Remaja ‘Ngompol’? Tak Masalah…

Yang begini baru berita. Kedengeran?¬nya memang menggeli?¬kan. Apalagi kalo kemudian kita berpikir lebih â€?nakal’, misalnya menghubungkan dengan makan jengkol atau pete. Ups… bau juga ya? Tapi jangan dulu nuduh yang macem-macem deh. Maksudnya tentu bukan itu. Ngom?¬pol di sini adalah kependekan dari ngo?¬mong politik. Begitu, coy!

Andaikan diadakan survei di kalangan remaja yang menanyakan apa yang diketahui remaja tentang politik, mungkin beragam jawab?¬an bisa dilontarkannya. Kemungkinan besar porsinya lebih banyak yang aneh-aneh. Bisa jadi 40 persen responnya menjawab â€?sebel’, 20 persen berkomentar â€?ngeri’, 10 persen memilih jawaban â€?lucu’ dan 30 persen berpendapat â€?tidak tahu’. Wah, kalo hasil surveinya kayak begini bisa gawat.

Mungkin yang menjawab â€?sebel’ adalah karena menganggap politik sebagai tipu daya untuk kepentingan diri dan kelompoknya, macam perang urat syaraf antara George Bush dan Al Gore dalam memperebutkan kursi kepresidenan AS saat ini. Atau nggak usah jauh-jauh, waktu ST MPR alias Sidang Tahunan MPR di negerinya Wiro Sableng ini, ketika akan ada perubahan kabinet, rame-rame para elit politik mencalon?¬kan jagonya, persis politik â€?dagang sapi’. Tak mustahil saling sikut, saling serang demi posisi. Apalagi ketika pas diumumkan jagonya nggak ada, wah, sibuk nyari sasaran dari kesalahan lawan-lawannya. Well, memang itu namanya perjuangan memperebut?¬kan kekuasaan (The Struggle for Power) dengan menjatuhkan masing-masing lawannya. Weleh-weleh, yang untung nanti penguasanya, rakyat cuma jadikan tameng aja. Pokoknya habis manis sepah ditelen diam-diam. Penguasa tertawa rakyat meringis!

Yang menjawab â€?ngeri’ bisa saja meng?¬ambil alasan bahwa politik itu identik dengan politik praktis, macam demonstrasi misalnya. Dari aksi duduk, jongkok, nungging, sampai konvoi. Nggak hanya itu, demonstrasi kerap di?¬iringi dengan pelemparan batu, dan sembako alias semangat bakar toko, lalu menjarah, dan seabrek kebrutalan dan kebringa?¬san massa lain?¬nya. Tak selesai sampai di situ, para aktivis?¬nya bakal nggak tenang menghirup udara bebas, mereka bisa dikejar, ditangkap, dan dimasukkan ke bui. Kalo yang dimaksud politik adalah model begini, bisa-bisa rasa ngerinya nggak hilang sampai tujuh turunan. Soalnya mendengarnya saja bisa takut serasa baca serial goosebumps! Bakal berdiri bulu kuduk (kecuali yang nggak punya bulu kuduk!). Dan bagi â€?anak buahnya’ Virgiawan Listanto alias Iwan Fals bicara politik bakal dihubungkan dengan lagu yang ngetop di tahun delapan puluhan, yang syairnya kayak begini, “Setan-setan politik yang datang men?¬cekik, walau di musim paceklik tetap mencekik, Apakah selamanya politik itu kejam. Apakah selamanya dia datang â€?tuk meng?¬hantam…â€? Wah, lama-lama orang bisa berpen?¬dapat miring tentang politik. Berabe kan? Pendapat model begini pantas untuk dimasukin ke keranjang sampah. Tul, nggak?

Nah, bagi beberapa remaja yang memilih jawaban �lucu’, bisa disebabkan karena sering melihat para pelaku politik yang lucu-lucu dan menggelikan. Misalnya, banyak ngomong tapi beda dengan apa yang diperbuat. Atau memang malah nggak diperbuat. Yang model begini biasanya terdaftar sebagai anggota NATO alias No Action Talk Only. Atau malah �membual’ kemana-mana dengan pernyataan yang sering kontradiktif. Kemarin bicara “A�, eh, besoknya bicara “B� untuk masalah yang sama. Kan bingung, ya nggak? Yang begini ini bisa jadi yang membuat sebagian remaja memilih jawaban lucu tentang politik. Ya, nggak Brur? Nah, nanti kamu akan memahami bahwa tindakan macam begini bukanlah jenis tindakan yang dimiliki oleh orang yang sadar dan ngerti politik. Catet itu!

Dan ini yang lebih gawat lagi, yakni bagi remaja yang milih jawaban â€?tidak tahu’ alias tentang dunia politik, berarti doi memang keterlaluan banget deh. Geblek, kuper, dan memang sableng. Padahal seperti kata-kata dalam sebuah iklan rokok, “menikmati kesen?¬dirian, bukan berarti tak peduli, kan?â€?. Sori, ini nggak termasuk iklan! Nah, jadi kamu jangan cuek, Brur! Secuek-cueknya orang, masak nggak kenal sedikitpun tentang politik. Wah, gawat itu. Tapi dipikir-pikir memang begitu kok. Nah, dilihat dari faktanya, bisa jadi remaja yang memilih jawaban tidak tahu karena doi lebih sibuk ngurus dandanan, perkembangan film dan musik atau seabrek gosip tentang artis lewat tayangan infotain?¬men macam Kabar-Kabari, Buletin Sinetron, Cek and Ricek, Kiss dan seje?¬nisnya ketimbang mikirin perkembangan masya?¬rakat dan bangsa ini. Itu namanya remaja paling keterlaluan sejagat.

Kalo yang terjadi begini, remaja selama?¬nya nggak bakalan ngerti soal politik. Memang ini semua ada sebabnya, ibarat ada asap pasti ada apinya. Nggak mungkin tiba-tiba keluar asap, kecuali Jin-nya si Jun yang keluar (hua..ha..ha..).

Berarti ini berkaitan dengan pendidikan. Coba, pernah nggak di antara kamu mendapat pendidikan politik? Yang ngacungin tangannya pasti sedikit, atau malah nggak ada. Bukan apa-apa, memang belum menyentuh remaja secara khusus selama ini. Merasa, nggak?

Pengertian Politik
Sebelum kamu â€?terjun’ ke dunia politik, harus tahu dulu apa itu politik. Makanya, di sinilah perlunya pendidikan. Pendidikan adalah segalanya. Orang bisa pinter, bisa ngerti dan bisa membuat segalanya lebih bermakna adalah karena pendidikan. Setiap pendidikan insya Allah akan mengantarkan kepada pencerahan ber?¬pikir. Kamu nggak bakalan kuper, o’on, dan juga nggak bakalan ditipeng orang, atau malah diperalat oleh pihak yang nggak bertanggung jawab. Kamu bisa hebat dan canggih, tentu lewat pendidikan yang canggih pula, kalo pendidikannya aja meng?¬gunakan sistem yang nggak jelas, maka jangan harap kamu menjadi pinter dan cerdas.

Lalu apa arti politik dalam pandangan Islam? Dalam kitab Mafahim Siyasiyah dijelaskan bahwa politik adalah ri’ayatusy syu’unil ummah, alias pengaturan urusan ummat. Adapaun pengaturan urusan ummat tidak melulu urusan pemerintahan seperti sangkaan banyak orang, melainkan termasuk di dalamnya aspek ekonomi (iqtishadi), pidana (uqubat), sosial (ijtima’i), pendidikan (tarbiyah) dan lain-lain.

Pengen bukti? Nah, Islam telah memberi?¬kan gambaran yang utuh dalam masalah ini, bahkan sejarah memperlihatkan selama lebih dari 14 abad, kaum muslimin hidup dengan menerapkan aturan Islam. Tidak pernah ada satu masa pun kaum muslimin hidup dengan aturan selain Islam. Catet nih, Brur! Terakhir kaum muslimin hidup dalam naungan Islam adalah di tahun 1924, tepatnya tanggal 3 Maret tatkala Khilafah Utsmaniyah yang berpusat di Turki alias Konstantinopel diruntuh?¬kan oleh kaki tangan Inggris keturunan Yahudi, Musthafa Kemal Attaturk. Nah, dialah yang mengeluarkan perintah untuk mengusir Khalifah Abdul Majid bin Abdul Aziz, Khalifah (pemim?¬pin) terakhir kaum muslimin ke Swiss, dengan cuma berbekal koper pakaian dan secuil uang. Sebelumnya Kemal mengumumkan bahwa Majelis Nasional Turki telah menyetujui pengha?¬pusan Khilafah. Sejak saat itulah sampai sekarang kita nggak punya lagi pemerintahan Islam. Menyedihkan bukan? Ini tanggungjawab kita untuk menegak?¬kannya kembali, Brur!

Well, kok bengong? Atau sedih? Soalnya memang itulah gambaran kita saat ini. Coba dari dulu memahami istilah politik seperti ini. Pasti nggak bakalan bengong or bingung kayak sekarang. Tapi, alhamdulillah, sekarang kamu mulai paham sedikit demi sedikit tentang politik dalam pandangan Islam. Ya, terus aja baca Studia (he..he…). Uweenaak tenaan!

Perlunya Kesadaran Politik
Kamu juga pasti tahu bedanya orang yang sadar dengan yang nggak sadar, ya nggak? Nah, masalahnya apakah sekarang kamu ter?¬masuk orang yang sadar atau malah â€?gokil’? Sori, rada kejam istilahnya. Urusan politik juga memang harus kita sadari, Brur, supaya â€?ngeh’ soal yang satu ini. Bahaya bin gawat bila kamu nggak sadar politik. Sehingga nggak mustahil kamu bakal cuek bebek aja ketika ada masalah berat di hadapanmu. Kamu diam membatu se?¬perti patung. Lugu bukan? Ya, maksudnya luar biasa guoblok!

Suatu ketika Khalifah Umar bin Khaththab berpidato di hadapan kaum muslimin. Usai berpidato seorang pemuda berdiri sambil mengacungkan pedang, lalu berteriak, “Wahai Umar, apabila kami melihat engkau menyimpang, kami akan meluruskanmu dengan pedang ini.â€??  Wah, ada nggak sekarang remaja macam kita-kita ini yang begitu? Kayaknya sih, tak ada. Nggak percaya? Coba aja adain survei!

Umar yang mendengar pernyataan tadi kontan mengucapkan hamdalah. Ternyata masih ada manusia, tepatnya pemuda, yang berani mengungkapkan kebenaran.

Riwayat yang singkat ini bisa memberikan gambaran yang jelas kepada kita pekatnya suasana kehidupan berpolitik dalam Islam. Inilah aktivitas muhasabah lil hukam alias mengoreksi penguasa atau amar ma’ruf nahyi munkar, wajib dilakukan kapan saja, di mana saja, dan kepada siapa saja. Pokoknya every where, every time, and everyone. Kamu bisa bayangkan sendiri, seorang khalifah, kepala negara Islam, dinasi?¬hati oleh anak kecil seusia kamu. Hebat bukan? Dengan begitu kehidupan akan senan?¬tiasa ber?¬jalan dengan normal dan ideal. Pahami itu, Brur!

Dalam Islam, memang ini kewajiban bagi ummatnya yang sudah akil baligh. Untuk melak?¬sanakan seluruh ajaran Islam. Termasuk itu tadi, amar ma’ruf nahyi munkar. Begitupun setiap muslim wajib untuk memiliki kesadaran politik. Sabda Rasulullah SAW: “Barang siapa yang bangun pagi hari dengan tidak memikirkan kepentingan kaum muslimin, maka mereka tidak termasuk golonganku.â€? Dalam riwayat lain, beliau juga mengingatkan kaum muslimin agar tidak lalai melaksanakan amar ma’ruf nahyi munkar. Sabdanya: “Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, kalaulah kalian tidak memerintah?¬kan yang ma’ruf dan mencegah yang munkar, maka hampir-hampir Allah memberikan adzab-Nya, kemudian kalian berdoa dan tidak dikabul?¬kan doanya.â€?

Begitu, Non! Pengen lebih jelas? Begini sobat, sewaktu kaum muslimin masih berada di Mekkah dan belum memiliki kekuasaan, Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. bersama Rasulullah saw., membuat semacam â€?taruhan’ untuk pe?¬perangan antara Romawi dan Persia yang berada jauh dari Mekkah. Padahal, saat itu siapapun yang memenangkan perang nggak bakal menguntungkan kaum muslimin yang tertindas di Mekkah. Nah, ini membuktikan bahwa Abu Bakar r.a memiliki kesadaran politik yang cukup tinggi. Tuh, kan, Islam memang mampu mencerahkan pemikiran manusia.

Kalo gitu, apa yang dimaksud dengan?  kesadaran politik? Well, itu pertanyaan bagus. Muhammad Muhammad Ismail dalam kitab Al Fikru Al Islamiy menyebutkan bahwa kesadaran politik (wa’yu siyasi) haruslah terdiri dari dua unsur. Pertama, kesadaran itu haruslah bersifat universal atau mendunia (inter?¬nasional). Bukan kesadaran yang bersifat lokal semata. Contohnya? Apa yang dilakukan oleh Abu Bakar r.a. tadi. Walau masih â€?ngendon’ di Mekkah tapi pikirannya jauh melanglang buana. Padahal waktu itu belum ada televisi, radio, apalagi internet. Nah, kalo kamu yang sudah hidup di jaman yang serba digital tapi pikirannya masih lokal apalagi nggak punya pikiran model begitu, wah nggak kelas deh. Tengok dong saudara-saudara kita di Palestina, Uzbekistan, Tajikistan, Kashmir, Filipina, atau saudara kita di Maluku, Aceh, dan berbagai belahan dunia lainnya. Kita harus tahu dan peduli dengan keadaan mereka. Apakah sekarang lagi mende?¬rita atau bahagia. Harus sampai ke situ, Brur! Itulah namanya mondial alias mendunia. Jangan cuma tahu perkembangan artis doang, nggak ada gunanya kayak begituan mah. Catet ya!

Nah, unsur yang kedua adalah kesadaran politik yang dimiliki remaja harus berdasarkan pada sudut pandang tertentu alias zawiyatun khosshoh. Dengan kata lain remaja Islam harus bertindak subyektif dan obyektif dalam menilai peristiwa politik yang terjadi. Lho, gimana sih, subyektif tapi sekaligus obyektif? Gini Brur, maksudnya, subyektif karena memang harus didasari pada sudut pandang Islam. Obyektif artinya kunti alias tekun dan teliti dalam â€?mem?¬baca’ peristiwa yang terjadi. Ketelitian dan keakuratan memahami peristiwa politik, mutlak harus kamu miliki. Kenapa? Sebab, banyak peristiwa politik yang sering dikamuflase alias diputar-balikkan faktanya. Dan kerap menutup-nutupi berita. Misalkan, satu orang Palestina yang menyerang tentara Yahudi Israel, tapi aneh bin ajaib yang muncul di koran adalah tentara Israel diserbu teroris. Dan sebaliknya ketika puluhan tentara Israel membantai penduduk Palestina, yang muncul dalam berita adalah, upaya pembelaan diri tentara Israel. Wah, ini kan nggak benar. Maka, akhirnya kamu memang kudu obyektif juga. Begitu, cing!

Remaja Berpolitik
Nah, ini baru enak. Begini, supaya kamu bisa bicara politik dengan benar, ikuti tips ini. Pertama, politik harus kita pahami sebagai bagian ajaran Islam. Jadi seluruh kaum muslimin yang akil baligh wajib memahami hukum-hukum ini. Kamu yang remaja jelas sudah masuk kategori ini. Kedua, harus ditumbuhkan kesa?¬daran politik pada remaja macam kamu. Caranya? Seperti yang udah dijelasin di awal, pokoknya harus mengembangkan wawasan dan pastikan sudut pandang penilaian terhadap peristiwa politik yang berkembang harus Islam. Supaya kamu menjadi remaja kritis dan ber?¬tang?¬gung jawab.

Tapi layak nggak sih remaja berpolitik? Wow, sangat layak, Brur! Pengen bukti? Khalifah Umar bin Abdul Aziz pun pernah â€?diceramahi’ oleh seorang anak muda gara-gara dalam suatu kesempatan berdialog dengan rombongan kaum muslimin dari wilayah Hijaz, beliau mengabai?¬kannya dan lebih memberikan kesempatan kepada yang tua usianya. Menurut anak kecil itu kemuliaan seseorang tidak dilihat dari usianya, tapi dari kefasihan lidah dan kebersihan hati. Akhirnya Umar pun menerima nasihat remaja tadi. Jadi remaja â€?ngompol’ nggak masalah, kan? Dan bukan hanya ngomong, tapi juga pelaku. Yap, perdalam Islam sebagai akidah dan syariat! Oke?

(Buletin Studia – Edisi 25/Tahun 1)

%d bloggers like this: