Tuesday, 13 January 2026, 13:15
6b3bbce9-7934-490d-985b-b6b001f4d666

gaulislam edisi 951/tahun ke-19 (23 Rajab 1447 H/ 12 Januari 2026)

Di zaman sekarang, orang bisa aja masuk penjara bukan karena korupsi, tapi karena udah bikin orang ketawa. Bukan ketawa di ruang sidang, tapi ketawa di ruang komedi. Satu panggung. Satu mic. Beberapa punchline. Lalu muncul kata sakti: “Dilaporkan.”

Lucu? Iya. Ngeri? Juga. Indonesia 2026 memang unik. Negeri kita ini ramah sama candaan receh, tapi gampang alergi sama satire yang nonjok kekuasaan. Apalagi kalo yang disinggung pejabat, simbol, atau tokoh yang sudah keburu dikultuskan. Begitu kena, bukan klarifikasi dulu, tapi: hajar dulu, urusan belakangan.

Di tengah keramaian itu, nama Pandji Pragiwaksono kembali nongol di timeline. Bukan hanya karena punchline baru, tapi karena laporan polisi. Materi komedinya di pertunjukan Mens Rea dianggap menghasut, menodai agama, bahkan dituduh body shaming terhadap wapres. Padahal, kalo ditanya faktanya: yang ketawa banyak, yang nonton sold out, yang ribut justru yang nggak datang ke panggungnya. Kasus Pandji ini kayak meme lama, “Yang tersinggung biasanya bukan targetnya.”

Pertunjukan Mens Rea digelar Agustus 2025 (tepatnya, pertunjukan puncak yang digelar pada 30 Agustus 2025 di Indonesia Arena, Jakarta), ditonton ribuan orang, tiket ludes terjual, dan suasananya kondusif. Nggak ada lempar kursi. Nggak ada rusuh. Sebab, yang ada cuma tawa, tepuk tangan, dan beberapa dahi berkerut mikir.

Masalah baru muncul setelah tayangan ini masuk Netflix pada 27 Desember 2025. Penontonnya jadi random. Bahkan yang tersebar di medsos adalah potongan video. Konteksnya dipotong. Cuplikan disebar tanpa pembuka dan penutup. Akhirnya, komedi dibaca kayak berita kriminal. Punchline diperlakukan kayak delik aduan. Dan komika pun berubah status: dari stand-up comedian jadi stand-up (mungkin) tersangka.

Ceritanya begini. Pandji Pragiwaksono, seorang komika senior yang sudah lama menjadikan panggung sebagai ruang kritik, dilaporkan ke Polda Metro Jaya karena materi komedinya dalam pertunjukan Mens Rea.

Nah, yang bikin tambah rame, laporan itu pakai KUHP baru. Pasal-pasalnya serius, namanya aja udah bikin kening berkerut: penodaan agama dan penghasutan. Singkatnya, ini bukan laporan remeh temeh.

Laporannya diajukan oleh pihak yang mengatasnamakan diri sebagai Angkatan Muda Nahdlatul Ulama dan Aliansi Muda Muhammadiyah. Kedengarannya meyakinkan, kan? Tapi masalahnya, pengurus pusat NU dan Muhammadiyah malah nggak tahu siapa mereka yang melapor.

Ketua PBNU, Ulil Abshar Abdalla dalam keterangannya pada Jumat (9/1), menyatakan “tidak tahu siapa mereka (pelapor)”.

Ulil menjelaskan, sifat terbuka pada organisasi NU membuat “siapa saja bisa bikin lembaga atas nama NU”.

Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas juga menegaskan nggak ada organisasi otonom Muhammadiyah bernama Aliansi Muda Muhammadiyah. Ia juga menyampaikan, perlunya berlapang dada jika dikritik.

“Karena lewat kritik kita bisa bercermin apakah kita sudah berbuat baik dan benar atau belum. Kalau kita sudah berbuat baik dan benar mari kita tingkatkan lagi kualitas dari kebaikan dan kebenaran yang sudah kita lakukan agar kehadiran dari diri dan institusi kita semakin dirasakan manfaat dan mashlahatnya oleh orang lain,” ujar Anwar. (bbc.com, 10 Januari 2026).

Plot twist banget. Nama besar dipakai, tapi yang punya nama besar justru angkat bahu. Ya itu tadi, Ketua PBNU sampai bilang, di NU itu siapa saja bisa bikin gerakan atas nama NU. Tapi model begitu umurnya bisa sebentar, kayak story Instagram. Habis itu ya hilang.

Padahal, kata banyak pakar, komedi itu bukan asal celetuk. Itu hasil riset, baca data, mikir sudut pandang, lalu dikemas supaya orang mau denger. Dosen Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Satrio Pepo Pamungkas mengatakan, “komedi itu intelektualitasnya tinggi”. Oleh karena itu, siapa pun yang bersiap menonton komedi harus memahami juga.

“Karena itu, ketika ada orang yang salah tangkap, berarti bisa menakar bahwa ruang intelektualitas itu tidak bertemu satu sama lain, sehinga ada yang disebut pro dan kontra,” kata Satrio. (bbc.com, 10 Januari 2026)

Oya, ketawa itu nggak netral. Ini bagian yang sering luput. Ketawa itu sikap. Orang bisa ketawa karena setuju, lega, nyindir, atau karena sebel aja tapi pengen ikut rame. Itu sebabnya, satu punchline bisa ditangkap beda-beda. Ada yang bilang, “Iya juga ya…” Ada yang mikir, “Ini nendang sih.” Ada juga yang langsung panas: “Ini penghinaan!”

Masih menurut Satrio Pepo Pamungkas, “Nggak mungkin sebodoh itu dengan panggung besar dan jual tiket, terus dia menghina A, menghina B, menghina C, lepas aja gitu. Itu pasti sudah dipikirkan secara matang, bahwa ini ruang kritik kok, bukan ruang penistaan, bukan ruang penghinaan,” ujarnya.

Nah, di sinilah bahaya komedi. Bukan hanya di mulut komikanya, tapi juga di kepala penontonnya. Ketika kritik dibungkus komedi, ia jadi licin dan liar. Nggak bisa ditangkap satu makna. Dan orang yang sudah punya dendam politik biasanya tinggal nambah bensin. Walau, tentu aja omongan juga mudah kepeleset. Jadi, memang kudu hati-hati, baik dari sisi penyampai pesan maupun yang menerima pesan. Cuma masalahnya, kalo itu nyangkut urusan politik dan sejenisnya, candaannya bisa jadi nyerempet bahaya. Akhirnya, yang dipersoalkan bukan lagi substansi kritik, tapi perasaan yang tersinggung.

Santun menurut siapa?

Sobat gaulislam, pejabat sering bilang, “Kritik boleh, asal santun.” Tapi, santun versi siapa? Kalo kritiknya terlalu halus, dibilang nggak berani. Kalo agak nyeletuk, dibilang menghina. Kalo dibungkus komedi, dibilang melecehkan. Itu artinya, standar santun ini elastis banget. Bisa ditarik sesuai kepentingan. Hari ini santun, besok bisa jadi kurang ajar.

Padahal, esensi kritik itu bukan bikin nyaman, tapi bikin sadar. Dan kesadaran kadang (atau lebih sering?) datangnya lewat teguran atau kritikan, kritik pedas malah. Bener apa betul?

Oya, dalam sejarah Indonesia, komedi kritik bukan barang baru. Warkop DKI, Bagito, Srimulat, Benyamin S, Teamlo, dan lainnya. Mereka ngomongin polisi, birokrasi, orang kaya, pejabat. Bedanya, dulu belum ada screenshot, belum ada medsos, belum ada pasal karet, dan belum ada buzzer.

Sekarang? Salah senggol dikit, bisa jadi barang bukti. Materi yang niatnya ngajak mikir, malah bikin sebagian orang pengen manggil penyidik.

Begitulah hari ini. Tawa bukan lagi sekadar respons lucu. Tawa sudah jadi bahasa politik. Tawa bisa dianggap setuju. Tawa bisa dituduh menghina. Tawa bisa diplintir jadi niat jahat. Makanya, nggak heran kalo ada yang ketawa sambil mikir, “Ini ketawa karena lucu, atau karena benci?” “Atau jangan-jangan karena dua-duanya?”

Lebih serem lagi, ada yang nonton bukan buat ketawa, tapi buat cari celah. Bukan cari makna, tapi cari pasal buat jerat kesalahan. Bukan cari pesan baiknya, tapi cari pelaporan. Padahal, kalo kita mau sedikit mikir, negeri ini lagi capek. Capek debat. Capek ribut. Capek pura-pura baik-baik aja.

Dan di tengah semua itu, komedi datang sebagai ruang bernapas. Ruang di mana kebenaran disampaikan sambil bercanda. Ruang di mana kritik nggak selalu pake mode serius, tapi pakai punchline. Namun sayangnya, napas itu sekarang sering dicek, “Maaf, napasnya sesuai prosedur nggak?”

Lalu, pertanyaannya mulai muncul, terutama buat kamu yang masih remaja (mestinya sih bertanya-tanya, ya?), kalo kritik disampaikan serius, dibilang galak. Kalo disampaikan sambil ketawa, dibilang menghina. Terus maunya gimana? Dikirim lewat memo internal?

Lucunya lagi, definisi santun sering berubah tergantung siapa yang dikritik. Kalo yang dikritik orang kecil, nada keras dibilang tegas. Kalo yang dikritik pejabat, nada sama dibilang nggak sopan. Itu juga sebenarnya yang terjadi di timeline medsos. Pro kontra di kolom komentar sering menjadi arena “war”. Ya, berubah jadi caci maki, sumpah serapah, bahkan penghinaan. Kedua kubu yang pro dan kontra melakukan hal yang sama. Sama-sama nggak beradab, sih. Cuma yang konyol, ada netizen pendukung tokoh tertentu yang bawa-bawa dalil agama untuk bela junjungannya, padahal mereka sendiri melakukan hal yang sama kepada orang yang mereka nggak suka alias lawan junjungannya. Jadi, memang standar ganda, sesuai kepentingan hawa nafsunya aja.

Itulah masalahnya di era baper massal, fakta bisa kalah oleh perasaan. Begitu masuk kata “penghinaan”, semua jadi hitam putih. Nggak ada lagi ruang abu-abu. Nggak ada lagi diskusi soal niat, konteks, atau pesan besar. Sebab, yang ada cuma dua kubu: “Bela wapres harga mati” versus “Bela komika sampai titik akhir”.

Padahal, dua-duanya bisa sama-sama capek. Tapi yang menarik, para pendukung yang paling keras tersinggung, sering kali bukan membantah isi kritiknya. Mereka fokus ke bungkusnya. Ini kayak ada orang bilang, “Rumah kita bocor, ini berbahaya.” Lalu yang dijawab, “Eh, tapi kenapa kamu ngomongnya sambil ketawa?”

Netizen kita memang jago satu hal: menggeser isu. Dari kebijakan lari ke etika. Dari substansi beloknya ke sopan santun. Dari kritik melipir ke perasaan. Akhirnya, kritiknya tenggelam. Dan, yang naik ke permukaan cuma debat kusir soal: “Boleh nggak sih ngomong kayak gitu?”

Lebih lucu lagi, sebagian orang yang teriak nggak terima soal body shaming, di akun yang sama, bisa dengan santainya mengejek fisik orang lain asal beda kubu politik. Standarnya fleksibel. Kayak karet gelang. Kalo idola dikritik: sensitif. Kalo lawan diejek: kreatif. Hadeuuh… begitulah pemirsah!

Antara bercanda dan menjaga lisan

Sobat gaulislam, kita coba bahas ini, ya. Agak serius. Dalam Islam ada aturan, ada batasan. Islam nggak anti humor. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga kadang bercanda. Para sahabat ketawa. Tapi bercandanya jujur, nggak merendahkan, dan nggak menyakiti.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menceritakan, para sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai, Rasullullah! Apakah engkau juga bersendau gurau bersama kami?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan sabdanya, “Betul, hanya saja aku selalu berkata benar.” (HR Imam Ahmad. Sanadnya Shahih)

Itu artinya, boleh bercanda tapi harus mengatakan yang benar. Jangan berbohong, jangan memancing tawa orang dengan kata-kata dusta meskipun dibungkus hal lucu.

Selain itu, tentu kalo nggak bisa mengatakan yang benar, lebih baik dia diam aja. Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47)

Tapi perlu diingat bahwa nggak semua yang faktual boleh dilontarkan sembarangan. Fakta tanpa adab bisa berubah jadi senjata makan tuan. Bercanda tanpa niat lurus dan benar caranya, bisa berubah jadi dosa.

Di sinilah komedi diuji. Bukan cuma lucu atau nggak, tapi niat dan dampaknya. Apakah bercanda untuk membongkar ketidakadilan? Atau cuma buat melampiaskan kebencian? Apakah satire untuk menyadarkan? Atau untuk merendahkan?

Islam ngajarin keseimbangan. Amar makruf tanpa jadi kehilangan akhlak, nahi mungkar tanpa rusuh bin brutal. Islam mengajarkan adab dalam lisan. Larangan ghibah. Larangan meremehkan. Larangan menyakiti hati tanpa maslahat. Tapi Islam juga mengajarkan amar makruf nahi mungkar. Mengingatkan penguasa. Mengkritik ketidakadilan. Menyuarakan kebenaran.

Oya, dalam sejarah Islam, kritik kepada penguasa itu bukan hal tabu. Sebab, yang dilarang justru diam saat melihat kesalahan. Bedanya, Islam selalu menekankan cara. Bukan cuma apa yang disampaikan, tapi bagaimana dan dengan niat apa.

Di sinilah kita perlu jujur dan dewasa. Komedi kritik memang berdiri di garis tipis. Sedikit melenceng, bisa jadi hinaan. Sedikit kebablasan, bisa jadi fitnah. Itu sebabnya, nggak semua lelucon bisa dibenarkan. Dan nggak semua kritik harus ditertawakan. Tapi juga nggak adil kalo semua komedi kritik langsung dicap pelanggaran, apalagi tanpa mau mendengar keseluruhan pesan.

Dalam kasus Pandji, misalnya, niatnya adalah mengkritik kebijakan, pilihan kepemimpinan, dan dampak sosial. Bukan mengajak membenci personal. Bukan menghasut kekerasan. Bukan menyebarkan ajaran sesat. Namun, ini kategori bahaya. Seperti berada di tepi jurang, kepeleset omongan sedikit bisa menuai murka banyak orang, terutama yang merasa berhalanya, eh, idolanya disentil.

Nah, ini penting buat dipahami, terutama oleh remaja Muslim. Karena di media sosial, batas antara kritik dan hujatan sering kabur. Ada yang pakai dalih dakwah, tapi isinya nyinyir. Ada yang pakai dalih kritik, tapi niatnya balas dendam. Islam nggak membenarkan dua-duanya.

Jadi, kalo humor itu bikin kita sadar, mikir, dan refleksi, itu bisa jadi jalan kebaikan. Tapi kalo humor itu bikin kita sombong, merasa paling benar, dan merendahkan orang lain, itu bukan lagi kritik. Itu penyakit hati. Makanya, penting banget buat kita, generasi muda Muslim, punya rem iman. Bisa ketawa, tapi tahu kapan berhenti. Bisa kritik, tapi tahu batas. Bisa beda pendapat, tapi tetap jaga adab.

Mengapa? Karena tujuan utama kritik dalam Islam bukan memenangkan debat, tapi islah. Perbaikan. Kalo dilihat faktanya, komedi sebenarnya punya potensi besar. Ia bisa menyampaikan kritik tanpa amarah. Menyentil tanpa maki-maki. Menyadarkan tanpa menggurui. Asalkan yang megang mic paham batas, dan yang mendengar mau belajar menahan ego. Kalo dua-duanya ketemu, tawa bisa jadi jalan kebaikan. Bukan sumber permusuhan.

Jadi, salah nggak kritik lewat komedi? Jawabannya: nggak salah. Tapi nggak bebas sebebas-bebasnya. Komedi adalah seni. Seni punya ruang. Tapi ruang itu tetap ada pagar syariatnya. Bagi komika, kudu sadar bahwa mic (dan ucapan tentunya) itu amanah dan tanggung jawab, pahami bahwa tawa bisa jadi fitnah, dan ingat, popularitas bukan pembenar segalanya. Bagi penonton, tentu jangan potong konteks, jangan baper berlebihan, dan bedakan kritik dengan hinaan. Dan bagi kita semua, jangan jadikan hukum sebagai alat balas dendam, jangan anti kritik tapi ngaku demokratis, dan jangan alergi ketawa kalo memang yang dikritik itu relevan.

Negeri ini kadang butuh tawa. Tapi juga butuh kedewasaan. Butuh komedian yang berani, dan masyarakat yang lapang dada. Kalo kritik sedikit langsung dipidanakan, yang tersisa cuma pujian palsu dan tepuk tangan bayaran. Dan dalam Islam, itu tanda penyakit: ketika kebenaran dianggap ancaman, dan nasihat dianggap serangan.

Namun perlu diingat pula bahwa bercanda boleh. Satire silakan. Tapi jangan lupa, setiap kata akan dimintai pertanggungjawaban. Karena ternyata, yang paling berbahaya bukan bercandanya, tapi ketika kita lupa batas dan aturannya. [O. Solihin | Join WhatsApp Channel]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *