Ikhlas 1

“Beramal itu kudu ikhlas!”

“Cuma amal yang ikhlas yang diterima orang!”
“Jangan pernah mengharap apa-apa dari orang lain!”

Hmm, betapa banyak kita diminta untuk menjadi orang yang ikhlas. Untuk urusan apapun. Waktu shalat kita diminta untuk ikhlas, tidak mengharapkan pujian dari orang lain. Misalkan ada seorang ustadz yang mengatakan janganlah membagus-baguskan shalat saat orang-orang memperhatikan shalat kita. Biasa shalat dengan bacaan surat-surat pendek, eh pas menjadi imam memanjangkan bacaan.

Waktu berpuasa lagi-lagi kita diminta ikhlas mengerjakannya. Jangan pernah minta-minta ke ortu untuk dibelikan baju lebaran, sarung baru, sendal or sepatu baru. Cuekkan saja keinginan-keinginan macam begitu. Yang mesti kita kejar cuma satu; pahala, lupakan yang lain!

Saat berbuat baik pada orang lain ikhlas juga harus jadi salah satu patokannya. Jangan pernah berharap-harap orang lain akan membalas budi kita di kemudian hari. Itu namanya pamrih. Tapi bagi kita sepatutnya mengingat-ingat jasa baik orang lain pada kita. Moga-moga kita bisa ngebalesnya kelak. Ada ubi ada talas, ada budi ada balas. Tapi nggak berlaku sebaliknya.

Jangan juga berharap orang akan menyebut-nyebut kebaikan kita untuk kapanpun. Lho, memang ada orang yang seperti begitu? Selalu ada. Ini contohnya. Suatu ketika, dalam sejarah, pasukan kaum muslimin pimpinan Maslamah bin Abdul Malik tengah kebingungan menembus benteng musuh yang telah dikepung berhari-hari. Padahal pada benteng itu ada sebuah celah yang bisa dimasuki namun nggak ada satupun orang yang bisa melakukan hal itu. Sampai suatu saat seorang prajurit — yang tidak diketahui namanya – ternyata bisa melakukannya bahkan dengan aksinya itu akhirnya kaum muslimin memperoleh kemenangan! Jelas aja Maslamah bin Abdul Malik gembira dan ingin berjumpa dengan ‘sang penakluk’ benteng nan gagah berani itu. “Aku minta agar prajurit ‘penyusup’ ke benteng musuh datang menemuiku!” pintanya.

Namun tak ada seorang pun prajurit yang datang memenuhi permintaan Maslamah. Sampai datang seseorang memasuki kemahnya. “Aku akan memberitahu pada Anda siapa prajurit itu,” kata laki-laki itu. “Tapi orang itu mengajukan tiga syarat pada Anda; pertama, janganlah Anda menuliskan namanya dalam surat Anda kepada khalifah. Kedua dan ketiga, janganlah Anda memberinya hadiah dan bertanya dari kabilah mana ia berasal.” Setelah Maslamah menyanggupi permintaan itu barulah laki-laki itu berkata, “Saya adalah orang masuk ke dalam benteng tersebut.” Dan Maslamah pun tidak pernah tahu siapa nama prajurit tersebut.

Demikian kagumnya dengan keikhlasan prajurit tersebut, maka semenjak pertemuan itu dalam setiap akhir sholat Maslamah selalu berdoa; “Ya Allah jadikanlah aku bersama prajurit penakluk tersebut.” Tepuk tangan yang meriah untuk prajurit itu saudara-saudara!

ooOoo

Tapi apa sih ciri-ciri ikhlas? Apa manusia sama sekali tidak pantas mengharap pujian dari orang lain? Kan wajar saja kita berharap orang lain menyebut-nyebut amal baik kita?

Sepertinya, supaya dapat jawaban yang terang dan jelas kita harus mendengarkan apa kata orang-orang alim. Di antaranya:

■???????? Ikhlas menurut ustadz Fawziy Sanqarth adalah senilainya perbuatan seorang muslim antara lahir dan batin. Contohnya, orang yang ibadahnya bagus karena memang ia punya niat yang lurus.

■???????? Imam Harits Al Muhasibiy menyebutkan orang ikhlas adalah yang tidak suka memperlihatkan amal kebaikannya pada orang lain walau itu cuma sebesar atom, dan ia tidak marah seandainya orang lain memperhatikan kekurangan dari amalnya.

■???????? Imam Abi Al Qasim Al Qusayriy mengatakan bahwa ikhlas adalah menjadikan ketaatan dan tujuan beramal semata-mata untuk Allah SWT., dan berharap dengan ketaatannya itu dapat mendekatkan diri kepada Allah dan bukan pada yang lain; dibuat-buat untuk manusia, mengharapkan pujian dari mereka, atau cinta akan pujian atau apa saja selain mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Ikhlas juga punya ciri-ciri. Menurut Umar bin Abdul Aziz yang soleh itu, salah satu ciri ikhlas adalah siap tunduk pada kebenaran dan menerima nasihat dari manapun datangnya.

Kedengarannya sepele padahal puluhan ‘pele’ alias berat. Salah satunya adalah karena kita suka pilih-pilih dalam urusan menerima nasihat dari orang lain. Kalau guru menegur prestasi belajar kita yang nggak OK, kita paling nyengir kuda. Tapi kalau yang menegur itu adik kelas, wah urusannya adalah tarik urat leher. Lu siapa sih! Kata kita.

Itulah tanda hati yang tidak ikhlas. Makin tinggi status sosial seseorang, biasanya makin susah jadi orang ikhlas. Kebayang kan kyai dinasihati santri, jenderal ditegur prajurit, direktur diingatkan karyawan, kepsek diceramahi murid, dll. Kalau itu bisa terjadi, maka itulah ciri-ciri keikhlasan yang melekat pada hati seseorang.
Soal pujian, mendapatkannya tidak apa-apa. Itu bukan sebuah tanda tidak ikhlas. Dipuji boleh tapi mengharapkannya terlarang. Suatu ketika Rasulullah saw. ditanya oleh seseorang, ” Bagaimanakah kalau seseorang beramal kebaikan karena Allah, tiba-tiba dipuji-puji orang?” Nabi saw. menjawab, “Itu sebagai pendahuluan kabar baik bagi seorang mukmin.”

Yang lucu bin norak adalah ada orang yang mengaku ikhlas dalam beramal, tapi mendadak gundah bin gusar ketika tidak ada satu pun orang yang memperhatikan amalnya. Sama halnya dengan orang yang beranggapan kalau pujian dari orang lain adalah sugesti dalam beramal. Wah, apa tidak cukup sugesti itu adalah pujian dan pahala dari Allah, Mas?

ooOoo

Di atas udah kita tulis satu pepatah lama; ada ubi ada talas. Artinya ada ubi ada balas. Maksud pepatah ini adalah kalau ada seseorang yang berbuat baik pada orang lain, maka ia pantas mendapatkan balasan.

Hmm, apakah ini nggak bertabrakan dengan prinsip ikhlas? Bisa iya, bisa juga tidak. Kalau kita berbuat baik pada orang lain, maka jangan pernah berharap – apalagi ngemis-ngemis — ia bakal membalas jasa baik kita. Sooner or later. Lagi-lagi itu pamrih yang menodai keikhlasan amal kita. Biarlah cuma Allah yang kita minta ngebales semua amal baik kita.

Pedoman amal macam begini wajib kita camkan baik-baik. Cos, ada orang yang berpendapat kalau kita ingin disukai orang, dibaik-baikin oleh orang lain, jadilah orang baik untuk orang lain. Nah, ketika orang lain berbuat yang nggak baik padanya ia? pun ngebales dengan perbuatan yang sama. Kadang-kadang lebih.

Sebut saja Tono, ia sering diusilin temen-temennya. Nah, begitu ada kesempatan Tono membalas perlakuan semua temennya dengan pembalasan setimpal. Itu sih namanya dendam-dendaman.

Perilaku macam begitu nggak berlaku bagi Rasulullah saw. Selain dalam peperangan dan hukum pengadilan, beliau adalah orang yang amat pemaaf. Ketika tubuhnya berdarah-darah akibat sambitan batu penduduk Thaif, yang keluar dari lisannya hanyalah doa keselamatan untuk para pelemparnya. Moga-moga Allah SWT. berkenan melahirkan generasi yang soleh dari kota Thaif. Mana tahaan! [januar]

[pernah dimuat di Majalah PERMATA, edisi Desember 2003]

One comment on “Ikhlas

  1. budi Mar 27,2009 15:05

    apa sih ukuran ikhlas?

Comments are closed.

%d bloggers like this: