Thursday, 11 August 2022

Banyak lulusan Al Azhar yang menjadi pemikir Islam terkemuka. Biar kamu makin gaul, kita kenalan yuk dengan dua orang ulama terkemuka lulusan Al Azhar.

Syeikh Sayyid Sabiq

Tau dong kitab Fiqhus Sunnah? Moga-moga kamu udah baca terjemahan kitab itu yang dibuat dalam 14 jilid edisi bahasa Indonesia. Nah, penulisnya adalah seorang alumnus Al Azhar yang bernama Sayyid Sabiq. Ulama ini dilahirkan pada tahun 1915 dan mendapat pendidikan di al-Azhar. Dari situ beliau berkenalan dengan salah satu gerakan Islam terbesari di dunia, al-lkhwan al-Muslimun. Aktivitasnya yang tinggi pada dunia dakwah membuatnya menjadi orang kepercayaan Imam Hasan al-Banna, Mursyidul ‘Am al-Ikhwan al-Muslimun. Pada 1948, beliau bersama-sama al-Ikhwan al-Muslimun menyertai Perang Palestin. Akibatnya, beliau dipenjarakan di bawah tanah pada tahun 1949-1950.

Tidak sekedar berbekal keilmuan, syeikh yang satu ini juga gigih dalam menyampaikan dakwah. Ketika beliau berada dalam penjara, dengan berpijak di atas balai-balai yang telah disusun dalam bilik penjara untuk dijadikan mimbar disebabkan oleh tubuh beliau yang kecil dan kurus, beliau dengan lantang dan bersemangat menerangkan hukum fiqh dan agama terhadap tahanan-tahanan politik yang sama-sama ditangkap bersamanya. Pengawal penjara dan askar yang mengawal mereka turut mengikuti kuliah tidak rasmi beliau itu dari luar jaringan besi penjara.

Pada 1951, beliau bekerja di Kementerian Awqaf Mesir. Dari situ, karirnya menanjak hingga diangkat menjadi Wakil Kementerian Awqaf Mesir. Pada 1964, beliau hijrah ke Yaman untuk kemudian menetap di Arab Saudi untuk menjadi dosen di Kuliah Dakwah dan Usuluddin, Universiti Ummul-Qura selama lebih 20 tahun.

Syeikh Sayyid Sabiq termasuk salah seorang yang banyak berkeliling dunia untuk melakukan dakwah. Banyak negara yang dikunjunginya termasuk Indonesia, Inggris Raya, negara-negara bekas Kesatuan Uni Soviet dan seluruh negara Arab.

Di rumahnya, ulama ini juga membuka pengajian. Pada setiap hari Ahad dikhususkan untuk kaum wanita dan kalangan yang telah berumahtangga. Sementara kelas untuk lelaki diadakan pada setiap hari minggu. Malam Kamis merupakan malam yang dinanti-nantikan oleh semua ahli jemaah yang bersolat Isya’ di Masjid ‘lbadur-Rahman, Akhir Mahattoh, Haiyu Sabie’ karena pada malam itu dikhususkan untuk pengajian yang diisi oleh Syeikh Sayyid Sabiq.

Syeikh Sayyid Sabiq dikenal banyak orang sebagai pria yang berbudi pekerti mulia dan pandai menjaga perhubungan yang baik sesama manusia. Sifatnya yang suka berjenaka, lemah lembut dan menghormati orang lain walaupun dengan kanak-kanak membuatkan beliau disenangi oleh segenap lapisan masyarakat.

Salah satu buku yang menjadi best seller atau masterpiece ulama ini adalah kitab Fiqh Sunnah yang menghimpunkan kira-kira tiga ribu hadis itu dikarang. Kitab itu masih menerima sambutan yang luar biasa daripada umat Islam serta mendapat pengakuan dari ulama seluruh dunia sebagai kitab fiqh terbaik dalam zaman moden ini. Selain itu beliau juga mengarang beberapa buah kitab yang lain seperti, ‘Unsur-unsur Kekuatan Dalam Islam’, ‘Islam Kita’ dan sebuah risalah kecil mengenai riba.

Tanggal 28 Februari 2000, Syeikh Sayyid Sabiq pergi berpulang ke pangkuan Ilahi. Semoga Allah membalas jasa-jasa dan perjuangannya dan melahirkan lagi generasi yang lebih baik dari beliau.

Dr. Yusuf Qardhawi
Wah kalau nama tokoh ini disebut kamu nggak bakal pangling lagi. Yes, nama Dr. Yusuf Qardhawi memang paling sering wara-wiri di berbagai toko buku. Mulai dari buku masalah akidah sampai masalah seni, ulama yang satu ini turut �bicara’. Bisa dibilang, Dr. Yusuf Qardhawi adalah ulama yang produktif dalam menulis. Salah satu masterpiece-nya yang sering jadi bahan diskusi di tengah-tengah kaum muslimin adalah Fiqh Zakat.

Yusuf Qardhawi kecil lahir di sebuah desa kecil di Mesir bernama Shafth Turaab di tengah Delta pada 9 September 1926. Usia 10 tahun, ia sudah hafal al-Qur’an. Menamatkan pendidikan di Ma’had Thantha dan Ma’had Tsanawi, Qardhawi terus melanjutkan ke Universitas al-Azhar, Fakultas Ushuluddin. Dan lulus tahun 1952. Tapi gelar doktornya baru dia peroleh pada tahun 1972 dengan disertasi “Zakat dan Dampaknya Dalam Penanggulangan Kemiskinan”, yang kemudian di sempurnakan menjadi Fiqh Zakat. Sebuah buku yang sangat komprehensif membahas persoalan zakat dengan nuansa modern.

Sebab keterlambatannya meraih gelar doktor, karena dia sempat meninggalkan Mesir akibat kejamnya rezim yang berkuasa saat itu. Ia terpaksa menuju Qatar pada tahun 1961 dan di sana sempat mendirikan Fakultas Syariah di Universitas Qatar. Pada saat yang sama, ia juga mendirikan Pusat Kajian Sejarah dan Sunnah Nabi. Ia mendapat kewarganegaraan Qatar dan menjadikan Doha sebagai tempat tinggalnya.

Dalam perjalanan hidupnya, Qardhawi pernah mengenyam “pendidikan” penjara sejak dari mudanya. Saat Mesir dipegang Raja Faruk, dia masuk bui tahun 1949, saat umurnya masih 23 tahun, karena keterlibatannya dalam pergerakan Ikhwanul Muslimin. Pada April tahun 1956, ia ditangkap lagi saat terjadi Revolusi Juni di Mesir. Bulan Oktober kembali ia mendekam di penjara militer selama dua tahun.

Qardhawi terkenal dengan khutbah-khutbahnya yang berani sehingga sempat dilarang sebagai khatib di sebuah masjid di daerah Zamalik. Alasannya, khutbah-khutbahnya dinilai menciptakan opini umum tentang ketidakadilan rejim saat itu.

Qardhawi memiliki tujuh anak. Empat putri dan tiga putra. Sebagai seorang ulama yang sangat terbuka, dia membebaskan anak-anaknya untuk menuntut ilmu apa saja sesuai dengan minat dan bakat serta kecenderungan masing-masing. Dan hebatnya lagi, dia tidak membedakan pendidikan yang harus ditempuh anak-anak perempuannya dan anak laki-lakinya.

Salah seorang putrinya memperoleh gelar doktor fisika dalam bidang nuklir dari Inggris. Putri keduanya memperoleh gelar doktor dalam bidang kimia juga dari Inggris, sedangkan yang ketiga masih menempuh S3. Adapun yang keempat telah menyelesaikan pendidikan S1-nya di Universitas Texas Amerika.
Anak laki-laki yang pertama menempuh S3 dalam bidang teknik elektro di Amerika, yang kedua belajar di Universitas Darul Ulum Mesir. Sedangkan yang bungsu telah menyelesaikan kuliahnya pada fakultas teknik jurusan listrik.

Qardhawi juga amat selektif terhadap berbagai propaganda pemikiran Barat maupun Timur, termasuk dari kalangan umat Islam sendiri. Dia bukanlah pengikut buta dari mazhab atau gerakan Islam modern tertentu. Bahkan dia tidak segan-segan berbeda pendapat dengan senior-seniornya dalam pergerakan Islam. Singkatnya, Qardhawi memiliki pendirian yang sangat kokoh terhadap apa yang dia yakini sebagai kebenaran dan prinsip Islam, walaupun seringkali mendapat tekanan dari berbagai pihak.

Di mata Qardhawi, umat Islam sudah lama mengidap krisis identitas akibat perang pemikiran (ghazwul fikr) Barat yang tidak menginginkan Islam bangkit kembali. Akibatnya, umat Islam justru lebih percaya kepada peradaban Barat ketimbang pada agamanya sendiri. Oleh karena itu, Qardhawi tak henti-hentinya berusaha mengembalikan identitas umat dengan melakukan penyebaran pemikiran Islam yang benar melalui berbagai tulisan serta seminar-seminar di tingkat internasional.

Qardhawi juga dikenal sebagai seorang ulama yang menolak pembagian ilmu secara dikotomis. Menurutnya, semua ilmu bisa Islami dan tidak Islami, tergantung kepada orang yang memandang dan mempergunakannya. Qardhawi memandang bahwa pemisahan ilmu secara dikotomis telah menghambat kemajuan umat Islam. Padahal, peradaban bisa melesat maju jika peradaban tersebut bisa menyerap sisi-sisi positif dari peradaban yang lebih maju dengan tanpa meninggalkan akar-akar pembangunan peradaban yang dianjurkan Islam. [januar, dari berbagai sumber].

1 thought on “Beberapa Alumnus Al Azhar

  1. terima kasih buat tulisannya…tulisan ini sudah bisa membantu untuk artikel ku…kalau masih ada reperensi yang berkait dengan sayyid sabiq..tolng diexposss atau krim ke mail ku…

Comments are closed.

%d bloggers like this: