Kisah Negeri Yang Terkoyak

Apa kabar sobat? Bagaimana, sehat dan aman-aman saja kan? Enak tidur, enak makan? Alhamdulillah, malah sebagian dari kita udah biasa makan di resto nomor wahid, makanan �bule’, lagi. Bisa sekolah? Tentu, malah banyak yang bisa nembus sekolah favorit dengan harga pendidikan selangit. Iya nggak? Ibu dan bapak kamu masih ada? Lengkap semua dong, malah merekalah yang mensuplai uang jajan dan uang sekolah. Bagaimana dengan pergaulan kamu? Asyik-asyik aja kan? Tentu, malah bisa menikmati konser musik segala. Aduh, enak benar ya hidup kamu?

Eh, ngomong-ngomong kamu tahu negeri yang namanya Palestina?

Apa? Hollywood?

Ah, kamu jangan gitu dong. Pake pura-pura bolot segala (he..he..he…). Mentang-mentang yang selalu “mampirâ€? ke rumahmu adalah bintang-bintang top papan atas jebolan Hollywood, negerinya Uncle sam, ingatan kamu selalu ke situ.

Palestina, you know?

Oh… aku tahu, aku tahu. Yang warganya selalu ribut dengan Israel, ya?

Wah, pilihan katamu kudu diedit tuh. Bukan ribut, tapi berjuang untuk membela diri. Sebab, mereka menjadi pesakitan di negerinya sendiri akibat keserakahan Yahudi, bajingan tengik itu, yang telah merampas tanah mereka di tahun 1948.

Nah, kalo kamu dan kita semua di sini masih merasakan nikmatnya udara kebebasan, segarnya kedamaian, indahnya ketentaraman—meski cuma sebatas ukuran fisik—namun tidak dengan saudara-saudara kita di Palestina, kawan. Setiap hari mereka mendapat perlakuan tak beradab dari serdadu-serdadu Yahudi Israel. Oh, ternyata bukan hanya tentaranya aja yang begitu, penduduk sipilnya juga selalu pasang tampang sangar dan nggak segan untuk ikut menembaki warga muslim Palestina, ya saudara kita itu. Yang jauhnya ribuan mil dari sini. Yang perawakannya rata-rata tinggi tegap, dan bicaranya seperti kalo kita lagi belajar iqra, ya, tepatnya bahasa Arab.

Bagaimana, sekarang udah ingat atau emang baru tahu? Aduh, kalo baru tahu kebangetan deh. Bener.

Paling nggak, kalo kamu belajar sejarah dunia bakalan menemukan sebuah daerah, sebuah negeri yang namanya Palestina. Sayangnya, ketika kita belajar sejarah, hanya dikenalkan sebatas bahwa itu adalah wilayah, jarang banget sang guru menjelaskan tentang bagaimana profile sebenarnya setiap bangsa yang kita pelajari dalam sejarah dunia itu. Walhasil, hal itu hanya kita jadikan sebagai informasi biasa aja. Maka wajar dong kalo di antara kamu, remaja Islam negeri ini, kayaknya masih agak risih kalo kudu ngomongin soal beginian. Kebayang banget muka kamu kayak asinan Bogor yang udah seminggu nggak dimakan. Asem!

Walah, kamu kok kayaknya berat banget ya diajak serius. Mbok ya, sekali-kali perasaan kamu terbelah dikitlah untuk mikirin masalah saudara kita. Bener. Kita nggak boleh egois dengan cuma mikirin diri kita doang. Nggak bener, en emang nggak baik sikap begitu.

Nah, Palestina merupakan wilayah yang sepertinya nggak pernah reda dari gejolak. Ibarat bara api, wilayah ini kerap dikipasin berbagai pihak dengan berbagai kepentingan untuk kembali berkobar.

Ibarat makanan enak, negeri ini selalu jadi incaran siapa saja. Ketika Islam masih berkuasa pun, negeri ini sempat direbut oleh kaum Kristen Eropa dalam Perang Salib. Malah, gara-gara “perebutan� wilayah ini, perang tersebut harus berlangsung hampir 200 tahun (1096-1291). Perang ini adalah peperangan antara kaum muslimin dan kaum Salib Eropa (Kristen Eropa).

Dengan semboyan “Begitulah kehendak Tuhan�, kaum Kristen Eropa menyerbu wilayah Timur, negeri-negeri tempat kaum Muslimin berada. Tujuannya untuk merebut Baitul Maqdis dari tangan kaum muslimin dan mendirikan kerajaan (kekuasaan) Kristiani di wilayah Asia—Afrika. Dengan segala keganasan dan ketamakannya, kaum Kristen Eropa melampiaskan dendam, memuaskan nafsu serakahnya serta mencari keuntungan duniawi dengan kedok agama.

Sementara penyebab Perang Salib itu sendiri adalah ajakan dan seruan Kaisar Alexius Comenent dari Konstantinopel kepada Paus Urbanus II, dan para raja di Eropa agar segera menyerang negeri-negeri Islam secara serentak terhadap kekuasan Khilafah Islamiyah di Turki, yang menurut mereka akan mengancam kekuasaan kerajaan Byzantium di Konstantinopel.

Bagaimana kekejaman yang dilakukan tentara Salib? Seorang orientalis, Gustave Le Bon, menceritakan hal itu dalam bukunya, Hadlaratul Arab sebagai berikut: “Ketika tentara Salib berhasil mengalahkan tentara Turki Muslim, mereka memenggal semua kepala tentara Turki yang terluka dalam medan tempur. Kemudian bangkainya diikat pada pelana kudanya, selanjutnya diseret ke tempat pembuangan bangkai di seputar kota (Antiokia) itu.�

Sampai sekarang pun, Palestina nggak pernah sepi dari berbagai keributan dan kekisruhan. Palestina, adalah negeri yang terkoyak. Kini, saudara-saudara kita di Palestina, bukan saja kudu melawan orang-orang Yahudi Israel, tapi juga harus menelan pil pahit akibat pengkhianatan yang dilakukan oleh penguasanya sendiri, dan juga penguasa-penguasa negeri Arab yang pada cuek terhadap penderitaan mereka. Kalo kita di sini cuek juga, siapa lagi yang bakal menolong mereka? Ketidakpedulian penguasa Arab lebih disebabkan ketakutannya kepada Amrik. Jadi emang pada pengecut juga pemimpin-pemimpin Arab ini. Kasihan banget rakyat Palestina, sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Hemmm, ditikam dari belakang dan dihantam dari depan. Ringsek!

Mati satu, marah seribu
Israel bak kebakaran jenggot, begitu mengetahui warganya koit gara-gara “bom syahid� pejuang Palestina. Buru-buru deh, dengan alasan membela diri, musuh Allah dan Rasul-Nya ini membalas serangan tersebut dengan menghujani kota Yerusalem dengan roket dan serangan udara. Sungguh serangan yang nggak sebanding. Sebab korban yang jatuh dari warga Palestina bisa jadi lebih banyak. Jangankan dengan “bom syahid�, melawan pakai batu aja, langsung dibalas peluru, gimana nggak disebut sebagai pembantai?

Udah gitu, Israel enak banget, di tengah aksi genocide (pemusnahan) warga muslim Palestina, malah dunia internasional mendiamkan aksi brutalnya. Seolah menutup mata dan telinga mereka atas kejadian itu. Apalagi Amrik, yang emang sekutu dekatnya Israel. Amrik nih, selalu aja ngebelain Israel. Pokoknya nggak rela kalo Israel ada yang musuhin atawa ada yang berupaya bikin celaka mereka. Amriklah bodygaurd-nya. Buktinya, Menlu AS Colin Powell langsung sesumbar bakalan ngeboikot Konferensi Rasisme yang akan diselenggarakan pada 31 Agustus-7 September 2001 di Durban, Afrika Selatan. Powell nggak bakal hadir dalam konferensi itu hanya gara-gara para diplomatnya tidak berhasil menghilangkan bahasa anti-Israel dari acara. (Kompas, 28 Agustus 2001)

Presiden George W. Bush sendiri dengan berang berkomentar, “Kami tidak akan berpartisipasi dalam konferensi yang mencoba mengisolasi Israel…pertanyaan mendasarnya adalah apakah Israel akan atau tidak akan diperlakukan dengan hormat dalam konferensi itu.� Walah, ketahuan banget kan ngebelain Yahudi Israel. Emang mereka setali tiga uang tuh. Kalo gitu, Amrik dong yang pantas menyandang gelar rasisme sejati? Bisa jadi.

Penderitaan kayaknya akrab banget dengan rakyat Palestina. Sudahlah tanahnya dirampas, dijajah oleh Yahudi Israel, eh, dunia internasional (baca: PBB) cuma diam aja melihat penderitaan mereka. Anehnya, begitu ada korban dari pihak Israel, semua seperti mengamini ketika Yahudi menghujani mereka dengan roket. Bener-bener nggak adil. Boleh dikata, mati satu marah seribu.

Siapa Yahudi?
Orang Yahudi, di mana pun mereka berada selalu jadi “benalu�. Di Rusia sempat diuber-uber. Di Jerman, Hitler sangat “alergi� dengan keberadaan mereka, sehingga ratusan ribu orang Yahudi dibunuh oleh NAZI.

Benar, mereka itu kan sebetulnya nggak punya tempat tinggal. Nenek moyang mereka, Bani Israil, selalu bikin murka Allah. Suka membunuhi para nabi, nggak taat dengan perintah Allah. Pokoknya “cap� jeleknya selalu nempel pada mereka. Makanya mereka diusir dari kampung halaman mereka. Dan terlunta-luntalah bangsa “kera� ini di berbagai negara, dari “gua� yang satu ke “gua� yang lain. Namun ketika Inggris “ikut campur� dalam urusan ini, Yahudi mulai dapat angin. Lalu keluarlah Deklarasi Balfour pada tahun 1917, yang kemudian memberi jalan orang-orang Yahudi untuk dapat memiliki negara. Dan atas bantuan Inggris dan juga AS, tahun 1948 mereka merampas tanah Palestina dari tangan kaum muslimin.

Nah, itulah Yahudi. Mereka memang doyan banget bikin Allah murka. Udah gitu, mereka selalu saja jadi “trouble maker�. Karena emang sifatnya begitu, seperti yang digambarkan dalam firman Allah Swt.:

?ˆ???????±???‰ ?ƒ???«?????±?‹?§ ?…???†?’?‡???…?’ ?????³???§?±???¹???ˆ?†?? ?????? ?§?„?¥?’???«?’?…?? ?ˆ???§?„?’?¹???¯?’?ˆ???§?†?? ?ˆ???£???ƒ?’?„???‡???…?? ?§?„?³?‘???­?’???? ?„???¨???¦?’?³?? ?…???§ ?ƒ???§?†???ˆ?§ ?????¹?’?…???„???ˆ?†??
“Dan kamu akan melihat kebanyakan dari mereka (orang-orang Yahudi) bersegera membuat dosa, permusuhan dan memakan yang haram. Sesungguhnya amat buruk apa yang mereka telah kerjakan itu.â€? (QS al-M?¢idah [5]: 62)

Yahudi sangat membenci Islam. Mereka nggak henti-hentinya membuat kita, kaum muslimin, menderita. Pokoknya nggak rela kalo kita itu masih ada di muka bumi ini. Nggak heran emang, kalo akhirnya saudara-saudara kita di Palestina selalu dikejar rasa cemas dan ketakutan oleh ulah Yahudi ini. Karena orang-orang Yahudi nggak pernah berhenti memerangi kita, kaum muslimin. Allah Swt. Menggam?¬barkan sikap mereka dalam firman-Nya:

?„???????¬???¯???†?‘?? ?£???´???¯?‘?? ?§?„?†?‘???§?³?? ?¹???¯???§?ˆ???©?‹ ?„???„?‘???°?????†?? ?????§?…???†???ˆ?§ ?§?„?’?????‡???ˆ?¯?? ?ˆ???§?„?‘???°?????†?? ?£???´?’?±???ƒ???ˆ?§
“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.â€? (QS al-M?¢idah [5]: 82)

Well, inilah sekilas tentang siapa Yahudi. Tentang bagaimana sepak terjang mereka, bagaimana pula perseteruan mereka dengan saudara kita di Palestina, dan siapa yang berada di belakang bangsa berbendera “bintang david� ini. Semoga kamu jadi ngeh sekarang. Dan semakin peduli dengan nasib saudara kita di sana. Sebab, meski jauh, kita disatukan dalam akidah Islam. Dimana pun mereka, asal masih satu akidah, mereka adalah saudara kita.

Harus dilawan!
Sebentar Mas, kita mau melawan gimana, wong kita masih sekolah, kita jauh dari sini, kita mikirin urusan hidup kita juga kelabakan, di sini malah banyak urusan yang belum selesai, gimana sih?

Tenang, jangan nepsong begitu dong. Jernihkan pikiran dan perasaan kamu. Bila perlu kamu istirhat dulu, wudhu dulu, baru deh mengomentari persoalan ini. Setuju?

Begini sobat, emang kalo cuma kita sendiri yang melawan mereka bakalan remek, mungkin pulang tinggal nama.

Saudara kita di seluruh dunia ini jumlahnya banyak banget. Miliaran orang lagi. Masa sih nggak tergerak hatinya untuk membantu saudara kita? Oke, ini adalah problemnya memang. Kenapa mereka cuek bebek aja melihat penderitaan saudaranya di Palestina, dan juga di belahan bumi yang lain? Jawabannya adalah, sebab sebagian besar kaum muslimin telah kehilangan rasa peduli. Ada yang hilang dalam diri kaum muslimin, yakni pemikiran dan perasaannya. Kesamaan dalam pemikiran dan perasaannya terhadap Islam hilang. Padahal, seharusnya rasa marah dan rasa senangnya diukur dengan ajaran Islam. Sekarang kan nggak, mentang-mentang beda negeri, beda tempat, beda bahasa, akhirnya nggak peduli sama sekali. Itu namanya muslim yang dzalim terhadap saudaranya. Ih, jangan sampe deh kita berbuat begitu.

Nah, untuk melawan orang-orang Yahudi ini kita pertama kali kudu menumbuhkan kesadaran dan pemahaman tentang Islam kepada kaum muslimin. Dengan cara apa? Menyebarluaskan ajaran Islam ini lewat pengajian sekolah, buletin, majalah, koran, dan apa saja sarana yang memungkinkan orang tahu tentang Islam dan ajarannya. Sebab, kalo udah sadar mah, apapun yang ada dalam ajaran Islam, pasti akan dilakukannya dengan senang hati. Sholat saja, bila dalam diri kamu udah punya kesadaran tentang kewajiban untuk melaksanakannya, maka tanpa disuruh pun kamu langsung sholat begitu waktunya tiba.

Para sahabat di masa lalu, ketika mereka sudah memahami bahwa jihad adalah bagian dari kewajiban agama, maka mereka langsung berangkat ke medan perang untuk melawan orang-orang kafir yang memusuhi Islam begitu perintah jihad digelorakan oleh Rasulullah saw.

Jadi, yang sekarang kudu dilakukan ada dua. Pertama, kita menggalang kekuatan opini umum tentang jahatnya Yahudi dan kewajiban untuk membela saudara kita di Palestina. Di koran, majalah, buletin, pengajian kampus dan kampung, juga dalam tabligh akbar, kita sampaikan hingga mereka juga sepemikiran dan seperasaan dengan kita.

Yang kedua, kita sampaikan pula bahwa masalah Palestina ini insya Allah bisa berakhir bila ada kemauan yang kuat dari seluruh penguasa muslim—khususnya di negeri-negeri Arab untuk membereskan masalah ini. Tapi kenyataannya, mereka memilih diam ketimbang membela Palestina, sebab mereka takut dengan Amrik. Jadi, kita kudu terus menyerukan kepada mereka supaya membela Palestina. Kalo nggak, kisah negeri ini akan terus mengalir dengan cerita tentang kesedihan.

(Buletin Studia – Edisi 066/Tahun 2)

%d bloggers like this: