Saturday, 1 October 2022, 12:12

Siapa yang tak sudi mendapat berkah, rahmat, dan ampunan yang besar dari Allah? Kayaknya semuanya juga kepengen, deh. Bener nggak? Lha iya, wong kalo kamu dapet bonus dari sekolah misalkan—kebetulan kamu meraih predikat juara umum—senengnya bukan main kan? Jadi sungguh aneh kalo ada teman remaja yang nggak mau menerima “bonus�. Apalagi ini bonusnya dari Allah yang kaitannya dengan pelaksanaan ibadahnya. Dan, tentunya juga aneh bin ajaib dong, kalo ada orang yang suka alias demen dengan murka Allah. Hmmm… kayaknya yang begitu mah udah eror kali yee..?

Sobat muda muslim. Nggak terasa, sekarang kita udah berada di fase 10 hari kedua. Itu artinya, kita kudu bersiap-siap menyambut malam-malam terakhir Ramadhan. Itu artinya pula, kita kudu terjaga untuk menyambut tamu agung kita, yakni Lailatul Qadr. Hemmm… saat-saat yang mendebarkan tentunya. Gimana nggak, wong kalo pas kita dikasih tahu bakal ada seseorang yang datang ke rumah. Sementara?  orang tersebut termasuk golongan orbek alias orang beken, senengnya bukan main kan? Kita udah nyiapan segalanya. Begitu pula dengan perasaan seorang gadis yang bakal menerima kedatangan calon suaminya. Serba salting deh kayaknya. Ehm… lebih bijak, mending tanyain deh sama yang udah pengalaman. Nah, inilah wujud penghormatan kepada tamu, apalagi tamu yang bakal bikin sejarah dalam hidup kita.

Well, bulan Ramadhan ini emang bener-bener bulan panen pahala buat kaum muslimin. Gimana nggak, setiap apa yang kita lakukan—amal shaleh tentunya—pahalanya akan dilipatgandakan. Utamanya lagi pada malam-malam terakhir bulan Ramadhan. Seandainya kita bisa beribadah di malam tersebut, wuih,,, kayaknya kita merasa menjadi orang yang paling beruntung sedunia kali yee. Bukan apa-apa, Allah akan memberikan pahala yang berlipat-ganda pada lailatul qadr tersebut. Boleh dibilang, lailatul qadr adalah malam seribu bulan. Bener lho. Coba, siapa yang sanggup melakukan ibadah selama seribu bulan atau sekitar 83 tahunan secara berturut-turut. Kayaknya di antara kamu udah pada tahu jawabannya. Wuih, nikmatnya rek.

Ayo, siapa yang nggak tergiur dengan bonus ini? Semoga saja kita termasuk orang-orang yang “menemukan� lailatul qadr. Dan alangkah nikmatnya lagi bila hal itu terjadi justru di saat kita sedang beribadah kepada Allah Swt. Semoga deh.

Allah Swt. berfirman:
?¥???†?‘???§ ?£???†?’?²???„?’?†???§?‡?? ?????? ?„?????’?„???©?? ?§?„?’?‚???¯?’?±??(1)?ˆ???…???§ ?£???¯?’?±???§?ƒ?? ?…???§ ?„?????’?„???©?? ?§?„?’?‚???¯?’?±??(2) ?„?????’?„???©?? ?§?„?’?‚???¯?’?±?? ?®?????’?±?Œ ?…???†?’ ?£???„?’???? ?´???‡?’?±??(3)?????†???²?‘???„?? ?§?„?’?…???„?§???¦???ƒ???©?? ?ˆ???§?„?±?‘???ˆ?­?? ???????‡???§ ?¨???¥???°?’?†?? ?±???¨?‘???‡???…?’ ?…???†?’ ?ƒ???„?‘?? ?£???…?’?±??(4)?³???„?§???…?Œ ?‡?????? ?­?????‘???‰ ?…???·?’?„???¹?? ?§?„?’?????¬?’?±??(5)
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (TQS al-Qadr [97]: 1-5)

Abu Hurayrah ra berkata, bersabda Rasulullah saw.:“Siapa saja yang bangun pada malam Qadr karena dorongan iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosanya yang lalu.� (HR Bukhari, Muslim)

Lailatul Qadr adalah malam yang penuh berkah dan rahmat dari Allah Swt. Oya, Qadr itu punya makna al-Manzilah yang artinya kedudukan atau derajat. Selain itu qadr juga bermakna asy-Syarif dengan arti kemuliaan. Tuh catet lho. Jangan lupa ya…

Abu Bakar al-Warraq menjelaskan tentang kenapa dinamai dengan Lailatul Qadr, beliau menyebutkan bahwa alasannya adalah karena pada malam tersebut diturunkan sebuah kitab yang mempunyai Qadr (kemuliaan) oleh malaikat yang mempunyai Qadr, kepada Rasulullah saw. yang mulai dan untuk umat yang mulia pula.

Apa keistimewaannya?
Kalo nanya begini biasanya nih orang penasaran banget. Bener nggak? Siapa tahu memang di antara kamu ada yang kepengen nanya masalah ini. Sobat muda muslim, seperti halnya kalo kita tahu tentang sesuatu yang istimewa, contohnya aja telgam (telepon genggam) deh, apalagi model teranyar dengan fitur lengkap yang bisa bikin kita tambah dimanja, dan itu tentu kayaknya bahagia banget dong kalo sampe kita kebetulan memilikinya. Itu sebabnya, sesuatu yang istimewa itu selalu dikejar, dan berharap kitalah yang jadi pemenangnya.

Nah, apa sih keistimewaan malam qadr ini? Allah Swt menjelaskan dalam firman-Nya:
?­?…(1)?ˆ???§?„?’?ƒ???????§?¨?? ?§?„?’?…???¨?????†??(2)?¥???†?‘???§ ?£???†?’?²???„?’?†???§?‡?? ?????? ?„?????’?„???©?? ?…???¨???§?±???ƒ???©?? ?¥???†?‘???§ ?ƒ???†?‘???§ ?…???†?’?°???±?????†??(3)???????‡???§ ???????’?±???‚?? ?ƒ???„?‘?? ?£???…?’?±?? ?­???ƒ?????…??(4)
Haa Miim. Demi Kitab (Al Qur’an) yang menjelaskan, sesungguhnya Kami menurunkan-nya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (TQS ad-Dukh?¢n [44]: 1-4)

Oke, lalu apa yang dimaksud dengan urusan penuh hikmah itu? Syaikh Abdullah al-Qadly menjelaskan bahwa pada malam itu disalin ummul kitab (Lauhul Mahfudz), yakni buku catatan induk Allah Swt. Di buku itu tercatat segala peristiwa yang akan terjadi tahun mendatang; seperti ajal (kematian), kelahiran, rizki, jodoh, kebahagiaan, kesedihan, kemenang-an, kekalahan, dan peritiwa-peristiwa lainnya.

Diriwayatkan dari Rasulullah saw. kepada para sahabatnya tentang empat orang Bani Israil yang beribadah kepada Allah selama 80 tahun tanpa dicampuri dengan perbuatan maksiat sedikitpun. Maka para sahabat menjadi kagum tapi sekaligus merasa prihatin. Bukan apa-apa, sebab mereka khawatir bila tak bisa menyamai hal itu, berhubung usia mereka pendek, kemudian turunlah Jibril as seraya berkata: “Ya Muhammad, bahwasanya para sahabatmu merasa kagum akan ibadah keempat orang itu selama 80 tahun tanpa sedikitpun maksiat, maka Allah telah menurunkan yang lebih baik daripada itu.� Lalu Jibril as membacakan surat al-Qadr. Rasul dan para sahabatnya pun merasa gembira saat mendengar kabar tersebut. Ah, nikmatnya mendapat kesempatan seperti itu. Maka, jangan sampe deh malam tersebut lolos dari “perburuan� kita. Sayang kalo berlalu begitu saja. Sebab, belum tentu Ramadhan tahun depan kita ketemu lagi. Pengennya sih, kita hidup seterusnya. Tapi, jujur saja, kita kudu tahu diri, bahwa kita pasti akan kembali kepada Allah. Cepat atau lambat.

Kapan Lailatul Qadr tiba?
Jawaban yang paling tepat atas pertanyaan ini adalah, tidak ada seorang pun yang mengetahui kecuali Allah Swt. Namun jangan sedih dulu dong. Sebab, Allah dan Rasul-Nya telah memberikan batas waktu terjadinya malam tersebut, meski tentu tidak secara pasti disebutkan. Allah dan Rasul-Nya hanya memberikan semacam interval waktu.

Diriwayatkan dari Aisyah ra yang berkata: Rasulullah saw. bersabda:

?????­???±?‘???ˆ?’?§ ?„?????’?„???©?? ?§?„?’?‚???¯?’?±?? ?????? ?§?„?’?¹???´?’?±?? ?§?„?’?£?ˆ???§?®???±?? ?…???†?’ ?±???…???¶???§?†??
Carilah Lailatul qadr pada sepuluh hari yang terakhir di bulan Ramadhan (HR Bukhari, Muslim)

Dalam keterangan lain, seperti riwayat dari Ibnu Umar ra berkata: “Beberapa orang sahabat Nabi saw. memimpikan Lailatul Qadr pada tujuh malam yang terakhir pada bulan Ramadhan. Maka Nabi saw. bersabda: �Aku perhatikan mimpi kalian bertepatan dengan tujuh malam akhir, maka siapa yang benar mencari Lailatul Qadr, hendaknya memperhati-kan pada tujuh malam yang terakhir� (HR Bukhari)

Oya, ada lagi tambahan keterangan nih. Kali aja kamu jadi banyak ngeh soal yang satu ini. Dari Ibnu Umar ra berkata:

?£???†?‘?? ?§?„?†?‘???¨?????‘?? ?µ???„?‘???‰ ?§?„?„?‘???‡?? ?¹???„?????’?‡?? ?ˆ???³???„?‘???…?? ?ƒ???§?†?? ?????¹?’?????ƒ?????? ?????? ?§?„?’?¹???´?’?±?? ?§?„?’?£???ˆ???§?®???±?? ?…???†?’ ?±???…???¶???§?†??? ? 
Biasanya Nabi saw beriktikaf pada sepuluh hari terakhir dalam bulan Ramadhan (HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi)

Pengen lebih lengkap lagi dalilnya? Nih, Imam Ahmad juga meriwayatkan hadis tentang Lailatul Qadr ini dari Ubadaah ibn Shamit: “Rasulullah memberitahu kami tentang Lailatul Qadr. Beliau berkata, â€?Dia di dalam bulan Ramadhan, di puluhan akhir, malam 21, atau malam 23, atau malam 25, atau malam 27, atau malam 29, atau di akhir malam bulan Ramadhan. Barangsiapa mengerjakan qiyam pada malam itu karena imannya kepada Allah dan karena mengharap keridhaan-Nya, niscaya diampunilah dosanya yang telah lalu dan yang akan datang.â€?? 

Mengapa dirahasiakan?
Begini, seperti kata Rasulullah, manusia itu tempat lupa dan keliru. Jadi bisa dibayangkan kalo pas di malam semulia Lailatul Qadr ini justru kita berbuat maksiat. Itulah wujud kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Jadi, hikmah dirahasiakannya lailatul qadr ini—seraya diberi tahu kenikmatan pahalanya–adalah supaya kaum muslimin ini berjaga-jaga jangan sampe berbuat maksiat. Bahkan sebaliknya berlomba untuk mendapatkan kemuliaan di malam tersebut.

Nabi saw. pernah memasuki masjid dan melihat ada orang tidur di dalamnya. Beliau menyuruh Ali bin Abi Thalib membangunkannya dan menyuruhnya berwudhu. Setelah membangunkan orang itu Ali bertanya, “Ya Rasulullah, bukankah engkau paling dahulu melakukan kebaikan? Mengapa engkau tidak bangunkan sendiri?� Beliau menjawab, “Karena kalau ia menolak perintahku, ia kafir. Aku menyuruhmu karena aku takut ia membantahku.� Kalau begitu, tahulah kita sekarang, betapa besarnya kasih sayang Rasul kepada umatnya. Coba, apalagi kasih sayang Allah kepada hamba-Nya? Rasul tidak ingin melakukan maksiat pada malam itu yang nilainya sama dengan seribu bulan.

Selain itu, sebab-sebab disembunyikan-nya waktu yang tepat dari malam qadr ini adalah untuk mendorong kita agar meningkatkan atau memperbanyak ibadah serta doa. Para ulama berkata: “Sesungguhnya Allah telah menyembunyikan keridhaan-Nya dalam ketaatan itu. Dan Ia menyembunyikan kemurkaan-Nya dalam kemaksiatan agar orang-orang menjauhi semua perbuatan maksiat. Dia menyembunyikan ijabah (dikabulkannya) doa-doa agar orang-orang memperbanyak doa. Ia menyembunyikan Ismul �Adham (nama-Nya yang termulia) supaya orang-orang mengagungkan seluruh nama-Nya (Asmaul Husna). Dia menyembunyikan diterimanya taubat supaya orang-orang itu bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat. Dia menyembunyikan waktu kematian seseorang supaya orang merasa gentar setiap saat. Demikian pula Ia menyembunyikan waktu malam Qadr supaya orang-orang mengagungkan seluruh malam Ramadhan.�

Tanda-tanda datangnya Lailatul Qadr
Yup, meski demikian, Allah dan Rasul-Nya memberikan kemudahan bagi kita untuk memburu malam seribu bulan tersebut. Di antaranya sebagaimana disebutkan dalam hadis Ubadah ibn Shamit: “Malam Qadr itu tampak cerah, terang, tidak dingin?  dan tidak panas, dan pada pagi harinya matahari keluar dengan sinar yang lembut seperti cahaya bulan purnama dan tidak diperkenankan syaithan keluar bersamanya.â€?

Oke deh, setelah kita ngeh dan paham soal yang satu ini, tentunya kita kudu lebih hati-hati lagi. Malah sewajarnya, bagi orang yang udah tahu, biasanya ia akan lebih bijak dalam bersikap. Termasuk dalam soal yang satu ini. Upaya kita memburu Lailatul Qadr ini jangan sampe berakhir dengan kegagalan. Kita semua berharap, semoga di malam-malam terakhir Ramadhan ini, kita bisa mendapatkan Lailatul Qadr. Untuk itu, yuk kita semarakkan masjid untuk ber’itikaf; shalat, baca al-Quran, dan berdoa. Semoga saja kita semua menemukan kemuliaan itu. Sayang banget deh kalo malam-malam terakhir Ramadhan ini malah kita habiskan untuk begadang yang nggak ada gunanya; nyundut petasan, gaple, bergerombol di pos ronda sambil main gitar dan aktivitas tak produktif lainnya—apalagi yang maksiat. Ih, jangan sampe deh.

Rasulullah mengajarkan sebuah doa seperti yang tercantum dalam hadis berikut. Dari �Aisyah ra beliau berkata: “Ya Rasulullah, bagaimana kalau aku mendapatkan malam qadr, apa yang sebaiknya aku ucapkan?� Rasulullah menjawab: “Ucapkanlah, Allahumma innaka �afuwwun tuhibbul �afwa fa’fu’anni (Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha pemaaf, dan suka memaafkan kesalahan, karena itu maafkanlah aku.� (HR Turmudzi)

Sobat muda muslim, semoga kita mendapatkan malam seribu bulan tersebut. Amin. Dan insya Allah kita bisa bersua di Ramadhan tahun depan. Amin. So, rapatkan barisan, perdalam Islam, tingkatkan ketakwaan, eratkan ukhuwah islamiyah, dan jangan lupa, tetap semangat untuk berdakwah!

(Buletin Studia – Edisi 078/Tahun ke-2)

Edisi Lainnya

%d bloggers like this: