gaulislam.com


Jangan Jadi Bencong

Posted in Buletin gaulislam,Tahun IV/2010-2011 by Amira Mehnaaz on the October 17th, 2011

gaulislam edisi 208/tahun ke-4 (19 Dzulqaidah 1432 H/ 17 Oktober 2011)

 

Hello Bro en Sis! Udah lumayan lama kayaknya gue nggak nulis buat gaulislam. Sekarang kebagian juga jatah gue untuk menulis. Tapi waktu gue buka email dan tahu bahwa gue harus nulis tentang banci a.k.a bencong a.k.a waria a.k.a wadam, spontan gue tertawa. Ya udah deh, nggak usah panjang lebar. Langsung ajah yah Cin (Hah? Gue kok ikut-ikutan gaya bencong. Sori lah ya amit-amit tujuh turunan tujuh tanjakan! Nggak sudi!)

Kalo ngomongin soal banci alias bencong, hmm… pasti yang ada dalam benak kita mereka itu laki-laki, tapi mereka nggak mau kalau dipanggil bang, mas, om dan sejenisnya. Mereka itu maunya dipanggil Seus. Tapi kalau kita panggil Seus, mereka itu punya jakun, jenggot, kumis dan bulu ketiak seperti pria (karena mereka memang pria tulen). Para bencong biasanya berpenampilan layaknya wanita. Ada yang pake rok mini, hotpant, celana jeans yang ketat, tanktop, wig atau rambut palsu, ada juga yang benar-benar rambut asli yang dipanjangkan lalu direbonding dan bahkan ada yang mengoperasi alat kelaminnya dan menyuntik dadanya dengan silikon supaya semakin mirip wanita dan yang lainnya. Wedew!

Bro n Sis, menjadi banci alias bencong itu adalah kesalahan dan termasuk kategori maksiat. Sebab, hal tersebut sama sekali tidak dibenarkan dalam ajaran Islam. Mereka yang memilih untuk menjadi banci alias bencong mempunyai alasan tersendiri. Ada dari mereka yang mengatakan “Saya ini memang perempuan, hanya saja saya dilahirkan dengan tubuh yang seperti ini. Tapi naluri dalam diri saya itu 100% perempuan.” Ah, alesan aja tuh! (more…)

Pacarmu Bukan Suamimu

Posted in Buletin gaulislam,Tahun IV/2010-2011 by Amira Mehnaaz on the October 10th, 2011

gaulislam edisi 207/tahun ke-4 (12 Dzulqaidah 1432 H/ 10 Oktober 2011)

 

Waktu mau bikin pengantar di buku kawan saya, M. Iwan Januar di tahun 2003 silam (judulnya Surga Juga Buat Remaja), saya membaca semua isi artikelnya untuk keperluan memberi sentuhan rasa dan informasi di pengantar yang akan saya buat. Waktu itu ada satu artikel yang menggelitik, judulnya: Pacarmu Bukan Istrimu. Sekarang setelah lebih dari 8 tahun, saya kepikiran untuk menulis dengan judul sedikit berbeda, tetapi esensinya mestilah sama. Kan cuma perbedan kata dari “istri” menjadi “suami”. Oya, kalo ditelusuri di google dengan keyword “Pacarmu Bukan Suamimu” ada lebih dari 24 ribu entri artikel di jagat maya yang mengandung kalimat dan judul tersebut. Jadi udah banyak banget. Tetapi, saya tetap ingin menulis dengan judul seperti ini selain karena unik, juga karena momennya sangat pas untuk saat ini. Namun jangan khawatir, cara penyampaiannya insya Allah berbeda meski solusinya tak jauh berbeda.

Bro en Sis, kebetulan saya sering ikut bantu distribusi gaulislam edisi cetak ke sekolah-sekolah. Saya bisa melihat dari dekat, menyelami perasaan para guru tentang anak muridnya. Tak sedikit guru yang sharing atau curhat mengenai kondisi murid-murid di sekolahnya. Khususnya yang gaul bebas dengan lawan jenis. Saya juga menyadari bahwa memang tak mudah mengubah kondisi yang sudah kadung ancur lebur ini. Batasan pergaulan antara laki dan perempuan yang terbilang sudah nggak ada jarak aman lagi. Gimana nggak, banyak anak cewek yang nggak cuma gandengan tangan dengan cowoknya, tapi udah masuk level sangat mesra: menggelayut (idih, emangnya lutung pake gelayutan segala!). Hehehe.. maksud saya: tuh anak cewek sangat erat menggandeng tangan cowoknya, sampe kepalanya udah nyender-nyender ke lengan sang cowok. Kebetulan cowoknya tinggi menjulang bak menara Petronas, sementara ceweknya berukuran mini. Jadi, bener kan setengah gelayutan? Ckckck… sadar Non, tuh cowok kan bukan suamimu! (yang lebih parah saya pernah melihat kelakuan yang model gini nih siswa-siswi dari sekolah berlabel agama. Waduh!)

Bro en Sis, kondisi pergaulan cowok-cewek di kalangan remaja emang udah banyak yang kebablasan. Ya, meskipun ada yang bilang masa’ cuma pegangan tangan aja kok dipermasalahkan, tapi bagi saya itu sudah pelanggaran berat. Itu sudah mendekati zina, Bro en Sis. Bener! Nah, mendekati zina saja nggak boleh apalagi melakukan zina. Benar banget firman Allah Swt. dalam al-Quran (yang artinya): “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk” (QS al-Israa [17]: 32) (more…)

Remaja dan Terorisme

Posted in Buletin gaulislam,Tahun IV/2010-2011 by Hafsa Mutazz on the October 3rd, 2011

gaulislam edisi 206/tahun ke-4 (5 Dzulqaidah 1432 H/ 3 Oktober 2011)

 

Jangan keburu ngeper dan kaget sampai keluar kentut disertai koloid (baca: mencret) segala pas kamu baca judul ini. Biasa aja lagi. Kalem bin nyantai. Tema terorisme sama enaknya untuk dibahas dengan tema musik, game dan seks. Hah, seks? Kalo game dan musik sih emang doyan. Kok seks juga sih? Iya, soalnya banyak juga teman remaja yang ketahuan berlama-lama di depan komputer warnet, sampe lupa menghapus browsing history-nya. Hayoo ngaku! Hehehe.. saya bukan penjaga warnet, tapi seringkali harus ke warnet jika koneksi internet di rumah mendadak lemot kayak keong. Nah, di situlah saya seringkali pas duduk manis di depan komputer warnet, setelah ngisi data billing lalu membuka web browser, mata saya dikagetkan dengan pemandangan tak senonoh. Memang sih, bukan berarti yang ngelakuin hal itu remaja, bisa aja orang dewasa di warnet itu. Tetapi kan kalo mayoritas pengguna warnet anak sekolah, dugaan kuat pelakunya ya anak sekolah juga. Kemungkinan besar lho, bukan nuduh. Hehehe…

Bro en Sis, prolog saya di paragraf pertama tadi sekadar menginformasikan aja, bahwa ada fakta remaja yang senang dan lebih menyukai hal-hal ringan. Maka tema-tema seperti musik, game, dan juga seks (termasuk dalam hal ini pergaulan antar laki dan perempuan) bertebaran memenuhi halaman media massa (cetak, elektronik, termasuk internet). Sementara tema-tema berat macam politik, perkembangan ekonomi, hukum, pemerintahan kayaknya jauh banget dari pembahasan hot kamu semua. Mungkin saking bingungnya dengan masalah politik dan juga demi menghilangkan kepenatan rutinitas belajar, nggak sedikit remaja yang ngocehnya seputar musik, game, dan juga seks. Seringkali juga hal-hal sepele ditaburkan di situs jejaring sosial. Kasihan juga remaja kita ya, otak encernya cuma dipake buat nyampah di facebook. Ckckckck…

So, sekarang melalui buletin gaulislam ini saya ngajak kamu semua untuk mau berpikir lebih jauh, lebih detil, lebih peduli dengan hal-hal lain di sekitarmu. Salah satunya nih, tentang terorisme. Khususnya lagi saya ambil judul: remaja dan terorisme. Semoga tema ini bisa membantu kamu semua untuk peduli dan memandang dengan lebih jernih dan mendalam. Bahwa, fakta kejadian terorisme memang ada, tetapi apa benar fakta itu ada dengan sendirinya atau dipicu oleh fakta lain? Atau bisa juga, bener nggak sih fakta tersebut, atau justru rekayasa pihak tertentu? Bisa dan mungkin saja kamu semua juga berpikir: apa iya ada orang yang begitu mudah menjalankan aksi teror dengan kesadaran penuh atau justru didoktrin pihak tertentu? Mengapa juga media massa getol menayangkan peristiwa ini dan memberikan penghakiman? Semua pertanyaan dan mungkin pernyataan ini perlu mendapat jawaban. Semoga pembahasan gaulislam edisi 206 ini bikin kamu semua tercerahkan. (more…)

Ketika Cantik dan Shalihah Jadi Impian

Posted in Buletin gaulislam,Tahun IV/2010-2011 by Hafsa Mutazz on the September 26th, 2011

gaulislam edisi 205/tahun ke-4 (27 Syawal 1432 H/ 26 September 2011)

 

Pada tahu kan ajang Muslimah Beauty 2011? Hah, nggak tahu? Nah Gals, ternyata nggak gue sangka antusiasme para muslimah muda di Indo-nesia itu gede banget untuk berpartisipasi dalam ajang ini. Yap, Muslimah Beauty 2011 adalah ajang kontes kecantikan online khusus Muslimah berkerudung yang diikuti 1171 muslimah! Hasil seleksi ngedapetin 50 muslimah dan akhirnya tinggal jadi 10 finalis. Pemilihan juaranya diadain di Hotel Sahid, Jakarta tanggal  13 September 2011 lalu.

Namanya juga kontes kecantikan, ya udah pasti nomer 1 yang dinilai adalah keproporsio-nalan fisik–wajah and body. Sasaran kontes sendiri adalah muslimah muda berkerudung berusia 18-24 tahun yang kudu menguasai bahasa asing, pandai baca al-Quran, berprestasi secara akademik maupun non-akademik dan berkepribadian Islam.  Ckckckck… hebat bener nih syaratnya. Udah kebayang deh bakal kayak gimana muslimah yang jadi juara ajang ini. Keren!

Bro en Sis, ternyata juara pertama dari Muslimah Beauty 2011 ini adalah Dika Restiyani, 23 tahun. Seorang muslimah muda yang kuliah S2 di Nanyang Technological University Singapura, jurusan International Political Economy. Mantabs! Udah gitu, dunia modeling khususnya busana muslimah bukan sesuatu yang asing bagi doi. Jadi model busana muslimah udah sering doi lakukan baik di Indonesia dan Singapura. Selain itu, doi juga seorang entrepreneur. Doi punya perusahaan handicraft yang bikin boneka gitu! Aktivitas lainnya, Dika punya grup relawan Pelangi untuk Negeri dengan 100 orang relawan yang aktif ngadain kegiatan sosial untuk anak.

So, profil dari juara pertama Muslimah Beauty 2011 ini bener-bener memenuhi baek persyaratan maupun latar belakang dari diadainnya kontes ini. Dilansir dari okezone.com, Eka Shanty, Executive Director of Indonesia Islamic Fashion Consortium (IIFC) sebagai pelaksana Muslimah Beauty 2011 menyatakan: “Harapannya, pemenang dapat menjadi ikon tidak hanya fesyen tapi juga ekonomi syariah. Setelah Muslimah Beauty, Dika akan diikutkan dalam ajang International Fair Muslim World di Perancis pada 23-25 Desember mendatang.” (more…)

Santun Berkomunikasi, Yuk!

Posted in Buletin gaulislam,Tahun IV/2010-2011 by Amira Mehnaaz on the September 19th, 2011

gaulislam edisi 204/tahun ke-4 (20 Syawal 1432 H/ 19 September 2011)

 

Sobat muda muslim, sejak dulu kita udah diajarkan untuk santun berkomunikasi. Ortu kita di rumah udah sering wanti-wanti agar tutur kata kita juga baik. Selain itu, sopan-santun ketika berbi-cara dan berhadapan dengan orang lain menjadi menu harian kita. Umumnya sih begitu. Meski ada juga ortu dan lingkungan kurang baik dalam mengajarkan anak-anaknya untuk santun berkomunikasi. Misalnya, pernah tuh saya mendengar ada anak yang masih berumur empat tahun tapi sepertinya ungkapan kata-katanya nyontek abis dari film-film preman di televisi. Seperti, “Kubunuh kau!”. Dua kata itu keluar lancar dan fasih dari mulutnya (nggak pake fals segala. Bening.) ketika berantem dengan teman mainnya. Wacks, saya kaget. Begitu ditanya kepada orang dewasa yang ada di situ, dijawab, “Nggak heran, ortunya aja secara tidak langsung ngajarin gitu. Maklum, komunikasi di antara ayah dan ibunya kasar, jadinya anak ngikutin”. Ampuun!

Ngeri banget deh kalo sejak kecil kita udah belajar yang keras dan kasar. Komunikasi yang terekam di benak kita jadinya ya itu tadi, kata-kata kasar dan nggak santun banget. Pernah juga saya mendapati anak usia tiga tahunan yang ngomongnya kasar abis. Kata-katanya yang dikeluarkan nggak santun. Seperti mengucapkan, “Gua pukul lo!”, “Gua hajar lo!”. Lha, itu anak kecil. Masih tiga tahun. Tapi kata-katanya sungguh bikin risih. Maka, saya sendiri sungguh sangat khawatir kalo anak sejak kecil udah seperti itu. Usut punya usut, ternyata ibunya juga kalo berkomunikasi seperti itu. Walah, benar juga pepatah Belanda: Buah apel nggak bakalan jatuh jauh dari pohonnya (**kecuali pohon apelnya pinggir sungai dan ketika buahnya jatuh kebawa palid alias hanyut di sungai hehehe..)

Memang, anak kecil itu belajar berkomunikasi dari apa yang dilihatnya di lapangan saat main atau saat ngobrol dengan ortunya, plus nonton televisi. Kalo yang ditontonnya baik, insya Allah kebawa baik. Kalo yang dia dapati kata-kata yang santun dalam komunikasi dengan temannya atau ortunya, maka insya Allah itu pula yang keluar. Soalnya, saya merasakan betul gimana ‘cerewetnya’ ibu saya dalam mengingatkan supaya saya bertutur kata yang santun. Pernah suatu ketika saya ngomong istilah kasar dalam bahasa Sunda, langsung dipelototin sambil bilang kalo itu nggak baik. Kalo itu nggak sopan. Karena sering mendapati informasi seperti itu. Diajarkan dan diingatkan, maka alhamdulillah kebawa memorinya sampe sekarang. (more…)

Amerika Masih Serius Perang Melawan Terorisme

Posted in Buletin gaulislam,Tahun IV/2010-2011 by Leila Amra on the September 12th, 2011

gaulislam edisi 203/tahun ke-4 (13 Syawal 1432 H/ 12 September 2011)

Hehehe.. kamu jangan keburu stres kalo baca judul gaulislam edisi ke-203 ini. Dari judulnya aja panjangnya minta maaf (hehehe sengaja pake kata “maaf” karena kata ampun hanya ditujukan kepada Allah Swt.); enam kata! Belum lagi pilihan katanya. Heuhh bikin kamu bete kalo nggak biasa baca tulisan-tulisan dengan serius dan bakalan nganggap tuh judul serem banget. Hmm…

Bro en Sis pembaca setia gaulislam. Sengaja saya membuat judul panjang seperti ini dan mengangkat tema terorisme karena sedang hangat dibincangkan. Maklum, kemarin, 11 September 2011 adalah bertepatan dengan 10 tahun teror bagi Amerika. Kamu pasti udah pada tahu juga, minimal bagi yang baca berita serius ya, bukan cuma baca info sepakbola ama musik doang, bahwa pada 11 September 2011 silam dua gedung kembali di Amerika Serikat, yakni WTC (World Trade Center) ditubruk dua pesawat terbang yang disebut-sebut dibajak oleh teroris.

Sobat muda muslim, saya waktu menyaksikan siaran berita pada 10 tahun yang lalu itu, nyaris nggak percaya bahwa itu adalah adegan nyata, bukan dalam film. Soalnya, dramatis banget sih, jarang ada sebuah peristiwa besar yang mendadak seperti itu berhasil diabadikan kamera televisi dengan begitu pas dan angle pengambilan gambar yang bagus banget. Hehehe.. belakangan ternyata apa yang sempat saya sebut sebagai momen yang dramatis terungkap juga, bahwa sebenarnya kejadian itu diduga kuat (atau bahkan) sudah dipastikan adalah bagian dari skenario yang dibuat AS sendiri untuk meyakinkan rakyatnya dalam upaya pemerintahan Bush memburu Osama bin Ladin atas nama War on Terrorism (Perang Melawan Terorisme). (more…)

Putus Asa

Posted in Buletin gaulislam,Tahun IV/2010-2011 by Amira Mehnaaz on the September 5th, 2011

gaulislam edisi 202/tahun ke-4 (6 Syawal 1432 H/ 5 September 2011)

Sobat muda muslim, gimana Idul Fitri kemarin rame nggak? Hehehe kok nanya rame, emang bakar petasan. Iya maksudnya meriah nggak? Kumpul bareng keluarga dan keraban, serta teman-teman. Buat yang pulang kampung pasti seru di perjalanannya ya. Macet! Hihihi…nikmati dah macetnya, karena yang penting kamu bisa silaturahim dengan keluarga. Sip deh! Kami di gaulislam juga—meski telat ya—ngucapin selamat Idul Fitri. Maaf juga atas segala salah selama ini. Sukses dan barokah buat kuta semua ya.

Bro en Sis, gaulislam edisi pekan ini bahas tentang “putus asa”. Tema yang umum sebenarnya, tetapi saya coba kemas dengan lebih menarik. Oya, pernah nggak ngerasa penat, bosen, terus stress dalam menghadapi hidup? Pasti pernah kan? Bagi yang nggak pernah berarti hidupnya senang selalu, tertawa terus. Eh lama-lama jadi penghuni rumah sakit jiwa, (ujung-ujungnya stres juga). Hwahaha…

Benarkah semua yang kita usahakan selalu gagal, atau apa yang kita inginkan tidak terwujud. Apa iya seseram itu kehidupan kamu? Bukankah Allah telah memberi rizki bagi tiap-tiap mahklukNya? Atau kita yang kurang muhasabah (instropeksi diri)? Bisa jadi kegagalan demi kegagalan yang kita alami adalah suatu cobaan dari Allah Swt atau bahkan mungkin juga buah dari dosa-dosa kita di masa lalu? Hmm… wallahu’alam. Tetapi yang jelas dan pasti, kita harus instropeksi diri tiap saat, Bro.

Beberapa waktu lalu pas pengumuman kelulusan UN, ada banyak yang gembira, tapi nggak sedikit yang putus asa karena gagal lulus ujian. Gara-gara nggak lulus UN, ada yang nekat terjun ke sungai, naik ke atas menara listrik, sampai gantung diri di pohon tauge hehee, bercanda. Semoga kamu bukan salah satu di antara mereka ya!

Beberapa sekolah melalukan pembekalan bagi siswa-siswi nya untuk menghadapi Ujian Nasional dengan mengundang trainer atau motivator. Namun ini hanya awal sebagai penyemangat. Harusnya mereka juga disiapkan untuk menerima dua kemungkinan lulus atau tidak lulus. Sebab, kedua hal itu adalah ibarat dua sisi mata uang berbeda yang tidak mungkin terpisahkan, tul nggak? (more…)

Ied Fitr

Posted in Buletin gaulislam,Tahun IV/2010-2011 by Hafsa Mutazz on the August 29th, 2011

gaulislam edisi 201/tahun ke-4 (29 Ramadhan 1432 H/ 29 Agustus 2011)

 

Bikin artikel di bulan Ramadhan memang menjadi tantangan tersendiri. Selain hari serasa lebih pendek, waktu jadi mefeeet banget. Masuk lebih pagi, pulang lebih cepat, macet di jalan, buka puasa, sholat magrib, lanjutin makan babak kedua, terus sholat Isya plus Tarawih, akhirnya siap-siap tidur. Rutinitas seperti ini yang menjadi santapan sehari-hari gue, and nggak kerasa dua hari terakhir ini macet di jalanan meningkat deras, dan itu tandanya THR sudah turun! Loh?

Ya, lebaran sebentar lagi. Kesibukan cukup tinggi karena semua orang pada nyiapin untuk acara bertaraf internasional yaitu: lebaran berjamaah! Setahu ane emang cuma dua event besar di agama kite ini, idul Fitri dan idul Adha. Itu sebabnya, cukup worth untuk dirayakan dan disiapkan dengan seksama dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, loh? Kok jadi kayak di teks proklamasi? Hahaha…

Bro en Sis, event yang menutup acara puasa sebulan penuh ini emang unik banget, acara ini nyaris melumpuhkan semua sektor di negara kita. Semua orang pada cuti massal. Mirip mogok nasional lah. Nggak ada yang kerja. Kantor-kantor pada tutup dan kebanyakan orang pada maen ke sono kemari (baca: silaturahmi)

Dalam menyambut hari Ied alias lebaran, umumnya kita malah lebih terfokus pada hal-hal di luar ibadah, dengan satu dalih untuk mempersiapkan hari ied yang biasanya identik dengan kerepotan, pengeluran lebih dan yang jelas capek berat. Pernah tidak kita merasakan hal yang sama, tapi pada aktivitas ibadah yang lain? Misal kerepotan cari tambahan uang karena lagi pengen memperbaiki masjid dideket rumah kita, kecapean dan kelelahan karena berusaha ngajakin orang di kampung untuk mau sholat tepat waktu dan sebagainya. Kenapa kok lebaran selalu menjadi “big deal” bagi kaum muslimin di Indonesia? (more…)

Ramadhan Bulan Perjuangan

Posted in Buletin gaulislam,Tahun IV/2010-2011 by Amira Mehnaaz on the August 22nd, 2011

gaulislam edisi 200/tahun ke-4 (22 Ramadhan 1432 H/ 22 Agustus 2011)

Bro en Sis, saya sengaja menulis repost alias menerbitkan ulang tulisan saya di jaman dulu (tahun 2001), waktu saya jadi editor Buletin Remaja STUDIA, sebelum buletin itu dibubarkan karena alasan tertentu. Tujuannya, kebetulan momennya aja pas. Namun saya ubah sedikit judulnya dan menambah atau menghilangkan beberapa informasi di dalamnya. Itu sebabnya, kamu yang kini udah bangkotan (sori rada sadis nyebutnya), yang pernah baca STUDIA pada masa SMA dulu, kini bakal baca lagi di buletin gaulislam. So, jangan heran bin kaget ya. Sebab, yang nulisnya tetap aja saya sendiri hehehe… (oya, hal ini juga sekaligus menjawab banyak pertanyaan kamu semua yang menyebutkan: “Kok, rasa bahasa gaulislam sama dengan STUDIA?” Ya iyalah, wong editornya adalah orang yang sama hehehe…)

Ngomongin soal Ramadhan, rasanya udah berpuluh bahkan beratus atau malah beribu tulisan menyebut  Ramadhan bulan mulia. Yup, Ramadhan memang membawa berkah bagi kaum mukminin. Meski secara fisik kita diwajibkan untuk menahan rasa lapar dan haus, plus menghindari segala perbuatan maksiat, namun bukan berarti kita kudu puasa juga dari berbagai aktivitas amal shaleh. Justru di bulan Ramadhan inilah, semangat kaum mukminin sedang puncak-puncaknya.

Bro en Sis, mulut boleh istirahat seharian dari mengunyah makanan, tenggorokan boleh terasa kering tak dialiri air, perut boleh keroncongan nahan lapar, tapi semangat untuk beraktivitas mulia kudu tetap menyala. Kenyataan ini telah dibuktikan oleh para generasi terdahulu kita. Justru di bulan Ramadhan berbagai kemenangan dapat diraih dengan gemilang. Bahkan sebagian di antaranya ikut menciptakan arah sejarah kehidupan Islam dan kaum muslimin. Ya, Ramadhan memang bulan perjuangan dan kemenangan bagi kaum mukminin.

Boys and gals, seharusnya kita pun nggak kalah dong dengan semangat para pendahulu kita. Sekarang pun kita bisa berbuat hal yang sama, atau paling nggak mirip-mirip perjuangannya dengan mereka. Kondisi memang berbeda, situasi juga sangat jauh berbeda. Tapi bukan berarti kemudian kita menyerah kepada keadaan. Insya Allah kita mampu kok, paling nggak semangat perjuangannya bisa kita teladani. Sebab mereka seolah ingin menunjukkan kepada generasi setelahnya, bahwa Ramadhan bukan halangan untuk tetap melakukan amal shaleh, bahwa Ramadhan pun bukan halangan untuk istirahat dari jihad, dan bahwa Ramadhan pun bukan saatnya untuk bersantai-santai dengan alasan menyelamatkan puasa kita. (more…)

Dakwahtainment

Posted in Buletin gaulislam,Tahun IV/2010-2011 by sholihin on the August 15th, 2011

gaulislam edisi 199/tahun ke-4 (15 Ramadhan 1432 H/ 15 Agustus 2011)

Apa yang kamu pikirkan pertama kali baca judul ini? Seperti mengingatkan kepada acara gosip seleb? Hmm.. nggak salah juga. Kata “entertainment” yang melekat dengan kata info sering kita temukan dalam acara-acara gosip selebritis: infotainment alias informasi seputar hiburan. Nah, dakwahtainment juga kira-kira mirip lah. Mungkin tepatnya Dakwah Entertainment, disingkat jadi dakwahtainment. Lho, kalo gitu artinya dakwah yang bersifat hiburan dong? Bisa jadi. Atau… bisa juga dakwah yang dikemas dengan cara menghibur.

Bro en Sis, dakwah entertainment semarak di saat Ramadhan. Coba deh tengok, hampir semua stasiun televisi menayangkan dakwah yang dikemas dengan hiburan, atau malah dalam beberapa stasiun televisi dakwah digabung dengan hiburan. Televisi memang media paling ampuh untuk mengemas dan menayangkan dakwahtainment. Selain jangkauannya luas, juga kekuatannya sebagai media dengan keunggulan audio visual (bisa didengar dan bisa dilihat), televisi bisa mengambil ceruk pasar pemasang iklan. Kok bisa?

Iya. Ini terjadi semacam relasi komoditas. Masyarakat butuh guyuran rohani di bulan Ramadhan ketimbang di bulan lainnya. Nah, kebutuhan itu disadari betul pengelola televisi. Klop. Bertemunya dua kebutuhan, namun berbeda cara pandang. Masyarakat sih yang penting ada isi, sementara pengelola media memandang hal itu sebagai peluang bisnis. Hitungannya, kalo pengelola televisi menggelar sebuah program dakwah, apalagi jika dikemas dengan hiburan, maka akan menarik penonton dalam jumlah banyak. Kalo udah begitu, berarti rating acara tersebut bakalan naik. Berikutnya, pengiklan bakalan ngantri pengen mengambil jatah tayang di acara tersebut. Bisnis iya, menyampaikan pesan dakwah juga tercapai.

Tapi, apa sudah cukup memenuhi kebutuhan masyarakat? Belum. Menurut saya belum memenuhi kebutuhan akan siraman rohani yang maksimal. Saya memang belum melakukan survei, tetapi sebuah acara bisa bagus atau tidak cukup dilihat dari konten alias isi pesannya. Sebagus apapun kemasan, kalo isi pesannya tanpa makna, apalagi jika mengaburkan makna, maka tayangan tersebut terkategori sampah. Maaf, ini fakta. Lagi pula, bertaburannya simbol-simbol agama dalam berbagai acara Ramadhan dan sinetron religi sekadar tempelan saja. Pakaian (baju koko, jilbab, kerudung, sorban, peci dan sejenisnya) juga ritual (shalat, doa, mengucapkan salam dan sejenisnya) dihadirkan tanpa konteks yang mendukung pesan moral. (more…)

 
Next Page »

  rank blog indonesia