Saturday, 26 November 2022, 18:51

gaulislam edisi 744/tahun ke-15 (21 Jumadal Akhir 1443 H/ 24 Januari 2022)

Masih rame sih saling ledek bahkan saling serang dan saling lapor ke pihak berwenang. Iya, gara-gara kesukuan. Bagaimana awalnya bisa begitu? Awalnya saya coba-coba, habis itu lha kok enak (eh, kata-kata ini mah yang sempat viral di Tiktok dan Reel IG, ya?) Hahaha…

Gini maksudnya, kasus itu bermula dari kritik yang disampaikan Arteria Dahlan dalam rapat kerja Komisi III DPR RI dengan Kejaksaan Agung, Senin (17/1/2022).

Dalam kesempatan tersebut, anggota DPR RI dari Fraksi PDI-Perjuangan itu meminta Jaksa Agung ST Burhanuddin mencopot seorang Kajati yang bicara menggunakan bahasa Sunda dalam sebuah rapat. (Kompas.com, 20/1)

Sebagaimana diketahui, pernyataan ini berbuntut panjang. Bang Arteria dihujani caci maki dan hujatan, khususnya dari warga Jawa Barat. Meski sempat menuai pro dan kontra yang memanas beberapa hari, akhirnya Bang Arteria Dahlan meminta maaf.

Nah, giliran Bang Edy Mulyadi yang konon kabarnya dituding menghina masyarakat Kalimantan, dengan menyebutkan “tempat jin buang anak” saat mengkritik rencana perpindahan IKN (Ibu Kota Negara). Seperti bensin disulit api, ya akhirnya pernyataan itu jadi rame ‘digoreng’ di sana sini. Meski kemudian, sama seperti Bang Arteria Dahlan, akhirnya mengklarifikasi dan meminta maaf. Selebihnya silakan kamu baca di media massa, ya. Banyak kok infonya.

Sobat gaulislam, di buletin ini, saya sekadar menjadikan fakta itu sebagai cantolan untuk masuk ke pembahasan seputar ashabiyah. Pernah dengar istilah ini? Ya, ini soal kesukuan, etnis, kelompok, golongan, dan sejenisnya.

Bro en Sis rahimakumullah, dalam Islam, semangat membela atau menolong karena spirit golongan atau kesukuan biasa disebut dengan ashabiyah. Secara bahasa, ashabiyah adalah kata yang mengandung arti saling menjaga dan melindungi. Ibnu Mandzur dalam kitab Lisanul Arab ia berkata, makna fanatisme golongan adalah: “Ajakan seseorang untuk membela keluarga/kelompok dari siapa pun yang menyerang mereka. Tanpa peduli keluarganya melakukan kezaliman atau menjadi pihak yang terzalimi. (Ibn Mandzur, Lisan al-‘Arab, I/606)

Sementara itu, secara langsung Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah menjelaskan makna Ashabiyah. Sebuah riwayat dari Putri Watsilah bin Al-Asqa’, ia mendengar Ayahnya berkata, “Aku berkata, wahai  Rasulullah, apa itu Ashabiyah?” Rasul menjawab, “Engkau menolong kaummu atas kezaliman yang dilakukan.” (HR Abu Dawud)

Dari penjelasan di atas, kita menangkap bahwa poin dari ashabiyah adalah fanatisme golongan yang membabi buta terhadap kabilah, suku, kelompok, maupun bangsa. Meletakkan fanatisme suku dan bangsa di atas agama. Sehingga batasan agama yang seharusnya menjadi parameter dalam setiap urusan dikesampingkan karena alasan solidaritas kesukuan. (islampos.com)

So, kalo kamu ngikutin fakta saat ini, seolah-olah akan dibenturkan ya antar suku, jadi pertikaian. Padahal, katanya Bhinneka Tunggal Ika, tetapi kok mau diadu domba urusan begituan. Apalagi kalo dilihat dari kacamata Islam, itu sudah jauh melenceng. Padahal, bisa jadi sesama muslim. Artinya semangat kesukuan yang ditonjolkan, bukan lagi semangat Islam. Sudah jelas pula, sesama muslim itu bersaudara. Artinya asal daerah, perbedaan bahasa, perbedaan bangsa disatukan dalam ikatan akidah dan syariat Islam. Nah, mestinya memang begitu. Namun yang terjadi, urang Sunda protes, orang Kalimantan demo. Bisa jadi suku atau etnis lain juga begitu. Ironinya, sebenarnya di antara mereka yang bertikai adalah sama-sama muslim. Hadeuuh… ngeri!

Warisan yang tak perlu

Ada perang antar kabilah (suku) di masa jahiliyah bangsa Arab. Ya, Perang Basus adalah perang terlama yang dilakoni bangsa Arab. Perang ini adalah perang dua kabilah bersaudara, Bakr dan Taghlib. Tidak tanggung-tanggung, permusuhan dua kabilah itu terus berlangsung hingga 40 tahun. Semua itu, gara-gara unta.

Dinukil dari kisahmuslim.com, menceritakan sejarah singkat awal perang tersebut. Kulaib bin Rabiah menjadi penguasa di Arab. Ia seorang pemimpin yang kuat, tapi bukanlah pemimpin yang baik. Apabila ia keluar ke daerah penggembalaan, ia membuat unta-unta melaung. Dan ia tidak suka ada unta orang lain memasuki wilayah penggembalaannya. Suatu ketika, ia melihat seekor unta asing masuk di penggembalaan miliknya. Awalnya unta ini terikat di rumah tokoh Bakr, al-Jassas. Namun karena melihat rombongan unta lainnya ia terlepas dan pergi. Kulaib kesal dengan unta asing itu, lalu ia panah unta itu. Unta itu terluka bagian susunya dan berlari ke tempat asalnya. Hingga ia mati di depan rumah al-Jassas.

Al-Basus, perempuan bangsawan Bani Bakr, melihat unta tersebut terluka dan mati. Ia menangis dan berteriak memanggil. Ini adalah bentuk penghinaan terhadap tetangga. Dan orang-orang Arab adalah orang yang tinggi harga dirinya, mereka tak bisa menerima penghinaan. Jassas berkata pada bibinya, “Diamlah.. tenanglah” Jassas terduduk, kemudian ia berkata pada keduanya, “Sungguh akan kubalas dengan membunuh unta yang lebih besar dari unta ini. Akan kubunuh onta terbaiknya.” Maksudnya membunuh Kulaib. Kemudian Jassas mengikuti Kulaib dan membunuhnya. Inilah awal mula bencana peperangan.

Kalo mau baca sejarah lainnya, jelas banyak banget peristiwa pertikaian antar suku atau kabilah. Di zaman modern juga sering terjadi. Misalnya antar suporter sepakbola. Kamu pasti udah tahu deh. Para suporter ini yang paling heboh ketimbang para pemain yang berhadapan di lapangan hijau. Kalo para pemain siap jika harus perpanjangan waktu dalam pertandingan sepakbola, maka para suporter juga bisa bersemangat dalam perpanjangan waktu 2×15 menit untuk tawuran. Hadeuuh…

Kalo dipikir-pikir, kok bisa ya urusan unta lalu diselesaikan dengan perang selama puluhan tahun. Sama halnya kita mikir keras pula, kok bisa ya tawuran antar suporter, bahkan terus ada sepanjang sejarah sepakbola. Ngeri.

Itu sebabnya, ketika potensi konflik antar suku di masa sekarang yang dipicu dari pernyataan para politikus, banyak orang yang ketar-ketir. Khawatir kejadian tahun 1999 di Sambas terulang. Kamu perlu tahu kayaknya. Begini ceritanya.

Kerusuhan Sambas adalah pecahnya kerusuhan antaretnis di wilayah Kabupaten Sambas dan sekitarnya. Kerusuhan Sambas terjadi pada bulan Januari 1999, akibat kejengkelan Melayu terhadap para oknum pendatang dari Madura.

Pekerjaan yang dilakukan warga Madura tidak beda jauh dengan warga Melayu, yaitu sebagai petani dan buruh. Karena memiliki kesamaan pekerjaan, terjadi kasus perebutan sumber daya ekonomi terutama tanah pertanian. Bermula dari situ, kerusuhan di antara kedua suku ini terjadi.

Akibat Kerusuhan Sambas, sebanyak 1.189 orang tewas, 168 terluka berat, 34 luka ringan, 3.833 rumah dibakar dan dirusak, serta 12 mobil dan 9 motor dibakar atau dirusak. Selain itu, sebanyak 58.544 warga Madura mengungsi dari Kabupaten Sambas ke Pontianak. (Kompas.com, 06/08/2021)

Kalo mau nyari lebih banyak, silakan aja kamu cari sendiri. Intinya, banyak hal terkait kesukuan dan etnis yang bisa ‘digoreng’ pihak ketiga untuk memunculkan benturan antar suku atau etnis. Bahaya.

Bersama Islam kita mulia

Sobat gaulislam, ta’ashub dan ashabiyah adalah penyakit parah yang membuat pelakunya menjadi fanatik buta. Sebuah penyakit yang menjadi kabut tebal yang menghalangi untuk menerima kebenaran. Menerima sesuatu yang baru yang bermanfaat. Malah ia berpandangan yang jelek, itulah yang baik. Sedangkan yang baik itulah yang buruk.

Ahli hikmah mengatakan, “Ta’ashub adalah musuh yang tersembunyi. Banyak orang tidak mengetahui bahayanya yang besar dan dampaknya yang membinasakan. Ashabiyah adalah kebinasaan yang tubuh pada jiwa manusia karena lingkungannya. Orang-orang kecil yang membinanya. Dan orang-orang besar membuatnya binasa. Laki-laki dan perempuan. Ta’ashub merobek-robek persatuan. Menghalangi ruh-ruh persatuan. Menyebarlah kemunafikan dan perpecahan. Kekuatan menjadi lemah. Dan merobohkan bangunan.”

Apakah Anda melihat, orang yang paling ta’ashub memandang orang-orang yang jelek sebagai orang yang terbaik? Jadi, ta’ashub ini memberikan efek memandang suatu yang jelek jadi bagus. Membuat hijab yang tebal antara akal dan logika. Sehingga seorang tak mampu mengenal kebenaran. Tak mampu membedakan mana maslahat dan mana mafsadat. (khotbahjumat.com)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Bukan termasuk golongan kami orang yang mengajak kepada ashabiyah, bukan termasuk golongan kami orang yang berperang karena ashabiyah dan bukan termasuk golongan kami orang yang mati karena ashabiyah.” (HR Abu Dawud)

Dalam hadits yang lain, beliau bersabda (yang artinya), “Barang siapa terbunuh karena membela bendera kefanatikan yang menyeru kepada kebangsaan atau mendukungnya, maka matinya seperti mati Jahiliyah.” (HR Muslim)

Nah, uniknya ada pertikaian yang udah berpuluh tahun antar suku atau kabilah, lalu mereka berdamai dalam Islam. Ya, di Madinah tempatnya, yakni kabilah Aus dan Khazraj.

Sebelum Rasul hijrah, Bani Aus dan Khazraj telah bertempur puluhan tahun, bahkan pada Perang Bu’ats (lima tahun sebelum hijrah) semua pemimpin kedua pihak tewas.

Di kala genting itulah, Rasul kebetulan bertemu dengan enam orang Khazraj dan Aus. Kepada mereka Rasul mengajak beriman dan membela dakwah dengan kekuatan. Mereka langsung setuju karena ingin sekali ada perdamaian dan butuh pemersatu masyarakat. Apalagi, kaum Yahudi telah mengancam menyerang mereka. (republika.co.id)

Sejak dipersaudarakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, hingga kini tak ada pertikaian lagi di antara mereka. Mulia bersama Islam.

Jadi, mulai sekarang banggalah sebagai muslim. Bersyukurlah sebagai mukmin. Islam mempersaudarakan kita meski beda wilayah dan beda suku atau etnis. Jangan mau deh diprovokasi buat berantem hanya gara-gara saling lempar pernyataan yang bisa menimbulkan salah paham, atau malah gagal paham. Jadikan Islam sebagai patokan, sebagai ukuran. Jangan mengedepankan kesukuan atau ashabiyah. Sebab keduanya adalah warisan jahiliyah. Wapadalah! [O. Solihin | IG @osolihin]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: