29/09/2026

gaulislam edisi 988/tahun ke-19 (16 Rabiul Akhir 1448 H/ 28 September 2026)

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Nggak berasa ya, waktu ngibritnya cepet banget kayak koneksi Wi-Fi yang baru ganti paket. Tahu-tahu, kita udah nyampe di edisi 988. Catet, Bro and Sis, ini adalah edisi pamungkas di tahun penerbitan kita yang ke-19! Yup, genap 19 tahun gaulislam–sebenarnya nanti miladnya di tanggal 29 Oktober 2026, ini cuma bilangan edisinya aja–nemenin hari-hari kamu, ngebongkar tren, ngelurusin mindset, dan nemenin hijrah bareng. Insya Allah pekan depan, buletin kesayangan kita ini udah melangkah gagah masuk ke tahun penerbitan yang ke-20. Barakallahu fiik untuk kita semua yang masih terus bertahan di jalan dakwah dan kebaikan ini! 

Nah, menyambut momen spesial media dakwah kita, pas banget rasanya kalo kita duduk santai sejenak, ngopi atau ngeteh, sambil introspeksi diri. Pernah nggak kamu kepikiran: hidup kita di dunia yang cuma mampir ini sebenarnya lagi ngejar apa, sih? 

Ambisi atau sekadar gaya? 

Coba perhatiin linimasa media sosial kita belakangan ini. Isinya kompetisi, flex sana-sini, dan banjir ucapan selamat. Ada teman yang pamer medali olimpiade sains, piagam lomba debat bahasa Inggris, juara game online tingkat nasional, sampai piagam lomba makan kerupuk tingkat kecamatan (eh, yang terakhir ini agak maksa, ya). Intinya, anak muda zaman sekarang itu luar biasa ambisius. 

Semua orang berlomba jadi yang terbaik. Di sekolah, targetnya ranking satu paralel. Di kampus, ngejar IPK 4 koma (komanya jangan sampai koma tidur, ya—eh, bukannya mentok di koma nol, ya?). Di tempat kerja atau tongkrongan kreatif, ngejar sebutan influencer, content creator of the year, atau founder bisnis di usia belia. 

Salah? Nggak dong! Siapa bilang Islam benci orang sukses? Siapa bilang Islam ngajarin umatnya buat jadi kaum rebahan yang kerjanya cuma ngabisin kuota sambil nungguin keajaiban turun dari langit? Islam justru menyukai umat yang kuat, cerdas, dan tangguh. 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan…” (HR Muslim) 

Tapi masalahnya, sering kali kita terjebak pada fatamorgana: mengejar prestasi hanya sebatas kebanggaan semu dan kepuasan ego pribadi. 

Pernah nggak jujur sama diri sendiri: waktu kamu ngincer piala itu, tujuan utamanya apa? Biar dikagumi gebetan? Biar foto kamu dipajang di lobi sekolah? Biar ada bahan buat update status dengan caption bernada humblebrag (rendah hati tapi aslinya pamer)? Kalo cuma sampai di situ, sayang banget, Bro en Sis. Itu namanya kamu capek-capek mendaki gunung prestasi yang tinggi menjulang, tapi pas sampai di puncak, kamu cuma nemu angin kosong. Capeknya dapet, pahalanya zonk! 

Berapa banyak orang yang di masa mudanya bergelimang trofi, namanya dieluk-elukkan di koran dan medsos, tapi begitu usianya menua atau gelarnya kadaluwarsa, namanya hilang ditelan bumi? Nggak ada jejak kebaikan yang tersisa buat orang lain. Sebab, yang ada cuma tumpukan logam berdebu di lemari kaca yang lama-lama bikin repot waktu mau bersih-bersih rumah. Jadi, perbaiki niat ya, jangan sekadar ambisi atau cuma gaya-gayaan. 

Saat hal baik nggak berbuah baik 

Sobat gaulislam, sekarang kita geser sudut pandangnya. “Ah, gue mah nggak ambisius ngejar dunia, Min. Gue kan anak rohis, gue santri, gue lagi ngejar akhirat!” 

Alhamdulillah kalo begitu. Misalnya ada remaja yang mendedikasikan masa mudanya buat mondok di pesantren tahfiz. Niatnya mulia: menghafal 30 juz al-Quran sampai mutqin (melekat kuat di luar kepala). Masya Allah, ini impian yang luar biasa keren! Siapa yang nggak bangga punya anak atau teman yang hafiz Quran? Di akhirat kelak, para penghafal al-Quran dijanjikan mahkota kemuliaan untuk kedua orang tuanya. 

Tapi tunggu dulu. Ibadah yang sekeren ini pun ternyata nggak kebal dari jebakan setan. Tahu nggak kamu, ada virus berbahaya yang bisa menyerang siapa saja tanpa pandang bulu: virus salah niat. Catet! 

Banyak lho anak muda yang cara dan tujuannya udah benar—mondok iya, ngafal iya, tilawah berjam-jam kuat—tapi jiwanya belum siap dibina. Niat awalnya yang mulia perlahan geser pengen dipanggil “Ustadz”, pengen dipuji “Masya Allah, suaranya merdu kayak imam Mekkah, ya”, atau sekadar ngejar validasi biar dibilang saleh/salehah idaman mertua. 

Wah, ini sih akibatnya bisa fatal. Karena hafalan cuma nempel di kerongkongan dan nggak meresap ke dalam dada, akhlaknya malah tertinggal di belakang. Ada santri atau hafiz yang lidahnya fasih melafalkan ayat-ayat suci, tapi tangannya enteng mencaci maki di media sosial. Di depan asatidz sopan, tapi di belakang masih sembunyi-sembunyi pacaran, ngintip konten maksiat, atau nggak punya adab sama orang tua. 

Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan kita tentang tiga golongan pertama yang diseret ke dalam neraka di hari kiamat. Salah satunya adalah orang yang membaca al-Quran agar disebut sebagai qari atau orang yang pandai membaca! Ngerinya naudzubillah. Capaian akhirat yang secara lahiriah megah, bisa hangus terbakar hanya gara-gara niat yang belok dari ridha Allah Ta’ala. Waspadalah! 

Dari prestasi menuju legacy 

Terus, gimana dong solusinya? Jawabannya sederhana tapi butuh latihan jiwa yang ekstra: Ubah orientasi dari sekadar “prestasi” menjadi “legacy” (warisan kebaikan). 

Oya, apa bedanya prestasi dengan legacy? Prestasi itu fokusnya pada diri sendiri (aku dapat apa, aku menang apa, aku kelihatan seberapa hebat). Kalo legacy itu fokusnya pada kebermanfaatan dan ridha Allah (kebaikan apa yang aku tularkan, apa manfaatnya buat sesama, dan apa yang bisa kubawa menghadap Allah Ta’ala kelak). Prestasi dunia dan cita-cita akhirat harus sama-sama didudukkan di atas satu landasan yang kokoh: ibadah yang ikhlas dan mutaba’ah (mengikuti tuntunan syariat). 

Kalo kamu berbakat di bidang sains dan teknologi, jadilah ilmuwan muslim yang ilmunya memudahkan hidup umat, menciptakan inovasi energi ramah lingkungan yang murah untuk rakyat kecil, atau bikin aplikasi yang memudahkan orang mengaji. Medali olimpiade fisikanya hanyalah bonus, tapi ilmu yang kamu sebar luaskan dan teknologi yang kamu ciptakan demi kemaslahatan itulah legacy-nya. 

Kalo kamu seorang penghafal al-Quran, jadikan ayat-ayat itu cahaya dalam perilaku sehari-hari. Jadilah pribadi yang paling jujur, paling santun kepada tetangga dan teman, paling berbakti kepada orang tua, dan ajarkan huruf-huruf hijaiyah itu kepada adik-adik kecil di surau dekat rumahmu. Satu huruf yang mereka baca seumur hidup berkat ajaranmu adalah aliran pahala yang nggak bakal putus sampai hari kiamat. 

Ingat hadis legendaris yang selalu kita hafal, “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR Muslim) 

Tiga perkara itu bukan piagam penghargaan, bukan piala bergilir, bukan jumlah followers di TikTok. Tiga perkara itu adalah legacy kebaikan yang nyata! 

Filter mutlak pilihan remaja 

Dalam perjalanan merajut mimpi, remaja sering kali dihadapkan pada persimpangan jalan yang membingungkan. Apalagi zaman sekarang, standar “sukses” versi dunia modern sering kali nabrak-nabrak aturan syariat. 

Banyak orang menganggap segala sesuatu yang menghasilkan uang banyak, ketenaran instan, dan tepuk tangan meriah adalah sebuah “prestasi”. Padahal dalam pandangan Allah Ta’ala, kalo cara atau jalannya haram, setinggi apa pun pialanya, itu hanyalah tumpukan dosa. 

Itu sebabnya, kita wajib punya filter mutlak, yakni standar halal-haram. Kaidahnya tegas: Kalo haram, tinggalkan! Jangan pernah mimpi dapat berkah dari jalan yang Allah Ta’ala murkai. Nggak ada istilah “prestasi di jalur maksiat”. Misalnya, jadi juara kompetisi meracik miras, menang taruhan balap liar, atau sukses jadi model busana tapi mengumbar aurat ke jutaan pasang mata. Itu bukan prestasi, itu jeratan dosa jariyah! 

Oya, kalo itu syubhat (meragukan), mending menjauh! Jangan cari perkara dengan hal-hal yang batas halal-haramnya masih abu-abu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang menghindarkan diri dari perkara syubhat, maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya.” (HR Bukhari dan Muslim) 

Jadi, pilih yang jelas halalnya dan bawa maslahat. 

Jangan egois 

Sobat gaulislam, ini poin krusial yang paling sering bikin remaja bentrok sama lingkungan rumah: merasa diri paling pintar menentukan masa depan. 

Remaja itu darahnya panas, semangatnya membara, mimpinya setinggi langit. Tapi ingat, penglihatan kamu baru sebatas apa yang ada di depan mata, sedangkan orang tua dan guru yang bijak, mereka melihat berdasarkan pengalaman hidup dan kematangan akal. 

Ambil contoh konkret: Ada seorang remaja cowok yang ngebet banget pengen jadi atlet sepak bola profesional. Bakatnya ada, larinya kencang mirip larinya Lamine Yamal, mimpinya main di liga utama. Tapi orang tuanya bilang, “Nak, jangan ya. Cari jalan lain aja.” 

Reaksi sebagian remaja biasanya langsung ngambek, banting pintu kamar, pasang status galau: “Orang tua toxic, nggak dukung passion anak!” 

Eits, tunggu dulu. Jangan buru-buru menuduh orang tua membatasi mimpimu. Duduk bareng dan dengarkan alasan mereka. Orang tua biasanya melihat konsekuensi jangka panjang yang belum sempat kamu pikirkan. 

Menjadi atlet olahraga profesional tertentu di masa sekarang sering kali terikat kontrak dan regulasi yang ketat. Regulasi seragam tanding yang mau nggak mau harus pakai celana pendek di atas lutut (membuka aurat pria secara terang-terangan di hadapan publik dan kamera siaran langsung). Belum lagi urusan jadwal tanding yang sering kali bertabrakan dengan waktu salat Jumat atau kewajiban puasa Ramadhan, lingkungan pesta pasca-kemenangan, dan taruhan sponsor judi yang terselubung. 

Ketika orang tua mengingatkan hal-hal semacam itu, artinya mereka sedang menyelamatkan agamamu! Mereka nggak mau anaknya jago gocek bola di lapangan hijau tapi gampang digocek setan menuju neraka. 

Allah Ta’ala berfirman, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya…” (QS al-Isra [17]: 23) 

Keridhaan Allah ada pada keridhaan orang tua, dan murka Allah ada pada murka orang tua. Jadi, sebelum kamu memutuskan jalan hidupmu, konsultasikan dulu dengan mereka. Bicarakan dengan para ustaz dan guru yang paham syariat dan paham potensi dirimu. Kalo mereka menyetujui dan jalan itu syar’i, bismillah, melangkahlah. Tapi kalo mereka melarang demi menjaga agamamu, tunduklah dan taati. Yakinlah bahwa mengorbankan sebuah ambisi demi ketaatan kepada orang tua dan syariat Islam adalah prestasi taqwa yang jauh lebih bernilai di mata Allah Ta’ala. 

Langkah nyata 

Supaya tulisan ini nggak sekadar jadi bacaan santai yang nguap begitu aja setelah dibaca, yuk kita bareng-bareng ambil tindakan nyata. 

Pertama, audit niat tiap pagi. Mulai hari ini, setiap kali mau ikut lomba, bikin karya, belajar untuk ujian, atau ngafal al-Quran, perbarui niatmu: “Lillahi Ta’ala, biar jadi bekal ibadah dan dakwah.” 

Kedua, cek lisensi syariat. Sebelum ambil tawaran proyek, ekstrakurikuler, atau profesi impian, tanya dulu: Ini halal nggak? Ada aurat yang kebuka nggak? Ada ikhtilat (campur baur lawan jenis tanpa hajat syar’i) yang kebablasan nggak? Ada hak orang lain yang dizalimi nggak? 

Ketiga, minta restu tanpa nego keras kepala. Diskusikan minatmu dengan orang tua. Tunjukkan bahwa kamu bukan anak kemarin sore yang cuma modal emosi, melainkan anak berbakti yang ingin masa depannya berkah. 

Keempat, ciptakan efek manfaat. Pastikan apapun yang kamu raih hari ini melahirkan manfaat buat orang banyak. Kalo kamu pintar matematika, bikin bimbel gratis buat anak-anak yatim di sekitar rumahmu. Kalo kamu jago nulis, bikin konten dakwah yang menyadarkan teman-teman sebayamu. 

Sobat gaulislam, dunia ini sebentar banget. Kita hidup cuma mampir sejenak buat ngumpulin bekal. Trofi juara bakal berkarat, piagam bakal menguning, followers bakal berganti generasi. Tapi amal shalih yang diniatkan ikhlas, adab mulia yang dipraktikkan, ketaatan pada orang tua, serta ilmu yang diajarkan demi kemaslahatan umat akan terus hidup abadi. 

Oke deh, sampai jumpa pekan depan, insya Allah di edisi penerbitan tahun ke-20 dengan tekad baru: Menjadi remaja muslim yang berprestasi di bumi, dan namanya harum serta dirindukan oleh penduduk langit! Tetap istiqamah, kawan! [O. Solihin | Join WhatsApp Channel] 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *