Taghyir Ekstra Parlemen
Sesungguhnya manusia tidak hidup untuk satu hari saja, tapi ia akan memikirkan masa yang akan datang, baik untuk jangka waktu yang dekat (pendek) atau yang jauh (panjang). Ini adalah fakta kehidupan manusia. Oleh karena itu apabila diamati tidak ada manusia yang rela dengan fakta kehidupan yang sedang ia jalani secara mutlak, bagaimanapun faktanya. Ketika fakta yang ia hadapi itu bagus, manusia punya keinginan untuk menjadikannya lebih bagus lagi. Dan ketika fakta yang ia hadapi adalah buruk, ia ingin membuatnya jadi baik. Karena itulah kita mendapati banyak manusia yang rindu pada masa lalu, dan ada pula yang menangisi masa lalu sehingga ia selalu menatap ke masa depan dan akan merindukannya.
Berfikir untuk berubah adalah suatu hal yang urgen dalan kehidupan, karena “berubah (taghyir)� itu adalah “dinamika (gerak)� dan “bergerak� artinya “hidup�. Sebaliknya “jumud� adalah “kematian�. Sehingga tidak ada penampakan kehidupan selain “tumbuh� dan “berkembang (bergerak)�. Oleh karena itu bagi setiap umat dan individu harus memiliki pemikiran untuk berubah dan melakukan perubahan. Apabila tidak, maka manusia (umat) akan mengalami kemusnahan dan kehancuran. Berserah diri terhadap fakta merupakan penyakit paling berbahaya dan musibah yang paling dahsyat.
Realitas Partai-Partai Politik Islam : “Mencari Jalan menuju Perubahan�
Di negeri ini banyak bermunculan partai-partai politik Islam yang ingin melakukan perubahan terhadap kondisi masyarakat yang sangat terpuruk di segala bidang (politik, ekonomi, sosial, hukum, dan lain-lain). Apalagi dengan akan diselenggarakannya Pemilu tahun depan mereka tidak mau ketinggalan untuk segera mendaftarkan diri ke Komisi Pemilihan Umum agar menjadi partai yang legal yang terdaftar sebagai bagian dari anggota parlemen RI.
Dengan berbenderakan Islam seperti Partai Persatuan Pembangunan, Partai Bulan Bintang, Partai Keadilan Sejahtera dan yang lainnya sudah seharusnya mereka berjuang untuk mewujudkan masyarakat yang Islami. Dari sisi semangat melakukan perubahan mereka tidak diragukan lagi, hanya saja tidak setiap partai mampu menemukan jalan yang tepat menuju perubahan yang diinginkan. Padahal untuk melakukan perubahan setidaknya ada tiga kunci utama yang jika hal ini diperhatikan maka partai-partai politik tersebut pasti akan menuai keberhasilan, yaitu penguasaan yang benar terhadap kondisi masyarakat yang ingin dirubah, adanya gambaran yang jelas dan gamblang tentang kehidupan yang ingin dituju serta yang paling penting adalah mereka memiliki kejelasan metode untuk meraih perubahan tersebut.
Selain itu biasanya ketika akan berjuang melakukan perubahan mereka pasti dihadapkan pada satu pertanyaan besar yaitu darimana kita akan mulai? Dari merubah individu ataukah masyarakat. Berdasarkan hal ini partai-partai politik tersebut dapat diklasifikasikan menjadi:
- Partai-partai yang melakukan perubahan (perbaikan) individu.
Usaha perubahan ini dilakukan oleh partai dengan memperbaiki setiap individu muslim dengan memfokuskan perhatian yang sangat besar terhadap fondasi masyarakat. Hal ini dilatarbelakangi oleh suatu pemahaman bahwa bila telah didapatkan kesempatan yang cukup untuk memperbaiki fondasi tersebut, maka kaum muslimin akan kembali mendapatkan kemuliaan seperti dahulu. - Partai-partai yang melakukan perubahan masyarakat.
Kelompok ini beranggapan bahwa usaha yang paling benar adalah membentuk sebuah negara yang memikul beban da’wah dan melindungi kaum muslimin dari berbagai penyakit yang mereka derita, serta mengubah masyarakat menjadi masyarakat Islam yang dengan perubahan itu pasti akan mempengaruhi individu-individunya, sekaligus memperbaiki keadaan mereka.
Dengan mengkaji unsur-unsur pembentuk masyarakat, seharusnya partai-partai tersebut bisa melihat bahwa faktanya masyarakat adalah perpaduan dari unsur manusia, pemikiran, perasaan dan aturan-aturan yang dibuatnya. Baik-buruknya masyarakat bergantung pada baik-buruknya pemikiran, perasaan dan aturan-aturannya. Sebab manusia adalah manusia; mereka senantiasa membawa pemikiran-pemikiran tertentu. Jika pemikiran-pemikiran manusia baik, akan terbentuk masyarakat yang baik pula. Sebaliknya, jika pemikiran-pemikiran manusia buruk, akan terbentuk pula masyarakat yang buruk. Ini jelas berbeda dengan unsur-unsur atau pilar-pilar pembentuk individu (aqidah, ibadah, akhlak dan muamalat).
Baik-buruknya individu sangat bergantung pada baik-buruk unsur-unsur pembentuknya. Jadi, penggambaran bahwa masyarakat tersusun dari individu-individu adalah penggambaran yang keliru. Oleh karena itu, upaya memperbaiki individu yang ditujukan untuk memperbaiki masyarakat adalah upaya yang keliru. Bahkan, hasil yang dikehendaki dari upaya seperti ini secara pasti tidak akan mungkin dapat diwujudkan. Sebab, perbaikan individu dan perbaikan masyarakat memiliki metode atau cara yang berbeda, yang masing-masing tidak akan pernah memberikan hasil yang sama. Permasalahannya bukan apakah metode perbaikan ini singkat ataupun lama, tetapi karena masing-masing memiliki metode perbaikan yang berbeda, yang tidak akan mengantarkan pada hasil yang sama.
Walaupun begitu, tidak berarti bahwa perbaikan individu dapat diremehkan dan dianggap tidak begitu penting. Sebab untuk memperbaiki masyarakat, diperlukan upaya besar yang dititik bertakan pada perubahan sistem di tengah-tengah masyarakat, perubahan pemikiran dan kebudayaan yang telah mengakar di dalamnya, serta perasaan individu-individu masyarakat. Jadi, sekali lagi perbaikan masyarakat tidak ditempuh melalui perbaikan individu. Sebab cara memperbaiki individu sangat berbeda dengan cara mengubah masyarakat, sedangkan aktivitas perbaikan individu hanya diberlakukan bagi anggota-anggota gerakan maupun partai. Sedangkan partai atau organisasi sendiri seluruhnya harus berjalan dalam koridor perbaikan masyarakat!
Upaya Parpol-Parpol Islam Dalam Koridor Perbaikan Masyarakat, Sebuah Analisa
Kita tidak menutup mata bahwa ada partai-partai politik Islam yang juga sedang berjuang melakukan perbaikan masyarakat. Patut disayangkan kalau pada faktanya usaha yang telah dilakukan baru sampai pada taraf “islah�. Yaitu perubahan yang hanya menyentuh sisi-sisi tertentu saja (parsial) dari sekian banyak agenda permasalahan umat. Selain itu juga bersifat tambal sulam, maksudnya tidak sampai menemukan akar permasalahan yang sebenarnya, sehingga solusi-solusi yang diberikan malah memunculkan agenda baru yang justru semakin menyesaki layar permasalahan utama kaum muslimin.
Mengapa demikian? Jawabannya adalah karena masyarakat kita termasuk parpol-parpol yang ada masih didominasi oleh cara pandang “realistis (pragmatis)�. Yaitu mereka menjadikan fakta sebagai “sumber berfikir (mashdar at-tafkir)�, bukan sebagai “obyek berfikir (mawdu’ at-tafkir)�. Sikap “realistis� – lebih tepatnya adalah realis, ed.- yang dimaksud disini adalah bagaimana bersikap dan berperilaku sesuai dengan fakta. Sikap “realistis� semacam ini tidak mengandung upaya untuk mengubah realitas/fakta, tetapi malah menyesuaikan perilaku dengan realitas/fakta yang ada. Ironis memang, karena ungkapan bahwa kita harus “rela dengan fakta yang ada� telah dijadikan kaidah dasar di dalam benak masyarakat.
Mereka (masyarakat) telah menganggap bahwa sikap semacam itu adalah sebuah kemajuan. Misalnya mereka menyatakan bahwa politik Amerika sendiri dibangun di atas dasar “pragmatisme�. Oleh karena itu, mereka mendefinisikan politik dengan “seni tentang kemungkinan�, yakni bagaimana berkompromi dengan fakta (bersikap pragmatis) untuk meraih sejumlah kemungkinan. Padahal, hakekat yang benar tentang politik adalah sebuah ikhtiar untuk memilih kondisi yang paling baik. Dengan kata lain, politik adalah bagaimana mengambil kemungkinan-kemungkinan yang terbaik atau ideal untuk mewujudkan tujuan-tujuan yang hendak kita capai; tanpa memandang lagi ringan, mudah, ataupun beratnya. Artinya politik adalah bagaimana kita bergumul dengan realitas/fakta untuk kemudian diubah sesuai dengan yang kita kehendaki, bukan malah rela dengan realitas/fakta yang ada seperti: hancurnya Khilafah, jauhnya upaya menegakkan kembali Daulah Islamiyah; rela dengan keterpecahbelahan; termasuk pula pemikiran untuk mewarnai kebijakan dengan masuk ke parlemen sebagai jalan untuk mendapatkan kekuatan/kemampuan melakukan islah (perbaikan) diberbagai bidang dalam rangka memperbaiki kondisi masyarakat.
Pertanyaannya sekarang adalah apakah islah lewat parlemen adalah metode jitu untuk melakukan perbaikan masyarakat? Tidak. Sama sekali tidak. Karena metode perbaikan lewat parlemen (taghyir intra parlemen) memiliki sejumlah kelemahan, yaitu:
- Banyaknya partai-partai Islam di dalam parlemen membuat suara umat terpecah sehingga akan ada partai Islam yang mendapat suara cukup besar. Sebagai konsekuensinya wakil partai di parlemen juga sedikit. Dengan jumlah yang sedikit dan masing-masing partai memiliki kepentingan sendiri-sendiri (tidak ada kesamaan visi dan misi), maka suara dari partai-partai Islam menjadi tidak berarti dalam parlemen yang bersistem demokrasi. Selain itu ada juga diantara mereka yang memilih berkoalisi dengan partai nasionalis untuk memperbanyak suara. Hal ini tentunya semakin membuat suara umat hilang.
- Pemecahan masalah yang dilakukan dalam parlemen adalah berdasarkan sistem demokrasi. Dengan beragamnya ideology partai, maka setiap pemecahan masalah harus mengakomodaasi berbagai kepentingan yang ada, termasuk kepentingan kelompok-kelompok anti syariat Islam. Sehingga pemecahan yang diambil melalui parlemen akhirnya bersifat kompromistik, tidak murni solusi/pemecahan Islam.
- Karena prinsip sekulerisme yang dianut oleh negara, maka mereka terjebak pada perjuangan parsial yang bahkan seringkali hanya mengedepankan “esensi� .
- Ditinjau dari hukum syara’ jelas bergabung dengan parlemen dalam sistem kufur adalah haram.
Banyak fakta yang menunjukkan kepada kita bahwa perjuangan melalui parlemen tanpa mengubah sistem terlebih dahulu seperti perjuangan FIS di Aljazair atau Partai Refah di Turki adalah hal yang mustahil!
Dari sisi bentuk aktivitas yang dilakukan, kita melihat saat ini banyak juga partai-partai yang melakukan aktivitas-aktivitas sosial untuk melakukan perubahan ditengah-tengah masyarakat. Ada yang melakukan aktivitas sosial secara langsung dan ada pula yang melakukan aktivitas sosial parsial sekaligus mereka memperoleh penghasilan-penghasilan dan keuntungan-keuntungan dari bantuan-bantuan yang diberikan kepada organisasi-organisasi sosial tersebut. Kadang-kadang mereka dijadikan media untuk memperoleh penghasilan dan pendapatan. Dengan cara-cara seperti ini, sebagian besar partai dan gerakan mencoba mempengaruhi masyarakat. Bahkan aktivitas sosial tersebut dijadikan bagian dari aktivitas partai dan gerakan, seperti: membuka klinik-klinik, sekolah-sekolah, atau rumah sakit, dan lain-lain.
Jika dikaji secara mendalam maka keberadaan partai atau gerakan tersebut sangatlah berbahaya bagi usaha perbaikan masyarakat. Mengapa demikian? Karena sesungguhnya yang menjadi agenda pembahasan kita adalah “kebangkitan umat�. Sebagaimana kita ketahui, umat saat ini dalam kondisi keterbelakangan, perpecahan, dan kemunduran berpikir. Kondisi semacam ini mengharuskan generasi kaum muslim, khususnya yang memiliki kesadaran dan keikhlasan, untuk mengkaji dan memahami unsur-unsur kebangkitan serta cara membangkitkan umat hingga mencapai posisi yang paling tinggi.
Sesungguhnya, umat tetap mengakui sebagian pemikiran (afkar) maupun pemahaman (mafahim) Islam dan menerapkan sebagian hukum-hukum Islam hingga sekarang ini. Mereka masih mengakui kesucian aqidah mereka. Mereka masih meyakini bahwa umat Islam pernah menjadi umat yang maju selama beberapa kurun lamanya. Mereka masih mengimani kewajiban untuk kembali kepada Allah sekaligus menyampaikan kedaulatannya kepada umat yang lain. Mereka juga masih mengimani bahwa jihad itu adalah wajib. Semua itu menunjukkan bahwa perasaan umat adalah perasaan Islam dan semangat mereka adalah semangat Islam.
Oleh karena itu, kesadaran-kesadaran untuk bangkit/berubah selalu ada di dalam jiwa umat. Ketika ada sejumlah nash dan amal yang mengobarkan ruh jamaah pada diri umat, di dalam diri mereka muncul suatu kecenderungan alami untuk membentuk suatu partai politik. Inilah realitas umat Islam sesungguhnya. Intinya, umat Islam masih memiliki sebagian pemikiran, pemahaman, dan perasaan Islam serta ruh jamaah yang telah terpatri pada diri mereka.
Realitas rusak yang telah menimpa umat Islam saat ini telah menggerakkan perasaan mereka untuk berubah/bangkit sekaligus untuk melakukan perubahan atas kondisi rusak ini. Seandainya umat dibiarkan tetap dalam kondisi seperti ini, sungguh kesadaran dan perasaan mereka untuk bangkit akan berubah menjadi sebuah pemikiran. Ini merupakan perkara yang alami. Tentunya, pemikiran tersebut akan melahirkan sebuah aksi yang bisa membangkitkan umat dan akan menunjukkan cara meraih sebuah kebangkitan.
Akan tetapi, sayang, keberadaan oragnisasi/partai sosial semacam ini telah mengubah segalanya hingga tidak terjadi kebangkitan/perubahan sebagaimana yang dikehendaki. Sebab, mereka telah meredam perasaan umat untuk bangkit dan menghisap seluruh potensi mereka sehingga tersedot untuk sekedar melakukan aktivitas sosial yang dipandang sebagai kewajiban umat. Atau ringkasnya mereka membuat umat kehilangan gambaran tentang perubahan yang ingin dituju (mewujudkan Islam Kaffah). Jadi seperti apakah seharusnya konsep perubahan masyarakat yang benar? Berikut penjelasannya.
Pages: 1 2
23 Comments

on August 10th, 2007 at 01:18
Fakta menunjukkan kalo kemenangan FIS di Aljazair bukanlah kemenangan yang bersifat ideologis. Sekedar kemenangan massa islam saja. Untuk itu umat Islam jangan pernah tertipu dengan kemenangan massa Islam di parlemen. Persoalannya, berjuang via parlemen akan berhadapan dengan banyak kompromi, karena ideologi yang diusung parlemen jelas-jelas sekularisme. Demokrasi dalam parlemen hanya bisa berdampingan dengan kapitalisme atau sosialisme. Sama-sama berasas kufur. Untuk itu memperjuangkan Islam memang tidak mungkin via parlemen. Menanam Islam hanya bisa dipastikan melalui jalan umat. Yaitu membuat agar umat mengemban Islam sebagai way of lifenya.
on November 14th, 2007 at 08:52
Dakwah Intra Parlemen??? Apakah mungkin mengganti suatu asas melalui cara yang telah tidak akan mampu mewadahi kekuatan yang akan membunuh asas itu sendiri??? [yang tentu saja memiliki resistensi demi mengukuhkan asas itu sendiri!!!]. Wallahu a’lam.
on February 11th, 2008 at 17:12
dakwah parlemen, hakikatnya memperjuangkan al haq, yang telah terjual di dalam parlemen. Masuk parlemen bukan berarti kompromi terhadap sistem yang ada, tapi bagaimana kita melakukan perubahan sebuah sistem dimulai dari perangkat yang menghasilkan sistem tersebut.
wallahu’alam
on March 14th, 2008 at 16:04
maaf, saya mau bertanya apakah jika kita didalam parlemen ikut atau tidak ikut terlibat dalam membuat/memutuskan hukum/aturan tandingan dari aturan yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT?
(Lihat QS. Al-Maidah, 44,45,47)
Terapkan Syariah…
Tegakkan Khilafah…
Indonesia Jadi Berkah…
on April 11th, 2008 at 08:45
maaf, sy sedikit berkomentar. berjuang via parlemen itu bahaya. banyak syubahtnya. jika dalam lembaga legislasi atau yg disebut DPR tentu sj tugasnya adalah membuat aturan/kebijakan..didalam badan legislasi banyak pandangan (ideologi) dan visi-misi dari farksi parpol-parpol yang ada.jika ada aturan yang bertentangan dengan prinsip islam dikeluarkan dengan keputusan bersama2 oleh anggota dewan baik parpol atas nama islam maupun yg sekuler. itu menjadi tanggung jawab mereka bersma di hadapan ALLAH SWT.. padahal kalian sudah tau aturan/kebijakan tsbt, sangat merugikan ummat. banyak contoh kasus yg kita dapatkan seperti, baik di pemerintahan pusat maupu di daerah.kalian sama sj mencapur adukan antara haq dengan yang bathil.
on April 22nd, 2008 at 06:54
ijtihadiyah dalam politik memang tidak akan pernah sama dan memang tidak ada keharusan untuk menyamakan.
dakwah intra dan ekstra parlemen mempunyai kelebihan dan kekurangan masing
saya tidak klaim-klaim sepihak, apa tidak indah kalau kita saling melengkapi ?
on April 23rd, 2008 at 19:45
saya setuju dakwah dlm parlemen sekaligus melakukan perubahan melalui parlemen. dan memang seharusnya tugas para dai yg ada di dlm parlemen melakukan perubahan2 thd sistem yg rusak saat ini. tentu dg perjuangan yg jelas dan tegas. tidak sekedar cari muka. tidak ada tawar2an dg sistem kufur yg kokoh saat ini. karenanya para dai di parlemen harus sgr mengganti UUD n UU yg menyengsarakan rakyat dg UU Islami. dan ini pasti akan merubah bentuk negara menjadi negara khilafah. allaaahu akbar!!!
on April 25th, 2008 at 15:41
Saya justru sangat TIDAK SETUJU dengan DAKWAH dalam PARLEMEN dalam pengertian menjadi anggota parlemen dalm sistem kufur seperti saat ini.
Sebaliknya, perjuangan untuk menghancurkan Kapitalisme dan menegakkan KHILAFAH Islamiyah hanya melalui jalur luar pagar dari sistem yang ada saat ini.
on April 26th, 2008 at 12:53
Dakwah intra Parlemen??? Uslub aja sich, tapi penuh dengan resiko. Banyak tokoh Islam yang dulu getol dengan Syari’ah (menyuarakan Syari’ah), tapi setelah masuk Parlemen lupa dengan Syari’ah. Terlena….
on June 4th, 2008 at 20:40
Assalamu’alaikum………..
Saya hanya bisa katakan…………….
Seandainya kursi parlemen indonesia (DPR) diisi oleh 100% (SERATUS PERSEN) dari partai Islam yang ada saat ini, saya berani taruhan deh………….. mereka gak akan bisa apa-apa. Walaupun menang dalam pemilu di semua daerah sekalipun, mereka tidak akan bisa melarang PLAYBOY, tidak akan bisa mewujudkan pendidikan yang gratis apalagi mau mengatur negara ini menjadi mandiri, lepas dari penjajahan yang ada sekarang ini. MUSTAHIL…
Ibarat ingin cuci baju, tapi pake air kencing…………
(kata temen gitu, tapi ini bener lho!)
Wassalam
on June 4th, 2008 at 21:23
Saya malah berharap, seluruh kursi di DPR atau bahkan presidennya dari kalangan orang2 zalim, supaya umat Islam mau bangkit bersama. Tidak seperti sekarang, FPI melakukan kegiatan menentang Aliansi kalangan liberal yg tergabungd alam AKKBB, massa dari oknum2 NU yang seperti “kambing congek” mau saja diadudomba. Mana penentangan GP Anshor terhadap Ahmadiyah? Mana aksi IPNU terhadap maraknya prostitusi pelajar? Mana kiprah Garda Bangsa terhadap pelacuran dan tempat maksiat di depan mata mereka? Hanya FPI yang berani menghancurkan tempat maksiat..
Seharusnya ini menjadi tugas semua kalangan kaum muslimin. Saya justru mengasihani cara pandang Gus Dur dan anak buahnya yang tak mau tahu gurunya salah atau benar… mengapa GD selalu membela yang salah? Tidak pernah sekalipun GD terdengar membela yang benar. :p
Ayo bangkit umat Islam, atau haruskan menunggu penguasa yang zalim terlebih dahulu untuk membangkitkan kemuliaan kalian??
on July 12th, 2008 at 19:44
waduh cerita lama tetep diulang-ulang teru nggak cape’ tah
aneh menentang pemerintah tapi berharap dan meminta perlindungan pemerintah.
secara fakta organisasi yg selama ini ekstra parlemen tetep meminta keputusan pemerintah. sebagai contoh: kasus ahmadiyah kenapa menjadikan SKB 3 menteri dijadikan dukungan terhadap pembatasan ahmadiyah bukankah ini tetap memerlukan campur tangan pemerintah&dewan tuh.
begitu juga keberadaan organisasi ekstra parlemen kan juga tetap minta persetujuan pemerintah dan terdaftar di DEPDAGRI klo kagak gitu entar ditutup deh organisasinya.
Negara ini dibangun oleh perjuangan para syahid pendahulu kita masa’ mau dikasihkan orang-orang zalim apa ngak mengkhianati cita-cita perjuangan dan jihad…!
on July 16th, 2008 at 22:34
waduh tuduhan lama yang terus diulang-ulang nggak cape’ tuh One?
aneh, sistem kufur masih mau dimasuki lewat parlemennya. Aneh pula organisasi yang meminta pemerintah kufur utk menyelesaikan kasus ahmadiyah.
Padahal, sudah jelas tak akan bisa diselesaikan kecuali oleh Khilafah Islamiyah.
Islam ini bersih, jangan campurkan dalam arena sistem kufur seperti yang dilakukan banyak partai Islam yg ada di parlemen demokrasi. Bisanya cuma mengamini kebijakan pemerintah, meski kebijakan itu menyengsarakan rakyat..
Keberadaan mereka dalam sistem kufur yang zalim hanya menambah daftar para pengkhianat umat.. karena tak bisa menjadi pelindung umat. Mereka sendiri membaur dengan pemerintahan rusak dan bejat itu..
Perubahan itu harus ekstra parlemen! Harus revolusi!
on August 7th, 2008 at 15:06
artikel HT abieezzzzz, maklum deh…
Yah kita fastabiqul khairat aja…
ttd
simpatisan PKS
on August 10th, 2008 at 19:49
selain islam adalah fitrah islam juga nasihat…!
Lillahi, LiRasulihi, Likitabihi wa li’aimmatil mu’minin wa ammatahum, HR. Muslim.
Sungguhpun Rasulullah melakukan perubahan dan metode dakwah secara bertahap, sebelum fase madinah Rasulullah melakukan dakwah dan juga beribadah di Baitul Mekkah yang masih dipenuhi dengan Paganisme.
Demikian pula Yusuf AS. sebagai salah seorang menteri di kabinetnya Fir’aun yang tentu aja jauh lebih kufur dari pemerintahan kita diperintahkan Allah untuk menggunakan jabatannya dalam melakukan dakwah.
mau ekstra parlemen atau intra parlemen ya oke-oke ajalah. wong para nabipun mencontohkannya.
Salam Khilafah smoga istiqomah…!
on August 12th, 2008 at 11:32
Al-Qur?an menggambarkan bahwa Nabi Yusuf pernah bekerjasama dengan pemerintahan kuffar (yaitu Mesir) yang sama sekali tidak menegakkan syariat Allah. Jelas kalau melihat dari cerita yang disampaikan oleh al-Qur?an, Yusuf mencoba memperbaiki keadaan Mesir (lebih detilnya lagi adalah sistem keuangan rakyat Mesir) sehingga sesuai dengan ilmu yang beliau miliki (dan ini tidak mungkin keluar dari syariat Allah). Poinnya disini, bergabung dalam pemerintahan yang tidak benar-benar menegakkan syariat Allah tetap dibolehkan selama itu membawa kebaikan untuk masyarakat dengan menjalankan apa-apa dari syariat Allah yang bisa diterapkan walau dalam skala kecil (misalnya dalam kasus Nabi Yusuf disini adalah ibarat menteri keuangan).
Orang yang menjalankan syariat Allah, sekecil apapun itu, sudah bisa dinyatakan sebagai orang yang menegakkan syariat Islam. Hanya skalanya saja yang berbeda. Dan Nabi Yusuf sudah melakukan yang beliau bisa, begitupun misalnya dengan Nabi Daud, Sulaiman atau Muhammad. Masing-masing disesuaikan dengan situasi dan kondisi serta kemampuan yang mereka miliki.
Salah satu tujuan Islam adalah membawa rahmat untuk semua kalangan, jadi cara boleh berbeda, skala boleh berbeda asalkan tujuan tersebut dapat terlaksana.
Dalam ilmu perang, selain kemampuan diri berupa persenjataan/kekuatan ada pula seni dan strategi.
Ini semua harus bisa dikompilasi menjadi satu kesatuan yang utuh secara berkesinambungan sehingga sasaran yang dituju dapat terlaksana. Tidak ada kata akhir dalam suatu perjuangan.
Demikian dari saya.
?
Salamun ?ala manittaba al Huda
Khud al hikmah walau min lisani al kafir
ARMANSYAH
Penulis Buku : Rekonstruksi Sejarah Isa Al-Masih, Jejak Nabi Palsu dan Ramalan Imam Mahdi
Blog :
http://arsiparmansyah.wordpress.com
http://armansyah.swaramuslim.com
http://dunia-it-armansyah.blogspot.com/
on October 9th, 2008 at 15:41
Salam khilafiah… Kalau semuanya jelek dan kita hrs milih, ambil aja yg jeleknya dikit. Kalo semuanya baik. Ambil aja yg baiknya terbanyak. Fastabiqul khoirot aja. Gak pantas kita membenci/memusuhi yg sedang berbuat kebaikan. Kenapa tdk kita dukung ato kita lengkapi kekurangannya. Indah dan sinergis dlm amal jama’i. Allohu ‘alam
on October 22nd, 2008 at 21:17
assalamu’alaikum warohmatullah wabarokatuh,
itulah salamnya orang islam, ALLAHU AKBAR.
knapa harus ada sang hitam, sang orange, sang hijau, sang biru, sang kuning, sang merah. jika putih menyenangkan, jika putih lebih menyejukkan.
kapan islam bersatu kalo para pejuangnya terus terusan saling menyalahkan, saling bertengkar, dst.
ayo bersatu dong,
kalo dipikir2 klo kita emang kita sudah berkata demokrasi sistem kufur, maka kita harus berlepas diri darinya secara totalitas, jangan setengah setengah ya gak? jangan beriman sebagian dan mendustakan yang sebagian,
kita ini orang islam maka sudah seharusnya kita berjuang secara islam, kita ini orang islam maka haruslah kita berjuang berdasarkan Al-quran dan As-Sunnah, bukan dengan dasar perkataan seseorang tanpa dasar.
kita ini orang islam sudah pantaslah kita menggali informasi berdasarkan Al-Quran dan Sunnah.
kita ini umat nabi Muhammad SAW maka pantaslah kita meniru dakwah Rosulullah SAW,
mari kita capai kejayaan umat islam sekali lagi dan untuk selamanya,
ALLAHU AKBAR,
wallahu a’lam
assalamu’alaykum warohmatllah wabarokatuh.
on December 31st, 2008 at 06:46
assalammualaikum wr. wb.
wahai saudara-saudara muslim yang dirahmati ALLAH SWT.
israel sedang menginjak-injak jalur gaza !!!
ingatlah saudara kita disana,
raungan tangis mereka terdengar ditelinga kita?
lalu,
apakah kita hanya berdiam dan terdiam ???
seandainya kita disini yang mengalaminya?
seandainya kita disini yang merasakannya?
seandainya kita?
berangkatlah wahai pasukan ALLAH SWT
bertemu kita di gaza
bersatu kita dalam satu bendera,
Jihad?
kumpulkan,
sumbangkan,
berikanlah?
harta bendamu untuk mereka?
mereka belum makan,
mereka kedinginan dalam gelap malam,
mereka menjerit merasakan pedihnya luka?
tunggu kami gaza,
kami segera datang?
wassalammualaikum wr. wb.
on January 19th, 2009 at 15:54
Yang diperlukan adalah persatuan umat bukan bikin Partai baru
langkah pertama kuasai parlemen, lalu rubah / amandemen UUD nya bila perlu. sehingga memungkinkan khilafah. ini memerlukan waktu yang lama asal arah tidak pernah berubah (Qur’an dan hadist).
Kompromi jika memang belum memungkinkan untuk menghindari keburukan atau pemaksaan. Yang penting umat islam bersatu.
Umat Islam banyak kalah oleh nasionalis (sedikit banyak kurang kaffah dalam beragama), Jangan karena beda dalam khilafiyah/beda sesaat bikin partai baru
on February 27th, 2009 at 14:02
Assalamu’alaikum Warahmatullahi wabarokatuh
Salut buat anak muda yg semangatnya tetap membara demi TEGAKNYA ISLAM. Bekalilah perjalanan dakwah kita dengan ILMU YANG LUAS DAN MENDALAM. AMAL SHOLIH YANG TAK TERPUTUS. “Sungguh beruntung orang yang mengeluarkan kelebihan hartanya dan menahan kelebihan lisannya”. Berfikirlah sebelum bicara BUKAN bicara baru berfikir kemudian.
Ulama salafus sholih dulu sangat berhati-hati ketika diminta fatwa padahal ilmunya sangat luas dan dalam. Namun sekarang banyak orang yang baru belajar Islam mudah sekali mengeluarkan ‘IJTIHAD’ dan ‘FATWA’ yang menyalahkan pihak-pihak yg tidak sependapat dengan mereka.
[www.pkspiyungan.blogspot.com]
on April 15th, 2009 at 12:41
Assalamu’alaikum wr.wb.
Perjuangan menegakkan islam memang tidak mudah, akan menyerap seluruh sumber daya yg kita miliki. Oleh karenanya harus benar-benar direncanakan dengan baik dan detail. Diperlukan konsep yg komprehensif dan aplicable. Selain itu mau tak mau, suka gak suka kita harus mencontoh apa yg telah dilakukan Rasulullah saw dalam melakukan perubahan sosial. Rasulullah mengutamakan dialog tapi bukan berarti tawar-menawar. Rasulullah saw tetap beribadah di Baitul Mekah tapi tidak ikut menyembah atau mengikuti Paganisme. Perubahan hakiki tidak akan terwujud bila menggunakan cara-cara yg tidak sesuai dg tuntunan Rasulullah saw. Seandainya dakwah untuk perubahan total menuju Islam Kaaffah melalui intra parlemen diperbolehkan atau emang lebih efektif, tentu Rasul akan menerima tawaran yg diberikan oleh kaum Kuffar. Menuntut SKB pembubaran Ahmadiyah adalah hak sekaligus kewajiban umat islam, justru ini merupakan bukti nyata bahwa kita peduli terhadap keberadaan Islam. Bedakan antara masuk parlemen dengan menuntut hak dan melaksanakan kewajiban. Jadi tidak ada kaitannya apakah terlibat atau tidak dalam sistem, atau berhutang budi terhadap sistem yg ada.
Sekian dulu..semoga bermanfaat
Wassalamu’alaikum wr.wb.
on April 25th, 2009 at 21:13
Assalamu’alaykum…
Saatnya umat bersatu, tidak lagi terpecah belah dalam berjuang. Tuntunan kita samas, Rasulullah sebagai nabi terakhir, teladan kita, Sang Revolusioner sejati mencontohkan, ‘tidak mengambil tawaran-tawaran dari sistem kufur’. Rasulullah menolak harta, TAHTA, wanita dari tawaran kafir Quraisy waktu itu. Beliau memilih untuk berjuang (berdakwah) tidak mengambil kekuasaan yang ditawarkan, walaupun kekuasaan tersebut jika dilihat sepintas sepertinya bisa mendukung. Tapi Rasululullah MENOLAK. Jika kita istiqomah mengambil teladan dari Rasulullah SAW, seharusnya kita juga sama. TOLAK SISTEM KUFUR ! REVOLUSI ADALAH METODENYA !
(maksudnya revolusi yang dicontohkan Rasulullulah bukan revolusi fisik, tolong jangan salah sangka ya…)