Taghyir Ekstra Parlemen
Sesungguhnya manusia tidak hidup untuk satu hari saja, tapi ia akan memikirkan masa yang akan datang, baik untuk jangka waktu yang dekat (pendek) atau yang jauh (panjang). Ini adalah fakta kehidupan manusia. Oleh karena itu apabila diamati tidak ada manusia yang rela dengan fakta kehidupan yang sedang ia jalani secara mutlak, bagaimanapun faktanya. Ketika fakta yang ia hadapi itu bagus, manusia punya keinginan untuk menjadikannya lebih bagus lagi. Dan ketika fakta yang ia hadapi adalah buruk, ia ingin membuatnya jadi baik. Karena itulah kita mendapati banyak manusia yang rindu pada masa lalu, dan ada pula yang menangisi masa lalu sehingga ia selalu menatap ke masa depan dan akan merindukannya.
Berfikir untuk berubah adalah suatu hal yang urgen dalan kehidupan, karena “berubah (taghyir)� itu adalah “dinamika (gerak)� dan “bergerak� artinya “hidup�. Sebaliknya “jumud� adalah “kematian�. Sehingga tidak ada penampakan kehidupan selain “tumbuh� dan “berkembang (bergerak)�. Oleh karena itu bagi setiap umat dan individu harus memiliki pemikiran untuk berubah dan melakukan perubahan. Apabila tidak, maka manusia (umat) akan mengalami kemusnahan dan kehancuran. Berserah diri terhadap fakta merupakan penyakit paling berbahaya dan musibah yang paling dahsyat.
Realitas Partai-Partai Politik Islam : “Mencari Jalan menuju Perubahan�
Di negeri ini banyak bermunculan partai-partai politik Islam yang ingin melakukan perubahan terhadap kondisi masyarakat yang sangat terpuruk di segala bidang (politik, ekonomi, sosial, hukum, dan lain-lain). Apalagi dengan akan diselenggarakannya Pemilu tahun depan mereka tidak mau ketinggalan untuk segera mendaftarkan diri ke Komisi Pemilihan Umum agar menjadi partai yang legal yang terdaftar sebagai bagian dari anggota parlemen RI.
Dengan berbenderakan Islam seperti Partai Persatuan Pembangunan, Partai Bulan Bintang, Partai Keadilan Sejahtera dan yang lainnya sudah seharusnya mereka berjuang untuk mewujudkan masyarakat yang Islami. Dari sisi semangat melakukan perubahan mereka tidak diragukan lagi, hanya saja tidak setiap partai mampu menemukan jalan yang tepat menuju perubahan yang diinginkan. Padahal untuk melakukan perubahan setidaknya ada tiga kunci utama yang jika hal ini diperhatikan maka partai-partai politik tersebut pasti akan menuai keberhasilan, yaitu penguasaan yang benar terhadap kondisi masyarakat yang ingin dirubah, adanya gambaran yang jelas dan gamblang tentang kehidupan yang ingin dituju serta yang paling penting adalah mereka memiliki kejelasan metode untuk meraih perubahan tersebut.
Selain itu biasanya ketika akan berjuang melakukan perubahan mereka pasti dihadapkan pada satu pertanyaan besar yaitu darimana kita akan mulai? Dari merubah individu ataukah masyarakat. Berdasarkan hal ini partai-partai politik tersebut dapat diklasifikasikan menjadi:
- Partai-partai yang melakukan perubahan (perbaikan) individu.
Usaha perubahan ini dilakukan oleh partai dengan memperbaiki setiap individu muslim dengan memfokuskan perhatian yang sangat besar terhadap fondasi masyarakat. Hal ini dilatarbelakangi oleh suatu pemahaman bahwa bila telah didapatkan kesempatan yang cukup untuk memperbaiki fondasi tersebut, maka kaum muslimin akan kembali mendapatkan kemuliaan seperti dahulu. - Partai-partai yang melakukan perubahan masyarakat.
Kelompok ini beranggapan bahwa usaha yang paling benar adalah membentuk sebuah negara yang memikul beban da’wah dan melindungi kaum muslimin dari berbagai penyakit yang mereka derita, serta mengubah masyarakat menjadi masyarakat Islam yang dengan perubahan itu pasti akan mempengaruhi individu-individunya, sekaligus memperbaiki keadaan mereka.
Dengan mengkaji unsur-unsur pembentuk masyarakat, seharusnya partai-partai tersebut bisa melihat bahwa faktanya masyarakat adalah perpaduan dari unsur manusia, pemikiran, perasaan dan aturan-aturan yang dibuatnya. Baik-buruknya masyarakat bergantung pada baik-buruknya pemikiran, perasaan dan aturan-aturannya. Sebab manusia adalah manusia; mereka senantiasa membawa pemikiran-pemikiran tertentu. Jika pemikiran-pemikiran manusia baik, akan terbentuk masyarakat yang baik pula. Sebaliknya, jika pemikiran-pemikiran manusia buruk, akan terbentuk pula masyarakat yang buruk. Ini jelas berbeda dengan unsur-unsur atau pilar-pilar pembentuk individu (aqidah, ibadah, akhlak dan muamalat).
Baik-buruknya individu sangat bergantung pada baik-buruk unsur-unsur pembentuknya. Jadi, penggambaran bahwa masyarakat tersusun dari individu-individu adalah penggambaran yang keliru. Oleh karena itu, upaya memperbaiki individu yang ditujukan untuk memperbaiki masyarakat adalah upaya yang keliru. Bahkan, hasil yang dikehendaki dari upaya seperti ini secara pasti tidak akan mungkin dapat diwujudkan. Sebab, perbaikan individu dan perbaikan masyarakat memiliki metode atau cara yang berbeda, yang masing-masing tidak akan pernah memberikan hasil yang sama. Permasalahannya bukan apakah metode perbaikan ini singkat ataupun lama, tetapi karena masing-masing memiliki metode perbaikan yang berbeda, yang tidak akan mengantarkan pada hasil yang sama.
Walaupun begitu, tidak berarti bahwa perbaikan individu dapat diremehkan dan dianggap tidak begitu penting. Sebab untuk memperbaiki masyarakat, diperlukan upaya besar yang dititik bertakan pada perubahan sistem di tengah-tengah masyarakat, perubahan pemikiran dan kebudayaan yang telah mengakar di dalamnya, serta perasaan individu-individu masyarakat. Jadi, sekali lagi perbaikan masyarakat tidak ditempuh melalui perbaikan individu. Sebab cara memperbaiki individu sangat berbeda dengan cara mengubah masyarakat, sedangkan aktivitas perbaikan individu hanya diberlakukan bagi anggota-anggota gerakan maupun partai. Sedangkan partai atau organisasi sendiri seluruhnya harus berjalan dalam koridor perbaikan masyarakat!
Upaya Parpol-Parpol Islam Dalam Koridor Perbaikan Masyarakat, Sebuah Analisa
Kita tidak menutup mata bahwa ada partai-partai politik Islam yang juga sedang berjuang melakukan perbaikan masyarakat. Patut disayangkan kalau pada faktanya usaha yang telah dilakukan baru sampai pada taraf “islah�. Yaitu perubahan yang hanya menyentuh sisi-sisi tertentu saja (parsial) dari sekian banyak agenda permasalahan umat. Selain itu juga bersifat tambal sulam, maksudnya tidak sampai menemukan akar permasalahan yang sebenarnya, sehingga solusi-solusi yang diberikan malah memunculkan agenda baru yang justru semakin menyesaki layar permasalahan utama kaum muslimin.
Mengapa demikian? Jawabannya adalah karena masyarakat kita termasuk parpol-parpol yang ada masih didominasi oleh cara pandang “realistis (pragmatis)�. Yaitu mereka menjadikan fakta sebagai “sumber berfikir (mashdar at-tafkir)�, bukan sebagai “obyek berfikir (mawdu’ at-tafkir)�. Sikap “realistis� – lebih tepatnya adalah realis, ed.- yang dimaksud disini adalah bagaimana bersikap dan berperilaku sesuai dengan fakta. Sikap “realistis� semacam ini tidak mengandung upaya untuk mengubah realitas/fakta, tetapi malah menyesuaikan perilaku dengan realitas/fakta yang ada. Ironis memang, karena ungkapan bahwa kita harus “rela dengan fakta yang ada� telah dijadikan kaidah dasar di dalam benak masyarakat.
Mereka (masyarakat) telah menganggap bahwa sikap semacam itu adalah sebuah kemajuan. Misalnya mereka menyatakan bahwa politik Amerika sendiri dibangun di atas dasar “pragmatisme�. Oleh karena itu, mereka mendefinisikan politik dengan “seni tentang kemungkinan�, yakni bagaimana berkompromi dengan fakta (bersikap pragmatis) untuk meraih sejumlah kemungkinan. Padahal, hakekat yang benar tentang politik adalah sebuah ikhtiar untuk memilih kondisi yang paling baik. Dengan kata lain, politik adalah bagaimana mengambil kemungkinan-kemungkinan yang terbaik atau ideal untuk mewujudkan tujuan-tujuan yang hendak kita capai; tanpa memandang lagi ringan, mudah, ataupun beratnya. Artinya politik adalah bagaimana kita bergumul dengan realitas/fakta untuk kemudian diubah sesuai dengan yang kita kehendaki, bukan malah rela dengan realitas/fakta yang ada seperti: hancurnya Khilafah, jauhnya upaya menegakkan kembali Daulah Islamiyah; rela dengan keterpecahbelahan; termasuk pula pemikiran untuk mewarnai kebijakan dengan masuk ke parlemen sebagai jalan untuk mendapatkan kekuatan/kemampuan melakukan islah (perbaikan) diberbagai bidang dalam rangka memperbaiki kondisi masyarakat.
Pertanyaannya sekarang adalah apakah islah lewat parlemen adalah metode jitu untuk melakukan perbaikan masyarakat? Tidak. Sama sekali tidak. Karena metode perbaikan lewat parlemen (taghyir intra parlemen) memiliki sejumlah kelemahan, yaitu:
- Banyaknya partai-partai Islam di dalam parlemen membuat suara umat terpecah sehingga akan ada partai Islam yang mendapat suara cukup besar. Sebagai konsekuensinya wakil partai di parlemen juga sedikit. Dengan jumlah yang sedikit dan masing-masing partai memiliki kepentingan sendiri-sendiri (tidak ada kesamaan visi dan misi), maka suara dari partai-partai Islam menjadi tidak berarti dalam parlemen yang bersistem demokrasi. Selain itu ada juga diantara mereka yang memilih berkoalisi dengan partai nasionalis untuk memperbanyak suara. Hal ini tentunya semakin membuat suara umat hilang.
- Pemecahan masalah yang dilakukan dalam parlemen adalah berdasarkan sistem demokrasi. Dengan beragamnya ideology partai, maka setiap pemecahan masalah harus mengakomodaasi berbagai kepentingan yang ada, termasuk kepentingan kelompok-kelompok anti syariat Islam. Sehingga pemecahan yang diambil melalui parlemen akhirnya bersifat kompromistik, tidak murni solusi/pemecahan Islam.
- Karena prinsip sekulerisme yang dianut oleh negara, maka mereka terjebak pada perjuangan parsial yang bahkan seringkali hanya mengedepankan “esensi� .
- Ditinjau dari hukum syara’ jelas bergabung dengan parlemen dalam sistem kufur adalah haram.
Banyak fakta yang menunjukkan kepada kita bahwa perjuangan melalui parlemen tanpa mengubah sistem terlebih dahulu seperti perjuangan FIS di Aljazair atau Partai Refah di Turki adalah hal yang mustahil!
Dari sisi bentuk aktivitas yang dilakukan, kita melihat saat ini banyak juga partai-partai yang melakukan aktivitas-aktivitas sosial untuk melakukan perubahan ditengah-tengah masyarakat. Ada yang melakukan aktivitas sosial secara langsung dan ada pula yang melakukan aktivitas sosial parsial sekaligus mereka memperoleh penghasilan-penghasilan dan keuntungan-keuntungan dari bantuan-bantuan yang diberikan kepada organisasi-organisasi sosial tersebut. Kadang-kadang mereka dijadikan media untuk memperoleh penghasilan dan pendapatan. Dengan cara-cara seperti ini, sebagian besar partai dan gerakan mencoba mempengaruhi masyarakat. Bahkan aktivitas sosial tersebut dijadikan bagian dari aktivitas partai dan gerakan, seperti: membuka klinik-klinik, sekolah-sekolah, atau rumah sakit, dan lain-lain.
Jika dikaji secara mendalam maka keberadaan partai atau gerakan tersebut sangatlah berbahaya bagi usaha perbaikan masyarakat. Mengapa demikian? Karena sesungguhnya yang menjadi agenda pembahasan kita adalah “kebangkitan umat�. Sebagaimana kita ketahui, umat saat ini dalam kondisi keterbelakangan, perpecahan, dan kemunduran berpikir. Kondisi semacam ini mengharuskan generasi kaum muslim, khususnya yang memiliki kesadaran dan keikhlasan, untuk mengkaji dan memahami unsur-unsur kebangkitan serta cara membangkitkan umat hingga mencapai posisi yang paling tinggi.
Sesungguhnya, umat tetap mengakui sebagian pemikiran (afkar) maupun pemahaman (mafahim) Islam dan menerapkan sebagian hukum-hukum Islam hingga sekarang ini. Mereka masih mengakui kesucian aqidah mereka. Mereka masih meyakini bahwa umat Islam pernah menjadi umat yang maju selama beberapa kurun lamanya. Mereka masih mengimani kewajiban untuk kembali kepada Allah sekaligus menyampaikan kedaulatannya kepada umat yang lain. Mereka juga masih mengimani bahwa jihad itu adalah wajib. Semua itu menunjukkan bahwa perasaan umat adalah perasaan Islam dan semangat mereka adalah semangat Islam.
Oleh karena itu, kesadaran-kesadaran untuk bangkit/berubah selalu ada di dalam jiwa umat. Ketika ada sejumlah nash dan amal yang mengobarkan ruh jamaah pada diri umat, di dalam diri mereka muncul suatu kecenderungan alami untuk membentuk suatu partai politik. Inilah realitas umat Islam sesungguhnya. Intinya, umat Islam masih memiliki sebagian pemikiran, pemahaman, dan perasaan Islam serta ruh jamaah yang telah terpatri pada diri mereka.
Realitas rusak yang telah menimpa umat Islam saat ini telah menggerakkan perasaan mereka untuk berubah/bangkit sekaligus untuk melakukan perubahan atas kondisi rusak ini. Seandainya umat dibiarkan tetap dalam kondisi seperti ini, sungguh kesadaran dan perasaan mereka untuk bangkit akan berubah menjadi sebuah pemikiran. Ini merupakan perkara yang alami. Tentunya, pemikiran tersebut akan melahirkan sebuah aksi yang bisa membangkitkan umat dan akan menunjukkan cara meraih sebuah kebangkitan.
Akan tetapi, sayang, keberadaan oragnisasi/partai sosial semacam ini telah mengubah segalanya hingga tidak terjadi kebangkitan/perubahan sebagaimana yang dikehendaki. Sebab, mereka telah meredam perasaan umat untuk bangkit dan menghisap seluruh potensi mereka sehingga tersedot untuk sekedar melakukan aktivitas sosial yang dipandang sebagai kewajiban umat. Atau ringkasnya mereka membuat umat kehilangan gambaran tentang perubahan yang ingin dituju (mewujudkan Islam Kaffah). Jadi seperti apakah seharusnya konsep perubahan masyarakat yang benar? Berikut penjelasannya.
Pages: 1 2

























on August 10th, 2007 at 1:18 am
Fakta menunjukkan kalo kemenangan FIS di Aljazair bukanlah kemenangan yang bersifat ideologis. Sekedar kemenangan massa islam saja. Untuk itu umat Islam jangan pernah tertipu dengan kemenangan massa Islam di parlemen. Persoalannya, berjuang via parlemen akan berhadapan dengan banyak kompromi, karena ideologi yang diusung parlemen jelas-jelas sekularisme. Demokrasi dalam parlemen hanya bisa berdampingan dengan kapitalisme atau sosialisme. Sama-sama berasas kufur. Untuk itu memperjuangkan Islam memang tidak mungkin via parlemen. Menanam Islam hanya bisa dipastikan melalui jalan umat. Yaitu membuat agar umat mengemban Islam sebagai way of lifenya.
on November 14th, 2007 at 8:52 am
Dakwah Intra Parlemen??? Apakah mungkin mengganti suatu asas melalui cara yang telah tidak akan mampu mewadahi kekuatan yang akan membunuh asas itu sendiri??? [yang tentu saja memiliki resistensi demi mengukuhkan asas itu sendiri!!!]. Wallahu a’lam.
on February 11th, 2008 at 5:12 pm
dakwah parlemen, hakikatnya memperjuangkan al haq, yang telah terjual di dalam parlemen. Masuk parlemen bukan berarti kompromi terhadap sistem yang ada, tapi bagaimana kita melakukan perubahan sebuah sistem dimulai dari perangkat yang menghasilkan sistem tersebut.
wallahu’alam
on March 14th, 2008 at 4:04 pm
maaf, saya mau bertanya apakah jika kita didalam parlemen ikut atau tidak ikut terlibat dalam membuat/memutuskan hukum/aturan tandingan dari aturan yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT?
(Lihat QS. Al-Maidah, 44,45,47)
Terapkan Syariah…
Tegakkan Khilafah…
Indonesia Jadi Berkah…
on April 11th, 2008 at 8:45 am
maaf, sy sedikit berkomentar. berjuang via parlemen itu bahaya. banyak syubahtnya. jika dalam lembaga legislasi atau yg disebut DPR tentu sj tugasnya adalah membuat aturan/kebijakan..didalam badan legislasi banyak pandangan (ideologi) dan visi-misi dari farksi parpol-parpol yang ada.jika ada aturan yang bertentangan dengan prinsip islam dikeluarkan dengan keputusan bersama2 oleh anggota dewan baik parpol atas nama islam maupun yg sekuler. itu menjadi tanggung jawab mereka bersma di hadapan ALLAH SWT.. padahal kalian sudah tau aturan/kebijakan tsbt, sangat merugikan ummat. banyak contoh kasus yg kita dapatkan seperti, baik di pemerintahan pusat maupu di daerah.kalian sama sj mencapur adukan antara haq dengan yang bathil.
on April 22nd, 2008 at 6:54 am
ijtihadiyah dalam politik memang tidak akan pernah sama dan memang tidak ada keharusan untuk menyamakan.
dakwah intra dan ekstra parlemen mempunyai kelebihan dan kekurangan masing
saya tidak klaim-klaim sepihak, apa tidak indah kalau kita saling melengkapi ?
on April 23rd, 2008 at 7:45 pm
saya setuju dakwah dlm parlemen sekaligus melakukan perubahan melalui parlemen. dan memang seharusnya tugas para dai yg ada di dlm parlemen melakukan perubahan2 thd sistem yg rusak saat ini. tentu dg perjuangan yg jelas dan tegas. tidak sekedar cari muka. tidak ada tawar2an dg sistem kufur yg kokoh saat ini. karenanya para dai di parlemen harus sgr mengganti UUD n UU yg menyengsarakan rakyat dg UU Islami. dan ini pasti akan merubah bentuk negara menjadi negara khilafah. allaaahu akbar!!!
on April 25th, 2008 at 3:41 pm
Saya justru sangat TIDAK SETUJU dengan DAKWAH dalam PARLEMEN dalam pengertian menjadi anggota parlemen dalm sistem kufur seperti saat ini.
Sebaliknya, perjuangan untuk menghancurkan Kapitalisme dan menegakkan KHILAFAH Islamiyah hanya melalui jalur luar pagar dari sistem yang ada saat ini.
on April 26th, 2008 at 12:53 pm
Dakwah intra Parlemen??? Uslub aja sich, tapi penuh dengan resiko. Banyak tokoh Islam yang dulu getol dengan Syari’ah (menyuarakan Syari’ah), tapi setelah masuk Parlemen lupa dengan Syari’ah. Terlena….
on June 4th, 2008 at 8:40 pm
Assalamu’alaikum………..
Saya hanya bisa katakan…………….
Seandainya kursi parlemen indonesia (DPR) diisi oleh 100% (SERATUS PERSEN) dari partai Islam yang ada saat ini, saya berani taruhan deh………….. mereka gak akan bisa apa-apa. Walaupun menang dalam pemilu di semua daerah sekalipun, mereka tidak akan bisa melarang PLAYBOY, tidak akan bisa mewujudkan pendidikan yang gratis apalagi mau mengatur negara ini menjadi mandiri, lepas dari penjajahan yang ada sekarang ini. MUSTAHIL…
Ibarat ingin cuci baju, tapi pake air kencing…………
(kata temen gitu, tapi ini bener lho!)
Wassalam
on June 4th, 2008 at 9:23 pm
Saya malah berharap, seluruh kursi di DPR atau bahkan presidennya dari kalangan orang2 zalim, supaya umat Islam mau bangkit bersama. Tidak seperti sekarang, FPI melakukan kegiatan menentang Aliansi kalangan liberal yg tergabungd alam AKKBB, massa dari oknum2 NU yang seperti “kambing congek” mau saja diadudomba. Mana penentangan GP Anshor terhadap Ahmadiyah? Mana aksi IPNU terhadap maraknya prostitusi pelajar? Mana kiprah Garda Bangsa terhadap pelacuran dan tempat maksiat di depan mata mereka? Hanya FPI yang berani menghancurkan tempat maksiat..
Seharusnya ini menjadi tugas semua kalangan kaum muslimin. Saya justru mengasihani cara pandang Gus Dur dan anak buahnya yang tak mau tahu gurunya salah atau benar… mengapa GD selalu membela yang salah? Tidak pernah sekalipun GD terdengar membela yang benar. :p
Ayo bangkit umat Islam, atau haruskan menunggu penguasa yang zalim terlebih dahulu untuk membangkitkan kemuliaan kalian??
on July 12th, 2008 at 7:44 pm
waduh cerita lama tetep diulang-ulang teru nggak cape’ tah
aneh menentang pemerintah tapi berharap dan meminta perlindungan pemerintah.
secara fakta organisasi yg selama ini ekstra parlemen tetep meminta keputusan pemerintah. sebagai contoh: kasus ahmadiyah kenapa menjadikan SKB 3 menteri dijadikan dukungan terhadap pembatasan ahmadiyah bukankah ini tetap memerlukan campur tangan pemerintah&dewan tuh.
begitu juga keberadaan organisasi ekstra parlemen kan juga tetap minta persetujuan pemerintah dan terdaftar di DEPDAGRI klo kagak gitu entar ditutup deh organisasinya.
Negara ini dibangun oleh perjuangan para syahid pendahulu kita masa’ mau dikasihkan orang-orang zalim apa ngak mengkhianati cita-cita perjuangan dan jihad…!
on July 16th, 2008 at 10:34 pm
waduh tuduhan lama yang terus diulang-ulang nggak cape’ tuh One?
aneh, sistem kufur masih mau dimasuki lewat parlemennya. Aneh pula organisasi yang meminta pemerintah kufur utk menyelesaikan kasus ahmadiyah.
Padahal, sudah jelas tak akan bisa diselesaikan kecuali oleh Khilafah Islamiyah.
Islam ini bersih, jangan campurkan dalam arena sistem kufur seperti yang dilakukan banyak partai Islam yg ada di parlemen demokrasi. Bisanya cuma mengamini kebijakan pemerintah, meski kebijakan itu menyengsarakan rakyat..
Keberadaan mereka dalam sistem kufur yang zalim hanya menambah daftar para pengkhianat umat.. karena tak bisa menjadi pelindung umat. Mereka sendiri membaur dengan pemerintahan rusak dan bejat itu..
Perubahan itu harus ekstra parlemen! Harus revolusi!
on August 7th, 2008 at 3:06 pm
artikel HT abieezzzzz, maklum deh…
Yah kita fastabiqul khairat aja…
ttd
simpatisan PKS
on August 10th, 2008 at 7:49 pm
selain islam adalah fitrah islam juga nasihat…!
Lillahi, LiRasulihi, Likitabihi wa li’aimmatil mu’minin wa ammatahum, HR. Muslim.
Sungguhpun Rasulullah melakukan perubahan dan metode dakwah secara bertahap, sebelum fase madinah Rasulullah melakukan dakwah dan juga beribadah di Baitul Mekkah yang masih dipenuhi dengan Paganisme.
Demikian pula Yusuf AS. sebagai salah seorang menteri di kabinetnya Fir’aun yang tentu aja jauh lebih kufur dari pemerintahan kita diperintahkan Allah untuk menggunakan jabatannya dalam melakukan dakwah.
mau ekstra parlemen atau intra parlemen ya oke-oke ajalah. wong para nabipun mencontohkannya.
Salam Khilafah smoga istiqomah…!