Tuesday, 27 September 2022, 01:54

edisi 058/tahun ke-2 (3 Dzulhijjah 1429 H/1 Desember 2008)

Kita semua pasti pernah tidak sengaja: tidak sengaja ngisengin orang, tidak sengaja ngabisin nasi tetangga, tidak sengaja makan pizza sambil mandi di WC sekolah. Nah tulisan ini juga lahir dari ketidak-sengajaan. Suatu ketika editor gaulislam menghubungi gue ketika gue lagi asik-asiknya ngupil sambil minum teh. Ya, gue mendadak didaulat untuk menulis artikel oleh editor gaulislam. Hmm.. bingung mau ngomong apa, mau nolak tapi nggak enak sama PBB, ya udah gue coba aja, siapa tau ada produser pilem yang baca tulisan ini, dan tertarik untuk memberikan peran ke gue di pilem-nya untuk jadi kamera (lho?).

Tulisan ini terinspirasi dari rutinitas gue seperti biasa (makan-tidur-downloadupload-ngupil), sampai pada suatu ketika gue dalam angkot menuju rumah, lagi asik-asiknya gue ngelamun: “Kenapa ya orang Islam segini banyaknya tapi tetep aja kerusakan ada di mana-mana”, tiba-tiba dengan nafsu yang menggebu dua orang remaja pulang dari les langsung menyergap masuk ke angkot, setelah sebelumnya mereka ngejar angkot dengan berlari-lari kurang lebih 2 km, maklum angkotnya tetep ngacir walopun mereka bedua bertereak-tereak memanggil abang tukang bakso, mari-mari sini, wah pantesan angkotnya nggak berhenti (huahahaha sori ini sekadar dramatisasi gue aja. Biar yang baca nggak manyun mulu tuh kayak bemo lagi ngetem nunggu penumpang menuhin dirinya. Idih, bemo emang udah manyun dari sononya, man!)

Sejurus kemudian pembicaraan mereka menjadikan lamunan gue hancur lebur, abis mereka bedua ngobrol sambil ngacungin clurit ke muka gue, eh nggak ding. “Eh gue besok mau nonton Rihanna neh, lo mau ikutan nggak?” sergah cowok kurus berbadan berat dan jago masak aer ini. Wah keren donk elo bisa nonton Rihanna, mau bayarin gue nggak? Lagi bokek neh,” timpal cewek berkerudung yang kelihatan rambutnya, “Yah… gue lagi nggak ada duit neh, tadi barusan duit gue abis buat bayar angkot dari rumah nenek gue di Singapore ke sini nganterin pulpen yang ketinggalan. Gue kepaksa nonton Rihana karena gue ada tugas bahasa Inggris untuk bikin reportase acara Rihanna dari pak lurah, eh bukan dari guru kungfu gue. (Gubrak! Nih hiperbolis banget ya obrolannya?)

Ancur kuadrat, itu yang ada di pikiran gue, kenapa guru-guru jaman sekarang pada nyuruh murid-muridnya ngerjain tugas sambil nonton konser ya? Mungkin ada manfaatnya, cuma rasanya kok lebih gede mudharatnya. Setelah beberapa hari berselang, ternyata Si Rihana nggak jadi manggung. Sebenernya doi kesel terus ngambek berat setelah kalah maen counter strike ngelawan ikan gue, eh nggak ding, doi nggak mau manggung karena katanya negara kita nggak aman, ya iya lah, kita kan ada di Indonesia, bukan di Amman (Yordania), mabok kali ye. Pletak! Watau!

By the way, coba kamu perhatiin tanpa kamu sadari sebenernya musik jadi bagian yang lengket banget dalam hidup kita. Dari mulai ringtone HP, bel, jam dinding sampe kentut pun ada iramanya. Hubungan musik ama manusia emang udah terlalu jauh, musik tidak hanya dipandang sebagai hasil karya seni aja, tapi juga udah berubah menjadi bagian dari pembentuk identitas manusia. Sebagai contoh kalo kita temuin anak-anak punk dapat dengan mudah dikenali dari pakaian dan dandanan rambut khas mereka, walaupun si Dodi-yang temen gue itu, kalo menurut gue lebih mirip anak punk, apalagi kalo doi abis kesetrum, dijamin susah banget ngebedain doi sama papan penggilesan (apa hubungannya? Hihihi…)

Sebenernya musik mempengaruhi perilaku manusia. Itulah kenapa tiap musik pasti punya ciri khas genre mereka, coba kamu perhatikan perbedaan perilaku dan dandanan anak punk, anak RnB, anak underground, anak dangdut sampe anak ayam, akan kelihatan dengan jelas bagaimana setiap genre musik mendefinisikan gaya dan dandanan mereka masing-masing. Tul nggak sih?

Dari penelitian terakhir musik tidak hanya digunakan untuk entertainmen saja, tapi udah menjurus kepada pembentukan karakter dan penyebaran paham-paham yang nggak bener. Ibu-ibu jaman sekarang lebih seneng mendengarkan musik klasik pada saat mereka hamil, dengan harapan supaya anak mereka terlahir dengan tampang klasik, eh bukan, maksudnya lebih cerdas/jenius. Ini biasa dikenal dengan Mozart Effect, Padahal kalo dibandingkan dengan kedahsyatan efek al-Quran, efek Mozart nggak ada apa-apanya. Sumpah!

Bro en Sis, al-Quran sudah terbukti memiliki kemampuan menyembuhkan secara langsung, dalam arti al-Qurannya dibaca ya (dan diamalkan). Efek ini biasanya kita kenal dengan ruqyah. Penelitian lain oleh Dr. Ahmed E. Kadi dan gue, eh nggak ding-sama konco-konconya beliau, menunjukkan bahwa dengan mendengarkan pembacaan al-Quran akan memberikan pengaruh pada para pendengarnya, penurunan tekanan darah, detak jantung jadi lebih kalem sehingga secara umum menyebabkan relaksasi di otot-otot pada tubuh manusia, penelitian ini telah dilakukan pada orang muslim arab, non arab dan bahkan non muslim! Tidak heran kenapa nabi selalu menganjurkan umatnya untuk membaca al-Quran setiap hari, bukan mendengarkan musik.

Musik dalam dekapan remaja

Waktu dulu gue kenal musik, genre pertama yang gue suka adalah rock, waktu itu gue seneng banget sama Queen, sekarang amit-amit deh dengerin Queen, bukan karena karya musiknya ya, tapi tiap kali gue dengerin Queen, gue jadi inget vokalisnya, yakni Si Freddy Merkuri, yang gaya panggungnya mirip banget ama vokalisnya Teamlo, apalagi kalo tahu doi kena HIV, hiiiiiii, ini contoh yang nggak baik, nggak usah ditiru!

Jadi inget waktu dulu, saat itu gue berusaha untuk menyampaikan apa yang ada di dalam otak gue dengan media musik, waktu itu gue mainin kibord, gue udah siapin lagu-lagu gue dengan matang, gue maen dengan penuh semangat, eh ternyata menakjubkan sodara-sodara, orang pada nggak paham apa yang gue sampaikan. Sedih banget gue.

Waktu itu di mata gue, emang kereen banget orang-orang yang bisa maen musik dengan skill yang tinggi. Banyak cewek pada ngefans, terus kemana-mana diikutin pula (sama malaikat Roqib dan Atid, maksudnya!). Jadi deh gue berusaha meningkatkan skill dengan menyukai musik-musik instrumental. Cuma kemudian gue sadar kalo musik bukan skill, tapi pesan… ya pesan yang harus disampaikan kepada para pendengernya.

Nah, karena musik pada intinya adalah pesan, maka kita kudu pinter-pinter milih mana pesan yang baik dan mana yang sampah. Ada beberapa kelompok yang menggunakan musik untuk menyampaikan protesnya, biasanya sih alirannya rock, jadi buang aja deh CD/kaset rock yang isi liriknya cemen, tereak-tereak abis, beat kenceng, tapi liriknya cemen apa lagi nggak islami. Salah genre man, temenan aja sama? suparmen (lho?)

Bagaimana sikap kita

Bagaimana seharusnya kita menyikapi soal musik yang ada di sekitar kita? Dari perilaku pendengarnya saja sebenernya udah bisa kita nilai, beberapa genre dengan sukses bila dimainin bakalan memberikan efek langsung kepada para pendengarnya, yaitu ‘kesurupan’! Lihat aja beberapa konser musik yang akhirnya berakhir sukses dengan kerusuhan. Itu bikin sakit, Bro. Sementara isi al-Quran membawa kesembuhan, pilih mana? Biasanya sih ada aja yang milih sakit, tapi begitu dibilangin sakit lo ye-biasanya langsung jadi marah, hehehe, padahal jelas-jelas pilihan dia salah.

Hukum musik dalam Islam adalah mubah, walaupun ada sebagian ulama yang mengharamkannya, kenapa? Karena memang musik memiliki efek melenakan/memabukkan pada manusia, jadi musik yang jelas-jelas mempengaruhi perilaku negatif pendengarnya, misal abis dengerin musik kita jadi kesurupan, marah-marah, ngupil tanpa terkendali, anarkis bahkan sampai horny, jelas harus ditinggalin. Lha terus musik apa yang paling baik? Kalo dilihat dari genre tidak ada, semua genre musik memiliki efek psikologis masing-masing, jadi yang kudu dilihat adalah pesan yang dibawanya!

Ada kalanya pesan dalam satu lagu susah banget dipahami, karena memang tingkat sastranya yang tinggi atau memang nggak bisa bikin lirik aja tuh penulisnya, yang pasti untuk amannya tinggalin aja lagu-lagu dengan lirik yang nggak jelas mau ke mana arahnya, apalagi yang udah jelas ngajak kepada kemaksiatan. Why? Karena umur kita terbatas, Bro, ngapain ngabisin waktu memahami lirik lagu yang nggak jelas, mending kita gunakan untuk ngapalin al-Quran 1 juz, misalnya, itu jelas manfaatnya.

Kalo kita nemuin orang di sekitar kita yang beranggapan bahwa musik bisa mengubah hidup mereka, bahkan mereka percaya banget sama lirik dari musik yang nggak jelas, coba sadarkan mereka pelan-pelan, tunjukkan bahwa hanya Islam yang bisa memberikan perubahan benar dan nyata dalam kehidupan kita.

Banyak musik islami yang entah kenapa jarang banget ditengok ataupun disukai, lirik-lirik nasyid yang dari sudut pandang sastra dan kualitas pesan yang dibawanya lebih berkualitas, buktiin aja sendiri dan coba bandingkan. Kamu kudu lebih dewasa dalam memilih dan menghapal lagu-lagu, kalo liriknya sampah buang aja, kagak ada gunanya. Sumpah!

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Abu Malik al-Asy’ari: “Sesungguhnya akan terdapat di kalangan umatku golongan yang menghalalkan zina, sutra, arak dan permainan (musik). Kemudian segolongan (dari kaum muslimin) akan pergi ke tebing bukit yang tinggi. Lalu para penggembala dengan ternak kambingnya mengunjungi golongan tersebut. Lalu mereka didatangi seorang fakir untuk meminta sesuatu. Ketika itu mereka kemudian berkata, “datanglah kepada kami esok hari.” Pada malam hari Allah membinasakan mereka dan menghempaskan bukit itu ke atas mereka. Sisa mereka yang tidak binasa pada malam tersebut ditukar rupanya menjadi monyet dan babi hingga hari kiamat.”

Nah, golongan yang diazab oleh Allah ta’ala adalah mereka yang menghalalkan perzinaan, minuman keras (khamr), sutera (untuk pria) dan memainkan alat-alat musik di luar aturan Islam. Misalkan menyanyikan lagu syair porno, pemujaan setan, menggugat Tuhan, termasuk lagu-lagu cinta yang ngajak maksiat, lho (ngajak pacaran, ngajak berzina, ngelupain ibadah). Bisa juga acaranya dilakukan dengan campur baur pria dan wanita (kayak nonton konser musik).

Moral of the stori

Jangan suka sembarangan megang-megang kabel di panggung, suka nyetrum (lho apa hungannya?) Oke serius neh: Musik adalah salah satu media komunikasi, untuk menjadikan musik lebih bermanfaat, adalah memastikan apa yang ada dalam musik tersebut bisa dipahami ama pendengarnya, jadi pilihlah musik-musik yang ada syairnya, tentunya kita juga harus pandai memilih karena ada syair yang nggak bagus juga. Jangan terlalu terkecoh dengan beat/ritme/irama yang bisa bikin goyang atau terpukau banget sama sikil, eh skill main musik maksudnya. Sebab, itu nggak banyak ngaruh, justru kekuatan sebenernya ada di dalam lirik lagunya, ada di dalam arti tiap-tiap kata-katanya. Jadi pilihlah lirik yang ada manfaatnya, en sudah pasti pula kebenarannya (islami), sehingga kamu tidak membuang waktu sia-sia hanya mendengarkan lirik-lirik sampah dan bahkan terlena dengan lirik-lirik tersebut. Naudzubilah,… nggak banget deh! [aribowo]

5 thoughts on “Nggak Asal Dengerin Musik

  1. Assalamu ‘alaikum…
    Gaul coy!
    Banyak ilmu yang gue dapet dari ne situs….

    Anda benar-benar membantu sesama…

    Kemasannya jg ga mbosenin…..

  2. assalamualaikum..
    kk mo nanya nih..
    kalau musik yang liriknya gak ngajak maksiat dan juga gak ngingatin pada ALLAH SWT gimana?
    boleh atau nggak?

  3. setuju men kasih contoh yg baik … ajak2 donk yg islami gitu dgn nyata …kalu didunia maya sekedar ngemeng doang kagak tahu profil elo gimane. misalnya bikin usaha islami elo pelopornya…bantuin die teknik islami baru mantab. kenyataannya kan jeruk makan jeruk, sesama muslim saling adu otot, adu jotos, saling hina…

Comments are closed.

Edisi Lainnya

%d bloggers like this: