Tuesday, 20 January 2026, 20:31
Guru01-820x462

gaulislam edisi 952/tahun ke-19 (30 Rajab 1447 H/ 19 Januari 2026)

Sekolah itu tempat belajar ilmu dan juga adab. Harusnya begitu. Tapi belakangan, soal adab sering dilupakan. Merasa udah punya ilmu, tapi adab malah dilupakan (atau malah nggak pernah diajarkan?).

Kasus pengeroyokan guru oleh murid di SMKN 3 Berbak, Jambi bukan sekadar kabar viral yang numpang lewat di timeline. Ia seperti alarm kebakaran yang bunyinya kencang, tapi banyak yang masih sibuk debat gimana cara yang pas ngasih tahu bahayanya. Ada yang sibuk menyalahkan guru, ada yang tak mau kalah membela murid. Ramai. Panas. Berisik. Tapi sedikit yang bertanya, “Sebenernya, kenapa adab bisa sampai hilang dari ruang kelas?”

Ya, sebuah video yang memperlihatkan seorang guru SMK terlibat keributan dengan sejumlah siswa di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, viral di media sosial. Ditonton, dibagikan, dikomentari. Ada yang marah, ada yang membela, ada pula yang langsung ngasih stempel: “Pendidikan kita rusak”.

Masalahnya, ini bukan sekadar video viral. Ini bukan konten buat numpang emosi lalu dilupakan. Ini potret retaknya relasi di sekolah. Tempat yang harusnya aman buat belajar malah berubah jadi arena konflik. Guru terluka, murid terseret masalah hukum, sekolah ikut tercoreng. Semua rugi, nggak ada yang benar-benar menang.

Netizen pun terbelah. Ada yang berkata guru keterlaluan, ada yang menilai murid kelewatan. Komentar saling lempar, opini saling sikut. Semua ingin benar, tapi sedikit yang mau duduk tenang dan bertanya, “Kenapa bisa sejauh ini?”

Ya, karena konflik sebesar ini jarang lahir tiba-tiba. Biasanya ia tumbuh pelan-pelan, dari komunikasi yang buruk, emosi yang dipendam, dan lingkungan pendidikan yang kehilangan arah.

Padahal sekolah bukan cuma tempat transfer ilmu, tapi juga tempat latihan jadi manusia. Kalo ilmunya jalan tapi adabnya tertinggal, yang muncul bukan orang cerdas, tapi orang pintar yang bingung cara bersikap, dan itu berbahaya kalo ketemu emosi.

Bukan hitam-putih

Sobat gaulislam, dari keterangan yang beredar, ada dua versi cerita. Versi guru, insiden dipicu ejekan murid. Versi murid, guru dikenal keras dan sering berkata kasar. Dua-duanya merasa tersakiti. Dua-duanya merasa punya alasan. Di sinilah kita perlu berhenti sebentar sebelum menunjuk hidung.

Guru bisa salah. Murid juga bisa salah. Kekerasan dari siapa pun nggak bisa dibenarkan. Tapi kalo masalah ini hanya disederhanakan menjadi “siapa paling salah”, kita akan kehilangan akar persoalannya.

Konflik bukan cuma soal satu tamparan atau satu ejekan. Ia sering kali adalah puncak dari relasi yang sudah lama retak. Ketika nggak ada ruang dialog, emosi akan mencari jalannya sendiri. Sayangnya, jalur itu sering kali lewat tangan, bukan lewat kepala. Malah dengan otot, bukan dengan otak (akal).

Selain itu, budaya sebagian dari kita juga nggak membantu. Kita lebih suka saling lapor daripada saling bicara. Lebih cepat menghakimi daripada memahami. Padahal dalam dunia pendidikan, yang paling dirugikan dari konflik berkepanjangan bukan hanya individu, tapi suasana belajar itu sendiri.

Guru dan murid sama-sama manusia. Sama-sama bisa capek. Sama-sama bisa emosi. Bedanya, dalam Islam, manusia yang berilmu tetap dibatasi oleh adab.

Guru memang nggak sempurna. Ia bisa lelah oleh tumpukan administrasi, target kurikulum, dan tuntutan yang nggak ada habisnya. Tapi adab ‘mengingatkan’ bahwa lelah bukan alasan untuk merendahkan. Tegas boleh, kasar jangan.

Murid pun bukan robot penurut. Ia remaja yang emosinya masih belajar stabil, hidup di dunia digital yang keras dan serba spontan. Tapi adab menjadi panduan, bahwa tersinggung bukan tiket untuk kurang ajar. Marah bukan izin untuk main tangan.

Di sinilah adab seharusnya berfungsi sebagai rem. Bukan mematikan emosi, tapi mengarahkannya. Tanpa adab, emosi jadi liar. Dan emosi liar di ruang kelas hanya butuh satu percikan kecil untuk berubah jadi kebakaran besar.

Ya, benturan mudah terjadi. Guru menuntut dihormati, murid ingin dimengerti. Sayangnya, yang sering terjadi justru saling mengeras. Guru menaikkan nada bicara, murid nggak bisa jaga sikap. Nggak ada yang mau menurunkan ego lebih dulu.

Perlu digarisbawahi bahwa kata-kata kasar dari guru bukan bagian dari pendidikan. Tapi perlawanan murid dengan kekerasan juga bukan bentuk keberanian dengan alasan membela diri. Keduanya sama-sama tanda bahwa ada yang salah dalam cara kita membangun relasi di sekolah.

Adab yang utama

Dalam Islam, emosi itu diakui, tapi nggak diberi kuasa penuh. Marah boleh, tersinggung wajar, tapi adab nggak boleh hilang. Ilmu dalam Islam bukan cuma soal pintar, tapi juga soal pantas.

Tradisi Islam sangat serius soal adab murid kepada guru. Bukan karena guru harus disembah, tapi karena ilmu itu sensitif. Ia sulit masuk ke hati yang penuh amarah dan ego. Para ulama dulu menahan diri bukan karena lemah, tapi karena sadar nilai adab.

Apakah itu berarti guru selalu benar? Nggak. Guru bisa salah. Tapi dalam Islam, kesalahan guru nggak dibalas dengan kekerasan. Menegur ada caranya. Mengkritik ada adabnya. Kalo setiap emosi dibalas emosi, sekolah berubah jadi ring tinju, bukan tempat belajar, bukan tempat menyemai adab.

Mirisnya, hari ini adab sering dianggap kuno. Dianggap nggak relevan. Padahal tanpa adab, kebebasan berubah jadi kebrutalan. Islam berdiri di tengah. Nggak membela kekerasan, tapi juga nggak membenarkan sikap kurang ajar.

Itu sebabnya, rasa hormat hari ini nasibnya mirip pulsa darurat. Dicari pas sudah kepepet. Di kelas, kata-kata kasar sering lolos atas nama candaan. Nada tinggi dianggap tegas. Murid pun tak kalah kreatif liarnya. Mengejek dianggap lucu, menghina dianggap biasa.

Semua merasa benar. Guru merasa sedang mendidik. Murid merasa sedang membela diri. Sekolah sibuk dengan jadwal dan laporan, berharap masalah adab dan akhlak bisa selesai sendiri. Padahal nggak. Nggak gitu konsepnya.

Ketika rasa hormat menghilang, guru kehilangan wibawa, murid kehilangan panutan. Sekolah memang tetap berjalan kegiatannya, tapi ruhnya kering. Kasus di Jambi ini seperti cermin besar. Kita bisa pura-pura lewat, atau berhenti dan bercermin.

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata, “Tidaklah banyaknya kebaikan dunia dan akhirat diraih semisal dengan adab, dan tidaklah banyaknya kegagalan meraihnya semisal karena sedikitnya adab.” (dalam Madarijus Salikin, jilid 2 hlm. 390)

Bagaimana seharusnya?

Sobat gaulislam, jalur hukum itu sah. Kekerasan memang nggak boleh dibiarkan. Tapi setelah proses hukum berjalan, apakah semua langsung pulih? Apakah relasi guru dan murid otomatis membaik?

Hukum sering seperti obat keras. Efektif menghentikan gejala, tapi belum tentu menyentuh akar. Murid bisa trauma, guru bisa kehilangan rasa aman, sekolah bisa dicap buruk.

Itu sebabnya, pendekatan damai dan musyawarah menjadi penting. Islam mengenal konsep ishlah, tabayyun, dan musyawarah. Bukan untuk menghapus kesalahan, tapi untuk memulihkan hubungan. Damai bukan berarti bebas tanggung jawab, tapi menyelesaikan masalah tanpa menambah luka.

Kalo setiap konflik di sekolah langsung berakhir di kantor polisi, murid belajar takut, bukan adab. Guru mengajar dengan was-was, bukan tenang.

Oya, sebenernya kasus ini nggak berdiri sendiri. Ia bagian dari sistem pendidikan yang setengah hati. Sekolah dikejar target nilai, guru dibebani administrasi, murid dijejali materi. Pendidikan karakter sering hanya jadi slogan.

Negara lebih sering hadir sebagai pengatur teknis daripada penjaga nilai. Kurikulum berganti, tapi ruh pendidikan tetap kosong. Fokusnya apa yang diuji, bukan apa yang dibiasakan. Akibatnya, sekolah berjalan secara struktural, tapi rapuh secara moral. Konflik tinggal menunggu pemicu. Dan, kasus di Jambi adalah salah satu contohnya.

Perlu kamu tahu bahwa dalam sistem pendidikan Islam, adab bukan pelengkap, tapi pondasi. Guru dihormati tanpa ditakuti. Murid dibina tanpa direndahkan. Ilmu dan akhlak berjalan seiring.

Negara hadir menjaga arah. Jika ada masalah, yang dicari bukan hukuman dulu, tapi perbaikan. Pendidikan seperti ini bukan utopia. Ia pernah hidup dan melahirkan generasi berilmu dan beradab belasan abad yang lalu.

Hari ini, adab sering diperlakukan seperti pelajaran tambahan. Kalo sempat, dipelajari. Kalo nggak, ya sudahlah. Nggak mau pusing, yang penting nilai aman.

Di kelas, kata-kata kasar lolos atas nama bercanda. Nada tinggi dianggap tegas. Murid pun tak mau kalah. Mengejek dianggap lucu, menyeletuk kasar dianggap ekspresi diri. Kalo ditegur, jawabannya cepat, “Baper amat.”

Anehnya, semua merasa sedang di posisi benar. Guru merasa sedang mendidik. Murid merasa sedang membela diri. Sekolah berharap masalah ini bisa selesai sendiri, seperti tugas kelompok yang katanya “nanti juga kelar”, tapi ujung-ujungnya satu orang yang kerja.

Imam al-Hasan bin Ali rahimahullah menyelipkan sebuah pesan kepada putranya, “Duhai anakku! Di saat engkau tengah bermajelis dengan para ulama, jadilah dirimu orang yang paling semangat untuk diam dari pada berbicara. Pelajarilah bagaimana menjadi pendengar yang baik sebagaimana engkau belajar diam dengan baik. Jangan sekali-kali engkau memotong pembicaraan seseorang meski itu sangat panjang sampai ia menghentikannya sendiri.” (dalam Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlihi, jilid 1, hlm. 425)

Ketika adab nggak lagi jadi budaya, hormat berubah jadi formalitas. Ada saat upacara, hilang saat emosi. Kasus di Jambi adalah peringatan yang seharusnya jadi pelajaran. Sekolah tanpa adab hanya tinggal menunggu kerusakan. Ilmu tanpa adab kehilangan cahaya. Murid tanpa hormat kehilangan arah. Guru tanpa dukungan kehilangan tenaga.

Kalo sekolah ingin kembali jadi tempat aman, adab harus dikembalikan ke singgasananya. Bukan sebagai formalitas, tapi sebagai napas pendidikan. Mengapa? Karena mendidik manusia nggak cukup dengan nilai. Ia butuh hati, arah, dan sistem yang benar. Dan, sistem yang benar itu adalah ketika Islam diterapkan sebagai ideologi negara.  [O. Solihin | Join WhatsApp Channel]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *