Gaya Kerudung Demokratis 13

Nggak sedikit muslimah yang ogah menutup aurat. Nggak sedikit juga yang malah ‘menjualnya’. Inikah produk demokrasi?

Buat para akhwat yang idup di jaman Pentium IV ini, menutup bodi dengan jilbab dan kerudung memang dilema. Mereka kudu milih antara kewajiban menutup aurat dengan gaya. Satu sisi perintah agama, di sisi lain kayaknya kok nggak gaul ya?

Kewajiban udah jelas, seluruh tubuh wanita adalah aurat kecuali muka ama telapak tangan, pekik para ulama. So, rambut, telinga, leher, bodi plus awak, wajib diumpetin di balik khimar dan jilbab.

Sementara itu, pergaulan nuntut sebaliknya. Kudu trendi, ngegaya, dan ini…harus memamerkan ‘aset-aset’ pribadi. Yang kulitnya mulus, sayang kalo diumpetin. Yang rambutnya indah terurai, kenapa juga kudu dibungkus kain kerudung, emangnya lemper.

Belum lagi macam-macam pandangan en tuntutan orang laen buat cewek berkerudung plus berjilbab kayaknya gimana gitu. Kudu pinter baca Al Qur’an, kudu jauh dari acara ngegosip, kudu jaga jarak ama kendaraan di depan eh ama cowok dalam pergaulan, en segudang kudu-kudu laennya. Tuntutan kayak begitu terang aja bikin banyak cewek jiper alias ngeri untuk berkerudung dan berjilbab.

Nggak Wajib?

Whuaaa…yang bener aja? Yup, itu setidaknya dilontarkan oleh sejumlah ‘cendekiawan’ muslim kontemporer. Jaman Orde Baru masih berkuasa, ada seorang pejabat yang bersemangat menentang kewajiban berjilbab dengan bilang, “Anak dan istri saya saja tidak berjilbab.” Hmm, berani-beraninya.

Kalau sekarang jama’ah Jaringan Islam Liberal (JIL) paling getol menghujat kewajiban jilbab ini. Kata mereka, para ulama yang menafsirkan jilbab itu udah terpengaruh diskriminasi gender. Mereka mendiskriditkan kaum wanita. Pendapat mereka ini tentunya bersandarkan pada pendapat para orientalis, pemikir yang satu geng, dan juga kajian Islam secara sosiohistoris. Mereka juga keberatan seandainya jilbab itu dipaksakan atas setiap muslimah. Pokoknya, berjilbab itu harus karena kesadaran sendiri.

Ada beberapa alasan yang menurut mereka jilbab dan kerudung itu nggak wajib:

Pertama, mereka bilang kalau jilbab itu budaya Arab, bukan budaya Islam. Lagian, ajaran Islam itu kudu dicocokin ama kondisi budaya setempat. Istilahnya Islam lokal. Prinsip mereka, “Tidak diingkari perubahan hukum (syara’) dengan perubahan zaman dan tempat”.

Ya, mirip-mirip burger racikan McDonald. Semua harus burger ala Amrik kan? Perlu ada rasa lokal. Maka dibikinlah McRendang, McSatay, McBangkok, malah ada juga burger tempe. Jadi ada juga “jilbab” ala Indonesia. Yang gimana tuh? Yang penting SOPAN, tidak menggoda pria, kata mereka. Seorang pemikir Islam malah menyebut jilbab itu lebih pada suruhan untuk sopan dan bersahaja (modesty) yang bisa dilakukan siapa saja.

Kedua, masih kata mereka, jilbab itu diwajibkan di jaman wanita belum dihargai. Buktinya, menurut mereka, surat Al Ahzab ayat 59 berbunyi, “Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.” Nah, karena kata mereka sekarang ini kaum wanita sudah banyak dihargai maka berjilbab bukan kewajiban lagi.

Teman-teman, pendapat-pendapat di atas jelas punya banyak kelemahan dan ketidakberesan. Emang bener kalau budaya Arab itu nggak selamanya identik dengan budaya Islam. Contohnya, naik unta itu nggak fardlu juga nggak sunnah, walaupun seumur hidup Rasulullah naik unta. And so on pakai terompah ala Ali Baba atau Aladdin juga nggak wajib. Buat kita, yang jadi bagian hukum syara’ itu adalah apa yang diatur sama Allah di dalam dalil-dalil syara (Al Qur’an, As sunnah, Ijma shahabat dan qiyas). So, kalau dalam keempat sumber hukum Islam itu ada keterangannya, en jelas hukumnya, ya itu adalah bagian dari ajaran Islam. Bukan budaya bangsa mana-mana. Contohnya, bacaan shalat en azan itu emang harus pake bahasa Arab nggak bisa diganti ama bahasa lain, baik bahasa daerah masing-masing, apalagi coba-coba pake bahasa tubuh.

Walaupun jilbab dan kerudung itu sudah dipakai sebagian kaum wanita di Arab di jaman pra-Islam, tapi kita mengakuinya sebagai hukum syara’ karena begitulah yang dikatakan Islam. Bukan cuma buat wanita Arab. Islam juga yang ngasih batasan-batasan en ketentuan berjilbab yang khas bagi para muslimah. Simak aja firman Allah, “Wahai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, dan anak-anakmu dan istri-istri orang beriman …”(Al Ahzab: 59). Jadi, perintah berjilbab dan berkerudung itu adalah atas setiap muslimah, baik dia orang Arab ataupun bukan orang Arab.

Pernyataan bahwa jilbab itu wajib karena di zaman itu perempuan nggak dihargai, korslet. Kagak nyambung. Karena pada zaman kekhilafahan Islam, saat kaum wanita terlindungi dan merasa aman, tetap saja mereka wajib mengenakannya. Lagian, kalau pernyataannya seperti itu, gimana dengan zaman sekarang, dimana perempuan jauh lebih nggak dihargai ketimbang di zaman jahiliyah? Liat aja kekerasan pada wanita sekarang jauh lebih meningkat ketimbang jaman Rasulullah saw. dulu.

Terus, kalau dibilang pakaian cewek yang penting sopan (modesty), nah sopan versi mana dulu nih. Kalau menurut penganut ‘madzhab’ Britney Spears atau Agnes Monica, ?celana melorot ke pinggang yang mereka pake itu pasti terkategori sopan. Ber-koteka, menurut suku asli Irian Jaya pastinya juga udah terbilang sopan. Nah, mau ikut sopan versi mana nih?

Dalam kehidupan manusia, seringkali diperlukan paksaan untuk berbuat baik. Ini nggak bisa ditolak. Bukankah manusia suka berbuat begitu pada sesamanya? Liat aja aturan 3 in 1 di Jakarta, itu kan paksaan juga? Atau bayar pajak juga paksaan, kan? Gelinya, para pengkritik jilbab ini nggak pernah kedengaran tuh mengkritik paksa-memaksa sesama manusia. Tapi Allah mereka kritik kalau maksa-maksa manusia. Jangan-jangan nanti bakal ada tanggapan, kalau mau berhenti nyopet ya harus karena kesadaran sendiri jangan karena dipaksa. ANCURRR!

Intinya sih, kita mau bilang, kalau ukuran baik dan buruk, terpuji dan tercela, diserahkan pada akal en hawa nafsu manusia, hasilnya seperti kata Opa Iwan Fals, ANCURRRR! Nah, daripada belaga pinter padahal ber-IQ jongkok, mendingan kita nurut aja deh pada yang dikatakan Allah.

Racun Demokrasi

Usaha-usaha untuk ngancurin citra jilbab emang dahsyat bener. Udahlah secara pemikiran diancurin seperti cara-cara di atas, eh praktiknya juga diacak-acak. Seperti yang bisa kamu baca di Studia 1, nggak sedikit muslimah yang niatnya ingin menutup aurat, tapi sayang belum sempurna.

So, mata para cowok belum juga bebas dari pemandangan yang tidak boleh dipandang, gara-gara nggak sedikit muslimah yang belum total nutup aurat mereka. Keliatannya, mereka juga ingin berbusana muslimah tapi juga nggak mau keilangan kesempatan untuk Te Pe (Tebar Pesona). Jadilah mereka berkerudung tapi tetap full press body.

Ini semua, berawal dari diterimanya paham demokrasi dalam kehidupan kaum muslimin. Yup, seperti yang kamu tahu dalam demokrasi emang berdagang kebebasan. Manusia-manusia demokratis bebas berbuat apa saja, asalkan nggak mengganggu kebebasan orang lain.

Dalam demokrasi pula nggak ada prinsip benar dan salah yang absolut atawa mutlak. Semua serba relatif, nisbi. Ukurannya diserahkan pada keinginan pribadi dan suara mayoritas.

Nah, ada empat kebebasan yang diusung demokrasi: kebebasan berpendapat, kebebasan beragama, kebebasan kepemilikan dan kebebasan bertingkah laku. Gara-gara prinsip kebebasan berpendapat, muncullah pendapat jilbab itu nggak wajib karena itu budaya Arab.

Nah, dengan prinsip kebebasan bertingkah laku, kaum muslimah yang sudah terinfeksi paham demokrasi, ngerasa sah-sah saja tidak menutup aurat. Ini kan badan gue! Mo pake

Kata mereka. And so on, mau pake kerudung model apapun juga boleh.

Nah, aspirasi kebebasan para muslimah ini ditangkap oleh para pengusaha yang kapitalis. En mereka manfaatkan nafsu liar para muslimah itu untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya. Bak gayung bersambut, para muslimah yang kagak kuat iman, dan tergiur kepengen ngetop dengan cepat, ngantri di pintu para pengusaha kapitalis itu. Yang kulitnya mulus beruntung bisa jadi foto model produk kosmetik atau sabun kecantikan. Yang kulitnya mirip-mirip amplas juga bisa jadi foto model…salep kulit ama sabun cuci.

Meski begitu eksploitasi atau penjajahan terhadap wanita dengan cara seperti ini nggak pernah tuh digugat. Kalaupun pernah, tapi nggak seheboh para pemikir muslim kontemporer atau para feminisme menggugat jilbab dan poligami. Karena memang prinsip mereka adalah liberalisme, kebebasan. Selama ‘pelaku’ dan ‘korban’nya merasa enjoy, ya itu sah-sah aja. Bukan eksploitasi tapi menjalankan profesi.

Solusi Total

Maka penyebab muslimah belum sadar berbusana komplit, adalah demokrasi dan sekulerisme penyebabnya. Di alam ini, para muslimah diracuni lewat berbagai jalan agar melepaskan jilbab dan kerudungnya. Lewat sinetron Montir-montir Cantik, misalkan, para muslimah diajarkan supaya berani memamerkan bodi mereka di depan kaum cowok. Bahwa kecantikan dan keseksian tubuh adalah aset yang bisa dijual selain kemampuan jadi montir. He…he…he…film ini nggak pernah tuh bikin gerah kaum pembela wanita.

Sementara pemikiran mereka diancurin dengan ideologi sesat sekulerisme-liberalisme. Selain muncul pemahaman kalau berjilbab itu nggak wajib, juga dikesankan jilbab-kerudung itu menghambat aktivitas, en terkesan norak dan kampungan.

Agar para muslimah selamat, nggak ada jalan lain kecuali menghancurkan sekulerisme. Cuma, untuk itu para muslimah kudu menumbuhkan sendiri keyakinan akan kebenaran Islam. Bahwa apa yang dibawa oleh Islam itu benar tanpa ada keraguan. So, ngaji adalah satu-satunya jalan. Dengan serius dan penuh keikhlasan ngaji, insya Allah pikiran kita jadi bersih.

Dakwah adalah langkah selanjutnya setelah mengaji. Kampanye penegakan syari’ah juga harus dibarengi dengan kampanye busana muslimah. Perlu diserukan kepada para muslimah bahwa: JILBAB ADALAH KEWAJIBAN BUKAN PILIHAN.[januar]

Boks/

Tips Memilih Pakaian yang Nyaman dan Aman

Pakaian yang nyaman, maksudnya pakaian yang nggak bikin gerah, adem, nggak ngganggu buat beraktivitas, dan tentunya menambah pede. Aman, maksudnya nggak merusak kesehatan tubuh, misal kulit atawa rambut. Aman di sini juga berarti terhindar dari melanggar aturan syara’. Bisa juga berarti ‘aman’ dari tangan-tangan jahil. Nah, untuk mendapatkan baju yang nyaman dan aman, ada beberapa hal yang kudu kamu perhatiin:

  1. Bahan. Untuk pakaian rumah (tsiyab) kudu yang bersifat menyerap keringat. Bahan kaus, batik atau katun adalah pilihan tepat. Yup, kayak bahan buat baju tidur atawa daster gitu lho! Itu pas banget kalo buat baju dalem karena adem dan tentunya membuat nyaman. Sedangkan buat jilbab alias baju luar, bahan bisa lebih fariatif, tapi tetep kudu membuat nyaman. Yang terpenting untuk jilbab ini jangan memilih bahan yang terlalu tipis/transparan, sebab tentu saja tidak sesuai dengan aturan Islam. Jilbab harus dari bahan yang tidak menampakkan kulit atau pakaian dalam. Sebaliknya jangan pilih yang bahannya terlalu tebal, seperti bahan celana/jeans/jaket. Bahan yang terlalu tebal, selain kurang bagus penampilannya (kaku), juga bikin gerah. Bahan kerudung juga sama, pilih yang adem agar kamu tidak kepanasan dan rambut tetap terjaga kesehatannya. Jangan yang penting trendy tanpa mengindahkan fungsinya sebagai penutup kepala.
  2. Model. Untuk pakaian rumah, model memang boleh macem-macem asalkan tidak memperlihatkan aurat. Namun sebaiknya hindari model yang terlalu ribet karena kurang bagus bila sudah dipadukan dengan jilbab. Misal model yang banyak renda-rendanya atau ploinya. Mendingan yang simple aja biar nggak terlalu kelihatan seperti ada ganjalan saat di atasnya dilapisi jilbab. Meski buat baju rumah sah-sah aja rada-radar ketat, tapi sebaiknya hindari karena seperti udah diulas di atas, baju ketat enggak bagus buat kesehatan kulit. Sedangkan untuk jilbab, pada prinsipnya yang penting longgar dan mengulur dari atas sampai ke dasar. Buat kamu yang badannya kurus, tambahan ploi akan membantu mempercantik penampilanmu. Sedang buat yang agak tambun, modelnya simple aja, jangan banyak ploi dan pernak-pernik semisal tali atau pita. Untuk model kerudung, pilihlah yang mampu menutup rambut sampai ke dada secara sempurna. Jangan asal ngejar trend aja, Non!
  3. Corak. Pilih corak yang tidak terlalu ramai. Buat yang kurus dan tinggi, pilih corak? yang cenderung besar-besar, baik corak bunga-bunga maupun kotak-kotak. Hindari corak garis-garis vertical karena akan membuat kesan kamu seperti tiang listrik aja. Buat yang rada ndut, pilih corak sedang-sedang saja, jangan terlalu kecil-kecil atau besar-besar. Corak abstrak juga cocok. Hindari corak garis-garis horizontal karena akan membuat kamu tampak makin lebar ke samping. Untuk kerudung, hindari corak terlalu ramai, apalagi yang tidak senada dengan jilbab kamu. Ntar malah tabrakan, nggak lucu.
  4. Warna. Sekali-kali jangan memilih warna yang menyolok yang bisa menarik perhatian. Misal warna hijau seperti rompinya pak polisi atau merah seperti warna bendera Indonesia. Pokoknya hindari warna-warna muda yang seperti permen gitu. Sebaiknya pilih warna pastel, warna sejuk (biru/hijau tua) atau warna-warna lembut lainnya yang nggak menyolok.
  5. Harga. Belilah busana Muslimah sesuai anggaran. Tak perlu memakai pakaian yang serba mahal, apalagi bila hanya untuk riya’. Bahan yang bagus, corak yang oke dan model yang caem memang biasanya kamu dapat dari bahan-bahan yang bukan murahan. Tapi kalo kamu pinter belanja, dengan bahan yang nggak mahal kamu pun bisa tampil cantik. Oke?(asri)

[pernah dimuat di rubrik “studia”, Majalah PERMATA, edisi Maret 2004]

13 thoughts on “Gaya Kerudung Demokratis

  1. aisha zahra Apr 13,2009 12:45

    ass.wr.wb

    kalo udah cerita nutup aurat pastinya ga jauh2 sama yang namanya akhwat,yaeyalah mn ada cwok yang buka auratnya ets….ad juga tapi itu udah keterlaluan ya cz cwok tuch auratnya ga kayak cewek. tapi bagi saudara ku seluruh kaum muslimah tutup dech auratnya coba bayangin gimana penderitaan saudara kita muslimah dinegri irak dan palestine ga bisa nutup auratnya padahal pengen banget so kita yang bisa bebas pake baju taqwa kenapa ga make??????????????

  2. ami Apr 14,2009 09:25

    it’s great!!!
    banyak dari kita yang belum menydari bahwa berhijab/berjilbab dengan baik adalah sebuat kewajiban yang sebenarnya juga untuk menjaga izzah kita sebagai perempuan.,

  3. rinie noor Apr 22,2009 21:39

    aslmlkm

    masukan yang cukup bagus cuma bahassanya kurang simple j,

  4. HamBa allah Apr 27,2009 13:21

    maaf Kalau bOleh tanya!!!!!!!
    aPakah isLam adL agama Yg pLing seLalu mEmaksa,,buKankah Hak maNusia Harus Lebih diUngguLkan Drpada sUatu kEterpakSaan Yg maLah akHirnYa mEmbuat bEberaPa Umat/HambA allah mElakukan pErintah2 aLLah dEngan keterPaksaan…

    Ju2r aku tak suka dengan Orang2 Yang mUnaFik
    cOntohnya dia mEmakai jiLbab haNya jika dia sekolah,Ngaji,Acara pengajian dengan kYai,tetapi seLain itu mEreka tidak memakai jilbab,diLuar rumah,main kErumah teman,bahkan bertemu dEngan kaUm Adam,,,,

    Apakah isLam mEnyukai itu??

    buKankah isLam adl Agama Bebas,Yg Setiap Hamba allah dPt melakukan apapun dengan Batas2 nOrmal,bUkan kEterPaksaan,itukan isLam yg Yang dibanggakan karena Enaknya agama itu selama ini?

    Apakah jika sEorang Hawa mEmaKai kErudung dan SiFat2nya bUruk akan teTap Masuk sUrga?seDang Yg tiDak mEmakai KerUdung dan Sifat2nya baik tEtap amsuk nEraka Karena kEwajiban Pakai kErudung Tidak dia Lakoni??

    moHon diJawab Yah!!!!!
    aku Hamba Allah Yang ingin Lebih tau,,

  5. yue2n May 19,2009 15:48

    Assalamu’alaikum
    aQ seorang pelajar yang msh berumur 16 thn.yah bs diblg msh dlm thp pencarian jati diri.aQ skrg sklh di MAN MODEL MANADO.kn klo sklh disitu diwjbkn memakai jilbab cz sklhnya 70% bljr ttng ISLAM.guru aQ sllu mengatakan ternya ank Man cma skdr namax aja.para siswa hx memakai jilbab pada saat disekolah aja tp ketika diluar sklh tdk memakai jilbab.Aq sklh dimanado(MAN) tp aslx dari bitung.jd Aq ngekozt disekitar sekolah.ketika aq plg kekampung halaman(dirmh)aq sllalu memakai jilbab jd masyarakat sekitar tau klo aq ank yang taat pd agama.tp pda saat saya berada dimanado aq ga la memakai jilbab.jd gmn nich??????/
    HELP ME!!!!!!!!!1

  6. anna Jun 14,2009 12:21

    Asalamu’alaikum.

    jangn khawatir ukhti,,,
    ukhti yue2n bs kok mlai berhijab dari skrng,,,
    ga ada kata trlmbt lohh,,,
    dan umur sy jg hmpr sm dngn ukhti,sy 15 thn.mungkn mslh ukhti ,ukhti nrasa ga enak krna pas di kmpng hlaman ukhti brjilbab,dan di anggp ta’at n’ ukhti nrsa ga enak pas ga lg make jilbab di mndo.
    saya g brmksd so’ atawa smbng brkt sperti ini,tapi mnrt saya nich:ukhti bs mlai dr skrng utk pake jillbab ,krna mnrt anna nich jlbab adlh identiTas seorng muslimaH , N’ KT BS MNMUKN knyamanan yg luar biasa dlm hijb kita,,,maaf y ukhti kluw salah………………………………………………..
    (kluw maw sharing sm anna,InsyaAllah bs kok kluw ga di fb anna ,atw di situs brmanfa’at ini.Wallahu’alam bishawab,,,,,,

  7. amenoitteki Aug 1,2009 09:20

    Artikelnya keren-keren! Tp kok aku ketawa2 yah pas baca,, hehe.. Abis kata-katanya lucu sih, gak terlalu serius,, jd gak jenuh.. Hebat!

  8. Imelda Sep 3,2009 09:10

    ziiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiip dech……….
    kalau gi2 sich aku udah mantap untuk berniat untuk mengenakan jilbab……..
    bissmillahirrahmanirrahim…………

  9. anonim Nov 13,2009 19:27

    yupppppps, s7 banget. trus, cara pake iilbab yang sesuai syariat itu yang ky gimana seh????????????
    tlg di bls ke emailQ yaaa

  10. nia Nov 25,2009 14:33

    buat hamba Allah :
    Allah tidak akan menurunkan aturan kepada hambanya melainkan untuk kebaikkan hambanya juga, artinya segala perintah-perintah Allah di dalam AlQuran itu tentu untuk kita sendiri juga, bukankah Allah maha tau segala-galanya, Allah yang menciptakan kita manusia sehingga Allah juga tau apa yang terbaik buat umatnya. Ibaratnya, seperti Handphone atau HP, Hp itu kan dibuat di pabrik, dan setiap membeli HP tersebut pasti di dalam kotak kemasan HP itu terdapat buku petunjuk yang sudah dibuat oleh pabriknya juga, ini karena pabrik pembuatnyalah yang mengetahui seluk-beluk produknya, gak mungkin kan kita beli HP eh buku petunjuknya itu dari merek lain.
    Sama dengan aturan islam, Allah memerintahkan wanita berjilbab dan berkerudung(al Ahzab;59, An Nur;31), itu bukti bahwa Allah menyayangi dan melindungi kita para wanita. Betapa wanita itu sangat dilindungi dalam Islam. Bukan memaksa tapi memang itulah kewajiban sebagai hamba Allah. Biasanya orang akan merasa dipaksa mengikuti aturan Islam kalau dia sudah terpengaruh oleh kehidupan duniawi dan merasa nyaman dengan itu, padahal ada dunia yang lebih indah dan nyaman yaitu kehidupan sebenarnya alam akhirat nanti.

    Misalnya seorang wanita berkerudung tapi dia bersifat buruk, berarti dia dapat satu point saja. sedangkan yang tidak pakai kerudung tapi sifatnya baik, dia juga hanya dapat satu point. Yang seharusnya adalah kita mesti menyempurnakannya, kewajiban menutup aurat dijalani dan pahala buat baik juga dapat. Jilbab dan kerudung tentu bisa menjadi rem bagi diri kita buat nggak melakukan maksiat, bukan hanya sekedar menutup tubuh. Jangan juga berpikir lebih baik bersifat baik aja n gak usah menutup aurat, daripada sudah berjilbab n berkerudung tapi sifatnya buruk. Bukan, bukan begitu. Bagaimanapun udah perintah Allah utk pake Jilbab n kerudung secara fisik lalu mengirinya denga amal dan keistiqomahan.
    Syukron..

  11. inuel Jul 25,2010 14:04

    subhanallah…. ini adalah sebuah pertimbangan jiwa untuk selalu menjaga diri, memperbaiki diri, merubah semuanya yang ngga baik, menjadi yang lebih pantas, saya akan terus berusaha untuk menajdi seorang yang lebih baik, Trimakasih artikelnya, para komentar yang membuat saya semakin yakin, Allah selalu melihat kita hambanya 🙂

  12. ibefebi Jul 29,2010 15:04

    SEPAKAT..!!!
    betapa sayang Allah pada perempuan, jilbab adalah identitas, jilbab adalah pelindung, berjilbab lah sesuai yg Allah atur dlm Al Qur’an, hamasah ^^

  13. DWi Chan May 7,2011 13:48

    salam, izin share…. n tetep cntumin asal artikel 😉

Comments are closed.

%d bloggers like this: