Santriwati Gaul 5

Kehidupan para santri ternyata bisa diangkat kisahnya jadi cerita yang lumayan menarik. Paling nggak bisa kita nikmati dalam sinetron yang tayang di TPI akhir-akhir ini (setiap hari Minggu, jam 19.00 WIB). Yup, judulnya Santriwati Gaul. Dibintangi tiga artis remaja yang ngetop sebelumnya di layar lebar. Mereka adalah Zhi F, Tania Harjosoebroto dan Fitria Rachmadina. Zhi F dan Tania adalah pemeran di film horor Bangku Kosong. Sementara Fitria Rachmadina di film Bintang di Surga. Oya, pemeran lain di sinetron Santriwati Gaul ini adalah Gunawan dan Renny Umari.

“Selama ini, pesantren masih dianggap sebagai pilihan sekunder dalam sebuah sistem pendidikan formal di negara kita. Padahal, tak sedikit pesantren modern yang punya sistem pendidikan yang bagus,� ujar sutradara Gambulano APH mengenai misi yang terkandung dalam Santriwati Gaul (http://seputar-indonesia.com, 20/01/2007)

Lebih lanjut menurut Gambulano, Santriwati Gaul adalah sinetron sosial dengan pendekatan komedi berlatar belakang pesantren dengan tiga orang gadis remaja sebagai tokoh utamanya. Mereka adalah sosok remaja yang tengah mencari jati diri, layaknya remaja lain. Namun karena alasan tertentu, ketiga orangtua mereka memilih pesantren sebagai lembaga pendidikan yang dapat membimbing anak gadis mereka menjadi manusia yang bisa diharapkan di kemudian hari.

“Pada intinya, tiga santriwati yang menjadi inti dalam sinetron ini adalah gambaran gadis remaja pada umumnya,� ungkap Gambulano. Dikisahkan, Aulia (Zhi F), Betty (Tania Harjosoebroto), dan Mardiyah (Fitria Rachmadina), tiga murid Pesantren Kharisma Hati yang tinggal sekamar dan bersahabat. Aulia adalah anak pengusaha kaya yang cantik, modis, gaul, berani, serta memiliki gaya bicara ceplas-ceplos. Sementara Betty, seorang gadis gendut, gemar makan, cuek, berani, tetapi sembrono, datang dari keluarga pedagang kaya. Adapun, Mardiyah adalah gadis keturunan priyayi Solo yang cantik, jujur, dan lugu. Oya, Aulia adalah sosok yang mengenal seluk-beluk dunia remaja metropolis.

Bro, cerita di sinetron ini cukup unik dan karakternya cukup kuat dari setiap tokohnya. Selain karakter tiga santriwati seperti yang udah dipaparkan tadi, ada juga karakter ustad Sobri yang diperankan Gunawan. Digambarkan bahwa ustad Sobri ini orangnya bijaksana, pintar, welas asih, gentleman ditambah paras yang rupawan. Karakter berikutnya adalah Ustadzah Habibah (Renny Umari) yang rada-rada galak, sinis (terutama kepada Aulia), judes, dan suka caper alias cari perhatian (terutama dari ustad Sobri).

Inilah sekilas gambaran tentang sinetron Santriwarti Gaul keluaran Starvision yang kini sedang tayang di stasiun televisi TPI.

Masih minim tuntunan
Sebagai sebuah tontonan yang menghibur, sinetron ini cukup menyegarkan di tengah derasnya sinetron remaja yang melulu tentang cinta dan hedonisme. Santriwati Gaul boleh dibilang beda. Meski tentu saja masih memiliki kekurangan di sana-sini. Terutama soal pesan tuntunan Islam yang ingin disampaikan dalam cerita itu masih kurang menekan.

Sekadar contoh aja dalam dua episode yang pernah tayang, Kamus Nabi Yusuf dan Kemelut di Tengah Musibah. Kalo dilihat dari segi penceritaan bisa dibilang lumayan bagus. Alurnya mengalir enak dan banyak adegan kocak yang segar. Tanpa dibuat-buat. Namun, soal isi masih perlu pembenahan. Misalnya tentang hubungan pergaulan antara laki dan wanita. Memang, dalam kehidupan nyata tentang longgarnya pergaulan antara laki dan perempuan, termasuk di lingkungan pesantren, faktanya memang ada. Bahkan sangat boleh jadi dalam sinetron ini adalah menangkap pesan yang udah nyata di lapangan.

Dikisahkan misalnya dalam episode Kamus Nabi Yusuf, Ustad Sobri yang merasa iba kepada Rena, yang mengaku bahwa perbuatan tak terpuji yang dilakukannya kepada Aulia dkk adalah karena minimnya pemahaman agama, akhirnya mau ngajarin Rena mengaji.

Nah, sebetulnya di sini jadi masalah. Sebab, pergaulan antara laki dan perempuan masih longgar. Padahal, supaya nggak terjadi hal-hal yang bisa mengantarkan kepada maksiat atau minimal fitnah, seharusnya Ustad Sobri nggak ngajarin Rena ngaji (kan bisa sama ustadzah atawa santriwatinya). Apalagi hal itu dilakukan di luar pesantren, yakni di rumah Rena. Udah gitu, nggak ada mahramnya lagi. Wah, dalam kehidupan nyata pun, kata Rasulullah saw., setan adalah pihak ketiga yang menyertai pertemuan mereka. Terbukti, dikisahkan bahwa Rena sebenarnya pura-pura aja minta diajarin ngaji karena niat utamanya adalah ingin memperdaya Ustad Sobri dan berusaha untuk memfitnahnya bahwa Ustad Sobri hendak memperkosanya.

Masih di episode itu, Ustad Sobri juga digambarkan mau aja alias nurut ketika Ustadzah Habibah meminta ditemenin ke toko buku. Lucunya, pas hendak ke toko buku, mereka berdua kepergok Ustad Mubin. Tapi Ustad Mubin bukannya melarang mereka agar tidak berduaan (berkhalwat), eh ternyata malah ngajak mereka naik mobilnya dengan alasan tempat yang akan ditujunya searah dengan yang dituju Sobri-Habibah. Waduh!

Oya, dalam episode Kemelut di Tengah Musibah juga sama, meski niat Ustadzah Habibah untuk berangkat umrah bareng Ustad Sobri nggak kesampaian, tapi penggambaran sikap Ustad Sobri yang mau saja diajak bareng sama Ustadzah Habibah pergi umroh menjadi fakta bahwa aturan pergaulan pria-wanita itu sangat longgar. Padahal, mereka jelas-jelas dalam cerita itu bukan mahram.

Sobat, ini memang kisah fiksi. Bahkan sangat boleh jadi terinspirasi dari kehidupan nyata. But, jika emang ingin memberikan tuntunan, bisa ditayangkan pesan singkat dari seorang ustad yang mengomentari cerita sinetron yang baru saja ditayangkan. Misalnya, “Sinetron yang baru saja Anda saksikan, memang gambarannya bisa jadi ada dalam kehidupan nyata di sekitar kita. Namun, penggambaran dalam sinetron ini hanyalah sebagai salah satu pemaparan fakta dalam bentuk visual. Bahwa inilah akibat longgarnya aturan yang mengikat hubungan antara laki-perempuan yang sebenarnya sudah dijelaskan dalam Islam. Sehingga pemirsa diharapkan tidak terinspirasi dengan isi cerita ini untuk melakukan kemaksiatan�

Hmm.. tapi kalo pesan singkat dari tokoh agama di akhir cerita dianggap sebagai bentuk yang menggurui atau menghakimi, bisa saja diciptakan satu tokoh yang terlibat dalam cerita itu yang selalu menjadi pengingat bagi beberapa adegan maksiat atau mendekati maksiat yang dilihatnya. Sehingga pemirsa menjadi tahu bahwa sebenarnya mereka sedang diberikan wawasan baru. Mengkritisi fakta dengan standar ajaran Islam. Bukan malah pemirsa dibiarkan menilai sendiri.

Boys and gals, tapi terlepas dari itu semua, sebenarnya masih ada pertanyaan besar: bolehkah secara hukum syara, orang-orang yang terlibat dalam sinetron tersebut itu dan melakukan adegan yang sebenarnya bertentangan dengan ajaran Islam? Sebab, gimana pun juga sebagai Muslim kita terikat dengan aturan Islam. Belum lagi kalo ngomongin soal perilaku para pemeran di luar sinetron. Kita kadang berpikir: apa mereka kemudian nggak merasa harus menjadi baik terus setelah membintangi sinetron religi? Apakah itu hanya dilakukan sebatas tuntutan skenario aja? Lalu lenggang kangkung di luar sinetron; misalnya cuek aja nggak pake kerudung dan jilbab? Hmm.. lain kali mungkin kita bisa bahas deh.

Gaul tapi syar’i dong ya
Sobat muda muslim, Islam nggak melarang kok kita gaul. Tapi tentu aja syaratnya adalah bahwa gaulnya masih dalam batasan yang dibolehkan dalam ajaran Islam. Kalo ngelihat tayangan sinetron Santriwati Gaul, kayaknya ada yang perlu diluruskan deh. Terutama pergaulan yang kesannya longgar banget antara pria dan wanita, dan itu sangat boleh jadi memang faktanya banyak terjadi di kehidupan nyata, termasuk di lingkungan pesantren.

Padahal nih, alangkah lebih kerennya lagi kalo orang yang ngerti agama tuh nggak kuper dan paham batasan syariat. Orang-orang yang seperti Ustad Sobri dan Ustadzah Habibah sangat boleh jadi banyak di kehidupan nyata. Maklumlah, meski di lingkungan pesantren tapi kan dunia ini udah sangat sesak dengan aturan Kapitalisme-Sekularisme, sehingga boleh dibilang pengaruhnya bisa saja menggerus kehidupan para santri dan orang yang ngerti agama. Bisa aja kok. Sehingga jadi nggak ada bedanya dengan orang awam dalam kelakuannya kecuali simbol dan predikat yang menyertainya. Bahkan malah jadi malu-maluin kan orang yang paham agama tapi masih suka gaul bebas dengan lawan jenis. Halah!

Bro, idealnya memang orang yang ngerti agama tuh selain seneng mengenakan simbol agama, juga pikiran dan perasaannya taat juga dengan aturan agama. Kalo cuma mengenakan peci dan baju koko, siapa aja bisa dan mampu. Kalo hanya mengenakan kerudung dan jilbab, orang kafir aja bisa kok mengenakannya. Kita jadi nggak tahu apakah mereka muslim atau bukan. Bahkan sangat boleh jadi penilaian kita langsung menyimpulkan kalo yang mengenakan simbol agama (Islam) itu adalah Muslim atau Muslimah. Betul nggak? Wong dalam film Ar Risalah aja, pemeran Hamzah adalah bintang Hollywood bernama Anthony Queen, yang pada waktu itu bukan Muslim. Meski ada kabar (yang masih perlu dicek kebenarannya) setelah main di film itu, doi kemudian masuk Islam. Wallahu’alam.

Tapi soal pikiran dan perasaan yang akan menggerakkan tingkah laku kita, itu yang nggak bisa ditutup-tutupi. Rambut boleh ditutupi kerudung, seluruh tubuh dihijab jilbab, tapi kalo perbuatannya tak mencerminkan ajaran Islam, ya perlu dipertanyakan keislamannya. Misalnya, orang tersebut malah menyerang ajaran Islam dan semangat menyerukan ide feminisme.

Begitu pula kalo ada anak cowok yang pake peci, baju koko, berjenggot, aktif di rohis, tapi masih senang pacaran, atau minimal gaul bebas dengan lawan jenis (meski dengan sesama anak rohis), itu juga nggak bisa ditutup-tutupi karena udah nyata perbuatannya. Perbuatan yang bisa diukur sebagai pembeda mana yang ngerti ajaran Islam dan yang nggak. Selain itu, tentu saja perbuatannya yang seperti itu adalah melanggar hukum syara’. Nah, jadi kudu ati-ati deh. Gaul tentang segala hal bukan berarti kemudian mencoreng predikat santri atau anak ngaji yang ngerti Islam. Jadi, kudu tahu batasannya, dan itu standarnya adalah Islam. Tul nggak sih?

Tunjukkin kepribadian Islam kita!
Sobat muda muslim, kepribadian Islam atau syakhsiyyah islamiyah kita itu nggak bisa dinilai langsung dari pakaian yang dikenakan, lho. Sebab, itu cuma aksesoris dan bisa dipake untuk nipu bin ngibulin orang. Tapi standar penilaian kepribadian Islam adalah pemikiran dan perasaan. Pemikiran dan perasaan Islam ini akan tergambar dalam sikap dan perbuatan. Itu udah pasti. Sebab, yang namanya tingkah laku pasti ngikutin pemikiran dan perasaan. So, kalo pemikiran dan perasaannya udah islami, insya Allah perbuatan dan tingkah laku juga bakalan Islami.

Itu sebabanya, kalo ada akhwat yang kepribadiannya udah islami, maka bukan saja ia gemar mengenakan jilbab dan kerudung, tapi juga pemikiran dan perasaannya senantiasa berdasarkan ajaran Islam. Beda banget kalo yang cuma nyadar dengan simbol doang, tapi belum mantap pemikiran dan perasaannya. Mungkin cuma seneng pake kerudung doang tapi kelakuannya nggak mencerminkan seorang muslimah. Iya nggak sih?

Maka, satu-satunya jalan untuk menumbuhkan kepribadian Islam kita adalah belajar. Yakni, belajar Islam dengan rutin dan intensif biar mantap, gitu lho. Kenapa harus belajar? Karena dengan belajar diharapkan kita bisa dapetin perubahan beberapa aspek, yakni aspek kognitif alias ilmu pengetahuan (tadinya nggak tahu tentang Islam jadi tahu banyak), aspek afektif alias perasaan atau emosi (tadinya nggak mau mengenakan jilbab jadi mau mengenakan jilbab karena tahu aturan dan hukumannya–pahala dan dosa), dan aspek psikomotorik alias keterampilan (tadinya nggak bisa pake jilbab jadi mahir pakenya). Oke?

So, mari kita balajar mengkaji Islam dengan rutin dan intensif untuk membentuk kepribadian Islam kita. Rutin bisa seminggu sekali, misalnya. Intensif berarti materinya berkesinambungan. Membentuk kerangka berpikir yang utuh tentang Islam. Sehingga kita lebih mantap karena tahu ilmunya. Nggak asal ikut-ikutan tren doang. Betul nggak sih? So, jangan takut jadi pinter dan shaleh-shalihah ya! [solihin]

(Buletin STUDIA – Edisi 331/Tahun ke-8/5 Maret 2007)

5 thoughts on “Santriwati Gaul

  1. HamiDaH HaniFahTusholiHah May 2,2007 11:17

    Bener,apa yang dibilangin,mungkin di tengah-tengah Era globalisasi ini, kita sebagai Remaja harus, ngerti yang kaya gituan,coz tanpa kita ngerti hukum Islam, kita ga bisa ngelakuin yang bener, bukan gitu??????

  2. abu fikri May 3,2007 15:35

    @hamidah
    iyak Betul

  3. raiguru May 12,2007 15:18

    Kayaknya emang harus begitu tapi pasti susaaaah,… dari TK SD SMP semua sudah di pengaruhi budaya barat,… model pendidikan juga banyak yang ngambil dari sana,… tayangan televisi, musik, pakaian, semua berkiblat dari luar,..

    Note
    saya pribadi cukup terkesan dengan adanya situs Gaul* Islam ini,.. karna pendekatannya yang lain dari situs situs yang lain,..

  4. Mas Komeng May 12,2007 16:24

    Aku prihatin dengan nasib anak indo saat ini, khususnya yang muslim. Kasihan dicekoki budaya dari luar Islam. Akhirnya? KIta tahu sendiri betapa rusak-bejat-amburadul! harus kembali ke Islam. Dari sekarang.

  5. Ahmad Aug 31,2007 23:03

    Udah…intinya Jangan nonton Santriwati Gaul kan???!!!

    Hanya orang bodoh yang mau menontonnya…

Comments are closed.

%d bloggers like this: