Ria Fariana 7

“Sastra Ideologis, Sastra Perjuangan”

rf.jpgMaraknya karya sastra Islam boleh dibilang menunjukkan tingkat kecintaan para penulis muslim kepada agamanya. Tentunya pula sekaligus menunjukkan bukti bahwa sastra Islam bersaing dengan sastra sekular. Pertanyaan mendasarnya, mungkinkah sastra Islam bisa dijadikan lahan untuk menyebarkan Islam ideologis? Jawabannya bisa disimak dalam wawancara GI-Online dengan penulis sastra Islam asal Surabaya ini. Berikut petikannya…

Sebenarnya apa sih definisi sastra Islam itu?
Sastra Islam itu adalah sastra yang sesuai dengan maunya Islam. Kalo Islam nggak bolehin hal-hal yang parno-parno (baca: porno), makanya sastra Islam juga kudu nurut.

Latar belakang apa yang menyebabkan Anda menekuni sastra Islam?
Latar belakang yang menyebabkan saya menekuni sastra Islam karena saya ingin menyebarkan kebaikan (Islam) melalui sastra. Kan banyak banget sastra yang sekuler dan bertentangan dengan Islam. Saya ingin karya dilawan dengan karya juga.

Sejauh mana peran orangtua terhadap perkembangan Anda sebagai penulis top?
Penulis top? Walah, lha wong saya juga sedang belajar jadi penulis kok. Peran orangtua gede banget. Pertama karena ‘kolaborasi’ mereka saya jadi ada di dunia ini. Eh…kejauhan yah. Pokoknya peran ortu gede lah. Kabarnya, waktu ibu mengandung saya, beliau suka banget baca-baca. Eits…jangan protes dulu, dari suka membaca ketika beliau mengandung saya itulah saya jadi kutu kupret hehehe maksudnya kutu buku. Dari kutu buku alias suka membaca, saya merasa harus ada penyaluran dari banyak hal yang sudah saya baca itu. Jadilah here I am, penulis euy

Jadi Menurut Anda, apresiasi remaja Islam terhadap sastra Islam sejauh mana?
Iya nih, saya agak prihatin dengan apresiasi remaja terhadap sastra Islam. Mereka, para remaja itu lebih suka sastra sekuler yang isinya nggak jauh dari pacaran, rebutan pacar, harta, balas dendam dan semacamnya.  

Sebenarnya, seberapa besar kontribusi sastra untuk kepentingan dakwah?
Kalo menurut saya, kontribusi sastra terhadap dakwah lumayan besar meski nggak bisa dibilang sangat besar. Mengutip Syaikh Taqiyudin (cie…kenal nggak sama sosok ini?) sastra itu lebih mengutamakan bentuk daripada isi. Sukanya bahasa yang dipake yang indah-indah gitu, jadi seringkali isi terabaikan. Meski nggak semua sih.   Cuma emang kalo untuk kebangkitan dan perubahan, sastra lebih pantas menjadi pengawal terhadap pemikiran yang disajikan dengan tegas dan lugas. Masalahnya sastra yang baik itu kan yang multi interpretasi (begitu sih yang saya pelajari di kampus), dan yang beginian menurut saya sulit untuk dijadikan ujung tombak kebangkitan. Masing-masing akan punya interpretasi beda-beda sesuai dengan latar belakang dan kepentingannya sendiri-sendiri.  Tapi menurut saya, di sinilah asyiknya sastra. Umat Islam kudu melek sastra karena banyak lahan untuk dijadikan bahan pergolakan permikiran dengan mereka aliran sastra sekuler dan esek-esek. Setuju kan?

Bagaimana caranya Anda dapat inspirasi dalam menulis?
Inspirasi menulis bisa dari mana aja dan kapan aja. Jadi penulis kudu peka, itu kuncinya.

Bagaimana keberadaan penulis muslimah di Indonesia saat ini?
Penulis muslimah udah cukup banyak di Indonesia. Penulis yang statusnya perempuan beragama Islam. Tapi kalo tentang kualitas karya apakah islami ato nggak, nanti dulu. Lha wong banyak penulis muslimah tapi yang ditulis nggak beda sama yang bukan muslimah.

Apakah di sastra juga terjadi pertarungan ideologi?
Pasti dong, sastra adalah lahan empuk untuk pertarungan ideologi. Makanya, ayo umat Islam melek sastra biar ideologi rusak yang mendompleng sastra bisa kita libas dengan sastra Islam. Sastra ideologis, ya sastra perjuangan.

Gimana sih pertarungannya?
Pertarungannya ya dalam bentuk karya sastra. Karya-karya Om Pramoedya Ananta Toer misalnya, kental ideologi sosialis sinis terhadap Islam. Kalo mau contoh yang lain, ada juga. Misalnya yang paling spektakuler adalah novel berjudul New Old Land karya Theodore Hertzl. Karyanya ini mampu menginspirasi jutaan orang yahudi untuk menjajah Palestina dan mendirikan negara Israel Raya. Bayangkan kalo ada novel tentang kembalinya Daulah Khilafah Islamiyah dan itu mampu menginspirasi jutaan umat Islam untuk berjuang menegakkannya lagi. Wuih… keren banget kan? Ayo! Ayo! Siapa mau terima tantangan untuk berkarya di jalur ini?

Saran Anda untuk calon penulis maupun penulis muda (khususnya muslimah)?
Saran saya untuk calon penulis ataupun yang sudah jadi penulis khususnya muslimah yaitu luruskan niat dan tujuan ketika menulis.  Kalo niat dan tujuan udah lurus sesuai dengan hukum syara, maka insya Allah output/karya juga akan islami dan nggak melanggar hukum syara. Istiqamah yah dalam menulis. Karena menulis pun juga bisa sebagai alat untuk sebuah perubahan yang kita inginkan. Perubahan ke arah Islam kaaffah di bawah naungan Khilafah![]

Biodata:Nama: Ria Fariana
Tempat tanggal lahir: Surabaya, 7 Oktober 1977
Website: http://riafariana.come-mail: riafariana@yahoo.com

Buku yang pernah ditulis: Siluet Senja (novel remaja: duet dengan Hafid341); Mutiara (novel remaja); No Man No Pain (nonfiksi, Gema Insani, 2007)

Aktivitas: Anggota FLP (Forum Lingkar Pena) Jawa Timur; redaktur Buletin Remaja STUDIA Bogor; dan sedang menyelesaikan program pascasarjananya di Universitas Negeri Surabaya.

7 thoughts on “Ria Fariana

  1. Hanifa Latifa Honesty Aug 20,2007 16:15

    Dear, Mbak Ria

    Tulisan mbak ria luar biasa seluar biasa karya-karya yang sudah mbak hasilkan. Jika ada sepuluh pemuda atau pemudi di setiap pelosok tanah air kayak mbak ria, Indonesia akan jadi bangsa yang mandiri, berani dan madani.

    Salam perjuangan dengan tinta, air mata dan jiwa

    HLH
    .

  2. zacky Sep 30,2007 22:56

    salam alaik..
    ana termasuk orang yang paling ketinggalan sebagai penikmat sastra2 islam.Ketertarikan ana ama sastra islam gara2 ana dipinjemi novelnya kang abik ” AYAT2 CINTA “.subhanalloh…novel itu luar biasa banget!!! gak cm masalah cinta2an ajah yang dibahas.tapi masalah akhlaq juga diperhatikan.Sejak saat itu ana suka baca2 novel islami.Wah2..ana kagum ama Ukhty Ria.ana setuju ama ukhty Ria kalo kita juga bisa berdakwah lewat sastra.Maju terus Ukhty..Indonesia butuh orang2 kayak Anti.
    Eh..tapi ana belom sempet baca novel2nya Ukhty Ria.hehehehe..
    Tar deh kalo ada rizqi moga bisa hunting novel2nya Ukhty.Amien..

  3. miamey Oct 26,2007 16:58

    assalamu’ailaikum, ukh…diundang ga ikutan KCI V di Banjarmasin ?

  4. Ria Dec 1,2007 15:10

    KCI V? Apaan tuh? Mau dong diundang-undang apalagi kalo ada fasilitas transport dan akomodasinya hehe ^_^

  5. Mulaidi May 3,2008 14:00

    Assalamu’alaikum

    I salute you Ukhty. Long time no see.

    old freind

  6. Iqbal Feb 14,2009 19:23

    Assalamualaikum Wr. Wb.

    Mba Ria, saya udah baca buku No Man No Pain, (walau buku itu buat Perempwan..he) … baguz bgt. dibumbui Humor dan Plesetan. diksinya kena remaja bgt. saya sendiri sedang berlatih supaya bisa sperti mba ria (bagi2 ilmu teknik Menulisnya yaa mba …. hehe)

    Keep Istiqamah …!

  7. selvi mega kartika sari Oct 4,2011 21:12

    ustadza klo seumpama pengen gabung gmna caranya. . .
    czx aq tertarik bgt n pengen gabung czx cerpen n novel ustadza baguzzz bgt n aq tertarik bgt. .

Comments are closed.

%d bloggers like this: