Ir. Umar Abdullah: “Kenaikan Harga Minyak Untungkan Para Kapitalis” 4

umara.jpgHarga minyak naik, masyarakat, khususnya golongan ekonomi menengah ke bawah, pasti menjerit. Tapi mungkin banyak yang tidak tahu. Kenapa harga minyak naik? Pemerintah selalu ngomong bahwa dengan naiknya harga minyak dunia subsidi semakin besar dan memberatkan APBN sehingga harus dipangkas. Kenapa bisa begitu?

GI-Online melakukan wawancara dengan Ir. Umar Abdullah, Direktur Media Islam Net dan juga narasumber rubrik Indahnya Ekonomi Islam dalam program Voice of Islam. Berikut petikannya.

Harga minyak naik lagi. Kenapa hal ini bisa terjadi?

Harga minyak yang harus dibayar masyarakat naik karena pemerintah tidak mau lagi mensubsidi harga minyak. Gambaran sederhananya begini, misalnya harga minyak jenis bensin di pasaran dunia ambil saja Rp 12.000/ liter sementara masyarakat membeli dengan harga Rp 4500/ liter. Karena pemerintah harus membeli bensin tadi dengan harga pasaran internasional, maka pemerintah nomboki Rp 7500/liternya. Berapa yang harus ditanggung pemerintah? Rp 7500 dikali berapa jumlah konsumsi masyarakat terhadap bensin itu dalam satu tahun. Untuk nomboki pemerintah harus nambah hutang baik melalui pinjaman luar negeri maupun pemerintah menerbitkan obligasi alias surat utang. Nah, jika hutang pemerintah semakin besar maka akan membuat defisit APBN semakin besar. Keuangan negara menjadi sangat tidak sehat, karena antara pendapatan dan pengeluaran jauh lebih besar pengeluarannya. Agar pengeluaran tidak terlalu besar maka subsidi bensin tadi dikurangi atau kalau perlu dicabut. Itulah yang membuat naiknya harga minyak yang dibayar oleh masyarakat.

Pemerintah kita membeli minyak dengan harga pasaran internasional, berarti kita ini impor dong? Bukankah kita ini negara pengekspor minyak?

Betul. NKRI ini memang aneh bin ajaib. Negara pengekspor minyak sekaligus pengimpor minyak. Bahkan impornya jauh lebih besar dari ekspornya. Gila kan? Memang dulu tahun 1962 ketika NKRI baru bergabung dengan OPEC bisa dikatakan kita termasuk negara pengekspor minyak yang cukup penting. Waktu itu produksi kita sekitar 1,6 juta barrel per hari, sedangkan konsumsi kita kurang dari 1 juta barrel per hari. Jadi masih ada yang bisa diekspor. Saat itu yang mengeksplor tenaga-tenaga ahli dari luar negeri. Waktu itu Bung Karno bilang, biar saja sekarang orang-orang asing itu yang menggarap minyak kita, nanti jika kita sudah punya banyak insinyur-insinyur, maka akan kita garap sendiri. Namun keadaan berubah, Bung Karno dijatuhkan oleh AS setelah menolak tunduk pada AS dengan mengatakan Go to Hell with Your Aids, kemudian AS mendudukkan Pak Harto sebagai penguasa di Indonesia. Sejak itu makin menjadi-jadilah kekayaan alam di Indonesia ini dirampok oleh bangsa-bangsa Asing, khususnya AS dan Eropa, termasuk kekayaan minyaknya. Keadaan ini berlanjut hingga kini. Penguasa-penguasa tidak lebih baik dibanding Pak Harto, bahkan cenderung semakin melemah terhadap tekanan kaum Kapitalis Asing. Pertamina yang seharusnya menguasai seluruh ladang dan kilang minyak, hanya menguasai sekitar 8 % saja. Sisanya yang sekitar 92 % dikuasai oleh Kapitalis Asing. Bahkan saat ini, 40 % saham Pertamina pun sudah dimiliki Asing, negara hanya memiliki 60 % saham Pertamina.

Pada saat yang sama, konsumsi minyak semakin bertambah. Jumlah masyarakat semakin bertambah, aktivitas yang menggunakan energi minyak juga makin beragam, sementara kemampuan Pertamina sebagai perusahaan milik negara sangat kecil. Kita punya minyak tapi nggak bisa pakai minyak sendiri, karena 90 % sudah dikuasai swasta asing. Akhirnya untuk mencukupi kebutuhan masyarakat, Pemerintah mengimpor minyak. Jadilah negara yang seharusnya sebagai pengekspor minyak malah menjadi negara pengimpor minyak.

Apakah itu juga jawaban kenapa setiap kali terjadi kenaikan harga minyak di pasaran dunia, Indonesia bukannya gembira, malah sedih?

Ya, tepat. Berbeda keadaannya dengan negara-negara Timur Tengah yang masih menjadi pengekspor minyak. Dengan kenaikan harga minyak di pasaran dunia, negara-negara di Timur Tengah menikmati keuntungan yang berlipat. Bahkan kabarnya sekarang mereka sedang merencanakan proyek-proyek raksasa. TKI yang diminta bukan lagi tenaga-tenaga sektor non-formal seperti PRT, tetapi tenaga-tenaga sektor formal.

Berarti yang untung adalah para produsen minyak. Sementara yang buntung adalah para pengimpor minyak. Begitu?

Ya betul. Yang sangat untung adalah para pemilik ladang dan kilang minyak. Lebih tepatnya pemiliki kilang minyak. Karena pemilik ladang minyak baru menghasilkan minyak mentah (crude oil) yang belum bisa digunakan dan memerlukan proses panjang melalui kilang minyak hingga siap dipakai. Nah, kilang-kilang minyak di dunia ini 60 persennya berada di negara-negara industri. Sebagian besarnya dimiliki oleh para kapitalis yang mempunyai perusahaan-perusahaan raksasa. Sebut saja: Chevron, ExxonMobil, ConocoPhilips, Texaco, BP, Shell, UNOCAL, Halliburton, dan lain-lain. Merekalah yang menguasai jalur pengolahan minyak dan produk-produk hasil olahan dari kilang minyak, seperti bensin, minyak diesel, avtur, minyak bakar, kerosen, parafin (minyak tanah), aspal dan lain-lain. Jelas, kenaikan harga minyak ini menguntungkan para kapitalis.

Kalau tadi tentang harga minyak di Indonesia dinaikkan. Sekarang pertanyaannya, mengapa harga minyak internasional terus meningkat? Apa penyebabnya?

Inilah yang sekarang cukup dipusingkan oleh banyak orang. Karena menurut hukum pasar semestinya harga tidak perlu naik. Kenapa? Permintaan atas minyak juga tidak terjadi kelonjakan. Begitu pun produksi minyak negara-negara penghasil minyak juga cenderung meningkat. Sehingga mestinya harga stabil. Sebelum ada gonjang-ganjing ini, yakni sebelum tahun 2004 harga minyak stabil di level 30 US $/ barrel. Namun sekarang sempat menembus 120 US $/barrel. Empat kali lipatnya. Harga saham perusahaan-perusahaan minyak pun akhirnya meningkat tajam. Nah saya menduga, bahwa ini ulah para spekulan, para kapitalis minyak yang sedang bermain mata untuk membuat opini dan move-move agar mereka meraup untung yang sebesar-besarnya. Dibuat opini yang membuat dunia khawatir. Ada opini bahwa minyak akan habis 45 tahun lagi sehingga harus ada penghematan. Mekanisme penghematan yang dipakai adalah dengan kenaikan harga. Ada opini Cina akan menyimpan minyak untuk penguatan diri menjadi superpower berikutnya sehingga untuk menghalangi Cina ada justifikasi harga minyak dibuat tinggi.

Apakah para Kapitalis Minyak itu tidak kasihan terhadap masyarakat dunia akibat naiknya harga minyak ini?

Kata kasihan sudah lama ditinggalkan dalam peradaban Kapitalisme. Siapa yang kuat dialah yang menang. Persetan dengan masyarakat, bahkan persetan dengan negaranya. Afghanistan diserang AS adalah untuk kepentingan minyak. Irak diserang AS adalah untuk kepentingan minyak. Apakah untuk kepentingan negara AS? Tidak! Tapi untuk kepentingan para kapitalis minyak pimpinan George Bush yang dilanjutkan oleh anaknya George Walker Bush yang siap memangsa minyak di kawasan Asia Tengah hingga Geogia, dan mengamankan penyaluran minyak ke Laut Tengah. Ekonomi negara AS carut-marut karena anggaran militer yang membengkak, tidak jadi perhatian para kapitalis. Ribuan prajurit AS mati di Irak, adalah angka yang tak meresahkan para kapitalis. Bahkan 3000 rakyat AS dikorbankan dalam tragedi 11 September 2001 agar George Walker Bush punya justifikasi menyerang Afghanistan pun juga tidak jadi soal.? Jadi jangankan mengasihani rakyat Indonesia, bangsanya sendiri pun bisa dikorbankan kalau perlu.

Lalu apa yang harus dilakukan?

Yang jelas, jangan pernah meminta belas kasihan para kapitalis itu. Yang harus kita lakukan adalah percaya pada Allah bahwa Allah akan menolong kita. Menolong kita dari makar para kapitalis itu. Syaratnya apa? Syaratnya kita harus jalankan apa yang diperintahkan Allah dan tinggalkan apa-apa yang dilarang Allah. Yakin jika kita melaksanakan itu, maka kita akan mendapatkan kekuatan dari Allah, kita akan mendapat kemuliaan dari Allah Swt.

Bagaimana caranya?

Yang pertama, jangan pernah taat dan patuh pada apa yang dinamakan sebagai sistem Kapitalisme. Sekali kita taat maka kita pasti akan terjebak dan Allah Ta’ala tidak akan menolong kita lagi. Jangan pernah takut menghadapi negara-negara kapitalis seperti AS, Inggris, Perancis, Jerman dan Rusia. Yang kita takuti hanyalah Allah Swt.

Yang kedua, terapkan syariat Allah dalam hal energi. Allah melalui RasulNya yang mulia telah mewahyukan tuntunan tentang energi. Rasulullah saw. bersabda: “Al-Muslimuuna syurakaa`u fiy tsalatsin: fil kalaa’i, fil maa’i wan naari.” Artinya: kaum muslimin itu berserikat dalam tiga perkara, dalam air, dalam padang gembalaan, dalam api. Tiga perkara ini, air, padang gembalaan dan api adalah energi-energi terpenting di masa Rasulullah saw., baik untuk manusia maupun untuk kendaraan yang saat itu masih hewan tunggangan seperti kuda dan unta. Nah, terhadap energi ini Islam menggariskan bahwa energi adalah milik bersama, tidak boleh ada satu pihak yang memonopoli kepemilikannya atau penggunaannya. Agar tidak terjadi kekacauan dan lebih tertib dalam pemanfaatannya, negara mewakili kaum muslimin, mengeksplorasinya, mengeksploitasinya dan mendistribusikannya ke seluruh warga negara. Sehingga sebagai contoh, minyak, maka negara harus menghentikan swasta, baik swasta dalam negeri apalagi Asing untuk menguasai ladang dan kilang minyak di Indonesia. Negara harus mengambil alih itu semua. Jangan pernah takut pada Kapitalis Asing. Mereka juga manusia. Kalau kita berani mereka akan takut.

Yang ketiga, distribusikan energi, misalnya minyak ke seluruh warga negara, jika masih lebih maka simpan untuk cadangan. Jika masih lebih juga maka boleh dijual ke luar negeri dengan harga pasaran internasional. Hasilnya dibagikan ke masyarakat dalam bentuk fasilitas umum dan keperluan-keperluan masyarakat lainnya.

Apakah ada jaminan bahwa masalah kebutuhan energi ini bisa terselesaikan dengan cara itu?

Yang menjamin adalah Allah. Allah SWT berfirman: “Walau anna ahlal quraa aaamanuu wat taqau lafatahna ?alaihim barakaatin minas samaa`i wal ardh wa lakin kadzdzabuu fa akhadznaahum bimaa kaanu yaksibuun.” Artinya, “Seandainya penduduk negeri percaya dan bertaqwa niscaya akan kami bukakan barakah dari langit dan dari bumi. Akan tetapi mereka mendustakan maka kami cabut (barakah tadi) karena perbuatan mereka itu.”

Jadi, jika kita percaya bahwa Allah Swt. sajalah yang tahu apa itu minyak dan bagaimana pemanfaatannya, lalu kita menjalankan sesuai dengan petunjuk dari sang pembuat minyak, maka minyak itu pasti berkah. Namun jika kita tidak percaya kepada Sang pembuat minyak, lalu kita manfaatkan minyak tadi dengan akal kita sendiri, apalagi dengan akal kapitalistik, maka keberkahan minyak itu akan hilang. Yang ada tinggal bencana. Naudzu billahi min dzalik.

Jadi jika kita lebih percaya kepada Kapitalisme daripada Syariat Islam, lebih takut kepada para Kapitalis daripada kepada Allah azza wa jalla, maka tunggu saja bencana-bencana berikutnya sudah menanti kita. Namun jika kita campakkan Kapitalisme ke tong sampah peradaban, kita remehkan gertakan Kapitalis cinta dunia dan takut mati itu, maka Allah Swt. akan melindungi kita, akan mencintai kita, dan akan memberikan kita keberkahan-keberkahan yang belum pernah kita bayangkan. Yakin itu. [GI-Online]

4 thoughts on “Ir. Umar Abdullah: “Kenaikan Harga Minyak Untungkan Para Kapitalis”

  1. Ridwan May 17,2008 08:23

    Allahu Akbar!
    Allahu Akbar!
    Allahu Akbar!

    Para kapitalis itu memang terlaknat. Mereka berpesta pora di atas penderitaan rakyat banyak!

    Saudara2qu…. mari brjuang untuk tegakkan Islam di muka bumi ini, agar para kapitalis tak mendapat tempat untuk menyiksa kita!!!

  2. nurhusna May 18,2008 05:41

    ??? ????? ???????? ???? ????? ?? ????? ?????
    ??? ?? ??? ????? ????? ?????? ?????? ????? ????? ?? ?????? ?????? ???? ????? ???????? ??? ????? ??????
    coba ja rakyat Indonesia mau bersyukur, beriman dan bertakwa, pasti deh subur makmur sejahtera, pendidikan gratis, BBM gratis, listrik gratis, bebas bencana, lumpur lapindo mampet, hak2 manusia terlindungi.
    Allahu Akbar!
    Kita perjuangkan Islam
    Insya Allah, yg gratis2 di atas bakal tercapai dg sendirinya secara otomatis.
    Allahu Akbar!

  3. harry Jun 28,2008 19:23

    Kenaikan harga BBM merupakan solusi untuk menghadapi kenaikan minyak dunia yang sangat tinggi. salah satu refrensi dapat dilihat disini.

    http://priyadi.net/archives/2008/05/15/roti-dan-sirkus/

    Yang Jelas kebutuhan manusia akan BBM semakin banyak seiring dengan pertambahan manusi di bumi ini. cadangan Minyak bukanlah sumberdaya alam yang terbarukan. tentu kita tahu bahwa suatu saat itu akan habis.

    subsidi dipertahankan -> harga2 dipertahankan rendah secara artificial -> masyarakat mengira kemampuan ekonomi mereka lebih tinggi daripada yang sebenarnya -> gaya hidup dan populasi meningkat -> demand naik dan supply tetap terbatas -> harga bbm naik -> impor bbm terus bertambah -> APBN jebol sedangkan tanggungan negara bertambah -> rupiah terjun bebas -> hiperinflasi -> yang susah rakyat juga

  4. rizki Jan 14,2009 14:36

    saya juga awalnya benci banget ama yang namanya chevron dsb…
    tapi saya baru liat dengan mata kepala saya untuk chevron…
    saya kagum dengan chevron, walau mengebor minyak, tapi mereka berupaya sekuat tenaga untuk tetap mempertahankan kelestarian hutan.
    saya mirisnya, ketika di pengadilan mereka kalah atas sebagian lahan yang telah jadi hak milik chevron riau. Malah yang menang adl petani sawit, jadinya? (karena chevron ogah nyuap)
    sebagian lahan hutan dibabat dijadikan lahan sawit…. sedih banget ga sih ngeliatnya?
    coba kalo chevron yang menang…… hutanku masih terpelihara dan ekosistem terjaga

Comments are closed.

%d bloggers like this: