Kabut Kian Menipis 1

By: Widya Hartanti

Aisyah bergegas mengenakan kerudungnya kembali. Wajahnya masih basah dengan air wudhu yang baru diambilnya untuk shalat Isya. Gerak langkahnya yang cekatan menimbulkan suara yang berderak-derak di rumah panggungnya. Ia memakai mukena dan memenuhi seruan bilal dari masjid yang terletak beberapa ratus meter dari rumahnya. Fauzan menghampiri ibunya yang masih asyik memarut singkong untuk dijadikan keripik pedas sebagai dagangan besok pagi. Laki-Laki yang berusia sebelas tahun itu memakai kain sarung dan peci, di tangannya ada al-Quran, siap pergi mengaji.

“Fauzan pergi ya, Bu” pamitnya sambil mengamit dan menciurn tangan kedua orang tuanya.

“Hati-hati, Zan” pesan ibunya.? “Kak Ais mana, tidak pergi sama-sama?”

“Lama, Bu” sahutnya.

Terdengar gerakan Langkah cepat dari sisi kanan rumah.

“Eit.. Zan, tunggu sebentar!? Kak Ais sudah selesai nih” seru Aisyah dari dalam mencoba untuk menahan adiknya. Gadis itu segera berpamitan pada ayah dan ibunya.

“Syah, kalau kamu berlari sekali lagi rumah ini bisa hancur” keluh Ayahnya. Aisyah meminta maaf dan dengan setengah berlari memburu langkah adiknya. Namun akhirnya ia hanya bisa memandangi adiknya yang telah berlari bersama teman-temannya. Malam ini dia harus ke rumah Dini, anaknya Pak Kades, sudah tugasnya untuk mengisi halaqah untuk Dini, Aci, dan Ita. Mereka adalah teman-teman Nisa, adiknya yang telah dipanggil Allah dua tahun lalu. Aisyah yang tamatan pesantren itu merasa bahagia karena masih ada remaja yang mau diajak untuk mempelajari Islam.? Aisyah adalah guru madrasah di kampungnya. Fauzan dan teman-temannya telah berada di persimpangan jalan yang akan memisahkan mereka. Fauzan berhenti dan memalingkan tubuhnya.

“Kak Ais, Fauzan jemput jam sepuluh, ya” teriaknya. Aisyah bernapas lega. Tadinya dia pikir Fauzan marah padanya karena tadi siang lupa membelikan pesanannya. Aisyah segera mengangguk.

“Hati-hati ya” pesannya. Sebentar saja tubuh Fauzan tidak kelihatan lagi ditelan gelapnya malam. Aisyah meneruskan langkahnya. Rumah Dini sudah mulai terlihat. Rumahnya besar dan dilengkapi lampu dengan sinamya yang sangat terang. Selain ayahnya seorang kepala desa yang memiliki gaji tetap, Dini juga punya dua orang abang dan seorang kakak, Ratih, yang telah bekerja di kota. Bahkan terdengar kalau Ratih telah mempunyai penghasilan yang lurnayan besar.

“Eh…, Mualimah kita sudah datang” sapa Wak Hapsah, ibunya Dini begitu ia memasuki pekarangan rumah mereka.

“Ah Uwak ini bisa saja. Dini ada?”

“Ada. Semua sudah pada menunggu tuh. Masuk saja, ya” kata wanita setengah baya itu dengan ramahnya. Aisyah langsung bergegas ke kamar Dini.

“Assalamu’alaikum…”

“Wa’alaikumsalam…” sahut Dini, Aci, dan Ita serempak. Mereka melemparkan senyumnya pada Aisyah.

“Sudah lama? Maaf ya Kak Ais telat”

“Nggak apa kok, Kak. Kebetulan kita sedang mengerjakan PR, jadi sekalian nungguin Kak Ais” sahut Dini ramah.

“Alhamdulillah, bagaimana? Sudah selesai?” tanya Aisyah dengan penuh kepedulian. Tapi yang ditanya malah nyengir dan kemudian tertawa lebar. Aisyah berusaha memahami mereka.

“Hayo… pada ghibah, ya?”Aisyah berusaha menebak, ketiganya mengangguk.

“Sulit jaga lidah ya, Kak” gerutu Aci menyesal.

Aisyah mengangguk. “Sulit tapi bukan berarti tidak bisa, kan?” katanya dengan sedikit bertanya.

“Iya..iya..diusahain..”

“Janji?”

“Janji” sahut ketiganya serempak.

Aisyah mengangguk setuju.? “Sekarang, PR atau ngaji?”

“Ngaji dong?” jawab Ita semangat. “Hitung-hitung ngilangin dosa ghibah tadi”

“Ya sudah, sekarang beresin tuh buku sekolahnya. Kita akan masuk ke materi

Keterikatan Terhadap Hukum Syara” suruh Aisyah. Ita dan Aci bergegas merapikan buku-buku yang berserakan di atas meja bundar kamar Dini, sementara si empunya kamar ke dapur mengambil kue dan air teh.

“Oooo….. jadi semua perbuatan kita ada hukumnya ya, Kak?” tanya Ita untuk meyakinkan dirinya, seusai Aisyah memberikan materi.

“Benar. Itu sebabnya kita harus mencari suatu hukum perbuatan terlebih dahulu sebelum kita melakukannya. Termasuk …. ghibah” jelas Aisyah seraya menambahkan contoh yang paling dekat ketiganya. Mereka meringis. “Dan kita harus selalu mengkaitkannya dengan hukum asal benda”

“Kalau begitu harus selalu mikir?”

“Iya! Jadi nggak ada manfaatnya kan kalau Allah memberikan kita akal jika tidak ada gunanya? Bukankah tugas akal untuk berfikir?”

“Kalau tidak digunakan?” tanya Dini.

“Jelas setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban,” sahutnya cepat.

Adik binaannya mengangguk tanda mengerti. Teng..teng..teng… jam dinding berdentang sepuluh kali. Sebentar lagi Fauzan akan datang menjemputnya. Aisyah menutup majelis dan menyalami ketiga mad’unya. Ia jadi merindukan Nisa. Fauzan tengah bermain bersama Akbar, adiknya Dini. Tawa mereka terdengar lepas menyaingi nyanyian jangkrik.

“Bar, jangan lari-lari lagi. Nanti kamu ngompol” omel Dini gemas melihat adiknya yang tidak pernah bosan bermain sepanjang hari.

“Enak saja, siapa yang ngompol?” tantang Akbar.

“Kamu!” sahut Dini ketus sambil menjulurkan lidahnya. Akbar mengejar kakaknya ke dalam rumah untuk menutupi rasa malunya. Fauzan tertawa senang begitu mengetahui rahasia Akbar. Dia tertawa sambil meneriaki ternannya.

“We..Akbar ngompol..Akbar ngompol” teriaknya. Aisyah menarik tangan Fauzan dan membawanya pulang.

“Fauzan, tidak baik begitu” Aisyah memperingatkan adiknya. “Kamu juga minggu lalu ngompol. Iya kan?” Aisyah menggoda adiknya. Tangan mungil Fauzan menempel di mulutnya.

“Kak Ais, jangan kuat-kuat dong ngomongnya! Nanti ada yang dengar”

“Malu?” Fauzan mengangguk.

“Jangan mempermalukan Akbar dengan menceritakan rahasianya pada orang lain. Janji?”.? Fauzan mengangguk kecewa.? Aisyah kembali menuntun adiknya.

“Kak, Akbar enak ya bisa hidup di alam nyata” kata Fauzan pelan. Aisyah mengerutkan keningnya tanda tidak mengerti.

“Apa maksudnya?”

“Iya. Rumah Akbar besar dan menempel dengan tanah. Tidak seperti rumah kita. Seperti di negeri dongeng” tuturnya.

“Astaghfirullah…” desis Aisyah terkejut. Dia memeluk adiknya.

“Fauzan, coba dengar Kak Ais. Rumah besar tidak menjamin kita hidup bahagia. Coba ingat kata Ayah bahwa Allah telah menentukan rezeki tiap-tiap makhluk dan itu adalah pembagian yang seadil-adilnya” Fauzan terdiam.

“Ayah dan lbu kita orang yang sangat baik dan penyayang. Fauzan punya Kak Ais dan pernah memiliki Kak Nisa. Karnu mau itu semua ditukar pada Akbar?” Aisyah bertanya pada adiknya. Dengan segera Fauzan menggeleng. Aisyah tersenyum bijak.

“Nah, sekarang yang harus kita lakukan adalah bersyukur dan berusaha dengan selalu bertawakal atas setiap hasil usaha kita. Insya Allah nanti Dia akan menambahnya” imbuh Aisyah lagi.? Fauzan mengangguk, senyumnya mulai terlihat dan dengan setengah berlari ia berjalan di depan sebagai petunjuk jalan untuk kakaknya.

ooOoo

Pagi ini matahari bersinar sangat cerah. Kicauan burung yang bernyanyi terdengar sangat indah dan menambah semarak suasana desa. Kilauan matahari menimpa seluruh bumi kemudian membiaskan sinarnya pada setiap pemantulan. Sinar matahari menyentuh rumah-nunah penduduk dan masuk ke dalam lewat pintu yang sengaja dibuka atau dari celah-celah dinding. Aisyah tengah memarut kelapa di dapur rumahnya yang santannya akan diambil untuk menggulai ikan. Ikan itu hasil pancingan ayahnya bersama penduduk desa dari sungai dekat irigasi sawah. Ibunya sudah pergi ke pasar untuk berdagang seusai shalat shubuh. Ayahnya berangkat ke sawah sekitar pukul enam. Sementara Fauzan baru saja berangkat ke sekolahnya. Gadis itu bekerja dengan tekun. Jibab dan kerudungnya yang panjang sama sekali tidak mengganggunya bekerja. Aisyah menyiangi ikan, menggiling cabe, memasak rebusan sayur, dan membuat sambal terasi. Dahinya telah berpeluh ketika ibunya tiba di rumah.

“Assalamau’alaikum..”

“Wa’alaikumsalam…” sahut Aisyah. Ibunya melepaskan bakul dari pundaknya dan meletakkannya di atas meja. Wajahnya terlihat gernbira.

“Ada apa, Bu?” tanya Aisyah penasaran. Dia ikut tersenyum melihat lbunya.

“Anak Pak Kades, si Ratih, dia pulang, Syah”

“Yang benar, Bu? Aduh, AiS sudah rindu sekali..” tuturnya girang.

“Tapi dia kelihatan kurus. Mungkin capek kerja di kota”

“Ah ibu ini. Memangnya Ratih bekerja sehari semalam”

“Cepat Syah, kamu beresin masakanmu. Biar bisa segera bertemu Ratih,”

Wanita itu seakan mengetahui rasa rindu yang berkecamuk di dalam hati anaknya. Aisyah menuruti perintah ibunya. Dia melanjutkan pekerjaannya yang sudah hampir selesai. Mengisi nasi, ikan, dan sayuran ke dalam rantang untuk diberikan pada ayahnya di sawah. Terbayang olehnya mereka akan berpelukan karena untuk melepas rindu. Sudah harnpir delapan tahun mereka berpisah. Saat Aisyah berangkat ke kota karena masuk ke pesantren. Ratih juga di bawa pamannya ke kota untuk sekolah. Kemudian setelah tamat SMA terdengar kabar Ratih bekerja di perusahaan tekstil. Sementara ia menjadi guru ngaji di kampungnya.

“Sarnpaikan salam Ayah buat Ratih ya, Syah” pesan ayahnya sebelurn ia benar-benar pergi.? Aisyah mengangguk. Terlihat Ayahnya juga senang mendengar kabar itu. Aisyah berjalan keluar areal sawah untuk kemudian berjalan di jalan yang biasa ia lewati. Dari kejauhan Aisyah melihat Dini tengah berlari ke arahnya.

“Pasti Dini ingin memberitahu kabar itu,” batinnya sumringah.

Dini berhenti di hadapannya.? Napasnya tersengal lalu memeluk Aisyah dan menangis.? Aisyah membalas pelukan itu dengan lembut.

“Ada apa, Din? Kok menangis?” tanya Aisyah bingung. Dini merapatkan pelukannya.

“Kak Ratih, Kak…”

“Iya, sudah pulang, kan? Harusnya kamu bahagia. Atau…kamu juga menangis karena bahagia?” Dini menggeleng dan melepaskan pelukannya. “Lho, jadi kenapa?”

“Kak Ratih……” katanya terbata.

Aisyah menunggu Dini menyelesaikan ucapannya dengan degup jantung yang tidak karuan.? “Kak Ratih pulang dengan membawa seorang anak..”. Dini kembali memeluk Aisyah.

Aisyah beristighfar dalam hatinya. Lututnya juga terasa begitu lemas. Wajar saja bila Dini juga merasa terguncang. Bagaimana pun semua orang mengetahui bahwa Ratih belum menikah.? Lalu jika sekarang membawa seorang anak, itu berarti dia …. Aisyah segera menguasai dirinya.? Semua masih menjadi prasangka dan ia tidak mau terjebak dalam pikiran kotor itu. Ia mengusap kepala Dini.

“Dini malu, Kak… Malu!” tangisnya. “Kenapa bukan Kak Ais saja yang jadi Kakak Dini? Dini malu, Dini malu Kak…”

Aisyah menarik napasnya. Kamu yakin itu anaknya Kak Ratih?” Dini mengangguk

“Benar?” tanya Aisyah lagi.

“Iya, Kak. Ayah dan Ibu sekarang sedang menangis. Kata Kak Ratih dia khilaf…” tutur Dini seenggukan.? Aisyah mencoba untuk menyembunyikan kekecewaannya pada sahabatnya itu.

“Sudah…sudah…coba tenang dulu. Ceritakan pada Kak Ais, ya.. ” Mereka pergi ke pos siskamling yang ada di sudut jalan. Aisyah memapah gadis itu. Dini benar-benar terpukul.

“Sekarang anak Kak Ratih sudah berusia dua tahun. Anaknya laki-laki namanya Uki. Ayah benar-benar kecewa, Kak. Ayah bilang benar-benar malu pada semua orang. Sebagai kepala desa tapi tidak bisa mendidik anak sendiri. Hanya ibu yang terlihat bersabar walau Dini tahu beliau juga sangat kecewa” papar Dini panjang lebar.? “Ayah juga marah kenapa baru tahu sekarang”

“Lalu sekarang Dini mau bagaimana?”

“Dini nggak tahu, Kak. Lebih baik Dini tidak bertemu Kak Ratih dan anaknya”

“Dini.., Allah tidak menyukai hambanya yang suka memutuskan tali silahturrahim. Memang kita tidak bisa menerima alasan Kak Ratih, tapi bukan berarti kita harus memusuhinya.? Apalagi Uki. Ingat Din, Uki tidak bersalah. Kamu harus ingat bahwa hukum suatu perbuatan adalah terikat pada hukum syara’. Dalam hal ini Kak Ratih memang telah melakukan perbuatan dosa. Tapi Uki?? Uki sama seperti kita semua. Uki tidak bersalah dan tidak pantas untuk kita salahkan dan kita musuhi.

“Kak Aisyah kan bicara seperti itu karena bukan menimpa langsung pada kakak” sungut Dini kecewa. Aisyah menggeleng.

“Siapa bilang, Din? Kak Ratih adalah sahabat Kakak. Kakak juga merasa sedih dan terpukul. Sewaktu Nisa meninggal yang bersedih bukan cuma kakak, kan? Kakak yakin Dini juga bersedih. Setiap muslim adalah bersaudara. Apa yang menimpa Dini berarti juga menimpa Kakak.? Kalau keluarga Dibi bersedih, Kakak juga harus merasakannya.? Peristiwa ini menimpa seluruh kaum muslimin. Bedanya, Kak Ratih adalah salah satu anggota keluarga Dini. Percayalah Din, walau peristiwa ini tidak kita harapkan, tapi yakin, pasti ada hikmah di balik semua ini” nasihat Aisyah.? Dini curna terdiam. Sekarang, pulanglah. Pikirkan apa yang harus Dini perbuat. Berbuat baiklah pada Kak Ratih dan Uki. Kak Ais yakin, Dini pasti bisa!” Aisyah berusaha menyemangati adik sahabatnya itu.

“Mungkin saat ini bukan waktu yamg tepat buat Kak Ais untuk berkunjung ke rumah kamu. Tapi Kak Ais akan berusaha mencari waktu yang tepat untuk bertemu dengan Kak Ratih, ya?”.? Dini bangkit. Dia kembali memeluk Aisyah dan kemudian pergi meninggalkannya.

ooOoo

Dini benar-benar menghadapi hari-hari yang sulit. Rasa bencinya pada Ratih telah membuatnya tidak bertegur sapa dengan kakaknya. Bahkan ia merasa jijik pada keponakannya sendiri. Setiap kali bocah kecil itu ingin bermanja, Dini pasti menghardiknya. Padahal ayah dan ibunya sudah bisa menerima kehadiran mereka. Kedua orang tua itu sudah bisa menyayangi cucunya bahkan Uki telah dianggap sebagai karunia baru yang akan menambah kebahagiaan di hari tua mereka. Mereka juga sangat banggga karena telah memiliki seorang cucu laki-laki. Hari ini Aisyah kembali mengunjungi Ratih. Dia sudah janji untuk menemani Ratih jalan-jalan mengelilingi kampung. Berkat dorongan dari Aisyah kini Ratih tidak lagi mengurung dirinya di rumah karena malu. Ratih kini punya cita-cita baru. Dia ingin menjadi bagian dari warga desa juga.

“Kak Ratihnya ada, kan Din?” tanyanya begitu melihat Dini tengah menyiram bunga di halaman rumah mereka. Dini menjawab dengan singkat. Dia kecewa karena akhimya sendirian dalam kebenciannya. Dia mengira kalau Aisyah membenarkan sikapnya, tapi ternyata Aisyah adalah orang yang senantiasa mengingatkannya untuk segera mengikis rasa benci itu.

“Wah… Uki bantu buleknya, ya.. ” sapa Aisyah pada Uki. Ia meraih Uki dan menggendongnya.

“Lihat Din, Uki lucu ya?” Aisyah sengaja bertanya pada Dini. Pasti Uki menjadi bayi tersehat di desa ini”‘ tambahnya. Dird melirik Uki. Bocah itu mengeluarkan tawanya saat tangan Aisyah memegang perutnya mencoba membuatnya kegelian. Dini sedikit meringis. Aisyah mendapati tawa kecil Dini.

“Gadis ini pasti menyerah” batinnya.

Ratih keluar dari rumahnya. Mereka lalu pergi sambil membawa Uki. “Dah..Bulek… yang rajin ya..”goda Aisyah sambil melambaikan tangan Uki pada Dini. Dini segera menahan tangannya yang secara spontan ingin membalas lambaian tangan Uki.

Hari ini Aisyah ingin kernbali meneruskan terapinya pada Dini. Dia ingin membuat Dini merasa bangga memiliki Ratih dan Uki. Dia membawa Dini berjalan di sepanjang pematang sawah.

“Kok masih cemberut aja, Din?” tanya Aisyah mulai memancing perasaan Dini.

“Bagaimana nggak cemberut, Kak, kalau setiap malam harus terbangun mendengar anak kecil yang terus menangis” gerutunya sewot.

“Wah..nikmat tidumya sudah diambil Allah lagi ya..”

“Diambil? Apa maksudnya?” tolak Dini tak setuju.

Aisyah berpikir sebentar lalu berujar, “Ya.. artinya kamu sudah tidak bisa lagi merasakan nikmatnya tidur malam”

“Iya, dan ini karena Uki,” imbuhnya.

“Kak Ais bisa memberi obatnya lho, Din.. “katanya sambil melirik Dini.

“Apa?” tanya Dini ingin tahu.

“Cobalah untuk menerima Kak Ratih dan juga Uki” Dini diam tak berkomentar. Aisyah merasa mendapat angin. “Kak Ais yakin bukan cuma nikmat tidur saja yang telah diambil Allah.? Kamu juga pasti merasa sempit bila ada di rumah. Gelisah bila Uki berada di dekat kamu, ya kan?”

Lagi-lagi Dini tidak berkomentar.

“Coba lihat ayah, ibu dan juga Akbar. Mereka merasa bahagia sekali. Bahkan Fauzan iri karena tidak mempunyai keponakan. Mereka semua bisa menerima kehadiran Uki dalam hidupnya.? Mereka bersyukur dan Allah melipatgandakan kebahagiaan mereka. Kamu tidak mau seperti mereka? Hmm … atau mau merasa sempit terus begini? Ingat Din, nikmat Allah itu sangat besar dan rugi bila kita tidak mengambilnya apalagi nikmat itu sudah ada di depan mata” tambah Aisyah.? Mereka berhenti.? Dini mulai menangis dan Aisyah yakin air mata itu akan menyempurnakan ?kikisan rasa benci di hati Dini. Dia yakin bahwa diam-diain Dini benar-benar menyayangi Ratih dan sudah mulai menerima kehadiran Uki. Lirikan mata Dini pada Uki dan gerakan spontan tangannya yang ingin membalas lambaian tangan Uki kemarin yang meyakinkannya, karena diam-diam Aisyah benar-benar mengarnati sikap Dini. Dari kejauhan terdengar suara Akbar dan Fauzan yang memanggil mereka. Kedua anak laki-laki itu terlihat cemas.

“Kak Dini, Uki..Kak..”suara Akbar benar-benar mengkhawatirkan.

“Kenapa dengan Uki?” tanya Dini tak kalah cemasnya.

“Uki kecebur di empang” suara Fauzan benar-benar mengejutkan mereka.

“Tidak ada yang tahu, Kak. Soalnya Fauzan dan Akbar sedang main. Tahunya tiba-tiba Mang Agus melihat Uki sudah pingsan di air” papar Fauzan takut. Serta merta Dini berlari meninggalkan Aisyah yang menyusul di belakang. Dini segera memasuki rumahnya. Banyak orang di sana. Ratih, dan kedua orang tuanya tengah menangis ketakutan. Dini menghampiri Uki yang dibaringkan di tempat tidur. Perutnya telah menggembung. Wajahnya pucat. Bocah itu kelihatan lemah sekali. Dini memeluknya tapi tangan nakal Uki malah menarik kerudungnya hingga lepas.? Dini kewalahan memperbaiki kerudungnya. Semua orang tertawa melihat tingkah mereka. Mereka tengah bermain berdua dan tak seorang pun ingin mengganggunya. Aisyah tersenyurn bahagia karena tebakannya ternyata benar bahwa Dini bisa melakukannya. Kabut itu kian menipis dan sirna sudah. Dini telah dapat kembali merasakan kebahagiaan dalam hidupnya.[]

[diambil dari Majalah PERMATA edisi 10/Tahun VII/Februari 2003]

One comment on “Kabut Kian Menipis

  1. Adra Jul 23,2008 09:59

    Subhanallah…Maha Suci Allah…yang kuasa atas sgala sesuatu…

Comments are closed.

%d bloggers like this: