gaulislam edisi 980/tahun ke-19 (20 Safar 1448 H/ 3 Agustus 2026)
Coba jujur, ya. Apa hal pertama yang terlintas di otak kamu begitu mendengar kata “Politik”?
A. Bapak-bapak berkemeja batik atau jas hitam yang mukanya terpampang di baliho pinggir jalan, nempel di tiang listrik, bikin pemandangan kota makin estetika-less.
B. Ibu-ibu atau bapak-bapak pejabat yang joget-joget di TikTok pake musik trending demi kelihatan relate sama Gen Z dan Gen Alpha.
C. Arena adu domba di kolom komentar Instagram/X yang isinya pasukan buzzer saling serang pake kata-kata kasar.
D. Semua jawaban di atas benar dan bikin pengen melambaikan tangan ke kamera karena udah capek duluan.
Kalo kamu memilih D, welcome to the jungle, eh, club!
Beneran. Di mata Gen Z dan Gen Alpha hari ini, politik sering kali dipandang sebagai hal paling ngebosenin, cringe, penuh intrik, dan sama sekali nggak ada hubungannya sama kehidupan anak muda. Mending mikirin rank Mobile Legends yang turun dari Mythic ke Legend, atau mikirin OOTD buat hangout akhir pekan, daripada ngurusin politik.
Tapi bentar dulu. Pernah nggak kamu kepikiran: Kenapa sih politik yang kita lihat hari ini rasanya super pelik dan cuma berisi trik? Dan kenapa Islam justru menyuruh kita untuk melek politik?
Yuk, kita bongkar bareng-bareng secara santai, jernih, dan tanpa baper!
Sekilas politik praktis
Sobat gaulislam, biar gampang paham, mari kita analogikan politik praktis saat ini dengan kehidupan yang paling relate sama kamu, misalnya Pemilihan Ketua OSIS di sekolah atau Pemilihan Leader Clan/Guild di gim.
Ketika di sekolahmu ada pemilihan Ketua OSIS. Kandidat A: Punya visi bagus, pinter, tapi orangnya agak pendiam. Dia nggak bagi-bagi makanan, nggak bikin konten kocak, dan nggak jago pencitraan.
Kandidat B: Populer, jago ngelucu, tajir, rajin nraktir es boba satu kelas, dan bikin video campaign beranimasi AI yang estetik banget. Tapi pas ditanya gimana cara membenahi masalah perundungan (bullying) atau fasilitas kamar mandi sekolah yang rusak, dia cuma jawab: “Pokoknya ada. Sekarang yang penting kita happy-happy bareng!”
Kira-kira siapa yang bakal menang di sistem sekolahmu? Kebanyakan pasti milih Kandidat B, kan? Nah, itulah gambaran tatanan politik praktis hari ini.
Wah, agak berat nih bahasan. Tenang, kita coba kendorin tensinya. Jadi gini, coba kita bikin perbandingan. Dalam politik praktis yang sekuler, orientasinya adalah popularitas dan kursi (jabatan). Terus modalnya adalah gimmick dan pencitraan. Rakyat? Pasti diabaikan ketika pemilu udahan pestanya. Udah gitu, syariat dibuang jauh-jauh. Nyebelin, kan?
Bagaimana dengan politik hakiki alias siyasah islamiyah? Orientasinya jelas pelayanan dan kebijakan yang baik. Modalnya adalah ketaatan dan keahlian atau kompetensi calon pejabatnya. Rakyat? Bakal dilayani sepenuh hati. Dan tentu aja, hukum Allah Ta’ala jadi landasan utama.
Itu sebabnya, politik yang kita tonton di televisi dan media sosial saat ini adalah politik sekuler (pemisahan agama dari urusan kehidupan). Dalam sistem ini, politik disempitkan maknanya menjadi seni merebut kekuasaan.
Nah, demi merebut kekuasaan dan simpati suara Gen Z/Alpha, para politisi rela melakukan apa saja. Kita urut, ya.
Pertama, gimmick over substance. Bikin joget khas, panggil influencer terkenal buat jualan narasi, atau sok-sokan panggil istilah gaul biar dibilang “Satu frekuensi nih sama anak muda!”. Padahal program nyatanya nol besar.
Kedua, janji manis tanpa garansi. Pas kampanye mengumbar janji sekolah gratis, lapangan kerja melimpah, harga bahan pokok murah. Tapi begitu menang? Janjinya di-ghosting, rakyatnya ditinggal burnout. Ini udah terbukti berkali-kali, lho. Cuma banyak rakyatnya yang demen dibohongi.
Ketiga, bagi-bagi ‘kue’ kekuasaan. Ya, politik praktis hari ini mirip kayak party di gim online, di mana yang dapet loot paling banyak adalah orang yang dekat sama Leader, bukan orang yang kerja keras membela tim.
Intinya, ketika politik hanya diartikan sebagai ajang bagi-bagi kursi, maka rakyat—termasuk kamu dan masa depanmu—cuma dijadikan batu loncatan yang dilupakan setelah tujuan mereka tercapai. Ini pun udah terbukti bekali-kali. Cuma ya, masih banyak rakyatnya yang doan dikibulin.
Anak muda tetap kena dampak
Sobat gaulislam, banyak remaja berpikir: “Ah, gue kan belum cukup umur buat nyoblos,” atau “Gue mah apatis aja, nggak usah ikut-ikutan politik!”
Eits, tunggu dulu! Sikap apatis kamu itu nggak bikin kamu bebas dari dampak politik, lho. Coba perhatikan contoh nyata di sekitarmu ini.
Pertama, kenapa uang jajan kamu makin nggak berasa? Karena harga es kopi dan boba favoritmu naik gara-gara kebijakan pajak (PPN) yang ditetapkan oleh instansi politik.
Kedua, kenapa abang atau kakakmu yang baru lulus kuliah pusing 7 keliling nyari kerja? Karena aturan ketenagakerjaan dan lapangan kerja diatur oleh undang-undang hasil produk politik yang nggak menguntungkan rakyat.
Ketiga, kenapa biaya kuliah (UKT) makin meroket? Karena kebijakan komersialisasi pendidikan lahir dari keputusan politik di meja pemerintahan.
Jadi, mau kamu suka atau nggak, politik itu mengurus seluruh sendi kehidupanmu. Kalo anak-anak muda yang kritis dan shalih pada apatis, maka panggung politik bakal terus diisi oleh orang-orang yang cuma nyari keuntungan pribadi.
Politik dalam Islam
Nah, sekarang mari kita bersihkan persepsi kita yang udah kepatuk sama kekonyolan politik praktis. Dalam Islam, kata politik itu disebut Siyasah (سِيَاسَة).
Secara bahasa, Siyasah berasal dari kata Sasa – Yasusu – Siyasatan yang artinya memelihara, mengurus, atau mengendalikan. Dulu, istilah ini dipakai untuk menggambarkan seorang penggembala yang merawat dan mengarahkan hewan ternaknya agar selamat dari jurang atau diterkam serigala.
Dalam konteks kehidupan bernegara, para ulama mendefinisikan politik Islam sebagai ri’ayatu syu’unil ummah (pengurusan seluruh urusan umat berlandaskan hukum-hukum Allah Ta’ala).
Pengen lihat perbedaannya? Gini. Politik praktis sekuler orientasinya gimana caranya dirinya dapet jabatan dan kekayaan dari rakyat. Kalo politik Islam orientasinya adalah gimana caranya negara mengurus dan melindungi rakyat agar sejahtera di dunia dan selamat di akhirat. Paham sampe sini? Semoga, ya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits shahih, “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya, laki-laki pemimpin dalam keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka, wanita pemimpin di rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rumah tangganya, dan seorang pelayan pemimpin terhadap harta majikannya dan akan dimintai pertanggungjawaban atasnya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam Islam, perlu kamu tahu bahwa minta jabatan itu hukumnya makruh bahkan bisa haram kalo tujuannya buat pamer atau niat jahat. Pemimpin dalam Islam nggak akan sempat bikin konten joget-joget pencitraan, karena malamnya mereka bakal kepikiran, “Adakah rakyatku yang malam ini tidur dalam keadaan lapar?”
Inget kisah Khalifah Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu? Beliau pernah memanggul sendiri karung gandum di punggungnya di tengah malam yang dingin, cuma buat diantarkan ke gubuk seorang ibu dan anak-anaknya yang kelaparan. Pas ajudannya mau bantu bawain, Umar bilang, “Apakah kamu mau memikul dosaku nanti di hari kiamat?” Ini baru namanya pemimpin sejati, bukan yang posting foto membagikan bantuan demi konten sosial media!
Selain itu, dalam sistem politik Islam, pendidikan bukan barang dagangan. Sekolah dan universitas dibiayai penuh oleh negara dari pengelolaan sumber daya alam (seperti tambang emas, minyak, gas). Jadi nggak ada cerita mahasiswa demo gara-gara UKT mahal! Beneran.
Penyebabnya, sekularisme
Bro en Sis rahimakumullahu, pembaca setia gaulislam. Mungkin kamu bertanya-tanya, “Kenapa sih negara kita nggak menerapkan politik Islam yang sekeren itu?”
Jawabannya singkatnya, karena dunia hari ini mengadopsi sistem Sekularisme (memisahkan agama dari aturan kehidupan). Agama cuma ditaruh di dalam masjid, di atas sajadah, atau di lembar soal ujian PAI. Begitu masuk ke gedung DPR, kantor kementerian, atau ruang pembuatan hukum, aturan Allah Ta’ala ditinggalkan. Manusia merasa lebih pintar dari Sang Pencipta, lalu membuat aturan sendiri yang ujung-ujungnya cuma menguntungkan para pemilik modal (oligarki).
Allah Ta’ala sudah mewanti-wanti hal ini dalam al-Quran, “Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki? Dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al-Maa’idah [5]: 50)
Ketika hukum Allah Ta’ala dicampakkan dari panggung politik, jangan heran kalo yang lahir adalah kebijakan-kebijakan aneh yang bikin rakyat mengeluh dan sengsara, korupsi merajalela, dan politik cuma jadi arena sulap alias penuh trik.
Yuk, move on!
Nah, sebagai Gen Z dan Gen Alpha muslim yang punya pemikiran jernih, kamu nggak boleh cuma jadi penonton pasrah. Saatnya kamu melakukan upgrade diri! Gimana langkah konkritnya?
Ada nih, empat tahapan biar kamu melek politik. Pertama, luruskan mindset untuk bongkar doktrin “Politik itu kotor”. Ya, buang jauh-jauh doktrin tertsebut. Sebab, yang kotor itu adalah politik praktis sekuler. Politiknya sendiri (siyasah) dalam Islam adalah bagian dari ibadah dan kewajiban dakwah. Kalo anak-anak muda muslim yang baik malah kabur dari politik, panggung politik bakal selamanya dikuasai oleh orang-orang jahat.
Kedua, upgrade Ilmu untuk pelajari siyasah islamiyah. Belajar Islam secara kaffah (utuh or menyeluruh). Mulai sekarang, kalo belajar Islam jangan cuma soal tata cara wudhu dan shalat (meskipun itu penting banget!). Pelajari juga gimana Islam mengatur ekonomi, hukum, hubungan luar negeri, dan tata kelola negara. Carilah lingkaran kajian atau komuitas remaja muslim yang kritis dan membimbing kamu memahami Islam sebagai The Way of Life.
Ketiga, vocal dan critical, kamu bisa gunakan sosmed buat edukasi opini. Betul. Kudu asah kemampuan critical thinking. Jangan gampang kemakan gimmick politik di sosmed! Ada pejabat yang bagi-bagi hadiah? Jangan langsung terpesona, kritisi dari mana dananya dan apa dampaknya. Ada calon pemimpin pake bahasa gaul anak muda? Cek track record-nya, bukan cuma cek followers TikTok-nya.
Keempat, jadikan sosmedmu tempat ‘spill’ keagungan Islam. Anak muda hari ini memegang kendali atas algoritma dunia digital. Gunakan jarimu buat menyebarkan opini Islam yang jernih. Spill kebenaran, krtisi ketidakadilan dengan cara yang sopan dan elegan, dan tunjukkan ke teman-teman sebayamu bahwa Islam punya solusi atas seluruh problematika dunia saat ini.
Sobat gaulislam, masa remaja adalah masa emas. Jangan biarkan energi dan kecerdasanmu habis cuma buat doomscrolling konten faedah-less atau galauin urusan asmara yang nggak jelas hilirnya. Masa depan ada di tanganmu, lho.
Dunia sedang nggak baik-baik saja, dan politik praktis yang ada saat ini terbukti gagal memberikan kesejahteraan yang hakiki. Bangsa ini—dan umat ini—butuh anak-anak muda yang nggak cuma pinter koding, pinter bahasa asing, atau jago desain, tapi juga punya akidah yang kokoh dan paham mana jalan yang benar.
Yuk, dari sekarang kita pasang niat: kita belajar, kita melek politik, dan kita jadikan Islam sebagai satu-satunya jalan hidup. Ya, Islam is the way of life! [O. Solihin | Join WhatsApp Channel]
Gabung di WhatsApp Channel Remaja gaulislam Online untuk artikel terbaru!