Monday, 27 May 2024, 00:44

EDITORIAL/September/2008

Sejak awal terjun dalam pertarungan merebut kursi nomor satu sebagai penguasa di negeri Paman Sam, Obama sudah di-setting untuk menang. Terbukti, di pemilihan awal pun, ia berhasil menyingkirkan pesaing beratnya yang sama-sama dari kubu Demokrat, Hillary Clinton. Kini, tinggal menghitung hari saja untuk bisa berduel dengan McCain, calon presiden dari kubu Republik, nanti di bulan November.

Lalu apa hubungan antara Obama, Islam dan Terorisme? Kaum Muslimin harus menyadari bahwa Obama akan menjadi calon presiden di negeri yang menerapkan Sekularisme-Kapitalisme secara total. Itu artinya, Obama tak mungkin bisa melepaskan diri dari kerangka berpikir dan kebijakan politik yang diemban Amerika Serikat selama ini. Itu logika sederhana. Sebabnya, Sekularisme-Kapitalisme tidak mungkin memberikan jalan kepada siapa pun yang di kemudian hari akan menghancurkan Sekularisme-Kapitalisme itu sendiri. Itu artinya, Obama dan orang-orang yang berada di belakangnya sebagai tim sukses pasti tetap menjadikan Islam dan terorisme sebagai bagian dari agenda politiknya.

Meski Obama punya garis keturunan dari ayahnya yang muslim asal Kenya, tapi Obama menolak dihubung-hubungkan dengan Islam dan kaum Muslimin sebagai bagian dari mereka. Terorisme pun tetap menjadi agenda kebijakan politik pemerintah Amerika. Ini bisa dipahami karena Obama tidak sendirian mencalonkan diri. Tapi ada banyak kaki-tangan yang berusaha mendorong-bila tidak mau dikatakan menekan-agar Obama melakukan deal politik bila menang kelak. Terbukti, Obama menegaskan sikapnya untuk tetap memberikan “perlindungan” atau minimal “mengamini” keberadaan Israel di Palestina. Jelas, ini adalah upaya nyata sikap politik yang ditunjukkan Obama kepada dunia.

Bagi kita, kaum Muslimin, tak ada bedanya antara Obama dengan Bush Senior dan Bush Junior (dan seluruh presiden AS). Mereka sama-sama menjalankan politik kepentingannya sebagai negara adikuasa yang tak akan begitu saja tersentuh untuk membantu dunia bila tak ada “udang di balik batu”. Bahkan sebaliknya, pemerintah Amerika baik dari kubu Demokrat atau Republik tetap merasa menjadi the globo cop. Meski pada praktiknya, susah membedakan antara “pekerjaan” polisi atau penjahat. Sebab, pemerintah Amerika gemar menginvasi negara lain dengan alasan menegakkan HAM dan demokrasi jika kepentingannya diusik. Ironi.

Jadi, berharap banyak kepada Obama untuk melakukan perubahan politik ke arah yang lebih baik di Negeri Paman Sam adalah mimpi. Kecuali, jika Obama berani menegakkan Khilafah Islamiyah di sana. Tapi, apa mungkin? Bukan soal kemungkinan, tapi itu lebih tepat disebut khayalan! [rahadi]

5 thoughts on “Obama, Islam, dan Terorisme

  1. Apakah tidak sebaiknya Barack Obama masuk Iskam saja agar selamat dunia-akherat ,sekarang kan banyak orang Amerika masuk Islam :
    13. Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama[1340] dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya). (QS.42:13 )

    [1340]. Yang dimaksud: agama di sini ialah meng-Esakan Allah s.w.t., beriman kepada-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhirat serta mentaati segala perintah dan larangan-Nya.

  2. hah,,rasa’y dongkol bgt klo liat2 knyataan ttg islam,,jgnkn nonislam’y, org islam’y pun trutama d indonesia kadang mndukung kegiatan bejat umat nonislam,malah seakan tutup mata dgn nasib sodara qta trutama d palestin,,,,inti’y pa yg bisa qta lakuin bwat islam,bkan cuma bwat slametin diri sendiri,,,,,klo berdoa sih dari dulu,,,v lngkah real’y kira apa, y?

Comments are closed.