganggur, kendaraan lapis baja setia nongkrong di kandangnya, bahkan pesawat tempur cuma sekali-kali aja melakukan manuver, itu pun di acara pesta dirgantara atau di acara ulang tahun kemerdekaan seperti ini. Jadi, lebih banyak digunakan untuk melindungi rakyat, bukan untuk melawan musuh. Maklum, kini sudah tak ada lagi perang.

Kondisi yang sepi dari suara dar-der-dor ini, memang nikmat. Semua, alhamdulillah, menikmatinya dengan senang hati. Meski tentunya sesuai dengan kesempatan yang didapatnya masing-masing. Ada yang sudah merasa nikmat hidup di desa, mengurus ternak dan mengolah sawah. Hidup rukun tanpa diganggu suara bising kendaraan bermotor. Sepi dari dar-der-dor perang mulut para politisi. Mereka yang tinggal di lembah dan gunung, serta di pulau-pulau terpencil menikmati kemerdekaan negeri ini dengan caranya sendiri. Adem ayem.

Yang di kota juga menikmati kemerdekaan ini, meski kudu dibayar mahal untuk mendapatkan kehidupan yang layak. Boleh dibilang, damai tapi gersang. Memang tak ada perang, tapi tetap was-was menghadapi hidup ini. Tapi anehnya tetap merasa merdeka, karena mereka mendefinisikan kemerdekaan itu dengan tak adanya perang. Wah?

Memang damai negeri ini. Maksudnya tak ada perang. Nggak ada lalu lalang serdadu musuh. Tentrem dan enak ngapa-ngapain aja. Termasuk kita bisa sekolah, kerja, dan bahkan berkeluarga dengan aman. Meski terus terang saja, sebagian dari kita yang lain rasanya sulit untuk mendapatkan apa yang pernah kita raih dan rasakan tersebut.

Sobat muda muslim, dengan kondisi sesejuk ini, maka pantas kalo masyarakat kita jadi terlena. Sampe-sampe setiap acara tujuh belasan selalu diperingati dengan hal-hal yang jauh dari makna perjuangan. Pagi di tanggal 17 Agustus, biasanya upacara dengan khidmat. Pas beres upacara, baru deh ketahuan jeleknya kita. Pagelaran bertabur hura-hura, bahkan maksiat pun dengan semangat digelar.

Ironinya ada saja orang yang memasukkan jenis lomba dan pesta dalam rangkaian acara kemerdekaan itu yang miskin makna perjuangan. Di antaranya lomba gaple dan pesta band or dangdutan. Lah, ini mau ngasih jalan orang-orang untuk malas atau mau menumbuhkan semangat berjuang?

Sekadar tahu saja, Pangeran Diponegoro saat berjuang dulu nggak main gaple tuh apalagi goyang dangdut segala. Nggak lah yauw. Beliau dan para pejuang negeri ini sibuk ngangkat senjata dan rela berkorban. Sayangnya, kita suka tulalit dalam memaknai kemerdekaan ini yang merupakan hasil yang telah dicapai oleh para pejuang kita dulu. Celakanya, kita merasa bangga lagi, bahwa kita ikut menghormati jasa para pahlawan negeri ini dengan menggelar beragam acara seperti tadi. Hih, amit-amit deh. Jangan sampe kamu ikut-ikutan senewen.

Kita masih terjajah lho…
Sobat muda muslim, sedih dan perih hati ini. Bener, lho. Nggak bohong. Soalnya, kalo kita nyaksiin temen-temen remaja banyak yang masih sibuk dengan gaya hidupnya saat ini. Kita, layak untuk prihatin, lho.

Ada banyak teman remaja puteri yang tetap betah dengan pakaiannya yang irit bahan. Banyak yang tak sadar bahwa apa yang dilakukannya adalah perbuatan dosa. Tapi nggak sedikit juga lho yang emang sengaja melakukan itu, meskipun doi udah dengar dan tahu kalo perbuatannya itu salah dan jelas dosa. Nah, tipe yang kedua ini boleh dibilang sebagai agent of change, agen perubah. Mereka secara tidak langsung udah jadi kader pengemban dakwah ajaran Barat untuk menghancurkan Islam.

Nah, kasus yang masih ada hubungan dengan acara “agustusan� adalah dengan digelarnya acara-acara yang tulalit dengan makna perjuangan. Utamanya yang paling seru dan heboh adalah acara puncaknya, yang berupa lomba nari dan nyanyi. Aduh, rasanya bergolak hebat dalam dada kita rasa kesal atas kegiatan itu. Teman-teman kita kayaknya nggak nyadar kalo sedang memamerkan produk penjajah kita. Mengumbar auratnya di panggung dan memancing pikiran yang nggak-nggak dari para penonton, jelas bukan budaya kita, Islam. Tapi itu budaya dari luar Islam. Jadi, ternyata kita masih terjajah secara pikiran dan budaya. Padahal itu jauh lebih berbahaya akibatnya, lho. Ibaratnya, rusak badan tertembus peluru masih mudah obatnya, tapi rusak pikiran dan jiwa, rada sulit obatnya.

Sobat muda muslim, arti merdeka adalah terbebasnya kita?  dari segala penghambaan kepada hawa nafsu dan aturan orang lain, seraya kita mengikatkan dan menundukkan diri kita sepenuhnya kepada Allah Swt. Sebab, itulah sebaik-baik penghambaan kita. Kalo sekarang kita masih terjajah oleh hawa nafsu, masih dikendalikan dan didikte oleh orang lain, maka kita jelas masih terjajah alias belum merdeka. Padahal dalam shalat, kita udah berikrar kepada Allah, bahwa kita akan menyerahkan segalanya kepada Allah Swt. Firman-Nya:

?¥???†?‘?? ?µ???„?§???????? ?ˆ???†???³???ƒ???? ?ˆ???…???­?’?????§???? ?ˆ???…???…???§?????? ?„???„?‘???‡?? ?±???¨?‘?? ?§?„?’?¹???§?„???…?????†??
“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam,â€? (TQS al-An’?¢m [6]: 162)

Inilah hakikat kemerdekaan. Kalo kita bicara soal masyarakat, berarti masyarakat yang merdeka adalah masyarakat yang berhasil melepaskan diri dari cengkeraman aturan masyarakat lain, begitu pula dengan negara. Negara yang merdeka adalah negara yang mandiri, dan tidak dikendalikan oleh aturan negara lain. Kalo sekarang? Kita masih terjajah, kawan.

So, masyarakat kita masih belum bisa melepaskan ikatan yang dijeratkan ideologi kapitalisme. Tragisnya lagi, kita malah menjadi pejuang pesan-pesan ideologi kufur ini. Sebut saja, masyarakat kita masih doyan bergaya hidup permisive alias bebas nilai. Makna kebahagiaannya adalah banyaknya materi yang berhasil dikoleksi, bukan lagi ridho Allah. Itu sebabnya, kemudian masyarakat kita dituntut untuk melakukan hal yang haram sekalipun untuk meraih kebahagiaan materi. Bila perlu nyari harta dengan cara gila-gilaan. Misalnya aja, maaf, kaum seleb, mau dibilang gila, tapi mereka bisa nyari duit. Tapi dibilang waras, kok nyari duitnya dengan cara gila-gilaan. Ah, bingung jadinya.

Masyarakat kita pun malah fasih melafalkan dan melaksanakan ide demokrasi ketimbang Islam. Ini menunjukkan bahwa masyarakat kita masih menjadi bagian dari masyarakat Barat. Itu artinya belum merdeka, sobat. Celakanya lagi, ketika kita merayakan kemerdekaan, ternyata pengungkapannya menggunakan cara-cara yang bukan dari Islam. Nyanyi dan nari yang diiringi dengan perbuatan maksiat lainnya.

Sobat muda muslim, kita pengen banget ngasih tahu sama mereka. Tapi adakalanya mereka suka nggak terima. Memang ini juga dilematis bagi kita. Di satu sisi kita mau ngajak mereka ke jalan yang benar dan meninggalkan aktivitas sia-sia dan maksiat, tapi di sisi lain, mereka menolak mentah-mentah dan mencap kita sebagai orang yang sok suci dan mencampuri urusan mereka. Lha, ini kan repot? Teman-teman kita itu bukan musuh, tapi saudara kita. Jadi kita berusaha menolong. Cuma, karena teman-teman udah merasa hidup enak dalam keadaan yang seperti ini, yakni serba bebas berbuat. Jadi, ketika diajak bener susahnya minta maaf, malah pake ngancam segala lagi.

Teman-teman, sejujurnyalah saat ini kita belum merdeka, selama kita tidak menjadikan Islam sebagai jalan hidup, alias ideologi.

(Buletin Studia – Edisi 111/Tahun ke-3/19 Agustus 2002)

%d bloggers like this: