Yang Muda Yang Doyan Pesta

Pesta bertitel “Light Up the Night” pasti kamu sudah mengenal istilah ini. Itu salah satu jenis ‘pesta’ anak muda yang kerap ‘disponsori’ oleh produsen rokok Pall Mall. Kamu tahu, acara itu sempat bikin heboh. Gimana nggak, masak promosi rokok ‘funky’ itu berubah menjadi ‘kontes nyaris telanjang’ dalam acaranya yang bertajuk “Light Up the Night–Pall Mall Top 40 the Party” yang digelar di beberapa kota besar; Bandung, Semarang, Solo, dan Yogyakarta. Tercatat, ini adalah pesta anak muda paling gokil. Soalnya, acara ini juga termasuk yang yang banyak dikritik orang. Oke deh, kita nggak bakalan ngebahas secara vulgar bagaimana acara tersebut berlangsung, yang pasti kita ingin menyoroti, betapa teman-teman remaja doyan pesta dan hura-hura. Rela ngeluarin uang dari kocek yang nggak sedikit cuma untuk memuaskan nafsunya dalam gelegak histeria.

Sekarang, anak muda memang lagi doyan-doyannya pesta, Cing. Terutama memang pesta musik. Kayaknya, hampir tiap pekan mesti ada acara konser musik, baik di sekolah, kampus maupun hotel. Tentu saja, bagi teman-teman remaja yang jagoan pesta bakal akrab banget dengan grup-grup band lokal maupun mancanegara, sebut saja seperti Grashoper, Kolestrol, Naif, Milkshake, Candybar, Washtafel On Air, Papayakui, Bandempho, Susu Putih, PADI, Sheila on Seven, dr. PM, Cokelat, Base Jamp, ditambah Westlife, Boyzone, Bon Jovi, Save Ferris, dan Metallica. O, ya, kelima grup band mancanegara itu pernah bikin konser di sini lho. Hasilnya? Banyak remaja yang histeris dan lupa diri. Berbahaya, kawan!

Brur, kayaknya kamu kudu terus prihatin, nih. Kenapa? Soalnya masih banyak teman-teman yang begitu. Buktinya? Ya, itu tadi, konser musik kerap digelar dengan model yang nggak kalah megah. Baik di sekolah atau dalam promosi suatu produk yang ngebidik pasar remaja. Tercatat, Star Mild—dengan semboyan Losta Masta-nya, A Mild, dan Pall Mall–yang terkenal dengan pesta Bubble Party dan Acid Rain-nya–kerap menjadi penyalur ‘naluri’ pesta remaja yang makin membuncah.

Kamu tahu, pesta anak muda ada di mana-mana, di sekolah, di kampus, di mall, di lapangan terbuka, sampai di hotel bisa dengan mudah dinikmati. Pokoknya dari yang gratisan sampai yang harus keluar duit. Tapi anehnya teman-teman remaja kok mudah tergoda untuk larut dalam gemuruh pesta-pesta tersebut. Padahal, tak jarang harus merogoh kocek dalam-dalam. Maklum, bandrol yang tertera dalam KTM alias kartu tanda masuk untuk sebuah pertunjukan bisa setara dengan harga sepuluh mangkok bakso. Itu harga minimal, lho, soalnya bila kamu pengen tahu, konser Westlife saja yang berhasil digelar di Jakarta bulan Juni kemarin, harga tiketnya bisa mencapai angka lima puluh ribu perak. Wah, gawat juga. Namun lebih sedihnya, tak jarang temen-teman remaja yang maksain untuk jejingkrakan nonton konser tersebut meski uang di kantong nyaris ludes. Dengan alasan; yang penting hepi, yang penting bisa kumpul bareng teman satu genk, dan yang penting asyik. Sekali lagi, asyik! Wah, wah, wah, berabe juga, Brur!

Tapi di balik semua itu, ada satu hal yang hilang dalam diri remaja. Apa? Rasa peduli. Ya, rasa itu yang hilang. Memang kita nggak habis pikir, di tengah ekonomi bangsa ini yang makin morat-marit kayak sekarang, kok masih ada sebagian teman remaja yang mampu ngeluarin duit hanya untuk pesta yang nggak ada gunanya. Saat sebagian teman kita nggak bisa bayar SPP, kok masih ada yang ‘hobi’ menghamburkan uang cuma untuk nonton konser musik. Ketika ada teman yang harus bekerja keras mengeluarkan keringat—bahkan darah—hanya untuk bayar uang sekolah, kenapa sebagian teman remaja dengan mudah ‘melenyapkan’ uang yang dimilikinya dengan hura-hura di tempat pesta? Membingungkan dan memang menyakitkan kenyataan ini. Ternyata masih banyak orang yang nggak menghargai apa yang dimilikinya, sementara orang lain begitu ingin memilikinya. Ah, kebalik-balik memang!? 

Boros? No Way!
Bayangkan, jika kamu dalam sebulan nonton konser musik empat kali. Tiket sekali masuk 50 ribu perak, berarti dalam sebulan kamu harus menguras ‘celengan bagong’ kamu sebanyak 200 ribu rupiah (ih, masak celengan bagong, hi..hi..hi..). Itu baru tiket. Belum jajanannya yang kerap bikin mata kita ‘melotot’ bila lihat bandrol yang tertera. Tentu, jagoan pesta masak cemilannya cireng atawa combro, nggak kelas dong. Pasti yang berselera ‘bule’. Paling nggak yang berloga huruf “M” yang berwarna merah dan kuning, dan ada gambar badutnya. Ya, mana lagi, selain (di) McD, eh, sori ini bukan iklan, lho! Makanan begituan Brur, bisa bikin kantong kita bolong. Nggak percaya? Silakan coba. Sekarang kamu kalkulasikan, berapa biaya hidup kamu yang cuma untuk urusan pesta dan jajan? Bisa lebih besar dari gaji guru SD sebulan, kan? Nggak kebayang kan betapa borosnya kamu? Belum lagi bila uang yang kamu bobok dari tabungan dibelanjakan kepada hal yang haram? Wah, itu namanya rugi berat, Brur! (soal yang satu ini, kamu bisa buka kembali Studia edisi 027/Tahun I, oke?).

Memang ini fakta yang bisa kita lihat sekarang. Ternyata para pengelola acara-acara pesta itu nggak memperhitungkan akibat lanjut dari perkembangan anak-anak bangsa ini, Non. Bayangkan saja, berbagai sarana untuk menggelar acara pesta itu hanya akan menumbuhkan generasi lembek kayak es krim. Betul-betul kacau. Teman-teman remaja cuma diajarkan untuk hidup boros bin hura-hura, udah gitu nggak peka lagi terhadap lingkungan sekitar. Bisanya cuma pesta dan jajan mewah. Centilnya nggak ketulungan, tapi otaknya beku banget. Tingkahnya super pecicilan. waduh, kondisi tersebut akhirnya cuma menciptakan gaya hidup Beverly Hills; hura-hura, seks bebas, narkoba,?  jago pesta dan jajan. Ah, menyakitkan banget. Ampuuuun!

Kebayang nggak sih, gimana perasaan kamu, ketika perut kamu diisi penuh dengan jajanan yang harganya selangit, sementara teman atau tetangga kamu nggak bisa makan—meski hanya jajanan biasa. Juga ketika kamu tiap minggu asyik pesta bersama teman satu genk, padahal dalam waktu yang bersamaan, teman atawa tetangga kamu yang lain nggak mampu membeli sepiring nasi. Dimana rasa peduli kamu, Brur? Jadi memang, hidup boros itu nggak baik, dan tentu nggak benar. No way! Catet itu, ya!

Menumbuhkan Kepedulian
Hidup ini tak selamanya bisa memilih kawan, kadang kala kita harus menerima apa adanya, meski pedih sekali pun. Wah, kalo hidup bisa milih, tentu kita bakal enak dong. Bisa melakukan segala hal yang kita inginkan. Bakal menyingkirkan semua yang nggak kita kehendaki. Dan pengennya menerapkan semboyan ‘dagadu’; “muda hura-hura, tua kaya-raya, mati masuk surga.” Kalo seperti itu enak banget. Tapi sayang, hidup nggak selamanya bisa memilih. Itu harus kamu pahami betul, Brur. Bagi seorang muslim, kehidupan dunia?  itu bagai ‘penjara’. Serba nggak boleh. Tentu yang nggak boleh dilakukan adalah yang haram. Tapi, biasanya yang haram itu justru yang enak-enak. Makanya, kadang kita suka lupa, terlanjur enak, sih. Padahal yang kamu lakukan itu ternyata haram, Non! Ih, bikin malu. Udah gitu dosa lagi. Wah, kacau dong?

Oke, yang jadi masalah sekarang kan hilangnya rasa peduli dalam diri kamu. Lalu gimana cara menumbuhkannya? Kita memang harus peduli kawan. Ya, peduli terhadap keadaan di sekitar kita. Kalo kita mau peduli, masih banyak teman-teman dan saudara kita yang membutuhkan ‘kucuran’ harta yang kita miliki. Tentu akan lebih berkah bila harta yang kita miliki diinfakkan ke jalan yang benar. Dan tentu akan mubadzir bila disalurkan hanya untuk kegiatan yang nggak ada gunanya, terlebih haram. Hidup itu seperti putaran roda, Brur. Kadang di atas kadang di bawah. Misalkan, bila kini kita kebetulan lagi tajir, bisa jadi esok pagi kita tekor bin bangkrut. Siapa tahu kan? Bila sekarang kita sehat, siapa tahu besok malah koit. Ini juga nggak heran dan nggak aneh.

Rasa peduli itu bisa tumbuh saat kita menyadari bahwa kita dengan teman yang lain adalah sama dan bersaudara. Apalagi kita disatukan dalam akidah Islam yang benar. Pasti rasa memiliki di antara kita lebih kuat. Kita nggak akan rela melihat teman menderita sementara kita hura-hura dan aktivis berat pesta. Nggak baik, dan memang nggak benar!

Perlu dicatat, hidup bukan cuma tumbuh, berkembang lalu mati. Bukan. Bukan cuma itu sayang, Hidup akan terasa lebih bermakna, bila kita mengetahui arti hidup itu sendiri. Ya, kamu perlu tahu, dari mana kita datang, mau ngapain di dunia, en mau ke mana setelah ‘pensiun’ dari dunia ini. Itu pertanyaan yang harus kamu jawab dengan baik. Kalo seorang muslim, pasti akan menjawab segalanya dari Allah, untuk Allah dan akan kembali kepada Allah. Jelas, bila demikian, maka dalam hidup ini kamu nggak bakalan berbuat sesuka kamu. Tapi harus selalu menyandarkan perbuatan sesuai aturan Islam. Baik atau buruk menurut Islam. Pokoknya, standarnya halal atau haram menurut Islam.

Jadi tak usahlah kamu memanjakan dirimu dalam segala gemerlap pesta, sementara di sekitar kamu masih banyak teman yang menderita. Hidup kan bukan cuma untuk pesta dan hura-hura. Di mana rasa peduli kamu sebagai seorang muslim? Catet ya!

Kikis Hura-hura!
Anak-anak yang animal party memang kerap bikin kita-kita nggak habis pikir. Hura-hura seolah menjadi �ideologinya’. Makanya nggak heran di mana ada pesta di situ ada dirinya. Sepertinya nggak bisa lepas dari urusan pesta dan hura-hura.

Bagi teman-teman yang doyan pesta, sudah saatnya pensiun dari dunia penuh hura-hura—yang juga sering diikuti dengan huru-hara. Ya, seringkali pesta berbuntut petaka. Rusuhnya konser Metallica di Lebak Bulus, awal tahun 1990 adalah bukti paling nyata dari sebuah pesta anak muda. Belum lagi konser-konser musik Iwan Fals yang kerap mengundang provokator untuk membikin rusuh. Walhasil, semua itu nggak ada gunanya. Sudahlah kantong bolong, celaka, lagi. Wah, suuial buanget, tok rek!

Brur, bila melihat gaya hidup Rasulullah saw. dan para sahabatnya yang mulia, kita bakal malu. Suer, dalam soal kehidupan, Rasulullah termasuk orang yang paling sederhana. Bayangkan, sebagai nabi dan rasul, juga sebagai Khalifah (pemimpin negara), beliau cuma tidur di �kasur’ dari jerami. Belum lagi kesederhanaan Umar bin Khaththab r.a. yang jauh berbeda dengan kita. Sebagai khalifah, Umar cuma memiliki dua stel baju. Sampai-sampai para sahabat yang lain mengusulkan untuk memberikan tunjangan kepada khalifah Umar. Namun usulan tersebut ditolak mentah-mentah, dengan alasan beliau ingin mengikuti kesederhanaan Rasulullah saw. Salman Al Farisi pun tercatat sebagai orang yang sederhana. Penggagas strategi membuat parit dalam perang Khandaq ini sampai meninggalnya cuma memiliki sebuah rumah yang ukurannya benar-benar pas-pasan. Maksudnya, tingginya pas dengan tinggi tubuhnya, begitu pun bila ia tidur, panjang �rumahnya’ hampir sama dengan panjang tubuhnya. Sikap hidup beliau itu lebih dikarenakan karena ia ingin tampil sederhana. Memang hebat!

Bagaimana dengan kita? Ya, kita juga bisa mencontoh mereka, kawan. Suer, mereka semua adalah teladan yang baik buat kita. Malah bila kita mau peduli dengan keadaan saudara kita, ada kisah yang juga menarik. Kamu tahu kan putri Rasullah yang menikah dengan Ali r.a.? Yes, Fatimah Az Zahra! Putri nabi ini, pernah memberikan kalung emas yang ia miliki kepada seorang pengemis yang kelaparan untuk dijual kembali dan uangnya bisa untuk makan pengemis tersebut. Padahal Non, Fatimah saat itu sedang berada dalam kesulitan juga. Coba sudahkah kita seperti itu? Kita upayakan yuk!

Jadi tinggalkan pesta, kikis hura-hura, dan jadikan gaya hidup sederhana sebagai �model’ hidup kita. Dan, masyarakat juga kudu memberikan perhatian bagi remaja. Paling nggak, ikut membina remaja dengan hal yang baik. Jangan malah menambah masalah!

(Buletin Studia – Edisi 033/Tahun I)

%d bloggers like this: