Setahun Itu Cepat 1

Pada hari ulang tahun saya yang ke 30 tahun 2004 lalu, seorang teman kirim SMS. Bunyinya, “Hidup dimulai dari usia 30 tahun!” Kemudian saya membalasnya dengan menuliskan pesan (redaksi aslinya lupa), tapi kira-kira begini isinya, “Ya, ternyata setahun itu terasa begitu cepat. Jatah hidup saya jadi berkurang satu tahun.” Cepat sang teman membalas lagi: “Kata Musashi, seribu tahun bagai kilatan cahaya”.

Kilatan cahaya? Cepat sekali bukan? Coba lihat ke langit ketika hari mulai gelap, bahkan rintik gerimis hujan mulai turun. Biasanya kadang-kadang ada kilat menyambar-nyambar ke bumi. Lihat kilatan cahayanya. Berapa detik ia “menyala”? Cepat! Bahkan super cepat. Lebih cepat dari gelombang suara.

Hidup ini memang nggak terasa saat kita menjalaninya. Saya sering mengenang masa kecil. Kadang indah terasa, tapi sering juga sesal menyergap. Indah rasanya ketika saya bisa bersenda-gurau dengan teman main di sawah atau di sungai dekat bendungan. Main cipratan air. Lucu sekali kalo itu dilakukan sekarang.

Tapi saya sering juga menyesal, karena dulu saya termasuk murid SMP yang sempat tergoda untuk ikutan jadi “bandel”. Terutama, saya mulai rajin mabal alias “minggat” dari sekolah. Namanya minggat tentu nggak perlu ijin dong. Beruntung tidak berlangsung lama, karena ada teman yang mengingatkan dan sekaligus mengajak untuk kembali baik.

Cepat, memang cepat. Saya sering ketawa sendiri membayangkan 15 tahun lalu. Waktu itu saya masih sibuk mencari pekerjaan. Bertualang dari satu tempat kerja ke tempat kerja lainnya. Saat itu saya merasa masih muda, merasa masih banyak waktu untuk mencoba dan terus menjajal. Jika sudah bosan di sebuah perusahaan biasanya saya akan pamitan. Saya pikir, gampang cari kerja dengan mengandalkan ijasah dari sekolah kejuruan tempat saya menimba ilmu.

Bahkan sejatinya bayangan 25-an tahun lalu pun saat masih anak-anak, sedikit tersisa kenangan itu. Kenangan ketika saya menjadi seorang anak SD yang suka jail. Terpaksa saya buka rahasia kebandelan saya. Kalo ada acara pramuka, saya pasti ikut. Sangat semangat. Kegiatan yang paling saya suka adalah “mencari jejak”. Kegiatan ini paling menyenangkan karena saya bisa ngerjain teman-teman saya. Saya memang bandel saudara-saudara!

Suatu saat, ketika mencari jejak saya sering berada di bagian belakang barisan. Tujuan utama waktu itu, saya akan memindahkan tanda panah yang biasanya dibuat sama panitia sepanjang rute yang akan dilalui para pencari jejak. Kalo ada jalan bercabang, saya biasanya akan mengalihkan tanda panah ke arah yang salah. Tentu saja, kelompok pencari jejak setelah gerombolan saya pasti kesasar!

Ternyata beberapa tahun kemudian saya kena batunya. Waktu itu acara hiking yang diadain sama pramuka waktu saya sekolah di Bogor. Kita semua satu grup sok tahu, sampe akhirnya baru kerasa kita ternyata kesasar karena salah mengikuti petunjuk yang dibuat panitia. Waduh!

Ingatan-ingatan masa lalu itu terasa baru kemarin. Saya kadang merasa masih inget bau keringat yang menempel di baju pramuka saya waktu SD. Ya, masih anak-anak, ternyata sekarang udah punya anak-anak. Cepat sekali berlalu.

Saya sering miris dengan amalan yang saya koleksi. Karena waktu begitu cepat, sementara amalan saya, yang bisa saya kalkulasi, itu pun dengan sangat kasar dan tanpa kalibrasi, masih sedikit yang baiknya. Bahkan jujur saja ada beberapa teman yang saya sendiri sudah lupa wajahnya, apalagi namanya yang belum saya mintakan maafnya karena saya sering ngerjain mereka waktu SD dan SMP. Semoga saja, beliau masih mau membukakan pintu maaf saya yang telah banyak berbuat salah.

Satu pelajaran dari catatan ringan yang saya buat ini, adalah jangan pernah menyia-nyiakan kesempatan. Mumpung masih muda, kayaknya lebih baik kalo kita berlomba ngebanyakkin amalan baik kita. Selagi masih sehat, kita berpacu memburu amal shaleh. Ketika diberi kemudahan oleh Allah Ta’ala untuk bisa memberikan yang terbaik bagi orang lain, lakukanlah segera sebelum segalanya terlambat.

Setahun itu memang cepat sobat. Rasa-rasanya SMS dari teman yang dikirim pada saat saya berusia 30 tahun masih tersimpan rapi di otak saya. Rasanya baru seminggu yang lalu. Eh, ternyata sekarang, tahun 2009 ini, sudah 35 tahun usia saya. Nggak terasa dan memang sangat cepat. Setahun itu sangat super cepat jika mengingat pernyataan Musashi: “Seribu tahun bagai kilatan cahaya”.

Bagaimana dengan teman-teman semua? Semoga saja catatan ringan nan sederhana ini bisa memberikan setitik inspirasi buat teman-teman untuk lebih memperbaiki dan mempersiapkan hidup ini. Saya yakin, kita masih punya kesempatan. Sambil menghitung hari yang terasa makin tersisa sedikit demi sedikit dari detik ke detik dari jatah yang ditentukan Allah Swt. bagi kehidupan kita di dunia ini.

Memang jika kita bicara umur, mana ada yang tahu (kecuali Allah Swt. tentunya) keberadaan kita di dunia itu berapa lama. Itu sebabnya yang terpenting adalah berlomba memperbanyak ihsanul amal alias amal yang baik, semampu kita. Karena, setahun itu cepat. Kita berpacu dengan waktu. Karena siapa tahu ajal lebih cepat datang kepada kita.

Setahun itu cepat. Semoga saja itu menjadikan kita lebih semangat untuk memikirkan masa depan kita. Masa depan di dunia dan juga masa depan di akhirat kelak. Jika kita gagal untuk memperbaiki prestasi saat ini, rasanya pantas untuk menyalahkan diri sendiri jika hasilnya sangat buruk yang kita dapatkan.

Mungkin pikir kita, “Kan bisa mengulang!” Ya, memang bisa mengulang, tapi tolong pikirkan bahwa waktu yang kita buang tak bakalan balik lagi. Saat kita ngulang di sekolah, teman kita mungkin sudah lulus dan sekolah di tingkat yang lebih tinggi. Saat kita mulai memperbaiki pekerjaan kita, rekan kerja sudah naik ke posisi lebih tinggi di tempat kita bekerja. Setahun, itu terlalu cepat, itu sebabnya sering membuat kita lengah. Tahu-tahu, kita tak berbuat apa-apa selama setahun itu. Sayang sekali bukan? [O. Solihin]

One comment on “Setahun Itu Cepat

  1. does Feb 20,2009 17:28

    Thank’s bgt Om
    Ana sekarang baru 20thn dan selama nie hanya dosa dan maksiat yang
    ana kerjakan, ibadahnya masih bisa di itung ma jari.
    Makasih atas wejangan nya…
    Semoga anak muda kita tetap di jalan yang lurus….
    Amien…

Comments are closed.

%d bloggers like this: