Mencari “Idola Cilik” Sejati 16

logo-gi-3.jpg edisi 025/tahun I (7 Rabiul Akhir 1429 H/14 April 2008)
Setelah kontes idol-idol remaja yang pamornya semakin tergusur karena satu dan lain hal, Idola Cilik muncul memberi warna baru pada tayangan TV Indonesia. Dengan peserta anak-anak usia 7 – 12 tahun, pihak stasiun TV, dalam hal ini RCTI, berusaha menjaring potensi olah vokal adik-adik kita. Tak terhitung banyaknya calon peserta yang mendaftar untuk audisi, berharap terpilih agar bisa tampil di panggung pertunjukkan di Jakarta.

Boys and Gals, menjadi terkenal dan banyak uang adalah jawaban seragam yang diberikan oleh adik-adik kita yang begitu bernafsu mengikuti audisi (mungkin juga atas desakan dan dukungan ortunya). Jika ini yang dituju, maka rusaklah generasi mendatang.

Adik-adik lugu, tapi…

Usia yang dibidik pihak produser adalah usia dini yang masih sangat labil. Usia yang masih hijau untuk mengerti sebuah makna idola dan diidolakan. Pada usia ini anak-anak cenderung pasrah akan dibentuk menjadi apa dan siapa oleh orangtua dan lingkungannya.

Anak-anak adalah kertas putih yang polos dan bersih. Ia akan mudah sekali ?ditulisi’ oleh sesuatu: bisa baik dan buruk. Ia akan menerima apa saja yang diberikan oleh orang lain terhadap dirinya. Daya tolak mereka lemah sekali.

Anak-anak ini mudah sekali menjadi korban hasrat orangtua yang terpendam. Bila orangtuanya tidak bisa menjadi terkenal, maka anaknya saja yang dipersiapkan menjadi selebritis. Bila orangtuanya tidak bisa bernyanyi, maka anaknya saja yang diikutkan les menyanyi dan ikut lomba ini dan itu agar menang dan terkenal. Syukur-syukur ada produser yang tertarik untuk mengajak rekaman. Lebih hoki lagi bila ada pencari bakat yang mengajak anaknya main sinetron. Wuih…pundi-pundi uang orangtuanya bisa dipastikan akan penuh sesak tuh.

Lucunya, saat ada orang yang peduli dan prihatin dengan kondisi ini, malah dengan entengnya orangtua si anak yang sudah silau dengan uang menjawab, “Ah, itu kan pendapat orang-orang yang iri dengan popularitas anak saya. Itu karena anaknya tidak mempunyai kesempatan untuk menjadi kaya dan terkenal.”

Orangtua seperti ini tak lagi memikirkan kebutuhan anak. Kebutuhan asasi yang dipunyai seorang anak adalah kebutuhan bermain dan berkembang dengan maksimal dalam koridor yang positif. Bagaimana mungkin seorang anak bisa berkembang dengan alami dan maksimal bila sejak kecil ia sudah berkenalan dengan sejumlah make-up, dandanan meniru orang dewasa, aktivitas bejibun seputar konser sana-sini, pemotretan dan syuting sana-sini, dll.

Anak-anak ini kehilangan ruang pribadinya, waktu bermain dan mudah stres atau tertekan karena berada di area dewasa secara mendadak. Apalagi bila umur popularitas itu tak bertahan lama, maka hal ini akan menyebabkan si anak merasa kehilangan perhatian dari khalayak. Peran orangtua dalam hal ini sangat besar dalam membentuk kepribadian anak, apakah akan menjadi sosok rapuh dan semu ataukah menjadi pribadi yang tangguh dan kokoh.

Adik kecil sebagai korban

Idola Cilik menciptakan sebuah dunia lain yang penuh imitasi, semu, dan palsu. Anak-anak pun menjadi besar dalam balutan tubuh yang kecil. Mereka dipaksa menjadi dewasa sebelum waktunya. Mereka menjadi ?orang dewasa mini’. Menurut seorang psikolog perkembangan anak dari UI, anak-anak seperti ini mengalami loncatan kehidupan dari bermain menjadi bekerja. Gimana nggak, bila sebagian besar waktu mereka habis di lokasi syuting mulai dari persiapan konser, latihan-latihan, permintaan iklan, rekaman untuk nada sambung, atau bahkan main sinetron. Nggak jarang mereka harus bekerja hingga larut malam bila jadwal sudah sedemikian padat. Tak peduli badan yang sudah sangat lelah hingga suara serak dan habis, jadwal syuting harus tetap dijalankan.

Mereka menjadi produk karbitan demi nafsu serakah oknum-oknum budak kapitalis. Gimana nggak, lagu-lagu yang mereka nyanyikan adalah lagu yang sangat tidak sesuai dengan usia dan perkembangan jiwa anak-anak. Di bawah ini saya kutip dari sebuah mailing list yang prihatin terhadap fenomena idola cilik ini. Berikut tingkah mereka:

“Tak pelnah kulagu dan slalu kuingat kelingan matamu dan sentuhan hangat. Saat itu aku telbawa cinta. Menghilup lindu yang sesakkan dada.. [dinyanyiin sama keponakannya Mona Ratuliu, Kisha]

Yang lebih mengenaskan adalah lirik lagu di bawah ini yang dinyanyikan dengan cadel pula: “Otakmu seksi, itu telbukti dali calamu memikilkan aku. Bibilmu seksi, itu telbukti dali calamu mencium pipiku. Kamulah mahluk Tuhan yang telcipta yang paling seksi. Cuma kamu yang bisa membuatku telus menjelit. Aw aw aw ah ah ah…aw aw aw ih ih ih …” Ancur deh!

Jangankan dinyanyikan oleh anak kecil, sedangkan judul lagunya aja sudah cukup untuk bikin kita merinding. Belum lagi aksi penyanyi aslinya di video klip yang udah terkategori pornografi itu. Bisa dipastikan adik-adik kecil itu telah menontonnya berulang-ulang sebelum akhirnya bisa menghapal lirik lagunya. Sedih rasanya memikirkan sosok generasi mendatang bila fenomena seperti ini yang dijadikan idola.

Sungguh menggiriskan hati. Adik-adik kita menjadi korban dari sebuah gaya hidup fana dan semu. Masih belum puas merusak remaja, perempuan dan ibu atau mama kita dieksploitasi sedemikian rupa, eh adik-adik pun dimangsanya pula. Bukan tak mungkin esok atau lusa, nenek-nenek kita atau bahkan bayi-bayi yang imut diembat juga selama itu bisa mendatangkan materi. Dasar kapitalis!

Materi ini pula yang menjadi penyangga gaya hidup semu ini. Karena sesungguhnya ideologi yang diemban juga nggak jauh-jauh dari sini, Kapitalisme. Kapital atau modal adalah hal yang dikejar dan dipuja melebihi apapun juga. Ditunjang dengan akidah berupa sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan), klop sudah ideologi ini merajalela melahap generasi muda untuk menuju jurang kebinasaan. Duhh… akankah semua ini dibiarkan saja?

Idola cilik sejati

Dunia anak adalah dunia bermain, berteman dan belajar memahami sesuatu dari sudut pandang yang baik saja. Nggak boleh mengganggu teman, patuh pada orangtua, rajin belajar demi cita-cita, dan yang utama adalah mengenal Allah dan RasulNya. Inilah seharusnya dunia anak-anak. Dunia yang dibangun penuh keceriaan di atas fitrah kanak-kanak mereka, tanpa polesan yang akan merusak jiwa mereka.

Peradaban yang dibangun di atas pondasi yang rusak pastilah menghasilkan generasi semu seperti halnya adik-adik kita di atas. Peradaban yang dibangun di atas pondasi kuat dan kokoh, pastilah menghasilkan generasi tangguh dan kuat pula. Peradaban mulia ini adalah Islam dengan segenap kisah anak-anak teladan yang seharusnya menjadi idola sejati adik-adik kita.

Ali bin Abi Thalib adalah seorang sahabat Rasulullah yang paling muda. Beliau ini masuk Islam di saat usianya masih 8 tahun. Saat itu ia datang ke hadapan Rasulullah untuk menyatakan dirinya beriman pada Allah dan RasulNya. Tapi Rasulullah sempat menyuruhnya pulang untuk meminta ijin kepada kedua orangtuanya lebih dulu karena usianya yang masih sangat belia. Namun apa jawab Ali ra?

“Ya Rasulullah, bila dulu Allah menciptakanku tidak perlu izin dari kedua orangtuaku, mengapa pula ketika aku ingin beriman padaNya harus meminta ijin pula?” Keren jawabannya!

Tidak berhenti di situ aja, setiap Rasulullah saw. berceramah dan menyampaikan wahyu serta mengadakan majelis ilmu, Ali bin Abi Thalib yang masih sangat imut itu selalu berada di barisan terdepan untuk mendengarkan. Ali pun menjadi tempat rujukan para sahabat lain yang usianya jauh lebih tua bila mereka menginginkan pendapat dan nasihat.

Bila di kalangan cowok ada anak-anak sekaliber Ali bin Abi Thalib, di kalangan cewek ada sebuah nama indah yaitu Asma binti Abu Bakar. Beliau ini dijuluki sebagai Dzatun Nithaqain atau wanita yang memiliki dua ikat pinggang. Itu karena ikat pinggang yang biasa dipakainya, ia belah menjadi dua supaya beban yang ada di atasnya menjadi ringan dan bisa digunakan untuk menyembunyikan makanan dan minuman yang akan dibawa ke gua Hira untuk Rasulullah saw. dan ayahnya ketika hijrah.

Tidak itu saja, ketika Asma masih kanak-kanak pun, jiwa keberanian itu telah nampak pada dirinya. Satu hari, Abu Jahal mendatanginya untuk membujuknya agar mau membuka rahasia di mana posisi ayahnya berada. Tetapi meskipun ia masih kecil, rasa tanggung jawab telah kokoh pada dirinya. Ia tahu apa pun yang keluar dari bibirnya, hal itu akan membahayakan posisi ayahnya dan Rasulullah saw., maka ia memilih diam ketika ditanya dan dibujuk oleh Abu Jahal. “Saya tidak tahu”, adalah jawaban yang diberikannya. Karena keteguhannya memegang tanggung jawab, Abu Jahal pun menampar Asma dengan keras hingga anting-antingnya jatuh. Subhanallah banget tuh!

Bandingkan dua kisah ini dengan ?perjuangan’ adik-adik kita di Pentas Idola Cilik. Bila sudah, sekarang bayangkan masa 20 tahun ke depan ketika mereka ini sudah menjadi besar dan dewasa. Jangan heran bila kondisi bangsa ini tak akan pernah bangkit bila bibit yang ditanam adalah selevel Idola Cilik yang di benaknya cuma popularitas semu dan uang. Jangan heran pula bila nantinya mereka memegang tampuk jabatan sebagai pimpinan negara, maka popularitas dan uang pula yang menjadi tujuan, bukan kesejahteraan rakyat.

Apa peran kita?

Kita nggak akan pernah rela membiarkan perusakan generasi ini berjalan mulus-mulus saja. Kita nggak mau dong adik-adik kecil kita menjadi mangsa kaum kapitalis yang cuma uang dan materi saja tujuannya. Harus ada langkah nyata dilakukan untuk perubahan.

How? Mulai dari diri sendiri dulu dengan sadar bahwa ini semua adalah perangkap dan bagian dari penjajahan bentuk halus. Terus, sadarkan adik-adik kita, keponakan-keponakan kita, anak-anak tetangga plus ortunya tentu saja. Karena yang namanya anak kecil, pembinaan utama masih di tangan orangtua dan guru bagi yang sudah sekolah. Bisakah dikerjakan sendiri-sendiri? Kayaknya nggak mungkin deh. Kita butuh berjamaah, kita butuh bekerjasama, kita butuh saling percaya, dan kita butuh persatuan. Semua itu hanya ada dalam ikatan akidah dan ukhuwah Islamiyah yang kuat nan kokoh.

Yuk, kita sama-sama bahu-membahu untuk menyadarkan umat. Kita campakkan kapitalisme dan sekularisme, terus ambil Islam saja sebagai solusi pembentukan generasi cerdas dan berkualitas. Idola cilik sejati kita persiapkan sejak dini supaya kelak, mental dan karakternya kuat dan tangguh dalam balutan akidah Islam dan tuntunan syariatnya.

Sobat, kita punya Islam yang akan menjadikan pemeluknya berwibawa dan punya harga diri. Bukan Islam sebatas ritual aja, tapi Islam sebagai sistem hidup dan ideologi. Bila ini yang diterapkan, ditanggung pasti populer di dunia-akhirat, insya Allah. Ditanggung pasti oke dah. So, idola cilik? Boleh, tapi dengan standar Islam saja ya sebagai ukurannya. Seeepppp ah! [ria: riafariana@yahoo.com]

16 thoughts on “Mencari “Idola Cilik” Sejati

  1. HERBET Apr 21,2008 13:04

    Menurut saya program Idola Cilik kurang bermanfaat bagi kita terutama bagi adik2 yang menjadi peserta dalam acara tersebut. Sebab banyak waktu mereka yang terbuang, dan juga lagu2 yang dinyanyikan tidak sesuai dengan umur mereka. Saya lebih setuju kalau diadakan acara2 seperti DACIL (da’i cilik). karena lebih mendidik mereka buat menjadi generasi penerus bangsa yang pintar dan beriman.

  2. ceng May 13,2008 16:35

    hampir semua acara di televisi indonesia tidak bermanfaat..
    tidak usah idola cilik… sinetron – sinetron yg mengajari rebutan harta, wanita, dan kekuasaan dengan cara2 licik. Filem kolosal yang mengandung unsur animisme dinamisme. Nyaris semua acara televisi tidak bermanfaat..

    Para pelaku di dunia hiburan pun enteng saja menjawab : kalo tidak suka yaa tidak usah di tonton..

  3. CHACHA Jun 15,2008 10:30

    Mnrt q IC sngt brmnfaat bg adik2 yg msh kecil2. IC mncri idola yg menjadi semua idola!!! pokokx keren abiiizzzzzzzzz…..!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!11

  4. Ema Jun 16,2008 13:44

    Kta cpa idl clk g b”manfaat?????? b”manfaat bgt donksssss
    dripd sbk lht sntrn yg g d artY???? cba adk klian ikt tu pstY snng skli dy bsa mbnggain ortu??????????? y g”??
    Aplg Gabriel??????????

  5. Emak Jun 17,2008 09:28

    anak saya lebih membuat bangga ketika ia mau menjadi cahaya bagi kaumnya, menjadi pembela Islam. Bukan dididik untuk jadi ahli maksiat dan sekuler seperti program idola cilik yang pasti sudah dirancang untuk menghancurkan generasi muda…

    hanya orangtua yang tidak pintar saja yang bangga anaknya ikut acara idola cilik atau acara sejenisnya…

  6. amitamit Jun 26,2008 13:00

    hah.. klo saya punya anak.. pasti saya seneng banget klo anak saya bisa masuk dalam acara2 seperti inih… bisa menyalurkan bakat-bakatnya..
    kan ada pepatah..
    ORA ET LABORA.. belajar dan berdoa..
    jadi masa dalam hidup ini kita cuman maw berdoa n aktif dalam kegiatan agama saja?? sedangkan kegiatan edukasi2 dan pengembangan bakat ditelantarkan??

  7. Ayi Jun 26,2008 16:04

    amit-amit.. jalan pikiran Anda memang amitamit!
    Inilah tipe orangtua yang akan merusak masa depan seorang anak!!
    Anda sudah sekuler! Anda pikir agama tidak membahagiakan? Anda sudah salah jalan dan sesat pikiran Anda yang memang amit2 itu!! Justru acara semacam ini yang akan merusak masa depan anak Anda!

    Untuk kaum muslimin, perkuatlah barisan, biarkan orang2 kafir saja yang masa depannya suram, orang Islam jangan pernah ikut2an suram masa depannya. jangan pernah!

  8. amitamit Jul 11,2008 16:30

    wah agama memang mebahagiakan.. tapi jaman sudah berubah bu.. jangan konservatif dong.. kita lihat sajah.. anak2 jaman sekarang.. apa mau, mereka tiap hari hanya dijejali dengan agama sajah.. tidak ada hiburannya… bisa-bisa mereka mati dengan mulut kluar busa dan bisa sajah mereka stres hingga mencoba narkoba dan lain sebagainya.
    bukannya saya tidak mementingkan agama…agama memang sangat penting.. tapi hiburan dan pengembangan bakat anak2 juga sangat penting.. supaya anak2 kita tuh tidak ketinggalan dari dunia globalisasi.. justru di sinilah peran orangtua… kita harus pintar2 menjaga anak2 kita.. dan mengarahkan anak2 kita supaya tidak masuk ke jalan yg salah… ingat… AGAMA PENTING!! demi mendapatkan ketenangan batin… PENGEMBANGAN EDukasi dan talenta juga penting!! supaya negara kita bisa maju..

  9. dIeeTTTyaaaWW... Jul 28,2008 19:27

    yoiii..broo…
    knapa yeee anak2 idola cilik nynyi lgu islami pas pringatan hri islam aj y…..
    agama emang pling pnting!!!!!!!!
    ktany amitamit btulll tuwwww…..
    skrang ak pngen idola cilik betul2 mnghargai agamany!!!!
    klo islam y nynyi lgu islam
    klo kristen y nynyi lgu kristen
    (y klo slah kta2 maap)

    idola cilik maju trus pantang mundur
    he3

  10. Akhwat N Jul 29,2008 09:55

    Cara penilaian setiap orang terhadap acara-acara semacam idola cilik tergantung dari cita-cita dan tujuan hidup masing-masing. Kalau hidup sudah berorientasi akhirat, pasti seseorang akan selektif dalam memilih tontonan dan hiburan bagi diri dan keluarganya.
    Tapi…kalau tujuan hidup hanya sebatas kebahagiaan dan kenikmatan sesaat di dunia, pasti bentuk hiburan apapun akan dianggap ada manfaatnya, meskipun kerusakan yang ditimbulkan sudah nyata.
    Jangan salah ya.., Islam tidak mengebiri kebutuhan manusia akan hiburan, Islam hanya mengatur dan memberikan batasan-batasan sehingga kehormatan dan kemuliaan manusia tetap terjaga.

    Berhibur tiada salahnya, karena hiburan itu indah
    Namun pabila salah memilihnya, membuat kita jadi bersalah….
    (senandung Raihan dalam nasyidnya “Mari Berhibur”)

    So….mari berhibur, tapi pilihlah hiburan yang tidak hanya menyenangkan hati tapi juga mendidik dan membuat kita tetap ingat kepada Allah.

  11. giling Feb 14,2009 17:00

    aneh lu yah orang islam yang katro…
    kok hal yang positiv anda anggap negatif.. bernyanyi dan menampilkan bakat mmgnya knp? kalo gituh roma irama anda anggap dosa gituh.. memangnya si anak kecil pake beha sama kolor nyanyinya???
    saya tahu kok di Islam dilarang bernyanyi karena itu dosa, hanya bisa nbyayi kasidahan, jadi album2 lagu ungu itu dosa. tapi akuilah itu salah, anda orang islam menolak hal2 lagu rohani karena tidak mau bertentangan dengan alkuran anda, jadi anda malu kalo menyukai lagu rohani…

    kasian degh lu.. gak ada otak. masa anak kecil mengembangkan bakat dianggap dosa, anak lu ajah yg gak bisa nyanyi, coba anak lu juara satu nyayyi pasti lu senang .. dasar bego lu pelihara.. nyanyi kok dikaitakan dengan agama.

  12. Pingback: Idola Cilik RXXI Merusak Anak-Anak « Catatan harian seorang muslim

  13. idola cilik fan Mar 15,2009 12:01

    se7 ma giling.. inilah contoh muslim fanatik yang berpikiran sempit.. sempit banget.. gw jg muslim, tapi emang salah gt anak2 itu bernyanyi? nunjukin bakatnya? emang dosa ya seorang anak kecil bernyanyi demi membanggakan dan meningkatkan taraf keluarganya?
    fanatik bgt sih? anak kecil bernyanyi dikait2in dengan islam. ini yang bikin islam sering ga dihargai. apa2 selalu dikait2in dengan islam.
    justru melalui acara Idola Cilik ini, kita bisa tau ada anak2 luar biasa seperti Gabriel, Kiki, Angel. apa anda bisa menyanyi the prayer sedashyat mereka? Dewi Persik aja kalo liat pasti maluu!!!!
    dan terus terang gw lebih suka sepupu gw ngefans sama Gabriel, Kiki, Angel, Septian, dari pada ngefans sama Mulan Jameela, Maia, Radja, dll.
    stop kait2in agama dengan anak2 yang ingin mengembangkan bakatnya. gw ga suka pendapat fanatik kayak gini.

  14. Adra Mar 16,2009 11:07

    Salam…
    fanatik itu memang nggak baik tapi fanatik dalam beragama adalah sangat baik. Kalau anda seorang muslim & benar2 tahu tentang islam sekaligus mengamalkannya maka pernyataan anda bahwa “sesuatu tidak bisa dikait2kan dengan islam” adalah pernyataan salah. Justru islam diturunkan untuk mengatur segala aspek kehidupan di dunia ini,jadi parameter kita dalam berfikir,berbuat,dalam hal apapun harus mengacu pada aturan islam. Hiburan dalam islam nggak dilarang,khususnya untuk anak2 malah penting karena masa anak2 itu masa2 bermain gembira. Tapi untuk saat ini memang acara2 seperti idola cilik jauh dari nilai2 islam,lebih mengedepankan hiburan semata yang akan menghasilkan profit bagi kalangan tertentu. Disamping itu,materi lagu/musiknya merupakan materi lagu/musik orang dewasa. Lain di era 80/90an materinya lagu/musiknya masih bertema tentang anak2 dengan permainannya & masih ada nilai2 nasehat dalam hal lirik lagunya. Untuk saat ini banyak orang tua tidak menyadari bahwa apa yang mereka lakukan sebenarnya adalah mengeksploitasi anak2 mereka sendiri. Kenapa anak2 kita tidak diajarkan/dikenalkan dengan Rosulullah & sahabat,supaya mereka mengidolakannya. Ingatlah saudara2ku yang sudah menjadi orangtua,kita akan diminta pertanggungjawaban tentang amanah kita yaitu salahsatunya anak kita,mereka bisa mengantarkan kita ke surgaNya atau ke nerakaNya.
    Salam…

  15. meneketehe Apr 10,2009 05:25

    assalamu’alaikum..
    woww kwerenz pola pikir kalian !!
    pi knph yak gak kita ambil sisi positif nyh ??
    d dlm idola cilik, ank2 jga dpt bnyak pelajaran lho ..
    dan para ank2 itu pnya satu kbhagiaan yg alsan nyh mulia ..
    ada dua orang t’dekat saya yg mrpkan finalis Idola Cilik 2 . Saya jga smpt prihatin ngliat childhood mrka yg d’isi sma s’abreg kgiatan . Pi saya bngga sma mrka krna wktu saya tanya gmna perasaan mrka, mrka blang “aku seneng kak, aku bsa bntu ekonomi kluargaku yg uda bnyk b’korban buat ngerawat aku” .. Dan wktu mrka tinggal klas dan (lagi-lagi) saya tanya perasaan nyh gmna, mrka jwab “aku gak apa apa kok kak, cma aku aga sdkit kcwa aja sma dri aku sndri, pdhal aku pengen nyh mnimal smp 3 bsar spya bsa ng’banggain kluarga ku” .. Well, di IC, mereka blajar ttg apa arti perjuangan, gmna m’aplikasikan rasa sayang k kluarga dgn apa yg mrka bsa .
    Lwt IC, mrka bnyk blajar ttg ketegaran, dan pelajaran TOLERANSI yg sngat bgus ..
    disana, mrka b’shahabat dgn peserta lain .
    dan saya pribadi bsa mrasakan perbedaan kepribadian mereka (yg dkt dgn saya) dr sblm ada d IC2 dgn stlah ikt ajang itu..

  16. Kurei Apr 12,2009 12:27

    Saya lebih suka kalau adik saya terkenal karena kemampuan berfikirnya,ketrampilannya,dan kemanfaatannya di masyarakat, daripada terkenal karena tampang dan kemampuan bernyanyi. Saya akan sedih jika melihat adik saya di eksploitasi untuk hal hal yang tidak berguna dan tidak memiliki kemanfaatan yang real di dalam keluarga,masyarakat,dan agama. Saya tidak rela jika adik saya menjadi penyanyi. Saya mendidik adik saya dalam dunia teknologi, bukan dunia hiburan Karena saya tidak mau adik saya hanya menjadi seorang penghibur.

Comments are closed.

%d bloggers like this: