Fair Play

Gimana caranya untuk menang? Ada dua; main jujur atau curang. Megabintang sepakbola asal Argentina, Diego Armando Maradona ternyata memilih cara yang kedua. Ketika melawan Inggris di babak perempat final Piala Dunia 1986, si boncel ini mencetak gol dengan tangannya ke gawang tim Inggris. Sang kiper, Peter Shilton, dan kawan-kawannya mengajukan protes. Sayang, wasit tak melihat. Gol disahkan, dan Argentina pun melenggang ke babak final dengan skor 2-1. Gilanya, Maradona menyebut gol curangnya sebagai ‘tangan tuhan’.

Apa yang dilakukan Maradona terus jadi bahan kontroversi. Sebagian orang mendukungnya. Malah tidak sedikit pemain bola yang ingin melakukan hal yang serupa. Yang penting kan bisa menang, prinsip mereka. Tidak aneh kalo dalam sepakbola sering terlihat pemain yang bermain tidak jujur. Nggak fair play. Kasar dan licik. Sebut saja teknik diving atau pura-pura jatuh di kotak penalti lawan agar mendapat hadiah tendangan penalti seperti yang kerap dilakukan Filipo Inzaghi, striker AC Milan.

Adakalanya bukan cuma pemainnya yang curang, pendukungnya juga ikut-ikutan. Contohnya di Indonesia. Banyak penonton yang nggak rela kalo tim kesayangannya kalah. Lalu mereka mengintimidasi lawan dan wasit. Mencaci maki bahkan melemparkan apa saja ke arah lawan dan wasit. Atau mengacaukan pertandingan dengan menyerbu ke lapangan. Penonton pun bisa tidak fair play.

Tapi nggak semua pemain sepakbola seperti itu. Sebut saja pemain dari tim AS Roma De La Rossi yang memasukkan gol dengan tangan tapi kemudian ngaku dan akhirnya dianulir. Atau Paolo Di Canio sewaktu bermain di West Ham United, tak jadi nendang bola ke gawang lawan, karena doski ngeliat kiper lawan terjatuh dan cedera saat ia siap nendang bola. Di Canio lalu mendapat pujian sebagai pemain yang paling fair play.

Teman-teman, memenangkan sebuah trofi, apalagi cup of life memang momen yang indah. Semua orang menyanjung dan hadiah pun menggelontor masuk ke kocek kita. Tapi apa artinya jika kemenangan diraih dengan cara yang tak jujur, tidak sehat? Kita menipu orang lain, menjatuhkannya dan mencuranginya? Tak ada kepuasan dalam hati meski kita menjadi juara.

Kemenangan yang diraih tanpa fair play pun selalu mengundang masalah. Meski disanjung sebagai megabintang, tapi banyak kalangan membenci Maradona. Mereka menyebutnya tukang tipu. Maradona sendiri akhirnya memberikan pengakuan terbuka bahwa ia memang bermain curang mengalahkan Inggris.

Dalam Islam kita pun diminta untuk jadi orang yang selalu setia dengan prinsip kejujuran. Kita tidak boleh menghalalkan segala cara untuk meraih kemenangan. “Al ghayatu laa tubariru al washitoh – tujuan tidak boleh menghalalkan segala cara,” kata ulama. Karena tujuan utama amal kita adalah menggapai ridlo Allah, bukan semata keberhasilan di dunia. Ridlo Allah tak akan bisa dicapai tanpa cara-cara yang benar, yang sesuai syari’at Islam.

Lagipula, meski tak ada orang lain yang tahu kecurangan yang kita lakukan. Allah Mahatahu dan Maha Melihat. Tidak bakal ada yang terlewat sedikit pun dari perhitunganNya. Semua bakal ada balasannya. Oleh karena itu, buat apa menghalalkan segala cara. Jadi fair play-lah dalam segala perbuatan. [januar]

[pernah dimuat di Majalah SOBAT Muda, edisi Juni-Juli 2006]

%d bloggers like this: