Taghyir Ekstra Parlemen
Taghyir Dalam Pandangan Islam: Realitas, Asas Dan Metode
1. Realitas Taghyir
Taghyir (perubahan total dan mendasar atau perubahan yang revolusioner ) yang dimaksud adalah perubahan terhadap kondisi sekarang yang rusak di negeri-negeri Islam, yaitu sistem sekuler, ide-ide dan perasaan barat yang rusak, para penguasa yang kafir atau fasik yang menjadi antek-antek penjajah kafir imperialis barat.
Taghyir yang dimaksud adalah penyelamatan umat Islam dari kondisi pecah-belah berkeping-keping dan kehinaan yang dipaksakan oleh negara-negara penjajah kafir imperialis, dan dari kondisi kehilangan, kebingungan, dan ketertundukan kepada negara-negara yang rakus terhadap kaum muslimin.
Taghyir yang dimaksud adalah mengembalikan kekayaan kaum muslimin kepada kaum muslimin yang selama ini dirampas negara-negara kafir penjajah yang telah menikmati kekayaan kaum muslimin dan membiarkan kaum muslimin dalam keadaan fakir miskin dan terperosok dalam perangkap hutang milyaran kepada negara-negara barat yang rakus.
Yang dimaksud dengan taghyir juga adalah dengan bangkitnya umat Islam atas asas Islam, dan membuang semua pemikiran yang tidak Islami, yang akan dapat terlaksana dengan melenyapkan sistem kufur dan menegakkan khilafah yang memerintah dengan apa yang diturunkan Allah, yang akan menyatukan umat Islam dan negeri-negeri Islam dengan kepemimpinan khalifah yang satu dan di bawah panji Laa ilaaha Illa Allah Muhammad Rasullah, dan mengemban risalah ke seluruh dunia.
Berfikir untuk berubah (melakukan taghyir) tidak hanya ada karena adanya orang-orang yang merasakan pentingnya merubah kondisi mereka. Tetapi pemikiran ini ada selama di dunia ini ada kondisi yang menuntut perubahan. Karena itu berfikir tentang perubahan tidak dibatasi dengan perubahan kondisi seseorang atau masyarakat, bangsa atau umatnya saja, tetapi untuk mengubah yang lainnya. Karena dalam diri manusia terdapat naluri berketurunan yang akan mendorong manusia untuk memperhatikan seluruh manusia yang ada di negerinya atau bangsa dan umatnya dan juga umat yang di negeri lainnya.
Meskipun keinginan untuk berubah ada pada seluruh manusia, ada kondisi dan faktor-faktor yang membuat kekuatan ingin berubah itu berbeda. Karena memang melakukan perubahan itu suatu hal yang berat dan sulit sehingga membutuhkan adanya upaya dan pengorbanan yang besaaar, kekuatan dan pemikiran serta ihsas yang tajam. Faktor yang mendasar dalam melakukan perubahan adalah “kesadaran berfikir (Wa’yu al-fikri)�.
Manusia tidak akan berfikir untuk berubah kecuali ketika ia menyadari ada suatu fakta yang rusak atau buruk dan kurang baik sehingga mesti diperbaiki. Agar ia menyadari, ia mesti merasakan (ihsas) terhadap fakta yang rusak tadi. Sehingga ihsas terhadap fakta merupakan syarat pokok untuk berfikir. Karena fakta rusak seperti baik, buruk, dan lain-laain berbeda dengan materi, maka untuk mengihsas fakta seperti ini, yaitu merasakan sesuatu itu rusak, diperlukan pemahaman awal tentang apa itu kerusakan/keburukan. Inilah yang disebut dengan ihsasul fikri. Perbedaan ihsasul fikri pada manusia adalah perkara alami, sesuai tingkat pemikirannya. Karena itu kita mendapati 3 kelompok manusia :
- Orang yang memiliki ihsas yang tajam, ia merasakan kerusakan dengan cepat.
- Orang yang memiliki ihsas yang biasa (standar umum), ia membutuhkan kerja keras untuk bisa merasakan kerusakan.
- Orang yang memiliki ihsas yang rendah (bingung), ia sangat membutuhkan usaha yang besar untuk merasakan sesuatu.
Jadi untuk dapat berfikir melakukan perubahan, seseorang memerlukan: kesadaran, pemikiran awal (sebelumnya), ihsas (kepekaan), mengerti fakta baru yang biasa menggantikan fakta lama yang rusak. Semata-mata menyadari fakta yang rusak, tidak cukup membuat seseorang melakukan perubahan tapi harus dikaitkan dengan kesadaran akan fakta pengganti. Jadi bagian pertama itu adalah menyadari fakta yang rusak berikutnyaa merasakan kerusakan itu. Selanjutnya adalah memahami adanya fakta pengganti bagi fakta yang rusak tadi, supaya aktivitas untuk merubah ini mempunyai target dan berjalan dalam tujuan tertentu bukan semata-mata melakukan perubahan tanpa maksud dan berbuat sia-sia (kaitkan dengan materi Sungguh-sungguh dalam berfikir!). Ringkasnya taghyir umat adalah dengan merubah pemikirannya bukan dimulai dengan merubah kondisi ekonomi, pendidikan, akhlak apalagi melakukan tindakan militer (angkat senjata) untuk mengkudeta pemerintahan yang sedang berjalan.
2. Asas Taghyir
Manusia akan bangkit karena pemikiran yang dimilikinya berkaitan dengan kehidupan, alam semesta, dan manusia; serta keterkaitan antara semua itu dengan kehidupan sebelum dunia dan kehidupan sesudah dunia ini. Hal ini berarti bahwa jalan kebangkitan menuju perubahan (taghyir) itu adalah pandangan manusia terhadap manusia itu sendiri, terhadap kehidupan di sekelilingnya, dan terhadap alam semesta tempat hidup yang sangat luas ini. Dengan demikian, memungkinkan manusia untuk mengetahui jalan yang harus ditempuh ketika ia masih hidup di alam ini. Artinya, dia dapat mengetahui makna keberadaannya dalam kehidupan ini. Hal itu tidak akan terjadi pada dirinya kecuali apabila dalam dirinya terdapat pemikiran yang menyeluruh tentang alam semesta, kehidupan, dan manusia dalam rangka penetapan hakikat dirinya sebagai makhluk Allah. Inilah yang disebut dengan aqidah.
Aqidah tersebut dipahami sebagai pemikiran yang menyeluruh tentang alam semesta, kehidupan dan manusia; tentang segala yang ada sebelum dan sesudah kehidupan dunia; serta tentang keterkaitan semua itu dengan sesuatu yang ada sebelum kehidupan dunia dan keterkaitannya dengan sesuatu yang ada sesudah kehidupan dunia ini.
Oleh karena itu, aqidahlah satu-satunya jalan untuk mewujudkan pemahaman yang benar tentang kehidupan dunia ini, artinya, aqidah itulah yang menentukan pandangan manusia tentang kehidupan. Dari aqidahlah, muncul aturan-aturan kehidupan manusia, serta aturan bagi tindakan dan tingkah lakunya atau apa yang dinamakan mabda. Oleh karena itu, aqidah itu adalah kaidah mendasar yang menjadi landasan seluruh pemikirannya yang dapat menghantarkan kepada aktivitas taghyir yang benar.
Tinggal masalahnya apakah semua aqidah (mabda) dapat membawa kepada aktivitas taghyir yang benar? Jawabannya adalah tidak. Buktinya kita bisa menoleh kepada fakta Revolusi Perancis (berdasarkan asas mabda kapitalis) dan Revolusi Rusia (berdasarkan asas mabda Sosialis-Komunis ). Taghyir yang mereka lakukan memang terbukti mampu menyebabkan terjadinya perubahan total di tengah-tengah masyarakat dan telah menghantarkan mereka kepada kondisi yang lebih baik. Akan tetapi masyarakat yang terbentuk bukanlah masyarakat Islam seperti yang kita cita-citakan karena didasarkan pada mabda selain Islam.
3. Metode Taghyir
Secara i’tiqaadiy[i], setiap aktivitas yang dilakukan kaum muslimin harus terikat dengan hukum syara’. Bila tidak, kegagalan tinggal menunggu waktu saja, disamping amalnya akan sia-sia. Oleh karena itu, sumber sekaligus tolok ukur untuk menentukan jalan yang ditempuh guna mengajak umat ke arah penerapan Islam secara [i]kaffah adalah Al-Qur’an dan As Sunnah. Langkah-langkah Rasulullah SAW merupakan penerapan dan penjelasan yang bersifat �amaly atas metode yang harus ditempuh. Selain metode yang dijalankan oleh Rasulullah adalah metode batil dan tertolak. Tidak patut diikuti dan pastilah akan berkonsekuensi pada kegagalan.
Merujuk kepada apa yang dilakukan oleh Rasulullah, jelas nampak bahwa Rasulullah melakukan perubahan total terhadap pemikiran, perasaan serta aturan yang mengatur interaksi masyarakat jahiliyah saat itu menjadi masyarakat Islam, tidak dengan jalan masuk parlemen. Buktinya beliau menolak dengan tegas ketika pemuka-pemuka Quraisy membujuk beliau untuk menghentikan dakwahnya dengan memberikan kekuasaan atau jabatan dalam pemerintahan mereka. Rasul tetap meneruskan dakwahnya dengan menggalang kekuatan di luar sistem yaitu kekuatan umat (kekuatan ektra parlemen) atau apa yang disebut at-taghyir �an thariq il-ummah.
Secara ringkas perjuangan syar’i tersebut dapat dirinci sebagai berikut:
Pertama, Rasulullah mengumpulkan orang-orang mukmin dalam halaqah secara rahasia, mengajarkan kepada mereka agama baru (Islam) dan menumbuhkan mereka dalam bentuk yang baru hingga terbentuk kepribadian Islam yaitu aqliyah (pola fikir) mereka dan nafsiah (pola jiwa) mereka. Pemahaman mereka adalah pemahaman Islam. Mereka beriman kepada tujuan penciptaan mereka. Mereka menjadi kelompok (kutlah) yang baru di masyarakat, yang khas aqidahnya, pemikiran-pemikirannya, perasaan-perasaannya, perilaku-perilaku serta tujuannya.
Kedua, Rasul bersama kutlahnya terjun dalam pertarungan keyakinan dan pemikiran ke tengah-tengah masyarakat dan masuk dalam perjuangan politik melawan penguasa dan pemimpin kafir. Di dalam perjuangan itu Rasul dan kutlah beliau menanggung kesulitan yang berat, menjelaskan kebenaran dan menyeru untuk memeluknya, menjelaskan kontradiksi aqidah-aqidah kufur dan pemikiran-pemikiran kufur dengan kebenaran dan realita. Rasulullah SAW meluruskan pemahaman-pemahaman tentang sesuatu dan pemahaman tentang kehidupan. Rasulullah membantah pemimpin-pemimpin kafir dan menyingkap hakikat mereka dan hakikat apa yang menjadi pijakan mereka. Beliau SAW menyeru kepada tafakur dan tadabur, serta mencela secara terus-terang pengangguran akal dan sikap berpegang pada kebatilan.
Ketiga, segala macam siksaan, penderitaan dan ancaman telah menimpa Nabi dan para sahabat beliau, namun semua itu tidak memalingkan mereka dari Islam. Mereka tetap mengembannya, bersabar dan terus menyebarkannya. Nabi tidak meninggalkan Islam sedikitpun. Dengan tegas beliau menolakk penyamaan dan penyetaraan Islam dengan yang lain. Beliau juga menolak dengan tegas segala macam rayuan atau ambil bagian dalam kekuasaan (kufur) atau mencapai tujuan parsial. Beliau juga menolak mengambil harta hingga menjadi orang terkaya diantara mereka. Beliau juga menolak menyembah Allah tahun ini dan menyembah tuhan mereka tahun berikutnya. “Katakanlah: wahai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kalian tidak akan menyembah yang aku sembah. Bagi kalian agama kalian dan bagiku agamaku.� (Qs. Al-Kaafiruun [109]: 1-6). Rasulullah bersabda: “Demi Allah seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan ditangan kiriku agar aku meninggalkan urusan ini (dakwah) aku tidak akan meninggalkannya sampai Allah memenangkan urusan ini atau aku binasa di dalamnya.� (Sirah Ibnu Hisyam). Beliau terus menjelaskan dakwahnya (Islam), menghilangkan kekufuran dan menghilangkan pemikiran-pemikiran kufur. Mengingatkan orang-orang kafir terhadap siksa yang pedih dan mencela keyakinan-keyakinan mereka.
Keempat, ketika semakin bertambah kejahatan orang kafir dan para pemimpin mereka dan mereka (orang-orang kafir) melihat bahwa Muhammad tidak pernah berputus asa dan tidak pula mundur serta tidak pula berkompromi, maka setiap kabilah menganggu kaum muslimin yang ada di tengah-tengah mereka. Mereka membunuh dan menyiksa kaum muslimin. Semua itu menimpa orang yang bersandar kepada rukun iman dan berpegang teguh kepada tali Allah yang kokoh. Beliau terus menjalankan dakwahnya, terus melakukan pertarungan pemikiran dan terus melakukan perjuangan politik. Beliau menganjurkan para sahabatnya untuk berhijrah ke Habasyah untuk menyelamatkan agama mereka. Sementara beliau tetap berada di Mekkah. Beliau tidak pernah mundur dan berkompromi dan tidak pula pernah berhenti di jalan dakwah. Ketika masyarakat jumud terhadap dakwah di bawah kuatnya penindasan, Rasulullah mendatangi kabilah-kabilah yang lain menyeru mereka kepada Islam dan meminta pertolongan mereka hingga Beliau menyampaikan risalah Allah dan hingga mereka mendukung dan menolong penerapan Islam.
Kelima, aktivitas Rasul terus berlangsung dalam mencari pertolongan (thalabun nushrah) dan beliau mengulangi dan tidak membatasinya kepada kabilah tertentu saja. Beliau tidak marah kepada mereka sekalipun mereka menolak beliau dengan penolakan yang buruk dan banyak pemimpin kabilah menolak tawaran beliau. Sampai Allah mendatangkan kepada beliau masyarakat Madinah dengan masuk Islamnya sebagian besar dari mereka. Mereka tidak memerangi dakwah sebagaimana yang terjadi di Mekkah. Para pemimpin dan pembesar dua kabilah yaitu kabilah Aus dan Khazraj masuk Islam, begitu juga sebagian besar anggota kabilah tersebut. Lalu Rasulullah meminta pertolongan mereka untuk mendirikan negara Islam di Madinah. Ketika mereka setuju Nabi berakad dengan mereka dengan Bai’at Aqabah II yaitu bai’at perang, bai’at pendirian negara Islam. Kemudian Beliau berhijrah ke Madinah dan dengan kedatangan Beliau berdirilah negara Islam.
Demikianlah proses taghyir yang dilakukan oleh Rasulullah sampai tegaknya negara slam yang menerapkan Islam secara kaffah. Sejak itu pula beliau mengokohkan pilar-pilar negara dan memulai aktivitas jihad untuk meninggikan kalimat Allah dan untuk mengemban dakwah ke seluruh manusia.
Penutup
Jadi taghyir yang dilakukan oleh Rasullah untuk merubah masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat Islam adalah taghyir an tariq il-ummah (taghyir melalui jalan ummat) atau dengan kata lain taghyir ekstra parlemen bukan intra parlemen sebagaimana yang banyak ditempuh oleh parpol-parpol Islam saat ini. Dan hendaklah kaum muslimin berhati-hati ketika memilih jalan yang tidak dicontohkan oleh Rasullullah karena semua itu hanya akan menjadi amal yang sia-sia dan merupakan sesuatu yang batil dan tertolak.
Berserikat dengan para penguasa dalam aktivitas mereka dan berserikat dengan sistem kufur yang mereka terapkan adalah perbuatan mungkar. Jika hal itu diakui untuk melayani Islam dan kaum muslimin justru aktivitas tersebut merupakan upaya penyesatan. Allah berfirman:
“Dan putuskanlah diantara mereka dengan apa-apa yang diturunkan oleh Allah dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dan waspadalah kepada mereka, mereka akan memalingkan engkau dari sebagian apa-apa yang diturunkan Allah kepadamu.â€? (Qs. Al-Maa’idah [5]: 49). Wallahu a’lam bishowab [http://www.hizbut-tahrir.or.id/hayatulislam.net]
Pages: 1 2
24 Comments
on August 10th, 2007 at 01:18
Fakta menunjukkan kalo kemenangan FIS di Aljazair bukanlah kemenangan yang bersifat ideologis. Sekedar kemenangan massa islam saja. Untuk itu umat Islam jangan pernah tertipu dengan kemenangan massa Islam di parlemen. Persoalannya, berjuang via parlemen akan berhadapan dengan banyak kompromi, karena ideologi yang diusung parlemen jelas-jelas sekularisme. Demokrasi dalam parlemen hanya bisa berdampingan dengan kapitalisme atau sosialisme. Sama-sama berasas kufur. Untuk itu memperjuangkan Islam memang tidak mungkin via parlemen. Menanam Islam hanya bisa dipastikan melalui jalan umat. Yaitu membuat agar umat mengemban Islam sebagai way of lifenya.
on November 14th, 2007 at 08:52
Dakwah Intra Parlemen??? Apakah mungkin mengganti suatu asas melalui cara yang telah tidak akan mampu mewadahi kekuatan yang akan membunuh asas itu sendiri??? [yang tentu saja memiliki resistensi demi mengukuhkan asas itu sendiri!!!]. Wallahu a’lam.
on February 11th, 2008 at 17:12
dakwah parlemen, hakikatnya memperjuangkan al haq, yang telah terjual di dalam parlemen. Masuk parlemen bukan berarti kompromi terhadap sistem yang ada, tapi bagaimana kita melakukan perubahan sebuah sistem dimulai dari perangkat yang menghasilkan sistem tersebut.
wallahu’alam
on March 14th, 2008 at 16:04
maaf, saya mau bertanya apakah jika kita didalam parlemen ikut atau tidak ikut terlibat dalam membuat/memutuskan hukum/aturan tandingan dari aturan yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT?
(Lihat QS. Al-Maidah, 44,45,47)
Terapkan Syariah…
Tegakkan Khilafah…
Indonesia Jadi Berkah…
on April 11th, 2008 at 08:45
maaf, sy sedikit berkomentar. berjuang via parlemen itu bahaya. banyak syubahtnya. jika dalam lembaga legislasi atau yg disebut DPR tentu sj tugasnya adalah membuat aturan/kebijakan..didalam badan legislasi banyak pandangan (ideologi) dan visi-misi dari farksi parpol-parpol yang ada.jika ada aturan yang bertentangan dengan prinsip islam dikeluarkan dengan keputusan bersama2 oleh anggota dewan baik parpol atas nama islam maupun yg sekuler. itu menjadi tanggung jawab mereka bersma di hadapan ALLAH SWT.. padahal kalian sudah tau aturan/kebijakan tsbt, sangat merugikan ummat. banyak contoh kasus yg kita dapatkan seperti, baik di pemerintahan pusat maupu di daerah.kalian sama sj mencapur adukan antara haq dengan yang bathil.
on April 22nd, 2008 at 06:54
ijtihadiyah dalam politik memang tidak akan pernah sama dan memang tidak ada keharusan untuk menyamakan.
dakwah intra dan ekstra parlemen mempunyai kelebihan dan kekurangan masing
saya tidak klaim-klaim sepihak, apa tidak indah kalau kita saling melengkapi ?
on April 23rd, 2008 at 19:45
saya setuju dakwah dlm parlemen sekaligus melakukan perubahan melalui parlemen. dan memang seharusnya tugas para dai yg ada di dlm parlemen melakukan perubahan2 thd sistem yg rusak saat ini. tentu dg perjuangan yg jelas dan tegas. tidak sekedar cari muka. tidak ada tawar2an dg sistem kufur yg kokoh saat ini. karenanya para dai di parlemen harus sgr mengganti UUD n UU yg menyengsarakan rakyat dg UU Islami. dan ini pasti akan merubah bentuk negara menjadi negara khilafah. allaaahu akbar!!!
on April 25th, 2008 at 15:41
Saya justru sangat TIDAK SETUJU dengan DAKWAH dalam PARLEMEN dalam pengertian menjadi anggota parlemen dalm sistem kufur seperti saat ini.
Sebaliknya, perjuangan untuk menghancurkan Kapitalisme dan menegakkan KHILAFAH Islamiyah hanya melalui jalur luar pagar dari sistem yang ada saat ini.
on April 26th, 2008 at 12:53
Dakwah intra Parlemen??? Uslub aja sich, tapi penuh dengan resiko. Banyak tokoh Islam yang dulu getol dengan Syari’ah (menyuarakan Syari’ah), tapi setelah masuk Parlemen lupa dengan Syari’ah. Terlena….
on June 4th, 2008 at 20:40
Assalamu’alaikum………..
Saya hanya bisa katakan…………….
Seandainya kursi parlemen indonesia (DPR) diisi oleh 100% (SERATUS PERSEN) dari partai Islam yang ada saat ini, saya berani taruhan deh………….. mereka gak akan bisa apa-apa. Walaupun menang dalam pemilu di semua daerah sekalipun, mereka tidak akan bisa melarang PLAYBOY, tidak akan bisa mewujudkan pendidikan yang gratis apalagi mau mengatur negara ini menjadi mandiri, lepas dari penjajahan yang ada sekarang ini. MUSTAHIL…
Ibarat ingin cuci baju, tapi pake air kencing…………
(kata temen gitu, tapi ini bener lho!)
Wassalam
on June 4th, 2008 at 21:23
Saya malah berharap, seluruh kursi di DPR atau bahkan presidennya dari kalangan orang2 zalim, supaya umat Islam mau bangkit bersama. Tidak seperti sekarang, FPI melakukan kegiatan menentang Aliansi kalangan liberal yg tergabungd alam AKKBB, massa dari oknum2 NU yang seperti “kambing congek” mau saja diadudomba. Mana penentangan GP Anshor terhadap Ahmadiyah? Mana aksi IPNU terhadap maraknya prostitusi pelajar? Mana kiprah Garda Bangsa terhadap pelacuran dan tempat maksiat di depan mata mereka? Hanya FPI yang berani menghancurkan tempat maksiat..
Seharusnya ini menjadi tugas semua kalangan kaum muslimin. Saya justru mengasihani cara pandang Gus Dur dan anak buahnya yang tak mau tahu gurunya salah atau benar… mengapa GD selalu membela yang salah? Tidak pernah sekalipun GD terdengar membela yang benar. :p
Ayo bangkit umat Islam, atau haruskan menunggu penguasa yang zalim terlebih dahulu untuk membangkitkan kemuliaan kalian??
on July 12th, 2008 at 19:44
waduh cerita lama tetep diulang-ulang teru nggak cape’ tah
aneh menentang pemerintah tapi berharap dan meminta perlindungan pemerintah.
secara fakta organisasi yg selama ini ekstra parlemen tetep meminta keputusan pemerintah. sebagai contoh: kasus ahmadiyah kenapa menjadikan SKB 3 menteri dijadikan dukungan terhadap pembatasan ahmadiyah bukankah ini tetap memerlukan campur tangan pemerintah&dewan tuh.
begitu juga keberadaan organisasi ekstra parlemen kan juga tetap minta persetujuan pemerintah dan terdaftar di DEPDAGRI klo kagak gitu entar ditutup deh organisasinya.
Negara ini dibangun oleh perjuangan para syahid pendahulu kita masa’ mau dikasihkan orang-orang zalim apa ngak mengkhianati cita-cita perjuangan dan jihad…!
on July 16th, 2008 at 22:34
waduh tuduhan lama yang terus diulang-ulang nggak cape’ tuh One?
aneh, sistem kufur masih mau dimasuki lewat parlemennya. Aneh pula organisasi yang meminta pemerintah kufur utk menyelesaikan kasus ahmadiyah.
Padahal, sudah jelas tak akan bisa diselesaikan kecuali oleh Khilafah Islamiyah.
Islam ini bersih, jangan campurkan dalam arena sistem kufur seperti yang dilakukan banyak partai Islam yg ada di parlemen demokrasi. Bisanya cuma mengamini kebijakan pemerintah, meski kebijakan itu menyengsarakan rakyat..
Keberadaan mereka dalam sistem kufur yang zalim hanya menambah daftar para pengkhianat umat.. karena tak bisa menjadi pelindung umat. Mereka sendiri membaur dengan pemerintahan rusak dan bejat itu..
Perubahan itu harus ekstra parlemen! Harus revolusi!
on August 7th, 2008 at 15:06
artikel HT abieezzzzz, maklum deh…
Yah kita fastabiqul khairat aja…
ttd
simpatisan PKS
on August 10th, 2008 at 19:49
selain islam adalah fitrah islam juga nasihat…!
Lillahi, LiRasulihi, Likitabihi wa li’aimmatil mu’minin wa ammatahum, HR. Muslim.
Sungguhpun Rasulullah melakukan perubahan dan metode dakwah secara bertahap, sebelum fase madinah Rasulullah melakukan dakwah dan juga beribadah di Baitul Mekkah yang masih dipenuhi dengan Paganisme.
Demikian pula Yusuf AS. sebagai salah seorang menteri di kabinetnya Fir’aun yang tentu aja jauh lebih kufur dari pemerintahan kita diperintahkan Allah untuk menggunakan jabatannya dalam melakukan dakwah.
mau ekstra parlemen atau intra parlemen ya oke-oke ajalah. wong para nabipun mencontohkannya.
Salam Khilafah smoga istiqomah…!
on August 12th, 2008 at 11:32
Al-Qur?an menggambarkan bahwa Nabi Yusuf pernah bekerjasama dengan pemerintahan kuffar (yaitu Mesir) yang sama sekali tidak menegakkan syariat Allah. Jelas kalau melihat dari cerita yang disampaikan oleh al-Qur?an, Yusuf mencoba memperbaiki keadaan Mesir (lebih detilnya lagi adalah sistem keuangan rakyat Mesir) sehingga sesuai dengan ilmu yang beliau miliki (dan ini tidak mungkin keluar dari syariat Allah). Poinnya disini, bergabung dalam pemerintahan yang tidak benar-benar menegakkan syariat Allah tetap dibolehkan selama itu membawa kebaikan untuk masyarakat dengan menjalankan apa-apa dari syariat Allah yang bisa diterapkan walau dalam skala kecil (misalnya dalam kasus Nabi Yusuf disini adalah ibarat menteri keuangan).
Orang yang menjalankan syariat Allah, sekecil apapun itu, sudah bisa dinyatakan sebagai orang yang menegakkan syariat Islam. Hanya skalanya saja yang berbeda. Dan Nabi Yusuf sudah melakukan yang beliau bisa, begitupun misalnya dengan Nabi Daud, Sulaiman atau Muhammad. Masing-masing disesuaikan dengan situasi dan kondisi serta kemampuan yang mereka miliki.
Salah satu tujuan Islam adalah membawa rahmat untuk semua kalangan, jadi cara boleh berbeda, skala boleh berbeda asalkan tujuan tersebut dapat terlaksana.
Dalam ilmu perang, selain kemampuan diri berupa persenjataan/kekuatan ada pula seni dan strategi.
Ini semua harus bisa dikompilasi menjadi satu kesatuan yang utuh secara berkesinambungan sehingga sasaran yang dituju dapat terlaksana. Tidak ada kata akhir dalam suatu perjuangan.
Demikian dari saya.
?
Salamun ?ala manittaba al Huda
Khud al hikmah walau min lisani al kafir
ARMANSYAH
Penulis Buku : Rekonstruksi Sejarah Isa Al-Masih, Jejak Nabi Palsu dan Ramalan Imam Mahdi
Blog :
http://arsiparmansyah.wordpress.com
http://armansyah.swaramuslim.com
http://dunia-it-armansyah.blogspot.com/
on October 9th, 2008 at 15:41
Salam khilafiah… Kalau semuanya jelek dan kita hrs milih, ambil aja yg jeleknya dikit. Kalo semuanya baik. Ambil aja yg baiknya terbanyak. Fastabiqul khoirot aja. Gak pantas kita membenci/memusuhi yg sedang berbuat kebaikan. Kenapa tdk kita dukung ato kita lengkapi kekurangannya. Indah dan sinergis dlm amal jama’i. Allohu ‘alam
on October 22nd, 2008 at 21:17
assalamu’alaikum warohmatullah wabarokatuh,
itulah salamnya orang islam, ALLAHU AKBAR.
knapa harus ada sang hitam, sang orange, sang hijau, sang biru, sang kuning, sang merah. jika putih menyenangkan, jika putih lebih menyejukkan.
kapan islam bersatu kalo para pejuangnya terus terusan saling menyalahkan, saling bertengkar, dst.
ayo bersatu dong,
kalo dipikir2 klo kita emang kita sudah berkata demokrasi sistem kufur, maka kita harus berlepas diri darinya secara totalitas, jangan setengah setengah ya gak? jangan beriman sebagian dan mendustakan yang sebagian,
kita ini orang islam maka sudah seharusnya kita berjuang secara islam, kita ini orang islam maka haruslah kita berjuang berdasarkan Al-quran dan As-Sunnah, bukan dengan dasar perkataan seseorang tanpa dasar.
kita ini orang islam sudah pantaslah kita menggali informasi berdasarkan Al-Quran dan Sunnah.
kita ini umat nabi Muhammad SAW maka pantaslah kita meniru dakwah Rosulullah SAW,
mari kita capai kejayaan umat islam sekali lagi dan untuk selamanya,
ALLAHU AKBAR,
wallahu a’lam
assalamu’alaykum warohmatllah wabarokatuh.
on December 31st, 2008 at 06:46
assalammualaikum wr. wb.
wahai saudara-saudara muslim yang dirahmati ALLAH SWT.
israel sedang menginjak-injak jalur gaza !!!
ingatlah saudara kita disana,
raungan tangis mereka terdengar ditelinga kita?
lalu,
apakah kita hanya berdiam dan terdiam ???
seandainya kita disini yang mengalaminya?
seandainya kita disini yang merasakannya?
seandainya kita?
berangkatlah wahai pasukan ALLAH SWT
bertemu kita di gaza
bersatu kita dalam satu bendera,
Jihad?
kumpulkan,
sumbangkan,
berikanlah?
harta bendamu untuk mereka?
mereka belum makan,
mereka kedinginan dalam gelap malam,
mereka menjerit merasakan pedihnya luka?
tunggu kami gaza,
kami segera datang?
wassalammualaikum wr. wb.
on January 19th, 2009 at 15:54
Yang diperlukan adalah persatuan umat bukan bikin Partai baru
langkah pertama kuasai parlemen, lalu rubah / amandemen UUD nya bila perlu. sehingga memungkinkan khilafah. ini memerlukan waktu yang lama asal arah tidak pernah berubah (Qur’an dan hadist).
Kompromi jika memang belum memungkinkan untuk menghindari keburukan atau pemaksaan. Yang penting umat islam bersatu.
Umat Islam banyak kalah oleh nasionalis (sedikit banyak kurang kaffah dalam beragama), Jangan karena beda dalam khilafiyah/beda sesaat bikin partai baru
on February 27th, 2009 at 14:02
Assalamu’alaikum Warahmatullahi wabarokatuh
Salut buat anak muda yg semangatnya tetap membara demi TEGAKNYA ISLAM. Bekalilah perjalanan dakwah kita dengan ILMU YANG LUAS DAN MENDALAM. AMAL SHOLIH YANG TAK TERPUTUS. “Sungguh beruntung orang yang mengeluarkan kelebihan hartanya dan menahan kelebihan lisannya”. Berfikirlah sebelum bicara BUKAN bicara baru berfikir kemudian.
Ulama salafus sholih dulu sangat berhati-hati ketika diminta fatwa padahal ilmunya sangat luas dan dalam. Namun sekarang banyak orang yang baru belajar Islam mudah sekali mengeluarkan ‘IJTIHAD’ dan ‘FATWA’ yang menyalahkan pihak-pihak yg tidak sependapat dengan mereka.
[www.pkspiyungan.blogspot.com]
on April 15th, 2009 at 12:41
Assalamu’alaikum wr.wb.
Perjuangan menegakkan islam memang tidak mudah, akan menyerap seluruh sumber daya yg kita miliki. Oleh karenanya harus benar-benar direncanakan dengan baik dan detail. Diperlukan konsep yg komprehensif dan aplicable. Selain itu mau tak mau, suka gak suka kita harus mencontoh apa yg telah dilakukan Rasulullah saw dalam melakukan perubahan sosial. Rasulullah mengutamakan dialog tapi bukan berarti tawar-menawar. Rasulullah saw tetap beribadah di Baitul Mekah tapi tidak ikut menyembah atau mengikuti Paganisme. Perubahan hakiki tidak akan terwujud bila menggunakan cara-cara yg tidak sesuai dg tuntunan Rasulullah saw. Seandainya dakwah untuk perubahan total menuju Islam Kaaffah melalui intra parlemen diperbolehkan atau emang lebih efektif, tentu Rasul akan menerima tawaran yg diberikan oleh kaum Kuffar. Menuntut SKB pembubaran Ahmadiyah adalah hak sekaligus kewajiban umat islam, justru ini merupakan bukti nyata bahwa kita peduli terhadap keberadaan Islam. Bedakan antara masuk parlemen dengan menuntut hak dan melaksanakan kewajiban. Jadi tidak ada kaitannya apakah terlibat atau tidak dalam sistem, atau berhutang budi terhadap sistem yg ada.
Sekian dulu..semoga bermanfaat
Wassalamu’alaikum wr.wb.
on April 25th, 2009 at 21:13
Assalamu’alaykum…
Saatnya umat bersatu, tidak lagi terpecah belah dalam berjuang. Tuntunan kita samas, Rasulullah sebagai nabi terakhir, teladan kita, Sang Revolusioner sejati mencontohkan, ‘tidak mengambil tawaran-tawaran dari sistem kufur’. Rasulullah menolak harta, TAHTA, wanita dari tawaran kafir Quraisy waktu itu. Beliau memilih untuk berjuang (berdakwah) tidak mengambil kekuasaan yang ditawarkan, walaupun kekuasaan tersebut jika dilihat sepintas sepertinya bisa mendukung. Tapi Rasululullah MENOLAK. Jika kita istiqomah mengambil teladan dari Rasulullah SAW, seharusnya kita juga sama. TOLAK SISTEM KUFUR ! REVOLUSI ADALAH METODENYA !
(maksudnya revolusi yang dicontohkan Rasulullulah bukan revolusi fisik, tolong jangan salah sangka ya…)
on January 22nd, 2012 at 10:01
Assalamu’alaykum….
menarik diskusinya.. dan saya sebagai pembaca , alhamdulillah lebih tergambar dan mantap untuk memilih pemikiran yg mana.. Inilah diskusi, untuk mencari pilihan terbaik, utn mencari solusi terbaik bagi perubahan masyarakat.. Meski nampak ber”debat”, tapi saya yakin, antum2 semua Niatnya Lurus, bukan mencari Pembenaran atas ie kita, pendapat kita, tapi utk mencari Kebenaran atas Jalan yg telah dituntunkan Alloh ke qt….
Sepkat dg Khilafsh, dan jalan menuju Khilafah tentunya Rasul saw telah menuntunkan.. So, Jalan menuju Khilafah Mestinya SAMA, Ga boleh Beda..
:: Dengan pergerakan, bukan individual; Ga masuk Parlemen ‘demokrasi’ yg JELAS2 mengolok2 Ayat2 Alloh ; ga berazaskan manfaat “ala perasaan qt”; Harus membawa pemahamn Islam yg Sistemik, yg jelas dan terperinci sehingga PASTI beda dg sistem Kufur; dan Istiqomah menetapi kebenaran …….
lanjutkan Diskusi (saling menasehai)