gaulislam edisi 986/tahun ke-19 (2 Rabiul Akhir 1448 H/ 14 September 2026)
Malam minggu, jarum jam menunjukkan pukul dua dini hari. Deru knalpot brong saling bersahut-sahutan di jalanan protokol yang mulai lengang. Bau sangit ban beradu dengan aspal panas. Di pinggir jalan, segerombolan remaja asyik bersorak sambil merekam video memakai ponsel pintar.
“Ayo, Bro! Buktiin nyali lu! Masa ditantang balap lurus 500 meter aja keder? Nggak solider banget lu sama tongkrongan!” seru salah seorang pentolan geng dengan nada memprovokasi.
Merasa harga dirinya dipertaruhkan, seorang cowok belasan tahun akhirnya menarik gas motornya dalam-dalam. Taruhan disepakati, gengsi diangkat tinggi-tinggi. Lampu hijau darurat menyala, kedua motor melesat bak peluru. Namun nahas, beberapa ratus meter di depan, motornya oleng, menyenggol trotoar, dan terpelanting hebat. Bunyi benturan keras memecah keheningan malam. Si joki terkapar bersimbah darah di aspal dingin.
Lalu, apa yang terjadi pada teman-teman satu circle yang tadi gembar-gembor soal loyalitas dan persaudaraan tanpa batas? Begitu sirine mobil patroli polisi meraung dari kejauhan, kepanikan seketika meledak. Bukannya menolong kawan yang sekarat, mereka justru tancap gas! Mereka kabur menyelamatkan diri masing-masing, membiarkan sang kawan menanggung sakit, luka robek, patah tulang, sekaligus ringkukan jeruji besi sendirian.
Ke mana perginya kata “solidaritas tanpa batas” yang sering mereka teriakkan di media sosial? Jawabannya sederhana: lenyap ditelan suara knalpot.
Sobat gaulislam, ilustrasi di atas saya imajinasikan dari informasi di salah satu akun medsos yang mewartakan balap liar. Ini realitas pahit yang sering menghiasi linimasa dan berita kriminal kita. Pertemanan yang dikira membawa kekompakan, nyatanya malah berujung malapetaka. Inilah potret nyata dari racun pergaulan yang hari ini lazim disebut sebagai toxic friendship.
Jebakan “sense of belonging”
Secara psikologis, masa remaja adalah fase transisi pencarian jati diri. Di fase ini, ada dorongan naluriah yang sangat kuat bernama need for affiliation atau kebutuhan untuk diterima oleh kelompok (sense of belonging). Remaja ingin merasa diakui, punya tempat bernaung, dan punya geng yang menganggapnya “ada”. Rasa takut dikucilkan, takut dicap kuper (kurang pergaulan), atau terkena sindrom FOMO (Fear of Missing Out) sering kali menjadi momok yang lebih menakutkan daripada risiko melanggar aturan.
Kondisi inilah yang kerap dimanfaatkan oleh circle yang nggak sehat. Tekanan teman sebaya (peer pressure) hadir dalam bentuk yang sangat halus maupun terang-terangan. Demi sebuah stempel pengakuan “anak gaul”, banyak remaja rela menanggalkan prinsip hidupnya, mengorbankan waktu belajarnya, bahkan melanggar syariat agamanya.
Padahal, mari kita renungkan sejenak: pengakuan macam apa yang layak ditukar dengan keselamatan fisik, masa depan suram, dan murka Allah Ta’ala? Masa muda itu tiket sekali jalan, Bro and Sis. Nggak ada tombol rewind atau replay. Waktu yang terbuang bersama teman yang salah hanya akan menyisakan penyesalan panjang hingga masa tua kelak. Jangan sampe, deh.
Kenali ciri toxic friendship
Agar kita nggak menjadi korban berikutnya dari pertemanan manipulatif, kita butuh radar yang peka. Pertemanan yang beracun biasanya memiliki pola-pola khas yang bisa kita deteksi sejak awal. Ini penjelasannya.
Pertama, mengajak melanggar aturan dan syariat demi solidaritas. Ini tanda bahaya nomor satu. Ciri utama teman beracun adalah selalu menantang batasan moralmu. Dalihnya klasik: “Sekali-kali doang, santai aja!”, “Nggak seru lu kalo nggak ikutan!”, atau “Ah, sok alim banget lu sekarang!” Mulai dari ajakan balapan liar, mencoba rokok dan vape, menenggak miras, nonton konten asusila bareng, bolos sekolah atau kabur dari pesantren, hingga ajakan bermain judi online (judol) yang lagi marak. Bagi mereka, kepatuhanmu pada aturan adalah ancaman bagi kesenangan kelompok. Bahaya banget cara berpikir demikian.
Kedua, memanfaatkan tanpa peduli kondisimu (parasitisme pertemanan). Pernah punya teman satu squad yang ramahnya minta ampun pas lagi butuh tumpangan, butuh contekan, mau pinjam uang, atau minta ditraktir makanan? Tapi anehnya, giliran kamu lagi kesulitan, motor mogok, atau butuh teman bicara saat terpuruk, mereka mendadak sibuk sejuta alasan dan menghilang tanpa jejak alias ghosting. Ini bukan sahabat, Bro en Sis. Ini benalu berwujud teman tongkrongan. Cek aja, kalo ada, jauhi. Tinggalkan.
Ketiga, merendahkan dan meremehkan berkedok bercanda. Candaan dalam pertemanan memang bikin suasana cair. Namun, toxic friendship selalu menyamarkan hinaan, body shaming, dan perundungan (bullying) di balik kata “Baperan amat lu, kan cuma bercanda! Dasar otak kosong!”. Mereka suka menertawakan kekuranganmu di depan umum demi menaikkan status sosial mereka sendiri. Hubungan seperti ini perlahan tapi pasti meremukkan rasa percaya diri dan kesehatan mentalmu. So, jauhi, tinggalkan—termasuk dalam mimpimu.
Keempat, memanipulasi dengan rasa bersalah (guilt tripping). Ketika kamu menolak ajakan mereka karena bertentangan dengan prinsip atau tugas sekolah, mereka akan membuatmu merasa menjadi orang paling jahat sedunia. “Oh, jadi lu sekarang sombong dan nggak asyik, ya?”, “Udah nggak nganggep kita teman lagi, kan lu?” Taktik manipulasi emosional ini bertujuan menundukkan pendirianmu agar kamu terus tunduk pada kehendak kelompok. Alarm bahaya, segera menjauh.
Dari jagat digital hingga bilik asrama
Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Fenomena pertemanan toxic ini bermutasi mengikuti perkembangan zaman. Di era Gen Z dan Gen Alpha, bentuknya makin variatif dan sering kali dibungkus tren media sosial.
Tengok saja fenomena konten prank ekstrem. Demi mengejar algoritma FYP di TikTok atau Instagram, ada sekelompok remaja yang tega menjebak temannya sendiri dalam situasi memalukan yang menjurus pelecehan. Ada pula yang nekat membuat tantangan mengadang truk tronton (prank malaikat maut) demi konten viral bersama kelompoknya. Ketika si korban tertabrak dan meregang nyawa, teman-temannya lari kocar-kacir menyelamatkan diri dari kejaran massa.
Di dunia santri pun, dinamika ini nggak sepenuhnya absen. Kehidupan asrama yang intens 24 jam sehari membuka celah hadirnya circle toxic. Misalnya, fenomena “squad bikin capek”: teman sekamar yang suka meminjam sarung, baju, atau perlengkapan mandi tanpa izin dengan alasan ghasab berjamaah dianggap lumrah. Atau ajakan melanggar jam malam, kabur lewat tembok belakang pesantren demi ngopi di luar, atau mem-bully santri junior dengan label “tradisi asrama”. Duh, memalukan.
Santri yang awalnya berniat lurus menuntut ilmu agama, bisa kehilangan fokus dan keberkahan hanya gara-gara salah memilih lingkaran pertemanan di asrama. Sungguh sebuah kerugian yang teramat besar!
Memilih teman
Islam memandang pertemanan bukan sekadar urusan nongkrong, ngobrol unfaedah, atau seru-seruan pengisi waktu luang. Dalam pandangan Islam, pertemanan adalah perkara akidah dan masa depan akhirat. Kualitas agamamu tercermin dari dengan siapa kamu menghabiskan sebagian besar waktumu.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan dalam sabdanya, “Seseorang itu tergantung pada agama teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat siapa yang dia jadikan teman dekatnya.” (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi)
Hadits ini adalah pedoman emas. Jika teman dekatmu adalah orang yang rajin shalat, berakhlak mulia, dan takut kepada Allah Ta’ala, kamu akan terdorong menjadi pribadi yang serupa. Sebaliknya, jika circle-mu doyan maksiat, meremehkan dosa, dan bangga dengan kenakalan, perlahan tapi pasti hatimu akan membatu dan menganggap dosa sebagai hal biasa.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberikan analogi yang luar biasa cerdas tentang dampak lingkungan pergaulan, “Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat penjual minyak wangi dan pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli darinya, atau minimal engkau mendapatkan aroma harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi ia membakar pakaianmu, atau engkau mendapatkan bau busuk darinya.” (HR al-Bukhari dan Muslim)
Teman yang toxic ibarat sang pandai besi zaman modern: percikan apinya bisa membakar bajumu, mencoreng kehormatan keluargamu, dan menebarkan aroma busuk dosa yang merusak masa depanmu.
Lalu, bagaimana wujud pertemanan yang ideal? Jawabannya adalah persahabatan yang dilandasi kecintaan karena Allah Ta’ala: sahabat sampai surga. Circle positif ini punya ciri-ciri yang sangat menyejukkan jiwa. Nah, kamu perlu tahu ini.
Pertama, saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran. Sebagaimana amanat Allah Ta’ala dalam Surat al-‘Ashr, sahabat sejati nggak akan membiarkanmu hanyut dalam kelalaian. Ketika asyik main game atau nongkrong, dia tanpa ragu mengajak: “Eh, udah azan Ashar nih, ke masjid dulu, yuk!” Tegurannya ikhlas bukan untuk menghakimi, tapi untuk menyelamatkanmu dari siksa api neraka.
Kedua, hadir saat susah maupun senang. Mereka nggak hanya numpang makan saat kamu punya uang, tetapi menjadi tempat bertumpu saat pundakmu terasa berat. Mereka mendengarkan keluh kesahmu tanpa menghakimi dan berusaha membantumu sekuat tenaga tanpa pamrih.
Ketiga, menghargai dan mendukung prestasimu. Nggak ada dengki atau iri hati dalam kamus sahabat sejati. Saat kamu berhasil meraih nilai bagus, menjuarai lomba, atau menuntaskan hafalan al-Quran, mereka tulus berbahagia dan ikut mendoakan keberkahan atas prestasimu.
Persahabatan semacam inilah yang kelak akan abadi melintasi batas dunia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS az-Zukhruf [43]: 67)
Bayangkan betapa mengerikannya hari kiamat ketika geng tongkrongan yang dulu saling membela dalam maksiat, akan saling melaknat dan menuntut di hadapan pengadilan Allah Ta’ala. Sementara orang-orang bertakwa yang saling menggandeng tangan dalam ketaatan, akan saling memberi syafaat untuk melangkah bersama menuju surga-Nya.
Berani berkata “Nggak!”
Sobat gaulislam, ada satu keterampilan hidup yang wajib dimiliki oleh setiap remaja muslim: seni berkata “NGGAK”. Banyak anak muda terjerumus bukan karena mereka jahat, tapi karena mereka terlalu sungkan untuk menolak ajakan yang salah.
Pahamilah, berani berkata “nggak” pada ajakan maksiat bukanlah tanda bahwa kamu pengecut, cemen, atau nggak setia kawan. Justru sebaliknya! Menolak ajakan toxic adalah bukti nyata dari integritas, kecerdasan emosional, dan keberanian sejati. Itu adalah tanda bahwa kamu setia pada prinsip yang lebih mulia daripada sekadar mencari validasi manusia. Catet!
Katakan dengan tegas dan sopan: “Sorry Bro, kalo buat balapan liar atau bolos gue nggak bisa ikut. Gue sayang sama nyawa gue dan gue hormat sama orang tua gue.”
Jika setelah penolakan itu mereka menjauhimu, memusuhimu, atau mengeluarkanmu dari grup obrolan, bersyukurlah! Allah Ta’ala sedang membersihkan hidupmu dari orang-orang yang berpotensi menjadi racun perusak masa depanmu. Pintu keluar dari circle toxic adalah pintu masuk menuju perjumpaan dengan sahabat-sahabat sejati yang membawa keberkahan.
Perlu solusi
Menyelesaikan masalah pergaulan toxic di kalangan remaja nggak cukup hanya dengan saling menyalahkan individu. Dibutuhkan langkah solutif yang komprehensif, baik secara teknis personal maupun sistemik. Ya, selain berani berkata “nggak”, juga kamu perlu solusi. Ada beberapa yang bisa kamu coba.
Pertama, selektif memasang filter. Mulai sekarang, audit lingkaran pertemananmu. Pilah mana teman untuk bertegur sapa biasa, mana teman diskusi ilmiah, dan mana sahabat karib yang dijadikan tempat berbagi rahasia. Jangan buka pintu hidupmu untuk sembarang orang.
Kedua, membangun komunitas positif. Cari dan bergabunglah dengan komunitas yang produktif. Masuklah ke kelompok remaja masjid, majelis taklim, sanggar seni islami, klub olahraga bela diri, atau perkumpulan sains dan kepenulisan. Lingkungan yang aktif dalam kebaikan akan secara otomatis menolak anasir-anasir buruk.
Ketiga, menguatkan kemandirian mental. Latihlah dirimu untuk bangga dengan identitas keislaman. Jangan merasa rendah diri (inferiority complex) hanya karena nggak mengikuti tren yang bertentangan dengan syariat. Jadilah trendsetter kebaikan, bukan pengekor kebatilan.
Nah, selain solusi teknis, kita tentu butuh solusi sistemik. Sebab, menjamurnya fenomena pergaulan liar adalah buah dari penerapan sistem sekuler-kapitalistik yang memisahkan agama dari kehidupan publik dan mengagungkan kebebasan berperilaku (liberalisme). Ketika hedonisme dan popularitas dijadikan tolok ukur kesuksesan, generasi muda kehilangan arah kompas hidupnya. Itu sebabnya, diperlukan perbaikan multi-level.
Pertama, pendidikan keluarga yang hangat dan mengokohkan akidah. Rumah harus menjadi pelabuhan paling nyaman bagi anak. Orang tua nggak boleh hanya sibuk mencari materi, tetapi wajib menyediakan waktu berkualitas untuk mendengarkan, membimbing akidah, dan memberikan apresiasi. Remaja yang kebutuhan afeksi dan validasinya terpenuhi di rumah nggak akan mengemis pengakuan murahan di jalanan.
Kedua, kontrol sosial masyarakat (amar ma’ruf nahi munkar). Benar, masyarakat nggak boleh permisif atau bersikap apatis. Budaya saling peduli dan menegur harus dihidupkan kembali. Misalnya, jika melihat sekumpulan pemuda nongkrong larut malam, gelagat balap liar, atau perilaku menyimpang harus berani menegur. Lingkungan sosial harus menjadi benteng moral yang aktif, bukan penonton pasif.
Ketiga, peran negara dan sistem pendidikan Islam. Negara wajib bertanggung jawab penuh atas pembinaan generasi. Sistem pendidikan harus berlandaskan akidah Islam yang melahirkan kepribadian islami (syakhshiyyah islamiyyah). Selain itu, negara harus tegas menegakkan hukum: menutup akses platform konten perusak moral, menindak tegas bandar dan pelaku perjudian online, merazia peredaran miras dan narkoba, serta melarang segala bentuk aktivitas yang membahayakan nyawa rakyat seperti balapan liar. Negara juga berkewajiban menyediakan ruang-ruang aktualisasi pemuda yang sehat, positif, dan terjangkau.
Ukir jejak emas masa mudamu
Sobat gaulislam, masa mudamu terlalu berharga untuk ditukar dengan kepulan asap knalpot, tawa palsu di tongkrongan toxic, atau penyesalan di balik jeruji besi. Masa muda adalah momentum emas di mana tenaga sedang prima, pikiran sedang tajam, dan tekad sedang membara.
Gunakan energi luar biasa itu untuk menuntut ilmu, menempa keterampilan, memperdalam tsaqafah Islam, dan berjuang menyebarkan dakwah kebaikan di tengah umat. Carilah sahabat-sahabat yang ketika kamu memandangnya, kamu teringat kepada Allah Ta’ala; yang kata-katanya menambah ilmu bagimu; dan yang perilakunya memotivasimu untuk menggapai surga tertinggi.
Tinggalkan tongkrongan yang membahayakan, langkahkan kaki menuju majelis-majelis kebaikan. Karena kelak di hari akhirat, salah satu golongan yang akan mendapatkan naungan Allah Ta’ala di saat nggak ada naungan selain naungan-Nya adalah: pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah, serta dua orang yang saling mencintai karena Allah Ta’ala—berkumpul karena Allah dan berpisah pun karena Allah.
Jadilah bagian dari generasi emas itu. Katakan selamat tinggal pada toxic friendship, jauhi kawan rasa lawan, dan sambutlah “sahabat sampai surga!” Tetap semangat, tetap istiqamah, dan jadilah remaja pembelajar yang menginspirasi dunia! [O. Solihin | Join WhatsApp Channel]
Gabung di WhatsApp Channel Remaja gaulislam Online untuk artikel terbaru!