Lampu Merah Konsumtif

Kalo kamu termasuk tipe orang yang doyan belanja atau doyan beli barang-barang yang sebetulnya kamu sendiri udah punya, tapi karena tergoda iklan, kamu ingin juga memiliki barang tersebut, nah itu namanya konsumtif, saudara-saudara. Coba aja bayangin, kamu udah punya kemeja keren merek terkenal, tapi begitu ada iklan sejenis, cuma beda merek, kamu masih bernafsu untuk memilikinya, meski bandrol baju itu menyentuh angka lima dijit. Weleh weleh, berabe, Bung!

Itu soal pakaian, belum lagi perkara makanan dan minuman, yang seringkali meng?¬goda kita untuk konsumtif. Apa bedanya sih, makan ayam goreng di warung biasa dengan resto yang tempatnya keren punya? Dari jenis ayam yang dimakan, sama saja ayam mati (iya, dong, masak ayam hidup). Tapi harganya bisa menguras kocek kamu. Berarti, itu cuma beli prestise, cuma beli gengsi doang. Siapa yang nggak kepalanya membengkak kalo ada temen?¬nya menyanjung hanya gara-gara makan di resto Amerika dan melahap makanan â€?bule’. Tapi jangan dulu menjatuhkan vonis konsumtif kepada teman kamu yang bodinya berbobot alias berbodi botol atau yang gemuk, gitu, lho. Soalnya kalo nafsu makannya sesuai dengan bentuk tubuhnya, itu wajar.

Bila dibidik, remaja yang bergaya hidup konsumtif, nggak lepas dari persoalan gengsi. Jelas, gengsi lah yang telah membuat remaja rela mengeluarkan duitnya hanya untuk jaga gengsi dalam pergaulan.? Baik itu masalah makanan dan minuman, pakaian, juga masalah hiburan. Yes, Food, Fashion, and Fun. 3F ini sudah akrab di ajang gaul remaja macam kamu. Berarti ada benarnya dong, â€?ramalan’ John Naisbitt dan Patricia Aburdene dalam kitab Megatrends 2000. Dalam bukunya, dua â€?tukang ramal’ modern itu menyebutkan bahwa di masa yang akan datang, â€?selera’ Barat akan mewar?¬nai gaya hidup penghuni dunia ketiga. Dan nggak berlebihan tentunya kalo sekarang terbukti.

Kalo diperhatikan, kini marak gaya hidup mewah di kalangan remaja. Istilah kerennya remaja sekarang sudah masuk dalam arena The Exhibit of Luxury alias gaya hidup yang serba mewah dan konsumtif. Remaja model begini, biasanya makanan yang disantapnya bukan lagi kelas �warteg’, tapi makanan �bule’ macam hamburger, hot dog, pizza, dan jenis junk food lainnya. Lalu musiknya adalah jenis musik techno, yang enerjik, pakaiannya keluaran Giani Versace, Rhemberger, dan sejenisnya.

Percaya nggak, kalo jajannya remaja sekarang sebenarnya bukan cuma urusan ngisi perut, tapi juga jaga gengsi. Bener, Brur!

Beli Prestis!
Setuju kalo dikatakan bahwa di balik naluri �jajan’ remaja yang �menggila’ sebetulnya tersimpan keinginan untuk tampil keren, lalu mendapat sanjungan. Nah, kamu perlu tahu, itu adalah salah satu perwujudan dari gharizah al baqa (naluri mempertahankan diri). Iya, dong, orang yang ingin dianggap eksis dalam lingkungan gaulnya adalah bukti bahwa dia ingin diperhitungkan, bukan hanya dianggap bilangan doang.

Misalkan, ada remaja yang doyan mema?¬merkan kekayaannya, baik itu mobil, pakaian atau sekadar makanan. Itu tandanya doi ingin dipuji hebat dan super. Mungkin kita bakal geleng-geleng kepala kalo ada anak yang ke sekolah bawa BMW Z8, soalnya mobil BMW generasi teranyar keluaran negerinya Oliver Bierhoff itu dijual dengan harga 2 milyar perak. Wuah, bapaknya konglomerat dong?

Belum lagi soal gaya makan, mungkin teman-teman yang pundi-pundi duitnya udah luber dan punya �naluri’ konsumtif, jangan kaget kalo terus nongkrong di resto kelas wahid, dengan menyantap junk food. Padahal, makanan itu miskin gizi. Kenapa tetap dimakan? Soalnya bukan makan makanannya. Itu nggak terlalu penting buat perut, tapi bisa menempatkan kita pada posisi �terhormat’ (ciee..). Iya dong, siapa yang nggak merasa �besar kepala’ kalo disanjung?

Perkara pakaian juga kerap menggoda remaja untuk bergaya hidup konsumtif. Rasanya kurang pede dan merasa â€?kumuh’ bila nggak pake pakaian keluaran rumah mode terkenal, atau pakaian hasil rancangan desainer kelas dunia. Remaja yang menyimpan â€?naluri’ konsum?¬tif, pasti merasa bangga sekaligus pede bila di pakaiannya ada label merek terkenal. Orang yang lihat kan bisa saja berdecak kagum, karena pakaian itu pasti berbandrol lima dijit ke atas.

Yap, prestis memang masalah naluriah dan basyariyah (manusiawi), siapa pun orang?¬nya, dan dari kalangan manapun ia, keinginan untuk mendongkrak prestis selalu ada. Bahkan kalo sanggup, pengenya diiklankan saja, biar semua orang tahu dan mengakuinya. Apalagi masa remaja, boleh lah disebut masa â€?ranum’, saat?  kita merasa seakan menemukan arti hidup. Kalo boleh dan sanggup, rasanya apa saja ingin kita lakukan. Tapi ingat, kamu sudah masuk akil baligh, berarti sudah harus mengetahui perbuatan baik dan buruk dalam hidup kamu. Karena seluruh perbuatan kamu bakal dicatat dan disimpan dalam â€?buku’ catatan kehidupan kamu, yang suatu saat bakal diberikan oleh Allah SWT di akhirat nanti. Kalo selama hidupmu kamu doyan melakukan perbuatan salah, bukan amal sholeh, maka jangan heran bila kamu nanti mendapati â€?nilai-nilai’ dalam â€?rapot’ kamu merah semua. Tentu saja neraka lah tempat yang layak bagi orang-orang yang selalu beramal salah. Ih, naudzu billahi min dzalik.

Sebenarnya soal tumbuhnya rasa ingin mempunyai prestis bukan masalah. Kalo gitu yang menjadi masalahnya apa? Ini berkaitan dengan cara pemenuhan dan pemuasan naluri tersebut. Tentu di sini Allah SWT tidak mem?¬biarkan manusia untuk menentukannya sendiri standar-standar pemenuhan dan pemuasan tersebut. Kalo dibiarkan? Gawat bin bahaya, saudara-saudara!

Hal yang paling mudah dan paling kamu kenal adalah masalah seks. Naluri melestarikan keturunan ini biasanya diwujudkan dalam bentuk suka terhadap lawan jenis. Untuk urusan ini kamu nggak dibiarkan menentukan standar pemenuhan sesuai selera kamu. Tahu sendiri kan akibatnya bila dibiarkan liar? Yes, nanti kamu bisa �menclok’ sesuka kamu. �Parkir’ di mana kamu suka. Wuah, bisa berabe tuh!

Berarti memang harus ada standar pemenuhan yang benar dan sesuai dengan fitrah manusia. Dengan demikian, hanya Allah lah yang berhak menentukan aturan-aturan tersebut. Dengan kata lain, berarti kamu harus tunduk pada aturan Allah, bukan yang lain.

Karena masalah prestis tadi berkaitan langsung dengan naluri mempertahankan diri, berarti, pemenuhannya pun harus menyesuai?¬kan dengan aturan yang dibuat oleh Allah SWT. Nggak bisa sembarangan. Firman Allah SWT: “Sesungguhnya pemboros-pemboros (muba?¬dzirin) itu saudaranya syaithan.â€? (Al Isra: 27). Well, dengan demikian, pemenuhan prestis tentu bukan dengan membudayakan konsumtif, tapi dengan ilmu yang benar. Berarti kamu kudu melengkapi dirimu dengan tsaqofah Islamiyyah yang handal. Seperti apa? Begini Brur, Islam itu harus kamu pahami bukan cuma sekadar seputar sholat, puasa dan wirid doang, tapi Islam itu luas, mencakup urusan politik, ekonomi, sosial, pendidikan, hukum, pemerin?¬tahan dan sebagai?¬nya. Jangan salah sangka, bahwa orang yang udah getol sholat, rajin puasa kamu langsung â€?memvonis’ doi udah hidup islami banget. Belum tentu, kalo ternyata pikiran dan jiwanya masih sekuler. Memang kalo dalam sholat doi kiblatnya ke ka’bah, tapi dalam urusan kehidupan yang lain, kiblatnya ke Amerika dan negara-negara Barat lainnya. Kan berabe, iya nggak? Nah, tentu yang kita inginkan adalah kamu itu ngerti Islam secara total. Akidah, ibadah, akhlaq, mu’amalah, dakwah, syariah. Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara menyeluruh.â€? (Al Baqarah: 208). Yes, kamu musti memahami islam sebagai akidah dan syariat. Catet, Brur!

Gaya Hidup Mewah, Buat Apa?
Terus terang, kita nggak suka dengan gaya hidup kamu yang cuma hura-hura doang. Baik soal makanan atau minuman, lalu soal pakaian, bahkan hiburan sekalipun. Brur, kamu harus tahu banyak soal kehidupan jangan cuma menganggap bahwa hidup itu cuma tumbuh, lalu berkembang dan mati. Hidup bukan cuma itu, sayang. Banyak sekali yang harus kamu tahu soal kehidupan dan dinamikanya. Jangan merasa bahwa kamu masih remaja, lalu menganggap sah-sah saja dengan apa yang kamu lakukan selama ini. Kamu nggak peduli dengan apakah itu adalah perbuatan salah atau benar. Apakah itu menguntungkan atau merugikan kamu di masa depan. Seharusnya kan berpikir jauh ke depan bahwa setiap yang kita lakukan itu bakal ada hubungannya dengan masa yang akan datang. Iya, kan? Hari ini adalah bagian dari hari kemarin, dan hari esok sangat bergantung dengan �sepak terjang’ kita hari ini.

Tapi celakanya, saat remaja sedang gandrung dengan gaya hidup mewah, para pengusaha yang tak bertanggung jawab malah memberikan saluran untuk menampung gelegak nafsu konsumtif remaja. Coba saja, produk-produk makanan, minuman, pakaian, sampai hiburan dikemas begitu rupa supaya remaja betah dan merasa �nyaman’ dengan gaya hidup konsumtif yang selalu identik dengan kemewahan tersebut.

Disisipkan pesan lewat iklan bahwa makanan bukan hanya sekadar ganjal perut, tapi bisa melambungkan prestis, begitu pun dengan pakaian, bukan sekadar berfungsi sebagai penutup tubuh, tapi juga lebih mengarah kepada prestis.?  Untuk urusan makanan saja, kadang?¬kala kita lebih merasa di â€?atas angin’ bila jajanan yang kita tenteng adalah makanan â€?bule’. Atau merasa lebih hebat bila kita sanggup nongkrong di resto macam Mc?¬Donald’s. Bukan cuma nongkrong doang, tapi juga beli!

Ini bisa gawat, apalagi kalo sama sekali nggak peduli dengan halal atau haram makanan tersebut. Siapa tahu makanan tersebut mengandung barang yang haram dan najis. Iya, nggak, Non? Jadi buat apa dong gaya hidup kamu mewah dan konsumtif, kalo akhirnya harus bertolak belakang dengan aturan Allah SWT?

Sekilas Tentang Israaf dan Tabdzir
Istilah mubadzir sudah melekat erat di lidah kamu. Saking melekatnya kamu nggak tahu arti sebenarnya. Misalkan, kalo ada makanan sisa–tapi bukan di tempat sampah–buru-buru kita â€?caplok’ sambil ngomong, “sayang ah, mubadzirâ€?. Wah, kalo istilah tabdzir kamu pahami seperti itu berarti salah besar, Non!

Israaf secara bahasa (lughawi) berarti melampaui batas dan keseimbangan (berlebih?¬an). Sedangkan tabdzir adalah menghambur-hamburkan. Lalu kalo mubadzir? Secara bahasa artinya orang yang boros, atau pemboros. Jadi nggak tepat dong kalau pakai kata mubadzir untuk kasus seperti di atas. Catet ya!

Nah, boros atau israaf dan tabdzir dalam pandangan Islam bermakna al infaq fil haram wal ma’asiy (infaq/membelanjakan uang dalam hal yang haram dan maksiyat) (Diraasat fil fikril Islamiy, hlm. 57). Ini adalah makna syar’i (makna hukum). Hal ini dijelaskan pula dalam kitab Hadayatsus Shiyam bahwa israaf dan tabdzir memiliki arti yang sama, yakni membelanjakan harta, baik sedikit maupun banyak untuk hal-hal yang dilarang Allah. Kata musrifin (pemboros) termuat dalam firman Allah Ta’ala: “Tetapi setelah Kami hilangkan bahaya daripadanya, dia kembali menempuh jalan yang sesat, seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk menghilangkan bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas (musrifin) itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.� (QS. Yunus: 12).

Kata musrifin juga dipakai untuk orang yang berpaling dari mengingat Allah. Bahkan ada pula kata musrifin dalam arti mufsidin (orang-orang yang membuat kerusakan). Allah Ta’ala berfirman: “Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku; janganlah kamu mentaati perintah orang-orang yang melewati batas (musrifin); yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan.� (QS. Asy Syu’ara: 150-152).

Soal tabdzir ada dalam ayat 26-27 dari surat Al Isra. “Dan janganlah kamu mengham?¬bur-hamburkan hartamu secara tabdzir (boros). Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudaranya syaitan.â€?

Lalu bagaimana dengan sifat konsumtif itu sendiri? Tentu saja, Islam memang mengajarkan pola hidup sederhana alias tidak bermegah-megahan. Tak terasa memang, bila kita mengeluarkan uang yang tak sedikit untuk membeli makanan yang mahal harganya, karena kita sekaligus beli prestis. Tapi rasanya berat banget bila kita mau �nyumbang’ ke masjid. Alangkah lebih baiknya bila uang yang kamu miliki dibelikan kepada barang-barang yang lebih bermanfaat, seperti buku-buku keislaman atau makanan halal yang lebih murah harganya. Sisanya bisa kita sedekahkan ke masjid atau ke fakir miskin, iya nggak?

Pokoknya, jangan sampai deh, gara-gara kita konsumtif malah kemudian terjerumus ke dalam sifat israaf dan tabdzir tadi. Artinya bila makanan yang kamu telan ternyata haram, kan berabe, kamu malah melakukan perbuatan dosa. Apalagi pakaian yang kamu kenakan nggak sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya, udah gitu mahal lagi, rugi kan?

Jadi mulai sekarang, stop konsumtif! Hiduplah sederhana sesuai kebutuhan saja, karena kebutuhan itu berbeda dengan keinginan, tapi catet, bukan berarti nggak boleh kaya, silakan saja, toh para sahabat juga banyak yang kaya raya, tapi harus lewat jalan yang islami. Nah, begitu, sobat!

(Buletin Studia – Edisi 27/Tahun 1)

%d bloggers like this: