Gundul Pacul (2)

Seminar dengan topik ?Syari’at Islam, Bikin Hidup Lebih Hidup‘ yang diselenggarakan oleh siswa-siswi SMU itu dapat dibilang cukup sukses. Tidak kurang dari 1000 peserta hadir memadati ruang aula sekolah. Mereka tidak hanya berasal dari SMU penyelenggara tetapi juga berasal dari SMP dan SMU lain di kota itu. Dari kalangan orang tua siswa dan dewan guru juga cukup banyak yang hadir. Dan yang lebih spesial lagi, beberapa kepala sekolah dan pejabat Diknas ikut mengambil bagian dalam acara itu. Namun khusus untuk siswa SD, TK dan play group untuk sementara tidak diundang dulu dalam acara itu karena khawatir mereka dalam acara itu tiba-tiba serentak menangis karena mengira setelah habis acara mereka akan langsung dikhitan sebagai contoh pelaksanaan syari’at Islam.

Tuan Sufi, sebagai salah seorang pemakalah dalam seminar itu, memaparkan tentang kemuliaan syari’at Islam dalam mengatur pendidikan, ibadah, akhlaq, ekonomi, sampai masalah ngurus negara. Para peserta sangat antusias, yang dapat dilihat dari semangat mereka untuk bertanya dan mencatat uraian itu sambil mengangguk-anggukkan kepala. Tapi tunggu, beberapa ada juga yang kepalanya terangguk-angguk tanda pules dalam tidurnya, zzz… zzz!. Khusus yang ini tidak ikut hitungan. Pada pidato acara penutupan, kepala sekolah mengatakan :”… mulai hari ini, aula dan masjid sekolah, kami jadikan sebagai tempat resmi untuk siswa-siswi Muslim yang ingin mengkaji Islam secara intensif“.? Pidato itu disambut dengan ucapan Alhamdulillah dan Allahu Akbar oleh peserta, karena hal itu berarti permulaan babak baru aktivitas pembinaan keislaman di sekolah itu.

Sebentar, sebentar. Pas dua hari setelah seminar itu, geng Gundul Pacul dan geng Sundel Bolong mengajukan proposal kegiatan ?penting’ kepada kepala sekolah. Mereka merencanakan mengadakan pagelaran musik cadas akbar dengan motto ?Hidup dengan Musik Memang Lebih Hidup‘. Dalam proposalnya mereka menargetkan 2000 peserta akan hadir. Mereka akan menghadirkan tiga group musik cadas, group Calinunut yang personelnya berprofil kucing (kurus dan ceking) karena demen ngemut narkoba, group Kaleng yang pemainnya gemar buka baju untuk memperlihatkan tulang rusuknya yang sebesar lidi, dan group Selir yang didominasi siswi liar dengan pakaian tipikal kuntilanak seperti Britney Spears.

Siswa-siswa Muslim sore itu sengaja berkumpul di Majlis Ta’lim Tuan Sufi untuk mendiskusikan secara serius bagaimana strateginya untuk mencegah acara itu. Tuan Sufi mengusulkan agar ada beberapa perwakilan siswa Muslim menemui kepala sekolah untuk menyatakan penolakannya terhadap acara itu. Karena acara itu jelas-jelas akan mengkampanyekan kemunkaran di tengah-tengah kehidupan sekolah yang saat ini sedang hijau bersemi dengan dakwah Islam. Mereka menyepakati. Pagi itu, 3 siswa dan 3 siswi atas nama perwakilan siswa-siswi Muslim bersilaturrahim kepada kepala sekolah untuk mendiskusikan tentang acara itu.

Senin pagi itu, sekolah dipenuhi oleh poster-poster pagelaran musik cadas, padahal kepastian ijin dari kepala sekolah belum turun. Di pintu masuk terpampang gambar besar personel group Selir sedang tersenyum naas, dan di halaman sekolah terdapat poster besar group Kaleng dan Calinunut yang tersenyum bergaya BBC alias bengal, bloon, dan culas. Tapi tunggu dulu, itu Gondo, aktivis Gundul Pacul, sedang berjalan lunglai dengan muka kusam seperti buah kesemek. Disampingnya juga berjalan lusuh, Sarinem, aktivis Sundel Bolong, dengan muka runyam seperti buah cempedak. Ada apa ya? Rupanya surat keputusan dari kepala sekolah tentang pagelaran itu telah turun. Surat keputusan itu ditempel di semua papan pengumuman sekolah. Isinya? Cukup mengerutkan tulang ekor Gundul Pacul dan Sundel Bolong, “Demi mencegah kemunkaran yang kian meluas, sekolah tidak mengijinkan pagelaran musik yang diusulkan oleh Gundul Pacul dan Sundel Bolong. Semua poster dan spanduk yang berhubungan dengan pagelaran tersebut, mulai detik ini harus dicabut di semua areal sekolah.? (Sadik)

[diambil dari Majalah PERMATA, edisi Juli 2002]

%d bloggers like this: