Untung-Rugi Jadi Model

Kalau ditanyakan bahwa jadi model itu enak, kayaknya jangan cepet-cepet menyimpulkan, soalnya itu belum tentu. Yang jelas, jadi model adalah pekerjaan yang tak banyak â€?memerlukan’ kerja otak. Tapi uang bisa menggelontor saban hari dan tentu jumlahnya dalam hitungan juta atau lebih. Bagaimana tidak, Claudia Schieffer, Naomi Campbell, Cindy Crawford, Elle Macperson adalah jajaran top model dunia dengan peng?¬hasilan ratusan juta. Belum lagi popularitas terangkat total, hanya dengan tampang wajah yang ciamik dan bodi yang aduhai. Kalau lagi mujur, bisa-bisa ketiban rejeki nomplok jadi penyanyi atau artis dadakan. Paling tidak itu dibuktikan oleh Cornelia Agatha, mantan model yang makin pulen dengan profesi barunya sebagai pemeran Sarah di sinetron SDAS—malah sekarang masuk SDAS 5 lagi. Atau Teh Dessy Ratnasari yang baru saja â€?mem-PHK’ suaminya, sebelum jadi artis sinetron dan penyanyi, doi adalah juara gadis sampul Femina.

Gemerlap dunia model yang menjanjikan, ternyata mampu menyihir dan menggelapkan pandangan mata remaja, yang memang lagi nyari jati diri. Tentu saja, segala celah yang bisa menghubungkannya dengan dunia model akan selalu dicari dan ditempuh (termasuk ikutan pemilihan gadis sampul, pemilihan Mojang-Jajaka Jawa Barat, kontes Abang-None Jakarta, â€?bertarung’ menjadi Putri Indonesia, sampai nekad ikutan kontes Miss Universe). Namun, benarkah remaja sekarang—khususnya remaja putri—gandrung dengan dunia model? Sehingga mereka merasa perlu meniru penam?¬pilan Cindy Crawford, Claudia Schieffer, lssa?¬bella Rosselini dan model-model lainnya?

Sifat Remaja
Siapa yang nggak kenal dengan model iklan dan bintang sinetron Syahrul Gunawan? Cowok bertampang oke pemeran Jun dalam sinetron Jin dan Jun ini, kerap digandrungi cewek-cewek. Ada yang betul-betul kagum, seneng, atau cuma iseng, dan tak sedikit yang ingin numpang beken. Wah, kece, ngetop, tajir lagi. Hingga tak jarang profesi beliau itu membuat sebagian remaja ingin menempuhnya juga.

And then, siapa yang nggak apal sama yang namanya Dessy Ratnasari, model iklan yang juga penyanyi dan pemain sinetron itu. Tahu nggak tentang Teh Dessy ini? Menurut survei tahun 1998 oleh salah satu tabloid ibukota, doi adalah model dan artis wanita paling kaya di Indonesia. Percaya atau tidak, nggak masalah. Yang jelas, dia telah menunjuk?¬kan kelasnya sebagai seorang model iklan, penyanyi dan bintang sinetron sukses. Ada yang menapak-tilasi langkah mojang Sukabumi ini? Banyak, Non!

Kenapa remaja bisa begitu latah? Menurut penelitian Dr. Seymour Fisher, psiko?¬log di salah satu universitas di Amrik sono, remaja ternyata paling sering mengalami krisis kepercayaan diri. Self Confidence-nya goyah bila mendapati dirinya berbeda—meski masalah kecil—dengan teman-teman sebayanya, dan akhirnya mengantarkannya menjadi remaja minder. Buktinya, ada adegan iklan obat anti jerawat yang menggambarkan betapa minder?¬nya si remaja yang wajahnya ditumbuhi benjolan-benjolan kecil tersebut. Padahal itu baru benjolan kecil, gimana kalau ditumbuhi tahi lalat di sekujur tubuhnya, ya? (hua..ha..ha..)

Nah, berawal dan rasa kurang percaya diri itu lalu remaja sering mengeksploitasi segala kemampuan yang dimilikinya untuk bisa tampil pede. Mata dihias biar tampil lebih oke, sampai senam untuk membentuk tubuh yang aduhai dilakoninya, atau nekad melakukan yang lebih gawat dari itu. Percaya nggak kalau dikatakan bahwa salah seorang model iklan terkenal di negeri ini pernah menempuh cara yang sangat tabu demi obsesinya jadi model. Tapi, jangan heran, kalo di negerinya Si Rambo, hal itu sudah biasa. Kalau ada peribahasa, tak ada gading yang tak retak, hampir bisa dipastikan, di barat tak ada selebriti—termasuk model—-yang tak menempuh jalur serong.

Untuk bisa tampil pede. seorang remaja putri yang punya tampang bak Kate Winslet atau Winona Ryder, ditambah dengan doku yang full tank, plus lingkungan keluarga yang miskin nilai agama, tak mustahil akan menem?¬puh dunia glamour ini. Entah jadi peragawati, model iklan, foto model, atau bintang film. Kerja santai, cuma memanfaatkan salah satu atau lebih â€?asset nasionalnya’. Dalam waktu dekat, popularitas membumbung tinggi dan duit menggelontor lancar. Enak kan? Makanya salah seorang model kondang dunia, Issabella Rosselini pernah bilang, “Jadi model itu adalah pekerjaan tanpa otak!â€? Tapi anehnya, kenapa tetap dilakukan. Enak? Bisa jadi.

Jangan aneh pula, urusan pamer alias ingin memperlihatkan apa yang dimilikinya memang sangat identik dengan wanita. Persis burung merak yang suka pamer bulu-bulu indahnya. Setidaknya seorang psikolog, C.G. Jung namanya, mengatakan bahwa wanita adalah manusia yang lebih dominan dalam aspek rasa dan intuisinya, makanya wanita akan mudah tersanjung bila dipuja, baik oleh kaumnya sendiri, terlebih kaum lelaki. Upss…, gitu, tokh?

Dan sifat remaja yang senantiasa meniru apa yang dianggapnya nyentrik dan baru, telah membuka kesempatan para pengusaha berotak kapitalis untuk memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada para remaja untuk masuk ke dalam dunia glamour yang penuh sensasi. Segala macam kebutuhan dan peluang ke arah sana senantiasa dibuka lebar dan dipermudah. Walhasil, remaja sekarang menjadi ahli mejeng dibanding ahli belajar atau pegiat dakwah. Menye?¬dihkan memang.

Bukan Cita Rasa Islam
Hidup itu perlu standar saudara-saudara. Perlu ciri khas sehingga mudah dikenali. Nggak percaya, contohnya terasi. Tahu kan terasi? Anak cewek yang biasa “nyambel terasi� pasti apal dong. Terasi saja punya ciri khas dan cita rasa tersendiri, sehingga orang mudah mengenalnya. Siapa yang nggak kenal warna dan rasa terasi?

Warnanya merah kehitaman, dan rasa?¬nya, aduh, bisa membuat lidah kita â€?bergetar’ disertai â€?sodokan’ maut mengenai ulu hati kita hingga membuat mual. Karena begitu, orang jadi mudah mengenal. Jadi, ini soal cita rasa.

Siapa yang nggak kenal Zinedine Zidane gelandang elegan milik “The Old Ladyâ€? Juven?¬tus? Zidane terkenal dengan gocekan mautnya. Kayaknya tuh bola kalo udah di kakinya seperti ogah lepas, nempel terus. Itu ciri khas. Jadi, orang akan mudah mengenal sesuatu atau seseorang dan ciri khasnya. Makanya, kalau pecandu soccer disodorkan kepadanya dua blntang lapangan hijau, dan disuruh menunjuk?¬kan yang mana Filipo Inzaghi dan yang mana Patrick Kluivert, ia akan tahu. Nggak mungkin ketuker karena dia akan tahu ciri khas masing-masing, meski keduanya menempati posisi striker di klubnya masing-masing.

Begitu pun pada tingkah laku dalam kehidupan. Kita akan bisa menentukan dan bisa membedakan siapa pencopet dan siapa ustadz. So, kita nggak bakalan terima kalau ustadz dikatakan copet atau sebaliknya.

Apalagi menyangkut masalah perbuatan, ada kaidah fiqih, “al aslu fil af’al, at taqayudu bi ahkami syar’iâ€? (hukum) asal suatu perbuatan. adalah terikat dengan hukum syara’. Jadi, standar perbuatan itu adalah hukum syara’ (Al Qur’an, hadits, ijma’ dan qiyas). Pendek kata, bila kita akan melakukan suatu perbuatan, kita harus tahu dulu apakah haram atau halal menurut aturan Islam. Dengan demikian, akan sangat celaka, bila standar perbuatan itu diserahkan kepada akal atau hati manusia. Bisa berabe. Bakal tambah runyam, karena pikiran dan pendapat manusia yang satu dengan yang lainnya sangat berbeda, makanya tak salah-salah amat ada peribahasa, “rambut boleh sama hitam, tapi isi kepala bisa berbedaâ€?. Pengen bukti? Begini misalnya, tentang mengkonsumsi minuman keras, yang di Al Qur’an sudah ada dalil keharamannya, tapi kalau itu diserahkan kepada manusia dalam penilaian?¬nya, bisa berbeda hukumnya. Bisa jadi ada yang nekat mengatakan boleh saja kalau sekadar untuk menghangatkan badan, atau boleh saja kalau cuma satu seloki (waduh, berabe juga nih!). Malah ada juga yang melarang, karena pertimbangan kesehatan. Wah, pokoknya seabrek pendapat—beda-beda lagi. Dengan demikian standar yang pasti harus ada.

Kembali ke masalah jadi model atau jadi selebriti lain (model iklan, penyanyi, artis sinetron atau film dan sebagainya), kalau dinilai dengan patokan hati, repot. Bisa jadi malah menyalah-gunakan hadits “innamal â€?amalu binniatiâ€? (sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung kepada niatnya). Contohnya, pernah ada artis kondang negeri ini ketika diwawan?¬carai oleh seorang kyai yang kebetulan jadi presenter di salah satu acara Paket Ramadhan yang disiarkan salah satu televisi swasta. Si artis mengatakan bahwa dirinya jadi artis tergantung niatnya. Kalau niatnya baik, apa mau dikata? Yang bikin perih dan gondok, si kyai itu tak berkomentar sedikitpun terhadap penyalah-gunaan hadits tersebut. Bahaya kan?

Soal profesi model, itu juga ada aturannya. Kita tahu bahwa jadi model iklan, peragawati atau bintang sinetron dan film, pasti sangat kental berhubungan dengan yang namanya �buka-bukaan’. Dan jangan salah, buka-bukaan bukan berarti selalu tampil vulgar dengan mengenakan busana swimsuit, tang top atau sejenisnya, atau malah tanpa sehelai benang pun. Tidak selalu. Untuk perempuan, rambutnya saja adalah aurat, karena yang bukan aurat bagi perempuan hanya daerah wajah dan telapak tangan saja, selain itu wajib ditutup, dan terlarang untuk dilihat lelaki yang bukan mahromnya. Kalau nekat membukanya, itu juga sudah masuk kategori porno, dan jelas berdosa.

Allah SWT. berfirman: “Hai nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan kepada perempuan-perem?¬puan mukmin: “Hendaklah mereka meng?¬ulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka. Yang demi?¬kian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, karena itu mereka tidak diganggu, dan Allah-lah Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.â€? (QS. Al Ahzab: 59).

Dalam tafsir Ibnu Katsir ada sedikit penjelasan, bahwa mengulurkan jilbab (kerudung plus jubah yang panjang, longgar dan tebal) ke seluruh tubuh mereka, agar dengan berpakaian yang demikian dikenal-lah mereka sebagai perempuan-perempuan yang merdeka (bukan hamba sahaya dan bukan pelacur) dan juga agar bisa dibedakan dari perempuan?¬-perempuan jahiliyah, serta terhindar dari gangguan orang-orang yang berkeliaran di waktu malam mencari mangsanya di antara perempuan-perempuan yang hamba sahaya dan pelacur (Tarjamah tafsir Ibnu Katsir, jilid VI, hlm. 331).

Kita sudah mafhum (paham), bagaimana cara berpakaian para top model dunia memamerkan hasil rancangan Calvin Klein, DKNY, Yves atau Versace. Berjalan di atas catwalk dengan langkah yang dibuat seapik mungkin, berlenggak-lenggok memicu adrenalin ke ubun-ubun bagi lelaki yang melihatnya. Atau model iklan sebuah produk kosmetika juga harus rela (minimal) pamer punggung kayak Bella Saphira dalam �mendagangkan’ sabun Lux dan sekaligus barangkali �menjual’ kulit mulus punggungnya. Mau yang lebih nakal? Ya, yang banyak nampang di kalender �murahan’ itu.

Memang, soal pamer tubuh itu bukan barang baru bagi �jamaah’ model. Adalah hal biasa. Malah pernyataan nyeleneh Mbak Krisdayanti tentang pamer tubuh ini, dia berargumen. “Memberi pemandangan yang indah pada orang lain, itu ibadah. Bila kemudian diartikan macam-macam atau menimbulkan angan bagi yang melihat, jangan salahkan aku,� ujarnya asal-asalan seperti yang dikutip majalah Popular No. 114, Juli 97.

Nah, jangan sampe pikiran bervirus ini mendekam juga dalam benak remaja macam kamu. Soal larangan tabarujj alias tampil all out atau berlebihan. Yakni dengan memamerkan kecantikan dan perhiasan (aurat) di hadapan laki-laki yang bukan mahrom. Firman Allah: “…dan janganlah kamu berdandan seperti dandanan perempuan jahiliyah yang dahulu…â€? (QS: Al Ahzab: 33)? 

Nah, pendek kata, jangan sampai nekat terjun bebas jadi model. Islam punya ciri khas dalam mengatur perbuatan manusia. Bila faktanya begitu, dunia model ternyata berten?¬tangan dengan gaya hidup dalam aturan Islam, dong. Kalau begitu, buat apa kita mengejar dunia yang penuh gemerlap, tapi ternyata membuat kita â€?sengsara’. Perlu berpikir beribu kali bila kita hendak memilih jalur ini. Tapi yang jelas, pilihannya hanya dua, benar dan salah.

Pupuskanlah harapan untuk menapak-tilasi Claudia Schieffer, Naomi Campbell, Okky Asokawati dan kawan?¬-kawannya, karena secara perhitungan untung-rugi ukuran dunia saja, mereka termasuk â€?tersiksa’. Hidup bagai dalam sangkar emas. Bergelimang harta tapi nggak bebas, selalu diuber rasa cemas yang amat sangat. Dan yang pasti, kebahagiaan mereka adalah semu. Bagaimana tidak, mereka meman?¬dang bahwa kebahagiaan itu adalah terpenuhi?¬nya segala kebutuhan materi dan serba jasadi, sementara seorang muslim, makna kebahagia?¬annya adalah tercapainya ridho Allah SWT. Percuma saja banyak harta dan popularitas terangkat total, tapi Allah Ta’ala nggak ridho dengan kelakuan kita yang menyebalkan dan bertolak belakang dengan aturan-Nya.

Jadi benar, yang didapat mereka adalah semu, ibarat orang yang berada di siang hari di tengah padang pasir dengan rasa haus yang seakan menggorok leher, begitu melihat riak air dari kejauhan, ia segera memburunya. Tapi, ketika didekati, mendadak semuanya lenyap. Ya, hanya fatamorgana!

Pahamkan? Nah, kalo gitu buat apa jadi model? Rugi, kan? Kalaupun untung, tapi semuanya hanya fatamorgana, tul, nggak?

(Buletin Studia – Edisi 023/Tahun 1)

%d bloggers like this: