Thursday, 11 August 2022

Bagi kamu yang udah usia 17 tahun ke atas, kayaknya tahun ini punya hak untuk milih ya? Ehm, bukan cuma milih calon pasangan hidup, tapi juga milih mereka yang katanya mau memimpin negeri ini. Oke, jangan terburu-buru menggunakan hak pilih, jangan asal pilih, dan yang penting, jangan ikut-ikutan aja. Kudu ngeh segalanya. Setuju? Kudu! Jadi baca buletin kita edisi ini ampe tuntas..tas..tas…

Sobat muda muslim, pesta demokrasi lima tahunan ini selalu menyita perhatian kita, selalu bikin was-was kalo suatu saat rusuh, selalu bikin meriah karena kita dapetin jatah dari parpol kontestan Pemilu, dan selalu mengumbar janji tanpa bukti. Suer, kagak bohong. Sumpeh Lo!

Ehm, kalo mo melek sedikit aja, kita bisa temuin tuh banyak dagelan alias bodoran dalam kampanye. Para jurkam sampe berbusa-busa menyampaikan pidatonya. Janji inilah, janji itulah. Pokoknya, bikin janji sebanyak-banyak-nya. Tapi buktinya? “Kau yang berjanji, kau yang mengingkari…� Eh, dangdut banget neh!

Sebagian janjinya memang ditepati, tapi lebih kepada hal-hal teknis. Itu pun sebagai penghibur saja, setelah kemauannya tercapai. Di jaman baheula, waktu saya kecil, ada partai besar yang berkuasa saat itu. Kalo masuk desa, selalu saja para jurkamnya menjanjikan akan masuk listrik dan jalan akan diaspal untuk desa kami. Tapi ada syaratnya, yakni kudu milih partai tersebut dalam Pemilu. Pamrih banget!

Kontan aja, bagi rakyat jelata yang memang mendambakan semua itu, nggak pikir panjang lagi, apalagi tugasnya gampang banget, cuma nyoblos tanda gambar partai tersebut. Itu sebabnya, ketika di desa itu partai tersebut menang, nggak lama listrik masuk, jalan diaspal. Janjinya ditepati. Harapan para petinggi partai tersebut, lima tahun mendatang tetep bakal dipilih. Langgeng deh jadi penguasa.

Saat ini, haruskah semua ini terjadi lagi? Sayangnya, gejala ke arah sana sejelas siang hari tanpa mendung alias nyata banget. Partai-partai melakukan kampanye simpatik dengan membagi-bagikan sembako, malah ada yang menyediakan pangkas rambut gratis. Tujuan mulianya, untuk menarik calon pemilih berpaling ke partainya. Supaya nanti pas pemilu mencoblos gambar partai dan juga calegnya. Kalo yang nyoblos jumlahnya ribuan, apalagi jutaan, maka itu jelas akan menambah suara dukungan kepada partainya. Sambil berharap dapet suara mayoritas.

Sobat muda muslim, jangan mau ditipu lagi dengan janji-janji manis. Nantikan, bahwa pepatah “habis manis sepah dibuang� akan populer pasca Pemilu. Percaya nggak percaya, kamu kudu percaya. Sudah banyak buktinya. Lha wong sekarang yang berkuasa aja dulunya ngemis-ngemis suara sampe ngejual atas nama wong cilik. Eh, begitu pesta demokrasi bubaran, nasib wong cilik tetep terpuruk. Itu namanya mereka wong licik! Apa mau dibohongi lagi? Apa rela dikhianati lagi? “Cukup sekali.. aku merasa kegagalan cin.. “ eh, kok malah nyanyi dangdut lagi he..he.he..

Mungkin di antara kamu ada yang protes bahwa Pemilu sekarang beda. Apalagi Pemilu seka-rang diikuti beberapa partai Islam yang tegas memperjuangkan tegaknya nilai-nilai Islam dan syariat Islam. Kasi-han dong kalo nggak dipilih, nanti partai sekular yang berkuasa lagi. Gimana tuh?

Kita tak butuh demokrasi!
Nah, ini jawaban kita. Kita hargai perjuangan teman-teman kita untuk menegakkan syariat Islam di mana pun termasuk di negeri ini. Tapi jangan lupa syariat kita dalam mengatur kehidupan kita. Nggak asal njeplak aja. Nggak cuma mengandalkan perasaan doang. Tapi nyatanya malah melanggar aturan Allah. Naudzubillahi min dzalik!

Sekadar intermezo, di kampung saya ada geng anak muda bernama Jibril. Jibril? Yup, kepanjangannya adalah Jiwa Berandal Ingat Ilahi. Gubrak! Kayak gimana ingat ilahi? Apa ketika hendak nenggak minuman keras baca doa dulu? Terus ketika sendawa bilang alhamdulillah? Walah, itu mah sama dengan mengaduk-ngaduk antara yang haq dengan yang bathil dong.

Memang antara perjuangan menegakkan syariat Islam melalui pemilu dalam sistem demokrasi nggak bisa disamain dengan geng anak muda tadi. Tapi alasan saya memasukkan contoh tadi dalam tulisan ini, adalah lebih menekankan, bahwa perbuatan kita nggak bisa cuma diukur dari jargon hebat dan islami, nggak juga dinilai dari niat baik saja. Kenapa? Karena jalan yang kita tempuh pun kudu ajeg mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya. Pendek kata, niat saja belum cukup, kalo caranya bertentangan dengan aturan Allah dan Rasul-Nya. Begicu…

Lho memangnya nggak boleh ya ikut pemilu dalam sistem demokrasi? Ehm, jawabannya cukup dengan kaidah syara ini: Wasilah (sarana) yang pasti menghantarkan kepada perbuatan haram adalah juga haram.

Sobat muda muslim, kayaknya kita udah ngelotok abis kalo ditanya demokrasi itu apa. Lidah kita udah fasih nyebutin bahwa demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Artinya apa? Rakyatlah yang berkuasa. Rakyatlah yang punya kedaulatan. Saking berkuasa dan berdaulat, maka rakyat (melalui wakilnya yang udah dipilih dalam Pemilu) akan memerintah suatu negara, termasuk membuat undang-undang untuk mengatur kehidupan umat manusia. Ini yang jadi masalahnya, Bro!

Why? Begini, dalam sistem politik demokrasi sekuler, wakil rakyat sebagai penetap hukum, dianggap mampu mene-tapkan apa yang dianggap baik dan yang dianggap buruk. Padahal belum tentu yang dinyatakan baik itu benar-benar baik dan yang dinyatakan buruk juga benar-benar buruk, karena mereka adalah manusia biasa yang pengetahuannya sangat terbatas.

Kenyataannya, banyak sekali yang disangka baik padahal buruk, sedang yang disangka buruk padahal baik. Begitu juga pemberian mandat atau kepercayaan kepada pemerintahan sekular yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah (syariat Islam), memilih presiden, dan memberikan pengesahan terhadap berbagai kesepakatan, perundang-undangan, dan berbagai perjanjian, merupakan wasilah (sarana) yang bisa mengantarkan pada keharaman. Jadi kudu ati-ati. Jangan libatkan dirimu dalam dosa dan kemaksiatan, sobat!

Allah Swt. menyatakan: “Barang siapa tidak berhukum kepada apa yang diturunkan Allah (syariat Islam), maka mereka termasuk orang-orang kafir.â€? (QS al M?¢â€™idah [5]: 44)

Terus, wakil rakyat kan duduknya di legislatif alias lembaga pembuat undang-undang dalam sistem sekular ini, maka, keberadaan mereka di sana untuk membuat undang-undang udah jelas-jelas �nantangin’ Allah. Duh, jangan sampe deh!

Gimana nggak, sebab dalam pandangan Islam, manusia nggak berhak membuat hukum dan undang-undang untuk ngatur kehidupan ini, tetapi yang berhak membuat hukum perundang-undangan hanyalah Allah Swt. Allah berfirman: “Keputusan (hukum) itu hanyalah kepunyaan Allah. (QS Y?»suf [12]: 40)

Oya, kamu juga kudu paham. Bahwa seluruh keputusan yang diambil di parlemen dalam sistem demokrasi ini menggunakan voting. Lha, kalo yang udah jelas haram terus masih juga dilakukan voting, gimana urusannya?

Sebab, menurut sistem demokrasi, kepu-tusan di parlemen senantiasa diambil ber-dasarkan keputusan mayoritas. Jadi, meskipun nanti di parlemen duduk wakil dari parpol Islam, dan berusaha untuk menerapkan syariat Islam, maka ini nggak bisa suka-suka tuh.

Tapi kudu mendapat restu suara mayoritas. Kalo suara mayoritas menghendaki, maka berlakulah syariat Islam, begitu juga sebaliknya. Dalam hal ini, penerapan syariat Islam hanya menjadi salah satu pilihan (option) bukan satu-satunya pilihan yang wajib dilaksanakan atas dasar keimanan, ketundukan, dan kepatuhan terhadap hukum Allah, tanpa memperhatikan hal-hal lain.

Jadi pertanya-annya, layakkah ma-nusia melaksanakan hukum Allah, karena dianggap sebagai hukum yang diterima oleh mayoritas me-reka, bukan karena dibangun berdasarkan keimanan kepadanya, sebagai perintah dan larangan dari Allah Swt? Padahal, Allah Swt. berfirman: “Demi Tuhanmu, mereka pada hakikatnya tidak beriman hingga mereka menjadikan engkau hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan atas putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS an-Nis?¢â€™ [4]: 65)

Sobat muda muslim, dengan demikian, kita nggak butuh demokrasi untuk menerapkan syariat Islam. Selain banyak gagal, seperti yang dialami FIS di al-Jazair dan Partai Refah di Turki, juga terlibat di dalamnya diharamkan dalam Islam. Tegas aja deh. Toh juga sekarang kaum sekular tegas juga dalam kemaksiatan. Masalahnya, kitanya yang jangan tergoda untuk ikutan senewen. Harusnya, kita tegas juga dalam kemaslahatan dan ketundukan kepada aturan Allah. Betul?

Kayaknya tepat firman Allah Swt.:�Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, jika Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang uru-san mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka se-sungguhnya dia akan sesat, sesat yang nyata� (QS al-Ahzab [33] : 36)

Kobarkan revolusi!
Kalo anak-anak punk yang masih kental banget dengan ide sosialismenya berani berkoar menentang kapitalisme-sekularisme, kenapa kita juga nggak berani mengobarkan perang melawan kapitalisme-sekularisme, bahkan kita sekaligus menentang sosialisme-komunisme? Ideologi Islam wajib kita emban untuk mengalahkan ideologi kufur lainnya. Caranya? Tentu bukan bermanis-muka dan pasrah aja ngikut aturan kapi-talisme. Tentu bukan pula rela terlibat dalam arena atau wadah yang dibuat untuk melanggeng-kan sistem itu. Kita tawarkan revolusi!

Revolusi kayak gimana Mas? Begini, yang harus kita lakukan saat ini adalah mengkampanyekan Islam sebagai ideologi yang wajib diterapkan oleh negara.

Sobat muda muslim, kita sebaiknya melihat sejarah perjuangan Rasulullah saw. Nah, waktu itu Rasulullah gencar melakukan aktivitas dakwah politis. Di antaranya, Pertama, pemantapan akidah Islamiyyah (tatsqif wa al-takwin). Akidah sebagai asas perbaikan individu, asas perbaikan masyarakat, dan asas penyelenggaraan negara.

Kedua, Rasulullah dan para sahabat melakukan pergulatan pemikiran (shiraa’u al-fikri); yakni membantah hujjah orang-orang kafir dan menyerang pemikiran-pemikiran serta akidah-akidah mereka. Ketiga, Rasulullah menerapkan perjuangan politik (kifahu al-siyaasi), menentang pembesar dan pemimpin mereka dan membongkar rahasia rencana serta konspirasi mereka. Selanjutnya, Rasulu-llah saw dan para sahabatnya menyerang hubungan yang rusak di antara anggota masya-rakat serta adat istiadat yang telah usang yang mengatur masyarakat mereka.

Terakhir, Rasulullah saw dan para sahabat bersabar. Bahkan Allah meneguhkan hati Rasulullah dan orang-orang mukmin dengan kisah-kisah dan janji Allah yang sangat dirin-dukan berupa kemenangan dan kedudukan di muka bumi. Jadi, berjuang dan bersabar ya.

Cara seperti inilah yang harus kita perjuangkan. Kita giatkan revolusi berpikir di tengah-tengah umat ini. Agar umat paham dengan apa yang kudu mereka lakukan. Yakni, hanya tunduk dan patuh kepada perintah Allah dan RasulNya. Jangan dibiarkan ikut larut dalam aturan main yang mereka buat. Pemilu dalam sistem demokrasi seperti sekarang, adalah jebakan untuk kita, umat Islam. Hati-hati dalam pemilu yang keliru ini. Jangan nekatz berjuang di jalan yang salah, jika tidak ingin bernasib seperti saudara kita yang tergabung dalam FIS dan Partai Refah. Jadikan pelajaran berharga.?  Mari berjuang dan rapatkan barisan. Islam pas-ti menang tanpa harus ikut pemilu dalam bingkai demokrasi. Kobarkan revolusi demi tegak-nya Khilafah Islamiyah. [solihin]

(Buletin Studia – Edisi 187/Tahun ke-5/22 Maret 2004)

%d bloggers like this: