Milenial Cerdas Tanpa Seks Bebas

gaulislam edisi 625/tahun ke-13 (15 Shafar 1441 H/ 14 Oktober 2019)

Nah, itu dia. Bisa cerdas tanpa seks bebas. Ih, kesannya kalo seks bebas cerdas, gitu? Nggak lah. Justru tanpa seks bebas itulah yang sebenarnya cerdas. Hehehe.. judul ini sekadar ingin membantah kali aja ada yang nyolot bilang kalo yang cerdas itu adalah yang ngelakuin seks bebas. Padahal, tanpa seks bebaslah yang justru cerdas. Beneran!

Eh, kelupaan, disela dulu ya. Cuma mau bilang bahwa edisi ke-625 ini adalah edisi perdana lho di tahun penerbitan yang ketiga belas. Alhamdulillah, gaulislam udah masuk di tahun ke-13 dalam penerbitannya. Sejarah yang panjang. Udah lebih dari 600 tulisan dipublikasikan. Tak mudah bisa mencapainya, kecuali atas pertolongan Allah Ta’ala. Alhamdulillah.

Ok, back to topic. Gini, remaja sekarang banyak dicekoki dengan ragam tayangan televisi, bacaan di majalah (termasuk buku dan artikel di media online), tentang pergaulan bebas bernama pacaran. Digambarkan so sweet banget tuh. Adegan-adegannya bikin romantis, biar kayak di cerita-cerita roman, gitu. Dih, padahal sih, romantis di situ mah, akronim dari roman manis hati iblis. Dhuaar!

Beneran. Soalnya, cuma iblis dan balatentaranya yang ngomporin manusia untuk berbuat maksiat. Nah, pacaran itu kan maksiat. Mau dikemas romantis atau biasa-biasa aja, tetap maksiat Bro en Sis. Jadi, jauhi dan hindari.

Why? Sebab, pacaran itu adalah gerbang yang terbuka lebar dengan kemungkinan potensi di atas sembilan puluh  persen bakalan mengarah menuju seks bebas. Saya pernah bikin buku tahun 2003 lalu (duet dengan seorang sahabat), judulnya Jangan Nodai Cinta. Dah, dikupas abis tuh gimana seluk-beluk bahayanya pergaulan remaja yang mengatasnamakan cinta yang mereka kemas dalam aktivitas bernama pacaran. Waspadalah!

Eh, supaya lebih mantep, kamu boleh cari tuh buku tersebut. Walau udah 16 tahun lalu kayaknya agak sulit. Mungkin bisa tanya ke ortumu. Sebab, saya punya murid kelas 1 SMA yang ternyata ayahnya adalah pembaca buku-buku saya saat ia masih SMA dan juga kuliah di awal tahun 2000-an. Duh, kesannya jadi saya memang udah tua ya. Hehehe.. iya sepertinya. Karena alhamdulilah anak sulung saya udah lulus SMA dan udah kerja. Wah, ketuaan, eh ketauan tuanya. Gubrak!

Oya, buletin ini juga udah sering banget bahas seputar pergaulan remaja, khususnya pacaran. Nggak bosen sih. Insya Allah. Sebab, generasi yang baca juga selalu berganti. Kalo pun punya pembaca setia, insya Allah tetap sebagai pegingat karena manusia sering lupa. Silakan kamu cek ya, dari 624 edisi sebelumnya, kami sudah bahas tema tersebut kayaknya puluhan kali deh. Tepatnya, silakan searching aja di website kami ya: www.gaulislam.com. Cari sampai dapat, lalu baca, jadikan pemahaman, dan amalkan kebaikannya. Simpel, kan?

Godaan besar di masa remaja

Sobat gaulislam, masa remaja pun memang berat. Jangankan di zaman kiwari alias zaman kekinian, di zaman saya SMP dan SMA tahun 80-an dan awal tahun 90-an (dih, baheula banget) aja godaan masa remaja dari berbagai pintu kemaksiatan sangatlah banyak. Khususnya terkait fenomena pergaulan remaja. Ya, berawal dari pacaran, lalu berakhir di perzinaan. Awalnya gaul bebas, ujungnya seks bebas. Naudzubillahi mindzalik.

Meski sejak jaman baheula pergaulan remaja udah ada yang bebas banget (termasuk di dalamnya seks bebas), tetapi zaman kiwari faktanya kian mengerikan, seiring dengan berbagai fasilitas dan teknologi yang menjadi teman hidup banyak orang saat ini. Zaman dulu, bacaan pornografi ada, tayangan pornografi di film juga banyak. Tetapi zaman sekarang, pornografi sudah dalam genggaman (ponsel cerdas alias smartphone). Internet nyaris 24 jam digeber tanpa henti. Beragam website penyedia konten pornografi juga banyak (berdasarkan penelitian beberapa orang), bahkan kini bisa dengan mudah disebar melalui berbagai media sosial: WhatsApp, Telegram, Instagram, Facebook, Twitter dan sejenisnya.

Msaih banyak fasilitas penggoda kalo mau disebutin sih, cuma saya tulis sekadarnya saja. Sebagai contoh. Sebab, itu dekat banget dalam kehidupan kita sehari-hari. Godaan yang mudah diakses. Bahkan tanpa sengaja mengakses pun alias mencari, sudah disodorkan, kok. Ada yang kirim via media sosial. Apalagi kalo gabung di grup-grup pertemanan semacam whatsapp atau telegram. Entahlah, berbagai peluang hadir. Ditawari gabung di grup alumni TK, SD, SMP, SMA, sampe kuliah,  dan sejenisnya. Awalnya saling sapa dan melepas kangen dengan penghuni grup lainnya sesama alumni dari sebuah sekolah. Tapi karena beragam orang di situ dan kita nggak tahu kelakuan teman kita setelah sekian lama berpisah, baru deh muncul postingan aneh-aneh. Dalihnya sih bercanda, tapi menjurus kepada pornografi. Hadeuh…

Kalo udah kayak gitu gimana? Godaan pasti besar dong ya? Sementara, usia remaja–berdasarkan undang-undang hukum positif di negeri ini–belum boleh kawin, belum boleh nikah. Akibatnya, berjibunnya godaan pemacu syahwat birahi bagi sebagian remaja lemah iman, akan menjerumuskannya pada petualangan seks bebas. Bahaya bingitz!

Jangan dekati pacaran

Bener banget Bro en Sis. Jangan dekati, apalagi sampe melakukannya. Bahaya. Saya pernah membukukan tulisan-tulisan saya seputar ini (duet juga dengan salah satu sahabat saya), judulnya Loving You, Merit Yuk!

Oya, sekadar tahu, buku itu terbit tahun 2005. Kalo mau cari-cari silakan saja. Insya Allah isinya bagus (halah, promo mulu nih penulisnya, hehehe…). Di buku itu dibahas seputar pacaran yang setua umur manusia, juga beragam fakta terkait bahayanya pacaran. Mau tahu isi buku itu? Saya comot beberapa paragraf aja ya. Sisanya bisa kamu baca di buku tersebut. Nih:

Istilah pacaran memang bukan kata baru di telinga kita. Sayangnya, justru istilah ini hadir dalam perbendaharaan kata kita tanpa asal-usul yang jelas. Makanya, banyak dari kita yang belum tahu riwayat hidupnya. Secara istilah, pengertian pacaran berarti aktivitas yang dilakukan cewek-cowok untuk mengekspresikan rasa cinta di antara mereka. Dalam bahasa “Planet Padjadjaran” alias Sunda, dikenal dengan sebutan bobogohan. Berasal dari kata bogoh yang artinya suka atau cinta. Orang Betawi bilang, besuka-sukaan. Nah, kalo kata Wong Cirebon, namanya demenan.

Tapi yang pasti, istilah ini bukan lahir dari lingkungan sekitar kita. Soalnya, aktivitas pacaran itu sendiri berbeda kalo nggak dibilang bertentangan dengan norma budaya timur yang kental dalam keseharian kita. Dalam budaya kita, nggak diajarin pergaulan bebas antar lawan jenis kayak sekarang. Apalagi sampe nyerempet atau malah terjebak dalam budaya seks bebas. Nggak lah yauw! Yang ada cuma sebatas ekspresi cinta yang wajar tanpa menyentuh daerah esek-esek. Tanya deh kakek-nenek atau ortu kita.

Meski berbeda, ada satu kesamaan antara aktivitas pacaran zaman ortu dengan zaman kita. Dua-duanya sama-sama hubungan gelap. Gelap? Nggak keliatan dong? Memang dan justru itu yang dicari. Untuk mengekspresikan cinta, para aktivis pacaran lebih senang dalam suasana gelap gulita. Biar nggak malu kalo ketauan hansip atau satpam. Apalagi sampe diarak keliling kampung. Mokal boo!

Selain pengertian di atas, pacaran dalam pengertian hubungan gelap bisa berarti komitmen di antara mereka nggak terang-terangan. Maksudnya, ikatan di antara mereka cuman diikat dan diperkuat ama perasaan cinta yang abstrak dan nyaris tak teraba. Nggak ada bukti hitam di atas putih. Yang berarti juga nggak punya kekuatan hukum. Nggak heran dong kalo putus-sambung dalam berpacaran jadi hal yang lumrah. Meski bikin sakit hati, tetep nggak bisa dibawa ke meja hijau. Makanya kalo punya nyali, terang-terangan dong. Bukan dengan pacaran, tapi pernikahan. Berani? (Loving You Merit Yuk!, hlm. 82-83)

Kalo terlanjur pacaran?

Sebelum menjawab pertanyaan di subjudul ini, saya mau cerita dikit tentang buku saya yang ada kaitannya dengan tema ini. Selain di buku Loving You Merit Yuk!, saya juga pernah nulis 3 tahun lalu dan dibukukan dengan judul Lupakan Mantanmu!

Udah pada tahu? Mestinya sih, karena buku ini terbit tahun 2016, generasi kalian udah pada baca. Kalo belum, aduh kasihan banget. Cari dan baca ya. Kalo udah susah dapetin di toko buku, bisa langsung ke penerbitnya, atau bisa juga ke saya. Hehehe… ada beberapa buku yang jadi stok untuk saya jual. Biasanya sekalian dijual kalo ada acara bedah buku. Mau? Langsung kontak saya aja ya. WhatsApp boleh. Langsung ke: 0812-9565-470. Dih, jadi promo di sela-sela tulisan aja nih! Biarin, untuk nyebarin kebaikan perlu berbagai cara terbaik untuk bisa nyampe pesannya. Uhuy!

Sobat gaulislam, sekadar sedikit bocoran, nih saya kutipkan tulisan seputar tema kalo terlanjur pacaran, dari buku Lupakan Mantanmu! Sisanya silakan baca di buku. Nah, ini kutipannya sedikit. Siap-siap baca ya:

Udah terlanjur basah nih, ya sudah nyebur aja sekalian. Kalo itu urusan mandi sih sederhana, Neng. Gimana kalo itu urusan kehidupan? Masa’ kamu bakalan berani untuk terus berbuat maksiat gara-gara udah ternoda saat pacaran. Bukannya nyadar malah tambah parah. Itu nggak bener cara berpikirnya, sobat.

Lalu gimana yang benar? Ya, yang benar untuk kasus ini, segera menghentikan sebelum terlanjur terjerumus. Oya, tetapi penjelasan lengkap tentang hal ini bisa dibaca di bagian ketiga buku ini. Kalo di sini, saya akan menuliskan akibat-akibat pacaran terlalu ‘hot’ dan akhirnya menjadi terjerumus ke lembah nista bernama maksiat.

Ok, jadi gini ceritanya. Berawal dari pacaran yang mulanya hanya malu-malu tetapi seiring berjalannya waktu malah jadi malu-maluin. Ya, malu-maluin semua orang. Gimana nggak, pacaran model ‘hot’ begitu rentan bahayanya. Jangankan yang ‘hot’ sampe bablas melanggar batasan pergaulan, yang adem-ayem aja tetap ada peluang bahaya, kok.

Bahaya gimana? Bahaya kalo pada akhirnya jadi bablas juga. Cuma bedanya, ada yang jalan cepat menuju bahaya, tapi ada juga yang jalannya lambat. Intinya sama, berada di zona bahaya meski beda jalur menujunya. Kalo udah kejadian, yang malu siapa?

Kalo sampe berzina, tentu saja yang malu adalah para pelaku pacaran. Orang tua masing-masing juga malu karena ternyata anaknya udah bikin malu keluarga dengan sikapnya tersebut. So, ini bermula dari pacaran yang ‘hot’ banget, lalu ternoda, dan akhirnya merasa terlanjur terjerumus lalu melanjutkkannya karena sudah merasa nggak ada harapan untuk menutupi keburukan buah dari pacaran.

Memang ada karakter remaja yang bila udah terlanjur salah, nggak mau memperbaiki kesalahannya. Malah kabur menjauh. Bukan karena merasa yang dilakukannya benar, tetapi karena dia malu atau mungkin takut dimarahi ortunya. Ketimbang berpikir bagaimaa caranya memperbaiki kesalahan tersebut, dia malah berpikir keras bagaimana melangkah lebih jauh dan mencari pembenaran atas apa yang dilakukannya.

Tipe remaja seperti ini sebenarnya tahu bahwa yang dilakukannya itu salah, namun tak mau disalahkan seutuhnya. Biasanya dia pandai mencari celah untuk menutupi kesalahannya, minimal ia ingin memberikan opini bahwa dia melakukan kesalahan akibat perbuatan orang lain yang menyebabkannya berbuat salah. Ini kan ngakali.

Mereka yang pacaran, malah berlindung di balik keumuman orang lain melakukan pacaran. Malah berani bilang bahwa yang dilakukannya masih mending ketimbang yang dilakukan kebanyakan orang. Jika pun ditanya, kenapa nggak memperbaiki kesalahan? Orang yang seperti ini biasanya berkelit bahwa tak ada gunanya memperbaiki, karena sudah terlanjur banyak berbuat salah. Akhirnya memilih membenarkan apa yang dilakukannya karena merasa sudah terlanjur jauh terjerumus. Aneh banget, kan? Itu sih, namanya mengikuti hawa nafsu. (Lupakan Mantanmu!, hlm. 37-39)

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Jangan dekati pacaran, ya. Hindari, bahkan jauhi. Jangan coba-coba, bahaya. Sebab, seks bebas umumnya bermula dari pacaran. Ada memang yang langsung gabruk juga, misal di tempat pelacuran. Tetapi kalo di kalangan remaja sih, pola umumnya berawal dari pacaran alias gaul bebas, lalu seks bebas. Duh, mengerikan!

So, jadilah generasi milenial yang cerdas dan takwa, sehingga bisa hindari pacaran dan jenis maksiat lainnya. Yuk ngaji, biar cerdasnya tambah oke, takwanya makin mantap. Belajar Islam lebih dalam agar pikiran dan hati kita tertata rapi dengan ajaran Islam. Semangat! [O. Solihin | IG @osolihin]

Bersyukurlah Jika Bisa Ikhlas

gaulislam edisi 624/tahun ke-12 (8 Shafar 1441 H/ 7 Oktober 2019)

Alhamdulillah, edisi pekan ini adalah edisi ke-624. Itu artinya, edisi ke-52 di tahun kedua belas penerbitan gaulislam. Ya, insya Allah pekan depan udah masuk tahun penerbitkan ketiga belas. Jadi, edisi ke-625 pekan depan sudah masuk edisi ke-1 di tahun ketiga belas penerbitan gaulislam. Alhamdulillah. Pencapaian yang luar biasa bagi kami. Allah Ta’ala memudahkan kami untuk terus memproduksi tulisan-tulisan dakwah, khususnya untuk kalangan remaja.

Sekadar tahu aja, pertama kali buletin ini terbit, adalah pada 29 Oktober 2007. Berarti milad ke-12 baru nanti insya Allah tanggal 29 Oktober 2019. Tetapi secara penerbitan penulisan, edisi pekan depan sudah masuk tahun ketiga belas. Insya Allah. Doakan ya, semoga kami bisa terus konsisten berdakwah, khususnya untuk kalangan remaja muslim. Semoga pula kami bisa ikhlas berjuang, hanya mengharap ridho Allah Ta’ala.

Nah, ngomong-ngomong soal ikhlas, saya jadi inget tulisan lawas saya untuk sebuah buku yang saya tulis. Jadi, saya comot sedikit ah buat nulis di buletin kesayangan kamu edisi kali ini. Semoga ada manfaatnya.

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Kalo kita bicara soal ikhlas, khususnya keutamaan dalam ikhlas insya Allah menarik. Insya Allah ada keutamaan juga bagi mereka yang ikhlas. Umpamanya begini, kalo kita naik bis aja ada kerasa beda kan antara kelas eksekutif ama yang ekonomi? Bepergian jauh naik bis yang fasilitasnya cukup bagus, nggak terasa berat di perjalanan. Itulah keutamaannya naik bis kelas eksekutif. Meski tentu kudu dibayar dengan ongkos yang relatif lebih mahal dibanding kelas ekonomi.

Keutamaan ikhlas, insya Allah beda banget dengan yang nggak ikhlas. Kalo nggak ikhlas mah amalannya dinilai nggak bermutu di hadapan Allah Ta’ala. Kalo yang ikhlas berbuat insya Allah dapetin pahala. Jelas beda, kan? Itu sebabnya, emang ada keutamaan dalam beramal, ada keutamaan dalam menjalankan sikap ikhlas.

Oya, kita harus mulai membiasakan bahwa kebaikan itu tidak selalu harus langsung kita terima saat ini juga ketika selesai beramal baik dengan ikhlas. Siapa tahu malah disimpan untuk pahala di akhirat kelak. So, nggak usah mikirin terlalu ribet soal ‘balasan’ dari keikhlasan ini. Insya Allah udah ada jaminan tersendiri dari Allah Ta’ala. Lagian masa’ kita begitu aja percaya kepada resep dokter untuk mengobati suatu penyakit (padahal masih belum jelas, kan?). Sementara kepada janji Allah Ta’ala kita abai. Waduh, jangan sampe deh!

Sobat gaulislam, kalo kita ikhlas, Allah Ta’ala menjanjikan pahala sebagaimana dalam firman-Nya (yang artinya): “..dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.” (QS an-Nisaa [4]: 146)

Mendapat ridho dari Allah Ta’ala

Kita pasti senang banget kan ketika melakukan suatu perbuatan, terus perbuatan tersebut disukai oleh orang lain? Misalnya, sebagai ketua pelaksana sebuah acara di OSIS, acara kita tuh sukses banget. Orang-orang seneng dengan acara kita. Oya, tentu ini acara yang benar dan ada manfaatnya (seperti seminar tentang Say No to Drugs, misalkan). Bahkan sebelum acara aja kita mendapat restu dari kepala sekolah segala. Wuih, senang banget kan kegiatan yang kita gelar mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan?

Nah, mendapat ridho dari Allah Ta’ala tentu jauh lebih baik dari semua ukuran keridhoan yang manusia tetapkan. Sebab, Allah Ta’ala pasti udah ngasih ketentuan yang bakal bikin manusia senang ketika melakukan suatu amalan yang memang disukai dan diridhoi oleh-Nya. Misalnya nih, kita shalat dengan benar dan baik sesuai tuntunan syariat Islam, plus dilakukan dengan niat yang ikhlas untuk mendapat ridho Allah, wah Allah Ta’ala akan ridho dengan apa yang kita lakukan. Insya Allah.

Dijamin, enak banget kalo Allah Ta’ala udah ridho atas apa yang kita lakukan. Sederhana sih sebenarnya untuk mendapat ridho-Nya, tapi seringnya kita nggak bisa mempraktikannya. Allah Ta’ala akan ridho jika kita melakukan perbuatan yang memang telah diatur dan ditetapkan oleh-Nya. Tentu saja disertai dengan niat yang ikhlas karena ingin mendapat ridho-Nya. Misalnya, kita melakukan shalat. Shalatnya bener. Sesuai tuntunan hukum syara dan fiqihnya. Kemudian niatkan dengan ikhlas karena ingin mendapat ridho dari Allah Ta’ala. Hmm… insya Allah kita udah berpeluang untuk mendapatkan ridho-Nya, tuh. Yakin saja!

Firman Allah Ta’ala (yang artinya): “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dan merekapun ridho kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS at-Taubah [9]: 100)

Berkata Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah, “Meninggalkan syahwat karena Allah adalah jalan paling selamat dari adzab Allah dan paling sukses meraih rahmat Allah. Perbendaharaan Allah, perhiasan kebaikan, lezatnya ketenangan, dan rindu pada Allah, senang dan damai dengan Allah tidak akan diraih oleh hati yang di dalamnya ada sekutu selain Allah, walaupun dia ahli ibadah, zuhud, dan ilmu. Karena Allah menolak menjadikan perbendaharaannya bagi hati yang bersekutu dan cita-cita yang berserikat. Allah memberikan perbendaharaan itu pada hati yang melihat kefakiran, kekayaan bersama Allah; kekayaan, kefakiran tanpa Allah; kemuliaan, kelemahan tanpa Allah, kehinaan, kemuliaan bersama Allah, kenikmatan, adzab tanpa Allah dan adzab adalah kenikmatan bersama Allah.” (dikutip dari sebuah tulisan di www.dakwatuna.com)

Dapetin berkah juga

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Kamu tahu apa itu berkah atau barokah? Yup, kata para ulama, barokah itu adalah bertambahnya kebaikan (ziyadatul khair). Secara harfiah, barokah berarti an-nama’ waz ziyadah, yakni tumbuh dan bertambah. Atau bisa didefinisikan dengan kata majemuk jalbul khoir atau sesuatu yang dapat membawa kebaikan. Ini berarti barokah adalah kebaikan yang bersumber dari Allah yang ditetapkan terhadap sesuatu sebagaimana mestinya sehingga apa yang diperoleh dan dimiliki akan selalu berkembang dan bertambah besar manfaat kebaikannya. Kalau sesuatu yang kita miliki membawa pengaruh negatif, maka kita berarti tidak memperoleh barokah yang diidamkan itu. Catet ya!

Nah, insya Allah dengan keutamaan ikhlas salah satunya adalah mendapat berkah dari Allah Ta’ala. Misalnya aja kita ngasih infak or sedekah kepada teman yang lain, kalo kita ikhlas melakukannya, insya Allah akan mendapatkan kebaikan dalam bentuk lain. Emang sih nggak ada jaminan juga kalo kita ngasih ke orang terus orang itu bakalan berbuat baik kepada kita. Belum tentu. Kalo itu nggak ikhlas, dong ya? Karena ngarepin orang berbuat baik juga kepada kita. Hehehe…

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui.” (QS al-Baqoroh [2]: 261)

Imam Tirmidzi mengeluarkan hadits dari Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu bahwa seorang lelaki mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam, meminta beliau untuk memberikan sesuatu kepadanya. Beliau berkata: Aku tidak memiliki sesuatu yang bisa diberikan kepadamu. Namun jual saja barang (milik)-ku. Jika mendatangkan sesuatu (keuntungan), maka aku akan memberikannya. Umar bereaksi: Wahai Rasulullah, aku telah memberinya sesuatu. Lagi pula Allah tidak membebanimu atas apa yang memang tidak mampu engkau lakukan. Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam tidak suka dengan ucapan Umar. Lalu seorang lelaki Anshar berkata: Wahai Rasulullah, berinfaklah. Dan janganlah engkau takut terhadap Pemilik ‘Arsy. Wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam tersenyum mendengar perkataan orang Anshar itu, seraya berkata: Begitulah aku diperintahkan (dalam Kitab Bidayah wa Nihayah., juz 6/56. Hadits ini juga dikeluarkan oleh al-Bazzar, Ibnu Jarir, al-Kharaiti, dan Sa’id bin Manshur, sebagaimana terdapat dalam Kanzul Ummal (juz 4/42).

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata: Seorang lelaki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam lalu berkata: Wahai Rasulullah, sedekah manakah yang paling agung? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Engkau bersedekah ketika engkau sehat lagi kikir dan sangat memerlukan, engkau takut miskin dan sangat ingin menjadi kaya. Jangan engkau tunda-tunda sampai nyawa sudah sampai di kerongkongan, baru engkau berpesan: Berikan kepada si fulan sekian dan untuk si fulan sekian. Ingatlah, memang pemberian itu hak si fulan” (HR Muslim)

So, sikap ikhlas tanpa diniatkan untuk mengharapkan imbalan, kecuali ridho Allah semata, insya Allah akan mendapatkan kebaikan yang berlipat-lipat dari Allah Ta’ala. Insya Allah itulah barokah yang akan kita dapatkan.

Pahalanya bejibun, Bro en Sis!

Siapa sih yang nggak suka dapet pahala? Semua manusia pasti pengen banget dapat pahala dari Allah Ta’ala yang emang udah dijanjikan kepada hamba-hamba-Nya yang melakukan amal shaleh sesuai dengan tuntunan dari-Nya. Itu pasti. Ini beda dengan pamrih ingin dapetin keridhoan dari manusia lainnya. Kalo kita ingin dapetin ridho dari Allah Ta’ala insya Allah pahala yang kita dapat. Keikhlasan kitalah yang akan menentukan apakah kita dapetin pahala atau nggak dari apa yang kita lakukan. Iya nggak, sih?

Pernah nggak berbuat baik sama ortu dan karena kamu tanpa pamrih melakukannya, kemudian membuat ortumu jadi makin sayang sama kamu? Bener, lho. Saya aja ngerasa senang ketika anak saya mengerjakan sesuatu yang saya inginkan, terus anak saya melakukannya dengan ringan tanpa minta ini dan itu sebelum melakukan. Akhirnya, saya makin sayang sama anak saya yang menunjukkan sikap tanpa pamrih. Kadang, ringan aja ngasih sesuatu. Nah, saya yakin Allah Ta’ala akan memberikan apa pun ketika kita ikhlas melakukan perintah-Nya dan benar caranya. Insya Allah. Ya, pemberian Allah bisa berupa dimudahkan rizki kita, dimudahkan mengerjakan sesuatu, diberikan kelapangan dalam hidup, nikmatnya diberikan kekuatan iman, kesehatan dan lain sebagainya. Seneng banget kan? Insya Allah itulah bagian dari ganjaran atas keikhlasan kita.

Dari Abu Dzar radhiallahu ‘anhu, sejumlah sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam berkata pada beliau, “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam, para hartawan itu pergi dengan banyak pahala. Mereka mengerjakan shalat sebagaimana kami shalat, mengerjakan puasa sebagaimana kami puasa, dan bersedekah dengan kelebihan harta yang mereka miliki (sedang kami tidak mampu).” Beliau bersabda, “Bukankah Allah telah menjadikan sesuatu untuk kalian yang bisa kalian sedekahkan? Sesungguhnya setiap tasbih (Subhanallah) adalah sedekah bagi kalian, setiap takbir (Allahu Akbar) sedekah bagi kalian, setiap tahmid (Alhamdulillah) adalah sedekah bagi kalian, setiap tahlil (laa ilaaha illallah) adalah sedekah bagi kalian. Amar ma’ruf adalah sedekah, nahi mungkar sedekah, dan bersetubuh adalah sedekah pula.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah di antara kami apabila menyalurkan syahwatnya (kepada istri) juga mendapat pahala?” Jawab beliau, “Tahukah kalian, jika dia menyalurkannya pada yang haram (berzina), bukankah baginya ada dosa? Demikian pula jika ia menyalurkannya pada yang halal, maka baginya berpahala.” (HR Bukhari dan Muslim)

Kekuatan keyakinan akan indahnya pahala di sisi Allah Ta’ala bagi orang yang beramal dan berjuang secara ikhlas akan membuahkan sikap mental: segala beban dan penderitaan yang didapat saat berjuang dirasakan ringan, bahkan dirasakan sebagai sesuatu yang nikmat, menyenangkan, dan membahagiakan. Ia menjalaninya tanpa keluh kesah.

Itulah yang dirasakan Abu Dzar al-Ghifari radhiallahu ‘anhu saat terjadi perang Tabuk, Abu Dzar tertinggal rombongan mujahidin yang dimimpin langsung oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam. Itu terjadi karena kendaraan yang dinaikinya berjalan lambat. Akhirnya beliau turun dari kendaraannya itu dan memanggul barang-barang bawaaannya di atas pundaknya. Tidak ada keluh kesah dan tidak ada perasaan berat saat beliau harus menempuh perjalanan dari kota Madinah ke Tabuk, yang jaraknya kurang lebih 900 km. Padahal perjalanan itu ditempuh sendirian dan berjalan kaki pula. Perjalanan yang bagi orang-orang munafik dirasakan amat berat. Tapi tidak bagi Abu Dzar radhiallahu ‘anhu. Beliau tahu bahwa dalam perjalanan jihad itu ada pahala dan ganjaran dari Allah Ta’ala. Jadi, beliau benar-benar dapat menikmati kepenatan-kepenatan dakwah.

Sobat gaulislam, semua amal yang kita lakukan asalkan itu sesuai dengan perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya serta dilakukan dengan ikhlas, insya Allah akan mendapat kebaikan dan pahala di sisi Allah Ta’ala. Bersyukurlah jika kita bisa ikhlas hanya mengharap ridho-Nya. Semoga ya. [O. Solihin | IG @osolihin]

Mahasiswa Pejuang Islam

gaulislam edisi 623/tahun ke-12 (1 Shafar 1441 H/ 30 September 2019)

Mahasiswa? Siapa sih, yang nggak tahu mahasiswa? Apalagi akhir-akhir ini ya, Bro en Sis. Tagar tentang mahasiswa banyak banget, tuh. Di media sosial, televisi, berita cetak, bahkan sampe di obrolan grup-grup whatsapp, supir kendaraan umum, obrolan sama emak, pokoknya di mana-mana deh.

Nah, mumpung lagi rame nih. Barangkali ada Bro en Sis yang pengen ngulik lebih lanjut tentang status ‘maha’ tadi, maka pada gaulislam edisi ini, kita bakal ngebahas tentang ‘mahasiswa’. Sudah siap? Lanjut..!

Hmm.. kita mulai dari apa itu mahasiswa, ya. Jadi, Bro en Sis, seperti yang mungkin sudah banyak diketahui, mahasiswa itu adalah sebutan bagi pelajar yang sedang mengkaji bidang keilmuan di perguruan tinggi. Artinya, ia sudah menyelesaikan program wajib belajar dari SD sampai SMA, kemudian melanjutkan lagi ke jenjang yang lebih tinggi. Nah, itu yang disebut mahasiswa.

Nah, maka dari sisi pemikiran, mahasiswa ini seharusnya sudah sangat matang cara berpikirnya. Karena ia sudah bukan pelajar yang hitungannya adalah anak-anak di bawah asuhan guru dan orang tua. Mahasiswa statusnya sudah menjadi lebih dewasa. Setingkat dengan orang-orang dewasa pada umumnya. Walau pun ‘seperti’ masih bersekolah.

Apalagi ya, Bro en Sis. Sebagaimana fakta-fakta yang terjadi sebelumnya tentang mahasiswa, biasanya identik dengan pemikiran yang baru, berani berpendapat, revolusioner, idealis, dan lain sebagainya. Mahasiswa-lah yang mengkritik pemerintah pada periode-periode pemerintahan dari masa ke masa di berbagai tempat hampir di seluruh dunia, khususnya juga di Indonesia.

Iya juga sih, Bro en Sis. Mahasiswa kan hitungannya adalah para pemuda. Yang sudah saatnya berpikir ke depan. Pemuda itu kan berani, berjiwa muda, melakukan perubahan dan perbaikan. Dan mahasiswa-lah gambarannya saat ini. Hmm.. gitu deh kira-kira, Bro en Sis.

Ya, walaupun fakta-fakta di atas nggak bisa memukul rata semua mahasiswa. Karena bagi kalangan mahasiswa pastinya ada tipe-tipenya lagi, kan. Penjelasan di atas tadi itu untuk menggambarkan fakta yang sebagian besar terlihat ya, Bro en Sis.

Berjuang sebagai mahasiswa

Kata berjuang memang nyambung sih, Bro en Sis, kalau disandingkan sama mahasiswa. Karena, mahasiswa juga banyak berjuangnya. Tentu saja belajar juga butuh perjuangan. Apalagi sebagai mahasiswa, banyak yang mulai dikerjakan secara mandiri. Kampus, dosen, kos, bisa jadi cari penghasilan, dan banyak lagi yang lainnya. Karena tadi, mahasiswa itu mulai menapaki dunia orang dewasa.

Tapi selain keseharian dan kewajiban-kewajiban menuju dewasa, sebenernya apa sih, hal utama yang harus diperjuangkan oleh mahasiswa? Hmm.. ada ya yang seperti itu?

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Masih ada satu hal penting yang jangan pernah lupa untuk diperjuangkan. Yup! Perjuangan Islam. Wah, apalagi sebagai mahasiswa muslim (tentunya). Islam malah harus semakin digencarkan lagi perjuangannya. Masih bingung apa itu memperjuangkan Islam? Kita ulas sedikit ya, Bro en Sis. Cekidot, yuk!

Islam itu ya, Bro en Sis, seharusnya menjadi jalan hidup bagi setiap individu muslim. Sebab, kita menjalani hidup ini, sudah dipastikan bahwa semua yang kita kerjakan itu ada konsekuensinya. Baik di mana pun kita berada, di masa apa pun, siapa pun kita, semuanya pasti akan kembali kepada Allah Ta’ala. Nah, status mahasiswa pun, harus menunjukkan diri sebagai muslim sejati. Bedakan ya dengan mahasiswa yang hanya beragama Islam. Bukan sekadar itu. Tetapi jati diri kita sebagai muslim yang berstatis mahasiswa. Bisa dimengerti? Bisa, dong!

Nah, apalagi sebagai mahasiswa yang sedang dalam mode intelektual tinggi, seharusnya lebih giat lagi dalam memperjuangkan Islam. Bukan sekadar membanggakan diri karena bisa kuliah. Wah Bro en Sis, itu sih terlalu sedikit untuk bisa dibanggakan sebagai pemuda Islam. Tetapi menjadikan kesempatan bisa mengenyam pendidikan tinggi tersebut sebagai sarana mendapatkan Ilmu. Tentunya juga sebagai sarana untuk semakin semangat dalam berjuang untuk Islam.

So, jangan cuma yang penting status mahasiswa-nya aja. Sebagai pemuda Islam, mahasiswa harus menunjukkan kapasitasnya sebagai intelektual muslim, tentu, yang berpihak kepada Islam dan memperjuangkan dakwah. Dakwah kan wajib bagi setiap individu muslim, Bro en Sis. Tidak terkecuali bagi mahasiswa. Mahasiswa bahkan sepertinya lebih berpotensi untuk berdakwah, dengan segala kemampuan intelektual dan juga keberaniannya yang membara. Jadi, kenapa nggak?

Memperjuangkan Islam

Mahasiswa yang memperjuangkan Islam? Bagaimana caranya? Islam yang seperti apa yang harus diperjuangkan oleh mahasiswa? Oya, pertanyaan yang lebih tepat sih, Bro en Sis, Islam yang seperti apa yang harus diperjuangkan oleh pemuda Islam? Tentunya kita harus tahu dong. Betul!

Memperjuangkan Islam yang seperti apa ya kira-kira, Bro en Sis? Tentu saja Islam Ideologis. Gimana sih maksudnya? Islam Ideologis? Apaan tuh? Kita kupas tentang ideologi dulu deh, biar semakin jelas dan nggak nebak-nebak ya. Yuk!

Jadi, Bro en Sis, ideologi sendiri artinya adalah sebuah pemikiran mendasar yang akan melahirkan pemikiran cabang. Atau kalau di dalam kajian Islam, ideologi itu serupa dengan istilah mabda’. Kemudian menurut Fikrul Islam karya Muhammad Ismail, menyatakan bahwa mabda’ atau ideologi artinya merupakan ‘akidah rasional yang melahirkan aturan-aturan dalam kehidupan’.

Nah, sebagai mahasiswa muslim, maka wajib untuk menjadikan Islam ideologi sebagai penggerak perjuangan dalam menegakkan Islam. Baik untuk individu, keluarga, masyarakat, bahkan negara.

Kenapa begitu? Karena, sobat Bro en Sis, Islam itu sejatinya bukan semata berisi akidah tentang keimanan kepada Allah dan rukun iman saja. Tetapi, Allah juga memberikan seperangkat aturan hidup bagi manusia untuk hidup di dunia. Iya! Seperangkat aturan bagi manusia yang berkaitan dengan dirinya sendiri, seperti makan, minum, berpakaian, dan lain sebagainya. Kemudian juga hubungan manusia dengan Tuhannya, yaitu beribadah kepada Allah. Kemudian ada juga hubungan manusia dengan manusia lainnya, seperti jual beli, interaksi lawan jenis, dan lain sebagainya. Termasuk juga dalam urusan hukum, pendidikan, ekonomi, politik, bahkan bernegara.

Allah Ta’alaa berfirman (yang artinya), “Dan Kami turunkan kepada kamu kitab ini untuk menerangkan semua perkara dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri…” (QS an-Nahl [16]: 89)

So, tujuan memperjuangkan Islam adalah supaya aturan-aturan yang Allah sudah tetapkan bisa dijalankan dengan sebenar-benarnya bagi individu, masyarakat, dan juga negara. Ya, Bro en Sis mungkin bisa melihat faktanya sekarang, masih banyak aturan Islam yang masih sulit dijalankan di dunia ini. Bener, nggak?

Wah, ternyata tugas yang harus diemban para mahasiswa muslim ini nggak main-main ya, Bro en Sis. Penting banget untuk diperjuangkan. Hmm… tapi apa sih yang harus dilakukan untuk bisa mewujudkan perjuangan itu?

Begini, yang jelas nih, Bro en Sis, mahasiswa muslim nggak boleh absen untuk terus mengkaji pemahaman Islam. Why? Karena ia harus tahu apa dan bagaimana cara memperjuangkan Islam. Tentu saja artinya mahasiswa juga harus tetap menuntut ilmu Islam. Nah, ada juga nih, tips-tips untuk bisa merealisasikan perjuangan Islam mahasiswa di dalam kegiatannya. Apa aja, itu?

Pertama, dengan mengikuti kajian-kajian keislaman di komunitas kajian Islam di kampus. Nanti di sana, akan ada transfer pemahaman Islam dengan kajian-kajian tersebut. Di sana juga akan bertemu dengan sesama mahasiswa yang sama-sama memperjuangkan Islam. Sehingga sebagai sesama mahasiswa, bisa saling mengingatkan dan menasihati. Wah… selain berpahala, kegiatan ini juga bermanfaat dan menyenangkan, loh..

Kedua, aktif di kegiatan dakwah kampus. Atau bisa juga pers Islam kampus. Supaya apa? Tentu saja untuk menunjukkan kecintaan dan keberpihakan mahasiswa muslim kepada Islam. Mahasiswa muslim harus bangga dengan identitasnya sebagai pejuang Islam. Ya, karena itu adalah suatu kedudukan yang mulia. Memperjuangkan Islam kan sama dengan berada di jalan Allah. Pastinya jalannya menuju surga, dong. Aamiin.

Kesimpulannya nih, Bro en Sis. Jangan jadi mahasiswa yang biasa saja. Tapi, jadilah mahasiswa pejuang Islam. Kita harus bisa memanfaatkan kesempatan kuliah sebagai sarana untuk mencari ilmu dan berjuang di jalan Allah. Artinya, kita harus terus menjaga semangat kita dalam mengkaji Islam. Supaya nantinya bisa kita dakwahkan. Agar tujuan yang kita ingin capai bisa terwujud. Yaitu, menjadikan Islam sebagai jalan hidup, dan memperjuangkannya agar bisa tegak di muka bumi ini. Yaa Allah.. Bantulah kami, yaa Allah.. Aamiin.. [Fathimah NJL | IG @fathimahnjl]

Santri Liberal

gaulislam edisi 622/tahun ke-12 (23 Muharram 1441 H/ 23 September 2019)

Lho, emang ada ya santri yang liberal? Eh, liberal itu apa sih? Waduh, kamu belum tahu istilah liberal? Kalo belum, nih penjelasan singkatnya. Liberal itu bebas. Maksudnya menggunakan asas kebebasan sebagai senjata untuk melakukan apa saja yang dimaui dan dikehendaki. Bebas dari aturan apapun, khususnya aturan agama. Termaasuk bebas menghina agama. Meski paham liberal ini mestinya menjadi musuh semua agama (dan tentu memusuhi semua agama), tapi anehnya yang kerap diserang adalah Islam dan kaum muslimin. Parahnya, justru yang menyerangnya adalah mereka yang ngaku muslim tapi berpaham liberal tadi.

Sobat gaulislam, film The Santri bikin gaduh. Ada yang pro dan banyak yang kontra, tak sedikit pula yang bikin meme kocak berupa plesetan dari judul film tersebut. Ada “Di Sentri”, pun “The Ngantri” (lengkap dengan foto para tersangka kasus korupsi yang ditetapkan KPK). Digambarkan dalam film The Santri, ada adegan lawan jenis yang saling tertarik melalui lirik-lirikan pandangan dalam suatu acara, ada jalan berdua santri cowok dan santri cewek, ada adegan santri bawa tumpeng ke gereja dan disambut para penghuni jamaah gereja. Setidaknya, kalo dilihat dari trailer-nya ya. Itu sebabnya, kemudian ditudingkan kepada pembuat film itu sebagai bagian dari proyek liberalisasi agama.

Oya, kalo di sini sih, adanya pro dan kontra justru sering jadi iklan gratis bagi sebuah produk atau jasa, tak terkecuali (mungkin) film ini. Bukannya dijauhi, biasanya masyarakat secara umum malah jadi penasaran pengen pada nonton. Begitulah. Tapi mudah-mudahan untuk kasus ini mulai pada sadar dan akhirnya boikot.

Terlepas dari kegaduhan itu, sejatinya kalo mau dilihat secara obyektif, memang betul adanya bahwa di pesantren pun, ada aja santri yang nakal, ada juga santri yang pacaran, ada juga praktek bullying, ada pula yang homoseksual, ada juga yang berpikiran sinkretis dan pluralisme. Tapi tunggu dulu, bedanya, kalo di pesantren pasti udah punya cara dalam mengantisipasi hal begituan. Jika pun kejadian, pesantren punya kebijakan yang tentu saja nggak mentolerir kejadian itu. Bisa dipulangkan santrinya, atau diberi sanksi lainnya. Tidak dibiarkan. Kalo ternyata ada fakta pesantren yang membiarkan kemaksiatan, berarti pengasuh pondoknya sudah menjadikan pesantren tersebut sebagai ajang merusak agamanya sendiri. Kalo ada lho, ya. Sejauh ini sih saya melihat nggak ada. Mudah-mudahan.

Maka, penggambaran dalam beberapa adegan di film The Santri tidak mencerminkan kehidupan santri di pondok secara umum dan malah dalam film itu terkesan dibiarkan kelakuan maksiat santrinya. Harusnya ada setting cerita yang menyatakan bahwa kejadian maksiat itu ada sanksinya, dan menyatakan itu tidak benar. Jika adegan maksiat dibiarkan begitu saja, berarti memang sengaja sedang propaganda liberalisasi agama lewat film. Tujuannya agar umat Islam bebas melakukan apapun dan jangan mempedulikan aturan agama. Bahaya tenan!

Liberal (mestinya) musuh semua agama

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Menurut ustaz saya, orang-orang di Jaringan Islam Liberal (JIL) itu bisa dikategorikan kaum munafik, lho. Sungguh ini sebuah label yang keras. Gimana nggak, sepak terjang mereka sering banget nyakitin hati umat Islam. Anehnya, mereka sendiri ngakunya masih muslim. Heran nggak sih, kalo ada orang yang menghina agama yang dianutnya sendiri, menghina sesama muslim? Jelas hal ini tak pantas dilakukan oleh seorang muslim. Benar, lebih tepatnya hal itu biasa dilakukan orang kafir, atau orang munafik.

Awalnya, paham sekularisme (memisahkan aturan agama dari aturan kehidupan), muncul saat Revolusi Perancis sebagai bentuk perlawanan rakyat terhadap kekuasaan dan doktrin gereja yang bersekongkol dengan kekuasaan. Pada peristiwa itu semboyan yang terkenal adalah, “Gantung raja terakhir dengan usus pendeta terakhir”.

Dr. Safar Al-Hawali berkata: “Revolusi itu melahirkan hasil yang sangat penting. Yaitu lahirnya pertama kali di dalam sejarah Eropa nasrani sebuah negara republik sekuler yang berfalsafat kekuasaan atas nama rakyat, dan bukan atas nama Alloh”, bebas beragama sebagai ganti doktrin katolik, kebebasan setiap orang sebagai ganti dari ikatan perilaku keagamaan dan undang-undang ciptaan manusia sebagai ganti dari ketetapan-ketetapan gereja”. Al-‘Ilmaniyah tulisan Dr. Safar Al-Hawali hlm. 178, terbitan Universitas Ummul Quro 1402 H.

Nah, yang jadi persoalan adalah kenapa paham sekularisme yang liberal itu masuk juga ke benak kaum muslimin? Orang yang ngaku cendekiawan muslim kok malah berusaha melepaskan aturan agama dari aturan kehidupan? Padahal, kalo dalam Islam, aturan agama dan aturan kehidupan (politik, ekonomi, pendidikan dsb) nggak bisa dipisah-pisah. Aturan Islam itu mencakup urusan dunia dan akhirat. Beda dengan agama lain. Meski demikian, sebenarnya liberalisme itu musuh semua agama. Cuma, memang kalo agama selain Islam sepertinya menikmati karena jadi bebas dari kungkungan doktrin agama. Tapi bagi umat Islam, bebas dari aturan agama malah jadi petaka. Urusannya bukan cuma di dunia, tapi juga di akhirat kelak. Itu sebabnya, paham liberalisme dan juga sekularisme itu wajib dilenyapkan. Bukan malah dipelajari, apalagi diamalkan. Bahaya bingit!

Sejarah singkat liberalisme

Oya, kayaknya kamu perlu tahu sedikit tentang sejarah liberalisme. Saya pernah nulis sih di gaulislam edisi 320 (hampir 6 tahun lalu). Sebagian saya kutip isinya di sini supaya inget lagi, ya.

Begini Bro en Sis, kebetulan saya punya buku Orientalis dan Diabolisme Pemikiran karya Dr Syamsuddin Arif. Dalam buku ini ditulis (di halaman 76, juga di halaman 78-79) bahwa dilihat dari asal-usulnya, istilah ‘liberalisme’ berasal dari bahasa Latin, liber, yang artinya ‘bebas’ atau ‘merdeka’. Hingga penghujung abad 18 M, istilah ini terkait erat dengan konsep manusia merdeka, baik merdeka semenjak lahir ataupun merdeka sesudah dibebaskan dari yang semula berstatus ‘budak’.

Para sejarawan Barat biasanya menunjuk moto revolusi Perancis 1789—kebebasan, kesetaraan, persaudaraan (liberte, egalite, fraternite) sebagai piagam agung (magna charta) liberalisme modern. Sebuah prinsip yang menyatakan bahwa tunduk kepada otoritas—apapun namanya—adalah bertentangan dengan hak azasi, kebebasan dan harga diri manusia. Liberalisme yang sudah dikampanyekan sejak abad 15 M oleh Locke, Hume (Inggris), Rousseau, Diderot (Perancis), Lessing dan Kant (Jerman) ini pada tahap selanjutnya menuntut kebebasan individu yang seluas-luasnya, menolak klaim pemegang otoritas Tuhan, dan menuntut penghapusan hak-hak istimewa gereja maupun raja. Dalam catatan Dr Syamsuddin Arif, ideologi liberalisme yang kebablasan tersebut pada akhirnya menganjarkan tiga hal: pertama, kebebasan berpikir tanpa batas alias free thingking. Kedua, senantiasa meragukan dan menolak kebenaran alias sophisme. Ketiga, sikap longgar dan semena-mena dalam beragama. Lebih detilnya, silakan cek di buku tersebut yang diterbitkan Gema Insani.

Dalam literatur yang lain, sengaja saya ‘obral’ informasinya di sini supaya kamu ngeh ya. Nah, salah satunya adalah menurut Dr Adian Husaini. Apa pendapat beliau? Yup, munculnya liberalisme yang seperti itu di Barat tidak terlepas dari tiga faktor. Pertama, trauma sejarah, khususnya yang behubungan dengan dominasi agama (Kristen) di zaman pertengahan. Dalam perjalanan sejarahnya, peradaban Barat (western civilization) telah mengalami masa yang pahit, yang mereka sebut ‘zaman kegelapan’ (the dark ages). Mereka menyebutnya juga sebagai ‘zaman pertengahan’ (the medieval ages). Zaman itu dimulai ketika Imperium Romawi Barat runtuh pada tahun 476 dan mulai munculnya Gereja Kristen sebagai institusi dominan dalam masyarakat Kristen Barat. Gereja yang mengklaim sebagai institusi resmi wakil Tuhan di muka bumi melakukan hegemoni terhadap kehidupan masyarakat dan melakukan tindakan brutal yang sangat tidak manusiawi.

Kedua, problem teks Bible. Masyarakat Kristen Barat menghadapi problem otentisitas teks dengan kitabnya. Perjanjian Lama (Hebrew Bible) sampai saat ini tidak diketahui siapa penulisnya. Padahal tidak ada satu ayat pun yang menyebutkan bahwa Moses penulisnya. Sementara itu di dalam teksnya terdapat banyak kontradiksi. Demikian halnya dengan Perjanjian Baru (The New Testament). Ada dua problem terkait dengan keberadaannya, yaitu (1) tidak adanya dokumen Bible yang orisinal saat ini, dan (2) bahan-bahan yang ada pun sekarang ini bermacam-macam, berbeda satu dengan yang lainnya. Tidak kurang dari sekitar 5000 manuskrip teks Bible dalam bahasa Greek (Yunani), yang berbeda satu dengan yang lainnya.

Ketiga, problem teologi Kristen. Sebuah kenyataan di Barat yang sulit dielakkan adalah, Tuhan menjadi sesuatu yang problem. Menjelaskan bahwa Tuhan itu 1 dalam 3, 3 dalam 1, dan menjelaskan apa sebenarnya hakikat Yesus, telah membuat seorang cendekiawan seperti Dr. C. Greonen Ofm “lelah” dan “menyerah”. Ia lalu sampai pada kesimpulan bahwa Yesus memang misterius. (Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat. Jakarta: Gema Insani, 2005, hlm. 28-51.)

Sebagai kesimpulan dari sejarah singkat liberalisme, saya kutipkan pendapatnya Dr Hamid Fahmy Zarkasyi. Menurut beliau, dari latar belakang seperti itu maka tidak heran jika kemudian masyarakat Barat cenderung beragama tanpa berkeyakinan. Dalam artian, mereka beragama Kristen tapi mereka kemudian tidak sepenuhnya meyakini doktrin-doktrin Kristen. Mereka meragukan eksistensi Tuhan yang bisa mengetahui segala sesuatu, doktrin Trinitas, dan Bible sebagai wahyu Tuhan. Akibatnya mereka menerima secara mutlak pemisahan Gereja dan Negara, dan mempercayai penuh doktrin kebebasan dan toleransi agama. Kebebasan yang juga termasuk kebebasan untuk tidak beragama dan toleransi yang sampai meyakini kebenaran agama lain atau pluralisme agama. (Hamid Fahmy Zarkasyi, Liberalisasi Pemikiran Islam; Gerakan Bersama Missionaris, Orientalis, dan Kolonilias. Ponorogo: CIOS-ISID, 2007, hlm. 33-35.)

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Semoga kamu nggak spaneng ya baca istilah-istilah yang saya tulis di atas. Saya sih insya Allah ngerti. Cuma problem saya adalah bagaimana menyederhanakan istilah itu supaya kamu ngerti. Hehehe.. ngeles. Tetapi insya Allah bisa dipahami, kan? Ya, seharusnya bisa paham karena faktanya udah sejelas siang hari. Kita sebenarnya patut prihatin karena liberalisme juga pada akhirnya melanda kaum muslimin. Banyak kaum muslimin yang nggak percaya dengan ajaran agamanya sendiri. Tak sedikit yang jauh dari ulama, tetapi dekat dengan para penjahat pemikiran dan berteman dengan mereka yang berperilaku liar, dengan alasan kebebasan berlabel hak asasi manusia. Salah satunya, adanya media film untuk mempropagandakan liberalisme, pluralisme, dan sekularisme. Waspadalah!     

Santri liberal, ada?

Kalo dibilang ada, memang ada faktanya, kayak di film The Santri. Alumni pesantren yang akhirnya jadi pengusung liberalisme juga ada. Nggak usah disebutin nama orangnya, nanti dia ge-er. Mungkin saja mereka juga ikut mempropagandakan liberalisasi agama di film The Santri saat ini. Tapi insya Allah santri model gitu nggak banyak.

Semoga masih banyak santri yang baik dan benar. Lurus dengan akidah dan syariat Islam. Kalo ditanya, adakah santri yang pacaran seperti di film The Santri, ya ada saja. Tetapi mereka akan ngumpet-ngumpet takut ketahuan. Sebab, kalo ketahuan sanksinya jelas, berat. Bisa dikeluarkan. Kalo di film itu kan dibiarkan saja sebagai sebuah realitas. Kalo dalam kenyataannya di kehidupan pesantren, pasti akan ditegur, dinasihati, dan bahkan diberi sanksi. Itu bedanya kehidupan pondok dengan sekolah umum. Itu sebabnya, banyak yang protes pada film ini, karena nggak sesuai kenyataan. Bahkan ada yang mengatakan, bahwa pembuat film jelas sedang mempropagandakan liberalisasi agama. Hati-hati.

Terus kalo santri ada yang liberal diapain? Ya ditegur, dinasihati, dan diberi sanksi (kalo nggak jua sadar). Kalo udah jadi alumni? Nah, ini yang seringkali repot. Sebab, pihak pondok tak bisa menjangkau kegiatan mereka sepenuhnya. Fokus pondok bisa jadi hanya kepada santri, bukan alumni. So, nggak usah nyoba jadi liberal. Kalo mau coba-coba, cobalah jadi santri yang bener, yang berjuang untuk Islam. Semoga meski awalnya nyoba, akhirya jadi beneran pejuang sejati pembela Islam dan umatnya. Insya Allah. [O. Solihin | IG @osolihin]

Pacaran So Sweet, Pernikahan Pahit?

gaulislam edisi 621/tahun ke-12 (16 Muharram 1441 H/ 16 September 2019)

Sobat gaulislam, siapa di antara kamu yang hobi nonton? Lebih sering nonton ke bioskop, streaming di hape atau anteng depan TV? Kalo ke bioskop mungkin mikir dulu ya kan harus beli tiket. Eh, streaming juga pake kuota. Sedangkan TV pake listrik. Sama-sama bayar kan? Yang gratis mah yaa nontonin wajah kamu. Eaa… auto ge-er nih! Hahaha… just kidding!

Oke, sekarang cung yang punya TV di rumah? Kayaknya hampir tiap rumah ada tivi, deh. Tontonan apa sih yang kalian suka? Pasti nggak jauh-jauh dari sinetron atau FTV kan? Masih setia sama drama Korea? Ada yang suka nonton berita, acara kuliner yang bikin ngiler atau gosip para artis? Dududuh… Jangan sampe deh! Entar jadi bigos lagi. Biang gosip. Saking hobi nonton begituan. Oh No!

Pacaran ala sinetron

Sinetron dan FTV masih jadi tayangan favorit kalangan remaja, dewasa dan IRT (ibu rumah tangga). Bahkan anak SD aja mantengin, loh. Suer! Waktu ditanya sinetron apa yang lagi hits, mereka tahu judulnya. Waah, mungkin ketularan emaknya di rumah, nih. Ditambah Sinetron itu tayangnya di prime time, jam-nya orang  banyak yang nonton TV antara jam 18.00 WIB – 22.00 WIB. Jam segitu kan biasanya orang kumpul sepulang sekolah atau kerja. Lagi asik nonton malah dipotong iklan yang banyak dan berulang lagi. Pernah ngalamin? Wajar sih.. Kan biar produk mereka bisa dilihat banyak penonton di jam segitu. Padahal sinetronnya baru beberapa menit eh iklan lagi. Cape deh!

Meski begitu tetep aja dipantengin. Setia nunggu sampe sinetron lanjut. Apalagi sinetron yang temanya cinta-cintaan alias pacaran. Siapa tuh yang demen? Tayangan beginian mah laku parah. Banyak yang bilang pacaran ala sinetron itu kan seru dan so sweet. Belum lagi pemainnya yang cantik en cakep bingit. Dijamin deh bakal anteng tuh depan TV. Contohnya aja Sinetron ‘Cinta Anak Muda’ yang masih tayang tiap jam 18.30 WIB.

Ceritanya tentang dua remaja kasmaran yang akhirnya bisa jadian walaupun sebelumnya takut bakal nimbulin masalah karena perbedaan status mereka. Saat pacaran itu ya mereka punya panggilan sayang, seneng kalau berduaan, saling tatapan, pegangan tangan dll. Ya gitu deh. Pernah kan lihat orang yang pacaran pasti nggak jauh dari begituan. Bagian ini yang katanya seru dan paling dinanti penonton. Iya, kan? Nonton begituan suka cengar-cengir sendiri, pasti. Hayo ngaku! Hehehe…

Beda banget sama sinetron atau FTV yang temanya pernikahan. Coba bandingin deh. Sekarang itu yang ditayangin malah tentang kehidupan rumah tangga yang nggak harmonis, ngebosenin dan ribet. Pernah nonton sinetron ‘Dunia Terbalik’? Kalangan IRT mah pasti hapal ya. Sinetron jebolan MNC Picture ini emang dapet rating tinggi, episodenya ribuan  dan katanya tayang juga di Malaysia dan Singapura. Awal ceritanya tentang para suami ditinggal istri yang jadi TKW di luar negeri. Para istri yang cari nafkah otomatis kaum bapak yang harus ngurus anak dan rumah. Gimana jadinya coba? Ribet dan pusing, ya pasti. Tapi karena dibalut komedi yang nonton jadinya asik dan nyantai aja. Padahal kan aslinya tugas suami istri bukan kayak gitu.

Kebanyakan Sinetron atau FTV tema pacaran mah romantis dan happy ending ya. Contohnya nih meskipun awalnya saling berantem, saling benci eh ujungnya saling suka dan jadian. Di FTV pernikahan kalau suami istri sering berantem gitu malah kena celaka. Ketabrak mobil misalnya. Haduuh! Ada lagi nih cewek jomblo baik hati dan jujur dapet pacar orang kaya. Sedangkan istri yang jujur dan setia malah suaminya direbut wanita lain. Dua sejoli pacaran pengen nikah tapi salah satu camer alias calon mertua galak dan jutek abis. Tapi eh ujungnya diterima juga lamarannya. Nah di FTV pernikahan kalau mertua model jahat gini yang ditayangin di mertua kena azab. Idih, kok horor ya pernikahan di FTV atau sinetron? Nggak se so sweet yang pacaran. Kesannya hidup berumah tangga itu nggak enak, asem, pahit, menyedihkan dan menderita. Berantem, selingkuh, cerai, mertua galak. Nggak ada manisnya. Moment happy nya paling sedikit doang. Ckckck…

Di balik serial sinetron

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Kenapa ya tema pacaran itu selalu ada dan hits? Nggak pernah absen  dari sajian TV. Peminatnya aja makin bertambah. Bahkan sebagian anak SD dan SMP udah hapal sama judulnya, artis yang jadi pemainnya dan opening song-nya. Anak dan remaja terus ‘diracuni’ tontonan begituan. Sepertinya sih tontonan bertema pacaran sengaja terus diproduksi untuk menggiring opini bahwa pacaran itu begini loh: seru, manis dan romantis. Happy deh. Jadinya pacaran dianggap wajar dan biasa. Siapa aja yang mau ngelakuin, ya kesannya boleh. Penonton terus dicecokin soal pacaran. Sedangkan faktanya kan nggak selalu so sweet ya. Banyak loh sisi gelap dan akibat buruk dari pacaran: hamil, HIV/AIDS, pembunuhan termasuk aborsi dll. Na’idzubilllah min dzalik.

Sedangkan pernikahan ala sinetron dikesankan ribet banget, pusing, nggak enak. Kalau gini kan orang jadinya ilfil dan nganggap bahwa nikah itu ya seperti tadi. Jadinya kan takut dan  mikir ulang buat nikah. Oke, setiap pasangan dalam rumah tangga pasti ada ujiannya. Mungkin ada juga ngalamin masalah yang mirip seperti di sinetron. But, please! Sinetron dan FTV itu terlalu lebay. Serius!

Ngomongin soal hukum, dalam syariat Islam itu nggak ada istilah pacaran. Semua aktivitas pacaran dilarang. Haram, Bro en Sis! Ah, tapi ngobrolnya lewat chatting, kalau ketemu juga nggak berduaan kok, kita juga saling ngingetin buat ibadah. Lalu? Sama aja kali. Tetep nggak boleh. Pacaran itu perilaku maksiat dan jalan lempang menuju zina. Simak deh Firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah perbuatan yang keji, dan suatu jalan yang buruk.” (QS al-Isra’ [17]: 32)

Nah, baru mendekati zina aja dilarang apalagi sampe berzina. Dalam pacaran udah biasa yang namanya ketemuan, ngobrol, saling tatap, pegangan tangan, mesra-mesraan. Ini namanya mendekati zina. Dosa kalau dilakuin. Cuma pasangan halal yang boleh ngelakuin itu. Suami-istri yang sah mah bebas. Mereka nggak berdosa. Malah itu bagian dari ibadah dan bisa menambah pahala, loh. So, pacaran haram, pernikahan halal. Yes! Catet tuh!

Perilaku adalah cerminan dari tontonan

Sobat gaulislam, tontonan seperti sinetron sebenarnya cuma buatan sutradara yang dipesan pihak tertentu yang nggak sesuai dengan kenyataan pergaulan remaja kita sehari-hari. Tetapi, karena televisi merupakan media publik yang ditonton oleh semua jenjang umur, maka bisa memberi dampak negatif kalau isinya nggak mendidik. Selain itu, sebagian besar sinetron mengisahkan kisah drama percintaan dan pacaran, yang mengajarkan anak-anak juga remaja untuk berpacaran, berpakaian minim, dan berpusat terhadap hal yang bikin happy meski itu maksiat.

Ironis memang. Banyak nih sinetron yang setting latar belakangnya pendidikan, pake seragam, lokasi dan pergaulannya di dalam dan di luar kelas. Tapi nggak sesuai dengan kehidupan asli. Banyak banget adegan yang justru contoh buruk buat anak sekolah. Contoh ya pelukan dan bermesraan di lingkungan sekolah. Seakan-akan hal itu boleh dilakuin. Dan kesannya wajar dilakuin di sekolah. Jadi penonton remaja yang psikologisnya masih labil bisa meniru. Bahaya bingit!

Dalam sebuah penelitian berjudul “Psychologists Study Media Violence for Harmful Effects” oleh Psychological Association (APA) pada tahun 1995, bahwa tayangan yang bermutu akan mempengaruhi seseorang untuk berlaku baik, dan tayangan yang kurang bermutu akan mendorong seseorang untuk berlaku buruk. Penelitian ini juga menyimpulkan bahwa perilaku buruk yang dilakukan seseorang berasal dari tontonan mereka sejak kecil.

Jadi, bener banget tuh bahwa tontonan bisa mempengaruhi diri kita. Apalagi yang namanya film, sinetron atau FTV lebih mudah ditangkap sama penonton. Visualnya jelas, belum lagi ditambah backsound lagu yang bikin menarik. Banyak tayangan TV yang nggak mendidik. Justru meracuni penontonnya. Sinetron dan FTV pacaran contohnya.  Betul, sebab yang nonton bakal penasaran sama adegan-adegan dalem sinetron. Lalu mereka mencoba dan meniru. So, solusinya gimana?

Kita sebagai muslim harus bisa membedakan mana yang layak dan bermanfaat untuk ditonton. Nggak mudah percaya dengan isi dalam sinetron yang bisa saja justru menyesatkan. Sebenernya sudah ada juga film-film islami. Tapi belum dijangkau luas sama masyarakat. Memang harus disebarluaskan. Nah, bisa juga tuh buat tayangan tandingan yang kreatif dan sesuai syariat Islam. Untuk disebarkan di medsos seperti channel YouTube.

Semua tontonan yang ada sekarang ini memuat perilaku yang bebas. Bebas pacaran, berbicara, berpakaian dll. Kebebasan ini adalah ciri khas dari sistem kapitalisme, ya. Apa saja serba boleh dan bebas. Meski ada film atau sinetron yang dapat respon negatif dan diprotes tapi tetap saja tayang. Masih banyak tayangan yang nggak bermutu tapi lolos tayang. Namanya juga otak kapitalis. Pengelola televisi nasional hanya mementingkan kepentingan bisnis tanpa peduli apakah acaranya akan berdampak negatif di lingkungan masyarakat. Selain itu mereka hanya memikirkan rating saja.

Pemerintah belum bersikap tegas dan malah terkesan membiarkan tayangan yang nggak mendidik. Bakal terus ada selama sistem negara yang kapitalis eksis. Di negara kapitalis ini, apapun yang bisa bikin mereka dapet untung, ya bakal didukung. Miris memang. Harusnya kan negara ikut mengontrol tontonan buat masyarakat, mengatur dan bersikap tegas kepada pihak yang membuat dan meloloskan tayangan yang jadi racun bagi masyarakat. Sip dah! Dan, solusi akhirnya ya kembali pada Islam yang harus diterapkan negara.

Sebab, dalam sistem negara Islam semua aspek kehidupan diatur. Tontonan macem sinetron atau FTV yang nggak ada manfaatnya bakal dilenyapkan. Negara hanya akan mendukung tayangan yang tidak menyimpang dari syariat Islam. Jadi, nanti nggak ada lagi tuh adegan-adegan pacaran yang romantis, acara gosip atau kartun yang berisi kekerasan, pergaulan bebas dan unsur negatif lainnya. Film-film Islami bakal sukses, dihargai dan diperhatikan deh sama negara. Jadinya orang bakal semangat berkarya. Nggak perlu cemas karyanya bakal ditolak. Dan kartun seperti Nussa Rarra bisa jadi panutan yang oke banget buat anak-anak dan semua kalangan. Siap berkarya? Oke deh.

Jadi, jangan mudah tergoda dan menerima mentah tayangan yang nggak islami. Kita kudu sadar, Bro en Sis. Yuk, belajar Islam. Inget, bahwa ajaran Islam itu luas dan nggak berhenti dalam hal ibadah aja. Join deh sama komunitas pengajian yang rutin menyuarakan Islam. Agar nantinya bisa ikut berdakwah kepada orang lain. Menyampaikan kebenaran dan cahaya Islam. So, pacaran itu yang pahit. Mau so sweet dan bebas mandangin kekash hati? Nikah aja! Siap?

Eits… Sekolah dulu dong! Karena nikah butuh persiapan dan bekal ilmu agar bisa harmonis dan bahagia hingga ke surga. Nikah juga butuh tanggung jawab besar. Levelnya lebih tinggi. Bagaimana mau nikah kalo tanggung jawab pada diri sendiri aja belum bisa. But, milih pacaran gara-gara belum siap nikah juga adalah kesalahan besar dan lari dari tanggung jawab. Udah deh, sekarang mah sekolah yang benar. Ngaji Islam dengan serius bin sungguh-sungguh. Tetap fokus pada ketaatan terhadap syariat Islam. Insya Allah barokah. Siap ya? Sip dah! [Muhaira | IG @ukhty.muhaira]