gaulislam.com


Menumbuhkan Percaya Diri Anak

Posted in Keluarga,Pernik by Leila Amra on the December 15th, 2009

Anak-anak di Inggris dan Mesir sejak kecil sudah sangat percaya diri belajar bahasa Inggris atau Arab. Bagaimana di tempat kita?

Oleh Mohammad Fauzil Adhim*

Seandainya setiap anak yang baru lahir tidak memiliki keberanian untuk mencoba, nis­caya tak ada yang dapat mereka lakukan. Seandainya anak-anak kita takut mengha­dapi kegagalan, niscaya mereka tak bisa berjalan hingga kini. Sebab, sekedar untuk berjalan saja, banyak kesulitan yang harus mereka hadapi dan tak sedikit rasa sakit yang harus mereka tanggung. Hidung mungkin sudah lebih dari sepuluh kali tersungkur ke tanah hanya karena mereka belajar merangkak. Lutut… entah berapa kali meng­alami luka. Tetapi anak-anak tak pernah putus asa. Anak-anak senantiasa bersemangat, sampai orangtua memadamkannya dengan alasan kasih-sayang.

Pada mulanya anak-anak tak peduli dengan pakaian yang mereka kenakan. Apa mereknya, mereka tak peduli. Mereka juga tidak pusing-pusing jika ada yang sobek di kiri dan di kanan. Mereka tetap saja melangkah dengan mantap karena mereka berpusat pada tujuan. Tidak sibuk membayangkan apa yang akan dikatakan orang. Mereka belajar dengan ikhlas. Tetapi orangtualah yang membuat mereka malu berangkat ke sekolah ka­rena sepatu yang dipakai tak sebagus teman-temannya. (more…)

Saat Menegangkan sebagai Orang tua

Posted in Keluarga,Pernik by Amira Mehnaaz on the December 8th, 2009

Sungguh, pada mulut kita terletak surga dan neraka kita, sekaligus surga dan neraka anak-anak kita. Maka apakah yang sudah kita lakukan?

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Pernah ribut dengan anak? Kita merasa sudah menasihati, mewanti-wanti, dan menjelaskan tentang apa yang boleh dan apa yang tidak, tetapi anak masih saja melakukan hal-hal yang tak terduga. Urat syaraf kita menegang karena anak membangkang. Ada sebagian orangtua yang menangis karena merasa anaknya tak mengerti kemauan orangtua. Padahal sudah banyak diingatkan, dimarahi, bahkan dihukum.

Lonjakan tekanan emosi ini akan lebih menegangkan lagi ketika ada tamu datang ke rumah kita, sedang berbelanja di toko, atau saat melakukan perjalanan jauh bersama anak. Semenjak usia dua tahun, anak sepertinya tahu bahwa dalam situasi-situasi seperti itu kendali orangtua melemah. Ibu tak akan mengeluarkan teriakan yang menakutkan, bapak tidak mungkin berdiri mengacungkan tangan untuk memukul, seheboh apapun tingkah anak. Mereka tahu, orangtua kerap kali tak berdaya menghadapi tingkah anak–setidaknya selama tamu masih berada di rumah. (more…)

Anak Kita dan Zaman

Posted in Keluarga by Leila Amra on the November 27th, 2009

“Wah sudah besar, ya anakmu?” apa yang kita rasakan ketika mendengar sapaan itu. Bangga? Rata-rata demikian. Setiap orang tua akan bangga ketika disapa demikian. Anakku sudah besar, pikir kita.

Tapi pernahkah kita tersentak mendengar sapaan itu, “anakku sudah besar” Ya anakmu sudah besar. Sudah bertambah usianya. Dan apa saja yang telah engkau berikan kepada anakmu sepanjang usianya? Tahukah kau peristiwa apa saja yang telah terjadi sepanjang usianya? Ketika ia tertawa bahagia, mendapatkan momen yang membungakan perasaannya, hadirkah engkau di sana, turut tertawa bahagia bersamanya? Dan ketika ia meneteskan air mata duka karena kecewa dan hatinya luka, apakah engkau ada di sisinya? Engkau jadikan dadamu sebagai tumpahan air matanya? Dan engkau usap rambutnya yang halus agar ia tahu bahwa ia tak menangis sendirian, bahwa engkau ada bersamanya? Berempati merasakan duka dengannya. Seberapa sering itu kau lakukan? (more…)

Engkaulah Tulang Punggung

Posted in Keluarga by Hasna Hawwa on the December 23rd, 2008

Imam Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah pernah bercerita, “Aku dan Fatimah, putri Rasulullah saw. Pernah menderita kelaparan berhari-hari. Demi Allah, saat itu tak ada sebiji kurma kering pun pada kami.

Lalu Fatimah berkata kepadaku, “Pergilah mencari makanan!”

Maka aku bangkit mengenakan jubahku yang terbuat dari bulu domba untuk menahan rasa dingin yang menyengat. Kemudian aku memohon kepada Allah dan memohon ampunanNya agar Dia memberiku rizki.

Tiba-tiba, aku teringat dengan seorang Yahudi pedagang yang memiliki kebun di Khaibar. Maka aku bergegas pergi menemuinya. Ternyata ia sedang memutar kincir airnya di sawah. (more…)

 

  rank blog indonesia   Religion Blogs - Blog Top Sites