Putus Sekolah, Tak Berarti Kiamat 1

Di antara kamu-kamu, pasti banyak yang udah punya rencana macam-macam setelah lulus sekolah SMU. Melanjutkan ke perguruan tinggi, kerja atawa kursus. But, bagaimana kalo semua itu nggak bisa diraih? Nggak usah panik, dunia belum kiamat, Non!

BEBAS… euy! Begitu barangkali perasaan di dada-dada kamu setelah lolos dari lubang jarum UAN. Lulus SMU, serasa melenyapkan berbagai beban selama duduk di bangku sekolah itu. Nggak lagi dikungkung dengan seragam abu-abu putih, rutinitas belajar dan tetek bengek peraturan sekolah lainnya.

Emang sih, bagi yang mo ngelanjutin ke jenjang pendidikan lebih tinggi, kerjaan belon tuntas. Masih kudu berjuang mati-matian buat menembus PT. Maklum, jatah bangkunya terbatas banget sementara ratusan ribu calon mahasiswa berebut mendudukinya. So, tetep kudu belajar dan pasang strategi jitu biar tembus PT idaman kamu.

Sementara buat yang punya rencana terjun ke dunia kerja, juga gak kalah puyeng. Maklum, di era krisis multidimensi gini, peluang kerjaan sangat-sangat minim. Jangankan lulusan SMU, sarjana aja banyak yang nganggur. Tul, nggak? Mangkanya, kalo mo kerja juga tetep dibutuhkan kerja keras agar bisa bersaing. But, kudu bersaing sehat ya. Jangan sampe main suap segala.OK?

Nah, sekarang masalahnya, kalo kamu-kamu nggak bisa meraih impianmu buat nerusin sekolah lagi, nggak dapet-dapet kerjaan, mo kursus juga nggak mampu, trus gimana? ”Gimana ya, pokoknya mo cari informasi lowongan kerja sebanyak-banyaknya. Siapa tahu dapet kerjaan. Yang pasti, saya nggak mau nganggur, pengin kerja bantuin ortu,” cetus Rinah, jebolan SMK Negeri di Bogor ini kepada Permata.

Kalo emang nggak dapet-dapet kerja, doi sih psarah aja. ”Masalah rezeki kan di tangan Allah,” ucapnya enteng. Lagian, kalaupun nggak diterima di dunia kerja, Rinah bukan berarti nganggur 100 persen. So, doi nggak terlalu stres. Soalnya ada aktivitas lain yang bisa dia lakukan. Malah, aktivitas yang satu ini juga cukup mengasyikkan dan butuh tantangan. Apa sih? ”Meski nggak kerja atau sekolah, kita kan tetap bisa melakukan aktivitas semisal ngaji dan dakwah. Jadi nggak sampai bete,” paparnya.

Berbeda dengan Indri, alumnus? SMU yang juga punya rencana mo kerja, nggak punya gambaran sama sekali mo ngapain kalo nggak dapet kerjaan. ”Mo kursus jelas nggak mungkin, nggak ada biaya. Jadi bingung,” curhatnya kepada Permata. Indri sadar, tanpa bekal keterampilan, emang nggak gampang nyari kerjaan. Lulus SMU bisanya apa sih, paling-paling kerja di pabrik, katanya. Bagaimana kalau bikin usaha sendiri? ”Nggak kepikir ke sana, deh! Bikin usaha? sendiri kan nggak gampang. Mo usaha apa juga nggak kebayang. Lagian butuh modal, dari mana kita punya?” ungkapnya. Maka, doi cuma bisa ngebayangin gimana betenya tanpa aktivitas yang berarti setelah lulus sekolah. ”Paling-paling bantuin ibu di rumah, main, gitu deh,” katanya.

Mimpi Kali Ye…

Di tengah-tengah kehidupan sekuler-kapitalis gini, mengharapkan kondisi ideal emang mustahil. Melanjutkan ke perguruan tinggi setelah lulus SMU misalkan, pasti menjadi dambaan setiap anak didik. Termasuk kamu-kamu. Hanya saja, karena terbentur minimnya kesempatan, ketatnya persaingan, ketiadaan biaya dan faktor ekonomi lainnya, maka impian untuk meraih pendidikan setinggi-tingginya itu sulit tercapai. Jadi ya kayak kata Dewi Hughes, mimpi kali ye!

Maklum, sekarang kalo mo sekolah musti punya doku gede. Perbandingan antara perguruan tinggi dengan calon mahasiswa yang tidak imbang, telah menghilangkan peluang banyak anak didik yang ingin mengenyam pendidikan lebih lanjut. Kondisi itu juga membuat lembaga pendidikan menjadi arogan, mematok standar tinggi bagi yang ingin masuk (dari sisi intelektual), sekaligus pasang tarif tinggi untuk ‘menjual’ kursinya. So, uang jadi panglima. Hanya yang berduit saja yang bisa meneruskan sekolah.

Begitulah kalo negara lalai dalam menjalankan kewajibannya untuk memenuhi kebutuhan pokok rakyatnya, termasuk pendidikan. Wajar jika diantara kamu-kamu banyak yang nggak berani mimpi melanjutkan kuliah. Mustinya, negara memberi kesempatan seluas-luasnya kepada rakyatnya untuk belajar serta menyediakan sarana dan prasarana yang menunjang.

Kondisi dunia kerja juga nggak kalah kejamnya. Karena pemerintah menutup mata dengan kebutuhan pokok rakyatnya, pemerintah nggak sungguh-sungguh menciptakan lapangan pekerjaan. Uang lebih banyak berputar di sektor non-riil seperti di pasar modal atau bank. Akibatnya, sektor riil yang seharusnya mampu menciptakan banyak lapangan pekerjaan lumpuh. Dengan perbandingan yang tidak imbang antara lapangan pekerjaan dan pencari kerja, lagi-lagi uang jadi panglima. Main suap untuk dapat kerjaan menjadi hal biasa.

Terlebih lagi buat Muslimah, peluang kerja makin sempit dengan banyaknya aturan yang bersifat diskriminatif. Larangan berjilbab misalkan, membuat sebagian Muslimah tersingkir dari bursa kerja dengan sendirinya. Ini terlepas dari hukum bekerja bagi Muslimah yang emang nggak wajib alias mubah. So, wajar jika menembus dunia kerja juga bukan hal gampang.

Tetep Wajib Menuntut Ilmu

Melihat realitas di atas, mau nggak mau kamu musti putar otak, bagaimana agar tetap bisa melakukan aktivitas yang bermanfaat setelah lulus sekolah. Toh, the show must go on, kan? So, nggak usah terus-terusan dibuai mimpi buat meraih segala cita-cita yang sulit dicapai. Kamu hanya kudu meluruskan pandangan bahwa cita-cita tertinggi seorang Muslim adalah mencapai ridho Allah SWT. Bukan cuma selembar ijazah sarjana atawa segepok uang hasil kerja. Jadi, mendingan kejar cita-cita kamu yang hakiki ini. Fastabiqul khairat, berlomba-lombalah mengejar ridha Allah SWT dengan? memperbanyak melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya.

Kalo dulu kamu keburu-buru sewaktu sholat atawa membaca Alquran karena dikejar-kejar waktu buat ngerjain PR atau belajar buat ujian, sekarang waktunya untuk konsentrasi penuh dalam ibadah. Senyampang punya banyak waktu. Kalau dulu kamu malas-malasan puasa sunnah karena di sekolah ada pelajaran olahraga misalkan, sekaranglah saat untuk melakukannya.

Kemudian, kamu juga kudu merubah pandangan bahwa putus sekolah berarti bebas dari rutinitas belajar-mengajar. Itu pandangan keliru, Non! Menuntut ilmu tak melulu??? musti melalui lembaga formal macam sekolah. Camkan itu! So, jangan merasa bebas dari kewajiban menuntut ilmu hanya karena lulus SMU. ”Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat,” begitu Sabda Rasulullah. Jadi, menuntut ilmu itu nggak ada habis-habisnya. Nggak cukup di bangku SMU aja. Kamu tetap bisa belajar meski nggak lolos ujian masuk PT.? Bahkan, wajib hukumnya bagi kamu-kamu buat belajar, khususnya mempelajari tsaqofah Islam. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:? ”Tholabul ‘ilmi farislatun ‘ala kuli Muslim’, menuntut ilmu wajib bagi setiap Muslim. Apalagi, saat di bangku sekolah kamu kan nggak mendapat pelajaran agama yang cukup akibat diterapkannya sistem sekulerisme. Makanya, sekaranglah saatnya memperdalam tsaqofah Islam.

Caranya, kamu bisa mengikuti forum-forum pengajian, misal di lingkungan tempat tinggal kamu atau yang diadakan alumni-alumni sekolah kamu. Malah kalau kamu bisa ngaji bareng temen-temen sesama ‘pengangguran’ yang dulu mantan temen-temen semasa di SMU, pasti lebih asyik. Itung-itung reuni. Iya, nggak?

Terus, buat kamu yang nggak bisa menggapai impian buat bekerja, nggak usah berkecil hati. Toh sebagai wanita, kamu nggak punya kewajiban menafkahi. Emang nggak salah sih niatan buat ngebantuin ekonomi keluarga, tapi kalo kondisinya nggak memungkinkan, nggak usah dipaksain. Misalnya kalo kamu dapet kerjaan tapi menuntut untuk buka jilbab, jangan diterima. Kamu tahu kan, menjalankan yang mubah nggak boleh dengan melalaikan yang wajib. Karena berjilbab wajib sedangkan kerja mubah, kamu kudu prioritaskan jilbabmu. Yakinlah, rezeki itu nggak bakalan ke mana. Mendingan kamu fokuskan diri pada aktivitas lain yang bernilai ibadah, ngaji dan dakwah misalkan (atau mungkin menikah?). Yang pasti, yakin deh, Allah SWT pasti memberikan yang terbaik buat kamu. Selamat beraktivitas![asri]

—-box

Banyak Jalan Menuju Roma

TAK dipungkiri, di jaman kapitalisme-sekuler gini hidup emang penuh kesulitan. Di satu sisi biaya hidup makin mahal, di sisi lain pendapatan ortu minim. Nggak salah-salah banget kalau kebanyakan ortu akhirnya menuntut anaknya yang lulus sekolah untuk bekerja mencari nafkah. Bagi Muslimah, ini sering jadi beban tersendiri. Di satu sisi ingin menyenangkan ortu, di sisi lain terbentur aturan di dunia kerja yang nggak kondusif. Apalagi, sebagai Muslimah juga punya kewajiban? menuntut tsaqofah Islam dan berdakwah yang tentunya butuh waktu dan konsentrasi. Sementara, dia juga menyadari bahwa bekerja bukanlah pilihan yang wajib dilakukan. Jadi bagaimana, dong?

Pertama, bila ada tuntutan ortu buat bekerja, kamu kudu pahamkan beliau-beliau ?bahwa bekerja bagi Muslimah itu bukanlah pilihan terbaik karena bukan wajib hukumnya. Emang Islam nggak melarang, asalkan tidak melupakan kewajiban yang lainnya, semisal membina diri agar berkepribadian Islam, menuntut ilmu, berjilbab, sholat, berdakwah, dll. Apalagi bagi yang udah merid, melalaikan kewajiban sebagai ibu, pengatur rumah tangga adalah dosa. Karena itu, jika sangat terpaksa bekerja, musti selektif mencari pekerjaan.

Lagipula, menghasilkan pendapatan tak harus bekerja di perusahaan atau lembaga yang mengikat dari segi waktu dan administrasi. Kamu bisa buka usaha kecil-kecilan sendiri. Misal jual perlengkapan muslimah di antara sesama temen-temen kamu. Emang sih butuh modal, tapi kalau dimulai dari seidkit Insya Allah bisa. Pilih saja distributor perlengkapan muslimah yang bisa konsinasi (nitip untuk kita jualin).

Atau, kamu bisa manfaatin hobi kamu. Bagi yang hobi masak, kamu bisa menjajal keahlianmu itu. Mulailah dari yang kecil, misal menitipkan kue-kue ke warung-warung, atau membuka warung sendiri jika memungkinkan. Kamu juga bisa menerima pesanan kue-kue untuk berbagai acara, misal buat acara pengajian, seminar, dll. Kamu bisa minta bantuan ibu buat membantu merealisasikan rencana kamu. Nggak usah gengsi.

Nah, buat kamu yang hobi tulis-menulis, salurkan dengan memulai membuat tulisan. Tulisan bisa macem-macem. Ada artikel, cerpen, puisi, dll. Cobalah mengirimkan hasil karyamu ke media-media massa. Pede aja, siapa tahu dimuat. Lumayan, bisa buat nambah uang saku. Emang, menembus media massa nggak gampang. Butuh strategi jitu biar sukses. Yang penting jangan putus asa dan belajarlah terur-menerus. Jangan sekali ditolak, trus nyerah nggak bikin tulisan lagi. Penulis besar pun selalu memulai dari nol. Kalau kamu udah mahir, nggak mustahil lho suatu saat kamu bisa nulis buku.

Lagipula, dengan menuliskan ide-ide kamu yang Islami, kamu berarti udah melakukan aktivitas dakwah juga. Ya, buat nyebarin opini Islam melawan opini Barat. Jadi, selain dapet honor, Insya Allah dapet pahala. Dengan catatan, itu kalau tulisan kamu dimuat he..he.. Yang pasti, nggak sedikit lho orang yang menggantungkan hidupnya dari keahlian menulis. Jadi penulis lepas atau penulis tetap di media massa alias wartawan, termasuk para pengisi rubrik di majalah kesayanganmu ini, he..he..he…[asri]

[pernah dimuat di Majalah PERMATA edisi Juli 2003]

One comment on “Putus Sekolah, Tak Berarti Kiamat

  1. hmcahyo Feb 7,2009 15:44

    saya nulis serial Gak Kuliah Gak Kiamat di blog saya… di googling saja… sekarang sudah seri 21 insyaALlah… akan dilanjutin 🙂

    salam 🙂

Comments are closed.

%d bloggers like this: