24/08/2026
menagihbukticinta

gaulislam edisi 983/tahun ke-19 (11 Rabiul Awwal 1448 H/ 24 Agustus 2026)

Bulan Rabiul Awwal datang lagi. Hawanya langsung kerasa beda. Di masjid-masjid kampung sampai musala perumahan elit, suara tabuhan rebana dari grup marawis mulai bersahut-sahutan. Aroma minyak wangi semerbak, lampu warna-warni dipasang, dan suara lantunan kitab al-Barzanji, Diba’, atau Simthud Durar menggema lewat corong pengeras suara. Syahdu? Banget. Suasananya bikin adem, apalagi kalo malam itu udara lagi dingin-dinginnya sehabis hujan rintik.

Tapi, mari kita renungkan sejenak sambil menatap cermin. Di balik lantunan bait-bait puitis berbahasa Arab yang dibacakan dengan cengkok meliuk-liuk itu, berapa gelintir dari para remaja yang benar-benar paham artinya? Kebanyakan dari kamu—mengaku saja, jangan malu-malu—cuma duduk bersila, kepala mengangguk-angguk sok khusyuk, mulut komat-kamit menirukan bait “Ya Nabi salam ‘alaika…” saat prosesi mahallul qiyam, tapi pikiran melayang entah ke mana.

Lebih parah lagi, di sudut belakang saf, ada operasi rahasia yang sedang berlangsung. Mata beberapa anak muda jelalatan bukan memperhatikan penceramah, melainkan mengawasi pergerakan kantong kresek, kotak snack, atau baki nasi kebuli yang mulai dijejerkan oleh panitia di dekat pintu keluar. Ironis bin ngeri. Antusiasme menyambut hari lahir sang manusia paling mulia di muka bumi mendadak tereduksi menjadi sekadar ekspedisi berburu konsumsi gratis demi memanjakan urusan perut. Waduh!

Drama tahunan

Sobat gaulislam, fenomena Maulid Nabi di negeri kita memang nggak pernah sepi dari dinamika. Begitu masuk tanggal 1 Rabiul Awwal, panggung media sosial langsung berubah jadi arena debat terbuka. Polanya berulang setiap tahun, mirip serial anime yang ceritanya nggak tamat-tamat.

Di sudut kanan, ada kubu yang begitu fanatik merayakan. Alasannya tegas: ini tradisi turun-temurun, wujud ekspresi cinta kepada Rasulullah, dan sarana syiar yang efektif untuk mengumpulkan massa. Pokoknya, kalo nggak merayakan, dianggap kurang cinta Nabi atau bahkan dicap berhati keras.

Di sudut kiri, berdiri kubu yang tak kalah lantang melayangkan kritik. Dalil-dalil dikerahkan, literatur klasik dibuka. Mereka mempertanyakan dasar pensyariatan acara tersebut, seraya menegaskan bahwa generasi terbaik—para sahabat, tabiin, dan tabiut tabiin—nggak pernah mengadakan pesta ulang tahun semacam ini. Ujung-ujungnya, stempel tebal bertuliskan “bid’ah dholalah” langsung ditempelkan ke jidat siapa saja yang hadir di majelis Maulid.

Kolom komentar Instagram, TikTok, dan grup WhatsApp keluarga pun mendadak panas. Anggota keluarga saling sindir, teman tongkrongan saling debat kusir, dan energi umat habis terkuras hanya untuk saling menyalahkan. Padahal, kalo ditanya esensi dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kedua kubu yang lagi ribut ini sering kali sama-sama masih bolong salat subuhnya atau masih malas bangun malam untuk tahajud. Pletak!

Lantas, bagaimana posisi kamu sebagai remaja muslim yang ingin berpikir jernih, kritis, tapi tetap santun dan punya visi ke depan? Apakah harus ikut terjebak dalam pusaran konflik hitam-putih yang membakar emosi itu?

Dari “merayakan” menjadi “memperingati”

Mari kita ambil napas dalam-dalam dan mencoba berdiri di posisi yang objektif: berdiri di tengah. Alih-alih larut dalam polemik kata “merayakan” yang identik dengan pesta pora, selebrasi hura-hura, potong tumpeng, atau konser musik bernuansa religi yang kering makna, bagaimana kalo kita ubah sedikit sudut pandang dan diksinya?

Ganti istilah merayakan menjadi memperingati. Perbedaan katanya memang tipis, tapi pergeseran maknanya luar biasa besar. Kata “merayakan” (to celebrate) cenderung berfokus pada euforia masa kini. Orientasinya adalah rasa senang, kumpul-kumpul, makan-makan, dan hiburan. Sebaliknya, kata “memperingati” (to commemorate/mengingat kembali) memiliki muatan kontemplatif, reflektif, dan edukatif.

Ketika kita sepakat menggunakan kacamata “memperingati”, maka fokus utamanya bukan lagi pada pesta tanggal lahirnya. Kelahiran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pada 12 Rabiul Awwal memang peristiwa agung yang mengubah peta sejarah dunia, dari zaman kegelapan jahiliyah menuju cahaya Islam. Namun, kelahiran beliau adalah pintu gerbang awal, bukan tujuan akhir.

Hal yang jauh lebih fundamental, mendesak, dan krusial untuk dibahas di era sekarang adalah: bagaimana jejak perjuangan beliau setelah diangkat menjadi Nabi dan Rasul? Bagaimana beliau merombak tatanan sosial yang rusak, memberantas kezaliman sistem jahiliyah, mendakwahkan akidah tauhid, dan menegakkan syariat Islam secara kaffah melalui dakwah dan jihad?

Inilah titik tolak yang kerap hilang di tengah kepulan asap dupa dan wangi minyak kesturi acara maulidan seremonial. Banyak di antara kita yang terlalu sibuk mengagumi sosok fisik bayi yang lahir di kota Makkah, tapi alpa mempelajari bagaimana sosok dewasa itu memimpin sebuah peradaban besar di Madinah.

Taktik Cerdas Shalahuddin al-Ayyubi

Sobat gaulislam, kalo kita mau menengok lembaran sejarah Islam secara adil dan jujur, ide mengumpulkan massa dalam momen Maulid Nabi punya rekam jejak yang sangat politis dan berbobot ideologis. Bukan buat senang-senang, apalagi sekadar pesta kuliner.

Tengoklah abad ke-12 Masehi. Dunia Islam kala itu berada di titik nadir. Perang Salib berkecamuk, wilayah-wilayah kaum muslimin dicabik-cabik, moral pasukan runtuh, perpecahan internal merajalela, dan mahkota kejayaan Islam—Baitul Maqdis (al-Quds/Yerusalem)—dirampas dan dikuasai oleh Pasukan Salib selama puluhan tahun. Kaum muslimin saat itu lesu, terpecah dalam kelompok-kelompok kecil yang sibuk memikirkan perut dan kekuasaan masing-masing.

Di tengah kondisi kritis tersebut, muncullah sosok panglima perang legendaris yang namanya dihormati kawan maupun lawan: Sultan Shalahuddin al-Ayyubi (bersama para ulama dan penguasa di masanya seperti Sultan Nuruddin Zanki dan Muzhaffaruddin al-Kaukabri).

Apa yang dilakukan Shalahuddin? Beliau menyadari bahwa senjata dan pedang nggak akan ada gunanya jika mental kaum muslimin remuk. Ruh jihad mereka harus dihidupkan kembali. Keyakinan mereka terhadap janji Allah Ta’ala harus dinyalakan ulang.

Maka, digelarlah peringatan Maulid Nabi secara besar-besaran. Tapi perhatikan isinya! Shalahuddin dan para pemimpin di masa itu nggak mengumpulkan kaum muslimin untuk bernyanyi sampai pagi atau duduk melamun menghabiskan kue-kue manis. Beliau mengumpulkan para prajurit dan rakyat untuk dibacakan sirah nabawiyah, riwayat peperangan (al-maghazi), kisah heroisme Nabi di Perang Badar, Uhud, dan Khandaq, serta bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendidik para sahabat menjadi singa di siang hari dan bak ‘rahib’ di malam hari.

Peringatan Maulid di tangan Shalahuddin berubah menjadi kawah candradimuka pembangkit ghirah perjuangan. Hasilnya? Semangat kaum muslimin meledak. Mental tempe lenyap berganti mental baja. Jiwa kepahlawanan bangkit dari tidur panjangnya. Dari rahim peringatan yang berbobot itulah lahir pasukan tangguh yang berhasil membebaskan kembali Baitul Maqdis ke pangkuan kaum muslimin pada tahun 1187 M. Sekadar kamu tahu, pembebasan atau penaklukan kembali Kota Yerusalem (Baitul Maqdis) terjadi pada tanggal  27 Rajab 583 Hijriah (bertepatan dengan 2 Oktober 1187 M), sedangkan kemenangan militer awalnya di Pertempuran Hattin terjadi pada tanggal 4 Juli 1187 M atau bertepatan dengan bulan Rabi’ul Akhir 583 Hijriah.

Sekarang coba kita bandingkan: peringatan yang digagas Shalahuddin melahirkan pembebasan Baitul Maqdis, sedangkan peringatan di tongkrongan kita hari ini sering kali cuma melahirkan tumpukan sampah kotak kardus dan obrolan unfaedah soal “berkat siapa yang lauknya paling enak”. Kontras yang sangat memilukan, bukan?

Fenomena remaja hari ini

Sobat gaulislam, sebagai remaja muslim generasi Z dan Alpha yang hidup di era keterbukaan informasi, mari muhasabah dengan jujur.

Berapa banyak dari kamu yang datang ke acara peringatan hari besar Islam—termasuk Maulid Nabi—bukan karena rindu pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, melainkan karena motif pragmatis macam: nongkrong gratis bareng circle, cuci mata mencari gebetan di saf seberang, foto bareng untuk kebutuhan konten story media sosial, dan alasan paling klasik: mengamankan makan malam gratis.

Ketika ustaz atau kiai di atas mimbar memaparkan kisah kelahiran nabi dan ragam cerita seputar kebaikan-kebaikan beliau, audiens muda di barisan belakang malah sibuk mabar game online atau bisik-bisik, “Kira-kira menunya ayam bakar apa empal gentong ya, Bro?”

Fenomena “maulid urusan perut” ini adalah alarm bahaya bagi peradaban Islam. Remaja adalah tulang punggung masa depan umat. Kalo generasi mudanya saja sudah kehilangan daya kritis, kehilangan kepekaan terhadap kondisi umat, dan hanya digerakkan oleh urusan isi lambung, bagaimana mungkin peradaban Islam bisa bangkit kembali?

Musuh-musuh Islam hari ini nggak lagi butuh mengirim pasukan perang konvensional untuk menghancurkan kita. Mereka cukup merusak pola pikir generasi mudanya melalui gaya hidup hedonis, pragmatis, sekuler, dan membiarkan kita sibuk meributkan kulit luar agama tanpa pernah menyentuh substansinya. Kita dibuat puas hanya dengan merasa “sudah islami” karena hadir di majelis shalawat, padahal cara berpikir, pergaulan, dan gaya hidup kita masih 100% berkiblat pada nilai-nilai Barat yang bebas tanpa batas.

Bro en Sis rahimakumullah, mencintai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam itu bukan sekadar klaim lisan, bukan pula sebatas tetesan air mata musiman yang tumpah setahun sekali saat pembacaan kasidah. Cinta sejati selalu menuntut pembuktian nyata (al-hubbu yuqtadhil ittiba’).

Nabi kita tercinta nggak diutus ke muka bumi ini hanya untuk dikagumi secara pasif. Beliau diutus membawa risalah revolusioner yang membebaskan manusia dari penghambaan kepada sesama makhluk menuju penghambaan hanya kepada Allah Ta’ala.

Misi utama Nabi adalah menyempurnakan akhlak dan menegakkan syariat Islam. Beliau mengatur urusan akidah (tauhid), ibadah ritual, akhlak, hingga urusan pergaulan sosial, ekonomi anti-riba, hukum pidana, tata kelola negara, dan politik luar negeri. Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebuah ideologi paripurna, sebuah sistem hidup menyeluruh (the way of life), bukan sekadar agama ritual yang dipojokkan di dalam dinding-dinding masjid.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk (al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” (QS at-Taubah [9]: 33)

Jika kita benar-benar mengaku sebagai umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ingin memperingati kehadiran beliau di muka bumi, maka pembuktian tertingginya adalah dengan mengambil seluruh risalah yang beliau bawa tanpa pilah-pilih.

Jangan menjadi muslim yang cherry-picking: ajaran Nabi tentang senyum itu sedekah kita amalkan dengan semangat, tapi ajaran Nabi tentang larangan mendekati zina (baca: kalo zaman sekarang namanya pacaran), kewajiban menutup aurat secara syar’i, menjauhi riba, dan kewajiban berdakwah kita abaikan begitu saja karena dianggap kuno atau membatasi kebebasan berekspresi.

Upgrade bukti cinta kita

Momen Rabiul Awwal seharusnya menjadi titik balik bagi kita semua untuk melakukan upgrade total dalam berislam. Bagi kawan-kawan yang memilih untuk menyelenggarakan atau menghadiri majelis peringatan Maulid Nabi, mari kita ubah atmosfernya! Dorong panitia untuk menghadirkan pembicara yang mampu membedah sejarah perjuangan Nabi secara utuh. Jadikan majelis tersebut sebagai ruang kajian ideologis yang membakar semangat pemuda untuk belajar Islam kaffah, mengkaji fikih dakwah, dan memahami problematika umat hari ini—mulai dari krisis moral, penjajahan di Palestina, hingga kerusakan sistemik akibat ditinggalkannya aturan Allah Ta’ala.

Bagi kawan-kawan yang memilih untuk nggak memperingatinya karena memegang teguh prinsip kehati-hatian dalam syariat, tetaplah bersikap santun dan saling menghargai. Salurkan energi keteguhan itu untuk berdakwah secara riil di tengah masyarakat, mengedukasi generasi muda agar kembali kepada al-Quran dan as-Sunnah dengan pemahaman yang benar.

Jalan tengah ini menyatukan kita pada satu titik temu yang esensial: fokus pada perjuangan dan penerapan syariat Islam dan menunjukkan bukti cinta kita kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mencintai Nabi berarti sepaket dengan mencintai jalan dakwah yang beliau tempuh. Mencintai Nabi berarti siap menanggung risiko dicibir dan dianggap asing oleh lingkungan yang sudah terbiasa dengan kemaksiatan. Mencintai Nabi berarti berani berkata “nggak” pada gaya hidup gaul yang melanggar aturan syariat.

Sudah saatnya kita menyudahi tradisi hadir di majelis hanya demi berburu nasi kebuli gratis. Saatnya beralih menjadi remaja pengemban dakwah yang cerdas, kritis, berani, dan berakhlak mulia. Jadikan Islam bukan sekadar pelengkap kartu identitas, melainkan panduan hidup di setiap hembusan napas dan langkah kaki kita.

Semoga kelak di hari kiamat, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil umatnya di telaga al-Kautsar, kita termasuk barisan pemuda yang dikenali beliau bukan karena seberapa meriah pesta yang kita buat, melainkan karena seberapa gigih kita memperjuangkan dan mempertahankan ajaran beliau di zaman yang penuh fitnah ini. Wallahu a’lam bish-shawab. [O. Solihin | Join Channel WhatsApp]

Gabung di WhatsApp Channel Remaja gaulislam Online untuk artikel terbaru!

Gabung Sekarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *