05/10/2026

gaulislam edisi 989/tahun ke-20 (23 Rabiul Akhir 1448 H/ 5 Oktober 2026)

Assalaamu’alaikum, sobat gaulislam di mana pun kamu berada!

Ada yang spesial nih. Edisi 989 ini adalah edisi perdana di tahun penerbitan yang ke-20. Dua puluh tahun, Bro en Sis! Kalo buletin ini adalah manusia, dia udah lewat masa remaja dan siap-siap nyari pasangan halal (eh, kok jadi nyambung ke tema, ya?). Alhamdulillah, kami masih diberi kesempatan buat ngajak kamu semua kenal Islam lebih dekat. Insya Allah, gaulislam akan terus menemani kamu semua setiap pekannya. Jadi, jangan bosen ya. Kalo bosen, ya baca lagi aja. Siapa tahu tadi kelewat satu paragraf. Eh.

Nah, di edisi perdana tahun ke-20 ini, kita bahas tema yang dari zaman “tahun jebot” sampai zaman scroll media sosial tetap aja laris manis: pacaran.

Zina itu nggak datang tiba-tiba

Coba bayangin. Ada orang yang tiba-tiba nyungsep ke jurang. Pertanyaannya: apakah dia terbang dari langit terus mendarat di dasar jurang? Nggak, kan? Pasti ada jalan yang dia lalui. Mulai dari jalan setapak yang kelihatan asyik, pemandangannya bagus, anginnya sepoi-sepoi, lalu selangkah demi selangkah, sampai akhirnya kepeleset.

Perzinaan juga begitu. Nggak ada remaja yang bangun tidur terus bilang, “Hari ini aku mau berzina”. Biasanya semua dimulai dari yang kelihatan sepele: Kenalan. “Eh, kamu anak kelas sebelah, ya?” Lalu jadi pergaulan tanpa batas. Chat tiap hari, nongkrong bareng, curhat-curhatan, boncengan, nonton berdua. Mulai ada rasa, “Kok kita cocok banget, ya?” Akhirnya pacaran. Resmi atau nggak resmi, sama aja isinya. Berikutnya: kebablasan. Dari pegangan tangan, pelukan, sampai… ya kamu tahu lah.

Allah Ta’ala sudah ngasih rambu yang tegas bin gamblang, “Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.” (QS al-Isra’ [17]: 32)

Perhatikan, Allah Ta’ala nggak mengisyaratkan larangan “jangan berzina”, tapi “jangan mendekati zina”. Artinya, yang dilarang bukan cuma puncaknya, tapi juga jalan menuju ke sana. Pacaran itu ibarat parkir persis di depan gerbang tempat terlarang. Kamu bilang, “Tenang, aku cuma parkir kok, nggak masuk”. Tapi lama-lama mesinnya nyala sendiri. Hehehe…

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengingatkan bahwa, “mata bisa berzina dengan pandangan, lisan berzina dengan ucapan, tangan berzina dengan sentuhan, kaki berzina dengan langkah, dan hati berharap serta berangan-angan, lalu kemaluan yang membenarkan atau mendustakannya.” (dalam hadits riwayat Muslim). Lihat? Prosesnya bertahap. Pacaran itu kumpulan ‘pemanasan’ yang bikin gerbang zina makin terbuka lebar.

Pacaran sehat dan temenan doang?

Nah, ini dia jurus andalan hawa nafsu yang membakar remaja. Katanya “pacaran sehat”, “pacaran islami”, “pacaran nggak ngapa-ngapain”. Pertanyaannya: sehat menurut siapa? Kalo menurut hawa nafsu, ya pasti sehat-sehat aja, lha wong nafsu itu sukanya yang enak-enak, meski itu melanggar syariat.

Faktanya, kasusnya udah bejibun. Ada yang sampai berzina. Ada yang hamil, malu, lalu menggugurkan kandungannya. Ada yang melahirkan lalu membuang bayinya di tempat sampah atau sungai. Ada yang tega membunuh bayinya sendiri. Bahkan ada yang dibunuh pacarnya sendiri, padahal tadinya dibilang “sayang banget”. Ngeri, kan? Orang yang katanya cinta kok malah jadi pembunuh? Itu cinta apa jebakan setan?

Dan yang bikin hati nyesek, yang paling banyak menanggung kerugian adalah remaja putri: yang hamil, dia; yang melahirkan, dia; yang menanggung risiko aborsi, dia; yang dipandang miring oleh masyarakat, dia; yang putus sekolah, sering kali dia juga. Sementara si cowok? Banyak yang cuci tangan, “Itu bukan anakku!” lalu menghilang kayak sinyal di lift. Miris en menyedihkan banget.

Jadi buat para cewek, dengar baik-baik: cowok yang beneran sayang nggak akan ngajak kamu ke jalan yang bikin kamu hancur. Kalo dia memang serius, ajak dia ketemu ayahmu untuk serius minta izin menikahimu, bukan ketemu kamu di tempat sepi.

Selain itu, ada juga hubungan nggak bener, yakni: temenan doang. Nah, ini yang sering dianggap aman. Ada hubungan yang nggak diberi nama “pacaran”, tapi isinya mirip. Istilahnya macam-macam: TTM, HTS, “deket aja sih”, atau “kami cuma sahabatan”. Pokoknya saling suka, saling cocok, saling perhatian, saling nyaman, tapi… nggak mau diikat dengan pernikahan.

Mau jadi suami-istri, ogah. Tapi pengen dapat “fasilitas” suami-istri: perhatian, kemesraan, curhat tengah malam, sering ketemuan, buka ‘segel’ seenaknya, ucapan sayang dan semacamnya. Itu ibarat mau makan di restoran tapi nggak mau bayar. Dapat enaknya, kabur dari tanggung jawabnya.

Padahal nih, pergaulan bebas antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram itu bahaya karena nggak ada pagar pengamannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang laki-laki berkhalwat (berduaan) dengan seorang perempuan melainkan yang ketiganya adalah setan.” (HR Ahmad)

Duh, ada pihak ketiga yang ikut nimbrung, dan dia nggak pernah ngajak kebaikan. Jadi, pertemanan lawan jenis yang melewati batas, penuh baper, penuh chat pribadi, penuh candaan mesra, itu bukan pertemanan biasa lagi. Itu pembuka ikatan pacaran dengan kemasan yang lebih halus.

Perlu “ikut campur”

Sobat gaulislam, sebenarnya nggak kurang-kurang para ulama, mubaligh, ustaz, dan aktivis dakwah yang menyuarakan gaul sehat tanpa pacaran. Kajiannya ada, bukunya bejibun, kontennya juga banyak. Tapi harus jujur diakui, pamor mereka sering kalah dengan konten yang mengglorifikasi kemaksiatan. Film, lagu, sinetron, dan para influencer sering menampilkan pacaran seolah-olah itu fase wajib remaja. Kalo nggak pacaran, dibilang nggak laku, kudet, atau kuper.

Dan yang paling sering, orang yang berdakwah dibilang, “Ih, ngurusin hidup orang aja!” Hmm, mau dijawab gimana, ya? Faktanya, memang begitulah kerja dakwah. Dakwah itu mengajak kepada kebaikan dan mencegah keburukan, dan itu artinya “ikut campur” urusan orang lain. Kalo nggak mau ikut campur, ya nggak ada yang namanya amar makruf nahi mungkar.

Gini deh contoh situasinya: ada orang mau jatuh ke lubang, terus kamu teriak, “Awas, di depan ada lubang!” Terus dia bilang, “Ih, ngapain ikut campur?” Apakah kamu diam aja? Nggak, kan? Nah, itulah dakwah.

Allah Ta’ala berfirman, “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS Ali Imran [3]: 110)

Jadi, bukan cuma ustaz yang berdakwah. Kamu juga! Mulai dari ngingetin temen sebangku, bikin status yang positif, sampai ngasih contoh gaul sehat tanpa pacaran. Percaya deh, insya Allah ada jejak kebaikan buat kita semua. Itulah kenapa gaulislam tetap konsisten selama hampir 20 tahun, mengampanyekan antipacaran, antigaul bebas, dan antizina, bukan karena kami sok suci, tapi karena kami sayang sama kamu.

Oya, para orang tua juga perlu “ikut campur”. So, kalo-kalo ada yang ikut baca (atau si anak diam-diam nyodorin buletin ini ke ayah-ibunya, siapa tahu). Jadi, bisa peduli juga soal ini. Bapak-Ibu, anak itu amanah. Ini bukan ngajarin, lho. Tapi kita semua saling mengingatkan. Allah Ta’ala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS at-Tahrim [66]: 6)

Jadi tugas orang tua bukan cuma memberi makan, bayar sekolah, dan membelikan gawai. Tapi lebih utama adalah menjaga agar anak selamat dunia-akhirat. Itu sebabnya, orang tua perlu punya cara pandang yang tepat.

Pertama, jangan biarkan anak keluar rumah tanpa menutup aurat. Kewajiban menutup aurat dibiasakan sejak dini, dengan keteladanan, bukan cuma perintah. Kedua, jangan biarkan anak bergaul bebas dengan lawan jenis. Bukan berarti dikurung, tapi dikenalkan batasan-batasannya. Ketiga, jangan biarkan sering pulang larut malam tanpa alasan jelas. Tanya, cek, dan tetapkan aturan yang tegas tapi masuk akal. Keempat, jangan biarkan anak punya pacar. Kalo ada tanda-tandanya, jangan dianggap lucu. Jangan malah diledekin, “Cieee, udah gede, ya!” Itu sama aja dengan menyiram bensin ke api.

Tapi ingat, menegur itu ada seninya. Tegur dengan cinta. Jangan teriak-teriak di depan teman-temannya, jangan langsung menghakimi, apalagi main fisik. Ajak ngobrol dari hati ke hati. Dengarkan alasannya, lalu arahkan dengan dalil dan teladan. Dan yang paling penting, jadikan Islam sebagai gaya hidup keluarga. Kalo di rumah, ayah-ibu rajin salat berjamaah, ngaji, dan saling hormat, anak akan melihat bahwa Islam itu indah, bukan cuma daftar larangan.

Kalo anak merasa rumah adalah tempat paling nyaman untuk curhat, dia nggak akan nyari “tempat curhat” di pelukan orang yang salah.

Terus, solusinya apa dong?

Sobat gaulislam, biar nggak cuma jadi tulisan “jangan ini, jangan itu”, nih solusinya. Ada yang bersifat teknis (individu dan keluarga), ada yang sistemik (negara dan masyarakat).

Solusi teknis, buat kamu sendiri. Pertama,  perkuat akidah. Kenali bahwa hidup ini untuk ibadah, bukan buat cari pacar. Kalo tujuan hidupmu jelas, kamu nggak gampang diombang-ambingkan perasaan.

Jaga pandangan dan batasi interaksi. Interaksi laki-laki dan perempuan dalam Islam dibolehkan untuk urusan syar’i, misalnya belajar, muamalah, atau kerja, tanpa khalwat dan tanpa ikhtilat (campur baur) yang melanggar aturan. Jadi bukan nggak boleh ngobrol sama sekali, tapi ada adab dan keperluannya.

Kedua, cari lingkungan yang baik. Gabung ke pengajian, komunitas dakwah, atau rohis. Teman yang baik itu seperti penjual minyak wangi: kalo nggak dikasih minyaknya, minimal kecipratan wanginya (redaksi lengkap dalam hadits riwayat Bukhari-Muslim).

Ketiga, sibukkan diri dengan hal bermanfaat. Belajar, asah skill, olahraga, baca buku, ikut kajian. Remaja yang waktunya padat dengan kebaikan nggak akan sempat baper berlebihan.

Keempat, kalo memang sudah siap, menikahlah. Islam punya solusi sah untuk perasaan suka, namanya pernikahan. Kalo belum siap, perbanyak puasa dan sibukkan diri dengan kebaikan, sebagaimana arahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disampaikan para ustaz dan mubaligh dalam berbagai ceramahnya.

Oya, tentu perlu juga solusi sistemik. Nggak adil rasanya kalo semua beban dibebankan ke remaja saja. Sebab, bagaimana mungkin remaja bisa menjaga diri kalo di sekelilingnya penuh rangsangan? Tontonan yang mengumbar aurat dan pacaran dianggap normal, game dan media sosial penuh konten sensual, dan iklan menjual kemesraan sebagai gaya hidup. Sementara pendidikan sering hanya fokus nilai akademik, bukan pembentukan kepribadian Islam.

Itu sebabnya, perlu ada perubahan sistemik. Pertama, sistem pendidikan berbasis akidah Islam yang membentuk syakhsiyah (kepribadian) Islam, bukan cuma pintar tapi juga takwa. Kedua, sistem media dan informasi yang menutup konten pornografi dan pornoaksi, serta mendorong konten yang edukatif dan membangun. Ketiga, sistem sosial dan pergaulan yang mengatur interaksi laki-laki dan perempuan sesuai syariat. Keempat, sistem sanksi yang tegas dan memberi efek jera, sehingga pelaku zina nggak dianggap remeh. Kelima, sistem ekonomi yang menyejahterakan, sehingga pemuda mampu menikah tanpa dihadang biaya selangit dan sulitnya lapangan kerja.

Semua itu hanya bisa berjalan optimal ketika Islam diterapkan secara kafah dalam kehidupan, bukan sekadar jadi ibadah individu. Jadi dakwah kita bukan cuma mengajak orang jadi baik secara pribadi, tapi juga memperjuangkan sistem kehidupan yang menjaga kebaikan itu.

Sobat gaulislam, jadi remaja yang menjaga diri itu bukan berarti kuper. Justru itu level tertinggi dari keren. Berani bilang “nggak” di tengah arus yang bilang “ayo” itu butuh nyali. Berani menahan diri itu butuh kekuatan. Dan berani menjaga kehormatan diri itu tanda kamu sayang sama dirimu sendiri.

Ingat ya, zina itu dimulai dari kenalan yang dibiarkan tanpa batas, lalu berkembang jadi pacaran, lalu menuju kemaksiatan. Kalo gerbang pertamanya sudah kamu kunci rapat, insya Allah kamu aman sampai tujuan. Tetap semangat belajar Islam dan istiqamah dalam kebenaran dan dakwah Islam. [O. Solihin | Join WhatsApp Channel]

Gabung di WhatsApp Channel Remaja gaulislam Online untuk artikel terbaru!

Gabung Sekarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *