Antara Qurban dan Korban

gaulislam edisi 615/tahun ke-12 (4 Dzulhijjah 1440 H/ 5 Agustus 2019)

Kita sudah memasuki bulan terakhir di kalender Hijriyah, nih. Ada yang tahu, bulan apa? Kalo nggak tahu liat di atas judul aja deh, hehe. Yups, Dzulhijah.  Artinya, kita memasuki bulan haji, ya Bro en Sis. Selain istilah lebaran haji, ada juga yang menyebut lebaran qurban. Btw, yang betul korban atau qurban ya?

FACT about Qurban

Kalau ditinjau dari segi kronologis sejarahnya, qurban terbagi jadi tiga periodisasi lho, Bro n Sis. Pertama, pada masa Nabi Adam alaihissalam. Pernah baca atau dengar kisah anak beliau yang bernama Habil dan Qabil? Nah, di situ kita diajarkan hikmah, bahwa menjadi orang yang betul-betul mempersembahkan sembelihan terbaik itu, lebih Allah sukai daripada mempersembahkan sembelihan seadanya, bahkan yang terburuk.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Janganlah kamu memilih yang buruk untuk kamu keluarkan, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata (enggan) terhadapnya. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya, Maha Terpuji.” (QS al-Baqarah [2]: 267)

Kedua, pada masa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Kalo kamu ikut sholat Idul Adha sampai sesi khutbahnya, pasti pernah dengar kisahnya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dapat mimpi harus nyembelih anaknya yang baru baligh (Ismail ‘alaihissalam), kan? Ya, kisah ini selalu dibahas sama khatib Idul Adha, everywhere hehehe…

Ketiga, pada masa Nabi Muhammad shalallaahu ‘alaihi wasallam dan ini merujuk pada peristiwa qurban yang dilakukan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam  yang sudah diceritakan di atas. Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam surat ash-Shaffat ayat 102-108. Di sini, saya akan coba share hikmahnya saja. Terjemahnya bisa kamu baca sendiri di Quran masing-masing ya.

Berkorban untuk siapa?

Lewat momen berqurban yang cuma setahun sekali ini kita belajar, sudah sampai mana tingkat percaya kita pada Allah? Sudah seratus persen? Atau masih setengah-setengah? Bayangkan, jika Ismail ‘alaihissalam masih ragu-ragu dengan mimpi ayahandanya. Tidak percaya bahwa mimpi itu datang dari Allah yang berupa perintah menyembelih anaknya, sebagai pertanda kenabiannya. Maka, ketika akan disembelih, mungkin Ismail ‘alaihissalam akan berkata, “Sebentar, Ayah. Saya belum siap.” atau, “Tidaaaaaak…”. Kan nggak begitu kejadiannya.

Ismail ‘alaihissalam justru dalam ayat ke 102 tadi berkata, “Lakukanlah!”. Beliau begitu yakin kepada perintah Allah lewat mimpi ayahnya, sebagai bentuk kepatuhan pada ayahnya dan ketaatan pada Rabbnya.

Sebuah riwayat dalam Kitab Al-Bidayah wa Nihayah dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsir, bahkan Ismail berwasiat empat hal. Satu, beliau meminta ikatan di tubuhnya untuk dikencangkan. Supaya ketika Ibrahim ‘alaihissalam mulai menyembelihnya, beliau tidak bergerak. Dua, Ibrahim ‘alaihissalam diminta menyingsingkan bajunya. Ismail ‘alaihissalam khawatir, cipratan darahnya mengurangi pahalanya di sisi Allah.

Tiga, menajamkan pisau agar mampu menyembelihnya dengan cepat. Karena sungguh, baginya kematian perkara yang berat. Ini kemudian menjadi hal yang perlu diperhatikan bagi orang yang akan menyembelih qurban, agar tidak menyakiti hewan qurban dan langsung mati. Empat, jika sudah terpenggal lehernya, dan Ibrahim ‘alaihissalam bertemu dengan ibundanya dan ia bersedih. Maka sampaikanlah salam darinya, anak yang berbakti. Jika Ibrahim ‘alaihissalam ingin membawa baju bekas cipratan darahnya agar ia tahu bahwa Ismail berkorban untuk Rabbnya, maka lakukan. Namun, jika ia khawatir ibundanya bersedih karenanya, maka buang saja. Segitu tingginya lho tingkat keimanan Ismail ‘alaihissalam, Bro en Sis. Maa syaa Allah…

Sobat gaulislam, in syaa Allah kita tahu bahwa Allah itu Maha Adil, ya. Maka ketika Nabi Ismail sudah begitu tawakkalnya, di ayat 107 Ash-Shaffat, Allah ganti beliau dengan seekor sembelihan yang besar (kambing/domba). Dari sana kita bisa ambil hikmah, bahwa ketika kita sudah tawakkal sepenuhnya, betul-betul mengorbankan apa yang Allah titipkan lillaahi ta’ala, Maka Allah akan ganti dengan sesuatu yang lebih baik untuk kita. ‘hal jazaa-ul ihsaani illal ihsaan …’. Kebaikan itu nggak akan diganti dengan keburukan.

So, momen Idul Adha ini, khususnya qurban menjadi momen untuk lebih dekat dengan Allah. Ibadah haji, juga. Tidak bisa kita pungkiri, bulan Dzulhijah tidak hanya soal qurban saja. Bahkan bulan ini lebih sering kita sebut sebagai bulan haji. Memang sebagai penduduk negara ‘ber-flower’ bukan hal yang mudah. Perlu persiapan matang. Finansial yang memadai. Kesehatan yang prima. Tapi kita juga harus tetap perjuangkan. Nabung dan niat dari sekarang, supaya bisa terlaksana dengan benar dan baik. Ok?

Peluang Usaha

Euforia kaum muslimin di momen ini tidak hanya sibuk memilih hewan qurban terbaik untuk mendapat kecintaan Allah saja. Memilih sapi atau kambing? Kambing atau domba? Tapi bahkan, bisa kita lihat makin maraknya penjual hewan qurban dari mulai cuma jual kambing di pinggiran jalan, sampai menyediakan sapi harga ratusan juta. Wow! Itu dagingnya ada emasnya atau apa, ya?

Itu artinya, ada nilai ekonomi yang berdampak positif dari syariat yang Allah tetapkan bagi kita. Tidak hanya harta kita habiskan untuk membeli hewan qurban, tapi kita juga bisa mengikuti jejak Rasulullaah shalallaahu ‘alaihi wasallam dalam berbisnis. Bahkan bisa jadi, apa yang dikeluarkan untuk berqurban tidak seberapa dengan penghasilan berbisnis hewan qurban, lho. Ini peluang bagus buat kalian yang mau mulai berbisnis sekaligus beribadah. Enak, kan?

Jadi, apa itu qurban?

Dalil perintahnya, rata-rata kita sudah hapal, nih. Karena ayat-ayatnya pendek. Ya, Surah Al-Kautsar. Dalam ayat kedua (yang artinya), “Maka laksanakanlah sholat karena Rabbmu, dan berqurbanlah.” Jelas, ya?

Ada juga di Surah al-Hajj, ayat 34 (yang artinya), “Dan bagi tiap-tiap umat, telah Kami syariatkan penyembelihan (qurban) supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah (Allah) rezekikan kepada mereka. Maka Rabb kalian ialah Rabb yang Maha Esa. Oleh karena itu, berserah dirilah kalian kepada-Nya.

Perlu diingat! Ibadah dan tata cara dalam Hari Raya Idul Adha, seperti haji dan qurban adalah bagian dari perintah Allah ya, Bro en Sis. Keduanya bukan sekadar ajang menunjukkan kekayaan atau berbangga-bangga. Apalagi ‘pansos’ alias panjat sosial dengan membeli hewan qurban termahal lalu bikin status. Ber-haji dengan kelas plus-plus sambil buat instagram story. Boleh, tidak ada yang melarang kamu berqurban dengan hewan yang mahal dan terbaik. Bahkan Allah suka. Tapi tidak untuk riya’ dan kibr.

Jangan sampai kamu jadi korban  ghazwul fikri dan tsaqofi (perang pemikiran dan kebudayaan), ya. Sesuai istilahnya. Perang pemikiran berbeda dengan perang fisik. Mungkin sewaktu-waktu bisa kita lihat kejadiannya secara nyata, namun fenomena ini lebih cenderung implisit. Mengarahkan pemikiran musuh agar mengikuti idealisme penyerang. Contohnya saja hedonisme, kapitalisme, pergaulan bebas, LGBT dan lainnya.

Adakalanya, teman-teman kita tidak sadar bahwa mereka sudah menjadi korban ghazwul fikri dan tsaqofi ini. Bahkan lebih dari itu, remaja bahkan kaum muslimin dikorbankan demi kepentingan golongan tertentu yang sudah dan ingin terus berkuasa. Dari sudut pandang perjuangan, maka pengorbanan kita dari segi waktu, tenaga, dana, pikiran dan sebagainya adalah sebuah keniscayaan. Membela Islam di tengah-tengah kaum muslimin yang mayoritas harusnya lebih mudah. Tapi kita tidak boleh terlena dengan kuantitas. Karena itu tidak menjamin kualitas perjuangan kaum muslimin pada titik tertinggi.

Menolak lupa

Sobat gaulislam, silakan cek surah at-Taubah, ayat 71 (yang artinya), “Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar…” yang mengingatkan kita untuk terus saling menolong dalam menyeru pada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Tidak hanya salah satu, ya. Keduanya.  Tidak cukup kita berdakwah untuk mengingatkan amal sholih saja, sedangkan banyak kebathilan dan kemungkaran di sekitar kita dan didiamkan saja.

Ibadah qurban yang diniatkan semata ikhlash untuk Allah dengan cara yang baik dan benar in syaa Allah berpahala. Selain itu, bisa menjadi bentuk perjuangan kita dalam amar makruf juga kepada sesama. Pengorbanan dalam membela Islam dan menjadikan Islam sebagai satu-satunya jalan hidup juga bagian dari konsekuensi dalam perjuangan ini.

Sekali lagi saya mau mengingatkan. Jangan mau jadi korban budaya atau agama lain, ya. Cukuplah Islam yang jadi pedoman hidup kamu, ya. Nggak cuma kamu sih, kita, masyarakat, dan para Bro en Sis yang budiman lainnya.

Jangan sampai ada korban selanjutnya ya, kita harus semangat mensyiarkan Islam di mana, kapan dan dengan siapapun. Siap? [Zahrotun Nissa | IG @denissa298]