Saturday, 1 October 2022, 12:37

Ada yang mengusik perasaan penulis kira-kira sepekan yang lalu. Waktu itu, kebetulan sedang menyantap hidangan di salah satu warung. Interior warung tersebut lumayan bagus dan tertata rapi. Ruangannya pun relatif bersih, meski tempatnya di pinggir jalan banget. Di salah satu sudut ruangannya “nemplokâ€? televisi ukuran empat belas inci. Dan yang menarik, saat itu acara yang sedang ditayangkan televisi adalah “Mimpi Kali Yee…â€?. Pasti kamu juga sangat apal. Bener kan? Sebab acara yang ditayangkan tiap hari Kamis jam setengah delapan malam di SCTV itu kelihatannya memang program yang ditunggu sebagian besar remaja.

Tanpa terasa, penulis pun ikut juga menonton tayangan acara tersebut sambil menikmati hidangan yang sebagian besar sudah melewati kerongkongan. Nggak habis pikir. Terus terang nggak habis pikir. Itu kalimat pertama yang penulis lontarkan dalam hati. Gimana nggak, acara “Mimpi Kali Yee..� telah menciptakan histeria massa dan “pemujaan� terhadap kaum seleb. Aduh, bener-bener memprihatinkan.

Saat itu, kebetulan seleb yang jadi bintang tamu adalah Desy Ratnasari. Seperti biasa, Dewi Hughes yang jadi presenter acara itu sibuk ngatur pertemuan antara penggemar dan seleb yang jadi bintang tamunya. Di episode itu, kebetulan yang beruntung “menjemput impian� ternyata dua orang remaja putri dari dua tempat yang berbeda.

Bagi kedua orang remaja putri ini, yang emang sangat mengagumi Desy, pertemuan secara live dengan bintang pujaannya itu mungkin sudah diimpikan sejak dulu. Dan ternyata akhirnya mimpi itu benar-benar jadi kenyataan. Coba, gimana nggak girang ketemu orang yang selama ini hanya bisa dilihat di televisi saat nyanyi atawa main sinetron. Yang selama ini hanya bisa “menyentuh� wajahnya di layar kaca. Bahkan salah satu di antara mereka berdua sampe punya setumpuk kaset khusus rekaman suara Desy. Walah? Berarti bener-bener ngefans banget tuh anak. Maka wajar langsung histeris begitu seleb pujaannya ada di depan mata mereka. Wuih betapa asyiknya mereka, sampai lompat kegirangan.

Inilah kenyataannya. Meski tentu masih ada remaja yang tidak seperti mereka berdua. Ini contoh kasus, dari sekian banyak tayangan “Mimpi Kali Yee…� yang telah berhasil mengalihkan perhatian remaja kita kepada hal-hal yang nggak perlu. Betapa dunia remaja telah menjadi sasaran empuk untuk menciptakan tren budaya. Meski budaya itu salah dan rusak. Nggak peduli, yang penting gaul.

Acara besutan Bung Helmy Yahya ini memang telah menciptakan kondisi, dimana kita kudu merasa memimpikan bertemu dengan orang-orang yang berada di “atas anginâ€?. Perasaan kita mulai dibina dengan sentuhan yang sebetulnya nggak layak. Dan tanpa terasa, melalui acara ini—dan juga acara lainnya yang sejenis–pemikiran kita diubah sedikit demi sedikit ke arah yang salah. Hingga tanpa terasa kita udah berjalan jauh dari garis yang semestinya harus kita lewati. Kita, dan teman-teman yang lain, dikondisikan dengan budaya yang tidak produktif. Hasilnya, kita jadi terus bermimpi dan mengkhayalkan sesuatu yang tidak semestinya kita impikan dan khayalkan. Ujung-ujungnya, kita bakal menjadi generasi pemimpi, pengkhayal, dan tentu salah asuhan. Ih, amit-amit kan?

Betul sekali, kita bakal menjadi generasi yang sulit untuk bisa lepas dari bayang-bayang orang top dan beken. Bahkan tanpa kita sadari, kita sedang diarahkan untuk menjadi generasi kelas rendahan, yang hanya memiliki cita-cita kerdil. Impian yang ditawarkan bukanlah impian yang istimewa. Sebab, apa bedanya mereka dengan kita secara hakiki? Sama-sama manusia kan? Barangkali yang membedakan secara kasatmata hanyalah jalan hidup. Ya, beda nasib. Kalo mereka bukan orang ngetop, kalo mereka tidak jadi orbek, kayaknya jika kita ketemu dengan orang tersebut sikap kita akan biasa-biasa aja, tuh. Bener nggak?

Apalagi mereka, yang kita nilai secara kasatmata, kehidupannya sangat akrab dengan hal yang nyerempet-nyerempet kepada perbuatan maksiat. Apa yang bisa kita banggakan dari mereka? Apa yang bisa kita teladani dari mereka? Dan apa iya kita tega menyerahkan perasaan hati kita kepada hal yang tak perlu dan nggak ada gunanya? Mungkin kalo ada yang “benernya�, bisa ajalah kita tiru. Tapi sayangnya, sebagian besar teman remaja nggak terlalu peduli dengan gaya hidupnya. Malah sedikit cenderung menutupinya di balik segala gemerlap kehidupan mereka. Aduh, masalah ini perlu kamu renungkan dengan amat mendalam. Ini butuh kejujuran hati kita, kawan.

Jadi, mbok ya kalo “bermimpiâ€? itu untuk yang baik gitu lho. Mengangankan atau memimpikan tinggal di surga, punya cita-cita bertemu Allah dan Rasul-Nya di akhirat nanti,?  mengkhayalkan bagaimana bila kita ikut berjihad melawan orang-orang kafir yang memerangi Islam dan kaum Muslim. Kita pikir, “impianâ€? seperti itulah yang sebaiknya kita inginkan dan cita-citakan agar menjadi kenyataan. Jangan puas dan bangga saat impian kita ingin bertemu artis jadi kenyataan. Ih, kalo begitu sih, kayaknya kudu diperbaiki deh perasaan dan pikiran kita. Bener. Setuju kan?

Sebaiknya kita memimpikan…
Ya, sebaiknya kita “memimpikan� atau mengharapkan sesuatu yang berarti dalam hidup kita. Kamu kenal Abdullah Ibnu �Umar? Nah, beliau ini patut kamu contoh dalam hidup kamu. Di usianya yang menginjak 13 tahun, sudah kebelet ingin ikut berjihad bersama Rasulullah saw. Jihad baginya adalah impian yang sejak lama berusaha ia wujudkan jadi kenyataan. Maka, beliau bersama al-Barra’ ngotot ingin berperang (jihad) bersama pasukan Rasulullah dalam perang Badar. Namun oleh Rasulullah saw. ditolak karena masih kecil. Untuk sementara impiannya belum terwujud jadi kenyataan. Tahun berikutnya pada perang Uhud, beliau tetap ditolak, hanya al-Barra’ yang boleh ikut. Barulah keinginannya yang tak tertahankan itu terpenuhi pada saat perang Ahzab, Rasul memasukkannya ke dalam pasukan kaum Muslim yang akan memerangi kaum Musyrik (Shahih Bukhari jilid VII, hal. 226 dan 302).

Aduh, betapa indahnya impian jadi kenyataan. Sikap Abdullah ibnu �Umar adalah teladan yang bisa kita contoh. Betapa tidak, di usianya yang masih belia, beliau sudah punya keinginan untuk berjihad. Sebab, jihad merupakan impiannya yang terindah, apalagi bila kemudian syahid di medan perang dalam rangka menegakkan kalimah Allah. Agar tidak ada lagi fitnah di muka bumi ini. Sungguh mulia amalannya.

Sementara kita. Ya, kita, remaja Muslim kontemporer alias masa kini, apa yang sanggup kita impikan? Impian apa yang ingin jadi kenyataan? Kalo jawabannya seperti dalam acara Mimpi Kali Yee…, aduh, terus terang kita prihatin banget, kawan. Betapa impian itu rendah banget nilainya.

Kawan, pernahkah kita memimpikan, bahwa suatu saat nanti kita ingin menjadi pengemban dakwah yang berani, tegas, tegar, dan pantang menyerah? Pernahkah kita “bermimpi� ingin tampil seperti “Sayyidu Syuhada� Hamzah bin Abdul Muthalib—sang singa padang pasir? Pernahkah kita bermimpi—dan ingin jadi kenyataan—punya kecerdasan dan ketangguhan bak Ali bin Abi Thalib? Pernahkah pula kita punya keinginan untuk menjadi panglima perang Islam setangguh Usamah bin Zaid? Ataukah kita pernah “bermimpi� ingin seperti delegasi yang diutus Saad bin Abi Waqqash untuk berdialog dengan Rustum, sang Panglima Perang Romawi? Pernahkah pula kita bermimpi ingin seperti Khalid bin Walid ketika mengancam Panglima Perang Romawi dengan kata-katanya yang heroik, “Kalau kalian tidak tunduk, akan aku kirim pasukan yang mencintai kematian sebagaimana pasukan kalian mencintai hidup!� Atau pernahkah kita “bermimpi� untuk tampil seperti Panglima Thariq bin Ziyad yang bersama pasukannya berhasil menaklukkan Spanyol? Juga, pernahkah kita mengidamkan ingin “menjadi� Shalahuddin al-Ayubi yang berhasil merebut kembali Palestina dari cengkeraman Pasukan Salib?

Inilah sebagian impian yang kita upayakan kudu jadi kenyataan. Sebab “impian� seperti ini nilainya beda banget dengan sekadar mimpi ketemu seleb, seperti dalam acara “Mimpi Kali Yee…�

Upaya “mengasingkan� Islam
Dunia remaja, khususnya di negeri ini mengalami “keguncangan citra diri� saat memasuki dekade tahun 90-an. Masa ini, seperti diramalkan dua “dukun masa depan�, John Naisbitt dan Patricia Aburdene dalam buku best seller-nya, Megatrends 2000. Ada yang menarik dari kajian dua futurolog ini, yakni tentang “mengekornya� dunia ketiga kepada negara-negara maju. John dan Patricia menuliskan dalam bukunya, bahwa food, fashion, and fun akan menjadi senjata pamungkas negara maju menarik dunia ketiga. Tujuan mereka adalah menularkan gaya hidup. Makanan, pakaian, dan hiburan harus seragam di seluruh dunia. Dan yang menjadi kiblat gaya hidup sudah jelas; AS dan Eropa.

Serangan itu makin terasa bertenaga kuat saat teknologi informasi mengalami lompatan yang luar biasa. Gimana nggak, sekarang dunia cyber telah berandil besar dalam mentransfer gaya hidup AS dan Eropa. Teknologi komunikasi telah berhasil meyakinkan kita bahwa dunia tak seluas pandangan mata kita, bahwa dunia ternyata memang benar tak selebar daun kelor. Kenyataan ini bukan tanpa risiko. Sebab, itu artinya makin leluasa upaya transfer budaya asing ke negeri ini. Nggak heran bila sekarang, lidah kita pun terbiasa dengan makanan Uncle Sam dan?  orang-orang Eropa, tanpa mempedulikan apakah itu halal atawa haram. Kita pun bangga memakai busana “ala kadarnyaâ€? khas AS yang mengabaikan ajaran agama kita. Soal hiburan pun kita mesti bicara Hollywood. Selain dari sana, pokoknya nggak kelas. Malah tak heran bila kita jadi terbiasa dengan gaya hidup amoral dan pemikiran yang menghujat kebenaran agama. Walhasil kita lupa dengan jati diri kita sebagai seorang Muslim. Mungkin bukan hanya lupa, tapi kita udah nggak kenal lagi.

Hasilnya, budaya Barat telah menggeser Islam. Budaya Barat telah mengkerdilkan peran Islam dan mengasingkannya dari kehidupan kaum Muslim. Buktinya, sejarah tentang kejayaan Islam di-delet abis, agar kaum Muslim nggak tahu. Ini sudah menjadi kenyataan yang menyakitkan, betapa kini Islam amat asing bagi kita. Antara Islam dan kaum Muslim seperti ada dinding tebal yang sulit untuk ditembus. Bak tembok Berlin yang memisahkan antara Jerman Barat dan Jerman Timur di masa lalu. Islam dengan kaum Muslim seolah saling menjauh. Islam di mana, kita entah di mana. Hasilnya, lidah kita jadi kelu bila kudu bicara Islam. Dan ironinya, lidah kita amat fasih bila bicara tentang westernisasi dengan segala gemerlap produk mereka.

Keberhasilan Barat mengasingkan Islam dari ummatnya tak lepas dari proses panjang usaha mereka yang ratusan tahun. Salah satunya mereka menanamkan Islamophobia atau ketakutan terhadap Islam. Propaganda ini terus digembar-gemborkan hingga akhirnya kaum Muslim percaya sepenuhnya dengan pernyataan mereka. Sebab, siapa saja yang berani bicara Islam, AS dan Eropa akan mencap mereka dengan sebutan kaum fundamentalis dan ekstrimis. Ih, jahat nian ya?

Mereka tak henti-hentinya membuat susah hidup kita karena dendam dan kebenciannya yang begitu mendalam terhadap Islam. Jadi benar apa yang disebutkan Allah Swt. dalam firman-Nya:

?????§?£?????‘???‡???§ ?§?„?‘???°?????†?? ?????§?…???†???ˆ?§ ?„???§ ???????‘???®???°???ˆ?§ ?¨???·???§?†???©?‹ ?…???†?’ ?¯???ˆ?†???ƒ???…?’ ?„???§ ?????£?’?„???ˆ?†???ƒ???…?’ ?®???¨???§?„?‹?§ ?ˆ???¯?‘???ˆ?§ ?…???§ ?¹???†?????‘???…?’ ?‚???¯?’ ?¨???¯?????? ?§?„?’?¨?????’?¶???§???? ?…???†?’ ?£?????’?ˆ???§?‡???‡???…?’ ?ˆ???…???§ ?????®?’?????? ?µ???¯???ˆ?±???‡???…?’ ?£???ƒ?’?¨???±??
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudha-ratan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi.â€? (QS Ali Imr?¢n [3]: 118)

Anehnya, bukannya malah menjauhi mereka—musuh-musuh Islam, kita malah berangkulan dengan mereka dan meniru gaya hidup mereka dalam setiap aktivitas hidup kita. Hidup kita saat inipun berselimutkan sekularisme. Paham yang mengajarkan bahwa agama harus dipisahkan dari kehidupan (politik). Hasilnya, kita bisa saksikan betapa remaja Muslim tidak lagi “bercitarasa� Islam. KTP boleh Islam, tapi dalam kehidupan sehari-hari rela jadi “hamba� sekularisme. Kiblat dalam shalat masih Ka’bah, tapi kiblat gaya hidup ke AS atawa Eropa. Pola hidup kitapun adalah ciri dari produk kapitalisme. Buktinya, ya, di acara “Mimpi Kali Yee…� itu salah satunya.

Betul, kita menangkap gejala yang nggak sehat dalam kehidupan ini. Betapa hidup kita sudah jauh dari ajaran Islam. Sehingga wajar bila kita merasa asing dengan Islam itu sendiri. Kita merasa bahwa kita seperti bingung dengan ajaran Islam. Sebagian dari kita mencampakkan Islam, sebagian lagi berada di “tengah-tengahâ€?. Yang di tengah-tengah ini yang “nggantungâ€?, ke Islam mau, tapi ke?  Kapitalisme juga demen. Akhirnya cukup dan merasa sudah ber-Islam, dengan hanya mengenakan simbol-simbol keagamaan belaka. Sementara pikiran dan perasaannya jauh dari ajaran Islam. Hidupnya malah sudah merasa nyaman dengan keadaannya sekarang ini. Orang yang model begini biasanya takut kalo dibilang fanatik, khawatir bila dibilang idealis, ngeri kalo dapat sebutan militan. Tapi rela bila digelari modern, enjoy disebut anak gaul, cool, en funky. Walah?

So, mari kita jaga dan perbaiki pikiran dan perasaan kita dengan ajaran Islam. Nggak boleh dengan ideologi yang lain. Mulai sekarang kita kudu mencintai Islam dan mempelajarinya. Jangan ada lagi ketakutan terhadap Islam. Justru yang kudu kita takuti dan khawatirkan adalah terwarnainya kehidupan kita dengan ajaran kapitalisme atau sosialis-komunis. Mari kita pahami Islam sebagai akidah dan syariat. Supaya selamat. Jadi, ngaji yo maaaang!

(Buletin Studia – Edisi 060/Tahun 2)

1 thought on “Mimpi Kali Yee!

Comments are closed.

Edisi Lainnya

%d bloggers like this: