Nyaris Kugadaikan Akidahku…
Aku dibesarkan dalam lingkungan yang jauh dari nilai-nilai Islam. Jangankan sholat, kecintaanku kepada Rasulullah saja, tak pernah terlintas. Sejak TK hingga SMP, aku belajar di sekolah non Islam. Alasan orangtuaku, karena sekolah ini paling bagus model pendidikannya. Memang cukup bagus, tapi ternyata kami yang muslim pun diwajibkan mengikuti program agama mereka.
Anak-anak muslim seusiaku mungkin sudah mengenal nama-nama Nabi, nama-nama Sahabat Rasul, sholat itu wajib, amar ma’ruf nahi munkar kudu dilaksanakan. Tapi tidak denganku, untuk mengenal angka 1 sampai 10 dalam bahasa arab saja aku tidak tahu.
Aku lebih terbiasa dengan doa-doa yang mereka pakai ketika memulai pelajaran dan pulang sekolah. Aku juga lebih terbiasa dengan lagu-lagu kerohanian yang diajarkan guru agama Kristen. Penjiwaanku terhadap lagu-lagu kerohanian mereka, lebih kental dibandingkan penjiwaanku ketika membaca al-Quran. Itupun baru kupelajari setelah kedua orang tuaku menyediakan pengajar dari luar. (more…)
Di Negeri Kapitalis, Kutanggalkan Ideologi Sosialisku
Aku tak pernah menyangkal, bahkan aku tak bisa mengelak dari kenyataan hidupku. Aku memang cucu seorang kumunis, tapi aku bukan sampah!
Awal perkenalanku dengan ide Sosialisme dimulai ketika aku menerima ejekan dan hinaan orang pada keluargaku. Aku tak mengerti, mengapa mereka selalu mengejek? Apa yang salah dari kami? Memang kakekku eks anggota PKI, tapi apa hubungannya dengan kami? Mengapa kami jadi warga negara kelas dua? Pertanyaan-pertanyaan itu selalu menggangguku.
Kebencian dan kenyataan pahit yang kami hadapi, membuatku mulai tegar. Aku penasaran, apa sih yang membuat orang-orang benci pada PKI? Meskipun kakekku masih di tempat pengasingannya di Nusakambangan, tapi nenek masih setia merawat barang-barang kakek, termasuk buku-bukunya. Buku-buku itulah yang mulai mendekatkanku pada Marx, Engels, hingga Rosa Luxemburg. Dari Che Guevara, Lenin, Trotsky, hingga Bakunin. Hmm.. aku mulai tahu, ternyata yang orang-orang benci itu adalah sesuatu yang luar biasa! (more…)
Maafkan Aku Anakku
Anak adalah suatu anugerah yang diberikan Allah sebagai titipan yang harus kita jaga. Seandainya aku mengetahuinya dari dulu, mungkin kepergiannya tidak akan secepat ini. Tapi siapa yang tahu rahasia Allah, Dia telah mengaturnya. Semoga aku teribrahkan dari cobaan ini.
Setiap ibu pasti mendambakan seorang anak. Menurutku hal ini sudah menjadi sunatullah yang diberikan kepada seorang wanita. Apa yang kuinginkan akhirnya terkabul juga. Setelah aku menikah, Allah menganugerahkan kami seorang anak perempuan yang lucu, mungil, dan imut. Aku sangat gembira sekali karena kehadirannya memang menjadi penantian kami siang dan malam. Kami memberi namanya Indah.
Seperti ibu yang lain, aku mulai merawat bayi kecilku. Setiap hari aku sibuk menyusui dan menggendongnya. Tingkahnya yang lucu menggoda anganku untuk berkhayal tentang masa depan si mungil.
Walaupun pendidikan agamaku kurang, tetapi aku menginginkan anakku kelak besar nanti menjadi anak yang baik dan soleh. Ya, memang sudah menjadi standarisasi keinginan setiap orang tua menginginkan anaknya lebih baik dari dirinya. (more…)
Narkoba Sahabatku
Waspadalah dengan pergaulan. Itulah nasihat yang aku abaikan. Karena itu pula aku menjadi seorang junkies. Bersahabat dengan narkoba
Persahabatanku yang luas dengan berbagai kalangan, membawaku menerjuni kehidupan malam bertemankan minuman keras. Bahkan aku merasa hal itu sebagai rutinitas keseharianku. Semakin lama aku merasakan kesenangan hidup yang sungguh luar biasa. Hingga akhirnya pergaulanku semakin luas sampai akhirnya aku bertemu dengan teman-teman yang lain.
Pada suatu malam ada teman nongkrong yang datang dengan membawa beberapa pil yang berwarna pink yang aku sendiri belum pernah melihatnya. Dia menawarkannya untuku dan teman-teman. Dengan senang hati kami menerimanya termasuk aku. Sebenarnya muncul dalam diriku perasaan takut untuk mengkonsumsinya, akan tetapi karena dorongan teman-temanku hingga muncul perasaan “tak ada alasan untuk berkata tidak”.
Lima belas menit setelah memasukkan Pil tersebut barulah terasa reaksi hebat dalam diriku. Perasaan yang belum pernah aku rasakan selama ini. Aku seakan-akan masuk ke dalam kehidupan yang penuh gairah, semangat dan penuh keberanian. Hingga aku memiliki kesimpulan bahwa Lexotan lebih dasyat dan lebih menyenangkan daripada minuman keras. Setelah peristiwa itu aku perlahan meninggalkan aktivitas minum-minuman keras dan beralih mengkonsumsi pil pil sejenis lexotan dan ekstasi. (more…)
Aku Pemuas Nafsu Tante Girang
Kehidupan di Ibukota memang lengkap. Sarana pendidikan, olahraga, sampai hiburan, lengkap tersaji. Jika Moammar Emka, menulis dalam Jakarta Under Cover tentang kehidupan malam Jakarta beserta komunitas penghuninya yang menjijikkan, maka akulah salah satu anggota komunitas itu.
Awal dari petualanganku di dunia gelap ibukota berawal saat aku meninggalkan kalimantan dan pindah ke Jakarta di pertengahan tahun 1995. Ayahku yang seorang pejabat teras pemerintah daerah kala itu mendukung niatku yang ingin menikmati pendidikan lebih layak di Jakarta. Biaya hidup dan pendidikanku, tempat tingal yang mewah, Mercy A-Class, semuanya dipenuhi oleh ayahku dengan harapan kelak aku akan menjadi putra daerah yang sukses.
Setelah tiba di Jawa, aku sengaja tidak mengikuti UMPTN untuk menghindari masuk Perguruan Tinggi Negeri. Keinginan untuk menikmati glamornya kehidupan remaja ibukota sepenuhnya, telah mendorongku untuk masuk ke sebuah universitas swasta ternama di Jakarta. Dan benar saja, dengan dukungan tampang dan harta yang lumayan, dalam waktu singkat aku bisa menikmati kehidupan glamor Jakarta. Wanita cantik dan seksi, tinggal aku pilih. Klub-klub malam, diskotik, pub, caf?-caf? elegan di Jakarta menjadi rumah singgahku menghabiskan malam. Jika di Jakarta ada 1000 tempat mesum yang elegan dan bukan ecek-ecek, maka aku tahu 999 nya. (more…)
Aku Pemuja Hawa Nafsu
Masa sekolah dan kuliah aku habiskan dalam genangan hawa nafsu. Minuman keras dan seks bebas adalah tarikan nafasku. Sampai akhirnya keluguan seorang pelacur muda membuka kedua mataku yang buta. Buta dari hidayah Ilahi.
Keluarga yang sakinah, mawadah warahmah, begitu penilaian orang atas keadaan keluargaku. Pamanku yang seorang pimpinan pondok pesantren di sebuah daerah di kotaku, keluargaku yang kebanyakan ustadz, bukan halangan bagiku untuk meraih berbagai julukan seperti “Anak Setan” yang diberikan oleh guru-guru di SMU atau “Si Bogor Gila” sebuah julukan yang diberikan teman-teman kost ku waktu kuliah di Bandung, karena kebiasaanku menenggak minuman keras. Aku lebih akrab dengan botol-botol laknat daripada buku-buku pelajaran sekolah. Apalagi al-Qur’an.
Bersama gank-ku disekolah, aku lebih dikenal “si pembuat ulah” yang membuat pusing guru-guru yang ada. Nggak aneh. Kalo selanjutnya setiap ada trouble, pasti aku bersama gank-ku menghuni daftar pertama “most wanted” pihak sekolah. Pernah suatu ketika, aku datang ke sekolah? terlambat dalam keadaan sempoyongan karena mabuk berat. Demi, melihat keadaanku datang dalam keadaan mabuk berat, guru? yang sedang mengajar di kelas pun menangis dan lari. Pernah juga, karena kebiasaanku memakai baju sekolah dikeluarkan, ada seorang guru perempuan yang memakai kerudung, menegurku untuk memasukan baju sekolah. Spontan, aku langsung membuka celana di depannya, lalu aku masukan bajuku. Guru itu langsung menangis, karena tindakan kurang ajarku. Sampai teman-teman pun menganggap aku ini sudah gila. (more…)
Kuhanyut dalam Cinta
Cinta yang bersemi dalam hatiku memang membuatku bahagia, tapi kebahagiaan semu. Selebihnya aku menderita karena cinta. Namun entah kenapa aku terus hanyut dalam nuansa biru itu. Sampai akhirnya aku menemukan kebenaran.
Aku merupakan anak bungsu, dibesarkan dalam keluarga yang sedang-sedang saja. Tapi aku masih sempat bersyukur karena kehidupan keluargaku berjalan harmonis. Bapakku seorang imam masjid di kampung tempat aku tinggal. Kakakku seorang pengajar madrasah di sini. Boleh dibilang keluargaku merupakan keluarga yang taat terhadap agama. Itulah mungkin kenapa dalam pergaulan, aku tidak “terlalu” terbawa arus. Cuma seperti kebanyakan keluarga yang mendidik anaknya dengan pendidikan agama “alakadarnya” yang hanya mengandalkan pendidikan agama untuk anaknya dari sekolah dan separo lagi dengan ngambil sana, ngambil sini. Maka aku pun bernasib seperti jutaan anak-anak muslim lainnya. Menjadi muslim yang tidak kaffaah. Yang hanya tahu sholat, zakat, puasa dan haji adalah kewajiban satu-satunya yang harus dijalankan oleh seorang muslim. Tidak terkecuali yang namanya urusan pacaran, yang seharusnya dijauhi dan dicampakan aku termasuk yang mengerjakannya. (more…)
Menjemput Hidayah Di Philadelphia
Berawal dari frustasi karena putus cinta, aku terjerumus ke dalam lingkaran kejahatan di negeri Paman Sam. Tak pernah terpikirkan sedikit pun bahwa aku bisa menjadi bagian dari mereka. Dalam pergulatan batin ini, aku mencoba meniti jalan hidayah-Mu.
Aku dilahirkan di sebuah kota kecil di Jawa Timur yang dikenal sebagai kota santri. Keluargaku bukan tergolong mampu, tapi bisa menyekolahkan aku dan kedua adikku. Aku anak pertama dari tiga bersaudara. Usia 4 tahun aku sudah masuk SD–karena ikut-ikutan teman–sehingga menjadi anak yang paling kecil di kelas. Tapi aku di sekolah selalu mendapat ranking pertama sampai SMA. Selain di sekolah, aku juga rajin mengaji di masjid dan di pondok pesantren.
Selepas SMA aku kuliah di Fakultas Sastra Inggris sebuah universitas di Jember. Hidup jauh dari orang tua dengan kiriman uang pas-pasan, mau tidak mau harus bisa aku jalani. Tapi itu tidak berlangsung lama. Hanya bertahan setahun kuliah, aku harus berhenti karena orang tuaku tidak sanggup lagi membiayai kuliahku. Akhirnya aku memutuskan untuk berhenti lalu bekerja di Surabaya, sebagai pegawai pabrik elektronika yang cukup besar di sana. Tapi kemudian aku memutuskan untuk pindah kerja karena tidak cocok dengan lingkunganku, aku pindah ke Bali menjadi pegawai di sebuah biro wisata, berbekal kemampuan bahasa Inggris yang lumayan bagus. (more…)
Demi Jilbab Aku Rela Drop Out
Tidak mudah menjadi muslimah yang istiqamah di zaman ini. Aku yang ingin berjilbab mendapat banyak hambatan dan tentangan. Tapi, apapun insyaAlllah akan kuhadapi walau harus drop out dari bangku sekolah.
Berjilbab bukannya tanpa halangan, termasuk dari orang tua. Cukup sering aku ribut-ribut kecil dengan keluargaku soal jilbab ini. Dibilang sulit cari jodoh, sulit cari kerja, kayak ibu-ibu, kayak wanita hamil. Belum lagi kalau pergi ke warung, pasti aku harus berjilbab dulu, pake kaos kaki. Ini dikomentari ribet, tidak praktis, makan waktu. Tapi alhamdulillah, seiring perjalanan waktu, dan juga usaha gigih dari aku dan kakak-kakakku memahamkan soal kewajiban jilbab akhirnya mereka bisa menerima.
Begitu menginjak bangku SMU aku mengajak kawan-kawan di pengajian sekolah untuk berkerudung dan berjilbab. Untuk itu kami mengumpulkan uang untuk membeli bahan seragam jilbab. Ketika naik di kelas II akhirnya kami semua berjilbab. Caranya bahan seragam kemeja putih itu kami sambung dengan rok tapi tetap kami tutupi sehingga keliatan dari luar seperti tidak berjilbab. (more…)
Petarung Jalanan Jadi Anak Pengajian
Karena orang tua bercerai, aku pun lari ke jalanan. Miras dan narkoba menjadi pengisi hari-hariku. Lalu aku mempopulerkan diriku menjadi seorang petarung jalanan.Bahkan aku bercita-cita ingin mati dalam setiap pertarunganku.
Suramnya kehidupanku itu terjadi ketika aku duduk di sekolah dasar. Kedua orangtuaku memutuskan bercerai. Ayah pergi ke Jakarta, sementara ibuku tinggal di Bogor sampai kemudian menikah dan hijrah ke kota Metropolitan. Sementara aku tinggal bersama nenek di Kota Hujan, Bogor. Sebagai anak kecil aku tidak mengerti apa-apa, termasuk karena alasan apa orang tuaku bercerai. Tapi yang pasti, aku mulai merasakan kurangnya perhatian dan kasih sayang dari orang tuaku.
Sebagai pelarian, aku sering meninggalkan rumah nenekku dan jarang pulang. Aku lebih memilih untuk tidur di rumah teman-temanku. Pernah juga aku tinggal di rumah seorang musisi rock terkenal. Dari berbagai pergaulan ‘liar’ seperti itulah beragam kehidupan jahiliyah mulai aku kenal. (more…)
« Previous Page — Next Page »
