gaulislam edisi 982/tahun ke-19 (4 Safar 1448 H/ 17 Agustus 2026)
Kamu udah bisa nebak sih, karena udah rutin tiap tahun. Ya, soal pemandangan khas tiap tanggal 17 Agustus: upacara di berbagai instansi, bendera merah putih berkibar gagah dari pucuk tiang bambu sampai spion motor matik dan di halaman rumah serta kantor-kantor pemerintah, jalanan gang atau lapangan kecil disulap jadi arena pertempuran tarik tambang antar-RT, bapak-bapak komplek mendadak lincah balap karung pakai helm bogo, dan kamu—dengan penuh dedikasi—berdiri megap-megap di depan kerupuk putih yang diikat tali rafia bergoyang-goyang ditiup angin. Kerupuknya asin, leher kamu pegal, tapi demi hadiah ember plastik dan buku tulis isi 38 lembar, kamu rela dagu terkilir.
Suasana begitu riuh. Musik remix dangdut koplo bernuansa perjuangan menggelegar dari sound system sewaan yang basnya bikin kaca jendela tetangga bergetar. Semuanya tampak bahagia, serba meriah, dan sarat euforia. Kita menyebutnya: “Merayakan Kemerdekaan”.
Namun, begitu tanggal 18 Agustus tiba, batang panjat pinang ditebang, panggung dangdut dibongkar, dan sisa bungkus plastik mi instan dan es cekek berserakan di jalanan, sebuah kenyataan pahit mendadak menampar wajah kita dengan dingin. Realitas hidup yang sebenarnya langsung menyapa tanpa permisi: kuota internet sekarat, harga beras naik lagi, cari kerja susahnya minta ampun, dan masa depan terasa makin buram kayak kamera HP jadul.
Lalu, muncul sebuah pertanyaan yang menggelitik nurani: apakah kemerdekaan kita selama puluhan tahun ini cuma sebatas ritual dan seremonial tahunan yang dirayakan, bukan kemerdekaan sejati yang dirasakan?
Merdeka fisik, terjepit sistemik
Sobat gaulislam, mari kita rehat sejenak dari scrolling video lucu di media sosial dan melihat tanah air kita dengan kacamata yang jernih. Generasi muda hari ini sering dicap sebagai generasi rebahan yang manja, padahal kenyataannya banyak dari kita yang cemas setengah mati memikirkan masa depan.
Kondisi lapangan kerja saat ini ibarat game battle royale: lowongan untuk satu posisi staf administrasi diperebutkan oleh ribuan pelamar. Belum lagi syarat lowongannya ada yang di luar nalar: usia maksimal 25 tahun, berpengalaman kerja minimal 5 tahun, mahir 3 bahasa asing, dan berpenampilan menarik ala idol K-Pop dengan gaji di bawah upah minimum. Ironisnya, di tengah antrean panjang jutaan sarjana dan lulusan SMK yang menganggur, kita disuguhi tontonan para pejabat yang asyik bagi-bagi kursi jabatan untuk lingkaran koleganya sendiri.
Lagu lawas (tahun 1987) Iwan Fals dalam Surat Buat Wakil Rakyat mendadak terdengar sangat relevan dan menyengat:
Saudara dipilih bukan dilotre
Meski kami tak kenal siapa saudara
Kami tak sudi memilih para juara
Juara diam juara he eh juara hahaha
Bukan cuma urusan cari nafkah yang bikin pusing, urusan isi piring pun setali tiga uang. Negeri kita yang dulu dibanggakan dengan julukan “gemah ripah loh jinawi” alias tanah surga—tempat tongkat kayu dan batu bisa jadi tanaman—nyatanya darurat kemandirian pangan. Slogan “swasembada pangan” tiap tahun cuma jadi pajangan di baliho kampanye dan bahan materi slide presentasi para birokrat.
Faktanya? Nasi putih yang kita santap sebagian besar berasal dari beras impor. Tempe dan tahu goreng yang jadi lauk andalan anak kos dibuat dari kedelai impor. Mi instan dan roti bakar yang menemani begadang dibuat dari tepung gandum impor. Bahkan bawang putih dan garam pun didatangkan dari luar negeri. Petani lokal menjerit karena harga gabah anjlok saat panen raya akibat gempuran impor, sementara konsumen menjerit karena harga sembako di pasar tradisional terus merangkak naik.
Belum lagi jika kita bicara tentang moral dan tatanan sosial. Di kota-kota besar hingga pelosok desa, fenomena pergaulan bebas, kecanduan judi online berkedok game, tawuran antar-geng motor, hingga krisis kesehatan mental di kalangan remaja kian marak. Kita mengira kita sudah bebas dari penjajah berkulit putih yang menenteng senapan dan bedil. Padahal secara sadar maupun nggak, kita kini terjajah oleh sistem yang rusak, pemikiran materialistik yang liar, dan keserakahan elite bangsa sendiri yang korup. Anggaran negara yang bernilai triliunan rupiah kerap menguap dalam proyek-proyek seremonial nirfaedah yang hasilnya sama sekali nggak menyentuh kesejahteraan rakyat jelata.
Saatnya ‘log out’ dari sikap apatis
Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Di tengah carut-marutnya kondisi negeri ini, di mana posisi kamu sebagai remaja muslim? Apakah kamu cuma mau jadi penonton pasif yang sibuk flexing outfit terbaru, berburu tempat nongkrong estetik, atau terjebak dalam overthinking tanpa ujung tentang jodoh yang belum kelihatan ‘hilalnya’?
Islam nggak pernah mendidik pemeluk mudanya untuk menjadi generasi egois yang hanya mementingkan keselamatan diri sendiri. Remaja dalam peradaban Islam bukanlah sosok yang menghabiskan masa mudanya untuk berfoya-foya, melainkan garda terdepan pembawa perubahan.
Ingatlah sosok Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu yang di usia belia sudah mempertaruhkan nyawanya dengan tidur di ranjang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengelabui kaum kafir Quraisy. Ingat pula Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu yang pada usia 18 tahun sudah dipercaya memimpin pasukan perang menghadapi imperium adidaya Romawi. Mereka adalah anak-anak muda yang visinya melampaui kepentingan perut dan eksistensi diri.
Allah Ta’ala memberikan peringatan tegas bahwa perubahan kondisi suatu kaum bermula dari kesadaran kaum itu sendiri untuk bergerak dan memperbaiki diri, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS ar-Ra’d [13]: 11)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menegaskan pentingnya masa muda dalam sebuah hadits yang sangat populer, “Manfaatkan lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, sehatmu sebelum datang sakitmu, kayamu sebelum datang miskinmu, waktu luangmu sebelum datang waktu sempitmu, dan hidupmu sebelum datang matimu.” (HR al-Hakim, shahih)
Menjadi remaja muslim yang keren di era sekarang bukan berarti anti-sosial atau sok tahu segalanya. Keren yang sesungguhnya adalah ketika kamu memiliki kepedulian sosial, melek terhadap isu-isu keumatan, memahami mengapa rakyat kecil susah makan, dan berani bersuara ketika melihat ketidakadilan di depan mata. Jangan sampai energi masa mudamu habis hanya untuk mengejar validasi di media sosial, sementara negeri tempat kamu berpijak sedang babak belur dirundung masalah.
Mengapa terus begini?
Sobat gaulislam, pertanyaan besarnya adalah mengapa semua problem ekonomi, politik, hukum, moral dan lainnya ini terus berulang dari dekade ke dekade tanpa solusi tuntas? Ganti rezim berkali-kali, ganti menteri setiap periode, mengapa hasilnya tetap sama?
Jawabannya sederhana namun mendasar: karena negeri ini belum menjadikan Islam dan syariat-Nya sebagai jalan hidup (way of life) serta ideologi pengatur negara.
Kita mencoba menyelesaikan masalah ekonomi dengan sistem kapitalisme yang rakus—yang kaya makin kaya karena memonopoli sumber daya alam, sementara yang miskin kian terhimpit utang dan pajak. Kita menyelesaikan masalah politik dengan sistem demokrasi transaksional yang berbiaya mahal, sehingga siapapun yang duduk di kursi kekuasaan terbebani hutang budi kepada para pemodal oligarki ketimbang memikirkan rakyatnya. Kita mengatur pergaulan sosial dengan sistem sekularisme-liberalisme yang memisahkan agama dari kehidupan sehari-hari, hingga akhirnya halal-haram dianggap relatif dan norma agama dipinggirkan karena dalih hak asasi individu. Kacau banget, kan?
Ketika hukum buatan manusia yang serba terbatas, penuh hawa nafsu, dan sarat kepentingan dijadikan rujukan utama dalam mengelola negara, maka kekacauan adalah konsekuensi logis yang tak terelakkan. Allah Ta’ala telah mengingatkan hal ini dalam al-Quran, “Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki? Dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS al-Maidah: 50)
Negeri ini memiliki tanah yang subur, lautan yang luas, serta tambang mineral dan emas yang melimpah ruah. Namun, keberkahan hidup nggak diukur semata-mata dari banyaknya kekayaan alam di perut bumi, melainkan dari sejauh mana penduduk dan para pemimpinnya tunduk pada aturan Sang Pencipta, “Dan sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka karena perbuatan yang telah mereka lakukan.” (QS al-A’raf [7]: 96)
Kemerdekaan hakiki
Lalu, apa sebenarnya arti “merdeka” yang hakiki dalam pandangan Islam? Apakah merdeka berarti bebas berbuat sesuka hati tanpa batas? Bebas pacaran dalam berbagai gaya, bebas mabuk-mabukan, bebas menaikkan harga sembako, atau bebas merampok uang rakyat melalui korupsi? Tentu bukan! Itu bukan kebebasan, melainkan perbudakan hawa nafsu.
Kemerdekaan hakiki terangkum dengan sangat indah dalam ucapan legendaris seorang sahabat Nabi di Perang Qadisiyyah pada 636 M (ada lho filmnya, kamu pernah nonton? Seru!). Ya, sahabat nabi itu bernama Rib’i bin Amir radhiyallahu ‘anhu, ketika beliau berdiri gagah di hadapan Rustum, panglima tertinggi imperium Persia yang angkuh dan bertabur kemewahan. Saat ditanya apa tujuan kedatangan kaum muslimin, Rib’i menjawab dengan kalimat yang menggetarkan dan tertoreh indah dalam sejarah kejayaan Islam, “Allah mengutus kami untuk mengeluarkan siapa saja yang Dia kehendaki dari penghambaan kepada sesama manusia menuju penghambaan hanya kepada Allah semata; dari kesempitan dunia menuju kelapangannya; dan dari kezaliman agama-agama (sistem buatan manusia) menuju keadilan Islam.” (dalam al-Bidayah wan Nihayah, karya Ibnu Katsir)
Pernyataan ini adalah rumusan kemerdekaan paling komprehensif di dunia. Kemerdekaan hakiki adalah pembebasan manusia dari segala bentuk penghambaan terhadap manusia lain, dari ketundukan pada hukum-hukum ciptaan makhluk yang menindas, menuju penghambaan murni hanya kepada Allah Ta’ala dan ketaatan total pada syariat-Nya.
Ketika seorang manusia hanya takut dan tunduk kepada Allah, ia nggak akan bisa dibeli dengan uang suap atau bansos politik, nggak akan gentar menghadapi ancaman penguasa zalim, dan nggak akan tertipu oleh gemerlap dunia yang fana. Dan ketika sebuah negara berlandaskan syariat Islam, kekayaan alam dikelola untuk kemaslahatan seluruh rakyat tanpa diskriminasi, keadilan ditegakkan tanpa pandang bulu, dan para pemimpin bekerja dengan kesadaran penuh bahwa setiap rupiah anggaran yang mereka kelola akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Mahkamah Ilahi di akhirat kelak.
Dari diri sendiri menuju perubahan peradaban
Sobat gaulislam, mengetahui semua fakta ini tentu bukan untuk membuat kita putus asa lalu melarikan diri ke dalam kamar sambil meratapi nasib. Justru ini adalah panggilan jiwa (wake-up call) bagi setiap remaja muslim untuk bangkit dan mengambil peran nyata. Perubahan besar peradaban selalu bermula dari langkah-langkah terstruktur pada empat pilar kehidupan. Apa aja?
Pertama, negara menerapkan syariat Islam secara kaffah. Kedua, masyarakat yang menegakkan dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar. Ketiga, keluarga yang menerapkan tarbiyah Islamiyah dan keteladanan. Keempat, individu yang akidahnya lurus, bertakwa, dan memiliki akhlak mulia.
Nah, di level individu, mulai benahi diri sendiri. Sebagai remaja muslim, mulailah dengan membersihkan pemikiran dan gaya hidupmu. Singkirkan budaya hedonis dan gaya hidup nirfaedah. Rajinlah mengkaji Islam secara mendalam (tafaqquh fiddin), bukan Islam KTP atau hafalan teori tanpa pemahaman. Jadilah pemuda yang akidahnya kokoh, ibadahnya tertib, akhlaknya mulia, dan wawasannya luas. Kuasai sains, teknologi, dan ilmu pengetahuan untuk masa depan umat.
Lalu, di level keluarga, hidupkan nilai Islam di rumah. Jadikan rumahmu sebagai madrasah pertama. Saling mengingatkan dalam kebaikan dengan orang tua dan saudara. Bangun suasana keluarga yang hangat dengan nilai-nilai ketakwaan, kejujuran, dan kesederhanaan, sehingga keluarga menjadi benteng pertahanan pertama dari gempuran budaya luar yang merusak.
Berikutnya, di level masyarakat, yakni hidupkan budaya peduli dan dakwah. Jangan cuek terhadap lingkungan sekitar. Jika melihat kemungkaran di sekitarmu—seperti teman yang terjerumus narkoba, judi online, atau pergaulan bebas—ajak mereka kembali ke jalan yang benar dengan cara yang bijak dan penuh kasih sayang. Galakkan amar ma’ruf nahi munkar. Bangun komunitas pemuda masjid atau forum kepemudaan yang produktif, kritis terhadap kebijakan publik, dan aktif membantu masyarakat yang kesusahan.
Dan tentu di level tertinggi, yakni negara. Pemimpin negara wajib tunduk pada aturan Sang Pencipta. Puncaknya, seluruh elemen bangsa—termasuk para pemegang kebijakan—harus menyadari bahwa jalan keluar dari seluruh krisis multidimensi ini adalah dengan kembali kepada aturan Allah Ta’ala. Negara wajib menerapkan syariat Islam secara menyeluruh (kaffah) dalam sistem politik, ekonomi, hukum peradilan, sosial, pendidikan, pertahanan dan keamanan, maupun hubungan internasional. Hanya dengan sistem yang diridhai Allah Ta’ala inilah insya Allah keadilan sosial dan kemakmuran hakiki yang dicita-citakan sejak proklamasi dapat benar-benar terwujud.
Peringatan 17 Agustus seharusnya bukan sekadar rutinitas nostalgia yang berakhir ketika upacara dan lomba makan kerupuk selesai dan panggung hiburan dibubarkan. Ini adalah momentum muhasabah kolosal bagi kita semua. Kemerdekaan sejati bukan diukur dari seberapa keras kita berteriak “Merdeka!” (kalo di Bogor, ada angkot 06 trayek Merdeka-Parung yang sopirnya selalu bilang, “merdeka”), melainkan dari seberapa berani kita melepaskan diri dari rantai aturan buatan manusia yang menindas, lalu bersujud dan tunduk seutuhnya di bawah naungan syariat Allah Ta’ala.
Yuk Bro en Sis, bangun dari tidur panjangmu, bersihkan pandanganmu, luruskan niatmu, dan bersiaplah menjadi bagian dari generasi penegak kemerdekaan hakiki bersama Islam! Bukan kemerdekaan semu dan seremonial belaka. [O. Solihin | Join Channel WhatsApp]
Gabung di WhatsApp Channel Remaja gaulislam Online untuk artikel terbaru!