Thursday, 11 August 2022

gaulislam edisi 742/tahun ke-15 (7 Jumadal Akhir 1443 H/ 10 Januari 2022)

Istilah ini saya pernah baca (atau dengar?) di media sosial. Entah siapa yang memulai pertama kalinya penyebutan istilah ini yang merujuk kepada penggunaan handphone yang lebih banyak mudharat-nya. Ya, bentuk ponsel atau smartphone ini memang gepeng. Sehingga ketika pemiliknya tidak menjadikan benda ini sebagai sarana untuk menyampaikan kebaikan, maka umumnya adalah digunakan untuk keburukan. Nah, penggunaan untuk keburukan itulah yang kemudian alat ini seperti ‘dirasuki’ setan, sehingga penggunanya lalai bahkan bermaksiat.

Bisa dilihat sih di sekitar kita. Mulai dari anak kecil sampai orang yang umurnya sudah tua, kayaknya ‘doyan’ mantengin benda pipih bin gepeng ini. Wajahnya banyak yang bercahaya. Iya, karena begitu dekatnya wajah mereka dengan smartphone sambil tangannya aktif menggeser dan menyentuh layarnya. Aktivitas yang dilakukannya ya sekadar mencari percakapan di grup whatsapp yang diikutinya dan sesekali memberikan komen (tapi kalo bocil lebih ke arah nonton di channel youtube), atau di media sosial yang di situ mereka wara-wiri upload konten dan komen. Misalnya di Facebook, Twitter, Instagram, dan lainnya.

Kalo seharian ‘berpelukan’ mulu dengan “setan gepeng” ini, bukan tak mungkin di antara mereka ada yang lalai. Misalnya main game, atau aktivitas di medsos yang melalaikan, atau menonton video dan mendengarkan musik yang tak bermanfaat. Orang tua kudu memantau anak-anaknya agar tak bablas pake smartphone, atau jika itu kamu para remaja, maka kamu mestinya lebih sadar diri agar tak rugi nantinya. Kalo nggak dipantau sama ortu atau kamunya sendiri nggak bisa nahan godaan, maka ponsel jadi berubah seperti “setan gepeng” yang membuat lalai pemiliknya, melalaikan dari kewajiban dan kepedulian lingkungan sekitar. Bahkan, melalaikan dari berbagai kewajiban yang udah ditetapkan Allah Ta’ala.

Padahal, benda atau teknologi itu sejatinya netral. Artinya, bermanfaat atau tidak tergantung penggunanya. Maka, saya lebih mengedepankan kesadaran bagi para remaja dalam berpikir dan beramal. Dorongan dari orang tua jelas diperlukan, arahan tentu saja diberikan, sanksi bagi putra-putrinya yang melanggar juga diterapkan. Namun, kesadaran jauh lebih penting dari semua itu, Sebab, ada orang yang susah dinasihati, sulit diarahkan, dan tak mempan meski diberikan sanksi. Tipenya pencari celah. Berarti, pikiran dan perasaannya sudah dikendalikan setan. Ini jelas membahayakan, dalam hal apa pun.

Awas, jebakan setan

Sobat gaulislam, coba untuk berpikir sebagai muslim. Apa tugas pokok seorang muslim, apa konsekuensi menjadi muslim, apa saja yang harus dihindari seorang muslim, dan bagaimana sikap sebagai seorang muslim jika melihat fakta ada hal yang bertentangan dengan Islam. Remaja muslim yang udah tercerahkan dengan Islam itu mestinya menjadi agent of change alias agen perubahan peradaban untuk menjadi lebih baik. Mengajak remaja lainnya yang masih berada dalam kondisi jauh dari Islam agar mau sadar lalu cinta dan bahkan menjadikan Islam sebagai jalan hidupnya.

Oya, pengertian Agen Perubahan (Agent of Change) adalah individu atau seseorang yang bertugas mempengaruhi target/sasaran perubahan agar mereka mengambil keputusan sesuai dengan arah yang dikehendakinya. Lalu, apa jadinya jika remaja muslim yang mestinya menyiapkan diri untuk terjun berdakwah dan memanfaatkan berbagai media (termasuk di dalamnya media sosial), namun menjadi bagian dari masalah yang berkaitan dengan efek media itu sendiri. Ini sebuah ironi tentunya. Maka, sangat diperlukan adanya bimbingan dari orang sekitarnya, dan pentingnya orang tua yang wajib mengarahkan dan mengawal putra-putrinya. Kami yang bergelut dalam dakwah untuk kalangan remaja juga cukup sering menyampaikan melalui tulisan di beberapa edisi buletin ini. Bahkan diulang-ulang. Semoga menjadi pengingat mereka. Insya Allah.

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah, merunut enam langkah setan dalam menyesatkan manusia. Dimulai dari yang besar sampai yang kecil. Mulai dari perkara yang berat akibatnya, hingga yang dianggap remeh. Sebab, tujuan setan memang mengajak kepada keburukan. Apa saja enam langkah yang menjadi tahapan setan dalam menyesatkan manusia? Secara ringkas seperti ini:

Pertama, setan akan mengajak manusia untuk melakukan kekafiran, kesyirikan, serta memusuhi Allah dan Rasul-Nya.

Jika langkah ini tidak berhasil, maka setan akan melakukan langkah kedua, yakni manusia akan diajak pada perbuatan bid’ah, yang bisa merusak agama, mengada-adakan amalan yang tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Jika ada orang yang tak mempan dengan langkah kedua, maka setan akan melakukan langkah ketiga, yakni mengajak manusia untuk melakukan dosa besar. Apa saja dosa besar itu?

Banyak, Imam Dzahabi dalam Kitab Al-Kabair, merinci ada 70 dosa besar. Beberapa di antaranya: syirik (menyekutukan Allah dengan sesuatu), membunuh, sihir, meninggalkan shalat, tidak mengeluarkan zakat, berbuka puasa di bulan Ramadhan tanpa uzur, meninggalkan haji di saat mampu, dan durhaka kepada kedua orang tua. Selain itu, yang termasuk dosa besar adalah bermusuhan dengan sanak saudara, berzina, melakukan hubungan seksual dengan sesama jenis (homoseksual dan lesbian), riba, memakan harta anak yatim dan menzaliminya, berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya, lari dari perang (jihad), melakukan penipuan dan kezaliman kepada rakyat, sombong, bersaksi palsu, meminum khamar, berjudi, menuduh wanita baik-baik berbuat zina, dan curang dalam melakukan pembagian harta rampasan perang. Selengkapnya, silakan bisa membaca Kitab Al-Kabair.

Lalu apa langkah setan yang keempat jika langkah ketiga tadi tidak berhasil? Setan akan mengajak melakukan dosa kecil. Padahal, dosa kecil ini juga berbahaya.

“Jauhilah oleh kalian dosa-dosa kecil. (Karena perumpamaan hal tersebut adalah) seperti satu kaum yang singgah di satu lembah, lalu datanglah seorang demi seorang membawa kayu sehingga masaklah roti mereka dengan itu. Sesungguhnya dosa-dosa kecil itu ketika akan diambil pemiliknya, maka ia akan membinasakannya.” (HR Ahmad, no. 22860)

Maksud hadits ini, jika dosa kecil terus dilakukan dan tidak terhapus karena tidak bertaubat, maka akan membinasakan pelakunya. Imam al-Ghazali memberikan penjelasan bahwa dosa kecil akan berubah jadi dosa besar karena dua hal: pertama pelakunya menganggap remeh dosa kecil tersebut dan kedua karena terus menerus dalam berbuat dosa.

Jika langkah keempat tak juga mempan, maka setan akan melakukan langkah yang kelima, yakni membuat manusia sibuk dengan hal-hal yang mubah (tidak ada pahala dan dosa ketika melakukannya). Biasanya manusia akan dilalaikan dengan waktu. Padahal, perbuatan mubah juga bisa berubah jadi maksiat jika melalaikan kewajiban. Nah, biasanya liburan semester kemarin banyak di antara remaja yang terlena. Jadinya nyantai, bahkan jadi generasi rebahan. Sebab, dalam hal ini setan sangat lihai untuk melalaikan. Banyak manusia tertipu dengan waktu luang, sehingga malah melakukan kegiatan yang tak bermanfaat.

Apa langkah keenam? Ini langkah setan yang terakhir dalam menggoda manusia, yakni setan akan mengajak manusia melakukan amalan yang kurang afdhol (utama). Sehingga manusia tidak melakukan amalan yang afdhol (utama). Dari Abu Abdirrahman Abdulah bin Masud radhiyallahu anhu, “Aku bertanya kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tentang amal-amal paling utama dan dicintai Allah. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menjawab, “Pertama, salat pada waktunya (dalam riwayat lain disebutkan shalat di awal waktunya). Kedua, berbakti kepada dua orang tua. Ketiga, jihad di jalan Allah.” (HR Bukhari I/134, Muslim No. 85, Fathul Baari 2/9)

Yuk, manfaatkan waktu untuk ibadah dan amal shalih lainnya. Jangan lupa untuk shalat di awal waktu, mengamalkan shalat sunnah di malam hari, dan banyak amalan afdhaliyah lainnya. Udah banyak kok yang ngasih nasihat model gini. Kami di buletin ini sekadar ikut meramaikan banyaknya nasihat bagi pembacanya, khususnya dari kamu semua, kalangan remaja.

Smartphone untuk dakwah

Semoga kita semua, khususnya para remaja, bisa mengambil pelajaran dari fakta ini. Gunakan ponsel sesuai kebutuhannya untuk hal-hal bermanfaat. Bisa untuk berkomunikasi dengan orang tua, menjadi alat penunjang tugas sekolah atau pekerjaan, menjadi sarana untuk menyampaikan pesan dakwah melalui media sosial (instagram, whatsapp, telegram, twitter dan facebook). Kontennya bisa dari tsaqafah Islam yang sudah dipelajari di sekolah atau di lingkungan majelis taklim sekitar rumah atau boleh banget kalo mau ambil bahan dakwahnya dari tulisan-tulisan di gaulislam. Ini sekadar mengingatkan, karena memang sudah sangat sering disampaikan. Jangan jadikan ponsel kalian sebagai “setan gepeng” yang membuat kalian lalai dari kewajiban agama.

So, buat kamu para remaja muslim, tunjukkan identitas muslim kalian. Identitas yang akan terus melekat sampai akhir hayat. Nggak asik banget kalo ngaku muslim tapi melalaikan kewajiban shalat. Malu banget (mestinya), ketika lantang bersuara mengaku sebagai muslim, tetapi seharian ‘berpelukan’ dengan “setan gepeng” sampai lupa ibadah karena asyik bermain game. Tambah rugi lagi kalo kemudian saat malam tidurnya bablas sampai lewat waktu Subuh. Jika faktanya demikian, jelas smartphone-mu sudah berubah jadi “setan gepeng”.

Hati-hati, lho untuk urusan ini. Dari Ibnu Mas’ud ia pernah berkata, “Di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan tentang seorang laki-laki yang tidur semalaman sampai datang pagi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Laki-laki itu telah dikencingi oleh setan pada kedua telinganya -dalam riwayat lain: di telinganya-” (Muttafaqun ‘alaih, HR. Bukhari no. 3270 dan Muslim no. 774)

Al Qadhi ‘Iyadh memahami hadits ini secara tekstual. Demikianlah yang benar. Lalu dikhususkan kata telinga yang dikencingi karena telingalah pusat pendengaran untuk diingatkan. (dalam Syarh Shahih Muslim, jilid 6. hlm. 58)

Ada ulama yang menafsirkan hadits di atas dengan mengatakan bahwa yang dimaksud adalah orang yang tidur hingga pagi hari sampai-sampai luput dari shalat Subuh (dalam Syarh Riyadhis Sholihin, jilid 5, hlm. 194).

Ini menunjukkan jeleknya orang yang nggak bangun Subuh sampai-sampai dikencingi oleh setan. Setan aja udah tidak kita sukai, apalagi jika sampai dikencingi oleh makhluk tersebut. (dinukil dari laman rumaysho.com)

Itu sebabnya, jangan mau bermesraan terus dengan smartphone-mu. Khawatir nanti malah benda pipih itu berubah jadi “setan gepeng” dan kamu dipeluknya dengan mesra agar dekat dengan maksiat dan menjauhi ketaatan kepada Allah Ta’ala. Jika terus berlanjut, bukan tak mungkin kamu sudah dibelenggu oleh “setan gepeng”, sehingga sama sekali tak berkutik dan tenggelam dalam lumpur dosa. Naudzubillahi min dzalik.

Memang sih, nggak mungkin kita lepas sepenuhnya dari smartphone di zaman sekarang. Nah, berarti yang diperlukan adalah bijak dalam menggunakan dan memanfaatkannya. Kita yang mengendalikan, bukan smartphone yang mendikte kita. Jangan lupa perbanyak belajar dan dekat dengan orang-orang alim dan shalih agar ibadah terjaga dan wawasan sebagai muslim kian luas dan membuat kita semakin beriman dan bertakwa kepada Allah Ta’ala. [O. Solihin | IG @osolihin]

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Edisi Lainnya

%d bloggers like this: