22/04/2026
66285275_1004

gaulislam edisi 965/tahun ke-19 (3 Zulqaidah 1447 H/ 20 April 2026)

Notifikasi bunyi. “ting!”

Layar nyala. Grup chat. Nama grupnya… ya gitu deh. Absurd. Khas tongkrongan cowok. Isinya rame. Scroll dikit—langsung banjir “wkwk”.

Ada yang kirim meme. Ada yang lempar jokes. Ada yang sok jadi komedian. Ketawa.

Balas. Lanjut lagi. Awalnya ringan. Ngomongin tugas. Ngomongin dosen killer. Ngomongin match soccer semalam. Normal. Aman. Terus… ada satu chat masuk.

“Eh, si anu lewat tadi…”

Langsung disambut.

“Yang pake itu?”

“Iya yang itu…”

Mulai. Nada berubah. Satu cowok yang tadinya santai jadi agak “liar”. Komentar mulai geser. Bukan lagi soal orangnya. Tapi tubuhnya.

“Gila sih…”

body-nya…”

“Panassss…”

Ketawa makin pecah. Emoji bertebaran. Scroll lagi. Udah nggak ada rem. Kata-kata makin berani. Makin vulgar. Makin nggak enak dibaca. Tapi di grup itu? Dianggap biasa. Bahkan katanya lucu. Eh, yang lain nimbrung. Nambahin. Overthinking bareng—tapi ke arah yang salah. Kayak lomba. Siapa paling “liar”, dia paling keren. Dan lo tau yang lebih serem? Nggak ada yang bilang, “Eh, stop, dong!.”

Nggak ada yang ngerem. Semua ikut arus. Semua ketawa. Semua merasa aman. Padahal, di luar sana, ada seseorang yang lagi dijadiin bahan candaan. Namanya disebut. Tubuhnya dibahas. Martabatnya diacak-acak. Tanpa dia tahu. Tanpa dia bisa bela diri. Tanpa dia bisa bilang, “Eh, itu aku.”

Sunyi. Cuma satu arah. Dan di sisi lain layar: “wkwkwk.”lalu ketawa lagi.

Realita sehari-hari?

Sobat gaulislam, pekan lalu timeline rame.Ini soal chat mesum.Sekelompok mahasiswa.Fakultas Hukum.Harusnya akrab sama kata keadilan,etika, martabat manusia.Tapi yang muncul ke publik?

Tangkapan layar. Isi chat-nya bikin geleng kepala. Ngomongin mahasiswi. Bukan sekadar “cantik” atau “pintar”. Tapi… ke arah yang lain. Lebih rendah. Lebih kasar. Lebih nggak manusiawi.

Eh, yang lebih nyesek, ada juga dosen yang jadi bahan obrolan mereka. Bukan satu dua kalimat. Tapi pola. Berulang. Konsisten. Dan… dianggap lucu. Akhirnya viral. Publik marah. Kampus bergerak. Belasan mahasiswa dinonaktifkan sementara. Selesai? Belum. Karena kalo kamu jujur, ini bukan cerita baru.

Coba pikir. Grup cowok di sekolah. Tongkrongan futsal. Circle nongkrong malam. Atau… Grup WhatsApp komunitas, yang isinya bapak-bapak. Pernah lihat? Stiker aneh. Jokes “dewasa”. Komentar soal perempuan. Kadang dibungkus “candaan”. Kadang pake emoji biar kelihatan santai.

Tapi isinya? Sama. Ngomongin tubuh. Nge-reduce manusia jadi objek. Bedanya cuma satu, yang kemarin ketahuan. Tapi yang model ginian juga? Masih aman. Masih tersembunyi. Masih jalan.

Dan ini yang perlu kita harus akui. Sebab, bukan sekadar ada oknum mahasiswa nakal dan cabul bin mesum. Tapi persoalannya, ini udah jadi pola. Dari remaja sampai orang dewasa. Dari yang katanya anak gaul sampai yang kelihatannya bapak-bapak bijak. Semua bisa kena. Karena ini bukan soal umur. Bukan soal status. Tapi soal cara pandang.

Oya, yang bikin makin bahaya, banyak yang nggak sadar ini salah. Nggak merasa bersalah. Nggak merasa melukai. Karena di kepala mereka nganggapnya “Ini kan cuma chat”, “cuma internal”, atau “cuma bercanda”. Padahal, dari situlah semuanya mulai.

Bercanda tapi mesum

“Ah, santai aja kali.”

“Cuma bercanda, Bro.”

“Baper amat sih.”

Kalimat sakti, katanya. Sekali keluar, langsung kayak penghapus dosa. Semua jadi terasa ringan. Semua jadi terasa wajar. Padahal, yang diucapin berat. Coba deh jujur. Kalo bercanda tapi isinya ngegambarin tubuh orang, ngomentarin bagian sensitif, ngebahas hal yang harusnya dijaga, itu masih dianggap bercanda? Atau… itu maksiat yang lagi pakai topeng?

Anehnya lagi, semakin “liar” omongannya, semakin dianggap lucu. Semakin vulgar, semakin dianggap berani. Lalu, standar mulai geser. Tadinya “ih, apaan sih”

jadi “ya udahlah, ya…” Awalnya risih lalu

jadi terbiasa. Tadinya salah, malah jadi dianggap normal. Ini yang bahaya. Bukan cuma karena kata-katanya kotor, tapi karena hati jadi kebal. Nggak lagi ngerasa itu dosa. Nggak lagi ngerasa itu salah. Padahal, dalam Islam, lisan itu amanah. Setiap kata dicatat. Bukan cuma yang diucap, tapi juga yang diketik. Iya, yang kamu kirim di chat itu juga.

But, problemnya, ketawa itu bikin lupa. “Wkwk” jadi pengalih. Emoji jadi penutup. Seolah-olah selama ada tawa berarti aman. Padahal belum tentu. Kalo mereka bilang bahwa itu uma bercanda, itu sebenarnya dipakai buat kabur dari tanggung jawab. Nggak mau dibilang salah. Nggak mau ditegur. Akhirnya semua dibungkus humor. Bro, nggak semua hal pantas dijadiin bahan ketawa.

Nah, sekarang kita tanya, kalo yang dijadiin bahan itu adalah keluarga kamu, gimana? Masih bisa bilang, “cuma bercanda”? Kadang ada orang yang pinter banget ngebela diri. Tapi lupa bahwa Allah Ta’al nggak tertipu sama kata “cuma”. Karena di sisi-Nya,  nggak ada “cuma dosa kecil kalo rame-rame”. Dosa ya, tetap dosa.  Perlu kamu catat, kalo dosa ditertawakan, itu sebenarnya  lebih dekat ke menormalisasi. Kalo udah biasa, nanti nggak kerasa. Kalo nggak kerasa, nanti diulang. Terus. Terus. Terus. Sampai akhirnya jadi bagian dari karakter.

Nah, sekarang pertanyaannya bukan lagi ini bercanda atau bukan, tapi kenapa kita malah bercanda dengan cara yang ngerendahin orang lain? Jangan jadi cowok mesum, deh!

Dari chat jadi mindset

Sobat gaulislam, awalnya cuma kata. Cuma chat. Cuma ketikan. Cuma “wkwk”. Keliatannya ringan. Nggak nyentuh. Nggak melukai secara langsung fisiknya. Tapi kata itu nggak pernah benar-benar hilang. Dia nempel. Di kepala. Di cara mikir. Di cara pandang.

Jadi, kalo kamu sering ngomongin tubuh perempuan, nanti lama-lama pikiranmu cuma ke arah itu aja. Bukan lagi akhlaknya. Bukan lagi pikirannya. Tapi fisiknya. Direduksi. Dari manusia utuh, jadi sekadar objek. Dan ini nggak terjadi sekali. Tapi pelan-pelan. Sedikit demi sedikit. Kayak tetesan air. Sering. Nggak kerasa. Tapi lama-lama mengikis. Dari chat jadi mindset. Dari mindset jadi sikap. Itu sebabnya jangan heran kalo ada yang gampang banget–ngelempar komentar fisik, siulan di jalan, dan bercanda  yang agak laen–karena di kepalanya, itu jadi dianggap normal. Udah biasa. Udah nggak dianggap salah.

Padahal buat yang kena alias jadi obyek pelecehan? Nggak biasa. Nggak lucu. Dan nggak ringan. Bayangin kamu jadi dia. Jalan biasa. Pakai baju yang menurut kamu aman. Tapi ternyata ada yang lagi ‘ngebahas’ kamu di belakang. Di grup chat. Di tongkrongan mereka. Kamu nggak dengar. Tapi itu terjadi. Dan ketika akhirnya tahu? Rasanya campur aduk. Malu. Marah. Nggak nyaman. Bahkan bisa sampai kehilangan percaya diri, overthinking, dan takut bersosialisasi. Makanya banyak korban milih diam. Bukan karena nggak sakit. Tapi karena takut, malu. bingung harus ngomong ke siapa.

Dan di situlah lingkaran itu terus muter. Pelaku ketawa. Korban diam. Lingkungan biasa aja. Inilah yang sering disebut sebagai budaya yang rusak. Ketika sesuatu yang harusnya ditolak justru malah ditoleransi. Ketika yang salah nggak lagi dianggap masalah. Semua berawal dari hal kecil. Dari satu kalimat. Dari satu candaan. Dari satu “wkwk”. Dan tanpa sadar, yang awalnya cuma chat bisa jadi pintu ke perilaku yang lebih jauh. Itu sebabnya, jangan remehkan. Karena nggak semua luka itu kelihatan. Ada yang diem, tak berdarah, tapi dalam.

Brotherhood salah arah

Bro en Sis pembaca setia gaulislam. Aneh ya, kadang bukan karena semua setuju. Tapi karena nggak ada yang nolak. Di grup cowok, dinamikanya kadang anomali. Satu orang mulai. Lempar komentar. Cowok lainnya? Ketawa. Yang lain lagi? Nambahin. Sedikit. Lalu lebih jauh. Lalu makin jauh. Kayak bola salju. Kecil di awal. Tapi makin lama menggelinding makin besar. Makin liar. Dan di situ ada yang sebenarnya diem. Baca doang. Nggak nimbrung. Nggak ikut ngetik. Tapi juga nggak menghentikan. Kenapa? Karena ada tekanan yang nggak kelihatan. Takut dibilang garing, nggak asik, sok suci. Padahal cuma mau bilang bahwa itu tuh nggak bener.

Akhirnya? Lebih milih aman. Ikut ketawa. Ikut “wkwk”. Walau di dalam hati sebenarnya nggak nyaman. Dan lama-lama, yang awalnya cuma pura-pura ketawa jadi beneran terbiasa. Awalnya risih jadi kebal. Lingkungan itu pelan-pelan… ngubah standar. Dari yang tadinya bilang bahwa ini nggak pantas, malah jadi “ya udahlah, ya…”. Ini yang sering disebut sebagai solidaritas yang kebablasan.

Itu namanya brotherhood, tapi salah arah. Harusnya saling jaga. Tapi malah saling dorong ke arah yang salah. Harusnya saling ingetin. Tapi malah saling nguatin buat terus lanjut nggak benar. Satu orang punya pikiran kotor. Masuk ke grup. Nular. Eh, yang lain jadi berani. Lalu yang lain lagi jadi lebih parah. Akhirnya? Satu grup punya standar baru. Dan kalo udah kayak gitu, yang nolak justru keliatan aneh. Mereka yang diem dan berulah jadi mayoritas. Dan yang bener jadi minoritas. Padahal dalam Islam, teman itu pengaruh banget. Kalo circle kamu baik, kamu keangkat jadi baik. Kalo circle kamu rusak, ya kamu kebawa. Nggak ada yang netral.

Itu sebabnya, penting banget. Bukan cuma milih teman. Tapi juga milih obrolan. Karena kamu bisa aja nggak pernah ngomong kotor. Tapi kalo tiap hari dengerin yang kotor, hati kamu tetap kena. Dan yang paling bahaya, kalo kamu mulai merasa bahwa itu biasa aja. Itu tanda kamu udah terlalu lama di sana. Jadi sekarang pertanyaannya, kamu ada di circle yang saling jaga atau saling jatuhin?

Jauh dari Islam

Kalo ditanya kenapa sih ini bisa terjadi, jawaban gampangnya: karena kebiasaan. Ya, karena lingkungan atau karena pergaulan. Tapi kalo ditarik lebih dalam lagi, akar sebenarnya bukan di situ.

Akar masalahnya ada di hati. Hati yang mulai lupa. Lupa kalo Allah Ta’ala itu Mahamelihat. Bukan cuma saat kamu sendirian. Tapi juga saat kamu ngetik. Di balik layar. Di balik username. Di balik grup yang katanya “private”. Mungkin di antara kita sering mikir bahwa ini kan cuma di HP. Nggak ada yang tahu. Padahal yang baca bukan cuma temen kamu. Ada malaikat yang nyatet. Detail. Tanpa skip. Setiap kata. Setiap kalimat. Setiap “wkwk” yang ikut ngeramein. Semua masuk catatan. Tapi masalahnya kesadaran itu makin pudar. Rasa diawasi itu hilang. Makanya jadi berani. Coba bandingin. Kalo kamu lagi di depan orang yang kamu hormati. Ada guru, orang tua, ada ustaz. Masih berani ngomong sekotor itu? Nggak, kan? Pasti mikir dulu. Nahan. Filter aktif.

Tapi giliran di chat? Lepas. Bebas. Seolah-olah nggak ada yang lihat. Itu dia masalahnya. Bukan karena kamu nggak tahu itu salah. Tapi karena kamu nggak ngerasa diawasi. Dalam Islam, menjaga lisan itu wajib. Dan lisan di zaman sekarang nggak cuma mulut. Tapi juga jari. Apa yang kamu ketik, itu juga sama dengan lisan.

Selain itu, menjaga pandangan juga wajib. Dan pandangan hari ini nggak cuma mata langsung. Tapi juga apa yang kamu cari. Apa yang kamu bahas. Apa yang kamu nikmati dalam obrolan. Jadi ketika chat mulai mesum, itu bukan cuma masalah etika. Itu masalah iman. Karena orang yang sadar Allah Ta’ala Mahamelihat, walau sendirian… tetap jaga diri. Walau nggak ada yang negur, tetap tahu batas.

Jangan normalisasi maksiat

Sobat gaulislam, kalo dipikir-pikir, kenapa sih obrolan kayak gini bisa terasa biasa? Kenapa banyak yang santai? Kenapa nggak langsung merasa bersalah? Sebabnya, lingkungannya mendukung. Coba lihat sekitar. Scroll media sosial. Konten apa yang sering lewat? Joget dengan pakaian minim, jokes yang ‘dewasa’, dan video yang main di pinggir jurang. Eh, sebenarnya kalo orang yang dewasa juga bukan berarti sah ngobrolin atau chat yang modelan begitu di tempat umum (termasuk di grup WhatsApp).

Di zaman now, yang harusnya bikin risih malah jadi hiburan. Perkara yang harusnya dijaga malah jadi tontonan. Belum lagi film. Series. Stand up comedy. Banyak yang menjadikan tubuh perempuan sebagai punchline. Sebagai bahan jualan. Sebagai objek pelecehan berbalut candaan. Dan sebagian dari kita malah asyik nonton. Ketawa. Share. Akhirnya tanpa sadar otak kita dilatih. Dilatih untuk melihat itu sebagai sesuatu yang normal. Dari layar turun ke obrolan. Dari obrolan jadi kebiasaan.

Itu sebabnya, jangan heran kalo obrolan mesum itu nggak terasa aneh. Karena dari luar, semuanya bilang bahwa ini biasa kok. Inilah masalah sistem. Bukan cuma individu yang salah. Tapi lingkungan besar yang terus-menerus mendorong ke arah itu. Akhirnya, standar halal-haram jadi kabur. Menurut mereka: yang penting lucu, yang penting rame, yang penting viral. Soal benar atau salah? Nomor enam belas.

Akibatnya? Masalah ini nggak bisa selesai kalo cuma ngandelin kesadaran individu. Mengapa? Karena arusnya deras. Lingkungannya kuat. Godaan ada di mana-mana. Butuh sesuatu yang lebih besar. Lebih kuat. Lebih jelas. Butuh aturan yang bukan cuma menyarankan. Tapi mengarahkan, menjaga, dan menutup celah. Kalo nggak? Duh, yang sekarang cuma chat, khawatir malah terus berkembang jadi sesuatu yang lebih parah. Dan kita cuma bisa bilang bahwa emang zaman sekarang, ya begitu. Padahal, seharusnya kita bisa bilang bahwa hal itu salah, dan harus dihentikan.

Peran negara

Sobat gaulislam, kalo masalahnya berlapis, solusinya juga nggak bisa satu lapis. Nggak cukup cuma bilang, “ya udah, jadi orang baik aja.”

Mengapa? Karena realitanya, tekanannya begitu gede, lingkungannya kuat. Jadi Islam datang nggak cuma ngatur individu. Tapi juga lingkungan. Bahkan sampai sistem. Negara. Nah, gimana langkah praktisya?

Pertama, mulai dari diri sendiri. Ya, yang paling dekat, kamu. Iya, kamu yang lagi baca ini. Jaga chat. Sebelum kirim, tahan. Tanya ke diri sendiri, kira-kira pantas nggak kalo ngelakuin sesuatu, ini bakal aku sesali nggak, ya, atau kalo Allah Ta’ala lihat, duh aku malu nggak, ya. Kalo jawabannya ragu, berarti udah jelas. Nggak usah dikirim. Belajar ngerem. Nggak semua hal harus dikomentarin. Nggak semua yang lucu harus diikutin. Dan ini penting: berani beda. Kalo grup mulai ‘liar’, kamu punya pilihan: diem tapi nggak ikut nimbrung, ngingetin (kalo mampu), atau… keluar. Iya, keluar. Kedengarannya sepele. Tapi itu bentuk sikap. Sebab, menjaga diri itu berarti ninggalin tempat yang nggak sehat.

Kedua, bangun lingkungan yang sehat. Nggak bisa sendirian terus. Kamu butuh circle. Cari temen yang kalo kamu salah, dia ingetin. Bukan yang malah nyorakin dan mendukung. Circle yang obrolannya itu ngebangun, bukan ngerusak. Terus, kalo ada yang mulai aneh, kudu ada yang mencegah, bilang aja: stop, deh! Karena satu suara bisa jadi rem. Dan inget bahwa lingkungan itu nular. Kalo kamu sering di tempat bersih, kamu ikut bersih. Kalo kamu terus di tempat kotor, kamu pelan-pelan kena. Jadi pilih. Mau ketawa bareng atau selamat bareng?

Ketiga, butuh sistem yang menjaga. Ini yang sering dilupain. Selama sistemnya masih bebas sebebas-bebasnya, maka obrolan kayak gini akan terus muncul. Islam punya aturan jelas tentang pergaulan laki-laki dan perempuan, menjaga aurat, menundukkan pandangan, larangan mendekati zina. Bukan cuma soal “jangan”, tapi juga “ditutup” jalannya. Konten dijaga. Interaksi diatur. Budaya dibentuk. Tujuannya satu, yakni menjaga kehormatan manusia. Sebab, perempuan, bukan objek. Bukan bahan candaan mesum.

Oya, kamu yang laki-laki, nggak akan dibiarkan liar. Harus diarahkan. Dijaga. Dibimbing. Ini bedanya. Kalo cuma ngandelin kesadaran, yang kuat aja yang selamat. Gimana dengan yang lain? Kebawa arus. Tapi kalo ada sistem, semua dijaga. Bukan karena semuanya kuat. Tapi karena lingkungannya mendukung. Di situlah Islam sempurna. Nggak cuma bilang “jangan rusak”, tapi juga ngasih solusinya. Negara, adalah institusi paling kuat untuk menerapkan aturan.

Jadi, masalah ini bukan tanpa solusi. Bukan juga harus dimaklumi. Tapi harus dihadapi. Dari diri sendiri. Dari circle sampai sistem. Sebab kalo nggak begitu, kita cuma akan terus muter di masalah yang sama. Dengan alasan yang sama berlindung di balik candaan. Ngeri, ah!

Udah, bubarin!

Sobat gaulislam, kamu pernah ada di situ? Di grup itu? Di tongkrongan itu? Di momen itu. Ketawa. Ikut nimbrung. Atau minimal diam tapi menikmati. Mungkin waktu itu terasa biasa. Nggak ada yang aneh. Nggak ada yang negur. Semua ketawa. Semua aman. Tapi sekarang, coba dilihat lagi. Pelan-pelan.

Coba deh renungkan. Itu yang kamu ketawain dalam chat mesum, siapa? Manusia. Punya perasaan. Punya harga diri. Bukan objek. Dan yang kamu anggap ‘receh’ itu apa? Kata-kata. Tapi kata yang bisa nyakitin, kata yang bisa ngerusak cara pandang, dan kata yang bisa jadi awal dosa panjang.

Beneran. Dosa itu nggak selalu datang dalam bentuk besar. Nggak selalu dramatis. Nggak selalu bikin takut. Kadang datangnya sambil ketawa. Ditemenin emoji. Dan kita, nggak sadar. Sampai akhirnya jadi biasa. Sampai akhirnya hati mulai kebal. Sampai batas itu hilang.  Padahal, nggak semua harus diikutin. Nggak semua yang rame itu benar. Coba deh bayangkan situasinya. Kalo semua chat kamu hari ini diputar ulang, ditampilin, dan tanpa sensor, kamu siap? Atau kamu berharap itu nggak pernah dilihat? Karena satu hari nanti, semua itu akan dibuka.

Nggak ada yang kehapus. Nggak ada yang bisa ditarik. Dan di  yaumil hisab nanti, nggak ada lagi yang ketawa. Jadi sebelum sampai sana, masih ada waktu buat milih. Mau tetap di lingkaran yang sama atau pelan-pelan keluar? Mau jadi yang ikut ngeramein keburukan atau jadi yang berani ngerem kemaksiatan tersebut?

Sebab, perubahan itu kadang nggak butuh banyak orang. Cukup satu yang sadar. Dan mungkin itu bisa mulai dari kamu. Lebih keren lagi kalo negara yang menerapkan aturan dengan tegas. Tentu, aturan tersebut adalah akidah dan syariat Islam yang diterapkan oleh negara. [O. Solihin | Join WhatsApp Channel]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *