06/05/2026
social-media-toxic

gaulislam edisi 967/tahun ke-19 (17 Zulqaidah 1447 H/ 4 Mei 2026)

Sobat gaulislam, kemarin kita mungkin sibuk ngebahas betapa liarnya kenakalan remaja—dari yang cuma coba-coba sampai yang bikin geleng-geleng kepala. Tapi, pernah nggak sih kita berhenti sebentar dan nanya: emangnya kenakalan itu muncul dari ruang hampa? Atau jangan-jangan ada yang lebih dulu membuka jalannya?

Jujur aja, kalo kita perhatiin lebih dalam, banyak hal yang selama ini kita anggap kenakalan remaja ternyata bukan berdiri sendiri. Ada lingkungan yang membentuk, ada budaya yang membiarkan, bahkan ada sistem yang diam-diam melegalkan. Itu artinya, kita perlu berani jujur bahwa bukan cuma remaja yang bermasalah—tapi ada kenakalan versi orang dewasa yang justru jadi akar persoalan. Nah, di sinilah kita mulai ngelihat sisi lain yang jarang dibahas, yakni kenakalan yang bukan cuma terjadi, tapi dibiarkan, bahkan dilegalkan. Wah, kok bisa?

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gauislam. Pernah nggak sih kamu ngerasa aneh sama dunia orang dewasa? Dari kecil kita selalu dikasih template kayak gini: “Kalo sudah besar nanti, kamu harus jadi orang baik, ya.” atau “Jangan nakal, nanti jadi anak bermasalah.” atau juga “Lihat tuh orang dewasa, mereka kan contoh.”

Problemnya, justru makin kita dewasa, makin kita sadar: loh, kok yang harusnya jadi contoh, kadang malah lebih ‘liar’ dari yang dicontohin? Ini bukan soal semua orang dewasa, ya. Banyak juga kok yang keren, shalih, dan jadi role model. Tapi kita nggak bisa tutup mata—ada juga “kenakalan orang tua” yang dampaknya gila-gilaan ke remaja. Parahnya, kenakalan ini sering dianggap normal. Nah, kita bahas bareng. Santai, tapi jangan santai banget—ini serius.

Nakalnya ortu di masyarakat

Coba jujur deh. Kalo malam hari, kamu lihat bapak-bapak di lingkungan, ngapain? Ada yang ronda, iya. Tapi nggak sedikit juga yang nongkrong tiap malam main kartu or main game tanpa arah, ngobrol ngalor-ngidul tanpa isi, ketawa-tawa sampai lupa waktu.

Itu sebelumnya. Sekarang versinya makin upgrade: nongkrong plus scrolling TikTok. debat politik tapi cuma dari potongan video 30 detik, share hoaks di grup WhatsApp, yakin 100% padahal belum tentu bener.

Sementara ibu-ibu? Versi klasiknya, gosip. Versi sekarang, gosip plus screenshot chat, bahas hidup orang di grup, nge-judge orang dari story IG atau status WhatsApp. Masalahnya bukan sekadar ngisi waktu, tapi ini jadi budaya. Bahaya!

Nah, remaja yang lihat jadi mikir dan menilai tapi salah, “Oh, santai aja ya hidup. Nggak perlu produktif amat.” atau lebih parah: “Oh, ngomongin orang itu biasa.”

Padahal dalam Islam, ghibah itu bukan receh. Itu dosa. Dan kita diajarin buat jaga waktu, bukan ngehamburin nggak jelas. Jadi kalo orang dewasa aja ‘ngajarin’ malas secara live, gimana remaja nggak ikut kebawa?

Selain itu, malah oknum ortu ada yang jadi fasilitator maksiat. Ini bagian yang bikin nyesek. Dulu mungkin bentuknya jualan miras, judi, dll. Sekarang? Lebih canggih. Contohnya, ada yang jual minuman keras diam-diam, targetnya anak muda. Ada yang buka tempat nongkrong tapi isinya bebas banget tanpa kontrol. Ada yang nyewain tempat dan tahu dipakai buat hal negatif, tapi “yang penting cuan”. Bahkan ada yang secara nggak langsung memfasilitasi: wifi bebas tanpa kontrol untuk akses konten haram, event hiburan tanpa batas lalu campur baur bebas.

Eh, yang lebih miris kadang sudah ditegur malah ngegas. Lalu bilang, “Ini kan usaha saya!” atau sok bijak, “Yang penting nggak ganggu orang!” masih ditambah juga ngeles, “Semua orang juga begitu!”

Padahal faktanya, yang jadi korban seringnya remaja. Narkoba? Banyak korbannya anak muda. Miras? Remaja juga yang paling sering kebawa. Pergaulan bebas? Lagi-lagi remaja.

Tapi yang buka jalan siapa? Seringnya ya orang dewasa. Ironis banget kan? Mereka yang harusnya nutup pintu maksiat, malah buka gerbang dan kasih karpet merah.

Oya, belum lagi soal fasilitas hiburan yang bikin banyak remaja enggan nyari ilmu. Coba bandingin ini. Kalo ada konser kecil, acara hiburan, rental game, lomba-lomba seru. Sepi atau rame? Ya, rame banget. Tapi kalo ada pengajian rutin, kajian Islam, atau belajar Quran? Ya, mereka yang datang Itu-itu lagi.

Sekarang versi modernnya: event musik justru tiket sold out. Kalo kajian malah bilangnya nanti deh kalo sempat. Podcast hiburan, tiap hari ditonton, tapi kajian, malah cuma masuk wishlist. Bukan berarti hiburan haram semua, tapi kalo porsinya kebalik—hiburan jadi makanan utama, ilmu jadi cemilan—ini masalah. Banget-banget.

Apalagi kalo orang tua ada yang lebih bangga anaknya jago joget daripada jago ngaji, lebih support kegiatan seru niradab daripada kegiatan ilmu, lebih sering ngajak jalan daripada ngajak belajar agama. Duh, gini amat, ya? Padahal, mestinya waspada. Mengapa? Karena remaja bisa jadi nangkep sinyalnya salah dan menganggap bahwa belajar agama itu nggak penting-penting amat. Waduh, salah arah. Padahal justru agama itu pondasi hidup.

Apa lagi nih, yang aneh-aneh nakalnya orang tua di masyarakat, khususnya pendidik yang kehilangan arah. Ini sinyal bahaya. Ya, ini yang paling sensitif, tapi penting. Sekolah dan pesantren harusnya jadi tempat aman. Tempat tumbuh. Tempat jadi lebih baik. Tapi realitanya?

Ada oknum yang bilang bahwa ada guru yang nggak jadi teladan, ustaz yang ngomong A tapi ngelakuin B, pendidik yang cuek sama akhlak murid, bahkan ada yang terlibat kasus asusila—jadi ustaz cabul. Belum lagi yang ringan tapi berdampak kayak ngajarin disiplin, tapi dia sendiri telat, larang ini-itu, tapi dia melanggar, ngomong pentingnya adab, tapi kasar. Ironi.

Oya, remaja itu bukan cuma denger, tapi ngelihat. Dan ketika yang dilihat nggak sesuai, muncul dua kemungkinan: kehilangan respek atau malah ikut-ikutan rusak. Itu sebabnya, jadi pendidik itu bukan sekadar profesi. Itu amanah.

Kenakalan ortu di pemerintahan

Sobat gaulislam, kalo yang nakal di lingkungan aja dampaknya besar, gimana kalo yang nakal itu levelnya negara? Jawabannya: kerusakannya bisa sistemik dan merata. Beneran bahayanya.

Kita sering dengar gimana pusingnya ortu kita ketika harga kebutuhan pokok naik, biaya pendidikan mahal, layanan kesehatan susah dijangkau, lapangan kerja terbatas, dan biaya-biaya lainnya yang kian meroket. Buat remaja mungkin terasa jauh. Tapi efeknya nyata: orang tua stres, rumah jadi nggak nyaman, ekonomi susah, pendidikan terganggu, tekanan hidup jadi makin berat, sebagian orang cari jalan haram. Efek domino yang biin ngeri.

Dan yang bikin tambah miris, waktu kampanye janji manis banget. Setelah terpilih? Enak aja bilang, “Maaf, kondisi nggak memungkinkan.”

Remaja yang lihat jadi sinis, “Ah, omong doang semua.”

Akhirnya apa? Hilang kepercayaan. Dan ketika kepercayaan hilang, nilai ikut goyah.

Belum lagi soal kemaksiatan yang dibiarkan, bahkan dilegalkan. Ini poin krusial. Kalo di masyarakat cuma “ada”, di level negara bisa jadi “resmi”. Contohnya tempat hiburan malam bebas beroperasi, industri yang jelas merusak tetap jalan, perjudian model baru bermunculan (termasuk online), konten negatif sulit dikendalikan, hoax bertebaran yang jadi bumbu perseteruan karena beda pilihan politik. Alasannya? Ekonomi, kebebasan, pasar. Padahal yang jadi korban tetap masyarakat, terutama remaja.

Ditambah lagi kalo pejabatnya sendiri jagoan korupsi, doyan suap, dan abuse alias menyalahgunakan kekuasaan. Itu bikin remaja lihat dan mikir tapi salah, “Yang di atas aja begitu, ya udah lah…”

Jelas, ini bahaya banget. Mengapa? Karena rusaknya bukan cuma perilaku, tapi standar benar-salah. Lalu, remaja kudu gimana?

Nah, ini bagian penting. Kita nggak bisa cuma ngeluh karena orang dewasa rusak, negara kok gini amat, malah banyak pejabat yang bejat akhlak. Terus kita ikut arus? No.

Justru di sinilah peran kita. Pertama, jangan ikut-ikutan rusak. Kalo lingkungan malas, sebaliknya kita harus disiplin, kalo ada teman kamu yang suka gosip, kita tetap aga lisan, kalo ada yang normalisasi maksiat, tentu kita tegas nolak. Berat? Iya. Tapi justru di situlah nilai kita. Level keteguhan prinsip hidup kita.

Kedua, upgrade cara pikir. Kita harus paham bahwa ini bukan sekadar oknum. Ada sistem yang bikin materi jadi tujuan utama, halal-haram jadi nomor dua, agama dipinggirkan. Itu sebabnya, kita nggak cukup jadi anak baik. Kita harus jadi remaja baik dan menyukai kebaikan dan menegakkannya, serta yang paham Islam secara utuh.

Ketiga, peduli umat, bukan cuma peduli diri sendiri. Banyak yang bilang kalo remaja nggak usah mikirin politik. Wah, pikiran kayak gitu justru salah. Kalo politik itu soal ngatur kehidupan manusia, ya kita harus peduli. Bukan berarti harus jadi politisi. Nggak selalu. Tapi kita paham kondisi umat, peduli arah perjuangan masyarakat, berani ngomong untuk menyampaikan kebenaran.

Keempat, kembali kepada Islam seutuhnya sebagai sebuah ideologi yang wajib diterapkan oleh negara. Serius. Bukan sekadar tahu, dengar, ikut-ikutan. Tapi kudu siap belajar, paham, amalkan, dan perjuangkan. Mengapa? Karena jujur aja kalo Islam cuma jadi identitas, nggak akan cukup buat ngelawan kerusakan sistemik.

Kamu bisa perhatiin, bahwa zina dan riba saat ini udah merajalela alias udah kayak jadi tradisi. Pinjol, aplikasi dating berujung zina. Padahal bahayanya gede banget. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِيْ قَرْيَةٍ فَقَدْ أَحَلُّوْا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللّ?هِ

“Jika zina dan riba sudah menyebar di suatu kampung maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan azab Allah atas diri mereka sendiri.” (HR al-Hakim, al-Baihaqi dan ath-Thabrani)

So, kalo ini dibiarkan ada, atau malah dilegalkan oleh negara, rusaknya banget-banget. Apalagi LGBT ditumbuhsuburkan, bikin kaum boti besar kepala karena dapetin validasi. Nauzubillahi mindzalik.

Generasi rusak? No way!

Sobat gaulislam, kita hidup di zaman yang aneh. Beneran, yang salah bisa terlihat biasa, yang benar kadang terasa asing. Orang tua—yang harusnya jadi pelindung–kadang justru jadi sumber masalah. Baik di masyarakat, bahkan sampai negara. Tapi itu bukan alasan buat kita ikut tenggelam. Justru ini tantangan. Kamu mau jadi korban atau jadi pembeda?

Kita mungkin belum bisa mengubah semuanya sekarang.Tapi kita bisa mulai dari diri sendiri, circle kita, cara pikir kita. Dan yang paling penting: jangan pernah berhenti berharap pada Islam, tapi berhenti berharap pada sistem yang jelas rusak seperti Kapitalisme yang berakidah sekularisme.

Itu artrinya, yang bisa menyelamatkan bukan tren, bukan sistem buatan manusia, tapi aturan dari Allah Ta’ala. Jadi, pilihan ada di kita: ikut arus atau jadi arus perubahan? [O. Solihin | Join WhatsApp Channel]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *