12/10/2026
GI-990

gaulislam edisi 990/tahun ke-20 (1 Jumadil Awal 1448 H/ 12 Oktober 2026)

Zaman sekarang, scrolling linimasa media sosial tuh bener-bener kayak naik roller coaster tanpa sabuk pengaman. Begitu buka TikTok, Reels, atau dengerin potongan podcast influencer berbobot semu, mata dan telinga kita auto disuguhi narasi-narasi yang kedengarannya keren, open-minded, dan solutif. Tapi giliran dibedah pakai akal sehat dan timbangan syariat, waduh, isinya ternyata logika bengkok alias sesat pikir yang diglorifikasi!

Bro en Sis pembaca setia gaulislam, fenomena ini lagi masif banget melanda anak-anak Gen Z sampai Gen Alpha. Banyak konten kreator berpenampilan estetik dengan tata kata manis melempar retorika yang seolah-olah membela kebaikan moral universal, padahal sejatinya lagi menggembosi kewajiban agama. Mereka menyamarkan hawa nafsu dan keengganan tunduk pada aturan Allah Ta’ala dengan dalih kemanusiaan dan kebaikan hati. Kalo racun pemikiran ini dibiarin menumpuk di FYP dan merayap ke kepala kita, bahaya banget! Masa depan generasi muda Islam bisa kehilangan pegangan hidup dan malah bangga melanggar aturan Rabb-nya.

Yuk, kita bedah tuntas kerancuan logika ini dan luruskan cara pandang kita biar nggak gampang oleng disetir opini medsos! Cekidot!

Jebakan “false dilemma”

Cukup sering kita dengar omongan influencer di video singkat: “Percuma muslimah berjilbab tapi kelakuannya minus, mulutnya julid, suka ghibah. Mendingan nggak pake jilbab tapi hatinya tulus, jujur, dan suka menolong!”

Mendengar argumen kayak gitu, mungkin ada remaja yang langsung manggut-manggut sambil mikir, “Iya juga ya, yang penting kan hatinya bersih.” Gubrak! Ini yang dinamakan jebakan false dilemma atau logika sesat dikotomi palsu. Seolah-olah seorang muslimah cuma punya dua opsi: berjilbab tapi jahat, atau nggak berjilbab tapi baik hati. Pertanyaannya: kenapa opsinya nggak dibikin yang bener, yaitu berjilbab dan berakhlak mulia?

Kalo kita pake logika yang sama dalam urusan dunia, kerancuannya bakal kelihatan telanjang. Coba kamu ngomong ke guru sekolah: “Percuma ngerjain PR matematika kalo pas ujian dapet nilai jelek, mending nggak ngerjain PR sama sekali tapi orangnya sopan.” atau ngomong ke polisi: “Percuma pake helm kalo sering nerobos lampu merah, mending nggak pake helm tapi murah senyum.” Dijamin kamu langsung disuruh push-up 2 jam nonstop atau kena tilang di tempat berkali-kali! (eh, sadis juga sanksinya).

Gini deh, jilbab itu perintah Allah Ta’ala yang berdiri sendiri (kewajiban menutup aurat sesuai dalam al-Quran surah al-Ahzab ayat 59 dan surah an-Nur ayat 31), sedangkan menjaga lisan serta berakhlak mulia adalah kewajiban lain. Kalo ada muslimah berjilbab tapi perilakunya masih sering blunder, yang bermasalah itu perilakunya, bukan mengenakan jilbabnya. Jangan sampai karena alergi sama oknum yang berperilaku buruk, eh malah menghapus syariat Allah Ta’ala. Menutup aurat itu harga mati ketaatan, sementara memperbaiki akhlak adalah proses belajar seumur hidup.

Standar ganda yang menipu

Logika bengkok berikutnya yang nggak kalah viral berbunyi: “Percuma shalat lima waktu kalo ujung-ujungnya korupsi atau nipu orang. Mending jarang shalat atau nggak pernah shalat sekalian, tapi kerjaannya bener, nggak ngerugiin orang, dan suka sedekah.”

Waduh, ini narasi pembanding yang beneran ngawur total! Shalat adalah rukun Islam kedua, tiang agama, dan garis pembatas tegas antara iman dan kufur. Kalo seseorang shalat tapi ternyata masih korupsi, mencuri uang kas kelas, atau suka nipu pas jualan online, itu tandanya kualitas shalatnya belum sampai pada esensinya yang mencegah perbuatan keji dan mungkar (tanha ‘anil fahsya’i wal munkar). Solusinya adalah memperbaiki shalatnya dan bertobat dari korupsinya, bukan malah merekomendasikan orang buat ninggalin shalat! Itu sih cara berpikir yang ngawur dan sakit logika.

Ibaratnya ada orang yang rajin mandi dua kali sehari, tapi tiap sore badannya bau busuk karena suka main di comberan. Apakah solusinya berhenti mandi? Nggak dong! Solusinya ya tetap mandi bersih-bersih dan setop nyemplung ke selokan. Mengadu shalat dengan kejujuran adalah pembodohan intelektual. Shalat adalah hak Allah Ta’ala yang wajib ditunaikan, sementara korupsi adalah kezaliman terhadap sesama manusia yang wajib ditinggalkan. Dua-duanya dosa bila diabaikan: ninggalin shalat itu dosa besar, berbuat korupsi juga dosa. Mana ada pilihan “mending dosa yang ini daripada dosa yang itu”? Keduanya harus dibabat habis! Beneran!

Menuduh Allah Ta’ala nggak adil

Puncak dari logika bengkok yang sering bikin remaja yang tipis iman dan faqir ilmu bimbang adalah narasi liberal bernada humanis skeptis: “Kenapa sih orang kafir yang hidupnya super dermawan, nemuin obat kanker, nemuin listrik, dan nggak pernah jahat, kok malah masuk neraka? Sementara orang Islam yang bajingan dan banyak dosanya ujung-ujungnya bisa masuk surga? Tuhan nggak adil banget!”

Astaghfirullah, ini tuduhan yang berakar dari kebodohan memahami makna keadilan hakiki. Adil itu bukan membagi rata sama rata tanpa aturan, melainkan meletakkan sesuatu tepat pada porsinya (wad’u syai’in fi mahallihi).

Umpamanya begini, ada siswa SMA yang nggak pernah terdaftar resmi di sekolah kamu, nggak pernah bayar SPP, nggak punya kartu pelajar, dan secara terang-terangan menolak mengakui kepala sekolahnya. Tapi anak ini tiap pagi rajin menyapu halaman sekolah, ramah sama satpam, dan sering bagi-bagi gorengan gratis ke murid-murid. Pas hari kelulusan, anak ini protes karena nggak dikasih ijazah resmi dari dinas pendidikan. Apakah pihak sekolah dibilang nggak adil? Tentu nggak! Dia nggak memenuhi syarat fundamental penerimaan ijazah, yaitu terdaftar sebagai siswa resmi.

Dalam kehidupan dunia, Allah Ta’ala menciptakan kita bukan tanpa tujuan. Syarat mutlak diterimanya amal kebaikan di akhirat adalah tiket keimanan alias tauhid kepada Sang Maha Pencipta. Kalo seseorang menolak mengakui Allah Ta’ala, menyekutukan-Nya, atau mengingkari Rasul-Nya, dia telah melakukan kezaliman terbesar di alam semesta (innasy-syirka lazhulmun ‘azhim). Bagaimana mungkin dia menuntut balasan surga dari Allah Ta’ala yang selama hidupnya dia dustakan dan dia tolak keberadaan atau syariat-Nya?

Allah Ta’ala Maha Adil. Kebaikan orang-orang kafir di dunia nggak disia-siakan; Allah membalas tuntas kebaikan mereka berupa pujian, kekayaan, ketenaran, kesehatan, dan kemudahan selama di dunia. Namun di akhirat, mereka nggak punya simpanan apa pun karena nggak membawa tiket keimanan. Catet!

Sebaliknya, orang Islam yang banyak maksiat nggak otomatis melenggang santai ke surga begitu meninggal. Kalo Allah Ta’ala menghendaki, dia bakal merasakan pedihnya siksa neraka terlebih dahulu untuk membersihkan kotoran dosa-dosanya sesuai timbangan keadilan Ilahi. Siksa neraka sedetik saja sudah lebih dari cukup untuk membuat seseorang lupa seluruh kenikmatan dunia, jadi jangan bayangkan proses itu gampang! Jika pada akhirnya dia dimasukkan ke surga, itu semata-mata karena rahmat Allah Ta’ala dan percikan cahaya iman yang masih ada di dalam dadanya. Itulah keadilan yang sempurna.

Hawa nafsu demi kebebasan

Bro en Sis rahimakumullah, di balik semua pembenaran dan retorika manis para influencer tersebut, muaranya cuma satu: hawa nafsu yang ogah terikat syariat. Manusia modern yang dicekoki racun sekulerisme-liberalisme pengennya hidup bebas tanpa aturan mengikat. Kalo ada aturan agama yang bentrok sama selera pribadinya, syariatnya yang diutak-atik, dipelintir, dan dicari-cari celahnya lewat pemikiran cocoklogi.

Allah Ta’ala sudah memperingatkan tabiat manusia yang satu ini dalam firman-Nya, “Sudahkah engkau (Nabi Muhammad) melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Apakah engkau akan menjadi pelindungnya?” (QS al-Furqan [25]: 43)

Ketika akal menolak tunduk pada wahyu, manusia bakal merasa dirinya lebih bijak, lebih pengasih, dan lebih adil daripada Allah yang menciptakan alam semesta beserta hukum-hukumnya. Ini bentuk kesombongan intelektual yang nyata. Nah, tugas kita sebagai generasi muda bukan ikut-ikutan terseret arus, tapi bangkit merestrukturisasi cara berpikir kita!

Harus ada solusi

Sobat gaulislam, meluruskan pemikiran remaja nggak cukup cuma dengan saling sindir di kolom komentar medsos. Kita butuh aksi nyata yang menyentuh ranah teknis di level individu dan ranah sistemik di level tatanan masyarakat. Apa saja tahapannya?

Pertama, secara praktis dan individual, anak muda zaman now butuh langkah-langkah terarah biar nggak gampang kemakan hoaks pemikiran. Itu artinya, kudu punya filter akidah yang kokoh. Jangan telan mentah-mentah omongan siapa pun cuma karena tampilan videonya sinematik, followers-nya jutaan, atau pembawaannya karismatik. Timbang setiap pernyataan dengan parameter syariat. Kalo ada narasi yang mempertentangkan hukum Allah Ta’ala atau mempromosikan relativisme moral, langsung pasang alarm tanda bahaya. Jangan percaya.

Berikutnya, kudu mau ngaji Islam dengan jelas dan terstruktur. Jangan cuma belajar agama dari potongan video pendek durasi 30 detik. Luangkan waktu ikut kajian intensif yang membahas akidah, ushul fiqih, dan tsaqafah Islam secara komprehensif. Belajarlah dari guru atau pembina yang memahami Islam secara ideologis dan mendalam, bukan sekadar motivator panggung, apalagi yang mood-mood-an.

Selain itu, belajar literasi logika dan berpikir kritis. Kuasai dasar-dasar ilmu mantiq (logika berpikir) agar kamu jago mendeteksi berbagai kesesatan logika (logical fallacies), seperti false dilemma, straw man, sampai ad hominem. Logika yang lurus bakal menuntun akal untuk tunduk pada kebenaran wahyu, bukan mendikte wahyu.

Terus nih, audit algoritma media sosial. Caranya? Unfollow akun-akun influencer perusak pemikiran yang gemar mengaburkan batas halal-haram. Perbanyak berinteraksi dengan akun-akun dakwah yang mencerdaskan, menyajikan konten berbobot, dan menguatkan pemahaman Islam kaffah.

Kedua, solusi dari sisi sistemik. Ya, kudu ada peran negara dan tatanan Islam ideologis. Kerusakan cara berpikir remaja saat ini sejatinya merupakan produk dari sistem sekuler kapitalistik yang memisahkan agama dari kehidupan publik (fashlud-din ‘anil-hayah). Selama sistem ini bercokol, media dibebaskan menyebarkan paham liberalisme, dan pendidikan diarahkan sekadar mencetak pelajar tanpa penguatan akidah. Itu sebabnya, kita butuh solusi ideologis yang sistemik.

Dari sisi kurikulum, kudu di-setting pendidikan berbasis akidah Islam. Sistem pendidikan negara wajib dibangun di atas fondasi akidah Islam. Mata pelajaran sains, humaniora, dan agama harus terintegrasi agar melahirkan generasi yang berkepribadian Islam (syakhshiyyah islamiyyah)—yang cara berpikir (aqliyyah) dan pola sikapnya (nafsiyyah) selaras dengan syariat. Generasi dengan profil ini nggak akan gampang goyah oleh logika murahan macam begitu.

Jangan lupa, perlu ada kebijakan media dan regulasi informasi publik. Artinya, negara memiliki kewajiban menjaga pemikiran rakyatnya dari infiltrasi ideologi rusak. Media massa dan platform digital nggak boleh dibiarkan bebas memproduksi konten penyesatan akidah, penistaan hukum syariat, maupun glorifikasi maksiat atas nama kebebasan berekspresi. Regulasi hukum harus tegas menyaring konten yang merusak moral publik.

Selain itu, kudu diperjuangkan penerapan syariat Islam secara menyeluruh (kaffah). Ini penting banget. Lingkungan masyarakat yang bertakwa hanya bisa tercipta jika sistem pergaulan sosial, sistem ekonomi, dan sistem hukum Islam ditegakkan secara utuh. Ketika negara menjalankan sanksi syariat bagi para koruptor, mewajibkan busana syar’i di ranah publik, dan membudayakan amar ma’ruf nahi munkar, benturan semu seperti “jilbab vs akhlak” atau “shalat vs korupsi” nggak akan punya ruang untuk tumbuh subur. Beneran.

Generasi cerdas penjaga syariat

Bro en Sis pembaca setia gaulislam, jangan pernah mau dibodohi oleh retorika manis yang ujung-ujungnya mengajak kamu meremehkan syariat Allah Ta’ala. Kebenaran hakiki itu standar mutlaknya berasal dari wahyu Ilahi, bukan dari standar buatan manusia yang selalu berubah sesuai kepentingan zaman dan bisikan hawa nafsu.

Kalo kamu melihat muslimah berbusana syar’i tapi masih punya cela akhlak, jadikan itu pengingat untuk terus berbenah, bukan alasan buat menanggalkan jilbab. Kalo kamu melihat orang rajin shalat tapi masih berbuat curang, bantu dia memperbaiki kualitas ibadahnya, bukan malah mencampakkan shalatmu. Dan jangan pernah meragukan keadilan Allah Ta’ala, karena Dia adalah Ahkamul Hakimin—Hakim yang Paling Adil di seluruh alam semesta.

Saatnya anak muda Muslim tampil beda! Jadilah Gen Z dan Gen Alpha yang nggak cuma melek teknologi dan kreatif bikin karya, tapi juga kokoh akidahnya, tajam cara berpikirnya, dan bangga memperjuangkan syariat Islam di mana pun kamu berada. Tetap istiqamah di jalan kebenaran. Allahu Akbar! [O. Solihin | Join WhatsApp Channel]

Gabung di WhatsApp Channel Remaja gaulislam Online untuk artikel terbaru!

Gabung Sekarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *