29/04/2026
pexels-yogendras31-8162438

gaulislam edisi 966/tahun ke-19 (10 Zulqaidah 1447 H/ 27 April 2026)

Nggak semua kehancuran datang karena rencana besar. Kadang cuma karena satu ledakan kecil. Satu emosi yang nggak direm. Satu marah yang nggak ditahan. Satu detik kalap yang dibiarkan.

Lalu habis itu? Ada yang kehilangan teman. Ada yang kehilangan kebebasan. Ada yang kehilangan masa depan. Ada juga yang kehilangan nyawa. Seremnya, banyak tragedi justru lahir dari urusan receh. Tersenggol sedikit. Diledekin sedikit. Disalip sedikit. Dikalahkan sedikit. Masalah kecil. Tapi ketika ego ikut campur, perkara kecil bisa berubah jadi petaka besar.

Ya, hari ini kita hidup di zaman yang gampang panas. Sedikit senggol, bacok. Sedikit salah paham, baku hantam. Sedikit tersinggung, ngamuk. Padahal masalah awalnya receh. Kaki ketendang saat futsal. Antrean diserobot. Tim bola kalah. Chat dibaca tapi nggak dibalas. Masalah kecil. Tapi efeknya bisa besar. Bahkan mengerikan. Lalu yang bikin miris, pelakunya sering anak muda, para remaja. Usia yang harusnya penuh mimpi, malah penuh emosi. Tenaga banyak. Darah panas. Tapi rem iman blong. Dan kalo emosi sudah pegang setir, hidup bisa masuk jurang.

Receh jadi petaka

Sobat gaulislam, ada kisah tragis. Seorang remaja kesal karena kakinya ditendang temannya saat main futsal. Harusnya bisa selesai saat itu juga. Ngobrol. Damai. Selesai. Tapi ini nggak. Dendam dipelihara. Saat temannya naik motor, ia membalas dengan menendang. Korban jatuh. Luka parah di kepala. Meninggal dunia. Satu tendangan. Dua hidup hancur. Anak yang satu kehilangan nyawa. Remaja satu lagi kehilangan masa depan karena berurusan dengan hukum. Semua berawal dari marah yang nggak dikendalikan.

Ada lagi. Sesama sopir angkot ribut gara-gara antrean. Satu menyerobot. Sopir yang lain tersulut. Emosi naik level. Lalu bensin disiram. Dibakar. Bayangin, itu karena antrean, lalu marah. Mobil rusak. Orang terluka. Pelaku ditangkap. Masalah kecil. Reaksi brutal.

Belum urusan suporter bola. Harusnya datang untuk dukung tim. Pulang bawa semangat. Eh, malah pulang bawa luka. Kadang kita heran. Kenapa manusia bisa segampang itu meledak amarahnya? Sebegitu rapuhkah mental kita? Jawabannya pahit: banyak yang iya. Bukan cuma remaja, tapi remaja termasuk yang rentan.

Kenapa? Karena banyak yang tumbuh tanpa latihan sabar. Maunya serba cepat. Serba dituruti. Serba pegen dipahami. Serba sesuai keinginan. Begitu realita nggak nurut, marah. Dikit kritik, tersinggung. Dikit bercanda, baper. Dikit kalah, ngamuk. Padahal hidup nggak didesain untuk selalu menyenangkan. Ada kalah. Ada kecewa. Ada salah paham. Ada orang nyebelin. Kalo mental nggak kuat, semua itu terasa kayak serangan. Padahal kadang cuma ujian kecil.

Oya, zaman ekarang orang terbiasa respon cepat. Notif bunyi, dibuka cepat. Pesan masuk, dibalas cepat. Video pendek, geser cepat. Marah pun cepat. Kita makin jarang jeda. Padahal jeda itu penting. Mengapa? Karena banyak dosa terjadi di sela beberapa detik. Detik saat tangan mau mukul. Detik saat mulut mau memaki. Detik saat kaki mau nendang. Detik saat api mau dinyalakan.

Nah, kalo ada jeda, mungkin selamat. Tapi kalo hidup dibiasakan serba spontan, emosi jadi raja. Marah jadi solusi. Bahaya.

Jangan umbar kemarahan

Sobat gaulislam, ,marah itu bukan sekadar perasaan. Marah bisa membajak pikiran. Saat orang marah berat, logika menurun. Biasanya yang dipikir bukan akibat, bukan hukum, bukan keluarga. Tapi yang dipikir cuma: balas! Itu sebabnya banyak orang setelah tenang (usai marahnya reda) bilang:

“Gue nyesel…”

“Harusnya gue nggak gitu…”

“Andai bisa diulang…”

Problemnya, hidup nggak punya tombol undo. Kaca pecah bisa diganti. Ucapan kasar bisa membekas. Luka bisa lama sembuh. Nyawa nggak kembali. Maka, Islam serius banget soal marah dan gimana cara mengendalikannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberi nasihat singkat: jangan marah. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, seorang lelaki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berilah aku wasiat.” Beliau menjawab, “Janganlah engkau marah.” Lelaki itu mengulang-ulang permintaannya, (namun) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (selalu) menjawab, “Janganlah engkau marah.” (HR Bukhari, no. 6116)

Dalam hadits lain, menahan marah atau nggak marah, balasannya surga. Dari Abu ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Wahai Rasulullah tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang dapat memasukkan dalam surga.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Janganlah engkau marah, maka bagimu surga.” (HR Thabrani)

Oya, meski demikian, bukan berarti manusia nggak boleh punya emosi. Tapi jangan biarkan emosi (khususnya rasa marah dalam konteks ini) jadi penguasa. Artinya, dikendalikan. Dijaga agar nggak liar. Jangan diumbar bebas tanpa batas.

Perlu kamu tahu bahwa banyak orang mengira kuat itu kudu galak. Apalagi kalo badan besar, suara keras, menang berantem. Dinobatkan sebagai orang yang kuat. Padahal dalam Islam, kuat bukan itu. Mereka yang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah. Ini definisi keren banget, lho. Why? Karena kalo mau mukul, orang kadang gampang. Nahan diri itu susah. Balas dendam kadang cepat. Memaafkan butuh level kesabaran tertentu. Ngamuk itu manusiawi, tapi ngerem itu kualitas diri sebagai manusia.

Dari Abu Hurairah ra?iyall?hu ‘anhu, bahwa Rasulullah ?allall?hu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Orang yang kuat bukanlah orang jago dalam bergulat dan berkelahi, namun orang yang kuat adalah orang mampu mengendalikan dirinya ketika sedang marah.’” (HR Bukhari, no. 6114, dan HR Muslim, no. 2609)

Jadi, kalo ada yang bangga karena temperamental, santai aja. Itu bukan bukti kuat. Itu bukti belum selesai dengan dirinya sendiri. Beneran.

Kalo lagi marah…

Sobat gaulislam, saat emosi naik, saat itu kita sedang rawan bodoh, bahkan kalap. So, ini ada solusinya kalo kamu lagi marah.

Pertama, diam dulu. Jangan debat saat panas. Karena mulut saat marah sering lebih tajam dari pisau. Bahaya banget kalo mulut masih terbuka dan lidah bebas berkata-kata. Ngeri. Bisa keluar kata-kata kasar dan keji. Maka, redam dengan diam.

Kedua, ubah posisi. Kalo pas marah kamu sedang berdiri, maka segera duduk supaya nggak bisa nendang atau mukul. Kalo udah duduk masih juga marah, maka rebahan atau menjauh. Tubuh yang tenang bantu pikiran ikut turun. Intinya, ketika marah jangan biarkan posisi tubuh kita bebas bergerak sehingga berpotensi merusak saat amarah memuncak. Jadi, kendalikan.

Ketiga, berwudhu. Marah itu panas. Wudhu menenangkan. Air kadang bisa memadamkan api di kepala.

Keempat, menjauh dari lokasi konflik. Kalo di tempat futsal, keluar dulu. Kalo di jalan, minggir dulu. Kalo di grup chat, logout dulu. Mengalah atau meninggalkan justru adalah kemenangan. Sing waras ngalah.

Kelima, zikir dan istighfar. Saat hati galau, hubungkan alias konek kepada Allah Ta’ala dengan zikir, dengan banyak istighfar.

Keenam, perhitungkan akibat. Jadi, tanya diri sendiri. Misalnya, kalo aku lakukan ini, habis itu apa dampaknya. Penjara? Musuh baru? Orang tua malu? Masa depan rusak? Nah, kalo menimbang dampaknya sebelum berbuat, insya Allah bisa mengerem laju amarah. Nggak sampe bablas.

Ketujuh, belajar minta maaf. Minta maaf bukan kalah. Kadang itu cara tercepat menyelamatkan semua pihak.

Peran support system

Betul. Perlu solusi menyeluruh kalo kasus begini makin banyak. Itu artinya, masalahnya bukan individu aja. Ada sistem yang ikut salah. Keluarga. Ya, padahal rumah adalah sekolah pertama. Kalo anak tiap hari lihat teriak-teriak, makian, banting barang, dia belajar marah sebagai bahasa. Sebaliknya, kalo rumah penuh dialog, sabar, dan adab, anak belajar tenang. Intinya, anak meniru lebih cepat daripada mendengar ceramah.

Gimana dengan sekolah? Sekolah jangan cuma ngejar nilai. Nilai matematika dan sains penting. Tapi nilai akhlak jauh lebih penting. Anak perlu diajari gimana cara menyelesaikan konflik, gimana cara menerima kekalahan, gimana cara mengelola emosi, gimana adab berteman. Mengapa? Karena hidup lebih sering menguji sikap daripada menerapkan rumus.

Terus, gimana media dan konten? Kalo tontonan isinya maki-makian, prank kasar, flexing ego, kekerasan dianggap keren, jangan heran kalo banyak yang gampang panas. Apa yang sering dilihat, pelan-pelan dianggap normal.

Nah, berarti kini perlu adanya sistem negara yang benar. Masyarakat butuh aturan dan budaya yang menanamkan ketakwaan, adab, dan tanggung jawab. Kalo yang dibesarkan cuma materi, kompetisi liar, dan kebebasan tanpa batas, orang makin egois. Islam nggak hanya mengatur ibadah pribadi, tapi juga membangun suasana hidup yang sehat: menghormati nyawa, menjaga kehormatan, melarang zalim, dan menanamkan takut kepada Allah Ta’ala.

Ini penting, Bro en Sis. Mengapa? Karena kamera CCTV tak selalu ada. Polisi tak selalu dekat. Tapi iman bisa jadi penjaga di mana pun. Dan, negara yang menerapkan aturan Islam, akan lebih memudahkan dalam mengatur warga negaranya. Syaratnya, warga negara juga kudu diedukasi agar bisa selaras dengan aturan Islam yang diterapkan negara.

Takwa individu yang dibangun di dalam keluarga, adanya kontrol masyarakat, dan penerapan aturan dan sanksi oleh negara sudah ampuh menjadi support system yang bisa mengendalikan agar tak bablas. Termasuk dalam konteks ini, rasa marah.

Selain itu, jangan kasih setir hidup ke emosi. Serius. Masa depanmu terlalu mahal untuk dihancurkan oleh lima menit marah. Kuliah bisa gagal. Kerja bisa susah. Nama baik rusak. Orang tua kecewa. Semua karena nggak bisa ngerem sebentar. Kalo ada teman nyolot, nggak semua harus diladenin. Kalo ada yang senggol, nggak semua harus dibalas. Kalo ada yang bikin sakit hati, nggak semua harus dibikin jatuh. Kadang kemenangan itu ketika kita memilih selesai. Perlu digarisbawahi bahwa kalo kalap, maka bikin hidup jadi gelap. Kalo sampe ngebunuh gara-gara nggak bisa ngendaliin kemarahan, bahaya kuadrat.

Sebab, dalam Islam nyawa itu mahal banget. Sangat dihormati. Sangat dijaga. Jadi kalo ada orang nekat ngilangin nyawa orang lain tanpa alasan yang dibenarkan syariat, urusannya serius. Nggak dianggap sepele. Ada hukum qishash, yaitu balasan setimpal. Kalo seseorang sengaja membunuh orang lain, maka dalam Islam pelaku bisa dijatuhi hukuman bunuh juga.

Oya, sekadar info nih, kasus pembunuhan dalam Islam masuk pembahasan jinaayaat. Jinaayaat adalah bentuk jamak dari jinaayah. Secara bahasa, jinaayaat berarti penganiayaan terhadap badan, harta, atau jiwa. Sedangkan menurut istilah, jinaayaat adalah pelanggaran terhadap tubuh manusia yang mewajibkan qishash (balasan setimpal) atau mengeluarkan harta (diyaat). Juga bermakna sanksi-sanksi yang dijatuhkan atas tindakan penganiayaan. Singkatnya, tindakan kejahatannya disebut jinaayaat, sanksinya juga dibahas dalam bab jinaayaat.

Islam sudah kasih batas yang jelas. Kalo dilanggar, ada konsekuensinya. Misalnya Allah Ta’ala menjelaskan tentang larangan membunuh dan hak keluarga korban dalam firman-Nya (yang artinya), “Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barang siapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya..” (QS al-Israa [17]: 33)

Selain itu, Allah Ta’ala juga menjelaskan hukum qishash dalam firman-Nya (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barang siapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih.” (QS al-Baqarah [2]: 178)

Tapi, meski utang nyawa dibalas dengan nyawa, bukan berarti Islam asal keras atau semena-mena. Justru tujuannya menjaga kehidupan. Maksudnya gimana?

Kalo ada orang nekat bunuh orang lain tanpa sebab yang benar, lalu dia tahu hukumannya berat, maka itu jadi pencegah. Orang bakal mikir seribu kali sebelum berbuat. Jadi hukum qishash bukan untuk meremehkan nyawa, tapi justru menjaga nyawa manusia.

Bayangin kalo pembunuh dibiarkan tanpa hukuman tegas. Bisa-bisa orang menganggap nyawa murah. Kejahatan makin berani. Kekacauan makin jadi.

Selain qishash, Islam juga membuka pintu maaf. Jika keluarga korban memaafkan, maka bisa ditempuh jalan diyaat. Jadi dalam kasus pembunuhan, keluarga korban punya pilihan: meminta negara menegakkan qishash kepada pelaku, atau memaafkan dan pelaku wajib membayar diyaat.

Apa itu diyaat? Secara sederhana, semacam tebusan atau kompensasi yang wajib dibayar pelaku kepada keluarga korban.

Dari Abdullah bin ‘Amru bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Perhatikan, bahwa orang yang terbunuh karena mirip dengan disengaja, baik terbunuh dengan cambuk, atau tongkat, diyatnya 100 ekor unta, 40 ekor di antaranya sedang bunting.”

Serius banget, kan? Bayangin aja, 100 ekor unta. Itu bukan angka kecil. Bukan hukuman receh. Bukan sekadar bilang “maaf ya” lalu selesai. Pelaku tetap menanggung konsekuensi besar. Nah, karena unta itu mahal. Nggak semua orang punya. Nggak gampang juga nyarinya. Maka, kalo dibayar pakai uang, nilainya setara dengan 1.000 dinar atau 12.000 dirham. Dinar syar’i setara 4,25 gram emas. Dirham syar’i setara 2,975 gram perak. Artinya, kalo 1.000 dinar, nilainya sama dengan 4.250 gram emas atau sekitar 4,25 kilogram emas.

Kalo misalnya harga emas per gram Rp1.000.000 saja, maka hitungannya: Rp1.000.000 x 4.250 gram = Rp4.250.000.000

Lebih dari empat miliar rupiah. Besar banget. Jadi, meskipun keluarga korban memaafkan, bukan berarti pelaku bisa santai terus lanjut hidup seolah nggak terjadi apa-apa. Tetap ada tanggung jawab besar yang harus ditunaikan.

Dari sini kelihatan jelas, Islam itu serius menjaga nyawa manusia. Nggak main-main. Karena satu nyawa terlalu berharga untuk dihilangkan cuma gara-gara emosi sesaat. Gara-gara marah.

Sobat gaulislam, kita butuh generasi kuat. Bukan kuat mukul. Tapi kuat nahan diri. Bukan jago ribut. Tapi jago menenangkan situasi. Bukan cepat tersulut amarah. Tapi cepat sadar. Kalo kaki ketendang saat futsal, jangan balas dengan nyawa. Kalo antrean diserobot, jangan bakar hidup sendiri. Kalo tim kalah, jangan hancurkan persaudaraan. Karena marah itu manusiawi. Tapi kalap itu bahaya. Dan jagoan sejati bukan yang bikin orang tumbang. Jagoan sejati adalah yang bisa menumbangkan egonya sendiri. [O. Solihin | Join WhatsApp Channel]

Gabung di WhatsApp Channel Remaja gaulislam Online untuk artikel terbaru!

Gabung Sekarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *