Imun dan Iman

gaulislam edisi 713/tahun ke-14 (11 Dzulqa’dah 1442 H/ 21 Juni 2021)

Covid-19 kembali mengganas beberapa hari ini. Setidaknya itu berdasarkan informasi di media massa maupun media sosial. Saya tidak akan menyebutkan angkanya, intinya, menurut berita, banyak yang terpapar. Silakan cari sendiri aja, ya. Hehehe… bukan malas nuliskan di sini, tetapi supaya kamu jadi rajin baca info or berita. Biar langsung tahu aja. Jangan cuma stalking seleb idolamu aja. Permasalahan hidup kita dan orang banyak juga perlu dong jadi perhatian.

Sobat gaulislam, ngomong-ngomong soal Covid-19 ini, yang konon penularannya bisa dibilang cepat, berbeda dengan penyakit lainnya seperti TBC misalnya. TBC juga menular, cuma geraknya slow, tetapi kalo Covid-19 gerkanya fast. Udah gitu, kalo TBC kan fasilitas alat dan rumah sakit sudah cukup bagus dan pasien datangnya nggak bersamaan. Berbeda dengan Covid-19 ini, kalo terjadi lonjakan rumah sakit dan nakes bisa kolaps karena pasien datang bersamaan. Jadi, rumah sakit serta nakes seperti ‘diserang’ secara keroyokan, sehingga fasilitas kesehatan jadi jebol. Gitu kira-kira gambarannya. Jadi, sepertinya memang menakutkan.

Oya, pembahasan kita adalah tentang imu dan iman, sesuai judulnya, ya. Imun, menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), artinya kebal terhadap suatu penyakit. Itu sebabnya, ada istilah imunisasi alias upaya pengebalan (terhadap penyakit) melalui penyuntikan vaksin agar tubuh membuat antibodi untuk mencegah penyakit tertentu. Itu sebabnya, sekarang banyak orang menyarankan agar menjaga imun tubuh dengan tujuan supaya kebal terhadap serbuan bakteri dan virus. Berusaha agar nggak kena. Berbagai cara dilakukan untuk meningkatkan imunitas (kekebalan) tubuh agar tak mudah terserang berbagai penyakit. Tentu, supaya nggak sakit, dong ya. Biar tetap fit.

Saran banyak orang sih dan ini kayaknya kamu juga sering denger deh. Betul, untuk menjaga atau meningkatkan imunitas tubuh beberapa saran di antaranya adalah: perbanyak makan sayur dan buah, istirahat yang cukup, rutin berolahraga, hindari stres, dan hindari rokok dan alkohol. Nggak cukup dengan saran tadi, ada juga yang menjajal berbagai suplemen, minimal vitamin C. Masih banyak lagi cara meningkatkan imunitas tubuh, kamu bisa cari sendiri. Intinya, berbagai upaya dilakukan demi tubuh sehat, dan kebal terhadap berbagai penyakit, termasuk virus Covid-19 ini.

Namun demikian, kalo kita omong-omong tentang iman, rasa-rasanya nggak terlalu diperhatikan. Apalagai di masa pandemi ini, fokusnya yang sering disosialisasikan atau dibicarakan adalah imun saja. Jarang aja sih yang membahas kaitan imun dan iman. Atau setidaknya, imun diperhatikan, iman jauh lebih diperhatikan. Berjalan bersama. Prokes untuk imunitas dalam mencegah penyakit dijalankan serius, tawakal dan taat syariat juga mestinya diterapkan. Banyak asupan makanan bergizi, juga perbanyak zikir (ninimal zikir pagi dan petang jangan lewat). Rutin berolahraga, ya barengin juga dong dengan rutin qiyamul lail. Hindari stres dengan cara mendekatkan diri kepada Allah dan yakin atas pertolongan Allah. Kan, itu mestinya yang disosialisasikan, sehingga masyarakat, khususnya kaum muslimin tenang dan tentram.

Nah, kembali ke pertanyaan tadi, kenapa untuk ngomongin iman di tengah pandemi ini seolah terpinggirkan. Fokusnya seolah pada imun tubuh saja. Oh, mungkin karena pembahasan iman sudah tahu atau merasa itu urusan masing-masing individu sehingga nggak perlu dibahas di forum umum. Padahal, iman juga penting, bahkan sangat penting disosialisasikan, apalagi di masa pandemi ini. Why? Karena bukan saja untuk menyelamatkan kita di dunia, tetapi sekaligus di akhirat kelak. Nah, itu poinnya.

Oya, jika pun sudah menerapkan prokes untuk imun tubuh dan juga meningkatkan iman dengan banyak tilawah al-Quran, zikir, dan qiyamul lail, tetapi kena juga covid-19, ya bersabar aja. Itu ujian dari Allah. Ketimbang fokus menerapkan prokes untuk imun tubuh, tetapi abai terhadap persoalan iman sehingga lalai dari berzikir, ogah tilawah al-Quran, dan malas qiyamul lail, lalu kena penyakit pula. Khawatirnya, itu bukan ujian, tetapi musibah yang berupa peringatan (atau bahkan azab).

Sehat tubuh, sehat jiwa

Sobat gaulislam, tentu saja ini idealnya. Sebab, tak mudah mendapatkan keduanya. Kita bisa melihat dalam kehidupan sehari-hari: ada yang gagah, jarang atau bahkan tak pernah sakit, rutin berolahraga, suplemen disuplai terus, istirahat cukup, doyan makan sayur dan buah, tetapi shalat kadang dikerjakan kadang tidak. Zikir ditinggalkan, karena nggak merasa perlu. Tilawah al-Quran tak pernah dilakukan karena sibuk urusan kerjaan. Malah, ada juga yang doyan maksiat. Duh, ini sih sehat tubuh tapi nggak sehat jiwanya. Ngeri.

Begitu pun ada yang rajin shalat, rutin zikir, biasa tilawah al-Quran, getol qiyamul lail, tetapi sering sakit-sakitan. Nggak asyik juga sih. Kan kepengennya sehat supaya rajin ibadah dan beramal shalih. Cuma, kondisi ini masih tetap lebih baik ketimbang kondisi pertama tadi. Betul, idealnya memang keduanya dijaga: imun dan iman. Hanya saja, kondisi ideal itu tak selalu ada, tak selalu bisa.

Namun demikian, rasanya semua dari kita sepakat banget kalo pengennya ya sehat badan, sehat jiwa juga. Imun tubuh oke, iman juga meningkat. Mukmin yang kuat lebih disukai dibanding mukmin yang lemah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada Mukmin yang lemah.” (HR Muslim)

Kalo tubuh kita sehat dan kuat, maka kita punya kesempatan untuk ibadah, melakukan ketaatan, dan banyak beramal shalih. Syaikh Shalih al-Fauzan menjelaskan maksud hadits, “(Yaitu) Seorang mukmin yang kuat iman dan kuat badan serta amalnya, ini lebih baik daripada seorang mukmin yang lemah imannya dan lemah badan serta amalnya, karena mukmin yang kuat akan produktif dan memberikan manfaat bagi kaum muslimin dengan kekuatan badan, iman dan amalnya.” (al-Muntaqa, jilid 5, hlm. 380, dinukil dalam laman muslim.or.id)

Selain itu, jika kita ingin agar tubuh kita sehat, maka jauhi maksiat. Sebab, dengan menghindari maksiat, maka Allah Ta’ala akan menjaga hamba-Nya. Tentu saja penjagaan Allah terhadap hamba-Nya itu termasuk juga dalam masalah kesehatan badan. Sesuai dengan makna hadits, “Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu.” (HR Tirmidzi, shahih)

Ibnu Rajab al-Hambali mengisahkan beberapa ulama dahulu yang telah berusia lebih dari 100 tahun tapi masih fit dan sehat. Hal itu mereka dapatkan karena menjaga diri dari maksiat kepada Allah di masa mudanya. Ibnu Rajab berkata, “Sebagian ulama ada yang sudah berusia di atas 100 tahun, namun ketika itu, mereka masih diberi kekuatan dan kecerdasan. Ada seorang ulama yang pernah melompat dengan lompatan yang sangat jauh, lalu  ia diperingati dengan lembut. Ulama tersebut mengatakan, “Anggota badan ini selalu aku jaga dari berbuat maksiat ketika aku muda, maka Allah menjaga anggota badanku ketika waktu tuaku.”

Namun sebaliknya, ada yang melihat seorang sudah jompo/ dan biasa mengemis pada manusia. Maka ia berkata, “Ini adalah orang lemah yang selalu melalaikan hak Allah di waktu mudanya, maka Allah pun melalaikan dirinya di waktu tuanya.” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, hlm. 249, dinukil laman muslim.or.id)

 So, kalo pengen sehat tubuh dan sehat jiwa, yakni imun oke, iman yes, maka jangan doyan maksiat.

Sama tak terlihat, tetapi beda respon

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Sakit itu dihindari semua orang. Supaya nggak sakit, menjaga diri dari hal-hal yang berpotensi membuat sakit. Itu manusiawi. Kayak sekarang nih, virus Covid-19 itu kecil, sangat kecil, tak terlihat langsung dengan mata kita. Kita tahu virus itu ada berdasarkan informasi dari orang yang berkompeten dan sudah melihatnya melalui alat bernama mikroskop seri tercanggih, yang disebut mikroskop elektron.

Banyak orang lalu percaya bahwa virus itu ada berdasarkan informasi tersebut. Lengkap dengan segala karakternya, intinya membahayakan. Lalu, berusaha untuk menghindar agar tak ‘digigit’ virus dengan taat prokes. Logis, sih. Ini seluruh manusia, lho. Mukmin atau kafir. Respon untuk kasus ini sama, sehingga berusaha meningkatkan imunitas tubuhnya.

Nah, sekarang jika kita mengobrol soal iman, rasa-rasanya malah jadi beda respon. Selain yang udah dibahas di awal bahwa bisa jadi karena pembahasan iman dianggap sebagai ruang pribadi, sehingga nggak perlu dibahas di ruang publik, juga karena bisa jadi lebih banyak menuruti hawa nafsunya. Gampangnya begini, Allah Ta’ala itu pasti ada (walau tak terlihat), surga dan neraka juga ada (walau tak terlihat). Kita tahu Allah Ta’ala itu ada, surga dan neraka juga ada dari wahyu. Al-Quran menjelaskan semuanya. Namun, tak semua orang ternyata jadi mukmin, tak semua orang lantas memilih Islam sebagai agamanya. Termasuk tak semua muslim juga mau lebih mendekat kepada Allah Ta’ala, dan malah lebih mendekat dan percaya dengan kata-kata manusia.

Jika sama-sama tak terlihat, mestinya responnya sama, ya. Kita takut kena virus, lalu menjaga prokes dan disiplin menjaga imunitas tubuh. Jika takut akan perhitungan di yaumil hisab semestinya kita kian dekat dengan Allah Ta’ala dan berusaha menjaga diri agar tetap dalam jalan kebenaran Islam, jauhi maksiat. Begitu seharusnya. Jangan cuma fokus pada imun, tetapi abai pada iman.

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitab Fawaidul Fawaid (terjemahan, hlm. 399-400), menjelaskan tentang hakikat keimanan yang benar. Menurut beliau, iman yang sebenarnya adalah hakikat yang tersusun dari: (1) pemahaman tentang semua perkara yang dibawa oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dari segi pengetahuan, (2) pembenaran terhadap semua itu dalam bentuk aqidah, (3) pengakuan terhadap semua itu dalam bentuk ucapan (yakni syahadat), (4) ketaatan terhadap semua itu dalam bentuk cinta dan ketundukan, (5) pengamalan terhadap semua itu secara lahir dan batin, serta (6) melaksanakan dan menyerukan semua itu sebatas kemampuan.

Ciri kesempurnaan iman adalah cinta dan benci karena Allah, memberi dan menahan karena Allah, serta Allah saja satu-satu-Nya Rabb yang disembah atau diibadahinya. Iman yang sempurna hanya dapat diraih dengan mengikuti Rasulullah, baik secara lahir maupun batin, dan tidak menolehkan mata hati kepada selain Allah dan Rasul-Nya. Hanya kepada Allah kita memohon taufik.

Siapa saja yang sibuk beribadah kepada Allah daripada melayani diri sendiri, maka Allah mencukupinya dengan memenuhi kebutuhan hidupnya. Dan, siapa saja yang sibuk dengan beribadah kepada Allah daripada melayani orang lain, maka Allah mencukupinya dalam memenuhi kebutuhan hidup orang lain.

Sebaliknya, siapa saja yang sibuk melayani diri sendiri daripada beribadah kepada Allah, maka Allah akan menyerahkan urusannya kepada dirinya sendiri. Dan, siapa saja yang sibuk melayani orang lain daripada beribadah kepada Allah, maka Allah menyerahkan urusannya kepada mereka.

Jadi, kalo kita fokus pada peningkatan imun tanpa dibarengi peningkatan iman, maka bersiaplah jika urusan tersebut dibebankan kepada kita tanpa pertolongan dari Allah Ta’ala. Itu sebabnya, selain meningkatkan imun tubuh, tingkatkan juga iman kita kepada Allah. Supaya Allah Ta’ala menjaga kita, termasuk kesehatan kita.

Jadi, alangkah indahnya jika sebagai muslim kita lebih fokus mendekat kepada Allah, meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada-Nya, banyak qiyamul lail, getol tilawah al-Quran, rutin berzikir, semangat berdakwah, dan jauhi maksiat. Adapun menerapkan prokes agar imunitas terjaga, itu bagian dari ikhtiar yang nggak boleh menyingkirkan tawakal kita kepada Allah. Siap, ya. Jaga imun, jaga iman. Badan sehat, jiwa kuat. Taat syariat, jauhi maksiat. [O. Solihin | IG @osolihin]

Leave a Reply

  

  

  

%d bloggers like this: