Setelah Ramadlan Berlalu…

Gimana, puas nggak liburannya? Kalo nggak puas juga, wah itu namanya memang males sekolah. Jangan-jangan saking lamanya udah ada yang bulukan or jamuran segala, nih. Oya, waktu Ramadhan kemarin, kamu pada puasa kan? Mudah-mudahan nggak ada yang bolong-bolong. Abisnya kadang suka ada juga yang udah bangkotan tapi puasanya “puasa gendang�, maksudnya, awal ama akhir doang—tengahnya sih kosong melompong. Waduh, itu sih kebangetan ya?

Terus terang sobat, kita gembira melihat perkembangan kamu-kamu selama Ramadlan kemarin. Banyak acara digelar; mulai sanlat, kajian mingguan, ceramah tarawih, ceramah shubuh, sampai acara buka bersama. Dengan begitu diharapkan teman-teman pada dekat sama Allah Swt. Kayaknya, enak banget ya, kalo tiap hari suasananya kayak di bulan Ramadlan. Siangnya kita sama sekali nggak berani makan atau minum. Karena kita tahu, kalo itu dilakukan bakal membatalkan puasa—dan yang jelas berdosa dong. Disamping itu, hawa nafsu kita juga dengan sekuat tenaga kita kendalikan. Nggak ngomongin orang alias ngegosip, juga nggak berbohong, terus nggak berani berantem. Soalnya kita semua tahu, bila hal itu sampai kita lakukan, bakal mengurangi pahala puasa kita. Sia-sia kan puasanya? Padahal selama Ramadlan kita berusaha untuk jadi orang baik-baik. Malamnya pun khusyuk sholat tarawih, baik di rumah maupun berjamaah di masjid. Pokoknya asik banget deh, suasananya memang bikin hati kita tenteram dan damai di bulan yang penuh rahmat tersebut.

Namun Brur, di tengah nikmatnya ibadah Ramadlan, ternyata masih juga menyisakan kepedihan dan keprihatinan. Mulai soal nasib saudara kita di belahan dunia lain, sampai aktivitas teman-teman yang masih doyan melakukan perbuatan yang sia-sia—bahkan banyak yang melakukan perbuatan yang haram. Di belahan dunia lain, saudara kita melaksanakan ibadah shaum di tengah teror musuh-musuh Islam yang mengancam dan menjajahnya. Palestina masih bergolak, Afghanistan masih membara, Chechnya tak kunjung padam, Kashmir masih terus kontak senjata dengan tentara India. Uzbekistan pun masih tetap panas. Aceh dan Maluku masih menyisakan bara api yang sewaktu-waktu masih bisa �dikipasin’. Dan cerita duka di belahan dunia lainnya. Pokoknya kita prihatin deh.

Bukan hanya itu, lebih ironisnya kenyataan yang kedua tadi—yakni meski Ramadlan, ternyata nggak membuat sebagian teman remaja berhenti dari perbuatan sia-sia, bahkan ada yang melakukan perbuatan yang haram segala. Coba aja kamu perhatiin. Meski larangan nyundut mercon udah digembar-gemborkan sejak sebelum Ramadlan, dar-der-der petasan selalu terdengar di mana-mana. Padahal daripada uangnya �dibakarin’ begitu mendingan buat nyumbang ke mesjid, shodaqah ke fakir miskin, atau dikumpulin buat lebaran dan jajan sekolah. Kan lebih bermanfaat, iya nggak? Belum lagi akibat ledakan mercon, nggak sedikit yang bibirnya jontor, matanya picek, kepalanya pitak, mukanya �penyok-penyok’, jari tangannya protol. Rugi berat kan, Brur?

Ck..ck..ck.., ternyata bukan soal petasan doang, yang memang itu aktivitas sia-sia, tapi yang aktif pacaran pun jumlahnya membengkak. Weleh weleh, kok bisa ya? Dengan berkedok jalan-jalan shubuh atawa ngabuburit teman-teman remaja getol �bergerilya’ ke sana kemari. Laki-perempuan jalan rame-rame dan tak jarang ditingkahi dengan ketawa-ketiwi dan macam-macam guyonan. Pokoknya, mulai saling lempar senyum sampai saling lempar mercon. Wah, kalo begitu, ternyata nggak ada jaminan bulan Ramadlan ini mendatangkan kebahagiaan, kalo hati kita masih nggak rela ninggalin kemaksiatan. Iya, nggak Non? Walhasil, di tengah kegembiraan itu, masih tersisa kepedihan dan keprihatinan bagi kehidupan remaja. Kalau begitu, mau kemana remaja Islam melangkahkan kakinya? Mudur ataukah maju tapi cuma sesaat? Menyedihkan!

Masih Harus Dibenahi
Haruskah nuansa Ramadlan berakhir hanya karena Syawal sudah menjemput? Lalu �kecanduan’ kita dalam beribadah dan beramal sholih lainnya hilang begitu saja, kemudian kembali ke �habitat’ asli kita sebelum Ramadlan yang doyan hura-hura dan maksiat? Ah, kalo begitu, rasanya sia-sia dong ibadah puasa kita selama ini. Ya, bisa jadi. Padahal, Ramadlan ini adalah sarana paling baik untuk melatih sikap hidup kita selama ini. Yang tadinya nggak pernah peduli dengan teman atau saudara, diharapkan jadi tambah lengket dan penuh perhatian setelah menjalani ibadah shaum ini. Bila sebelum puasa bawaannya sewot melulu, tentu dengan puasa kita jadi bisa mengendalikan hawa nafsu kita. Sebelum bulan Ramadlan, mulut kita sering �berbusa’ karena ngegosipin orang, pas puasa bisa lebih hati-hati untuk tidak ngomongin orang. Nah, seharusnya kan sikap hidup kita selama Ramadlan yang udah bagus itu, makin stabil setelah Ramadlan berlalu. Jadi ada �oleh-oleh’ hasil shaum kita. Yakni jadi remaja yang punya kepribadian Islam yang benar dan baik. Oke kan?

Ada catatan lain, kalo kita lihat saat Ramadlan kemarin, televisi juga seolah �maksain’ untuk tampil lebih alim. Coba saja inget-inget, tayangan-tayangan yang bikin �gerah’ nggak ada ampun lagi �diamputasi’. Kalau pun ada yang masih berani muncul, bisa dikatakan cuma �setitik’ saja. Itu semua dilakukan demi menghibur untuk menyenangkan hati kaum muslimin. Pokoknya, semua acara beraroma Islam. Soalnya, tentu bakal diprotes bila televisi masih bertahan menampilkan tayangan yang bikin �senewen’ pemirsanya. Tapi sayangnya, mungkin karena hal itu tidak didasari niat yang benar dan baik, akhirnya acara-acara televisi itu cuma sholat alias �sholeh’ sesaat—pas Ramadlan doang! Ya, kadarkum-lah. Kadang sadar, kadang kumat. �Sadar’ cuma bulan Ramadlan. Setelah Ramadlan berlalu, �gokil’ alias kumat lagi, dah!

Kalo waktu Ramadlan musik yang digelar televisi atawa radio porsinya lebih banyak nasyid atawa lagu-lagu islami lainnya. Nah, sekarang—setelah Ramadlan berlalu—seperti balas dendam. Penyanyi dan grup musik yang hadir bukan lagi Haddad Alwi, Novia Kolopaking, atau kelompok Bimbo, Nasidaria, Snada, Raihan, tapi sekarang miliknya Britney Spears, Madonna, Christina Aguilera, atau grup musik macam PADI, Sheila On 7, Slank, Scope, Limp Bizkit, Slipknot, Oasis, atau Puff Daddy. Juga yang baru-baru macam Papa Roach, Mudvayne, Travis, atau Craig David. Pokoknya, dari lokal sampai �interlokal’ alias mancanegara.

Begitu pula dengan aktivitas kita. Bila â€?gawean’ kita di waktu Ramadlan kemarin diisi dengan sanlat dan kajian-kajian Islam, lain lagi sekarang, mungkin sebagian teman remaja kembali ke â€?alamnya’, yakni menjadi pelaku aktif maksiat. Ada yang kembali larut dalam hingar-hingar berbagai jenis musik, mulai dangdut, pop, rock, R&B, hipmetal, rap, sampai ska di caf?©-caf?©, diskotik, atawa di tempat-tempat pesta yang kembali marak digelar. Kajian-kajian Islam yang udah disampaikan para ustadz pun menguap begitu saja; baik yang disampaikan di acara sanlat, seminar, televisi, maupun radio. Bisa jadi jumlah teman remaja yang tadinya getol bangun pagi untuk mendengarkan ceramah di radio pun menyusut total. Acaranya sekarang; tidur pulas setelah semalaman begadang di diskotik atau sekadar menghabiskan malam dengan hura-hura dan kumpul bareng teman satu genk di ujung gang.

Waduh, bila kenyataannya sekarang banyak yang seperti ini, berarti memang masih perlu dibenahi. Puasa saja tidak cukup untuk membentuk generasi yang berkepribadian Islam yang oke dan tangguh. Dan kajian Islam memang harusnya bukan cuma di bulan Ramadlan saja, mestinya terus-menerus sepanjang tahun. Nggak boleh sedikit pun lolos dan bolong. Dan yang terpenting, �ransum’ kajian Islam untuk remaja harus lebih �bergizi’ lagi. �Bergizi’ dalam hal isi materi kajian, yakni yang bisa memberikan bekas yang mendalam dan mampu mengubah pemahaman sebuah teori menjadi praktik dalam kehidupan. Dengan harapan, remaja menerima Islam bukan sekadar pengetahuan doang, tapi juga adalah pemahaman yang kemudian bakal mendorongnya untuk menjasadkan �petuah-petuah’ itu menjadi energi yang mampu menggerakkan pemikiran dan jiwanya. Karena ajaran Islam memang bukan cuma normatif belaka, tapi juga aplikatif. Kita bisa interospeksi, apakah kajian Islam yang digelar selama Ramadlan kemarin sudah memenuhi standar yang seharusnya, ataukah memang tidak. Bila sudah sesuai tapi remaja masih ogah untuk berubah, berarti masih ada yang perlu dibenahi lebih serius. Apa itu? Salah satunya adalah kondisi masyarakat yang memang sudah parah dan amburadul banget. Amburadul dari sisi pemikiran dan perasaannya. Karena walau bagaimana pun juga individu adalah bagian dari sebuah masyarakat. Masyarakatnya rusak, nggak heran bila individunya juga banyak yang error. Maka masyarakat pun wajib diubah, yakni menjadi masyarakat yang islami.

Agar Tak Terulang
Kata pepatah; keledai pun tak ingin terperosok ke dalam lubang yang sama. Artinya, �sekelas’ keledai saja ogah masuk ke dalam kesalahan kali kedua. Apalagi kita yang memang sejatinya bukan hewan. Kenapa? Soalnya Allah Ta’ala memberikan manusia akal dan pikiran. Firman Allah Swt.:

?ˆ???„???‚???¯?’ ?°???±???£?’?†???§ ?„???¬???‡???†?‘???…?? ?ƒ???«?????±?‹?§ ?…???†?? ?§?„?’?¬???†?‘?? ?ˆ???§?„?’?¥???†?’?³?? ?„???‡???…?’ ?‚???„???ˆ?¨?Œ ?„???§ ???????’?‚???‡???ˆ?†?? ?¨???‡???§ ?ˆ???„???‡???…?’ ?£???¹?’?????†?Œ ?„???§ ?????¨?’?µ???±???ˆ?†?? ?¨???‡???§ ?ˆ???„???‡???…?’ ?????§?°???§?†?Œ ?„???§ ?????³?’?…???¹???ˆ?†?? ?¨???‡???§ ?£???ˆ?„???¦???ƒ?? ?ƒ???§?„?’?£???†?’?¹???§?…?? ?¨???„?’ ?‡???…?’ ?£???¶???„?‘??

“Kami telah menjadikan untuk isi neraka jahanam, kebanyakan dari manusia dan jin. Mereka mempunyai hati, namun tidak digunakan untuk berpikir, mereka mempunyai mata, namun tidak digunakan untuk melihat, mereka mempunyai telinga, namun tidak gunakan untuk mendengar. Mereka itu seperti hewan, bahkan lebih sesat lagi.â€? (QS al-A’r?¢f [7]: 179).

Paling nggak, melihat kejadian sekarang yang masih amburadul di kalangan remaja, berarti ada yang perlu �diformat’ ulang dari sisi kepribadiannya. Harus itu! Supaya nggak terulang kembali di lain waktu.

Brur, kamu perlu tahu bahwa unsur pembentuk kepribadian adalah pola pikir (aqliyah), dan yang kedua adalah pola sikap (nafsiyah). Nah, itu unsur pembentuk kepribadian seorang manusia. Rasul bersabda: “Tidaklah beriman (dengan sempurna) salah seorang di antara kamu, sehingga saya sebagai (standar) akalnya, yang dipergunakan untuk berpikir.â€? (Mafahim Islamiyyah: ar-Ruh, al-Idrak, al-Gharaiz…, hlm. 91). Bila kita bicara Islam, berarti kita berbicara tentang kepribadian Islami (asy Syakhshiyyah al islamiyyah). Yakni pemikiran dan jiwa kita harus â€?dibungkus’ dengan ajaran-ajaran Islam.

Perlu digaris-bawahi (ciee…), bahwa kepribadian seseorang nggak bisa dinilai dari wajahnya; ganteng, kece, cool, atawa cantik, cute, or ciamik. Kalo wajahnya cool, bukan berarti kepribadiannya oke punya. Begitu pun sebaliknya, tampangnya â€?kartu mati’, kepribadiannya juga jeblok. Juga nggak bisa dinilai dari harta kekayaannya. Rasulullah Saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak menilai dari rupamu serta harta kekayaanmu, akan tetapi Allah hanya menilai hati dan amal perbuatan kamu.â€? (HR. Muslim dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah).

Nah, bila waktu Ramadlan kemarin kamu udah tahu dan paham soal kepribadian Islam, insya Allah kamu sekarang nggak bakalan kembali amburadul. Suer, karena orang yang udah punya kepribadian yang islami, maka tingkah-polahnya juga bakal ngikutin aturan Islam. Bukan yang lain; yakni hawa nafsu, akalnya semata, atau aturan kehidupan buatan manusia. Bener, nggak bohong!

Jadi supaya kepribadian kamu tetap stabil dan benar, maka perlu ditempuh trik berikut yang memperkuatnya. Pertama kali, harus ada kesadaran dalam diri kita; sadar bahwa kita salah, ngeh bahwa kita sering berbuat maksiat, juga tahu bahwa kita sering berbuat dosa. Kemudian kita berupaya untuk bisa berubah menjadi benar. Firman Allah Swt.:

?¥???†?‘?? ?§?„?„?‘???‡?? ?„???§ ???????????‘???±?? ?…???§ ?¨???‚???ˆ?’?…?? ?­?????‘???‰ ???????????‘???±???ˆ?§ ?…???§ ?¨???£???†?’?????³???‡???…?’

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, hingga kaum itu sendiri yang mengubah apa yang ada dalam (pikiran mereka).� (QS. ar-Ra’d [13]: 11).

Jadi memang kamu kudu mengisi akal kamu dengan akidah Islam yang mantap. Gimana caranya? Kamu kudu meningkatkan semangat kamu dalam belajar, sehinga setiap perbuatan yang kamu lakukan pastikan bahwa kamu sudah mengikuti aturan Islam. Itu untuk membina pola pikir. Sedangkan untuk meningkatkan nafsiyah alias pola sikap (jiwa), kamu perlu mengkondisikan suasana keimanan dalam diri kamu. Caranya? Bisa bergaul dengan orang yang baik-baik (sholeh or sholehah), supaya kamu terbiasa melihat aktivitas mereka sehari-hari. Lalu, memperbanyak amalan-amalan sunnah; seperti membaca al-Quran, menghayati keindahan ciptaan Allah, juga bisa mengkaji sirah (riwayat) Rasulullah dan para sahabat dengan tujuan menjadikannya teladan. Insya Allah, itu bisa menolong kamu untuk tidak terjerumus ke jurang kesalahan yang sama. Oke, mulai sekarang, buka lembaran baru, dan tulisilah dengan �catatan-catatan’ Islam dalam aktivitas kamu. Supaya kamu tetap memiliki kepribadian islami yang tangguh.

(Buletin Studia – Tahun II/34)

%d bloggers like this: