09/06/2026
korupsilapartamak

gaulislam edisi 972/tahun ke-19 (22 Zulhijjah 1447 H/ 8 Juni 2026)

Coba tebak, apa yang paling sering muncul di berita selain cuaca panas dan kemacetan? Yup, korupsi. Ya, rasanya hampir nggak ada tahun tanpa kasus korupsi. Buka berita pagi, ada pejabat ditangkap. Besoknya muncul kasus baru. Minggu depan, muncul lagi nama lain. Pelakunya ganti, lembaganya ganti, modusnya ganti. Tapi satu hal yang tetap sama: uang rakyat yang dicolong.

Saking seringnya, berita korupsi kadang lewat begitu saja di depan mata kita. Nggak sedikit orang yang cuma berkomentar, “Yah, korupsi lagi”. Lalu lanjut scroll mencari video lucu atau update pertandingan bola (eh, gue banget, sih?).

Mirisnya, korupsi di negeri ini seolah sudah seperti serial panjang yang nggak tamat-tamat. Episodenya terus bertambah. Pemerannya datang dan pergi. Bahkan nilai kerugiannya sering kali bikin kepala pening karena jumlah nolnya terlalu banyak untuk dihitung dengan jari.

Belum lama ini publik kembali dikejutkan oleh dugaan korupsi dalam program Makan Bergizi Gratis. Kejaksaan Agung menetapkan mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, sebagai tersangka, pada Rabu (3/6).

Dua mantan Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sony Sonjaya dan Lodewyk Pusung, juga turut ditahan dan ditetapkan sebagai tersangka.

“Setelah melakukan serangkaian penyidikan, hari ini Kejaksaan Agung menetapkan tiga orang tersangka dalam perkara dugaan tindak pidana korupsi penyimpangan tata kelola program Makan Bergizi Gratis pada Badan Gizi Nasional pada 2025-2026,” tutur Plh Kapuspenkum Kejagung, Mochamad Jeffry kepada wartawan, Rabu (3/6).

Program yang seharusnya membantu memenuhi kebutuhan gizi anak sekolah justru terseret kasus dugaan penyimpangan anggaran dan penyalahgunaan wewenang. Proses hukumnya masih berjalan, dan tentu kita serahkan pembuktiannya kepada pihak yang berwenang. Namun, satu hal yang jelas: kasus seperti ini kembali menunjukkan bahwa korupsi masih menjadi penyakit kronis yang belum sembuh dari negeri ini.

Nah, yang bikin sedih, korupsi bukan cuma soal hilangnya uang negara. Di balik setiap rupiah yang diselewengkan, ada hak rakyat yang ikut dirampas. Ada fasilitas yang seharusnya dibangun, ada pelayanan yang seharusnya diperbaiki, dan ada kebutuhan rakyat yang seharusnya dipenuhi.

Ibarat sebuah kapal, negeri ini sebenarnya punya banyak bekal untuk berlayar jauh. Sayangnya, selalu saja ada tangan-tangan yang diam-diam melubangi lambung kapal demi memenuhi kantong sendiri. Akibatnya, seluruh penumpang ikut terkena dampaknya.

Mungkin ada di antara kamu yang berpikir, “Ah, itu urusan pejabat. Aku kan masih remaja.”

Eits, jangan buru-buru begitu. Justru remaja perlu memperhatikan kasus-kasus seperti ini. Bukan untuk sibuk bergosip tentang siapa yang salah atau siapa yang benar, melainkan untuk mengambil pelajaran. Hari ini kamu memang masih duduk di bangku sekolah. Tapi beberapa tahun lagi, generasi kamulah yang akan mengelola organisasi, perusahaan, lembaga, bahkan mungkin memimpin negeri ini.

Kalo hari ini kamu belajar dari kesalahan generasi sebelumnya, insya Allah kamu nggak bakal jatuh ke lubang yang sama. Sebab sesungguhnya, korupsi bukan cuma masalah uang. Korupsi adalah masalah karakter. Dan setiap kerusakan besar selalu berawal dari kebiasaan buruk yang dianggap kecil. Beneran.

Nggak sekadar nyuri duit

Sobat gaulislam, kalo mendengar kata “korupsi”, kebanyakan orang langsung membayangkan koper berisi uang, rekening gendut, atau tumpukan rupiah yang jumlahnya bikin kalkulator menyerah. Padahal, korupsi lebih dari sekadar mengambil uang. Korupsi adalah pengkhianatan terhadap amanah.

Allah Ta’ala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan janganlah kamu mengkhianati amanah yang dipercayakan kepadamu, sedangkan kamu mengetahui.” (QS al-Anfal [8]: 27)

Perhatikan ayat ini. Allah Ta’ala nggak hanya melarang pengkhianatan terhadap manusia. Pengkhianatan amanah bahkan disejajarkan dengan bentuk pengkhianatan yang sangat serius dalam kehidupan seorang muslim.

Sederhananya begini. Ketika seseorang diberi tanggung jawab untuk mengurus sesuatu demi kepentingan banyak orang, lalu ia menggunakan jabatan itu untuk keuntungan pribadi, di situlah korupsi mulai terjadi. Itu sebabnya korupsi nggak selalu berbentuk memasukkan uang ke kantong sendiri. Bentuknya bisa macam-macam.

Ada yang sengaja menaikkan harga barang supaya mendapat keuntungan lebih. Ada yang meloloskan orang tertentu karena kedekatan hubungan. Ada yang menitipkan proyek kepada teman atau kelompoknya. Ada pula yang menggunakan fasilitas publik untuk kepentingan pribadi. Intinya sama: memakai amanah untuk keuntungan diri sendiri.

Kalo dipikir-pikir, korupsi itu seperti rayap. Dari luar bangunan masih terlihat kokoh. Catnya bagus, dindingnya berdiri tegak. Tapi diam-diam bagian dalamnya uudah keropos dimakan sedikit demi sedikit. Ketika kerusakannya terlihat, sering kali semuanya udah terlambat.

Sekali lagi, bahasan ini tetap ada hubungannya dengan remaja, lho. Ya, hubungannya banyak, Bro en Sis. Memang, remaja belum mengelola anggaran miliaran rupiah. Belum menandatangani proyek besar. Belum duduk di kursi kekuasaan. Tapi bibit perilaku korup bisa muncul sejak usia muda dalam bentuk yang jauh lebih kecil. Misalnya menyontek saat ujian, atau memanipulasi laporan kegiatan, atau memakai uang kas untuk kepentingan pribadi dengan alasan, “Nanti juga diganti.”

Kondisi lainnya, bisa juga mengambil sesuatu yang bukan haknya karena merasa nggak akan ketahuan. Mungkin nominalnya nggak besar. Mungkin dampaknya nggak seluas korupsi para pejabat. Tetapi pola pikir yang bekerja di belakangnya sama: mengambil keuntungan dengan cara yang nggak benar.

Ibarat pohon besar, korupsi kelas kakap nggak tumbuh begitu saja dalam semalam. Ia berawal dari benih-benih kecil yang dibiarkan tumbuh tanpa pernah dicabut. Itu artinya, jangan pernah meremehkan kecurangan kecil.

Hari ini seseorang mungkin hanya berbohong tentang tugas sekolah. Besok ia terbiasa memanipulasi laporan organisasi. Lusa ia terbiasa menyalahgunakan jabatan. Jika terus dibiarkan, bukan mustahil suatu saat ia menjadi bagian dari lingkaran korupsi yang selama ini ia kutuk.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan pentingnya menjaga amanah. Dalam Islam, amanah bukan sekadar urusan besar seperti memimpin negara. Amanah juga mencakup hal-hal kecil yang dipercayakan kepada kita.

Seorang pelajar punya amanah terhadap tugasnya. Seorang pengurus kelas punya amanah terhadap teman-temannya. Seorang bendahara punya amanah terhadap uang yang dikelolanya.

Ketika amanah dijaga, lahirlah kejujuran. Ketika amanah dikhianati, lahirlah berbagai bentuk kecurangan. Dan jika kecurangan itu terus tumbuh tanpa dikendalikan, ia bisa berubah menjadi korupsi dalam skala yang jauh lebih besar. Itulah sebabnya, perang melawan korupsi sebenarnya nggak dimulai di gedung pengadilan. Nggak pula dimulai saat seseorang menjadi pejabat. Perang melawan korupsi dimulai dari hati yang memilih untuk tetap jujur, bahkan ketika nggak ada seorang pun yang melihat.

Ditangkap satu, tumbuh seribu?

Sobat gaulislam, kenapa korupsi seperti nggak pernah habis? Bukankah udah banyak pelaku yang ditangkap? Bukankah udah banyak yang dipenjara? Bukankah udah banyak yang dipermalukan di depan publik? Kalo begitu, kenapa korupsi masih terus bermunculan?

Jawabannya sederhana, meski pahit untuk diterima. Why? Karena masalahnya bukan hanya pada pelakunya. Bayangkan ada rumah yang atapnya bocor. Setiap hujan turun, lantai rumah selalu basah. Lalu yang dilakukan pemilik rumah hanya mengepel lantai setiap hari tanpa pernah memperbaiki atapnya. Apa yang akan terjadi? Besok bocor lagi. Lusa bocor lagi. Minggu depan bocor lagi. Masalahnya bukan pada genangan air yang muncul. Masalahnya ada pada sumber kebocorannya.

Begitu pula dengan korupsi. Menangkap pelaku memang penting. Menghukum pelaku juga penting. Tetapi kalo akar penyebabnya nggak dicabut, korupsi akan terus tumbuh dengan wajah baru. Salah satu akar masalah itu adalah cara pandang hidup yang menjadikan materi sebagai tujuan utama.

So, ketika ukuran kesuksesan hanya dihitung dari jumlah harta, luas rumah, mahalnya kendaraan, atau gemuknya rekening, sebagian orang akan mencari jalan pintas untuk mendapatkannya. Bahkan jika harus mengorbankan kejujuran dan amanah: yang penting kaya, yang penting untung, yang penting dapat bagian.

Akibatnya, jabatan yang seharusnya menjadi amanah berubah menjadi peluang bisnis. Kekuasaan yang seharusnya digunakan untuk melayani rakyat berubah menjadi alat untuk memperkaya diri. Lebih parah lagi, terkadang lingkungan sekitar ikut menyuburkan penyakit ini. Orang jujur dianggap naif. Orang curang dianggap pintar. Orang yang bermain bersih dianggap nggak punya “strategi”.

Sedangkan orang yang pandai mencari celah sering dipuji karena dianggap cerdik. Padahal kecerdikan tanpa kejujuran hanyalah jalan cepat menuju kerusakan. Korupsi akhirnya menjadi seperti rumput liar di halaman yang nggak pernah dibersihkan sampai ke akarnya. Dipotong hari ini, tumbuh lagi besok. Dicabut sebagian, muncul di tempat lain. Bahkan kadang tumbuh lebih banyak daripada sebelumnya.

Itu sebabnya, kalo kita benar-benar ingin melihat korupsi berkurang, yang harus diperbaiki bukan hanya orangnya. Cara berpikirnya juga harus diperbaiki. Nilai hidupnya harus diperbaiki. Sistem yang memberi peluang bagi korupsi juga harus diperbaiki.

Kalo nggak, kita hanya akan terus menyaksikan episode demi episode dari serial lama yang judulnya sama: “Korupsi Lagi, Korupsi Lagi”. Bedanya cuma nama pemain dan jumlah uang yang diperebutkan. Dan sayangnya, rakyat tetap menjadi penonton yang paling sering menanggung akibatnya.

Perut kenyang, tapi nafsu?

Sobat gaulislam, kalo korupsi terjadi karena lapar, mungkin ceritanya akan berbeda. Tapi kenyataannya, banyak pelaku korupsi bukan orang yang hidup kekurangan. Mereka punya jabatan. Punya penghasilan. Punya rumah (mewah pula). Punya kendaraan (harganya miliaran malah). Punya fasilitas yang bahkan mungkin nggak pernah terbayangkan oleh sebagian rakyat biasa.

Lalu kenapa masih korupsi? Di sinilah judul tulisan ini menemukan jawabannya: Bukan lapar, tapi tamak. Bukan karena nggak punya, tapi karena nggak pernah merasa cukup. Ya, tamak itu unik. Semakin dituruti, semakin besar. Semakin dipuaskan, semakin rakus. Ia seperti ember bocor yang nggak pernah penuh walaupun terus diisi. Orang yang tamak selalu merasa ada yang kurang. Sudah punya satu, ingin dua. Sudah punya dua, ingin sepuluh. Sudah punya sepuluh, ingin seratus. Ketika seratus sudah di tangan, pikirannya sibuk mengejar seribu. Begitulah nafsu bekerja. Ia terus berbisik, “Tambah lagi. Sedikit lagi. Kesempatan nggak datang dua kali.”

Sampai akhirnya seseorang rela menggadaikan kejujuran, amanah, bahkan harga dirinya demi mendapatkan sesuatu yang sebenarnya nggak ia butuhkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, niscaya ia ingin memiliki dua lembah emas. Nggak ada yang dapat memenuhi mulutnya kecuali tanah. Dan Allah menerima taubat orang yang bertaubat.” (HR Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menggambarkan sifat manusia yang dibiarkan mengikuti hawa nafsunya tanpa kendali. Keinginan duniawi nggak memiliki garis finish. Nggak ada tulisan “selesai” di ujung lintasannya. Itu sebabnya, Islam nggak mengajarkan umatnya menjadi budak harta. Islam mengajarkan qanaah, yaitu merasa cukup terhadap rezeki halal yang Allah Ta’ala berikan.

Oya, qanaah bukan berarti malas bekerja. Bukan juga berarti menolak menjadi kaya. Qanaah adalah sikap hati yang nggak menjadikan harta sebagai pusat kehidupan. Orang yang qanaah tetap berusaha keras. Tetap belajar. Tetap berprestasi. Tetap bekerja dengan sungguh-sungguh. Namun ia sadar bahwa keberkahan lebih penting daripada sekadar banyaknya angka di rekening.

Sebaliknya, orang yang kehilangan qanaah akan selalu merasa miskin, meskipun hartanya berlimpah. Ia seperti orang yang minum air laut. Semakin diminum, semakin haus. Maka, kalo kita perhatikan banyak kasus korupsi, sering kali yang hilang bukan kemampuan mencari uang, tapi yang hilang adalah kemampuan berkata, “Cukup”. Mestinya, cukup dengan yang halal, cukup dengan yang Allah Ta’ala ridhai, dan cukup dengan rezeki yang nggak mengundang murka-Nya.

Sayangnya, dalam budaya yang sering mengukur keberhasilan dari kemewahan, kata “cukup” kadang terdengar asing. Media sosial dipenuhi pamer pencapaian. Orang berlomba menunjukkan gaya hidup. Ada tekanan untuk selalu terlihat lebih sukses, lebih kaya, dan lebih hebat daripada orang lain.

Akibatnya, sebagian orang terjebak dalam perlombaan yang nggak ada garis akhirnya. Terus berlari. Terus mengejar. Terus mengumpulkan. Sampai lupa bahwa hidup ini bukan kompetisi mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, melainkan perjalanan mencari ridha Allah Ta’ala. Itu sebabnya, perang melawan korupsi sesungguhnya bukan hanya perang melawan pencurian uang negara. Perang melawan korupsi adalah perang melawan ketamakan dalam diri manusia.

Harus dihentikan

Sobat gaulislam, setiap pejabat harus diawasi. Setiap penggunaan harta publik harus dapat dipertanggungjawabkan. Dan setiap bentuk penyalahgunaan amanah harus ditindak tanpa pandang bulu: yang dekat maupun yang jauh, yang kecil maupun yang besar, yang rakyat biasa maupun pejabat tinggi. Sebab keadilan nggak akan pernah terwujud jika hukum tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas. Islam juga mengenal konsep hukuman yang memberikan efek pencegahan (zawajir) sekaligus penebusan (jawabir). Artinya, hukuman nggak hanya bertujuan menghukum pelaku, tetapi juga mencegah masyarakat lain melakukan kejahatan yang sama. Inilah salah satu alasan mengapa berbagai bentuk kejahatan dalam Islam dipandang serius dan nggak boleh dianggap ringan. Tujuannya bukan balas dendam, melainkan menjaga masyarakat dari kerusakan yang lebih luas.

Faktanya, negeri ini sudah berkali-kali menyaksikan kasus korupsi dengan angka yang fantastis. Sudah banyak pelaku yang ditangkap. Sudah banyak vonis yang dijatuhkan. Namun korupsi tetap muncul dengan wajah baru. Itu sebabnya, solusi yang dibutuhkan bukan sekadar pergantian nama pejabat. Bukan sekadar pergantian jabatan. Bukan sekadar pergantian periode kekuasaan. Tapi yang dibutuhkan adalah perubahan yang menyentuh akar persoalan.

Ya, perubahan cara pandang manusia terhadap amanah. Perubahan budaya yang selama ini memaklumi berbagai bentuk kecurangan. Dan perubahan sistem yang mampu menutup celah korupsi serta menegakkan hukum secara adil berdasarkan syariat Islam. Sebab selama akar masalahnya masih dibiarkan hidup, korupsi hanya akan berganti pemain. Cerita lamanya tetap sama. Uang rakyat kembali menjadi korban. Dan generasi muda kembali mewarisi masalah yang seharusnya sudah lama diselesaikan.

Ingatlah, jabatan akan berakhir. Kekuasaan akan berakhir. Popularitas akan berakhir. Harta yang dikumpulkan dengan susah payah juga akan ditinggalkan. Tetapi setiap amanah yang pernah kita pegang akan tetap dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Ta’ala.

Maka jangan jadikan hidup ini perlombaan mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Jadikan hidup ini perjalanan untuk mengumpulkan amal dan menjaga amanah sebaik-baiknya. Sebab, banyak orang terjerumus ke dalam korupsi bukan karena mereka kelaparan. Mereka terjerumus karena ketamakan mengalahkan keimanan.

Itu artinya, negeri ini membutuhkan generasi yang takut kepada Allah Ta’ala, mencintai kejujuran, menjaga amanah, dan berani berkata “cukup” ketika hawa nafsu mengajak mengambil yang bukan haknya.

Semoga kita termasuk generasi itu. Generasi yang menolak warisan budaya korupsi. Sebaliknya,  generasi yang bagus takwanya, keren kejujurannya, dan amanah kepada mereka yang datang setelah kita. Benar. Sebab sesungguhnya, solusi terbesar bagi korupsi bukanlah manusia yang semakin cerdas, melainkan manusia yang semakin bertakwa, masyarakatnya yang menjaga, dan negaranya yang menerapkan aturan dan sanksi dengan benar dan baik. Itu, cuma Islam yang bisa jadi solusi. Syaratnya, Islam yang dijadikan ideologi negara. [O. Solihin | Join WhatApp Channel]

Gabung di WhatsApp Channel Remaja gaulislam Online untuk artikel terbaru!

Gabung Sekarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *