26/10/2026
gaulislam992

gaulislam edisi 992/tahun ke-20 (15 Jumadil Awal 1448 H/ 26 Oktober 2026)

Bro en Sis rahimakumullah, coba deh buka ponsel kamu sekarang, terus scroll beranda medsos lima menit aja. Nemu apa? Ada yang pamer saldo hasil “gacor” main slot, lengkap dengan caption, “Receh jadi juta, auto healing!” Ada yang unggah foto mesra bareng pacar, pelukan sana-sini, ditambah tulisan, “Bucin itu sah-sah aja.” Ada yang bikin story pesta minuman keras sambil angkat gelas, dikasih emoji api biar makin “estetik”. Bahkan ada yang beneran check-in dengan bangga, menceritakan pengalaman zinanya seolah itu prestasi yang layak masuk portofolio. Miris banget.

Kok bisa? Dulu orang yang berbuat dosa biasanya sembunyi-sembunyi. Kalo ketahuan, mukanya merah, jantungnya dag-dig-dug, maunya ngilang ke dasar bumi. Sekarang? Justru dipamerin biar rame. Dosa jadi konten, aib jadi dagangan, rasa bersalah diganti rasa bangga. Inilah yang kita sebut flexing maksiat. Bahaya banget, Bro en Sis!

Dari Salim bin Abdullah, dia berkata, Aku mendengar Abu Hurairah radhiyallahu’ anhu bercerita bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Setiap umatku akan mendapat ampunan, kecuali mujahirin (orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa). Dan yang termasuk terang-terangan berbuat dosa adalah seseorang berbuat (dosa) pada malam hari, kemudian pada pagi hari dia menceritakannya, padahal Allah telah menutupi perbuatannya tersebut, yang mana dia berkata, ‘Hai Fulan, tadi malam aku telah berbuat begini dan begitu.’ Sebenarnya pada malam hari Rabb-nya telah menutupi perbuatannya itu, tetapi pada pagi harinya dia menyingkap perbuatannya sendiri yang telah ditutupi oleh Allah tersebut.” (HR Bukhari dan Muslim)

Bayangin, Bro en Sis. Allah Ta’ala udah baik hati menutupi aibnya, eh dianya malah buka sendiri lewat unggahan yang bisa dilihat ribuan orang. Menginspirasi orang lain untuk berbuat yang sama? Bisa jadi. Artinya bikin orang yang lemah iman jadi pengen berbuat dosa juga. Bahaya! Yuk, kita bedah kenapa tren ini bisa meledak, dan gimana sikap serta solusinya!

Mengapa bisa bangga dengan keburukan?

Langsung aja, ya. Pertama, krisis akidah dan hilangnya rasa malu (haya’). Pemahaman agama yang dangkal bikin remaja nggak lagi merasa diawasi Allah Ta’ala. Akhirat dianggap dongeng, hisab dianggap ancaman kosong. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya di antara perkataan kenabian terdahulu yang masih dikenal manusia adalah: jika kamu tidak malu, berbuatlah sesukamu.” (HR Bukhari)

Nah, kalo rasa malu udah lenyap, rem dalam diri blong total. Orang yang imannya kuat akan gemetar saat dosanya diketahui orang. Orang yang imannya keropos malah senyum-senyum sambil minta likes.

Kedua, serbuan gaya hidup liberalisme dan hedonisme. Dari kecil banyak individu lintas generasi dicekoki slogan “hidup cuma sekali, nikmatin aja”, “my body my choice”, “asal nggak ngerugiin orang lain”. Pola pikir serbaboleh ini mengagungkan kebebasan berekspresi tanpa batas moral dan agama. Standar benar-salah bukan lagi halal-haram, tapi “yang penting aku happy”. Akibatnya, maksiat nggak lagi dipandang sebagai dosa, melainkan sebagai gaya hidup dan hak pribadi. Beneran, ini racun yang dibungkus manis. Waspadalah!

Ketiga, perangkap validasi sosial digital. Gen Z dan Gen Alpha tumbuh bersama angka: followers, views, likes. Rasanya hidup nggak valid kalo nggak ada yang nge-notice. Di lingkaran pertemanan, yang berani pamer kelakuan nakal dianggap pemberani, keren, dan punya circle seru. Mereka yang menolak malah dicap kuper, sok suci, atau nggak asyik. Jadilah banyak remaja takut kehilangan pengakuan, lalu rela menukar harga diri dan agamanya demi kepingan perhatian dari layar. Padahal algoritma nggak peduli kamu bahagia atau hancur, yang penting kamu terus nonton.

Keempat, normalisasi keburukan di media. Coba perhatikan konten figur publik: selebgram yang gonta-ganti pasangan, selebritis yang kemesraannya dipamerkan terang-terangan, influencer yang endorse judi berkedok “game”, sampai tayangan yang menjadikan pacaran sebagai hal wajib. Kalo yang melakukan adalah idola, remaja akan berpikir, “Ah, wajar lah, semua orang juga gitu.” Maksiat yang terus ditayangkan lama-lama kehilangan rasa jijiknya. Dari yang tadinya bikin kaget, jadi biasa, lalu jadi tren. Waduh!

Bagaimana seharusnya?

Terus, Bro en Sis pembaca setia gaulislam, kita mesti gimana? Pertama, jangan kasih panggung. Jangan like, jangan ngasih komen pujian, jangan share ulang konten maksiat, termasuk dengan alasan “cuma bercanda” atau “biar viral terus diviralin dikritik”. Setiap tap jari kita bisa jadi bensin buat api yang bakal membakar kita sendiri. Allah Ta’ala mengingatkan bahwa orang-orang yang suka tersebarnya (berita) perbuatan keji di tengah kaum beriman akan mendapat azab yang pedih di dunia dan akhirat (lihat surah an-Nur ayat 19).

Kedua, jaga jarak dari pergaulan toksik. Kamu nggak harus memusuhi orangnya, tapi jangan nyemplung ke lingkungan yang bikin maksiat terasa normal. Pilih sahabat yang kalo kamu salah, dia nasihatin; kalo kamu khilaf, dia ingetin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengibaratkan teman baik seperti penjual minyak wangi, sedangkan teman buruk seperti pandai besi yang bisa bikin bajumu terbakar atau kamu terkena bau asapnya (dalam HR Bukhari dan Muslim).

Ketiga, risi dan benci di dalam hati. Ini batas minimal iman. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia ubah dengan tangannya; kalau tidak mampu, dengan lisannya; jika tidak mampu, dengan hatinya, dan itu selemah-lemahnya iman.” (HR Muslim)

Jadi kalo kita lihat konten maksiat tapi hati biasa aja, adem ayem, bahkan ikut ketawa—hati-hati, itu alarm bahaya buat keimanan kita. Beneran!

Islam punya solusi

Sobat gaulislam, sikap pribadi saja belum cukup. Fenomena sebesar ini butuh solusi menyeluruh, dari level individu hingga negara. Buletin ini udah sering ngasih tahu, dan nggak cuma ngomel, tapi kasih jalan keluar.

Pertama, solusi teknis (individu, keluarga, dan komunitas remaja). Bisa melalui edukasi tentang bahayanya dosa jariah digital. Ini penting banget. Jejak digital itu awet. Satu unggahan maksiat bisa dilihat, disimpan, di-screenshot, dan ditiru orang lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “… barang siapa mengajak kepada kesesatan, ia mendapat dosa seperti dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” (HR Muslim)

Bayangin, kamu udah wafat, tapi postinganmu masih ditonton dan ditiru orang. Dosamu terus ngalir, kayak langganan yang nggak bisa di-cancel. Serem, kan? Karena itu, hapus unggahan maksiat, bertobat dengan sungguh-sungguh, dan tanamkan kesadaran ini di kalangan remaja.

Selain itu, perlu pembinaan intensif akidah Islam. Ikut kajian Islam yang terstruktur dan rutin, bukan sekadar nonton potongan video lalu merasa cukup. Tujuannya membentuk kepribadian Islam (syakhshiyyah islamiyyah), yakni pola pikir dan pola sikap yang berstandar halal-haram. Kalo akidahnya kokoh, rasa malu dan takut kepada Allah Ta’ala otomatis hidup lagi.

Nah, kamu juga siapkan diri untuk aktivitas amar ma’ruf nahi munkar. Berani menegur teman, tapi pakai cara yang cerdas dan santun. Chat pribadi, jangan di kolom komentar yang dibaca satu dunia. Mulai dengan empati: “Bro, aku peduli sama kamu, tapi postingan itu bikin aku khawatir.” Tanpa menghakimi, tanpa mempermalukan. Tujuannya merangkul, bukan memukul. Tentu saja, selalu mengingatkan dan mengajak kepada kebaikan.

Berikutnya, yang nggak kalah penting adalah penguatan peran keluarga. Ortu perlu hadir sebagai pendengar aktif, bukan sekadar hakim yang marah-marah. Anak yang merasa didengar di rumah nggak akan mati-matian mencari validasi di dunia maya. Ortu juga perlu peduli pada pergaulan dan konsumsi media anak, dengan pendekatan dialog, bukan sekadar intimidasi.

Oya, nggak cuma solusi teknis, Islam juga punya senjata andalan, yakni solusi sistemik. Nah, ini yang sering dilupakan. Sebaik apa pun individu, kalo sistemnya terus menyuburkan maksiat, ibarat mademin api tapi bikin kebakaran baru. Capek, tapi nggak kelar-kelar.

Islam mengajarkan tentang kontrol sosial masyarakat. Ya, masyarakat yang peduli, berani menegur kemungkaran, dan nggak apatis terhadap pergaulan remaja di sekitarnya. Bukan masyarakat yang “urusan lo, urusan lo”, tapi yang saling menjaga seperti satu tubuh. Kalo ada yang pamer maksiat, ada yang segera menasihati, bukan malah menertawakan.

Hebatnya, Islam juga siap melakukan pemberantasan sumber kemaksiatan. Negara harus menutup total akses judi daring, distribusi minuman keras, peredaran pornografi, dan lokalisasi prostitusi. Kenapa harus negara? Karena judi online itu industri raksasa yang menyasar siapa saja (termasuk remaja) lewat iklan dan influencer. Nggak mungkin dilawan dengan nasihat personal doang. Perlu kekuatan negara yang tegas dan serius, bukan sekadar razia musiman.

Lalu, apa lagi yang Islam akan selesaikan? Bikin regulasi ruang digital. Penerapan sensor ketat terhadap konten yang mempromosikan gaya hidup permisif dan maksiat. Ruang digital harus dijaga sebagai ruang yang membangun peradaban, bukan arena pamer dosa. Platform dan figur publik yang menjajakan maksiat mesti ditindak, bukan dibiarkan karena “itu kan trending”.

Bagaimana dengan sistem pendidikan dan sanksi syariat? Ini mah keren. Tentu, kurikulum berbasis akidah Islam akan melahirkan generasi yang tahu tujuan hidupnya dan menjadikan halal-haram sebagai standar. Di sisi lain, penegakan hukum Islam (uqubat) yang tegas berfungsi sebagai zawajir (pencegah), yaitu membuat orang jera dan takut berbuat maksiat, sekaligus jawabir (penebus), yaitu menjadi penghapus dosa (yang dilakukannya tersebut) bagi pelakunya di akhirat. Dengan sistem ini, maksiat bukan sesuatu yang bisa dipamerkan, tapi sesuatu yang dijauhi karena ada sanksi dan ada kontrol dari negara, masyarakat, dan ketakwaan individu. Catet!

Jadi, bagaimana? Bro en Sis pembaca setia gaulislam, kamu itu pemuda muslim. Fitrahmu adalah mencintai kebenaran dan malu pada keburukan. Sejarah mencatat, pemuda muslim adalah penggerak perubahan: Mush’ab bin Umair radhiallahu ‘anhu meninggalkan kemewahan demi dakwah, Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhu memimpin pasukan di usia muda, Muhammad al-Fatih rahimahullah menaklukkan Konstantinopel di usia 20-an tahun. Mereka viral di sisi Allah Ta’ala dan sejarah, bukan karena pamer dosa.

Keberanian sejati bukan terletak pada seberapa berani kamu melanggar larangan Allah Ta’ala. Itu mah bukan berani, tapi nekat, bahkan bodoh. Berani yang sebenarnya adalah kuat memegang syariat saat semua orang mengajak hanyut, tetap lurus ketika dikatai kuper, dan tetap teguh di tengah gempuran zaman yang serbabebas. Orang beriman itu beneran keren, bukan karena sorotan kamera, tapi karena Allah Ta’ala ridha.

Jadi, sebelum jempol kamu menekan tombol “kirim” untuk posting ke medsos, tanya dulu: “Allah Ta’ala pasti tahu, aku bangga atau malu?” Kalo jawabannya malu, hapus, bertobat, dan kembali taat syariat. Allah Maha Pengampun, pintu taubat masih terbuka lebar. Yuk, jadi generasi yang bangga dengan ketaatan, bukan dengan maksiat. Semangat, Bro en Sis! [O. Solihin | Join WhatsApp Channel]

Gabung di WhatsApp Channel Remaja gaulislam Online untuk artikel terbaru!

Gabung Sekarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *