Kini Tapi Kuno 1

Pemenuhan naluri seksual secara tidak senonoh sebenarnya telah terjadi semenjak jumlah manusia masih bisa dihitung dengan jari. Pada masa Nabi Musa dan Harun ada sel teroris yang bernama Fir’aun. Menurut perhitungan Tuan Sufi, sebelum George W Bush memproklamirkan diri sebagai bapak teroris dunia, sebenarnya Fir’aun telah lebih dulu jadi kakek moyang teroris. Fir’aun-lah yang telah menebar teror untuk menumpas semua bayi laki-laki yang tak berdosa. Mungkin pada masa itu semua bayi laki-laki oleh Fir’aun dituding sebagai anggota jaringan teroris yang mesti dilenyapkan. Misalnya dengan nama operasi the war against terrorist baby. Semua orang juga dipaksa untuk memuja, mengagungkan, menuhankan, dan menyembahnya. Kuali besar berisi minyak mendidih telah disiapkan sebagai swimming pool gratis bagi mereka yang berani menentangnya.

Cerita seksual pada masa Fir’aun tidak kalah serunya. Fir’aun dan para pembesar istana mempunyai agenda rutin yang super ngeres. Setiap acara makan malam, gadis-gadis cantik belia diperintahkan memperagakan berbagai ‘benda antik’ yang mereka miliki. Mereka melakukan tarian perut ala Mesir kuno dengan berbagai versinya yang 99.9 persen telanjang. Rilnya seperti apa sih? Weleh, jangan terlalu jauh nanti malah jatuh jadi Fir’aun. Tarian perut para gadis itu sekedar dianggap sebagai makanan pencuci mulut, karena setelah itu dilanjutkan dengan pergumulan massal. Tapi pergumulannya tidak seperti olahraga kick boxing atau sumo, melainkan seperti ayam jantan menyantap ayam betina alias zina bebas dan terbuka. Rakyat Fir’aun yang tersesat langsung terobsesi, mereka ikut melakukan hal yang serupa di lapangan maupun di pasar. Sesuai dengan pribahasa, raja kencing berdiri, rakyat kencing di celana.

Lain masa lain pula ceritanya. Pada masa Nabi Luth, masyarakat Sodom memiliki kebiasaan seksual yang sangat jorok dan menjijikkan. Para pria menyalurkan hasratnya bukan kepada wanita yang telah sah dinikahinya, tetapi justru kepada sesama prianya. Bisa jadi, seorang pria bermuka brewok bermesraan dengan pria lain yang berbadan gempal. Bahkan malaikat yang bertamu kepada Nabi Luth tidak luput dari incaran mereka untuk diajak melakukan praktek esek-esek. Kalau saja jin ifrit menampakkan diri, mungkin juga akan dikencani oleh mereka. Parade seksual kotor tersebut kemudian dikenal dengan nama sodomi, alias pendayagunaan bemper belakang pria.

Allah Maha Tinggi dan Maha Perkasa. Dengan segala kemaksiatan dan kesombongannya, Fir’aun akhirnya ditenggelamkan di Laut Merah. Sementara umat Nabi Luth dihujani batu yang ditimpakan oleh Allah SWT dari neraka Sijjil. Namun kini, tarian perut serta perzinahan bebas dan sodomi masih bergentayangan dan mengancam para korbannya. Berbagai versinya bahkan telah dikembangkan untuk memenuhi selera kotor para penganutnya. Jadi kata Tuan Sufi, para pengusung aliran Inul atau Inulisme yang menuhankan kebebasan berekspresi ataupun para penyaji pornografi dan seks bebas bukanlah kemajuan tapi suatu kemunduran dan kekunoan menuju masa Fir’aun. Sementara gay dan lesbi tidak lebih dari jiplakan masyarakat Sodom yang keji dan menjijikkan. Kemajuan sejati hanya ada pada syari’at Islam yang tinggi dan mulia. [Sadik]

[diambil dari Majalah PERMATA, edisi Agustus 2003]

One comment on “Kini Tapi Kuno

  1. syamsul Dec 4,2008 18:10

    Memang begini lah gaya hidup modern orang-orang jahiliah.Hanya Islamlah satu-satunya gaya hidup modern yang hakiki. coz gaya hidup modern adalah gaya hidup yang di Ridhai Allah Swt, dlam gaya hidup Modern ini Orang-orang tidak punya tujuan hidup kecuali Ridho-Nya ALLAH. dalam gaya hidup modern gak bakalan ada yang namanya Gays, Lesbianisme, Inulisme, pelacuran, dan segala macem gaya hidup Zadul,warisan nenek moyang jahiliah.

Comments are closed.

%d bloggers like this: